Jurnal MIPA
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
Inventarisasi Kupu-kupu (Lepidoptera) Di Kawasan Bendungan Kuwil Kawangkoan, Kabupaten Minahasa Utara
Inventarisasi dilakukan dalam rangka menjaga dan melestarikan keanekaragaman dan ekosistem. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna yang tinggi secara biogeografis salah satunya kupu-kupu. Kupu-kupu di Pulau Sulawesi berjumlah sekitar 557 jenis, secara ekologis kupu-kupu berperan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati selain itu kupu-kupu juga merupakan pollinator yang membantu penyerbukan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang ada di Bendungan Kuwil Kawangkoan, Minahasa Utara. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek dan metode titik dengan atraktan. Berdasarkan hasil penelitian di Kawasan Bendungan Kuwil Kawangkoan, Minahasa Utara, kupu-kupu yang diperoleh adalah Idea blanchardii, Ideopsis vulgaris, Lasippa heliodore, Junonia hedonia, Parantica cleona, Acraea terpsicore, Papilio demoleus, Pareronia tritaea, Eurema hecabe, Catopsilia Scylla, dan Catopsilia pomona dengan total kupu-kupu yang ditemukan sebanyak 11 spesies dengan 93 individu dari 3 famili, 6 jenis dari famili Nymphalidae, 4 jenis dari famili Pieridae, dan 1 jenis dari famili Papilionidae.
Inventory is carried out in order to maintain and preserve diversity and ecosystems. Indonesia is an archipelagic country that has a high biogeographical diversity of flora and fauna one of them is butterflies, there are around 557 types of butterflies on the island of Sulawesi. Ecologically, butterflies play a role in maintaining ecosystem balance and enriching biodiversity. Apart from that, butterflies are also pollinators which help pollinate plants. This research aims to determine the types of butterflies in the Kuwil Kawangkoan Dam, North Minahasa. The sampling methods used in this research were the transect method and the point method with attractants. Based on the results of research in the Kuwil Kawangkoan Dam Area, North Minahasa, the butterflies obtained were Idea blanchardii, Ideopsis vulgaris, Lasippa heliodore, Junonia hedonia, Parantica cleona, Acraea terpsicore, Papilio demoleus, Pareronia tritaea, Eurema hecabe, Catopsilia Scylla, and Catopsilia pomona with a total of 11 species of butterflies found with 93 individuals from 3 families, 6 types from the Nymphalidae family, 4 types from the Pieridae family, and 1 type from the Papilionidae famil
Histomorfometri Duodenum Mencit (Mus musculus) yang Diinfeksi Telur Infektif Hymenolepis nana dan diberi Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.)
Cacing cestoda Hymenolepis nana merupakan cacing parasit intestinal yang bersifat zoonosis. Infeksi dari cacing H.nana berdampak buruk pada saluran pencernaan, terutama pada duodenum host. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh dari pemberian ekstrak daun kelor terhadap struktur duodenum mencit yang diinfeksi H.nana. Sebanyak 27 ekor mencit dibagi dalam 3 kelompok yaitu aquades (kontrol negatif), albendazole (kontrol positif), dan ekstrak daun kelor 500 ppm. Dosis letal 100 diperoleh dari uji in vitro ekstrak daun kelor pada telur dan larva cacing H.nana pada masa inkubasi 24, 48 dan 72 jam. Setiap mencit diinfeksi 40 butir telur H.nana secara oral. Ekstrak daun kelor diberikan selama 21 hari setelah infeksi. Histomorfometri struktur duodenum dengan mengukur tinggi vili, tebal mukosa, sub-mukosa, tunika muskularis, dan serosa pada 10 vili. Hasil penelitian diperoleh dosis letal 100-24 jam ekstrak daun kelor terhadap telur H.nana sebesar 397 ppm. Tinggi vili, tebal lapis mukosa, sub-mukosa, muskularis dan serosa mencit yang diberi ekstrak daun kelor berbeda signifikan (Sig<0.05). Pemberian ekstrak daun kelor dapat mempengaruhi struktur duodenum mencit yang terinfeksi cacing Hymenolepis nana.
