Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
The implementation of sharia bylaws and its negative social outcome for Indonesian women
The formalisation of sharia law has been the subject of wide-ranging debate in Indonesia, also internationally. This is because this idea has significant implications, politically and socially, not only for Muslims, but also for women and other followers of other religions who live in Indonesia. It is important to note that there are 78 sharia bylaws which have already been ratified by regional authorities. And more than 52 cities and regencies have applied these regulations at the regional level. Some analysts argue that the implementation of sharia bylaws reflects on the fact that the majority of the Indonesian population needs morality and public order which will be beneficial for improving their lives. However, others rebut this argument by pointing to the fact that the enactment of sharia laws will discriminate and trigger violence against women. This paper will examine the implementation of sharia bylaws and its impacts on Indonesian women. This paper will argue that the implementation of sharia laws have negative impacts on Indonesian women because it has caused negative social outcome for women and women is the most vulnerable from this policy. Formalisasi hukum syariah atau penerapan perda Syariah telah menjadi topik yang menarik debat hangat di Indonesia, juga secara internasional. Hal ini Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies karena kebijakan dan ide ini mempunyai dampak yang sangat serius –secara politik dan sosial—tidak hanya untuk kalangan Muslim, tapi juga untuk perempuan dan pemeluk agama lain di Indonesia. Penerapan perda Syariah hingga saat ini masih terus berjalan dan ada 78 Perda Syariah yang sudah diratifikasi oleh pemerintah lokal. Selain, lebih dari 52 kota dan kabupaten yang telah menerapkan Perda Syariah ini. Sebagian kalangan berargumen bahwa penerapan Perda Syariah adalah hal yang wajar karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim dan mereka membutuhkan aturan publik dan moralitas untuk kehidupan mereka. Namun, sebagian berpendapat bahwa menolak argumen tersebut dengan memberikan fakta bahwa perda Syariah akan mendiskriminasi dan memicu kekerasan terhadap perempuan. Artikel ini akan berargumen bahwa penerapan Perda Syariah memberikan dampak negatif terhadap perempuan karena ini mengakibatkan dampak sosial yang buruk terhadap perempuan dan perempuan menjadi pihak yang paling rentan menderita dari kebijakan ini
The typology of Muhammadiyah Sufism: tracing its figures’ thoughts and exemplary lives
; " This article explores the style of sufism from the perspective of Muhammadiyah.It is a literature study on the official fatwa given by Muhammadiyah on sufism as a part of spiritual dimension in Islamic teaching. This study places a number of Muhammadiyah figures as the subject of study. This study concludes that the views of Muhammadiyah and its figures on sufism are very positive. Sufistic life in fact also becomes a trend among the followers of Muhammadiyah. Important styles of Muhammadiyah sufism include: first, Muhammadiyah sufistic teachings are based on pure monotheism. The second, Muhammadiyah sufistic is practiced under the frame of shari‘ah, on the basis of the Qur’an and Hadith. Third, the substance of sufism in the Muhammadiyah perspective is noble character that should be realized in daily life. Fourth, the orientation of Muhammadiyah sufism emphasizes the dimension of righteous deeds, social praxis, and of moving from theory to practice. Fifth, Muhammadiyah sufism presents sufistic teachings adjusted to the spirit of modernity so that it may be called modern sufism. Sixth, Muhammadiyah sufism is expressed in more active and dynamic styles. A sufi is not allowed to do nothing, but is obliged to work actively and to interact with society. Seventh, Muhammadiyah sufism stays away from the philosophical sufism discourse that may potentially cause debates. Muhammadiyah views that to become sufi, one should not become the member of sufi order with the style of “teacher-centered” in practice.Artikel ini membahas corak sufisme dalam perspektif