Forum penelitian Agro Ekonomi
Not a member yet
    347 research outputs found

    Dinamika Perubahan Harga Padi Jagung Kedelai serta Implikasinya terhadap Pendapatan Usaha Tani

    Full text link
    Price changes affect all aspects of agricultural activities, especially on agricultural development.To increase the production of strategic commodities such as rice, maize, and soybean, needs special attention to the impact of price changes closely related to that trading, so it is expected that the implications for farming income will be better and can make farmers more prosperous in the future. Often the fact, the growth in food demand is faster than the growth of its supply, causing changes in the price of staple foodstuffs, and ultimately impacting at the farmers income whose are uncertain. This paper aims to analyze the impact of changes in rice,maize and soybean prices on that trading, and its implications for farm income. The determination of the Reference Price of Purchase which only considers the cost of farming to produce rice, corn and soybean has not provided optimal support for efforts to increase the income of pajale farming. Therefore, it is necessary to consider all cost components, as well as government intervention in helping to strengthen the bargaining position of farmers in the trading system of these three commodities in Indonesia, so that the supply chain from farmers to the hands of end consumers can be cut, in order to provide direct implications for increased farm revenues.AbstrakPerubahan harga memengaruhi seluruh aspek kegiatan pertanian, khususnya terhadap pembangunan pertanian. Untuk meningkatkan produksi komoditas pangan utama, seperti padi, jagung, dan kedelai diperlukan perhatian khusus terhadap dampak perubahan harga yang berkaitan erat dengan perdagangannya sehingga diharapkan pendapatan usaha tani menjadi lebih baik dan petani makin sejahtera kedepannya. Seringkali faktanya bahwa pertumbuhan permintaan pangan lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya yang menyebabkan perubahan harga pangan pokok sering bergejolak dan akhirnya berdampak pada pendapatan petani yang tidak menentu. Tulisan ini bertujuan menganalisis dampak perubahan harga padi, jagung dan kedelai terhadap perdagangannya, serta implikasinya terhadap pendapatan usaha tani. Penetapan harga acuan pembelian (HAP) yang hanya mempertimbangkan biaya usaha tani untuk memproduksi padi, jagung dan kedelai belum memberikan dukungan yang optimal bagi upaya peningkatan pendapatan usaha tani pajale. Untuk itu, perlunya mempertimbangkan semua komponen biaya serta intervensi pemerintah dalam membantu memperkuat posisi tawar petani dalam sistem perdagangan ketiga komoditas tersebut di Indonesia sehingga rantai pasok dari petani ke tangan konsumen akhir dapat dipangkas dengan tujuan dapat memberikan implikasi secara langsung terhadap peningkatan pendapatan usaha tani

    Mekanisasi Pertanian dan Pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA)

    Full text link
    Agricultural Machinery Services Business (UPJA) is an institution based on the awareness of limited agricultural land, inadequate agricultural labor, fast planting time, and important agricultural modernization. UPJA is expected to overcome farming problems as well as being a factor of economic growth through capital accumulation and agricultural competitiveness. This paper is a critical review that aims to analyze agricultural mechanization and institutional development of UPJA as a rural economic institution for optimizing agricultural machinery. Results of the analysis show that the application of agricultural mechanization has been able to accelerate production process as well as to increase production and farming profits. The Special Effort (Upsus) program through agricultural machinery assistance has not run optimally. One way for optimizing the program is to grow and build UPJA as a manager of agricultural machinery. UPJA has the potential to spur the development of modern agriculture and at the same time it drives farmers’ economy in rural areas. Comprehensive and professional handling of UPJA is possible to develop this institution into a farmers’ corporation. AbstrakUsaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) adalah lembaga yang dibangun dari kesadaran bahwa lahan pertanian di Indonesia sudah relatif sempit, tenaga kerja pertanian makin terbatas, perlu mengejar waktu tanam, dan pentingnya modernisasi pertanian. UPJA diperkirakan mampu mengatasi masalah usaha tani sekaligus menjadi faktor pertumbuhan ekonomi melalui akumulasi modal dan daya saing pertanian. Tulisan ini merupakan review ilmiah (critical review) yang bertujuan menganalisis mekanisasi pertanian dan  pengembangan kelembagaan UPJA sebagai lembaga ekonomi desa dalam rangka optimalisasi alsintan. Hasil analisis menunjukkan penerapan mekanisasi pertanian telah mampu mempercepat proses produksi, meningkatkan produksi, dan keuntungan usaha tani.  Program Upsus melalui bantuan alsintan belum berjalan secara optimal.  Salah satu bentuk upaya optimalisasi adalah dengan menumbuhkan dan membangun UPJA sebagai pengelola alsintan. UPJA potensial memacu berkembangnya pertanian modern sekaligus menggerakkan ekonomi petani di pedesaan.  Penanganan UPJA secara menyeluruh dan profesional berpotensi mengembangkan lembaga ini menjadi korporasi petani