The cestode worm Hymenolepis nana is a zoonotic intestinal parasitic worm. Infection from H. nana worms adversely affects the gastrointestinal tract, especially on the host duodenum. The purpose of this study was to determine the effect of Moringa leaf extract on the structure of the duodenum of mice infected with H. nana. A total of 27 mice were divided into 3 groups, namely aquades (negative control), albendazole (positive control), and Moringa leaf extract of 500 ppm. A lethal dose of 100 was obtained from in vitro tests of Moringa leaf extract on eggs and larvae of H. nana worms during the incubation period of 24, 48 and 72 hours. Each mice is infected with 40 H. nana eggs orally. Moringa leaf extract is administered for 21 days after infection. Histomorphometry of duodenal structures by measuring villi height, mucosal thickness, sub-mucosa, muscular tunica, and serous on 10 villi. The results of the study obtained a lethal dose of 100-24 hours of Moringa leaf extract against H. nana eggs of 397 ppm. Tall villi, thick layer mucosa, sub-mucosa, muscular and serous mice given Moringa leaf extract differed significantly (Sig<0.05). Administration of Moringa leaf extract can affect the structure of the duodenum of mice infected with Hymenolepis nan
Aplikasi Sistem Irigasi Tetes Berbasis Mikrokontroler Arduino dalam Budidaya Tanaman Pakcoy (Brassica rapa l.)
The purpose of this study was to examine the application of a drip irrigation system based on an Arduino microcontroller in the cultivation of pakcoy (Brassica rapa l.) and the development of pakcoy plant growth, which included plant height and mass/weight of pakcoy plants. The data or information gathered during the study was classified based on the research objectives, observed using experimental methods, and processed using quantitative descriptive analysis. In this study, the microcontroller has passed the testing stages, including soil moisture sensor V1.2, ultrasonic sensor, DHT11 sensor, and GY-49 lux light sensor, which are working well so they can be implemented. The application of the Arduino microcontroller-based drip irrigation system using a soil moisture sensor works to detect based on the determined soil moisture limit value, namely the 60% setting point limit. Plant growth using a drip irrigation system based on a microcontroller resulted in plant height with an average value of 19.60 cm/plant and a mass weight of pakcoy plant yielding a total average harvest of 48.2 g/plant
Pemantauan Suhu Tubuh dan Detak Jantung Berbasis IoT dan Terintegrasi ThingSpeak, SMS dan Telegram
Internet of Things (IoT) memungkinkan komunikasi dan operasi bersama berbagai perangkat elektronik dan komputer dan berbagi data ke internet seperti konsep smart healthcare. Pandemi global COVID-19 telah memicu inovasi sistem IoT untuk menjawab kebutuhan informasi medis dan kesehatan yang akurat, terintegrasi, cepat dan mudah diakses seperti memantau tanda-tanda vital seseorang, terutama suhu tubuh dan detak jantung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat berbasis IoT yang berfungsi untuk memantau kedua tanda vital dengan mengintegrasikan modul-modul mikrokontroler NodeMCU ESP8266 dan GSM SIM900A. Suhu tubuh diukur menggunakan sensor suhu DS18B20, sedangkan detak jantung menggunakan sensor denyut nadi SEN-11574. Konektivitas Wi-Fi memastikan transmisi data sensor ke aplikasi Telegram dan sistem Short Message Service (SMS). Hasil penelitian menunjukkan keterbacaan node sensor pada parameter, transferabilitas data ke platform ThingSpeak dan kemampuan sistem IoT untuk mengaktifkan peringatan pemberitahuan melalui teks SMS dan obrolan Telegram jika orang yang dipantau memiliki nilai suhu tubuh abnormal dan/atau detak jantung di bawah 60 denyut per menit (bpm) atau di atas 100.
