Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
Dampak Pendekatan Saintifik terhadap Sikap Spiritual Siswa dalam Pembelajaran PAI di SMA di Sidoarjo
This study aims to describe the impact of a scientific approach on students' spiritual attitudes. Through the constructivism paradigm combined with a phenomenological approach, this study involved 19 students. In-depth interviews are used as the main data collection technique while observation and documentation as secondary techniques as well as data validation. The analysis phase is carried out with four stages namely description of the phenomenon, horizonalization, cluster of meaning, essence description. This study reveals that a scientific approach can provide three impacts on students' spiritual attitudes, namely the impact on cognitive, affective, and psychomotor spiritual attitudes. Spiritual attitudes found in the research act as driving forces for human behavior. The findings of this study develop the interaction of character components. The components of a spiritual attitude are interactions not determinants. This means that the components of spiritual attitude only correlate with each other and these components will not be able to validly predict behavior.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak pendekatan saintifik pada sikap spiritual siswa. Melalui paradigma konstruktivisme dipadu dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini melibatkan partisipan sejumlah 19 siswa. In-depth interview digunakan sebagai teknik pengumpulan data utama sedangkan observasi dan dokumentasi sebagai teknik sekunder sekaligus validasi data. Tahap analisis dilakukan dengan empat etape yakni deskripsi fenomena, horizonalization, cluster of meaning, deskripsi esensi. Penelitian ini mengungkap bahwa pendekatan saintifik dapat memberikan tiga dampak terhadap sikap spiritual siswa, yakni dampak terhadap sikap spiritual kognitif, afektif dan psikomotor. Sikap-sikap spiritual yang ditemukan dalam penelitian berperan sebagai tenaga pendorong perilaku manusia. Temuan penelitian ini mengembangkan interaksi komponen karakter. Komponen-komponen sikap spiritual bersifat interaksi bukan determinan. Artinya komponen-komponen sikap spiritual hanya berkorelasi satu sama lain dan komponen-komponen tersebut tidak akan bisa memprediksikan perilaku dengan valid
Kebijakan Eropa terhadap Pendanaan, Kurikulum, dan Guru Sekolah Islam: (Studi Komparatif di Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, dan Swedia)
This study aims to reveal the policies of European countries, such as the Netherlands, Britain, Germany, France and Sweden, towards Islamic schools. The focus of the study includes three interrelated themes, namely policies on education funding, Islamic Religious Education (IRE) curriculum, and empowerment of IRE teachers. Data from relevant literature were collected and analyzed using an analytical-comparative approach. The main findings of this study are as follows. First, with regard to funding, the Netherlands and Sweden fund all Islamic schools; Britain and France only fund Islamic schools that follow national education regulations; and Germany funds only IRE teacher salaries. Second, for the curriculum policy, Germany and the UK include IRE in public schools; The Netherlands and Sweden leave the IRE curriculum to each Islamic school; while France integrates IRE into other subjects in public schools. Third, with regard to teachers, the Netherlands requires IRE teachers to undertake certified teacher training at universities; England and Sweden require that they take postgraduate-level education courses; France requires that they take courses containing religious topics; and Germany requires them to take Islamic theology courses.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kebijakan negara-negara Eropa, seperti Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, dan Swedia, terhadap sekolah Islam. Fokus kajian mencakup tiga hal yang saling terkait, yaitu kebijakan terhadap pendanaan pendidikan, kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI), dan pemberdayaan guru PAI. Data dari literatur yang relevan dikumpulkan dan dianalisis menggunakan pendekatan analitis-komparatif. Temuan inti kajian ini sebagai betikut. Pertama, berkaitan dengan pendanaan, Belanda dan Swedia mendanai semua sekolah Islam; Inggris dan Prancis hanya mendanai sekolah Islam yang benar-benar mengikuti peraturan pendidikan nasional; dan Jerman mendanai hanya gaji guru PAI. Kedua, untuk kebijakan kurikulum, Jerman dan Inggris memasukkan PAI di sekolah umum; Belanda dan Swedia meyerahkan kurikulum PAI kepada masing-masing sekolah Islam; sedangkan Prancis mengintegrasikan PAI ke dalam matapelajaran lain di sekolah publik. Ketiga, berkaitan dengan guru, Belanda mewajibkan guru PAI mengikuti pelatihan keguruan bersertifikat di universitas; Inggris dan Swedia mewajibkan mereka mengambil kursus ilmu pendidikan setingkat pascasarjana; Prancis mengaruskan mereka mengambil matakuliah yang memuat topik agama; dan Jerman mewajibkan mereka mengambil kuliah teologi Islam
