Forum penelitian Agro Ekonomi
Not a member yet
347 research outputs found
Sort by
Kajian Pekerjaan Hutan Musiman di Jawa
IndonesianLaju pertumbuhan penduduk dan penyebarannya yang terkonsentrasi di Pulau Jawa menimbulkan masalah tersendiri terhadap hutan dan kehutanan. Tekanan terhadap lahan pertanian dan kesempatan kerja menyebabkan ketergantungan masyarakat di sekitar hutan terhadap kegiatan pengelolaan hutan sebagai sumber pendapatan. Lebih lanjut hal ini seringkali memberikan dampak yang negatif terhadap kelestarian hutan. Penelitian ini mencoba mengungkapkan gambaran tentang pola penyerapan tenaga kerja hutan musiman yang pada umumnya berasal dari masyarakat di sekitar hutan dan beberapa karakteristik sosial ekonomi dalam lingkungan kelompok pekerja tersebut. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pembuatan kayu pertukangan hasil tebang habis mempunyai nilai elastisitas terhadap penyerapan pekerja hutan musiman sebesar 1,76 persen. Sedangkan pembuatan kayu bakar hasil tebang habis dan kegiatan reboisasi memberikan respon yang inelastis walaupun berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 80 persen. Kondisi sosial ekonomi pekerja hutan pinus relatif lebih baik dibandingkan pekerja hutan jati. Pekerja hutan pinus pada umumnya memiliki sumber pendapatan lain di luar hutan dan bekerja di dalam hutan sebagai pekerjaan sambilan. Tetapi tidak demikian halnya dengan pekerja hutan jati, Kehidupan mereka banyak tergantung kepada kegiatan pengelolaan hutan sebagai sumber pendapatan utama dan tidak memiliki sumber pendapatan lain di luar hutan. Kurangnya tingkat kontribusi pendapatan yang diperoleh dengan bekerja di dalam hutan terhadap pengeluaran konsumsi keluarga menyebabkan mereka relatif hidup lebih miskin dibandingkan pekerja hutan pinus
Prospek pengembangan tanaman ubikayu dalam kaitannya dengan produktivitas usahatani di daerah transmigrasi Jambi.
IndonesianPada dasarnya pembangunan pertanian di daerah transmigrasi adalah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani transmigran. Dalam pelaksanaannya banyak hambatan yang dihadapi antara lain, produkstivitas tanah yang rendah, keterbatasan modal, keterampilan petani dan lain sebagainya. Atas dasar hal tersebut di atas tulisan ini ingin melihat kemungkinan pengembangan tanaman ubikayu sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini dilakukan di daerah pemukiman transmigrasi Singkut III dan Pamenang I Jambi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey yang menggunakan daftar pertanyaan. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pengusahaan ubikayu mempunyai prospek yang cukup baik dimasa mendatang. Hal ini dimungkinkan karena tersedianya faktor-faktor penunjang seperti, infrastruktur yang baik, kesesuaian lahan yang ditunjukkan oleh tingkat produktivitas tanaman ubikayu dan tersedianya pabrik pengolahan tapioka. Dengan demikian diharapkan harga ubikayu di tingkat petani dapat lebih tinggi dengan makin pendeknya rantai pemasaran
Perencanaan Kebutuhan Pangan pada Repelita VI di Tiga Propionsi di Indonesia (Penerapan Pedoman Pola Pangan Harapan)
IndonesianPola Pangan Harapan (PPH) adalah metoda perencanaan persediaan/kebutuhan pangan untuk konsumsi penduduk yang mampu menyediakan energi dan zat gizi lain yang dibutuhkan oleh penduduk dengan jumlah yang cukup, seimbang dengan mutu pangan yang lebih baik. Dengan menggunakan data Susenas 1990, untuk mendapatkan mutu pangan yang mengarah ke PPH, maka setiap orang harus mengurangi konsumsi pangan sumber karbohidrat dan lemak. Sebaliknya meningkatkan konsumsi pangan sumber zat gizi lain seperti protein vitamin dan mineral. Dengan demikian tantangannya adalah pangan yang disediakan di setiap propinsi pada Repelita VI harus mengikuti kecenderungan tersebut
Upaya Meningkatkan Bagian Pasar Karet Alam Indonesia di Jepang
