Jurnal MIPA
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
Deteksi Air Tanah Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Wenner-Schlumberger di Masjid Kampus Universitas Sam Ratulangi dan Sekitarnya
Telah dilakukan penelitian untuk membuat peta akuifer air tanah di Masjid Kampus Unsrat dan sekitarnya. Penelitian untuk mendapatkan nilai resistivitas lapisan tanah dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner-Schlumberger dengan jumlah lintasan pengukuran sebanyak 5 lintasan. Jumlah data setiap lintasan pengukuran sebanyak 576 data, dan diolah menggunakan software RES2DINV. Hasil berupa gambar tampang lintang resistivitas 2D yang digunakan untuk menentukan posisi akuifer air tanah. Hasil menunjukkan bahwa adanya lapisan dengan nilai resistivitas rendah yaitu 0,12 Ωm-0,64 Ωm. Posisi lapisan dengan nilai resistivitas rendah merupakan lapisan pembawa air dan terdapat di sebelah Selatan, Barat dan Utara Masjid Kampus. Lintasan 1 ada pada meter ke 170-180 dengan kedalaman 5 hingga 30 meter. Lintasan 3 keberadaan air tanah terdapat di meter ke 150-155 dengan kedalam 2 meter-17 meter. Lintasan 4 keberadaan air tanah ada pada meter ke 38-48 dengan kedalaman 8 meter-20 meter. Lintasan 5 keberadaan air tanah ada pada meter ke 50-60 dengan kedalaman 2 meter-10 meter.Research had been done to create a map of groundwater aquifers in Unsrat Campus Mosque and its surroundings. Research to obtain a layer of soil resistivity values ​​were measured using the Wenner-Schlumberger geoelectric configuration with the number of measurement tracks as much as 5 tracks. The amount of data of each track is as many as 576 measurement data, and processed using software RES2DINV. Results are cross-sectional images of 2D resistivity were used to determine the position of groundwater aquifers. The results indicate that the presence of a layer with low resistivity values ​​are 0.12 Ωm-0.64 Ωm. The position of the layer with low resistivity values ​​is water bearing layers and are in the South, West and North Campus Mosque. Tracks 1 exists at 170-180 meters to a depth of 5 to 30 meters. Tracks 3 where the ground water contained in the 150-155 meters to 2 meters into 17 meters. Tracks 4 where groundwater is on 38-48 meters to a depth of 8 meters-20 meters. Tracks 5 where ground water is on 50-60 meters to a depth of 2 meters-10 meters
Keragaman Lamun (Seagrass) di Pesisir Desa Lihunu Pulau Bangka Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Lamun adalah tumbuhan berbunga yang dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan laut dangkal. Penelitian ini dilaksanakan di Pesisir Desa Lihunu dengan menggunakan metode purposive random sampling yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 saat surut terendah. Analisis data meliputi perhitungan dengan menggunakan rumus menurut Shannon & Wienner dan buku identifikasi lamun. Berdasarkan hasil penelitian terdapat tujuh jenis lamun yang ditemukan yaitu, Enhalus acoroides (L.f.) Royle, Thalassia hemprichii (Ehrenberg) Ascherson, Cymodocea rotundata (Ehrenberg) Ascherson, Cymodocea serrulata (R. Brown) Ascherson, Halophila ovalis (R. Brwon) Hooker, Halodule pinifolia (Miki) den Hartog dan Syringodium isoetifolium (Ascherson) Dandy. Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii memiliki penyebaran terluas, karena ditemukan di seluruh transek pada lokasi penelitian. Jenis yang jarang dijumpai adalah Halophila ovalis dan Cymodocea serrulata. Jumlah individu lamun yang ditemukan adalah 2316 individu. Nilai indeks keanekaragaman di Pesisir Desa Lihunu memperlihatkan bahwa di wilayah ini keanekaragaman jenis lamun sedang dengan H’ = 1 ≤ H’ ≤ 3.Seagrass is flowering plants that can grow so well in shallow marine environments. This research was conducted in Seashore Lihunu Village on August 2015 using field observation with purposive random sampling when low withdraw. Data analysis was performed using the formula of Shannon-Wienner and identification of seagrass. Results obtained in this research showed that there are seven types of seagrass, namely Enhalus acoroides (L.f) Royle, Thalassia hemprichii (Ehrenberg) Ascherson, Cymodocea rotundata (Ehrenberg) Ascherson, Cymodocea serrulata (R. Brown) Ascherson, Halophila ovalis (R. Brwon) Hooker, Halodule pinifolia (Miki) den Hartog and Syringodium isoetifolium (Ascherson) Dandy. Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii have wide distribution because they can be found in all transect line at research site. Species that are rarely found are Halophila ovalis and Cymodocea serrulata. Number of individual found was 2316 individuals. Value of diversity index at Seashore Lihunu Village showed that this area has moderate seagrass diversity with H’ = 1 ≤ H’ ≤ 3
Efek Ekstrak Limbah Cair Empulur Batang Sagu Baruk (Arenga microcarpha) Terhadap Fotoreduksi Besi(III)
Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan fenolik, flavonoid, dan tanin dari limbah cair empulur batang sagu baruk dan menguji kemampuanya dalam fotoreduksi Fe3+. Empulur batang sagu baruk diekstrak dengan pelarut akuades secara maserasi selama 2 jam. Selanjutnya ekstrak hasil maserasi dianalisis kandungan fitokimia fenolik, flavonoid dan tanin dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengujian fotoreduksi dilakukan pada cahaya fluorescent dengan konsentrasi 1000 mg/L selama 5 jam dengan variasi pH 4, 5, 6, 7 dan 8 serta kapasitas daya 42, 62 dan 104 Watt. Analisis ekstrak limbah cair empulur batang sagu baruk menunjukkan konsentrasi fenolik 112,04 mg asam galat/L konsentrasi flavonoid 30,10 mg kuersetin/L dan konsentrasi tanin 22,02 mg katekin/L.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak limbah cair empulur batang sagu baruk pada pH 6 dengan kapasitas daya 104 Watt mempunyai kemampuan yang paling baik untuk mereduksi Fe3+ dibandingkan dengan ekstrak lainya.Research had been carried out to analyze the photochemicals phenolic, flavonoids, and tanins in liquid waste of pith trunk sago baruk and to test its ability in photoreduction. Pith trunk extracted with aquadest in maceration for two hours. The extracts resulted were then analyzed for phenolic, flavonoids and tanins phytochemicals using spectrophotometer UV-Vis. The photoreduction tests performed on fluorescent light with concentration of 1000 mg/L for five hours with variation pH 4, 5, 6, 7 and 8 and on energy capacities of 42, 62 dan 104 Watt. Analysis of liquid waste of pith trunk sago baruk extract showed that phenolic concentration was 112,04 mg gallic acid/L, flavonoid concentration was 30,10 mg quersetin/L and tannin concentration was 22,02 mg chatechin/L. The results showed that extract liquid waste pith trunk sago baruk at pH 6 with energy capacities 104 Watt had best ability in photoreduction Fe3+
Uji Fitokimia dan Antioksidan dari Daun Yantan (Blumea chinensis DC)
Telah dilakukan penelitian untuk menentukan kandungan fitokimia dan aktifitas antioksidan dari ekstrak etanol daun yantan (Blumea chinensis DC). Kandungan fitokimia yang diuji adalah total fenolik dan total flavonoid. Total fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu (Yadaf dan Agarwala, 2010), lalu untuk mengetahui total flavonoid menggunakan aluminium klorida (Sultana et al., 2011), dan pengujian aktifitas antioksidan menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) (Subedi et al., 2011). Hasil penelitian menunjukan kandungan fenolik total sebesar 26,75 mg/L dan kandungan flavonoidnya sebesar 12,56 mg/L,untuk pengujian aktifitas antioksidan didapatkan nilai IC50 sebesar 240,19 mg/L.Research have been done to determining the phytochemical compound and antioxidant activity of yantan (Blumea chinensis DC) leaves. The phytochemical compound which tested is phenolic total and flavonoid total. Phenolic total using Folin-Ciocalteu method (Yadaf dan Agarwala, 2010), then to determining the total flavonoid using aluminium chloride (Sultana et al., 2011), and test of the antioxidant activity using 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil DPPH (Subedi et al., 2011).The result of the total phenolic content was showed 26,75 mg/L and the total flavonoid content is 12,56 mg/L, for antioxidant activity test obtained the value IC50 is 240,19 mg/L