Pesantren Hybrid Worldview: Moderatisasi Paradigma Penalaran Keislaman dan Pemenangan Kontestasi Wacana Daring
Until 2016, National Board for Terrorism Prevention (BNPT) indicates that Indonesian pesantren has not been yet spotless from radicalism. On the other hand, discourse contestation in virtual world requires santri and pesantren alumni to convey peaceful messages in an attempt to balance radical discourses. Through this article, the author offers a hybrid worldview, a perspective and curriculum revolution of moderate that encourages santri to preserve the tradition of obedience to kiai. This perspective also encourages students to focus on developing critical reasoning, to have paradigmatic reasoning competencies that are adaptive to the dynamics of current period and tolerant to differences, to be rational and autonomous, and to be selective towards the literature used by of pesantren students. This article recommends coding skills with the R language programming and big data management for santri. This aims to accelerate the growth of the moderate internet portal creators in order to dominate online discourse.Hingga 2016, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap bahwa pesantren di Indonesia belum steril dari radikalisme. Di sisi lain, kontestasi wacana di jagat maya menuntut santri dan alumni pesantren untuk menyampaikan pesan damai guna mengimbangi wacana radikal tersebut. Melalui artikel ini, penulis menawarkan hybrid worldview, yakni cara pandang dan revolusi kurikulum pesantren moderat yang mendorong santri melestarikan tradisi kepatuhan mutlak pada kiai. Cara pandang ini juga mendorong santri agar fokus mengembangkan nalar kritis, memiliki kompetensi penalaran paradigmatik yang adaptif terhadap dinamika zaman dan menerima perbedaan, bersikap rasional dan otonom, serta selektif terhadap literatur siswa pesantren. Artikel ini merekomendasikan keahlian coding dengan bahasa pemrograman R dan pengelolaan big data bagi santri. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan produsen portal wacana moderat untuk memenangkan dominasi wacana daring
Tantangan dan Peluang Pengembangan Keterampilan Bahasa Arab Komunikatif di Pesantren Modern Gontor Putri 4 Sulawesi Tenggara
What specializes pesantren as an Islamic educational institution is the existence of Arabic language training. In this discourse, pesantren institutional strategy goes important in sustaining santri’s language learning achievement. This paper examines communicative language learning model at Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Putri 4 of Sulawesi Tenggara. Qualitative-descriptive data were collected through interview and observation. This article explores how pesantren deals with challenge and opportunity to communicative language learning in order to develop santri’s Arabic language ability. Findings show positive language learning achievement because of the availability of educators which are recruited by central management. Various challenges in the learning are managed by developing santri’s commitment to prioritize communicative language efforts. In conclusion, leader’s policy support in elaborating structural and functional of language learning becomes fundamental domain in formulating education program mechanism in pesantren.Ciri khusus pesantren sebagai lembaga Pendidikan Islam adalah terdapatnya pelatihan Bahasa Arab. Dalam hal ini, strategi lembaga pesantren menjadi bahasan penting dalam mendukung pencapaian kemampuan bahasa oleh santri. Tulisan ini mengkaji tentang model pembelajaran bahasa komunikatif yang diterapkan di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Putri 4 Sulawesi Tenggara. Data kualitatif deskriptif dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Artikel ini menggali lebih jauh bagaimana pesantren dapat menangkap peluang dan menghadapi tantangan pembelajaran bahasa komunikatif untuk mengembangkan kemampuan bahasa Arab santri. Temuan penelitian ini menunjukkan pengembangan kemampuan bahasa Arab santri terpenuhi dengan adanya tenaga edukasi yang direkrut berdasarkan sistem manajerial terpusat. Sedangkan tantangan pembelajaran bahasa komunikatif dihadapi dengan membangun komitmen santri untuk memperioritaskan upaya berbahasa komunikatif. Peneliti menyimpulkan bahwa dukungan kebijakan pimpinan dalam mengelaborasi tujuan struktural dan fungsional pendidikan bahasa menjadi wilayah dasar dalam perumusan tata kerja program pendidikan di pesantren