IndonesianAkhir-akhir ini industri ban di USA sedang mengalami goncangan akibat masuknya ban-ban impor. Oleh karena itu diperlukan usaha mendiversifikasikan pasar karet alam Indonesia disamping tetap mempertahankan posisinya di USA. Salahsatu negara yang memiliki potensi pasar karet alam yang cukup cerah adalah Jepang. Dengan mempertimbangkan keinginan konsumsen Jepang dan daya saing dari pemasok-pemasok lainnya terutama Thailand, diciptakan suatu strategi pemasaran untuk meningkatkan bagian pasar karet alam Indonesia di Jepang yang mencakup strategi produksi, strategi harga, strategi promosi dan pelayanan
Kinerja dan Perspektif Usahatani Konservasi Alley Cropping di Indonesia
Alley cropping as a soil conservation technology owning certain advantages over terracing, particularly in that : a) costs are lower, b) soil productivity can be maintained, and c) it may be applied on all soil conditions. A disadvantage of alley cropping relates to the time taken for soil erosion control to become effective. However, over the longer time period, soil conversation control through alley cropping technology is more economical than that for terracing. The reviewed studies indicate that flemingia congesta is the most effective soil erosion controlling leguminous shrub,of those studied. Alley cropping is effective in maintaining land productivity. The synergic effect of soil productivity increase and soil erosion rate reduction. In some research,alley cropping systems have been shown to significantaly reduce farming costs per unit output,due to a decrease in manday (labour) use and other input reductions. In implementing alley cropping, land-holding status is one determining fector in farmers' willingness to apply the technology. That is why efforts to disseminate soil cinversation technology have often used some incentive in terms of land ownership rights for farmers. It is worthwhile to develop these incentives further, so that there is a legal certainty on cultivated land. Although alley cropping technology has currently been applied and adopted by farmers to a limited degree, there are still four main assues obstructing farmers' adoption of the tecnolog: a) small scale land-holding; b) limited capital ; c) production input availability; and d) lack of technology informatio
Jalur pemasaran kedelai di daerah transmigrasi, Jambi
IndonesianProgram khusus usahatani kedelai dilaksanakan di berbagai daerah, termasuk diantaranya daerah transmigrasi Jambi. Di samping untuk memenuhi permintaan akan mata dagang tersebut program ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani. Untuk mencapai tujuan yang terakhir ini, maka faktor harga yang diterima petani sangat menentukan dan tidak lepas dari sistem pemasaran mata dagang itu sendiri. Penelitian yang dilakukan di tiga satuan pemukiman transmigrasi Jambi menunjukkan bahwa sistem pemasaran kedelai di daerah tersebut masih belum efisien dalam arti rendahnya bagian harga yang diterima petani. Penelusuran jalur pemasaran mata dagang ini memperlihatkan bahwa faktor yang mempengaruhi tingkat harga adalah tingginya biaya angkutan dari masing-masing rantai pemasaran sebagai akibat sarana angkutan yang belum menunjang di samping volume penjualan masing-masing petani yang sedikit dan dilakukan sendiri-sendiri. Kiranya lembaga pemasaran seperti KUD dapat lebih berperanan dengan harapan dapat meningkatkan efisiensi pemasaran yang pada akhirnya meningkatkan bagian harga yang diterima petan
Pemberdayaan Lahan Kering untuk Pengembangan Agribisnis Berkelanjutan
EnglishUtilization of dry land for farming activities in Indonesia is presently less optimal compared with its availability. In order to overcome the "big puzzle" of multidimensional crisis which is induced by monetary crisis in mid of 1997, more attention of the Indonesian government on dry land farming represents a key factor. The implementation of appropriate strategy in developing agribusiness in the dry land region is very important to overcome both the short term economic problem induced by the crisis, and the long term national development problem through its external benefit in reducing environment problem and natural resources