Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
Fatwas of the Indonesian council of ulama and its contributions to the development of contemporary Islamic law in Indonesia
This article addresses the contributions of the fatwas of the Indonesian Council of Ulama (MUI) to the transformation of contemporary Islamic law and the development of Islamic law in Indonesia, from 1975 to 2011. It aims to respond to the existing papers claiming that the MUI’s fatwas were likely to be compliant with the government’s wishes and dependent. This paper also wants to demonstrate another fact that the MUI has been inconsistently using their own guidelines for the determination of its fatwas. The present study found that over 26 years the MUI’s fatwas contributed positively to the transformation of contemporary Islamic law in Indonesia. During the period, the MUI produced 137 fatwas and 50 decisions, either addressed to Muslims and the Indonesian government. Therefore, the MUI’s fatwas, as among the elements of Islamic law in Indonesia, also contributed to the development of contemporary Islamic law in Indonesia.Artikel ini mengkaji kontribusi fatwa Majelis Ulama Indonesia terhadap transformasi hukum Islam kontemporer, dan perkembangan hukum Islam di Indonesia, dalam kurun waktu 1975 sampai dengan 2011. Tulisan ini bertujuan untuk menanggapi tulisan yang telah ada selama ini, bahwa fatwa MUI cenderung mengikuti keinginan pemerintah, dan tidak mandiri. Tulisan ini juga ingin membuktikan fakta lain, bahwa MUI tidak konsisten menggunakan pedoman penetapan fatwanya. Penelitian ini menemukan, bahwa fatwa MUI selama kurun waktu 26 tahun, telah memberikan kontribusi positif terhadap transformasi hukum Islam kontemporer di Indonesia. Selama kurun waktu tersebut, MUI telah menghasilkan 137 fatwa, dan 50 keputusan baik yang ditujukan kepada umat Islam, maupun pemerintah Indonesia. Sehingga fatwa MUI, sebagai salah satu unsur hukum Islam di Indonesia, telah juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan hukum Islam kontemporer di Indonesi
Chinese ways of being good Muslim: from the Cheng Hoo Mosque to Islamic education and media literacy
This article aims to explore the Chinese ways of being Muslim, from buildingthe Cheng Hoo mosque to serving Islamic education and media literacy. Inthe current millennial disruption era, the role of communication medialiteracy in the contemporary Indonesian Chinese Muslim community needsto be studied further, especially its role in supporting the status of being goodChinese Muslim. This article is also intended to discuss the Chinese ways offostering converts and Chinese Muslims through both communication medialiteracy and information technology literacy. Through media analysis method,communication media literacy is part of communication which is based on whosays what, in which channel, to whom, with what effects. This research finds outthat communication media literacy is used by the Indonesian Chinese Muslimcommunity through the publication of Cheng Hoo magazine, WhatsApp ForumPITI Jatim, website, and Facebook. All of these media are used and have asignificant effect on the relation, interaction, aspiration, and communicationbetween the Chinese Muslim community and Chinese non-Muslim community,and the Chinese Muslim community with non-Chinese Muslims in Indonesia.Moreover, the Chinese ways of being good Muslims could also be understoodfrom various ways in establishing Cheng Hoo Mosque, Islamic educationservices based on Chinese community from Kindergarten, Islamic ElementarySchool, Pesantren, and routine or regular discussions.Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana cara-cara orangTionghoa menjadi Muslim dari upaya pembangunan masjid Cheng Hoo hinggapelayanan pendidikan Islam dan literasi media. Di era disrupsi milenial sepertisaat ini, peran literasi media komunikasi dalam komunitas Tionghoa Muslimdi Indonesia kontemporer perlu dikaji lebih lanjut, khususnya perannya dalammendukung menjadi muslim Tionghoa yang baik. Paper ini juga bertujuanuntuk membahas cara Tionghoa dalam pembinaan mualaf dan MuslimTionghoa melalui literasi media komunikasi dan teknologi informasi. Melaluimetode analisis media, literasi media komunikasi merupakan bagian darikomunikasi yang berbasis pada siapa bicara apa, kapan, di mana dan melaluimedia apa serta apa dampaknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasimedia komunikasi yang digunakan komunitas Tionghoa Muslim di Indonesiamelalui penerbitan majalah Cheng Hoo, WhatsApp Forum PITI Jatim, Website dan Facebook. Semua media tersebut digunakan dan memiliki dampak signifikanbagi relasi, interaksi dan komunikasi antara komunitas Tionghoa Muslimdengan Tionghoa non-Muslim dan komunitas Tionghoa Muslim dengan non-Tionghoa Muslim di negeri ini. Lebih dari itu, cara Tionghoa menjadi Muslimyang baik juga terlihat dalam beberapa pelayanan pendidikan Islam berbasiskomunitas Tionghoa di Indonesia dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah DasarIslam, pengajian rutin, dan Pesantren