Penanaman Religiusitas Keislaman Berorientasi pada Pendidikan Multikultural di Sekolah
This article describes how multicultural education responds to demographic changes and religious culture in school environment, and even society as a whole. Thus, it aims to foster attitudes and values which are essential to social life and peace buiding among religious followers. This article is a library research using qualitative descriptive approach. There are two approaches to propose in creating Islamic education with multiculturalism foundation, conceptually and methodologically. The conceptually means to enrich selves with multiculturalism issues from various resources. Next, the methodologically means to promote educating fugure (such as teachers) to act practically in spreading multiculturalism. Therefore, the values of Islamic education with multicultural foundation would significantly support the creation of religious understanding among students through both curriculum contents and learning process.Artikel ini menguraikan tentang bagaimana pendidikan multikultural dalam merespon perubahan demografi dan kultur religius di lingkungan sekolah, bahkan masyarakat secara keseluruhan. Hal ini bertujuan agar dapat tumbuh sikap dan nilai penting bagi harmoni sosial dan perdamaian antar umat beragama. Artikel ini merupakan jenis penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Ada dua hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan pendidikan Islam multikultural, yaitu secara konseptual dan metodologis. Secara konseptual berarti memperkaya diri dengan isu-isu multikulturalisme dari berbagai sumber. Sedangkan secara metodologis, figur pendidik perlu tampil sebagai agen perubahan dalam proses menyemai pemahaman multikulturalisme secara praktis. Dengan demikian, nilai-nilai pendidikan agama Islam berwawasan multikultural akan berpengaruh signifikan dalam upaya membentuk pola pemahaman keagamaan di kalangan peserta didik baik melalui muatan kurikulum maupun dalam tataran aplikatif dalam proses pembelajaran.
 
Madrasah Diniyah Sebagai Pola Diseminasi Islam Moderat di Pesantren Mahasiswa Darussalam Keputih Surabaya
This paper attempts to unravel the important role of the Madrasah Diniyah under Darussalam Islamic Boarding School Keputih within the 10 November Institute of Technology Surabaya (ITS) environment with transnational Islamic movement. The organizers are fully aware of the importance of disseminating moderate Islamic values and positioning Madrasah Diniyah as mediation structure to develop tolerance and to counter the formalization of khilafah within the Unitary State of the Republic of Indonesia. The santri did not only study a collection of kitab based upon their levels, but also explore the great ideas of moderate Islam in the country. The enrichment process was managed by reflecting students' knowledge with WIKI ASWAJA and ASWAJA NU websites, managed under PWNU Aswaja Study Center in East Java. Recent issues, such as the Caliphate and Islam Nusantara on the website are discussed with the bandongan-muhawarah method by involving all santri. The success of the Madrasah Diniyah Takmiliyah in the pesantren Darussalam as a mediating structure was marked by its ability to develop counter-discourse towards transnational Islamic movements in campus environment.Tulisan ini mencoba mengurai peran penting Madrasah Diniyah dibawah naungan Pesantren Darussalam Keputih yang berada di lingkungan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya di tengah-tengah maraknya gerakan Islam transnasional di dalam kampus. Pengelola menyadari sepenuhnya arti penting diseminasi tata nilai Islam moderat dan menempatkan Madrasah Diniyah sebagai struktur mediasi dalam membiakkan nilai-nilai toleransi dan menolak formalisasi khilafah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para santri tidak hanya belajar kitab-kitab berdasarkan jenjang kelas masing-masing, melainkan juga mendalami gagasan besar Islam moderat di tanah air. Pendalaman dilakukan dengan cara menghubungkan pengetahuan santri dengan website WIKI ASWAJA dan ASWAJA NU yang dikelola oleh Pusat Kajian Aswaja PWNU Jawa Timur. Isu-isu mutakhir, seperti khilafah dan Islam Nusantara yang dipublikasikan oleh website didiskusikan dengan metode bandongan-muhawarah dengan melibatkan seluruh santri-mahasiswa. Keberhasilan Madrasah Diniyah Takmiliyah di pesantren Darussalam sebagai struktur mediasi ditandai oleh kemampuannya mengembangkan diskursus tandingan terhadap gerakan-gerakan Islam transnasional di lingkungan kampus
Pendekatan Aksiologis Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam dan Barat