Muhammadiyah. Kajianini merupakan studi literatur terhadap fatwa resmi Muhammadiyah terhadap sufisme sebagai bagian dari dimensi spiritual ajaran Islam. Kajian ini juga menempatkan sejumlah tokoh Muhammadiyah sebagai subjek studi. Kajian ini menyimpulkan bahwa perspektif Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya terhadap sufisme sangat positif. Kehidupan sufistik dalam kenyataannya juga menjadi trend di kalangan pengikut Muhammadiyah. Corak sufisme Muhammadiyah yang penting meliputi: pertama, ajaran sufisme Muhammadiyah berbasis pada tauhid murni. Kedua, sufisme Muhammadiyah dipraktekkan dalam bingkai syariah, berdasar al-Qur’an dan hadits. Ketiga, substansi sufisme dalam perspektif Muhammadiyah adalah akhlak mulia dan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, orientasi sufisme Muhammadiyah menekankan dimensi amal salih, praksis sosial, dan bergerak dari teori ke praktek. Kelima, sufisme Muhammadiyah menampilkan ajaran tasawuf yang disesuaikan dengan spirit modernitas sehingga layak disebut tasawuf modern. Keenam, sufisme Muhammadiyah diekspresikan dalam corak yang lebih aktif dan dinamis. Seorang sufi tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus aktifbekerja dan berinteraksi dengan masyarakat. Ketujuh, sufisme Muhammadiyahmenjauhi wacana tasawuf falsafi yang potensial mengundang perdebatan.Terakhir, Muhammadiyah berpandangan untuk menjadi sufi, seseorang tidakharus menjadi anggota tarekat yang dalam prakteknya bercorak guru sentris
Healthy-minded religious phenomenon in shalawatan: a study on the three majelis shalawat in Java
As a movement, majelis shalawat becomes religious phenomenon that recently flourish in Indonesia, particularly Java. It emerges as urban spirituality like majelis dzikir that previously popular among people. However majelis shalawat is dissimilar with majelis dzikir due to its characters are not sadness, sorrow, and crying; it prefer to express happiness, cheerful, and enjoying religion. These characters indicate a Healthy-minded religious phenomenon, a term which is came originally from William James and popularized by W.H.Clark. Among many majelis shalawat groups ini Indonesia, the three most famous and biggest are Majelis Shalawat Habib Syech (Surakarta), Habib Luthfi (Pekalongan), and Maiyah Cak Nun (Yogyakarta). This research explores characteristics of majelis shalawat that indicate healthy-mindedness. Furthermore, it also discovers various motivations that lead people (jamaah) to follow the majelis shalawat. Conducting qualitative method and Psychology of Religion approach, and employing interview and observation as method for data gathering, it results several findings. First, as a religious activity, shalawatan reallydepends on the role of its charismatic leader. The charisma of Habib Luthfi, Habib Syech, and Cak Nun is the main attractive factor for jamaah to come. It ; " is because the charismatic leaders have deep understanding of religious knowledge and they also are blessed with certain talent such as beautiful voice and having good skill on music. Besides that, the leaders are often giving smart joke. Second, through shalawatan, people feel happiness and optimistic to face their life, preferring extrovert attitudes, have more free theology, and feels conducive atmosphere for their religious growth. Those are evidences that majelis shalawat has healthy-mindedness characters. Third, people motivation also in in attending majlis shalawat consist of religious escapism, strengthening solidarity and ukhuwah islamiyah, to learn more religious knowledge (thalabul ‘ilmi), and to gain religious transformation.Majelis shalawat sebagai sebuah gerakan merupakan fenomena keagamaan yang marak di Indonesia khususnya Jawa. Kehadirannya lebih sebagai spiritualitas urban namun tampil berbeda jika dibandingkan majelis dzikir yang terlebih dahulu populer. Majelis shalawat tidak menunjukkan cirri sendu, muram, dan tangisan seperti majelis dzikir, namun justru memperlihatkan cirri bahagia, senang, dan menikmati agama. Karakteristik beragama yang demikian oleh Clark dan William James disebut healthy mindedness. Dari beberapa majelis shalawat di Indonesia, tiga yang terbesar adalah Majelis Shalawat Habib Syech (Surakarta), Habib Luthfi (Pekalongan), Maiyah Cak Nun (Yogyakarta). Penelitian ini menelusuri apa saja karakteristik majelis shalawat yang merupakan indikasi healthymindedness, kemudian mengungkap pula ragam motivasi yang mendorong jamaah mengikuti majelis shalawat. Dengan menerapkan metode kualitatif dan pendekatan Psikologi Agama, dan dengan interview serta observasi sebagai alat utama pengumpulan data, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan. Pertama, sebagai sebuah aktifitas keagamaan, majelis shalawat cukup bergantung dari peran sang tokoh utama pemimpin majelis shalawat. Karisma Habib Luthfi, Habib Syech, dan Cak Nun merupakan daya tarik terbesar bagi jamaah. Hal ini karena selain memiliki kedalaman ilmu agama, para pemimpin karismatik tersebut juga diberkahi dengan kemerduan suara dan kemampuan bermusik, bahkan humor cerdas juga sering muncul sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah. Kedua, dengan mengikuti majeliss halawat, jamaah merasakan kebahagiaan dan optimism dalam menatap kehidupan, mereka bersikap lebih ekstrovet, berteologi secara lebih bebas, dan merasakan situasi yang mendukung untuk perkembangan keberagamaan mereka. Hal-hal tersebut menandakan bahwa majelis shalawat memiliki karakter healthy-mindedness. Ketiga, motivasi jamaah dalam mengikuti majlis shalawat, yaitu untuk mendapatkan jalan keluar yang agamis, menguatkansilaturahim dan ukhuwah islamiyah, mencari ilmu(thalabul ‘ilmi), dan untukmencapai transformasi keagamaan.
Common identity framework of cultural knowledge and practices of Javanese Islam
Previous literatures apparently argued that Javanese Islam is characterized by orthodox thought and practice which is still mixed with pre-Islamic traditions. By using approach of the sociology of religion, this article tries to explain contextualization of Islamic universal values in local space. The results showed that synthesis of orthodox thought and practice with pre-Islamic traditions is doubtless as a result of interaction between Islam and pre-Islamic traditions during the Islamization of Java. In addition, this study found the intersection of Islam and Javanese culture in the terms of genealogy of culture, Islamic mysticism, orientation of traditional Islamic teachings, and the conception of the power in Javanese kingdom. Since kejawen practices accordance with Islamic mysticism can be justified by the practice of the Muslims. Thus the typology of the relationship between Islam and Javanese culture are not contradictory but dialectical. Finally, a number of implications and suggestions are discussed Berbagai literatur sebelumnya mengenai studi Islam di Jawa umumnya berpendapat bahwa Islam Jawa ditandai dengan pemikiran dan praktek yang masih tercampur dengan tradisi pra-Islam. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi agama, artikel ini mencoba untuk menjelaskan makna dari kontekstualisasi nilai-nilai universal Islam pada lingkup lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis pemikiran dan praktek dengan tradisi pra-Islam merupakan hal yang lumrah sebagai hasil interaksi antara Islam dan tradisi praIslam selama periode Islamisasi. Penelitian ini menemukan persamaan identitas antara Islam dan budaya Jawa dalam hal genealogi budaya, mistisisme Islam, orientasi pengajaran Islam tradisional, dan konsepsi kekuasaan di keratonkeraton Jawa. Karena praktek kejawen dapat dijustifikasi sesuai dengan praktek mistisisme Islam, maka tipologi hubungan antara Islam dan budaya Jawa tidak bertentangan tetapi bersifat dialektis
The ideological fragmentation of Indonesian Muslim students and da’wa movements in the postreformed era
