Jurnal MIPA
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
Pola Aktivitas Harian Tangkasi (Tarsius spectrum) Di Taman Marga Satwa Naemundung Kota Bitung
Tangkasi (Tarsius spectrum) adalah primata primitif dari Famili Tarsidae dan merupakan primata endemik di Sulawesi. Tangkasi memiliki tubuh kecil, mempunyai mata bulat besar, dapat melompat dan dapat membalik 180˚. Karena keunikan yang dimiliki hewan ini menjadikannya disukai banyak orang sehingga diburu, diperdagangkan secara illegal dan dijadikan sebagai hewan peliharaan. Padahal tangkasi (T. spectrum) dilindungi, termasuk kategori rentan (Vulnerable) dan tercantum dalam CITES Appendix II. Tangkasi yang telah dikandangkan akan mengalami perubahan perilaku dibanding yang ada di alam. Penelitian aktivitas harian tangkasi yang ada di dalam kandang belum pernah dilakukan di Sulawesi Utara, oleh karena itu, maka penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian yang menganalisis aktivitas harian dan tingkah laku tangkasi (T. spectrum) di dalam kandang khususnya dilihat dari aktivitas makan, mencari makan, beristirahat, berpindah, dan aktivitas sosial. Metode pengambilan data secara Instantaneous sampling. Hasil pengamatan terhadap pola aktivitas harian di kandang yaitu : makan (1,5%), mencari makan (8,5%), berpindah (26,8%), instirahat (57,5%), dan sosial (5,5%). Aktivitas tertinggi adalah istirahat, diikuti dengan aktivitas berpindah, kemudian mencari makan, sosial dan yang terendah adalah aktivitas makan.Tangkasi (Tarsius spectrum) is a primitive primate from Family Tarsidae and a endemic primate in Sulawesi. Tangkasi have a small body, and ayeball, they can jump and their can head flipped until 180˚. Tangkasi already caged will experience a change in behavior campared to the wild. Many people hunt, trade illegally and use it as pet because of the uniqueness of this species. Even though tangkasi (T. spectrum) is protected, included in vulnerable category and listed in CITES Appendix II. Research on daily activity of tangkasi in the cage has never been done in North Sulawesi, therefore, this research needs to be done. Studies analyzing daily activities and behavior tangkasi (T. spectrum) in the cage in terms of the activity of eating, foraging, resting, moving, and social activities. Data were collected by using Instantaneous sampling method. The observation of the daily activity patterns in the cage namely: eating (1.5%), foraging (8.5%), moving (26.8%), resting (57.5%), and social (5.5%) . The highest activity is resting, followed by moving activity, foraging, social and respectively the lowest is feeding activity
Identifikasi Zooplankton di Perairan Pulau Bunaken Manado
Perairan Pulau Bunaken merupakan objek wisata yang terdapat di Manado Sulawesi Utara dan merupakan daerah perlindungan laut. Perairannya dijaga agar tetap menunjang diversitas organisme di sekitar pantai dan menghasilkan nilai tambah dari segi estetika dan ketersediaan ikan-ikan yang menjadi sumber pencarian bagi masyarakat nelayan di pesisir. Salah satu indikator keberadaan ikan dan kesuburan perairan adalah adanya zooplankton. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi zooplankton yang ada di perairan Pulau Bunaken, Manado. Pengambilan sampel zooplankton dalam penelitian ini dilakukan di empat stasiun. Stasiun penelitian ini dipilih berdasarkan tempat pemanfaatannya, yaitu di daerah tubir, daerah liang, daerah dermaga perkampungan dan daerah observasi. Pengambilan sampel plankton di lakukan menggunakan plankton net dan sampel kemudian di identifikasi di Laboratorium Biokonservasi Biologi FMIPA UNSRAT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zooplankton yang ditemukan di Pulau Bunaken Manado secara umum termasuk dalam 14 kelas dan 28 genus dengan jumlah 7.676 individu. Stasiun yang mempunyai jumlah kelas terbanyak adalah stasiun III dan IV yaitu sebanyak 11 kelas.The waters of Bunaken Island is a tourism area located in Manado, North Sulawesi, and is a protected marine area. It is conserved to support the diversity of organisms around the coast and result in added value in terms of aesthetics and availability of fish that became the source of income for fishermen in coastal communities. One of the indicators for the