Internet of Things (IoT) enables communication and interoperation of various electronic devices and computers and sharing data to the internet as in the smart healthcare concept. The global pandemic COVID-19 has sparked IoT system innovation to meet the needs for accurate, integrated, quick, and accessible medical and healthcare information such as monitoring a person’s vital signs, especially body temperature and heart rate. This research was aimed to design an IoT-based device to monitor body temperature and heart rate using microcontroller modules NodeMCU ESP8266 and GSM SIM900A. The body temperature was measured using temperature sensor DS18B20, while the heart rate using a pulse sensor SEN-11574. The Wi-Fi connectivity ensured transmission of sensor data to Telegram application and Short Message Service (SMS) system. Results showed sensor nodes’ readability on the parameters, data transferability to ThingSpeak platform and the IoT system’s ability to activate notification alerts via SMS texts and Telegram chats if the monitored person had an abnormal body temperature value and/or heart rate below 60 beats per minutes (bpm) or above 100
Penetapan Kadar Pektin dan Metoksil Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) yang Diekstraksi Dengan Metode Refluks
Salah satu buah yang banyak dimanfaatkan di Indonesia adalah buah naga merah (Hylocereus polyrhizus). Buah naga merah banyak dikonsumsi secara langsung atau diolah menjadi jus, agar-agar, dan pewarna alami, sedangkan kulitnya mengandung pektin ± 10,8% . Pektin merupakan komponen tambahan dalam industri makanan, farmasi dan kosmetik, pektin digunakan sebagai pengental, pengikat, obat-obatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar pektin yang terdapat pada kulit buah naga merah. Pengambilan pektin yang terdapat pada kulit buah naga merah dilakukan dengan metode ekstraksi menggunakan pelarut asam klorida (HCl) 0,35 N. Proses ekstraksi pektin pada penelitian ini menggunakan waktu 90 menit. Setelah ekstraksi selesai dilakukan karakterisasi pektin antara lain, kadar pektin, kadar air , berat ekivalen, kadar metoksil. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan kadar pektin 6,118% dan 1,895%, kadar air 23,747% dan 18,059%, berat ekivalen 346,284 mg dan 456,898 mg, kadar metoksil 2,504% dan 1,638%.
One fruit that is widely used in Indonesia is the red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus). Dragon fruit is consumed directly or processed into juice, jelly, and natural dyes, while the peel contains ± 10.8% pectin. Pectin is an additional component in the food, pharmaceutical and cosmetic industries, pectin is used as a thickener, binder, medicine. The purpose of this study was to determine the levels of pectin found in red dragon peel. Extraction of pectin contained in red dragon was carried out by extraction method using 0.35 N hydrochloric acid (HCl) solvent. The pectin extraction process in this study used 90 minutes. The results of the research showed that pectin content was 6.118% and 1.895%, water content was 23.747% and 18.059%, equivalent weight was 346.284 mg and 456.898 mg, methoxyl content was 2.504% and 1.638%
Sebaran Akuifer di Kelurahan Watudambo Provinsi Sulawesi Utara dengan Menggunakan Metode Eksplorasi Geolistrik Resistivitas
Penelitian potensi sebaran air tanah dilakukan di Kelurahan Watudambo Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan analisis pengukuran metode geolistrik resistivitas konfigurasi dipol-dipol. Akuisisi data dilakukan pada 2 lintasan pengukuran. Panjang tiap lintasan 480 meter dan jarak spasi tiap elektroda adalah 10 meter. Data diolah menggunakan sofware Res2dinv. Berdasarkan pemodelan 2D nilai resistivitas yang didapat dominan sebesar ≤ 292 pada kedua lintasan sepanjang 480 m yang diinterpretasikan sebagai batuan pasi, lempung dan alluvium. Sebaran akuifer diidentifikasi dengan nilai resistivitas sebesar ≤ 57 Ωm pada kedua lintasan. Pada lintasan 1 terdapat 5 titik akuifer yang berada pada kedalaman 3-70 meter dari permukaan tanah dan diestimasi akuifer yang memiliki cadangan volume air tanah terbesar pada akuifer 3. Pada lintasan 2 terdapat 4 titik akuifer pada kedalaman 5 – 70 meter dari permukaan tanah dan akuifer 3 diestimasi memiliki cadangan volume air terbesar