    Pengembangan Peternakan Rakyat Sapi Potong: Kebijakan Swasembada Daging Sapi dan Kelayakan Usaha Ternak

    Full text link
    To achieve animal source food self-sufficiency for coping with increased demand, the government launches policy on beef cattle development. The program focuses on breeding efforts through Artificial Insemination (IB), natural mating, and fattening. It is intended to produce calves such that beef cattle population and beef production improve. This paper aims: (1) to describe inter-temporal government policies on encouraging beef cattle population at farm level; (2) to estimate projections of beef consumption and beef cattle development program; and (3) to discuss feed provision and beef cattle business feasibility. The government commits to meet beef demand and to improve farmers’ income. Brood stock cattle potency could be maximized to produce calves through IB and natural mating in order to accelerate domestic beef cattle population enhancement. To achieve beef self-sufficiency, the government needs collaboration of various stakeholders. It is necessary to encourage investment in livestock business as well as to empower beef cattle farmers such that their business is feasible and their income improves.  AbstrakDalam rangka swasembada pangan hewani karena kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, pemerintah membuat kebijakan pengembangan sapi potong. Program ini fokus pada usaha pembibitan melalui Inseminasi Buatan (IB), kawin alam, serta penggemukan. Pada gilirannya induk akan menghasilkan pedet, sehingga dapat meningkatkan populasi sapi potong dan produksi daging sapi. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas diharapkan perkembangan sapi potong dapat meningkat. Tujuan tulisan ini adalah: (1) mendiskripsikan kebijakan pemerintah intertemporal dalam mendorong populasi sapi potong di tingkat peternak; (2) membuat proyeksi konsumsi daging sapi dan program pengembangan sapi potong; dan (3) membahas penyediaan pakan dan kelayakan usaha sapi potong. Komitmen pemerintah adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan  asal daging sapi serta meningkatkan pendapatan peternak. Ternak sapi potong indukan dapat dimaksimalkan potensinya untuk dapat terus menghasilkan pedet melalui IB dan kawin alam. Upaya ini dilakukan sebagai wujud untuk mengakselerasi penambahan populasi sapi potong di dalam negeri. Tercapainya pemenuhan kebutuhan pangan asal daging sapi, diperlukan kerjasama berbagai pihak agar populasi sapi potong meningkat. Pemerintah perlu mendorong investasi usaha ternak dan pemberdayaan peternak sehingga peternak mampu mencapai kelayakan usaha dan pendapatan mereka meningkat

    Evolusi Inovasi Pembangunan Pertanian di Badan Litbang Pertanian: Dari Transfer Teknologi ke Sistem Inovasi

