23526 research outputs found
Sort by
Quantifying the mitigation effect of natural landscapes during an extraordinary flood: the prominent role of the Otter Creek wetlands to middlebury, Vermont, USA, during Tropical Storm Irene.
En 2011, la tempête tropicale Irène a causé des dommages importants dans les États du Nord-Est des États-Unis. Cependant, la présence d’un complexe de milieux humides riverains a permis de limiter les dégâts dans le bassin versant d’Otter Creek, au Vermont. Cet article aborde trois questions principales: (i) La plateforme de modélisation hydrologique PHYSITEL/HYDROTEL peut-elle reproduire les hydrogrammes observés dans le bassin versant d’Otter Creek lors de la tempête tropicale Irène? (ii) Dans quelle mesure les modèles les mieux calibrés performent-ils sur une base annuelle (2011) et pluriannuelle (1992–2013)? (iii) Quel aurait été l’impact de différents scénarios de perte de milieux humides sur la crue à Middlebury? En utilisant les algorithmes d’optimisation OSTRICH et ParaPADDS avec différentes stratégies de calage, nos résultats démontrent qu’en redéfinissant la méthode de calage pour inclure les attributs des milieux humides, notamment les paramètres de connectivité, la plateforme peut reproduire avec précision les hydrogrammes observés lors de la tempête tropicale Irène, ainsi que ceux de 2011 et de la période 1992–2013. La stratégie nommée HCR-HWCM s’est avérée la plus performante, tout en révélant certaines limites, telles que les ajustements manuels nécessaires pour simuler la connectivité des milieux humides et les contraintes liées à la représentation de la dynamique des écoulements. Dans l’ensemble, nos résultats réitèrent explicitement les services hydrologiques fournis par les milieux humides et plaident pour leur intégration spécifique, mais éclairée, dans les plateformes de modélisation hydrologique.
Abstract
In 2011, Tropical Storm Irene caused significant damage in the northeastern states of the USA. However, the Otter Creek watershed in Vermont stood out for experiencing reduced flooding damages in its downstream region, attributed to the presence of a large riparian wetland and floodplain complex. This paper addresses three main questions: (i) Can the PHYSITEL/HYDROTEL hydrological modeling platform reproduce the Tropical Storm Irene hydrographs observed in the Otter Creek watershed? (ii) How well do the best calibrated models perform on annual (2011) and multiannual (1992–2013) bases? (iii) What would have been the impact of different wetland loss scenarios on the flood at Middlebury? Using OSTRICH and ParaPADDS optimization algorithms with various calibration strategies, our results demonstrate that by redefining the calibration method to include wetland attributes, including connectivity parameters, the platform can accurately reproduce the observed hydrographs during Tropical Storm Irene, as well as those in 2011 and over the 1992–2013 period. The strategy called HCR-HWCM performed best, while revealing certain limitations such as manual adjustments required to simulate wetland connectivity and constraints in representing water flow dynamics. Overall, our results explicitly reinstate the hydrological services provided by wetlands and advocate for their specific, yet informed, integration into hydrological modeling platform
MED27 function is essential for cerebellar development and motor behaviour
Letter to the editor</br
Editor’s note.
In 2024, papers published in the Canadian Water Resources Journal (CWRJ) explored issues related to water and water resources across geographic areas of the country, and spanning the many disciplines which touch on the ways in which we manage this vital resource. The work that was published touched on many of the most pressing concerns facing Canadian water resources today, including climate change,flooding, water quality issues and loss of aquatic habitat. Authors drew on a range of techniques ranging from large-scale modelling to participant surveys to field data collection, collectively painting a robust and multidimensional picture of Canadian water systems. There was a particular focus this year on the ways in which social and economic systems interact with bio-physical aspects of water management
PERAN PELAKU USAHA PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR DALAM PENINGKATAN KEGIATAN EKONOMI MASYARAKAT DI DESA PULE KECAMATAN PULE TRENGGALEK
Skripsi dengan judul “Peran Pelaku Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur Dalam
Peningkatan Kegiatan Ekonomi Masyarakat di Desa Pule Kecamatan Pule
Trenggalek” ini di tulis oleh Hendra Dwi Pradana , NIM 12402183287,
Pembimbing Siswahyudianto, M.M.,
Kata Kunci : Peternakan Ayam Ras Petelur, Ekonomi Masyarakat
Penelitin ini di latar belakangi oleh usaha dan kegiatan masyarakat yang
banyak berkecimpung dan bekerja di peternakan ayam petelur di desa Pule
Kecamatan Pule. Peran pelaku usaha menjadi prioritas utama pada penelitian ini
karena pada peranannya para pelaku usaha mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat pada lingkungan sekitarnya. Hal ini di dasari karena seiring dengan
berjalannya waktu jumlah permintaan terhadap konsumsi telur terus meningkat dari
situ terdapat adanya peluang bagi pelaku usaha peternakanan untuk terus
menambah jumlah ternaknya sehingga timbullah peranan pelaku usaha peternakan
ini yang dirasa dapat membantu masyarakat sekitar.