The presence of post-reformation religious organizations has influenced students’ ideology and movements. Thus, this study explains the processes of Muslim students’ ideological fragmentation and its implications to the future of students’ post-reformation movements. This study is conducted through observations and interviews to extracurricular organizational activists in Purwokerto. Reflective analysis is then conducted using primary and secondary data. Islamic ideology has many important roles, such as guidance, values, beliefs, and directions for da’wa (Islamic missionary)activities. In its operation, Islamic ideology is fragmented into fundamental, modernist, liberal, and traditional ideology. The ideological processes are influenced by several factors, such as organization historical background, ideological relationship with social organizations, development of Islamic transnational organizations, students’ increasing demands and needs in modern era, as well as the presence of massive information media. The Implications of ideological fragmentation influence post-reformation activities performed by those Muslim students. They donot only perform religious activities by mentoring as previously performed in the new order, but also doing debate activities onIslamic theology, politics, community empowerment, global awareness,issues on humanities, and responses to the development of science and technology.The presence of ideological fragmentation may not be negatively faced andconsolidated in a single view. The most important one is how to critically and constructively maintain and develop the ideology. Munculnya berbagai organisasi keagamaan pasca reformasi memiliki dampak pada ideologi dan gerakan mahasiswa. Oleh karena itu, pada tulisan ini akan diuraikan tentang proses terjadinya fragmentasi ideologi pada mahasiswa muslim dan implikasinya terhadap masa depan gerakan mahasiswa muslim pasca reformasi. Kajian dilakukan dengan cara observasi dan wawancara dengan para aktivis organisasi ekstra kampus di Purwokerto. Kemudian, penulis melakukan analisis-reflektif dengan menggunakan data-data dari sumber utama dan data pustaka. Ideologi Islam memiliki peranan yang amat penting sebagai pedoman, nilai, keyakinan dan arah untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan dakwah. Ideologi tersebut dalam operasionalisasinya terjadi fragmentasi yang mengarah pada fundamental, modernis, liberal, dan tradisional. Proses terjadinya ideologi dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: latar belakang sejarah organisasi, memiliki hubungan ideologis dengan organisasi kemasyarakatan, berkembangnya organisasi-organisasi Islam transnasional, tuntutan dan kebutuhan mahasiswa era modern, serta adanya media informasi yang semakin massif. Implikasi dari fragmentasi ideologi Islam berdampak pada ragamnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa muslim pasca reformasi. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan keagamaan melalui mentoring saja seperti yang terjadi pada era Orde Baru, melainkan juga menghadirkan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada perdebatan teologi Islam, politik mahasiswa,pemberdayaan masyarakat, kepedulian pada masalahmasalah kemanusiaan dan global, serta responsif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.Adanya fragmentasi ideologi tidak perlu disikapi secara negatif dan tidak bisa disatukan dalam satu warna. Tugas kita adalah bagaimana memelihara dan mengembangkan ideologi tersebut secara kritis-konstrukti
Déwi Malêka: the Javanese Islam manuscript
This paper concerns on the Javanese Islam manuscript entitled Déwi Malêka Code Br.16 saved at the National Library of Republic Indonesia in Jakarta and Cod.Or 7562 preserved at the Library of Leiden University the Nether- lands. The objectives of this study are to describe the physical condition of the manuscripts and to examine the content of those two texts especially the Islamic and Javanese values. Data was collected using documentary research and analyzed using codicology, philology and Islamic studies. The finding of this research shows that these manuscripts tell about the story of Dèwi Maléka, a queen of Rum. From this story, it can be understood about the Islamic and Javanese values that are presented as questions and answers. In the last chapter of each text, there are some advises related to what should not be done by human being refereeing to the Javanese values. Artikel ini membahas manuskrip Islam Jawa berjudul Déwi Malêka kode Br.16 yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia di Jakarta dan manuskrip dengan kode Cod.Or 7562 yang berada di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda. Penelitian ini fokus pada deskripsi kondisi fisik naskah, dan isi dari dua teks tersebut, khususnya terkait dengan nilai-nilai Islam dan Jawa yang terkandung dalam teks. Data dikumpulkan dengan menggunakan s tudi dokumentasi dan dianalisis dengan bantuan ilmu filologi, kodikologi dan studi Islam. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kedua naskah bercerita tentang Dèwi Maléka, ratu negeri Rum. Dari cerita yang dipaparkan dalam bentuk Tanya jawab dapat diketahui bahwa naskah ini berisi tentang nilai- nilai Islam dan Jawa. Pada bagian akhir teks terdapat nasehat terkait dengan apa-apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh manusia. Nasehat-nasehat tersebut merujuk kepada nilai-nilai Jawa
Zakah index: Islamic economics’ welfare measurement
Zakah is one of the five pillars of Islam. Compared to the other pillars, Zakah intersects with most the human dimensions: spiritual, individual, social, economic, and is quantifiable. Zakah also fulfills all of the aspect of the Maqas}id al-Shari‘ah that preserves public interests (maslahah). This paper argues that the lack of full observance of the objectives of the obligation in performing Zakah, which is intended to increase the welfare/wellbeing of the society, makes Islamic Economics as a discipline completely ineffective and inefficient in performing its essential characteristics in fulfilling the Maqas}id al-Shari‘ah. The expected outcome of this study is Zakah Index that will represents the monitoring of Zakah payment in Islamic or Muslim populated country, hence providing academics, students, society, and policy maker in Islamic or Muslim populated country an alternative measurement of economic progress, instead of Gross Domestic Product (GDP). The method used in the conceptualization of the Index and its derivatives are content analysis and conventional literature. Finally, Zakah Index is intended to be as an Islamic Economics tool to measure not only the welfare/wellbeing of Islamic Society, but also its religious (spiritual). On the last part of the paper, the Zakah Index Model then is applied to the East Java province. Zakah adalah salah satu rukun Islam. Dibandingkan dengan pilar yang lain, zakah bersinggungan dengan hampir seluruh dimensi manusia: spiritual, individual, sosial, ekonomi dan ia dapat diukur. Selain itu, zakah juga memenuhi seluruh aspek Maqas}id al-Shari‘ah yang bertujuan melindungi kepentingan umum (maslahah). Paper ini didasarkan pandangan bahwa minimnya pengawasan kewajiban pembayaran zakah, yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjadikan Ilmu Ekonomi Islam sebagai disiplin tidak efektif dan efisien dalam menjalankan karakteristik utamanya untuk memenuhi tujuan Shariah. Luaran dari studi ini adalah Indeks Zakah yang akan merepresentasi pengawasan pembayaran Zakah di Negara Islam atau masyarakat mayoritas muslim, yang dengan demikian menyediakan alternatif pengukuran kemajuan ekonomi bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat daripada menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB). Metode penyusunan konsep indeks ini dengan berbagai derivasinya adalah content analysis dan metode induktif yang meliputi literatur Islam dan konvensional. Akhirnya, Indeks Zakah ini dimaksudkan menjadi “tool” Ilmu Ekonomi Islam untuk mengukur tidak hanya kesejahteraan masyarakat muslim, namun juga aspek religiusitasnya. Pada bagian akhir paper ini, model Indeks Zakah ini dipalikasikan di Provinsi Jawa Timur
Islamic fundamentalism, nation- state and global citizenship: the case of Hizb ut-Tahrir
Contrary to common understanding among observers, this essay argues that Islamic fundamentalism is not anti-globalization movement, but rather as parts, participants, and interpreters of globalization. Focusing on the case of Hizb ut-Tahrir, it shows that regardless of its utopian nature of the ideology it pro- motes, Islamic fundamentalism is a globalizing force that constitutes a return of old world religions to modern society, which is characterised by its rejec- tion of the validity of nation-states and vision of a global citizenship through the establishment of Islamic Caliphate as a single global community of believ- ers (ummah) with its universalistic rules and laws within contemporary Mus- lim world. Berbeda dari