presence of fish and water fertility is zooplankton. The purpose of this study was to identify zooplankton in the waters of Bunaken Island, Manado. Zooplankton sampling was performed at four stations. The stations were selected based on the utilization, those are in the edge region, the canal, the village dock, and observation area. Plankton sampling was done by using a plankton net and samples collected were identified in the laboratory of Bioconservation, Departement of Biology Faculty of Sciences UNSRAT. The results showed that zooplankton found in Bunaken Island, Manado was generally included in 14 classes and 28 genus with the number of sample of 7,676 individuals. Stations that have the highest number of 11 classes were III and IV
Pengaruh Angin Dan Kelembapan Atmosfer Lapisan Atas Terhadap Lapisan Permukaan Di Manado
Penelitian ini mengkaji lebih dalam kondisi angin dan kelembapan udara pada saat musim hujan dan musim kemarau di Manado dengan menggunakan data di lapisan permukaan dan data udara atas dari Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mendapatkan hubungan antara kondisi angin dan kelembapan lapisan atas terhadap lapisan permukaan, sehingga dapat memprakirakan kondisi angin dan kelembapan lapisan permukaan dengan berdasarkan keadaan lapisan atas. Metode yang digunakan adalah mengkomponenkan angin dalam arah utara-selatan dan timur-barat, selanjutnya mencari keterkaitan dengan menggunakan teknik korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan pada saat musim hujan angin pada lapisan 1500 m dan angin di lapisan permukaan memiliki arah yang sama dan saling menguatkan untuk komponen timur-barat (zonal) dengan koefisien korelasi r=0,56, sedangkan pada saat musim kemarau angin pada lapisan 1500 m dan angin di lapisan permukaan memiliki arah yang sama dan saling menguatkan untuk komponen utara-selatan (meridional) dengan koefisien korelasi r=0,45. Keterkaitan yang cukup kuat antara angin dengan kelembapan terjadi pada komponen V (meridional) yaitu, pada saat musim hujan, semakin besar kecepatan angin komponen negatif (utara) semakin besar pula kelembapan udara di lapisan permukaan, dengan koefisien korelasi benilai positif r=0.40. Pada saat musim kemarau, semakin besar kecepatan angin komponen positif (selatan) semakin kecil kelembapan udara di lapisan permukaan, dengan koefisien korelasi bernilai negatif r=— 0,48.This study examined the wind and humidity condition in the rainy season and dry season in Manado by using the data in surface layer and upper air data from the Sam Ratulangi Meteorological Station. The primary objective of this study was to find the relationship between wind condition and upper layer humidity to surface layer, using correlation technique, in order to predict wind condition and humidity of the surface layer based on the condition of the upper layer. The results showed that, during the rainy season, the wind at layer 1500 m and surface layer had the same direction and mutually reinforced for the east-west component (zonal) with correlation coefficient r=0.56, whereas during the dry season, wind at layer 1500 m and at surface layer had the same direction and mutually reinforced for the north-south component (meridional) with correlation coefficient r=0.45. A relationship between wind and humidity was found at V component (meridional), which was, at rainy season, the higher the wind speed of negative component (north) the higher the humidity at surface layer with positive correlation coefficient r=0.40. At dry season, the higher the wind speed of positive component (south), the lower the humidity at the surface layer, with negative correlation coefficient r=—0.48
Komunitas Laba-Laba (Arachnida: Araneae) Pada Lahan Perkebunan di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Sulawesi Utara