Jenis penelitian yang digunakan yakni kualitatif dengan penjabaran
deskriptif. Data yang diperoleh bertujuan untuk memberikan informasi gambaran
tentang permasalahan yang ada di lapangan dengan pengumpulan data
menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Peran pemilik usaha peternakan
ayam ras petelur di Desa Pule Kecamatan Pule Kabupaten Trenggalek dalam
meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat dengan memberikan kemudahan
mendapat lapangan pekerjaan dalam peningkatan perekonomian keluarga,
kebutuhan rumah tangga, pelatihan , dan pengalaman. 2) Para pelaku usaha
memiliki berbagai strategi yang dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan kinerja
karyawannya yaitu dengan melakukan pendampingan, sosialisasi serta praktek
lapangan . 3) adapun hambatan yang dialami pelaku usaha yaitu sulitnya mencari
pakan yang terjangkau, harga pasar yang tidak menentu , sulitnya mencari obatobatan
dan vitamin serta wabah penyakit yang melanda ternak
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA MATERI GELOMBANG DAN GETARAN KELAS VIII BERBANTUAN AUDIO VISUAL DI SMP NEGERI 1 NGUNUT TULUNGAGUNG
Skripsi dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Pemahaman Konsep Siswa Pada Materi Gelombang Dan Getaran Kelas VIII Berbantuan Audio Visual Di SMP Negeri I Ngunut Tulungagung” ditulis oleh Wahyudianing Tyas, NIM. 126211202072, Program Studi Tadris Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, pembimbing Husni Cahyadi Kurniawan, M.Si.
Kata Kunci : Problem Based Learning, Audio Visual, Pemahaman Konsep, Gelombang dan Getaran
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung dengan latar belakang rendahnya pemahaman konsep pada siswa, khusunya pada materi gelombang dan getaran. Model pembelajaran yang digunakan masih berfokus pada guru dan pembelajaran kurang bervariasi. Sehingga membuat siswa cepat bosan ataupun sulit untuk memahami konsep dari materi yang disampaikan guru. Oleh sebab itu, peneliti menggunakan model pembelajaran problem based learning berbantuan audio visual. Model pembelajaran problem based learning adalah model pembelajaran yang berpusat pada masalah dimana siswa dihadapkan pada masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat berpikir kritis, memecahkan masalah, serta dapat mengembangkan keterampilan komunikasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap pemahaman konsep siswa kelas VIII berbantuan Audio Visual di SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung.
Pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian Quasi Eksperimen dengan desain Posttest Only Control Group Design. Populasi penelitian ini seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung. Sampel penelitian ini adalah kelas VIII-G sebanyak 35 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-H sebanyak 36 siswa sebagai kelas kontrol. Teknik sampling yang digunakan yakni simple random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes. Teknik analisis data yang digunakan meliputi uji coba intrumen yaitu uji validitas dan uji reabilitas, uji prasyarat meliputi uji normalitas dan homogenitas, dan terakhir uji hipotesis atau uji T .
Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap pemahaman konsep siswa kelas VIII berbantuan Audio Visual di SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 sehingga H_0 ditolak dan H_a diterima
IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI PENELUSURAN PERKARA (SIPP) DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENYELESAIAN PERKARA PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA TULUNGAGUNG (Studi Kasus Pengadilan Agama Tulungagung)
Nawala Shihabi Pramudya Imron, NIM. 126102212182, Implementasi Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Dalam Meningkatkan Efektivitas Dan Efisiensi Penyelesaian Perkara Perceraian Di Pengadilan Agama Tulungagung (Studi Kasus Pengadilan Agama Tulungagung), Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung 2025, Pembimbing: Drs. Mashuri, M.H.I. Kata kunci: Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), Efektivitas, Efisiensi, Perceraian Fokus utama penelitian ini adalah mengevaluasi sejauh mana Penerapan SIPP berkontribusi dalam mempercepat dan mempermudah proses penyelesaian perkara perceraian serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan yang dihadapi dalam penerapannya. Sistem ini diharapkan mampu menjawab tantangan meningkatnya jumlah
perkara perceraian di wilayah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan aparatur pengadilan dan observasi proses penggunaan SIPP. Selain itu, data sekunder dikumpulkan dari dokumen resmi, laporan, serta literatur yang relevan. Penelitian dilakukan di Pengadilan Agama Tulungagung, mengingat tingginya angka perkara perceraian yang ditangani oleh lembaga ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIPP telah memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses penyelesaian perkara perceraian. Aplikasi ini mempermudah akses informasi, mempercepat proses administrasi, dan meningkatkan transparansi bagi para pihak yang terlibat. Namun, kendala utama yang dihadapi meliputi keterbatasan infrastruktur teknologi, kurangnya pelatihan bagi pegawai, serta resistensi terhadap perubahan dari sebagian pengguna. Penelitian ini juga mengungkap faktor-faktor pendukung keberhasilan penerapan SIPP, seperti komitmen pimpinan pengadilan dan adanya kebijakan nasional yang mendorong digitalisasi proses peradilan. Sebaliknya, hambatan seperti kurangnya infrastruktur yang memadai, sering terjadinya error secara berkala, kurangnya pegawai yang paham IT dan kesadaran masyarakat kurang terhadap penggunaan teknologi dalam layanan peradilan menjadi tantangan yang perlu diatasi. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa SIPP mampu meningkatkan kualitas layanan peradilan secara signifikan, meskipun perbaikan pada aspek teknis dan non-teknis masih diperlukan.
Implikasi dari hasil penelitian diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan lebih lanjut terhadap sistem SIPP dan penerapan teknologi serupa di lembaga peradilan lainnya di Indonesia
FENOMENA GAMOPHOBIA PADA WANITA KARIER PERSPEKTIF GENDER (Studi Pada Persepsi Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Intan Lestari, 126102212151, Fenomena Gamophobia Pada Wanita Karier Perspektif Gender (Studi Pada Persepsi Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung), Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, 2024, Pembimbing: Prof. Dr. Iffatin Nur, M.Ag.
Kata Kunci: Gamophobia, Wanita Karier, Gender
Penelitian skripsi ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena gamophobia pada wanita karier, yang ditandai dengan adanya penurunan angka pernikahan dan kelahiran di Indonesia. Gamophobia merupakan gangguan kecemasan atau ketakutan berlebihan terhadap ikatan pernikahan yang dapat dialami oleh individu. Bagi sebagian wanita, pernikahan dipandang sebagai bentuk komitmen yang dapat membatasi ruang gerak, membawa beban yang bertambah, dan bahkan mempengaruhi kemandirian. Maraknya berita tentang isu perselingkuhan, KDRT, dan perceraian memicu adanya ketakutan terhadap komitmen pernikahan. Persepsi dosen Fakultas Syariah dan ilmu Hukum khususnya bidang Hukum Keluarga Islam diharapkan dapat memberikan respons atas munculnya fenomena ini yang kemudian ditinjau dengan perspektif gender dan hukum Islam.
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Apa saja faktor yang menyebabkan munculnya gamophobia pada wanita karier? (2) Bagaimana gamophobia mempengaruhi kehidupan sosial, psikologis, dan profesional wanita karier? (3) Bagaimana prinsip-prinsip teori gender dapat diaplikasikan untuk memahami dan mengatasi fenomena ini? (4) Bagaimana pandangan masyarakat dan keluarga terhadap wanita karier yang mengalami gamophobia? (5) Apa saja strategi yang tepat untuk membantu wanita karier mengatasi gamophobia berdasarkan perspektif gender? (6) Sejauh mana teori gender memberikan solusi atau pemahaman yang berbeda dibandingkan dengan perspektif hukum Islam dalam menangani fenomena gamophobia?
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field reseach) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun lokasi penelitian ini di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Data dari penelitian bersumber dari wawancara mendalam para dosen FASIH khususnya Hukum Keluarga Islam, serta buku dan jurnal yang berkaitan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini yakni kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Teknik pengecekan keabsahan data meliputi triangulasi, perpanjangan penelitian, dan meningkatkan ketekunan.