pandangan yang sejauh ini banyak dikemukakan oleh para pengamat, tulisan ini berargumen bahwa fundamentalisme Islam bukan merupakan gerakan anti-globalisasi, melainkan justru sebagai bagian, partisipan dan penafsir fenomena globalisasi. Dengan memfokuskan analisisnya pada kasus Hizb ut-Tahrir, tulisan ini menunjukkan bahwa terlepas dari sifat utopian ideologi yang diusungnya, gerakan fundamentalisme Islam tidak diragukan lagi merupakan sebuah kekuatan globalisasi yang mewakili kembalinya agama besar dunia ke masyarakat modern, yang bercirikan penolakan atas validitas negara- bangsa dan visi kewarganegaraan global melalui pembentukan komunitas glo- bal umat Islam dalam bentuk khilafah Islam dengan aturan dan hukum universalnya dalam dunia Islam kontemporer
On pluralism, religious ‘other’, and the Quran: a post September-11 discourse
The plurality and diversity of religions is not a new thing that we experience in the postmodern world. History is testimony to the fact that different religions have evolved and existed on the face of earth as the human life moved forward. However, in the recent decade, particularly aftermath of 9/11, the bourgeoning conflict, violence, hatred pervasive in the world is often attributed to different ideologies and values associated with religions, Islam with no exception. Therefore, Muslims living as minorities on the both sides of the Atlantic Ocean are in a precarious condition. Besides, the increasing proximity between the individuals of different religions and, more so, of communities due to the miraculous advancements in the technology of communication and transport facilities have resulted into inevitable intercultural interaction and integration more than ever before. Consequently, attempts are being made to explain Islam’s compatibility with Western concept of religious pluralism. Islam recognises political, social pluralism rather than religious pluralism per se, which are explicit in the Quran and the prophetic traditions.I n this background, the paper is an attempt to re-explore and re-revisit the concept of pluralism in Islamic sources. It attempts to re-construct the theme of pluralism away from the extremes to a balanced (wasatiyya) and viable one that strives for the recognition and accommodation of the religious “other” without nullifying Islam’s own essence and identity. The paper concludes that Islam not only recognizes, appreciates and tolerates the religious differences but it also demands for peaceful coexistence and mutual understanding among different religions. Pluralitas dan keragaman agama bukan hal baru yang kita alami dalam dunia postmodern. Sejarah adalah kesaksian fakta bahwa agama-agama yang berbeda telah berevolusi dan ada di muka bumi sebagai kehidupan manusia bergerak maju. Namun, dalam dekade terakhir, khususnya setelah 9/11, konflik, kekerasan, kebencian yang menyebar di dunia ini sering dikaitkan dengan ideologi yang berbeda dan nilai-nilai yang berhubungan dengan agama, Islam tanpa terkecuali. Oleh karena itu, umat Islam yang hidup sebagai minoritas di kedua sisi Samudra Atlantik berada dalam kondisi genting. Selain itu, kedekatan kian meningkat antara individu-individu dari berbagai agama dan, lebih dari itu, masyarakat karena kemajuan ajaib dalam teknologi komunikasi dan fasilitas transportasi telah mengakibatkan interaksi antarbudaya yang tak terelakkan dan integrasi yang lebih dari sebelumnya. Akibatnya, diperlukan upaya yang untuk menjelaskan kompatibilitas Islam dengan konsep Barat mengenai pluralisme agama. Islam mengakui, pluralisme sosial politik daripada pluralisme agama per se, yang eksplisit dalam al-Quran dan tradisi kenabian. Dalam latar belakang ini, kajian ini merupakan upaya untuk kembali mengeksplorasi dan meninjau kembali konsep pluralisme dalam sumber-sumber Islam. Kajian juga mencoba untuk membangun kembali tema pluralisme dari pendekatan yang ekstrem ke pendekatan moderat (wasatiyya) dan berusaha untuk mengakui dan mengakomodasi agama “lain” tanpa meniadakan esensi dan identitas Islam sendiri. Makalah ini menyimpulkan bahwa Islam tidak hanya mengakui, menghargai dan mentoleransi perbedaan agama tetapi juga menuntut untuk hidup berdampingan secara damai dan saling pengertian antara agama-agama yang berbeda
