Jurnal MIPA
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Capung (Odonata) Di Tepi Sungai Kali Desa Kali Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara
Capung merupakan komponen keanekaragaman hayati yang memiliki peran sebagai bioindikator pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies dan menganalisis keanekaragaman capung di Sungai Kali Desa Kali, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengunakan metode purposive random sampiling. Penelitian ini dilaksanakan pada tepi sungai kali yang terletak pada tiga tipe habitat yaitu di tepi sungai hutan sekunder, tepi sungai perkebunan dan tepi sungai permukiman. Masing-masing habitat dibuat tiga garis transek dengan panjang 300 Meter. Komposisi capung yang diperoleh terdiri dari 6 famili, 19 spesies dan 1.785 individu. Famili yang paling banyak ditemukan jumlah spesiesnya adalah Libellulidae. Spesies yang memiliki kelimpahan yang tertinggi Neurothemis ramburii dan Ortetrum pruinosum. Indeks kekayaan spesies di Sungai Desa Kali di kategorikan rendah, indeks keanekargaman di kategorikan sedang dan indeks kemerataan spesies tergolong dalam ketegori tinggiDragonfly is a biodiversity component that has a role as a bioindicator of environmental pollution. This study aims to identify species and analyze the diversity of dragonflies in Kali River Kali Village, Minahasa Regency, North Sulawesi. Sampling is done by using purposive random sampling method. This research was carried out on the river banks which are located in three habitat types, namely on the banks of secondary forest rivers, plantation banks, and residential riverbanks. Three transect lines were made on each habitat with a length of 300 meters. The dragonfly composition obtained consisted of 6 families, 19 species and 1,785 individuals. Most of the species are from family Libellulidae. Species with the highest abundance are Neurothemis ramburii and Ortetrum pruinosum. The species richness index in the Kali River River was categorized as low, the economic index was categorized as moderate, and the species evenness index was classified as hig
Pembuatan Algoritma Identifikasi Objek Menggunakan Indikator Kuantatif Dengan Memanfaatkan Penerapan Analogi Titik Dalam Ruang Berdimensi-n
Suatu algoritma telah dibuat untuk mengidentifikasi objek berdasarkan nilai indikator kuantitatif . Sekumpulan nama objek yang terkait dengan nilai indikator tertentu disimpan sebagai acuan untuk mengidentifikasi objek yang indikatornya diinput ke komputer Algoritma akan memproses data indikator untuk menghasilkan keluaran objek terindidentifikasi. Nama nama objek disimpan berurut dan terkait dengan  nilai indikatornya.  Suatu analogi dengan tiktik dalam ruang berdimensi n dimanfaatkan dan ditempatkan dalam suatu system koordinat berdimensi n.Titik dianggap mewakili objek, dan komponennya pada sumbu koordinat mewakili inidkator. Setiap sumbu koordinat mewakili suatu jenis indikator. Titik dalam ruang dan komponen pada sumbu koordinat yang tersebar secara kontinyu ditransformasi menjadi menjadi bentuk dengan sumbu koordinat berbasis indeks array nilai indikator. Selanjutnya objek dianggap sebagai elemen dari suatu array berdimensi n, dan terkait dengan indek indeks array indikator. Objek akan diakses menggunakan indeks array yang  merupakan bilangan penghitung siklus pembandingan indikator yang diinput dengan indikator acuan. Pengujian algoritma memberikan hasil sukses. Disimpulkan bahwa algoritma yang berlandaskan analogi titik dalam ruang berdimensi n dapat digunakan untuk merngidentifikasi objek , dan diakses melalui indeks array.An algorithm has been built for identifying object based on its quantitative indicators. A set of object’s name related to certain incators value si stored as standard for identifyaing objects that its indicators is entered to the computer. Algorithm will do processing of the indicator data aims to result an output of indetified object.Objects’s name are stored orderly and related to its indicators. An analogy to points in n-dimensional is utilized and placed in a n-dimensional coordinate system. The points are assumed to represent objects, and its components represents indicators. Each coornate axe represent one kind of indicator. The points in space and components those are distributed continuously, are transformed to form of array indeks based. Then objects are assumed as elements of n-dimensional array and related to array indeks of indicators. Objects are accessed using array index that stand as counter of comparation siklus of entered indicator to standard indicator. Terting of algorithm yield success result. It is cocluded that algorithm based on analogy to points in n- dimensional space ca be used for identifying object, and be accessed using array indexÂ