Hasil dari penelitian ini yakni pertama, gamophobia disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi trauma masa lalu dan ketakutan akan kegagalan hubungan. Sedangkan faktor eksternal meliputi tekanan sosial, narasi buruk tentang pernikahan, dan budaya patriarki. Kedua, gamophobia dapat mempengaruhi kehidupan wanita karier baik dari segi sosial, psikologis, dan keprofesionalannya. Kehidupan sosial cenderung tidak memberikan ruang yang cukup bagi wanita dalam membuat keputusan di hidupnya berdasarkan preferensi pribadi sehingga berdampak pada psikologis dan keprofesionalannya. Ketiga, teori gender menunjukkan bahwa peran dan tanggung jawab dalam pernikahan tidak bersifat alami melainkan hasil konstruksi sosial yang dapat menjadi sebab munculnya gamophobia. Keempat, masyarakat cenderung melihat fenomena gamophobia sebagai bentuk penyimpangan kodrat pada wanita. Kelima, strategi dalam mengatasi gamophobia yang paling utama yakni dukungan dari keluarga, kolega, dan masyarakat. Mendalami agama dan melakukan terapi kepada psikolog juga menjadi solusi. Keenam, perspektif gender dengan hukum Islam memandang laki-laki dan perempuan memiliki hak dan tanggung jawab yang setara baik dalam kehidupan publik maupun domestik
Production de zéolites à faible ratio Si/Al, caractérisées par une capacité de sorption satisfaisante, à partir de résidus d’aluminosilicates générés lors de l’extraction du lithium à partir du spodumène
Les zéolites sont largement utilisées pour l'adsorption, l'échange d'ions et la catalyse, mais leur synthèse à partir de matières premières pures est coûteuse. L'extraction du lithium à partir de spodumène par voie hydrométallurgique génère de grandes quantités de résidus d’aluminosilicates, potentiellement problématiques pour l'environnement. La transformation de ces résidus en zéolites constitue une alternative prometteuse pour réduire à la fois les impacts environnementaux liés à la production de lithium à partir de spodumène et les coûts de production de zéolite. Ce projet vise à mettre en œuvre un procédé simple et efficace pour synthétiser des zéolites à faible ratio Si/Al caractérisées par une capacité de sorption satisfaisante à partir de ces résidus d’aluminosilicates. Tout d’abord, la méthode de préparation des résidus et la méthodologie de synthèse des zéolites sans modification du ratio Si/Al des résidus sont présentées. Ensuite, les paramètres opératoires (i.e., temps et température de vieillissement, temps de cristallisation et ratio solide/liquide) influençant les propriétés des zéolites (p.ex., capacité de sorption) ont été étudiés. La zéolite obtenue par le procédé hydrothermal conventionnel présente des propriétés similaires à celles produites par un procédé avec fusion alcaline et à celle commerciale 13X (témoin). Les meilleures conditions choisies pour synthétiser une zéolite à faible ratio Si/Al, caractérisée par une grande capacité de sorption (58 mg Ca/g), en utilisant le procédé hydrothermal conventionnel sont les suivantes : 2 heures d’agitation du mélange (résidu d'aluminosilicate et NaOH à 3,3 M) à température ambiante, suivies de 8 heures de vieillissement sans agitation à 75°C, puis de 16 heures de cristallisation sans agitation à 100°C, avec un ratio solide/solution NaOH de 1/10 (p/v). Par la suite, la faisabilité de la mise à l'échelle et l'évaluation des performances (p.ex., propriétés des zéolites, bilan de masse, coûts d'exploitation) du procédé hydrothermal développé pour la synthèse de zéolites ont été étudiées. Une étape d’agitation a été ajoutée pendant l’étape de vieillissement et les résultats ont montré que la capacité de sorption de la zéolite augmentait de 36 % (de 58 à 80 mg Ca/g), tout en modifiant la structure de la zéolite et facilitant sa récupération (étape de séparation solide/liquide après la cristallisation). À grande échelle (pilote de laboratoire), les caractéristiques de la zéolite produite étaient similaires à celles obtenues en laboratoire, soulignant ainsi la robustesse du procédé proposé, avec un rendement de production de 94,8 %. L'analyse technico-économique a démontré que ce procédé est rentable dans un scénario de traitement de 5 t/h, avec un prix de ventre de 1 $US/kg. Enfin, plusieurs tests ont été effectués afin d'évaluer les performances de la zéolite synthétisée pour la sorption des ions Ca2+, Mg2+, NH4+, de divers métaux et de certains éléments de terres rares. Aussi, Les zéolites ont été testés pour réduire la dureté de l'eau à différentes températures. Les résultats ont montré que la zéolite possède une capacité de sorption satisfaisante pour les ions Ca2+ et NH4+ (66 mg/g), mais moins efficace pour les ions Mg2+ (6 mg/g). De plus, la dureté de l'eau a été diminué respectivement de 322 à 63 et 18 mg CaCO3/L aux températures de 10, 20, 38 (± 2°C), et 58 ± 2°C, démontrant leur potentiel en tant qu’agent adoucissant. En ce qui concerne les métaux, la zéolite a montré une bonne capacité de sorption (> 50 mg/g) pour Cd2+, Cr3+, Cu2+ et Ce3+, mais une efficacité moindre pour Dy3+, Co2+, Mn2+ et Ni2+, avec des capacités de sorption maximales inférieures à 16 mg/g. De plus, elle a montré une capacité de sorption moyenne pour le Zn2+, le Nd3+ et le Yb3+ (28-32 mg/g). Cela souligne son potentiel en tant qu’adsorbant pour les applications d’enlèvement des métaux et des éléments de terres rares présents dans des effluents contaminés
Trends, teleconnections and nonstationary frequency modeling of riverine heatwaves in North American Atlantic salmon rivers (1979–2100).