degradation. In this relation, efforts required are : (1) Infrastructures development particularly in outer island of Java where most of dry land were located, (2) Arrangement of dry land use on the basis of river basin area in such away to ensure good performance of water circulation system. In this relation, development of appropriate commodities to the land use planned and land distribution forms an important strategy, (3) Policy makers especially in "Ekuin Circle" should put more attention to the development of local resources economic base. To ensure sustainable economic development the government should allocate more investment in the dry land area. IndonesianPemanfaatan lahan kering di Indonesia hingga dewasa ini masih jauh dari optimal. Untuk menjawab "teka-teki besar" krisis multi dimensi, yang berawal dari krisis ekonomi 1997, dan memperkecil peluang terjadinya pengulangan krisis di kemudian hari, masyarakat Indonesia perlu melihat lahan kering sebagai salah satu kunci pembukanya. Pemberdayaan lahan kering untuk pengembangan agribisnis bukan saja akan dapat membantu mengatasi stagnasi dan krisi ekonomi dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang akan memberikan manfaat eksternal yang relatif besar di bidang penyehatan ekosistem, pemeliharaan sumberdaya alam dan pengembangan perspektif kegiatan ekonomi berwawasan kebangsaan secara lebih luas. Dalam kaitan itu tersebut beberapa upaya yang diperlukan dalam rangka pemberdayaan lahan kering yaitu: (1) Pembangunan infrastruktur ekonomi di luar Jawa di mana lahan kering terhampar luas, (2) Penataan pola pemanfaatan lahan kering terhampar relatif luas, (2) penataan pola pemanfaatan lahan kering dengan pendekatan wilayah DAS sedemikian rupa sehingga sistem lingkungan dan sirkulasi air berlangsung secara baik. Dalam kaitan ini, pengembangan komoditas pertanian yang sesuai dengan tat guna lahan dan distribusi penguasaan lahan merupakan langkah penting, (3) Perancang kebijakan pembangunan di kalangan ekuin harus lebih memperhatikan pembangunan sektor ekonomi yang berlandaskan pada kekuatan sendiri. Untuk menjamin pembangunan ekonomi secara berkelanjutan maka pemerintah perlu lebih mengarahkan investasinya ke wilayah lahan kering
Perkembangan ekonomi kakao dunia dan implikasinya bagi Indonesia
IndonesianProduksi kakao dunia telah menunjukkan perkembangan yang pesat. Hal ini terjadi sebagai akibat dari meningkatnya produksi di negara-negara produsen tradisional maupun munculnya produsen-produsen baru yang penting seperti Malaysia. Di pohak lain, konsumsi kakao dunia nampak lebih stabil. Beberapa negara konsumen bahkan telah menunjukkan tanda-tanda kejenuhan dalam konsumsi. Perkembangan produksi dan konsumsi yang tidak seimbang akhirnya tercermin dalam perkembangan harga yang cenderung terus merosot. Berdasarkan pada gambaran di atas, maka perluasan areal dan peningkatan produksi kakao di Indonesia memerlukan pengkajian yang lebih mendalam tentang seberapa jauh peningkatan produksi tersebut perlu dilakuan. Perluasan areal selayaknya dibatasi pada daerah-daerah yang memang cocok untuk kakao. Selain untuk memperoleh produktivitas yang tinggi hal ini dimaksudkan pula untuk mendapatkan kualitas kakao yang lebih baik. Selain itu diperlukan pula usaha-usaha untuk menjamin bahwa harga kakao ditingkat petani sesuai dengan kualitasnya. Dalam jangka panjang, pengembangan produksi kakao juga selayaknya disertai dengan pengembangan industri pengolahannya. Hal ini sejalan dengan perkembangan impor kakao di beberapa negara konsumen yang cenderung berubah ke dalam bentuk kakao olahan. Untuk memperluas pasaran kakao, selain pasar internasional, konsumsi kakao domestik juga perlu didorong
Aspek Permintaan, Penawaran dan Tataniaga Hortikultura di Indonesia