Laba-laba dalam ekosistem berperan dalam mengendalikan populasi serangga dan dapat digunakan sebagai bioindikator yang baik untuk mendeteksi perubahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas laba-laba yang pada lahan perkebunan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah perangkap jebak (Pitfall trap) dan jaring ayun (Sweep net). Tipe habitat yang dijadikan titik pengambilan sampel adalah perkebunan campuran, perkebunan jagung, dan semak. Hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 442 individu laba-laba dari 59 spesies, 35 genera, dan 10 famili. Kekayaan dan keanekaragaman spesies laba-laba tertinggi terdapat di perkebunan campuran. Kelimpahan spesies tertinggi ditemukan di kebun jagung, sedangkan yang terendah di semak.In the ecosystem spiders had a role in controlling insects populations and can be used as a good bioindicator for detecting environmental changes. This study aims to examine the structure of spider community in the area of plantation in Bogani Nani Wartabone National Park, North Sulawesi. The method used is a pitfall traps and sweep net. Habitat types were used as the sampling point is a mixed plantation, corn field and shrubs. The results of this study found as many as 442 individual spiders of 59 species, 35 genera and 10 families. Richness and diversity of spider species was highest in a mixed plantation. The highest species richness was found in a corn field, while the lowest in the shrubs
Pengukuran Koefisien Absorbsi Bunyi pada Serbuk Gergaji Kayu Nyatoh (Palaquium species) sebagai Bahan Peredam
Telah dilakukan penelitian untuk memperoleh nilai koefisien absorbsi bunyi pada papan partikel dari bahan campuran serbuk gergajian kayu nyatoh dan tepung kanji dengan variasi ukuran butir. Papan partikel dibuat dengan komposisi 50 g serbuk gergaji dan 50 g tepung kanji. Papan partikel dibuat dengan rapat massa (Ï) = 0,62 x 103 kg.m-3. Koefisien absorbsi bunyi diukur dengan menggunakan sound level meter, intensitas bunyi yang diukur antara lain intensitas bunyi yang datang, intensitas yang dipantulkan dan intensitas yang ditransmisikan. Intensitas absorbsi didapat dengan mengurangkan intensitas awal ( ) dengan intensitas transmisi ( ) dan intensitas refleksi ( ). Data yang diperoleh dibuat grafik dan dianalisis. Diperoleh hasil bahwa papan partikel yang terbuat dari campuran serbuk gergajian kayu nyatoh dan tepung kanji dengan komposisi 1:1 (sampel 3) adalah papan partikel terbaik sebagai bahan absorbsi bunyi pada penelitian ini. Papan partikel mempunyai sifat fisis: koefisien absorbsi 0,15 cm-1, intensitas refleksi 1,5 dB, intensitas absorbsi 29,45 dB dan efisiensi absorbsi 29,42 %.Research has been conducted to obtain the sound absorbtion coefficient of the particle board from the mixture of the sawdust of Nyatoh and the starch with the variation of the grain size. Particle board is made with the composition of 50 g sawdust and 50 g starch. Particle board is made with the mass density (Ï) = 0.62 x 103 kg.m-3. Sound absorbtion coefficient is measured using a sound level meter, sound intensity is measured such as the intensity of incident sound, the intensity of reflected sound and the intensity of transmitted sound. The intensity of absorbtion is obtained by reducing the initial intensity (I0) with the transmission intensity (IT) and the reflection intensity (IR). The obtained data were graphed and analyzed. The results indicated that the particle board that is made from the mixture of the sawdust of Nyatoh and the starch with the composition 1:1 (sample 3) is the best particle board as sound absorbtion material in this research. The particle board has physical properties: the absorbtion coefficient 0.15 cm-1, the reflection intensity 1.5 dB, the absorbtion intensity 29.45 dB, and the absorbtion efficiency 29.42%. t-f�5y � p ew Roman";mso-ansi-language:SV;mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language: AR-SA'>Papan partikel dibuat dengan komposisi 50 g serbuk gergaji dan 50 g tepung kanji. Papan partikel dibuat dengan rapat massa (Ï) = 0,62 x 103 kg.m-3. Koefisien absorbsi bunyi diukur dengan menggunakan sound level meter, intensitas bunyi yang diukur antara lain intensitas bunyi yang datang, intensitas yang dipantulkan dan intensitas yang ditransmisikan. Intensitas absorbsi didapat dengan mengurangkan intensitas awal ( ) dengan intensitas transmisi ( ) dan intensitas refleksi ( ). Data yang diperoleh dibuat grafik dan dianalisis. Diperoleh hasil bahwa papan partikel yang terbuat dari campuran serbuk gergajian kayu nyatoh dan tepung kanji dengan komposisi 1:1 (sampel 3) adalah papan partikel terbaik sebagai bahan absorbsi bunyi pada penelitian ini. Papan partikel mempunyai sifat fisis: koefisien absorbsi 0,15 cm-1, intensitas refleksi 1,5 dB, intensitas absorbsi 29,45 dB dan efisiensi absorbsi 29,42 %