The axiological approach in Islamic education is a discourse that is still very important and relevant for now. The whole process of Islamic education, both of which involve aspects of curriculum, learning, education personnel, student affairs, institutional management, and so on, has the same estuary or downstream, which supports axiological achievement in Islamic education. Then, it is also interesting to discuss, the interrelationships between the goals of Islamic and National education are already aligned or even overlapping. It is hoped that in the presentation this study can clearly convey the points on the objectives of Islamic education. So, it has an applicable educational axiology for Islamic education nationally. The method used by researchers is library research, which uses concepts that exist in the literature with research. The result, the philosophy of Islamic education in the country still has important foundations in presenting ideals as part of the theory of knowledge. In addition, there are still educational objectives that are difficult to achieve or not yet applicable. So it can be concluded that the authors of the philosophy of Islamic education have had academic awareness, the theory of purpose must be formulated before formulating the objectives of Islamic education from the perspective of philosophical studies. Unfortunately, that awareness cannot be realized by them, and cannot be used as a guide to formulate a systematic and comprehensive goal of Islamic education.Pendekatan aksiologis dalam pendidikan Islam merupakan diskursus yang masih sangat penting dan relevan hingga saat ini. Seluruh proses kependidikan Islam, baik yang di dalamnya melibatkan aspek kurikulum, pembelajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, manajemen kelembagaan, dan seterusnya, mempunyai satu muara atau hilir yang sama, yaitu mendukung ketercapaian aksiologis dalam pendidikan Islam. Kemudian, menjadi menarik pula untuk dibahas, sebenarnya apa keterkaitan antara tujuan pendidikan Islam dan Nasional sudah selaras atau malah terjadi tumpang-tindih. Diharapkan dalam pemaparan kajian ini dapat dengan jelas menyampaikan pokok permasalahan pada tujuan pendidikan Islam. Sehingga memiliki aksiologi pendidikan yang aplikatif bagi pendidikan Islam secara nasional. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah kajian pustaka (library research), dimana membandingkan konsep-konsep yang terdapat dalam literatur dengan penelitian. Adapun hasilnya, filsafat tujuan pendidikan Islam di tanah air masih memiliki kelemahan mendasar dalam menghadirkan rumusan tujuan sebagai bagian dari teori pengetahuan. Selain itu, masih banyaknya tujuan pendidikan yang sifatnya sulit untuk digapai atau belum aplikatif. Maka dapat disimpulkan bahwa para penulis filsafat pendidikan Islam telah mempunyai kesadaran akademis bahwa, teori tujuan mestinya harus dirumuskan terlebih dahulu sebelum merumuskan tujuan pendidikan Islam dari perspektif kajian filsafat. Sayangnya, kesadaran tersebut tidak direalisasikan oleh mereka dan tidak digunakan sebagai panduan untuk merumuskan tujuan pendidikan Islam secara sistematis dan komprehensif
Dinamika Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Madrasah (Studi Multi-Situs di Kabupaten Jombang)
In the dynamic context of curriculum development in Indonesia, Islamic education subject encounters various problems in its curriculum development. This is caused by difference in school ownership status, school environment, and the availability of human resources. This research proposes to analyze problems in the implementation of curriculum development, curriculum construction, and factors supporting and preventing curriculum development in MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, MTs Ar-Rahman Nglaban, MTsN Plandi Diwek, and MTsN Tambakberas Jombang. This research makes use field research approach with multi-sites within four madrasah in Jombang Regency. Results show that the four madrasah put too much attention to subject centered design. Human resources and infrastructure become dominant determining factors. Material essence and quality become distinguishing factors after the comparation. From data collected in the four madrasah, collaborative curriculum may be an ideal and applicable alternative in redesigning curriculum.Dalam konteks dinamika pengembangan kurikulum di Indonesia, kurikulum PAI masih menghadapi berbagai masalah dalam pengembangannya. Hal ini disebabkan perbedaan status kepemilikan sekolah, lingkungan sekolah, dan sumber daya manusia yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa permasalahan penerapan pengembangan, konstruksi, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat kurikulum PAI di MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, MTs Ar-Rahman Nglaban, MTsN Plandi Diwek, dan MTsN Tambakberas Jombang. Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan dengan studi multi-situs pada empat lembaga yang berbeda di Kabupaten Jombang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi kurikulum dari keempat madrasah tersebut menitikberatkan pada Subject Centered Design, yang berfokus pada mata pelajaran. Sedangkan faktor-faktor penentu yang paling dominan adalah sumber daya manusia dan sarana prasarana. Perbandingan model konstruksi kurikulum di empat madrasah tersebut terletak pada esensi dan kedalaman materi. Dari data keempat madrasah tersebut, maka collaborrative curriculum menjadi pilihan desain ulang kurikulum yang dinilai ideal dan dapat diterapkan