The language construction of Muslims as the others in French contemporary discourses
This article intends to explain the Muslims position in French contemporary discourses. France is a secular country, based on the principle of laïcité (separation between religion and State). France is also the country with the largest Muslim population in Europe. Muslims’ positions, as with others’, cannot be separated from the varied discourses in everyday life disseminated through different vehicles such as the media, literature, and conversations in society. Talking about the discourse of otherness is important to strengthenthe argument that the social relation patterns in France, where there hasbeen tension between Muslims and the French people in recent years, are not simply political or social questions. They are also language constructions. The Bourdieusian perspective explains how social construction is closely connected to language construction. Fear of Muslims, on the one hand, is related to political and social tensions, but on the other hand it is also related to language consumption and the historically constructed othering process. Based on the above situation, this article asks: first, in contemporary French discourses, what stereotypes regarding Islam and Muslims are represented in everyday language? Second, in which context do these stereotypes appear? Third, how are the language effects of the stereotypes of otherness, which serve as mental models for positioning the Other, operatedas social practices? Artikel ini bermaksud untuk menjelaskan posisi Muslim dalam diskursus Prancis kontemporer. Prancis adalah negara sekular, berbasis pada prinsip laïcité (pemisahan antara agama dan negara). Prancis juga merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di Eropa. Posisi Muslim “sebagai liyan”, tidak dapat dipisahkan dari berbagai diskursus sehari-hari yang terdeseminasi lewat berbagai kendaraan, seperti media, sastra, dan percakapan sehari-hari dalam masyarakat. Berbicara mengenai diskursus liyan menjadi penting untuk memperkuat argumen bahwa pola-pola hubungan sosial di Prancis, dimana ada ketegangan antara Muslim dan orang Prancis non Muslim akhir-akhir ini, bukanlah sekedar persoalan politik dan sosial. Ada pula persoalan konstruksibahasa. Perspektif Bourdieusian menjelaskan bagaimana konstruksi sosial berhubungan erat dengan konstruksi bahasa. Ketakutan pada Muslim, di satu sisi, berhubungan erat dengan ketegangan politik dan sosial, namun di sisi lain, hal ini terkait pula dengan konsumsi dan konstruksi historis dalam proses peliyanan. Berdasarkan situasi di atas, beberapa pertanyaan diajukan: pertama, dalam diskursus Prancis kontemporer, stereotip apa yang terdapat dalam diskursus sehari-hari terhadap Islam dan Muslim? Kedua, dalam konteks apa diskursus ini muncul? Ketiga, bagaimana efek bahasa terkait dengan stereotipterhadap liyan, yang merupakan model mental dalam memosisikan liyan dalam praktik sosial tersebut
Islam, gay, and marginalization: a study on the religious behaviours of gays in Yogyakarta
0px; " Man does not intend to be born gay, whose existence is not welcomed in the society including within his spiritual religious expressions. In Wonosobo, in the year of 2016, a marriage ceremony almost happened between a male and a male. This phenomenon is interesting to be studied in detail. In a specific way, this article uncovers the religious behaviours of gays in Yogyakarta. Usingan anthropological approach, the researchers were directly involved in the subjects’ lives in the social, economic, cultural, and religious aspects. In texts, same-sex relationships were found in the narratives of Prophet Luth written in the Al-Quran books Al-A’raf verse 81, Al-Shu’ara’ verses 165-166, An-Nisa verse 16, and Hud verses 77-83. These verses are used as the basis for rejecting homosexuality. From the social life happening in Yogyakarta there arise conflicts between the gays and their families so that they run away from their families to join gay communities and form economic and even religious groups.Furthermore, in their citizenship status, there is marginalization or administrative abuse for their identities in the identification card.Manusia tidak