Kajian Eksperimen Pengaruh Lingkungan Panas Terhadap Suhu Kulit Manusia Menggunakan Fast Response Temperature Probe PS-2135 dan Temperature Array PS-2157
Fisika merupakan ilmu alam yang saling berkaitan dengan ilmu lainnya. Salah satu keterkaitannya mempelajari sistem adaptasi tubuh manusia terhadap perubahan suhu. Suhu kulit adalah faktor mendasar dalam pertukaran panas antara tubuh dan lingkungannya. Tingkat suhu kulit secara langsung mempengaruhi transfer energi oleh konveksi dan radiasi dan juga memengaruhi kehilangan panas dari penguapan keringat. Dalam studi eksperimental ini, nilai perubahan suhu kulit dikumpulkan menggunakan Fast Response Temperature Probe PS-2135 dan Temperature Array PS-2157. Tujuan dari studi ini adalah untuk menyelidiki efek dari lingkungan panas pada respon fisiologis suhu kulit tubuhPhysics is a natural science that is interrelated with other sciences. One connection is studying the human body's adaptation system to temperature changes. Skin temperature is a fundamental factor in heat exchanges between the body and its environment. The level of skin temperature directly affects the energy transfer by convection and radiation and also influences heat losses from sweat evaporation. In this experimental study, the skin temperature changes values are collected using Fast Response Temperature Probe PS-2135 and Temperature Array PS-2157. The purpose of this study was to investigate the effects of warm environmental on physiological responses of body skin temperaturePhysics is a natural science that is interrelated with other sciences. One connection is studying the human body's adaptation system to temperature changes. Skin temperature is a fundamental factor in heat exchanges between the body and its environment. The level of skin temperature directly affects the energy transfer by convection and radiation and also influences heat losses from sweat evaporation. In this experimental study, the skin temperature changes values are collected using Fast Response Temperature Probe PS-2135 and Temperature Array PS-2157. The purpose of this study was to investigate the effects of warm environmental on physiological responses of body skin temperatur
Uji Antibakteri Sediaan Masker Peel Off Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea ameicana Mill.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis sebagai Antijerawat
Daun Alpukat memiliki kandungan antara lain saponin, alkaloid, flavonoid, polifenol, quersetin yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi terbaik dari ekstrak etanol daun alpukat (Persea americana Mill.) yang diformulasikan sebagai sediaan masker gel peel off berdasarkan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini menggunakan metode ekperimental laboratorium. Formula sediaan masker gel peel off ekstrak daun Alpukat dibuat dengan variasi konsentrasi 0.1%; 0.15%; 0.2%; 0.25% dan 0.3%. Ekstrak tanaman daun alpukat diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Pengujian antibakteri dengan metode sumuran diameter zona hambat yang paling besar yaitu pada konsentrasi 0,3% dengan diameter zona hambat 3 mm ± 0,32 dan kemampuan daya hambat dikategorikan lemah. Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi terbaik dari ekstrak etanol daun Alpukat (Persea americana Mill.) yang diformulasikan sebagai sediaan masker gel peel off yaitu pada konsentrasi 0.3% dan dikategorikan kemampuan daya hambat lemahAvocado leaves contains saponins, alkaloids, flavonoids, polyphenols, quercetin which are as antibacterial properties. This study aims to obtain the best concentration of ethanol extract of avocado leaves (Persea americana Mill.) which is formulated as a gel peel off mask preparation based on antibacterial activity test against Staphylococcus epidermidis bacteria. This study uses a laboratory experimental method. Avocado leaf extract peel off mask gel formula is made with a concentration variation of 0.1%; 0.15%; 0.2%; 0.25% and 0.3%. Avocado leaf extract is obtained by maceration using 96% ethanol solvent. Antibacterial testing with the largest inhibition zone diameter wells method is at a concentration of 0.3% with a diameter of inhibition zone 3 mm ± 0.32 and the ability of inhibition is categorized as weak. It can be concluded that the best concentration of ethanol extract of avocado leaves (Persea americana Mill.) Which is formulated as a gel peel off mask preparation is at a concentration of 0.3% and categorized as weak inhibitory abilit