Urgensi Keterlibatan Wali Asuh dalam Dinamika Pendidikan di Pesantren
Guardianship in pesantren functions to solve the decrease of effectiveness of santri’s activities along with the increase of new santri in number within modern and semi-modern pesantren. The core values of guardianship here is an innovation in pesantren to increase impact of activities and to make ease individual monitoring towards santri’s psychological and life aspects. This research implements case study approach to Pesantren Nurul Jadid located in Probolinggo Regency. Results show several strategies in the guardianship implementation in order to substitute parental roles. First, guardians act as listeners to santri in order to collect their life-aspect information. Second, guardians are individually different from those acting as pesantren daily committee member in order to provide more private approach to santri rather than a collective one. Third, guardians act as motivators, counselors, and parents for santri during their study in pesantren.Wali asuh dalam pesantren berperan dalam menanggulangi penurunan efektifitas kegiatan santri yang diakibatkan semakin banyaknya jumlah peminat pesantren modern dan semi modern dewasa ini. Intisari dari adanya wali asuh adalah sebuah ide pembaruan di pesantren sebagai upaya meningkatkan efektifitas kegiatan dan memudahkan pemantauan aspek psikis santri secara perorangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus di pesantren Nurul Jadid yang berlokasi di Kabupaten Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan beberapa strategi yang harus dilakukan wali asuh dalam perannya sebagai pengganti orang tua santri. Pertama, wali asuh melakukan pendekatan awal dengan menjadi pendengar yang baik santri asuh untuk menghimpun informasi tentang dunia kehidupannya. Kedua, pemeran wali asuh harus berbeda dengan pemeran pengurus harian untuk memberikan ruang pendekatan pribadi, bukan kolektif. Ketiga, wali asuh berperan pula sebagai motivator, konselor dan pengganti orang tua bagi santri asuh
Pendidikan Moral melalui Pembelajaran Kitab Alfiyah ibn Malik di Pondok Pesantren Langitan Tuban
Kitab Alfiyah of Muhammad bin Abdillah bin Malik al-Andalusi or known as Ibnu Malik is famous for resource of Arabic grammar. It is uncommon to find discourse of the kitab apart from the Arabic grammar. It is the fact that moral values are the other side of its contents, implicitly live in the stanzas. Philosophical worldview makes possible to uncover the moral values, then to interpret it, and to internalize it throung learning activities. This article describes the moral contents, internalization methods, and reflection of the internalization towards santri in Pondok Pesantren Langitan Tuban. With naturalistic paradigm, data were collected through interview, observation, and documentation. Findings shows that moral internalization in the kitab Alfiyah Ibn Malik learning activities was going through modelling, rewards, punishment, building habits, and indoctrination. In addition, author finds 31 moral values within stanzas in the kitab and 12 reflective behaviors by santri.Kitab Alfiyah karya Muhammad bin Abdillah bin Malik al-Andalusi atau yang lebih populer dengan nama Ibnu Malik sangat dikenal sebagai sumber ilmu tata bahasa Arab. Tidak banyak yang mengurai dan meneliti kitab tersebut dalam sudut pandang lain. Padahal ada beberapa substansi yang terkandung di dalamnya, misalnya tentang moral yang tersisip diantara bait-bait isinya. Sudut pandang filosofis diperlukan untuk menyingkap substansi nilai-nilai moral sebelum menginterpretasikannya dan menginternalisasikannya dalam kegiatan pembelajaran. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kandungan nilai moral, metode internalisasinya, dan refleksi hasil internalisasi moral pada santri di Pondok Pesantren Langitan Tuban. Dengan paradigma naturalistik, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa internalisasi moral dalam pembelajaran kitab Alfiyah Ibn Malik disampaikan melalui keteladanan, penghargaan, hukuman, pembiasaan, dan indoktrinasi. Selain itu, peneliti menemukan 31 nilai-nilai moral dalam bait-bait kitab dan 12 perilaku reflektif yang ditunjukkan oleh santri