Uji Fitokimia dan Stabilitas Fisik Sediaan Hair Tonic Ekstrak Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Jeruk nipis (Citrus auratifolia) adalah tanaman yang kaya akan kandungan seperti flavanoid, tanin, akaloid, saponin, kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin B1, dan vitamin C. Penelitian bertujuan untuk mengetahui senyawa fiokimia dari ekstrak jeruk nipis serta membuat formula dan mengevaluasi stablitas fisik dari sediaan hair tonic ekstrak jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Formula sediaan hair tonic di buat sebanyak tiga konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu F1 (6,25%), F2 (8,25%) dan F3 (10,25%). Metode pengujian stabilitas fisik yang diimplementasikan yaitu: pengujian organoleptik, pengujian homogenitas, pengujian pH dan pengujian viskositas. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah cycling test yaitu masing-masing formula hair tonic disimpan didalam wadah inkubator pada suhu panas (400C) secara bergantian dan suhu dingin 40C (freezer) selama 24 jam sebanyak 5 siklus. Hasil pengujian fitokimia menunjukkan ekstrak jeruk nipis mengandung senyawa aktif flavanoid, alkaloid, tanin dan saponin. Hasil pengujian stabilitas membuktikan seluruh sediaan hair tonic (F1,F2 dan F3) memenuhi kriteria sediaan yang baik meliputi pengujian organoleptik, pengujian homogenitas, pengujian pH dan pengujian viskositas. Pada pegujian pH dan pengujian viskositas sediaan hair tonic terjadi perubahan pH dan viskostas baik sebelum dan sesudah cycling test. Namun perubahan tersebut masih berdasar pada Standar Nasional Indonesia. Kesimpulan: Ekstrak etanol jeruk nipis (Citrus auratifolia) mengandung senyawa alkaloid, flavanoid, tanin dan saponin. Ekstrak etanol jeruk nipis (Citrus auratifolia)dapat diimplementasikan dalam bentuk sediaan hair toni
Aplikasi Metarhizium anisopliae Dan Azadirachta indica A. Juss Untuk Mengendalikan Nephotettix virescens D. Sebagai Serangga Vektor Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi
Wereng hijau (Nephotettix sp.) diketahui merupakan serangga vektor penyakit tungro pada tanaman padi. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan jamur entomopatogen berpotensi untuk dikembangkan, contohnya jamur entomopatogen M. anisopliae. Pengendalian lain yang juga dapat dilakukan yaitu dengan penggunaan pestisida nabati, seperti esktrak daun mimba. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi jamur M. anisopliae sebagai jamur entomopatogen dan aplikasi ekstrak daun mimba terhadap mortalitas N. virescens. Hasil pengamatan dari aplikasi jamur entomopatogen dan ekstrak daun mimba pada beberapa taraf konsentrasi memiliki efek yang mematikan terhadap serangga N. virescens. Mortalitas tertinggi dari aplikasi jamur entomopatogen M. anisopliae berada pada kerapatan spora 108 per ml (P3) dan 109 per ml (P4) yaitu 100 %. Mortalitas tertinggi dari aplikasi ekstrak daun mimba berada pada perlakuan 150 gr (P3) dan 200 gr (P4) yaitu mencapai 100 %. Serangga N. virescens setelah diaplikasikan dengan jamur entomopatogen M. anisopliae menunjukkan perilaku dengan gerakan melambat kemudian mati. Perilaku serangga saat aplikasi ekstrak daun mimba menunjukkan penurunan daya makan hingga perkembangan yang melambat kemudian serangga mati. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa aplikasi jamur entomopatogen M. anisopliae dan aplikasi pestisida nabati ekstrak daun A. indica, keduanya dapat menyebabkan mortalitas pada serangga N. virescens
Green leafhoppers (Nephotettix sp.) are known to be vectors of tungro disease in rice plants. Biological control by utilizing entomopathogenic fungi has the potential to be developed, for example the entomopathogenic fungus M. anisopliae. Another control that can also be done is by using vegetable pesticides, such as neem leaf extract. This study aims to analyze the effect of the application of M. anisopliae fungus as an entomopathogenic fungus and the application of neem leaf extract on the mortality of N. virescens. The results showed that the application of entomopathogenic fungi and neem leaf extract at several concentration levels had a lethal effect on the insect N. virescens. The highest mortality from the application of the entomopathogenic fungus M. anisopliae was at a spore density of 108 per ml (P3) and 109 per ml (P4), namely 100%. The highest mortality from the application of neem leaf extract was in the treatment of 150 gr (P3) and 200 gr (P4), which reached 100%. After being applied with the entomopathogenic fungus M. anisopliae, the insect N. virescens showed behavior with slowed movements and then died. Insect behavior when the application of neem leaf extract showed a decrease in eating power until development slowed down and then the insects died. Based on the research that has been done, it can be seen that the application of the entomopathogenic fungus M. anisopliae and the application of botanical pesticides of A. indica leaf extract, both can cause mortality in the insect N. virescens