    Full text link
    Indonesia Agricultural Agency for Research and Development (IAARD) has more than four decades in supporting agricultural development. This support is indicated by its contribution to the creation of agricultural development models, field assistance, and technology dissemination. These activities are inseparable from its support for the Ministry of Agriculture’s program. The IAARD program follows the development of agricultural innovations. This paper aims to describe how the conception of innovation develops in the realm of science, as well as how the concept is implementing in IAARD, especiallyin relation to the down streaming of innovation inAgricultural Technology Assessment and Development (AIATs). This study also examines how IAARD should work according to the innovation concept, to make sustainable innovation. AbstrakBadan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) telah empat dasawarsa lebih berperan mendukung pembangunan pertanian. Hal ini ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap penciptaan model-model pembangunan pertanian, pendampingan, dan diseminasi teknologi di lapangan. Aktivitas yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian tersebut tidak terlepas dari dukungannya terhadap program-program Kementerian Pertanian. Di lain pihak, program yang dijalankan oleh Badan Litbang Pertanian tersebut mengikuti perkembangan konsep keilmuan yang ada, antara lain terkait dengan penciptaan inovasi pertanian. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana konsepsi inovasi berkembang di ranah keilmuan, serta bagaimana implikasinya terhadap penciptaan inovasi yang telah dan sedang berlangsung di Badan Litbang Pertanian, khususnya terkait dengan hilirisasi inovasi oleh BPTP. Telaahan juga akan mengulas bagaimana implikasi perkembangan keilmuan tentang konsepsi inovasi perdesaan tersebut terhadap  kiprah kelembagaan Litbang  untuk menciptakan inovasi berkelanjutan.

    Hilirisasi Kelapa Sawit: Kinerja, Kendala, dan Prospek

    Full text link
    Palm oil is one of the main commodities in Indonesia’s economy as it plays an important role in export market of the non-oil and gas sector. Palm oil industry at farm level deals with lack of replanting, low yield, low quality, and undeveloped downstream industry. Indonesia is relatively potential to develop the palm oil downstream industry given the existing market. Global palm oil demand keeps increasing despite negative campaigns against crude palm oil (CPO) and its derivative products. Land availability, labor supply and cultivation technology are supportive. This paper discusses and evaluates national palm oil performance, especially opportunities and challenges in creating value added to this industry. There are four main challenges, i.e. limited infrastructure and financing, lack of access to local authorities, land use conflict, and environment pressure. The government needs to implement policy priority on palm oil downstream industry which is more competitive, integrated, and sustainable. AbstrakKomoditas kelapa sawit merupakan salah satu komoditas andalan perekonomian nasional dan sebagai penghasil devisa negara terbesar di sektor nonmigas. Permasalahan yang dihadapi industri kelapa sawit pada tingkat usaha tani adalah terbatasnya investasi untuk peremajaan, rendahnya produktivitas dan kualitas hasil, dan belum berkembungnya industri hilir secara maksimal sehingga produk-produk turunan kelapa sawit masih terbatas. Sementara itu, Indonesia masih memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui industri pengolahan turunan kelapa sawit jika dilihat dari sisi permintaan pasar maupun penawarannya. Dari sisi permintaan, permintaan kelapa sawit global terus meningkat walalupun dalam kondisi adanya kampanye negatif (black campaign) terhadap produk minyak sawit atau CPO (Crude Palm Oil) dan produk-produk turunannya. Dari sisi penawaran, ketersediaan lahan, tenaga kerja dan teknologi budi daya sangat menudukung. Tulisan ini membahas dan mengevaluasi kinerja industri sawit nasional, khususnya bagaimana peluang dan kendala penciptaan nilai tambah industri sawit. Tulisan ini menekankan empat kendala utama dalam pemanfaatan peluang tersebut, yaitu keterbatasan infrastruktur dan sumber pendanaan, akses otonomi daerah, konflik lahan, dan tekanan isu lingkungan. Dalam hal ini, pemerintah dituntut untuk dapat menerapkan berbagai kebijakan yang memprioritaskan pada hilirisasi kelapa sawit dengan pendekatan klaster/kawasan guna membangun struktur industri kelapa sawit yang berdaya saing, terpadu dan berkelanjutan.