Pemanfaatan Tepung Biji Pepaya (Carica papaya) Terhadap Respons Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Laju pertumbuhan dan tingkat reproduksi yang tinggi merupakan karakteristik unggul yang dimiliki ikan nila sebagai komoditi budidaya. Tingkat reproduksi yang tinggi menyebabkan terjadinya pematangan gonad sebelum mencapai ukuran produksi dimana hal tersebut dapat merugikan pembudidaya, karena saat ikan mengalami matang gonad energi hasil asimilasi pakan sebagain besar akan dialokasikan untuk perkembangan gonad dan menghambat pertumbuhan somatik. Pemanfaatan senyawa aktif dari bahan alami biji pepaya dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan yang dibudidayakan sekaligus menjaga keamanan pangan dan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan tepung biji pepaya terhadap respons pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila. Ikan nila diberi perlakuan dengan lima dosis tepung biji pepaya berbeda (0, 1, 3, 5 dan 7 g/kg pakan) secara oral berdasarkan feeding rate 5% dengan tiga ulangan selama 30 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan dosis 5 g/kg meningkatkan pertumbuhan bobot tubuh tertinggi sebesar 547 g dibandingkan kontrol sebesar 406 g. Sejalan dengan pertumbuhan bobot tubuh, dosis 5 g/kg menghasilkan tingkat kelangsungan hidup ikan nila sebesar 100% dibandingkan kontrol sebesar 66%. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa tepung biji pepaya dengan dosis 5 g/kg pakan dapat meningkatkan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila selama 30 hariHigh growth rate and high reproductive cycle are some economical triats on nile tilapia. This is a setback for nile tilapia culture because when the fish reach gonad maturity before reach market size, all the energy demand will flow to reproduction and can cause stunt growth. The utilization of natural compound from papaya seeds can be a solution to enhance growth of farmed nile tilapia and for consumer and food safety. This research aim to know how papaya seed powder can enhance growth and survival rate of nile tilapia. This research conducted into five groups of 5 papaya seeds powder dosage (0, 1, 3, 5 and 7 g/kg) that feed orally to the treatment fishes. Result showed the fishes feed with 5 g/kg papaya seed experienced highest growth performance 547 g compare to control which is 406 g. Same as growth performance, survival rate shown that group feed with 5 g/kg papaya seed had 100% survival rate compare with control which is 66% during treatment periods. Base on this result, we can make conclusion that fish feed with 5 g/kg of papaya seed have a better growth performance and survival rate compare with control group for 30 days treatment period
Variasi Genetik Plutella xylostella L. (Lepidoptera: Plutellidae) berdasarkan Gen Cytochrome C Oxidase I
Daerah Modoinding dan Tomohon di Sulawesi Utara, dikenal sebagai daerah penghasil sayuran kubis di Indonesia. Sayuran kubis memiliki hama utama yaitu Plutella xylostella. Penyebab serangga ini dapat bertahan hingga saat ini karena adanya sifat resistensi akibat pemberian insektisida yang berlebihan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis variasi pada gen cytochrome C oxidase IPlutella xylostella yang diperoleh dari dua lokasi yang berbeda, yaitu Modoinding dan Tomohon. Analisis sekuens menunjukkan adanya perbedaan pasang basa nukleotida dari sampel yang berbeda lokasi. Selain itu, variasi juga ditunjukkan pada sampel yang diperoleh dari basis data GenBank dengan adanya perbedaan 1-14 pasang basa nukleotida dengan spesimen pada penelitian ini. Hubungan kekerabatan gen COI P. xylostella keseluruhan sampel tergolong dalam variasi intraspesies dengan nilai jarak genetik berkisar antara 0-0,022 (0-2,20%).Modoinding and Tomohon areas in North Sulawesi, are known as regions in Indonesia that produce a cabbage. The main pest of cabbage, Plutella xylostella. This insect can survive due to its resistance resulted from prolonged insecticide application. This study aims to analyze genetic variation of COI genes in P. xylostella from Modoinding and Tomohon areas. Sequence analysis showed there were differences in nucleotide base pairs between these locations. In addition, variations were also shown in samples obtained from the GenBank database with differences