berniat untuk dilahirkan sebagai gay, yang keberadaannya tidak disambut baik di masyarakat termasuk dalam ungkapan spiritualnya. Di Wonosobo, pada tahun 2016, sebuah upacara pernikahan hampir terjadi antara sesama jenis lelaki. Fenomena ini menarik untuk dikaji secara detail. Artikel ini mengungkap perilaku religius kaum gay di Yogyakarta. Dengan menggunakan pendekatan antropologis, peneliti secara langsung terlibat dalam kehidupan subyekdalam aspek sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Dalam teks, hubungan sesama jenis ditemukan dalam narasi Nabi Luth yang ditulis dalam buku Al-Quran AlA’raf ayat 81, ayat Al-Shu’ara 165-166, An-Nisa ayat 16, dan ayat-ayat Hud 77- 83. Ayat-ayat ini digunakan sebagai dasar untuk menolak homoseksualitas. Dalam kehidupan sosial di Yogyakarta, timbul konflik antara kaum gay dan keluarga mereka. Konflik ini membuat mereka melarikan diri dari keluarga dan bergabung dengan komunitas gay dan membentuk kelompok ekonomi dan bahkan kelompok keagamaan. Dalam status kewarganegaraan, mereka mengalami marginalisasi atau penyalahgunaan administratif dalam kartu identitas mereka
Spirituality, dual career family worker, demographic factors, and organizational commitment: evidence from religious affairs in Indonesia
The purpose of this study is to specify whether spirituality, age, and tenurehave an effect on organizational commitment and to determine whether themoderating variables, i.e. dual career family worker, moderates the effect ofspirituality, age, and tenure on organizational commitment. The samples ofthe study were 90 staffs and lecturers of three educational institutions under the Ministry of Religious Affairs located in Central Java. They were IAINSurakarta, IAIN Salatiga, and MTsN 1 Surakarta. The research used Moderated Regression Analysis to analyze the data. The results showed that spirituality and tenure positively affect organizational commitment and dual careerfamily worker moderated the effect of spirituality and tenure on organizational commitment. Dual career family worker in this study can be categorized as a quasi-moderation variable.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah spiritualitas, usia,dan masa jabatan berpengaruh terhadap komitmen organisasi dan untukmenentukan apakah dual career family worker sebagai variabel moderasi dapatmemoderasi pengaruh spiritualitas, usia, dan masa jabatan terhadap komitmenorganisasi. Penelitian ini menggunakan 90 karyawan dan dosen sebagai sampeldari tiga institusi pendidikan di bawah Kementerian Agama di Jawa Tengah:IAIN Surakarta, IAIN Salatiga, dan MTsN 1 Surakarta. Teknik analisis yangdigunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Moderasi. Hasilnyamenunjukkan bahwa spiritualitas dan masa jabatan secara positif mempengaruhikomitmen organisasi dan dual career family worker sebagai variabel moderasimampu memoderasi spiritualitas dan masa jabatan terhadap komitmenorganisasi. Dual career family worker dalam penelitian ini dimasukkan sebagaivariabel moderasi kuasi
To research online or not to research online: using internet-based research in Islamic Studies context
" Indonesia is the largest Muslim country and the eighth largest Internet user in the world. Around 78 million people in Indonesia use the Internet in their daily lives. This provides new opportunities for Islamic education institutions and Muslim scholars to utilise this online space as a new research setting. Non-Islamic education institutions and scholars have utilised the Internet as a new avenue to conduct research, while Islamic education institutions and Muslim scholars have yet to make use of online space for research purposes.While dakwah, education and other Islamic social phenomena are being practiced on online platforms, Muslim scholars are yet to go online to understand this phenomenon. This paper addresses why Islamic institutions and Muslim scholars should go online and utilise the Internet as a new setting in their research agenda. This paper offers researchers at Islamic institutions the opportunity to consider new data collection and triangulation strategies to enhance their research output and paradigm. The paper’s discussion focuses on both quantitative and qualitative research methods. Some benefits of using social media in a research setting are discussed. Evidence that supports researchers utilising social media for research purposes are also summarised.Future research needs to focus on the application of this idea in empirical contexts, as well as consider ethical issues.Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar didunia and pengguna Internet kedelapan besar didunia. Saat ini ada sekitar 78 juta penduduk Indonesia menggunakan Internet dalam keseharian mereka. Fakta ini menjadi peluang baru bagi lembaga pendidikan Islam dan para ahli Muslim untuk memanfaatkan sarana online tersebut sebagai salah satu tempat penelitian baru. Lembaga pendidikan umum dan para ahli non-Muslim telah lama memanfaatkan sara online tersebut untuk kepentingan penelitian mereka, sementara lambaga pendidikan Islam dan para pakar Muslim masih belum juga memanfaatkan peluang baru ini. Padahal sejumlah fenomena ke-Islaman sudah di praktekkan di dunia online seperti Dakwah, pendidikan, dan berbagai aktifitas sosial ke-Islaman lainnya. Tulisan ini mengkaji mengapa lembaga pendidikan Islam dan para ahli Muslim sudah harus merubah paradigma penelitian mereka dengan beralih ke dunia online sebagai tempat baru untuk melakukan penelitian. Tulisan ini menyimpulkan agar lembaga pendidikan Islam dan para ahli Muslim untuk mempertimbangkan strategi baru dalampengumpulan data dan trianggulasi guna memperkaya hasil dan paradigma penelitian baik untuk penelitian kualitatif maupun kuantitatif. Tulisan ini juga menyajikan sejumlah keuntungan dari pemanfaatan dunia online sebagai karena baru penelitian. Sejumlah argumen dan contoh-contoh juga disajikan guna memperkuat hasil penelitian ini. Tulisan ini juga menyarankan agar kedepan ada penelitian lain yang menggunakan data empiris terkait perlunyapemanfaatan dunia online dalam penelitian terkait Islam
Islamic psychotherapy formulation: considering the Shifaul Qalbi Perak Malaysia psychotherapy model
Psychological issues faced by human beings in this modern era must be taken into account by psychologists, psychotherapists, psychiatrists, physicians, and observers of psychological problems. The existence of psychotherapists and institutions that provide treatment to recover people suffering from psychological problem is very important. Data of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia of 2011 show that the number of adult population in Indonesia reached 150 million and approximately 11.6%, or 17.4 million of them suffered from mental disorder, such as anxiety and depression. This fact enables researchers to study and examine implementation of a psychotherapy model at Shifaul Qalbi (House of Shiqal) in recovering mental disorders due to the effect of drug addiction. Shifaul Qalbi applies the IMEJ (Iman, Mental,Emosi and Jasmani) (Faith, Mental, Emotion and Physics) psychotherapy model. Through this model, the recovery process can run optimally. IMEJ is synergetic formulation. These four components are integrated implemented. Faithful patients must have a healthy mental condition, controlled emotion, and strong physics. IMEJ is very essential and in line with the mental stages known as Jujur, Amanah, Tanggungjawab, dan Ikhlas (JATI) (honest, trustworthy, responsible and sincere). House of Shiqal prioritizes awareness and sincerity for itsoperation. The awareness and sincerity of the therapist makes the house succeed in recovering more than 92% of 1,000 patients that have been recovered from drug abuse since 2008.Persoalan psikologis yang menghadang manusia modern di abad ini, perlu diambil perhatian serius pihak-pihak terkait. Eksistensi psikoterapis dan lembaga-lembaga perawatan dan pemulihan adalah keharusan. Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2011, dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 % atau 17,4 juta mengalami gangguan mental, seperti kecemasan dan depresi. Realitas ini, membuka ruang penelitian dan pengkajian, untuk menilik implementasi model Psikoterapi Shifaul Qalbi dalam membaik-pulih kesehatan mental, efek penagihan narkoba. Psikoterapi Shifaul Qalbi menerapkan model Psikoterapi Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani (IMEJ). Melalui pendekatan IMEJ, proses pemulihan dapatberjalan optimal. Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani adalah formulasi yang bersinergi. Empat komponen tersebut, diimplementasikan terintegrasi. Pasien yang beriman, mestilah memiliki mental yang sehat, emosional yang terkendali, dan jasmani yang kuat. Iman, Mental, Emosi, dan Jasmani (IMEJ) esensial dengan tahapan-tahapan mental yang disebut sebagai Jujur, Amanah, Tanggungjawab, dan Ikhlas (JATI). Penelitian ini dilakukan sebagai penelitian deskriptif kualitatif untuk mengkaji aspek psikologis pasien narkoba. Penelitian ini tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi diawali dari fakta empiris di Syifa’ul Qalbi. Peneliti secara langsung ke Syifa’ul Qalbi dalam menemukan data yang terjadi secara alami, untuk kemudian mencatat, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Psikoterapi Shifaul Qalbiadalah Rumah Shiqal yang mengutamakan kesadaran dan keikhlasan bagi kelangsungan psikoterapi. Dengan kesadaran dan keikhlasan Rumah Shiqal telah merawat pasien narkoba bersignifikan bebas dari penagihan narkoba