    Fenomena Global Akuisisi Lahan (Land Grabbing) dan Dampaknya bagi Kesejahteraan Petani Lokal

    Full text link
    Massive land grabbing is a global phenomenon that takes place widely by involving cross-country and continental actors. However, this approach to agricultural development with this pattern is less in line with agrarian reform, because it produces inequality, conflict, and marginalization of small farmers. Various studies report the massive land grabbing especially in African countries, Latin America and also Asia. Until now, the phenomenon of land grabbing that has such serious impacts is not openly discussed by academics, and is often covered as an inter-state investment dynamic. This paper is a scientific review derived from various studies and reports, which are constructed into land grabbing character, its causal factors, the resulting impacts, and the urgency of solutions to suppress its spread. The results of the study show that in Indonesia this is also the case, and has begun to show the impacts that are less in line with the vision and mission of national agricultural development, especially the threat to the achievement of food security and farmers' welfare. In the future, the phenomenon of land grabbing should be used as an open agenda and find solutions by integrating with agrarian reform planning.AbstrakAkuisisi lahan secara besar-besaran merupakan sebuah fenomena global yang berlangsung secara luas dengan melibatkan aktor lintas negara dan benua. Namun demikian, pendekatan pembangunan pertanian dengan pola ini kurang sejalan dengan reforma agraria, karena menghasilkan ketimpangan, konflik, serta peminggiran petani kecil. Beragam studi melaporkan masifnya akuisisi lahan terutama di negara-negara Afrika, Amerika Latin dan juga Asia. Sampai saat ini, fenomena akuisisi lahan yang memiliki dampak serius tersebut tidak dibicarakan secara terbuka oleh kalangan akademisi, dan seringkali ditutupi sebagai sebuah dinamika investasi antar negara belaka. Tulisan ini merupakan sebuah review ilmiah yang berasal dari berbagai hasil studi dan laporan, yang dikontruksi menjadi karakteristik akuisisi lahan, faktor penyebabnya, dampak yang dihasilkan, serta urgensi solusi untuk menekan penyebarannya. Hasil kajian menunjukan bahwa di Indonesia hal ini juga berlangsung, dan telah mulai memperlihatkan berbagai dampak yang kurang sejalan dengan visi dan misi pembangunan pertanian nasional, terutama ancamannya terhadap pencapaian ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Ke depan, semestinya fenomena akuisisi lahan harus dijadikan sebagai agenda terbuka dan dicarikan solusinya dengan mengintegrasikan dengan perencanaan reforma agraria