Indonesian Muslim killings: revisiting the forgotten Talang Sari tragedy (1989) and its impact in post authoritarian regime
Although the Talang Sari tragedy as a part of the representation of Indonesian Muslim oppression during the authoritarian regime, it is relatively lesser known for Indonesian public. The avoidance of the most Indonesian Muslim who did not support it is one of those facts. Indeed, they did a less attention to talk and to articulate the case to the public. This paper intends to revisit the case of the Talang Sari as one of the unsolved human rights violation during the authoritarian regime. It is not only exploring the case and also examining the context of violence, but also tracing dynamic of the case during and post of authoritarian regime by the emergence of Islah agreement as cultural impu- nity to forget the past for many victims. The questions deals with in this paper are following: what kind of conditions that made the Talang Sari was happen- ing in East Lampung in 1989, South Sumatra during the Suharto presidency? How did the Suharto regime control the discourse of the tragedy in Indone- sian public that eventually encourage most Indonesian Muslim did not actively respond the killings? Although the reformasi era gives an opportunity break silences by asking justice to the current Indonesian government on hu- man rights violation, why those cases, especially the Talang Sari, are unsolved? This paper divided into three parts to answering the questions. Firstly, it is to understand the case of Talang Sari by discussing the context of the New Order’s policy on Indonesian Muslim and its political ideology. Secondly, it is to read deeply mass media in making discourse on the case as one of the triggers for most Indonesian Muslim did not respond it. Thirdly, it is to analyze the Islah agreement (reconciliation in Islamic term) as the primary factor that contrib- uted why cultural impunity has seemingly embedded to bring justice to the victims of violence generally in the post of Suharto regime. Meskipun Peristiwa Talang Sari sebagai bagian dari representasi penindasan masyarakat Muslim Indonesia selama rejim otoriter berkuasa, peristiwa itu jarang diketahui oleh publik Indonesia. Pengabaian kebanyakan Muslim Indo- nesia yang tidak mendukung upaya penyelesaian kasus tersebut adalah salah satu buktinya. Bahkan, mereka tidak membicarakan dan mengangkat kasus Talang Sari di ruang publik. Artikel ini bermaksud melihat kembali peristiwa Talang Sari sebagai salah satu kasus pelanggaran yang belum diselesaikan. Selain mengeksplorasi kasus, menjelaskan konteks kekerasan, artikel ini juga menelusuri dinamika kasus tersebut sebelum dan pasca rejim Orde Baru, khususnya seiring dengan kemunculan Islah sebagai Impunitas Kultural untuk melupakan masa lalu oleh sebagaian korban. Pertanyaannya yang diajukan dalam artikel ini adalah: kondisi-kondisi semacam apa yang membuat kasus Talang Sari terjadi di Lampung Timur pada tahun 1989, Sumatera Selatan saat presiden Suharto berkuasa? Bagaimana rejim Suharto mengontrol wacana peristiwa tersebut yang membuat kebanyakan masyarakat Islam Indonesia tidak menanggapi peristiwa tersebut? Meskipun pasca rejim Orde Baru memberikan kesempatan untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan mendesak untuk mengajukan keadilan kepada pemerintah Indonesia, mengapa peristiwa Talang Sari tidak atau belum diselesaikan hingga sekarang?. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya membagi penjelasan ini kepada tiga bagian. Pertama, memahami kasus Talang Sari dengan mendiskusikan konteks kebijakan rejim Orde Baru dalam menghadapi umat Islam dan ideologi politiknya. Kedua, membaca lebih dalam media cetak dalam membuat wacana peristiwa tersebut melalui liputan yang dibuat. Asumsi ini diajukan karena liputan media tersebut menjadi salah satu penyebab mengapa kebanyakan umat Islam tidak merespon peristiwa tersebut. Ketiga, menganalisis persetujuan Islah, rekonsiliasi dalam perspektif Islam sebagai faktor utama yang memberikan kontribusi terhadap impunitas kultural untuk membawa keadilan ke jalan yang lebih sulit kepada korban secara umum pasca rejim Suharto