Uji Metode Olsen dan Bray dalam Menganalisis Kandungan Fosfat Tersedia pada Tanah Sawah di Desa Konarom Barat Kecamatan Dumoga Utara
Telah dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi fosfat tersedia pada tanah sawah dan membandingkan dua metode ekstraksi fosfat, yaitu metode olsen yang menggunakan reagen NaHCO3 dan metode bray yang menggunakan reagen Bray dan Kurtz. Hasil ekstrak direaksikan dengan pereaksi pewarna fosfat bersama deret standar dan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 693 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak fosfat tersedia dari metode Olsen menunjukkan hasil konsentrasi yang tinggi berturut–turut 422,861; 771,614; 1389,464; 1607,386; 821,591; dan 1139,925 ppm, sedangkan metode Bray menunjukkan hasil yang lebih rendah berturut-turut 16,102; 13,899; 11,307; 7,181; 7,183; dan 9,073 ppm. Reagen NaHCO3 pada sampel menyebabkan pH naik sehingga banyak fosfat yang terlepas, sedangkan reagen Bray dan Kurtz menyebabkan pH turun dan lebih sedikit fosfat yang terlepas. pH sampel yang bersifat asam menyebabkan metode Bray lebih cocok untuk digunakan daripada metode Olsen karena metode Bray spesifik untuk tanah asam, sedangkan metode Olsen dapat digunakan untuk tanah asam dan basa.A study aimed to determine the concentration of phosphate available to the rice field soil and to compare the two methods of phosphate extraction, which are Olsen that uses NaHCO3 reagent and Bray that uses Bray and Kurtz reagents, had been done. The extract was reacted with phosphate coloring reagent and standards and the absorbance was measured using spectrophotometer at a wavelength of 693 nm. The results showed that the extract of phosphate available using Olsen method showed higher value of concentrations which were 422.861; 771.614; 1389.464; 1607.386; 821.591; and 1139.925 ppm. On the other hand, Bray method showed a lower value which were 16.102; 13.899; 11.307; 7.181; 7.183; and 9.073 ppm. NaHCO3 increased the pH and more phosphate was released, while the Bray and Kurtz reagent decreased the pH and less phosphate was released. Due to the lower pH of the sample, Bray method is more suitable for acidic soils rather than Olsen method because of its specificity for acidic soil, while the Olsen method can be used for acidic and alkaline soil
Analisis Pola Distribusi Unsur-Unsur Cuaca di Lapisan Atas Atmosfer pada Bulan Januari dan Agustus di Manado
Telah dibuat peta pola distribusi suhu udara, kelembapan udara, dan kecepatan angin di lapisan atas pada bulan Januari dan Agustus di Manado, dengan menggunakan software Surfer 10. Hasil analisis menunjukkan bahwa di bulan Januari pada lapisan 850 mb suhu di belahan bumi selatan (BBS) lebih tinggi dari belahan bumi utara (BBU), kelembapan lebih besar ke arah Sulawesi Utara, angin zonal baratan di BBS dan angin zonal timuran di BBU, sedangkan angin meridional dominan dari arah utara. Pada lapisan 500 mb dan 300 mb penyebaran suhu hampir merata untuk setiap wilayah dengan suhu terendah terdapat di sekitar wilayah Sulawesi Utara, kelembapan lebih besar ke arah BBS, angin zonal dari arah timur, sedangkan angin meridional dari arah utara di BBU dan dari arah selatan di BBS. Perbedaan kecepatan angin antar lapisan tidak signifikan. Di bulan Agustus, pada lapisan 850 mb suhu di BBU lebih tinggi dari BBS, kelembapan lebih besar ke arah Maluku, angin zonal dari arah timur di BBU dan dari arah barat di BBS, sedangkan angin meridional dominan dari arah selatan. Pada lapisan 500 mb penyebaran suhu hampir merata dengan suhu tertingi terdapat di wilayah Davao, dan pada lapisan 300 mb penyebaran suhu sama dengan bulan Januari. Pada lapisan 500 mb dan 300 mb kelembapan lebih besar ke arah timur, sedangkan angin zonal dari arah timur. Angin meridional dominan dari arah selatan pada lapisan 500 mb dan dominan dari arah utara pada lapisan 300 mb.A map of distribution pattern of temperature, humidity, and wind speed and direction in the upper layer of Manado in January and August had been created using software Surfer 10. The analysis showed that, in January at 850 mb