Kondisi Tutupan Karang di Desa Ratatotok Timur Kabupaten Minahasa Tenggara
Telah dilakukan penelitian untuk menentukan kondisi tutupan karang di desa Ratatotok Timur, Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi tentang tutupan karang di Ratatotok Timur sehingga dapat dijadikan acuan dalam usaha pengelolaan, pemeliharaan dan pelestarian terumbu karang di Daerah tersebut. Sampling dilakukan menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) pada kedalaman 5 meter dan 10 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tutupan karang secara umum tergolong kategori tutupan sedang.A research was carried out to determine the condition of Coral covering in East Ratatotok Village, District of Southeast Minahasa. This research was carried out to give information about coral covering in East Ratatotok and was expected to be a reference in managing, maintaining, and preserving coral reefs in the area. Sampling was carried out using LIT (Line Intercept Transect) method in 5 meter and 10 meter depths. The result shows that the coral covering was classified as moderate coral reef covering
Analisis Kandungan Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan dari Tanaman Lire (Hemigraphis repanda (L) Hall F.)
Telah dilakukan penelitian mengenai analisis kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan dari ekstrak tanaman lire yang diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol. Analisis total kandungan fitokimia yaitu uji fenolik dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteu dan uji flavonoid menggunakan metode AlCl3. Uji antioksidan menggunakan metode DPPH. Berdasarkan hasil pengujian kandungan fenolik dan flavonoid ekstrak etanol tanaman lire, menunjukkan bahwa kandungan fenolik lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan flavonoid. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC50 sebesar 108,673 mg/L pada ekstrak etanol tanaman lire.Research have been done to analyze the phytochemical compound and antioxidant activity from lire plant extract which was extracted based on maceration method using the ethanol solvent. The phythochemical compound analysing to determining phenolik using Folin-Ciocalteu method and AlCl3 method for flavonoid test. Antioxidant activity using the DPPH method. Based on the result, the phenolic and flavonoid compound from extract ethanol of lire plants, was showed that phenolic compound more higher than flavonoid compound. The result of this test was showed the value of IC50 is 108.673 mg/L from the lire plant extract
Analisis Tingkat Pencahayaan Ruang Kuliah Dengan Memanfaatkan Pencahayaan Alami Dan Pencahayaan Buatanklorofil
Telah dilakukan analisis  tingkat  pencahayaan ruang kuliah di Jurusan Fisika FMIPA Unsrat mencakup  empat  ruang perkuliahan masing-masing dengan menggunakan pencahayaan alami dan pencahayaan alami tambah pencahayaan buatan dari lampu fluorescent. Pengukuran tingkat pencahayaan dilakukan dengan menggunakan luksmeter L200 dengan rancangan pengukuran mengikuti  SNI 16-7062-2004 untuk penerangan umum. Diperoleh hasil bahwa tingkat pencahayaan rata-rata maksimum ruang kuliah RK FIS 1, RK FIS 2, Ruang Seminar dan RK FIS 3 dengan sumber pencahayaan alami adalah 77 lux, 55 lux, 71 lux dan 128 lux. Pencahayaan dengan sumber alami yang ditambah pencahayaan buatan dari sumber lampu CFL memberikan tingkat pencahayaan 128 lux, 166 lux, 138 lux dan 170 lux. Nilai-nilai tersebut belum memenuhi standar pencahayaan 250 lux untuk ruang kuliah seperti yang direkomendasikan SNI.The analysis of the illumination level of the lecture rooms in the Department of Physics at MIPA Faculty on Sam Ratulangi University have been carried. Four lecture rooms are investigated by using natural lighting and natural light plus artificial lighting from fluorescent lamps. Illumination level measurement is done by using luxmeter L200 with measurements design follow SNI 16-7062-2004 for general illumination. The results show that the average level of illumination maximum for lecture room RK FIS 1, RK FIS 2, Seminar Room and RK FIS 3 wih a source of natural lighting are 77 lux, 55 lux, 71 lux and 128 lux respectively. The Illumination with natural sources plus artificial lighting from CFL Lamps provide the illumination level of 128 lux,166 lux, 138 lux dan 170 lux, respectively. The illumination level value of the research do not meet the recommended SNI Standard of illumination 250 lux for the lecture roo