Ali Shari’ati’s revolutionary Islamic thought and its relevance to the contemporary socio-political transformation
Ali Shari’ati emerged as an enlightened intellectual figure in the phenomenonof the authoritarian and oppressive power of the Syah Pahlavi regime. Shari’atiappeared as a pioneer of radical ideas about Islam and the revolution whichstemmed from the Shi’a teachings that had been grafted into the revolutionary tradition of the Third World and Marxism. Shari’ati succeeded in establishing a revolutionary Islamic ideology that became the basis of the mass collective consciousness against the regime of the Syah. In Shari’ati’s thought, Islam is an emancipatory ideology and liberation. The progressive and revolutionary view of Shari’ati’s Islam derives from a belief system of tauhid. While tauhid in Shari’ati’s view is the unity among God, man and the universe, the society which is full of social discrimination, injustice, and arbitrariness can be categorized as Shirk, the opponent of tauhid. In the context of the Iranian revolution, the Shari’ati’s Islamic thought and ideology became the fourth t-text-stroke-width: 0px; " bridge or road from the ideological stalemate of the pre-revolutionary opposition movement, which is between secularist-nationalist, Marxist-Communistand Islamic Fundamentalism. Further, Shari’ati’s ideology paved the way forthe acceptance of Imam Khomeini as a revolutionary leader. This paper aimsto contextualize Ali Shari’ti’s views on socio-political change in Indonesia.Ali Shari’ati muncul menjadi sosok intelektual tercerahkan dalam fenomenakekuasaan rezim Syah Pahlevi yang otoriter dan menindas. Shari’ati lalu tampilsebagai pelopor gagasan-gagasan radikal tentang Islam dan revolusi yang bersumberdari ajaran Syi’ah yang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner DuniaKetiga dan Marxisme. Ali Shari’ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioneryang kemudian menjadi basis kesadaran kolektif massa menentang kekuasaan rezimSyah. Dalam pemikiran Shari’ati, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi danpembebasan. Pandangan Islam Ali Shari’ati yang progresif dan revolusionerbersumber pada satu sistem keyakinan yaitu tauhid. Jika tauhid dalam pandanganShari’ati adalah kesatuan antara Tuhan, manusia dan alam semesta, maka kondisimasyarakat yang penuh diskriminasi sosial, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangandapat dikategorikan sebagai syirk, lawan dari tauhid. Dalam konteks revolusi Iran,tawaran pemikiran dan ideologi Islam Syari’ati menjadi jembatan atau jalan keempatdari kebuntuan ideologi gerakan oposisi pra-revolusi, yaitu antara nasionalis-sekuler,Marxis-Komunis dan Fundamentalisme Islam. Ideologi Shari’ati melapangkanjalan bagi diterimanya Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusioner. Tulisanini hendak mengkontekstualisasikan pemikiran Ali Shari’ati dalam perubahan sosialpolitik di Indonesia
The rights of the child in Islam: their consequences for the roles of state and civil society to develop child friendly education
Islam as a religion concerned with justice and respect places great emphasis on human rights and responsibility. Child as a small human also has certain rights categorized into social, educational and financial rights. The social rights are divided into two categories: before birth and after birth. The social rights before birth includes right to noble parent having character and right to unborn child while the social rights after birth includes rights to lineage, suckle and nutrition, and being received by the Muslim society. The educational rights cover rights to life, general care and socialization as well as basic education, just and equal treatment, and physical education. The financial rights encompass rights to livelihood, property and inheritance. Such rights of the child guaranteed by Islam absolutely have relevance with the Convention on the Rights of the Child (CRC) adopted by the United Nations General Assembly in 1989. For enabling children to enjoy their rights, parental care plays role as a main foundation. But state and civil society organization also have key roles to play in this regard. A child friendly education may be a manifestation of social responsibility of state and civil society organization to respect and fulfill the rights of child. Such