layer, the temperature in southern hemisphere (SH) is higher than that in northern hemisphere (NH), the humidity is higher to the North Sulawesi, westerly zonal wind is in SH and easterly zonal wind is in NH, and meridional wind is dominant from the north. At 500 mb and 300 mb layer, temperature distribution is almost evenly for each region with the lowest temperature is around the North Sulawesi area, the humidity is higher to the SH, the zonal wind is from the east, and the meridional wind is from the north at NH and from the south in SH. Wind speed difference between the layers is not significant. In August at 850 mb layer, the temperature in NH is higher than that in SH, the humidity is greater to Moluccas, the zonal wind is from the east at NH and from the west in the SH, and the meridional wind is dominant from the south. At 500 mb layer, temperature distribution is almost evenly with the highest one is in the Davao region, and at 300 mb layer, temperature is similar to that in January. At 500 mb and 300 mb layer, the humidity is greater eastward
Perbandingan Aktivitas Antioksidan Dari Tongkol Jagung (Zea mays L.) Segar dan Kering Dengan Metode Refluks
Tujuan pada penelitian ini adalah menentukan potensi antioksidan ekstrak air dari tongkol jagung. Tongkol jagung yang sudah dikering anginkan digiling sedangkan yang segar hanya dicincincang hingga halus kemudian diekstraksi menggunakan metode refluks selama 0, 1, 2, 3 dan 4 jam menggunakan pelarut akuades. Analisis kandungan total fenolik, flavonoid dan tanin terkondensasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Untuk penentuan penangkal radikal bebas menggunakan metode 1.1-diphenyl-2.-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tongkol jagung kering memiliki kandungan total senyawa fenolik, flavonoid dan DPPHÂ terbaik dengan pemanasan selama 4 jam. Akan tetapi total tanin terkondensasi terbaik terdapat pada tongkol jagung segar dengan pemanasan selama 4 jam.The purpose of this study was to determine the antioxidant potential of water extract of corn cobs. Corn cobs wind dried milled while fresh only chopped until smooth then extracted using the reflux method for 0, 1, 2, 3 and 4 hours using distilled water solvent. Analysis of total phenolic content, flavonoids and condensed tannins using UV-Vis spectrophotometer. For the determination of free-radical scavengers using the method of 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). The results of this study indicate that the dried corn cobs have the best content of total phenolic compounds, flavonoids and DPPH by heating for 4 hours. But, the total condensed tannins are best fresh on corn cob with heating for 4 hours
Analisis Daerah Dugaan Seismic Gap di Sulawesi Utara dan sekitarnya
Seismic gap adalah kawasan yang aktif secara tektonik namun sangat jarang mengalami gempabumi dalam jangka waktu yang lama. Terdapat dua daerah dugaan seismic gap yang terdapat di daerah Sulawesi Utara antara lain daerah Laut Maluku dan Laut Sulawesi. Pada penelitian ini akan dianalisis sejauh mana potensi bahaya dua daerah dugaan seismic gap tersebut didasarkan pada profil perubahan parameter seismotektonik nilai b, analisis mekanisme fokus, perubahan nilai rasio vp/vs, periode ulang gempabumi dan prediksi parameter patahan di dua daerah penelitian. Diperoleh bahwa hanya daerah dugaan seismic gap di Laut Maluku yang dapat dikategorikan sebagai daerah seismic gap yang berpotensi menimbulkan gempabumi dengan energi besar dan tsunami sebagai efek terusan gempabumi.Seismic gap is a tectonically active region, but very rarely experienced earthquakes in the long term. There are two alleged seismic gap area of the North Sulawesi region, that are Maluku Sea and the Sulawesi Sea areas. This research analyzed potential danger of the two alleged seismic gap area in North Sulawesi based on b value seismotectonic profile parameter changes, the analysis of the focal mechanism, changes in the value of the ratio vp/vs, earthquake recurrence period, and fault parameters prediction at the two areas. It was found that the alleged area of Maluku Sea could be categorized as a seismic gap area with a potentially earthquake and tsunami energy which was the after effects of the earthquake