in 1-14 nucleotide base pairs with specimens in this study. The genetic relationship of P. xylostella COI gene in all samples was classified as intraspecific variation with genetic distance values ranging from 0-0,022 (0-2,20%).D aerah Modoinding dan Tomohon di Sulawesi Utara, dikenal sebagaidaerah penghasil sayuran kubis di Indonesia. Sayuran kubis memilikihama utama yaitu Plutella xylostella. Penyebab serangga ini dapatbertahan hingga saat ini karena adanya sifat resistensi akibat pemberianinsektisida yang berlebihan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisisvariasi pada gen cytochrome C oxidase I Plutella xylostella yang diperolehdari dua lokasi yang berbeda, yaitu Modoinding dan Tomohon. Analisissekuens menunjukkan adanya perbedaan pasang basa nukleotida darisampel yang berbeda lokasi. Selain itu, variasi juga ditunjukkan padasampel yang diperoleh dari basis data GenBank dengan adanyaperbedaan 1-14 pasang basa nukleotida dengan spesimen padapenelitian ini. Hubungan kekerabatan gen COI P. xylostella keseluruhansampel tergolong dalam variasi intraspesies dengan nilai jarak genetikberkisar antara 0-0,022 (0-2,20%)
Identifikasi Akuifer Di Lahan Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (Tpa) Sampah Di Desa Ilo-Ilo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara
Air tanah adalah air alami yang berada di bawah permukaan tanah yang terkandung di dalam akuifer dan merupakan sumber air bersih. Salah satu syarat hidrogeologi pembangunan TPA sampah adalah tidak terdapat air tanah pada kedalaman yang kurang dari 3 m dari permukaan tanah. Keberadaan akuifer dapat diketahui melalui eksplorasi bawah permukaan dengan metode geolistrik. Identifikasi akuifer telah dilakukan di lahan pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di desa Ilo-Ilo Kecamatan Wori Minahasa Utara menggunakan resistivity meter dengan konfigurasi dipol-dipol dan spasi elektroda 10 m dalam 4 lintasan pengukuran. Akuifer diidentifikasi dengan nilai resistivitas Ï < 60 Ωm, berada di lintasan 1 pada meter ke 215 sampai meter ke 265 dengan kedalaman 30 m sampai 72 m dari permukaan tanah. Pada lintasan 2 akuifer teridentifikasi pada meter ke 230 sampai meter ke 265 pada kedalaman yang lebih dari 30 m. Akuifer juga teridentifikasi di lintasan 3 pada meter ke 80 menerus sampai meter ke 465 dari permukaan sampai kedalaman lebih dari 90 m namun dengan pola penyebaran yang tidak merata. Pada lintasan 4 akuifer teridentifikasi pada meter ke 215 sampai 250 pada kedalaman lebih dari 26 mGround water is that natural water below the soil surface contained in aquifers and a source of clean water. One of the hydrogeological requirements for the construction of landfill waste is the absence of ground water at a depth of less than 3 m from the surface. The existence of aquifers can be known through subsurface exploration by geoelectric method. Aquifer identification has been carried out at the landfill construction site in the village of Ilo-Ilo, Wori, Minahasa Utara District using a resistivity meter with a dipole-dipole configuration with space of electrodes is 10 m in the 4 measurement trajectories. Aquifers is identified with resistivity values Ï <60 Ωm provides in the line 1 at meters of 215 to meters of 265 with a depth of 30 m to 72 m from the ground surface. In the line 2 aquifer is identified at meters of 230 to meters 265 at depth more than 30 m. Aquifers were also identified at line 3 on the meter of 80 continuously up to meter of 465, from the surface to a depth more than 90 m but with unadequate distribution patterns. In the line 4, aquifer is identified at the meter of 215 to meter of 250 in the depths of more than 26
Optimasi Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) di Pulau Bunaken Menggunakan Software HOMER
Telah dilakukan penelitian tentang sistem pembangkit listrik tenaga hybrid menggunakan Software  HOMER (Hybrid Optimization Model For Electric Renewables). Tujuan dari penelitian ini untuk optimasi pembangkit listrik tenaga hybriddi Pulau Bunaken yang efisien dengan metode simulasi menggunakan software HOMER. Hasil penelitian menghasilkan rancangan sistem PLTH yang optimal adalah skenario 2 dengan kontribusi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 1.374.514 kWh pertahun (61%),Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sebesar 879.024 kWh pertahun (39%) dan kelebihan energi listrik pada skenario2 sebesar 1.018.247 kWh pertahun (45,2 %). Nilai Net Present Cost (NPC) terendah sebesar US/kWh. Sistem ini dapat mengurangi emisi gas buang sebesar 805.750 kg/tahun jika dibayarkan untuk penalti emisi gas buang sebesar US 3.981.811. The lowest COE value is 0,334 178.965 per yearÂ