Optimasi Instrumen GC Shimadzu-2014 Terhadap Beberapa Senyawa Metil Ester Asam Lemak (FAME)
Telah dilakukan penelitian mengenai penentuan batas deteksi (LOD) dan respon faktor (RF) GC Shimadzhu-2014 terhadap beberapa senyawa metil ester asam lemak (FAME). Adapun kajian yang dilakukan meliputi pembuatan dan pengenceran larutan FAME standard serta analisis dengan GC sebanyak 2 kali pengulangan sehingga didapat kurva standar senyawa FAME. Berdasarkan hasil analisis dengan GC, kurva standar masing-masing senyawa FAME memiliki presisi yang cukup baik yakni berkisar antara 0.995-0.999. Pemisahan komponen-komponen FAME cukup baik terlihat dari kromatogram yang sesuai dengan jumlah komponen yang ada dalam campuran FAME dengan waktu retensi masing-masing komponen.Dari waktu retensi juga didapat faktor selektivitas yang menunjukkan seberapa baik senyawa FAME dapat dipisahkan.The research about the determination of the limit of detection (LOD) and the response faktors (RF) Shimadzhu GC-2014 against some of the compounds of fatty acid methyl esters (FAME) has conducted. The study was conducted on the making and dilution FAME standard solution and analyzed by GC as much as 2 repetitions so that to get the standard curve FAME compounds. Based on the results of analysis by GC, standard curves of each FAME compounds has a fairly good precision that ranges from 0.995 to 0.999. Separation of FAME compoundspretty well seen fromthe chromatogram that corresponds to amounts of components in a mixture of FAME with a retention time of each component. From the retention time was also obtained selectivity factors that indicate how well the FAME compounds can be separated
Identifikasi Dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Suku Dani Di Kabupaten Jayawijaya Papua
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikas spesies tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat dan cara penggunaannya sebagai obat tradisional. Metode penelitian yang digunakan adalah survey eksploratif dan Participatory Rural Appraisal melalui wawancara dengan dukun kampung bersamaan dengan pengambilan sampel dan identifikasi tumbuhan obat di lokasi penelitian. Hasil penelitian identifikasi dan pemanfaatan tumbuhan obat di 9 desa di Kecamatan Asologaima, Kurulu dan Wamena, ditemukan 16 spesies tumbuhan obat dari 12 famili yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat dengan khasiat dan cara penggunaan yang berbeda-beda dan sederhana namun umumnya dengan merebus tumbuhan dan air rebusannya diminum. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai November 2015. Berdasarkan habitusnya yang paling banyak ditemukan adalah semak sedangkan bagian tumbuhan yang banyak digunakan adalah bagian daun.This research aims for identifying plant species which particularly have ability as medicine and can be used as traditional medicine. Research methods used are explorative survey and Participatory Rural Appraisal through interview with a village shaman (or called person who has ability and experience with traditional medicine) followed with sampling and identifying medication plant in research location. Result of identifying research and used of medication plant in 9 villages in Asologaima, Kurulu, and Wamena Districts, found that 16 species of plant medication of 12 family which used by local society with different benefits and the way it is used and simple but commonly with boiled the medication and drink the water. This research held in September to November 2016. Based on the place of habits the most found plants is shrub, meanwhile the most useful part of the plant is lea