education provides a safe, clean, healthy and protective environment as well as meaningful learning for children with diverse abilities and backgrounds. Islam sebagai agama yang memperhatikan keadilan dan penghormatan memberikan penekanan yang tinggi pada hak asasi manusia dan tanggung jawab. Anak sebagai manusia kecil juga memiliki hak-hak yang dikategorisasikan ke hak-hak sosial, pendidikan, dan financial. Hak-hak sosial terbagi ke dalam duakategori: sebelum dan sesudah kelahiran. Hak-hak sosial sebelum kelahiran mencakup hak mendapatkan orangtua yang baik dan memiliki karakter, dan hak untuk tidak digugurkan dari kandungan, sementara hak-hak sosial sesudah kelahiran berupa hak mendapat silsilah keturunan yang jelas, hak mendapat air susu ibu dan gizi, dan hak diterima sebagai warga masyarakat Muslim. Adapun hak-hak pendidikan meliputi hak untuk hidup (sebagai prasyarat), hak memperoleh pengasuhan umum, hak sosialisasi, sebagaimana juga hakpendidikan dasar, hak perlakuan yang adil dan setara, serta hak pendidikan fisik. Sedangkan hak-hak finansial terdiri dari hak mendapatkan nafkah, hak memiliki harta, dan hak memperoleh warisan. Hak-hak anak yang dijamin oleh Islam tersebut ternyata relevan dengan Konvensi Hak-hak Anak yang disepakati dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada 1989. Untuk memungkinkan anak mendapatkan hak-haknya, perlindungan orangtua memainkan peranan sebagai landasan utama. Namun, dalam hal ini negara dan organisasi masyarakat sipil dapat juga memainkan peranan masing-masing. Pendidikan ramah anak dapat menjadi suatu perwujudan tanggung jawab sosial negara dan organisasi masyarakat sipil dalam menghormati dan memenuhi hak-hak anak. Pendidikan tersebut memberikan suatu lingkungan yang aman, bersih, sehat, dan protektif, serta pembelajaran penuh makna bagi anak-anak dengan keanekaragaman kemampuan dan latar belakang
Social contexts of exclusionary reactions: study on Muslim and Christian relation in the city of Ambon
This study aims to answer the question of what social context related to atti- tudes of exclusionary reactions between Muslims and Christians. The data used in this research is resulted from interviews in the city of Ambon. The conceptual framework used to analyze findings of fieldwork is about relation- ship between ethno-religious identification and exclusionary reactions. In addition, actual or symbolic competition in the political, economic, social and cultural behaviour contributes to exclusionary attitudes. Likewise, the collective memory of the conflict led individuals to have prejudices against out-group members. Based on interview data, this study indicates that exclu- sionary reactions present in the city of Ambon in the form of social avoidance between Muslim and Christian students and the support for residential segre- gation. Both of these phenomena related to political and symbolic competi- tion in public institutions such as public universities. Also, social processes of implanting ethno-religious identity in their families have roles in the creation of prejudicial attitudes against out-group members. The collective memory of the conflict also contributes unto the phenomena of social avoidance and support for residential segregation. Studi ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan konteks sosial apa yang berkaitan dengan meningkatnya fenomena eksklusivisme sosial antara umat Islam dan Kristen. Data yang digunakan sebagai basis untuk menjawab pertayaan ini tersebut berasal dari sejumlah wawancara di Kota Ambon. Kerangka konsep yang digunakan untuk menganalisis temuan lapangan adalah tentang hubungan identifikasi terhadap identitas kelompok etnik dan agama dengan perilaku mengecualikan kelompok lain. Selain itu, kompetisi aktual maupun simbolik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya ikut memberikan kontribusi pada perilaku mengecualikan kelompok lain. Demikian juga memori kolektif mengenai konflik di masa lalu menjadikan seseorang memiliki prasangka terhadap kelompok lain yang berbeda agama dan suku. Berdasarkan data wawancara, penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku mengekslusi kelompok agama atau etnik lain di Kota Ambon dalam dijumpai dalam bentuk fenomena menghindari kelompok lain dan keinginan untuk tinggal dalam lingkungan yang homogen. Kedua fenomena ini memilki hubungan dengan persaingan politik dan simbolik di lembaga-lembaga publik seperti perguruan tinggi negeri dan proses sosial menanamkan identitas agama dan etnik di dalam keluarga. Memori kolektif tentang konflik juga menyebabkan seseorang mendukung upaya untuk mengecualikan kelompok lain