Freshwater ecosystems play a vital role in supporting cold-water species like Atlantic salmon, providing the essential conditions to complete critical life stages. However, climate change is increasingly disrupting these habitats, driving shifts in river hydrology and rising water temperatures that threaten their survival. This study quantifies the past (1979–2020) and assesses potential future changes (2030−2100) in the hydrological and thermal regimes of 35 Atlantic salmon rivers across northeastern North America. According to the selected climate change scenarios, the results reveal a significant potential rise in water temperature (Tw>20 °C), drought conditions, and an increasing trend in heatwave frequency, duration, and intensity by the end of the century. Under the most pessimistic SSP5–8.5 scenario, the total duration of summer riverine heatwave (RH) averaged from 2061 to the end of the century is projected to rise 12-fold (98.0 days) compared to the average of 8.5 days, calculated from 1979 to 2020. Consequently, nearly half of the studied rivers are projected to enter a permanent state of summer heatwaves. We also propose a nonstationary riverine heatwave frequency (RHF) modeling framework, integrating both climate change through a temporal trend and climate variability through large-scale atmospheric-ocean oscillations (teleconnection indices) as covariates. Models incorporating climate-related covariates outperform stationary models without covariates, with the North Atlantic Oscillation and the Arctic Oscillation indices emerging as the most influential predictors. However, with the small sample sizes used in this study, the uncertainty can increase especially for extreme non-exceedance probabilities and for the most extreme values of the climate indices
Optimization of Biomass Delignification by Extrusion and Analysis of Extrudate Characteristics.
Pretreatment of lignocellulosic biomass remains the primary obstacle to the profitable use of this type of biomass in biorefineries. The challenge lies in the recalcitrance of the lignin-carbohydrate complex to pretreatment, especially the difficulty in removing the lignin to access the carbohydrates (cellulose and hemicellulose). This study had two objectives: (i) to investigate the effect of reactive extrusion on lignocellulosic biomass in terms of delignification percentage and the structural characteristics of the resulting extrudates, and (ii) to propose a novel pretreatment approach involving extrusion technology based on the results of the first objective. Two types of biomasses were used: agricultural residue (corn stover) and forest residue (black spruce chips). By optimizing the extrusion conditions via response surface analysis (RSA), the delignification percentages were significantly improved. For corn stover, the delignification yield increased from 2.3% to 27.4%, while increasing from 1% to 25.3% for black spruce chips. The highest percentages were achieved without the use of sodium hydroxide and for temperatures below 65 °C. Furthermore, the optimized extrudates exhibited important structural changes without any formation of p-cresol, furfural, and 5-hydroxymethylfurfural (HMF) (enzymes and microbial growth-inhibiting compounds). Acetic acid however was detected in corn stover extrudate. The structural changes included the disorganization of the most recalcitrant functional groups, reduction of particle sizes, increase of specific surface areas, and the appearance of microscopic roughness on the particles. Analyzing all the data led to propose a new promising approach to the pretreatment of lignocellulosic biomasses. This approach involves combining extrusion and biodelignification with white rot fungi to improve the enzymatic hydrolysis of carbohydrates