This study analiyzes demand/consumption, supply/production, and marketing of horticulture (vegetables and fruits) related to its development in Indonesia. Descriptive analysis throught cross tabulation and trend analysis of production and consumption using seondary data from CBs and result, of several research on horticulture. The result of the analysis show that (1) consumption level of vegetable and fruits in 1992 is relatively low i.e 25.8 and 28.04 Kg/Capital/year respectively.This shows a high opportunity to develop horticultural production in Indonesia; (2) in domestic market, the dominant factors influencing holticulture consumption are number of population (consumer) and growth of average population income (3) price fluctuation, improportional price transmission between producer-retailer, and perishable characteristic of the commodities are the main problems in horticulture marketing systemin Indonesia. To anticipate the opportunity of increasing demand both domestic and export markets, the efforts can be made are (1) intensification at the production centre areas, (2) extensification to create new production areas, (3) special attention for developing specific tropical holticulture, and (4) effeciency in marketing by improving transportation, packaging and storage system
Mewujudkan Keunggulan Komparatif Menjadi Keunggulan Kompetitif Melalui Pengembangan Kemitraan Usaha Hortikultura
EnglishChanges in strategic environment indicated by trade liberalization, regional autonomy, consumer preference, and environmental sustainability, require conduct adjustment of horticulture agribusiness partnership institutions. This review focuses: (1) the concept of competitiveness and importance of partnership; (2) status of competitiveness of some Indonesian horticultural commodities; (3) formulating critical nodes of competitive business partnership; (4) efforts to realize comparative advantage into competitive advantage through business partnership. In general, horticultural commodities have both comparative and competitive advantages, but its comparative advantage parameters are less than those competitive advantage. It indicates that horticulture farmers pay higher costs of inputs or receive lower price of their outputs than they have to. The fact shows that domestic horticulture products get difficulty in penetrating Singapore and Malaysia’ markets due to low quality, irregular supply, significant losses during transportation, and unfavorable domestic political circumstance. Strategy of horticulture agribusiness partnership institutions through satisfactory social process based on mutual interest will change comparative advantage into competitive advantage. IndonesianPerubahan lingkungan strategis seperti liberalisasi perdagangan, otonomi daerah, perubahan preferensi konsumen, dan tuntutan terhadap kelestarian lingkungan, menuntut adanya perubahan cara beroperasinya kelembagaan kemitraan usaha agribisnis hortikultura. Tulisan ini membahas: (1) Konsep daya saing dan pentingnya kemitraan usaha; (2) Status daya saing komoditas hortikultura di beberapa sentra produksi di Indonesia; (3) Rumusan simpul-simpul kritis pengembangan kelembagaan kemitraan usaha yang berdaya saing; dan (4) Upaya untuk mewujudkan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui strategi kemitraan usaha. Secara umum komoditas hortikultura memiliki keunggulan komparatif dan sekaligus keunggulan kompetitif, namun parameter keunggulan komparatif lebih rendah dibandingkan keunggulan kompetitifnya. Hal ini mengandung makna bahwa petani hortikultura membayar harga input produksi lebih tinggi dari yang seharusnya dan atau menerima harga output lebih rendah dari yang seharusnya. Faktanya dewasa ini produk hortikultura tetap mengalami kesulitan untuk dapat bersaing dan akses terhadap pasar Singapura dan Malaysia karena masalah kualitas, kontinuitas pasokan, tingginya kerusakan dalam pengangkutan, serta kondisi sosial politik dalam negeri yang belum kondusif. Srategi pengembangan kelembagaan kemitraan usaha agribisnis hortikultura melalui proses sosial yang matang dengan dasar saling percaya mempercayai di antara pelaku agribisnis diharapkan dapat membantu mewujudkan keunggulan komparatif yang dimiliki menjadi keunggulan bersaing