    Karakteristik Komersial dan Perubahan Sosial Petani Kecil

    Full text link
    This article analyzes peasant’s commercial characteristics in irrigated lowland agro ecosystems and identifies its social change. Peasant’s performance includes limited land holding, poor infrastructure condition, family food security orientation, low access to capital, information and technology and institutional involvement, production cost dependence on traders, and strong social and employment institutional ties. Various policies needed for more commercial peasants include guarantee of land and market rights, farm management, risk mitigation and adaptation, promoting an efficient and inclusive food product value chain, develop modern agricultural farming and management techniques, establishing synergistic farmer’s economic institutions and extension institutions, and expanding business network. Policy strategies include flexible transfer of land tenure, instruments to reduce and manage farm risks, open access to market and marketing information, create favor value chains, vertical and horizontal coordination to meet the safety standards, peasant’s organization role enhancement, provide incentives for high-value commodity production, reduce trade barriers and technology subsidies that potentially reduce farmer’s employment and opportunities, and develop innovative financial service access systems. Priority policy includes better technology and natural resource management practices, input subsidies for food production, protection of land rights and farming system development to support non-farm diversification. AbstrakArtikel ini menganalisis karakteristik komersial petani pada agroekosistem sawah dan mengidentifikasi perubahan sosialnya. Selain pemilikan lahan terbatas, petani kecil juga bekerja dalam kondisi infrastruktur yang buruk, orientasi keamanan pangan keluarga, akses rendah terhadap modal, informasi, teknologi, dan kelembagaan, ketergantungan biaya produksi pada pedagang, serta ikatan sosial dan kelembagaan ketenagakerjaan yang kuat. Berbagai kebijakan yang diperlukan untuk petani agar lebih komersial diantaranya jaminan hak atas tanah dan pasar, strategi manajemen pertanian, mitigasi dan adaptasi risiko, mempromosikan rantai nilai produk makanan yang efisien dan inklusif lebih dekat ke sektor hulu, mengembangkan teknik pertanian dan manajemen pertanian modern, membangun institusi ekonomi dan lembaga penyuluhan petani yang sinergis, dan memperluas jaringan bisnis. Strategi untuk mengubah petani kecil agar komersial antara lain transfer lahan yang fleksibel, instrumen untuk mengurangi dan mengelola risiko usaha tani, membuka akses terhadap pasar dan informasi pasar, menciptakan rantai nilai baik, koordinasi vertikal dan horizontal untuk memenuhi standar keamanan, meningkatkan peran organisasi petani, insentif untuk produksi komoditas bernilai tinggi, mengurangi hambatan perdagangan dan subsidi teknologi yang berpotensi mengurangi pekerjaan dan peluang petani, serta mengembangkan sistem akses layanan keuangan yang inovatif. Skala prioritas meliputi teknologi yang lebih baik dan praktik manajemen sumber daya alam, input subsidi untuk produksi pangan, perlindungan hak atas tanah dan pengembangan sistem pertanian untuk mendukung diversifikasi non-pertanian

    Back Matter

    No full text

    Back Matter

    No full text

    Urgensi Komunikasi dalam Kelompok Kecil untuk Mempercepat Proses Adopsi Teknologi Pertanian

    Full text link
    Adoption process of effective agricultural technology innovation requires various forms and channels of communication between users. Personal communication between individuals and communication in small groups (farmers’ group) are two forms of communication that has been used as a mainstay in agricultural extension activities. Personal communication usually occurs horizontally between farmers, and vertically between farmers and agricultural extension officers. Personal communication between farmers can take place outside and also within farmers’ groups. This paper is a review of various theories and research results regarding the importance of communication in small groups. The results showed that communication in small groups becomes an important component in delivering information materials, i.e. technology and other information. In the group, in addition to ongoing communication, it is also a place of performing discussion and learning among peasants, as well as a unit of decision for unity of action in adopting technology. AbstrakProses adopsi inovasi teknologi pertanian yang efektif membutuhkan beragam bentuk dan saluran komunikasi antar pelakunya. Komunikasi personal antar individu serta komunikasi dalam kelompok kecil (kelompok tani) merupakan dua bentuk komunikasi yang selama ini dijadikan sebagai andalan dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Komunikasi personal biasanya terjadi secara horizontal antar petani, dan secara vertikal antar petani dengan petugas penyuluh pertanian. Komunikasi personal antar petani dapat berlangsung di luar dan juga di dalam kelompok tani. Tulisan ini merupakan review ilmiah dari berbagai teori dan hasil-hasil penelitian berkenaan dengan pentingnya peran komunikasi dalam kelompok kecil. Hasil telaahan menunjukkan bahwa komunikasi dalam kelompok kecil menjadi komponen penting dalam menyampaikan materi informasi baik berupa teknologi maupun informasi lain. Di dalam kelompok, selain berlangsung komunikasi juga sekaligus menjadi tempat diskusi dan belajar antar sesama petani, di samping sebagai unit keputusan untuk kesatuan tindakan dalam mengadopsi teknologi

    320

    full texts

    347

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Forum penelitian Agro Ekonomi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