Kualitas Dendeng Babi Yang Menggunakan Gliserol+NaCl Selama Penyimpanan Pada Suhu Kamar
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek gliserol + NaCl pada dendeng babi yang disimpan pada suhu kamar. Plot split dalam desain waktu digunakan dalam penelitian ini; Faktor A adalah konsentrasi Gliserol + NaCl (dibagi dalam 3 level kombinasi) sebagai berikut Aâ‚ = Gliserol 15% + NaCl 5%, Aâ‚‚ = Gliserol 10% + NaCl 10%, A₃ = Gliserol 5% + NaCl 15% dan faktor B adalah durasi penyimpanan pada suhu kamar (dibagi dalam 3 lama waktu yang berbeda) sebagai berikut Bâ‚ = 10 hari, Bâ‚‚ = 20 hari, B₃ = 30 hari; dengan tiga replikasi. Variabel yang diamati adalah kadar air, pH dan jumlah mikroba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Glycerol-NaCl memberikan efek yang sangat berbeda (P <0,01) pada kadar air dan jumlah mikroba pada dendeng babi, tetapi tidak pada pH dendeng babi. Ditemukan juga bahwa durasi penyimpanan pada suhu kamar memberikan efek yang sangat berbeda (P <0,01) pada semua variabel dendeng babi. Singkatnya, penggunaan Gliserol 5% + NaCl 15% dapat memperpanjang umur simpan dendeng babi hingga 30 hariThe study was done in order to know the effect of glycerol+NaCl on jerky pork kept at room temperature. A split plot in time design was used in this study; A Factor was Glycerol+NaCl concentration(divided in 3 combination levels) as follows Aâ‚= Glycerol 15% + NaCl 5%, Aâ‚‚= Glycerol 10% + NaCl 10%, A₃= Glycerol 5% + NaCl 15% and B factor was duration of storage at room temperature (divided in 3 different length of time) as follows Bâ‚= 10 days, Bâ‚‚= 20 days, B₃= 30 days; with three replications. The variables observed were water content, pH and the number of microbes. The results showed that the use of Glycerol-NaCl gave significantly a very different effect (P <0.01) on water content and microbial amounts of jerky pork, but not on the pH of jerky pork. It was found also that the duration of storage at room temperature gave significantly a very different effect (P <0.01) on all variables of jerky pork. In short, the use of Glycerol 5% +NaCl 15% could extend the shelf life of jerky pork until 30 day
Kandungan Klorofil Total Daun Pada Padi Lokal Sulawesi Utara Yang Mengalami Cekaman Banjir
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon fisiologi tanaman padi lokal Sulawesi Utara (varietas Ombong, Temo, TB, dan Sultan) terhadap cekaman banjir pada fase vegetatif berdasarkan kandungan klorofil total pada daun. Pot dan tanaman padi dimasukkan ke dalam ember sehingga terendam setinggi 27 cm di atas permukaan media. Perlakuan cekaman kebanjiran berlangsung selama 20 hari. Pengambilan data dilakukan pada hari ke-0 (sebelum perlakuan), 10, 15 dan 20 setelah perlakuan. Daun diambil sebanyak 1 g kemudian dihaluskan dan diekstraksi menggunakan alkohol 95% dan kandungan klorofil diukur dengan spektrofotometer. Data kandungan klorofil total dalam percobaan faktorial dianalisis dengan analisis sidik ragam dalam rancangan acak lengkap pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor varietas, faktor waktu dan interaksi antara keduanya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada kandungan klorofil total pada daun tanaman padi (varietas Ombong, Temo, TB, dan Sultan) selama 20 hari perlakuan cekaman banjirThis study examined the physiological responses of North Sulawesi local rice plants in (Ombong, Temo, TB, and Sultan varieties) to partial submergence at the vegetative phase based on the content of total chlorophyll in the rice leaves. The pot and plants were submerged under water in a bucket about 27 cm above the surface of the media. The submergence treatment was lasted for 20 days. Data collection was carried out at day 0 (before treatment), 10, 15 and 20 after treatment. The leaves (about 1 g for ach sample) were collected, then refined and extracted using 95% ethanol. The total chlorophyll content was measured using spectrophotometer. Data of total chlorophyll content in the factorial experiment were analyzed using analysis of variance under completely randomized design at a 95% confidence level. The results of this study indicated that variety and time factors as well as their interactions showed no significant differences in the content of total chlorophyll in the leaves of rice plant varieties (Ombong, Temo, TB, and Sultan) during 20 days of partial submergenc