Pemanfaatan Tumbuhan dalam Ritual Balenggang Oleh Suku Dayak Bakati Desa Kalon Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang (The Use of Plants in the Balenggang Ritual by the Dayak Bakati Tribe of Kalon Village, District as Wide as Bengkayang Regency)
Suku Dayak Bakati merupakan sub suku yang tersebar di wilayah Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang hingga di Lundu Serawak. Masyarakat Suku Dayak Bakati masih memiliki kepercayaan yang kuat terhadap nenek moyang dalam memberikan perlindungan hingga penyembuhan penyakit yang melalui ritual adat yang dilakukan secara turun temurun. Ritual Balenggang merupakan jenis pengobatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Dayak Bakati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan dalam ritual Balenggang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalon, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang dari bulan Juni hingga september 2022. Metode penelitian yang digunakan observasi secara tidak langsung. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan responden berjumlah 10 orang. Penentuan responden dengan teknik snowball sampling. Hasil penelitian ini diperoleh 25 jenis tumbuhan dari 18 famili. Famili yang paling banyak yaitu Poaceae (4 jenis) dan Arecaceae (3 jenis). Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun (44%) yang dimanfaatkan secara langsung (tidak diolah). Nilai RKI (Rasio Kesepakatan Informan) tertinggi (0,800) dengan kategori pemanfaatan tumbuhan sebagai pemulihan.
The Dayak Bakati tribe is a sub-tribe spread across Sambas Regency, Bengkayang Regency until Lundu Sarawak. The people of Dayak Bakati still have a strong belief in their ancestors who are believed to be able to provide protection to cure diseases suffered by the community through traditional rituals that have been been carried out for generations. The Balenggang ritual is a type of treatment commonly carried out by the Dayak Bakati community. This study aims to determine the types and parts of plants used in the Balenggang ritual. This research was conducted in Kalon Village, Seluas District, Bengkayang Regency, from June to September 2022. The research method used is indirectly with the data collection techniqueused was an interview with 10 respondents determind by snowball sampling technique. The results of this study obtained 25 plant species from 18 families, in which the most numerous families were Poaceae (4 species) and Araceae (3 species). The most widely used parts of the plant is the leaves (44%) which are used directly (unprocessed. The highest RKI (Informant Agreement Ratio) value (0.800) is in the category of using plants as recovery)
Kata kunci: Balenggang, Desa Kalon, Etnobotani, Suku Dayak Bakat
Efek Paparan Musik Bambu dan K-Pop terhadap Konsentrasi Klorofil dan Karotenoid Tanaman Gedi Merah (Abelmoschus manihot L.)
Gedi merah (Abelmoschus manihot L.) merupakan tumbuhan tropis dari famili Malvaceae yang mempunyai aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes dan kaya akan nutrisi, seperti protein, vitamin (A, B1, B2, B3, C), dan mineral. Pemanfaatan gedi merah terus meningkat, tetapi belum diikuti dengan informasi mengenai budidaya yang tepat. Teknologi sonic bloom dengan menggunakan musik sebagai jenis suara merupakan salah satu inovasi dalam budidaya tanaman gedi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi klorofil dan karotenoid daun gedi merah sebagai respon terhadap paparan musik bambu dan k-pop. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol, musik bambu, dan musik k-pop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan musik bambu dan k-pop selama 7 hari menurunkan konsentrasi karotenoid masing-masing sebesar 35,80% dan 36,83%. Konsentrasi klorofil b juga menurun 36,74% akibat paparan musik bambu selama 7 hari, tetapi paparan musik k-pop tidak menyebabkan perbedaan konsentrasi klorofil yang signifikan