AGRISAINTIFIKA Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian
Not a member yet
287 research outputs found
Sort by
POTENSI TEPUNG DAUN ASHITABA Angelica keskei SEBAGAI SUMBER FITOBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH JANTAN Coturnix coturnix japonica FASE AKHIR (FINISHER)
POTENSI TEPUNG DAUN ASHITABA Angelica keskei SEBAGAI SUMBER FITOBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP PERFORMA BURUNG PUYUH JANTAN Coturnix coturnix japonica FASE AKHIR (FINISHER) Dina Oktaviana1, Supriadi2, dan Maratun Jannah3 123Staf Pengajar pada Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Universitas Pendidikan Mandalika, Jalan Pemuda Nomor 59A Mataran Tlp (0370 ) 632082 [email protected] [email protected] [email protected] Abstrak Peningkatan potensi produksi burung puyuh memerlukan manajemen pemeliharaan yang baik, terutama pada pemilihan bahan pakan. Bahan pakan yang akan digunakan harus memiliki kandungan nutrient cukup untuk kebutuhan burung puyuh, dan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber fitobiotik. Salah satu sumber atau bahan pakan yang dapat digunakan sebagai sumber fitobiotik adalah daun Ashitaba. Sebagai sumber fitobiotik Ashitaba (Angelica keiskei) merupakan tanaman multi fungsi karena kaya akan vitamin, mineral, asam amino, unsur mineral maupun zat aktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui performa burung puyuh jantan Coturnix coturnix japonica fase akhir (finisher) yang mendapatkan bahan pakan tambahan dalam susun ransumnya berupa tepung daun Ashitaba Angelica keskei. Penelitian ini menggunakan 5 macam perlakuan pakan yang berbeda dengan 4 kali ulangan sehingga 20 ekor burung puyuh jantan tersebar dalam 20 kandang unit percobaan. Lima macam perlakuan adalah P0 = 98% pakan basal, 2% filler, 0% tepung daun Ashitaba, P1 = 98% pakan basal, 1,5% filler, 0,5% tepung daun Ashitaba, P2 = 98% pakan basal, 1% filler, 1% tepung daun Ashitaba, P3 = 98% pakan basal, 0,5% filler, 1,5% tepung daun Ashitaba, P4 = 98% pakan basal, 0% filler, 2% tepung daun Ashitaba. Parameter yang diuji dalam penelitian ini adalah: jumlah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, bobot potong serta konversi pakan (FCR) Semua data yang didapat dianalisis statistik dengan uji rancangan acak lengkap pola searah serta ragam annova melalui spss dan jika terdapat perbedaan diuji lanjut degan uji Duncan’s. Berdasarkan analisis statistik menunjukkan bahawa pemberian tepung Ashitaba dalam ransum puyuh jantan tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan, akan tetapi mampu meningkatkan bobot potong P>0,05 dan menurunkan angka konversi pakan P>0.05. Kata Kunci: Burung Puyuh Jantan, Tepung Ashitaba, Jumlah Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan, Bobot Potong dan Konversi Pakan
PENAMBAHAN KULIT ARI BIJI KEDELAI HASIL FERMENTASI MENGGUNAKAN EM-4 DALAM FORMULASI RANSUM PELLET BROILER TERHADAP FRAKSI SERAT
Source of feed raw materials can be obtained from various wastes, one of which is industrial waste is soybean seed, processing soybean seed, which has the potential as broiler ration in the form of pellets. This study aims to evaluate the fraction of broiler pellet fiber fermented soybean seed (KABKF) using Effective Microorganism-4 with different storage times. The research method used was an experimental method with a completely randomized design consisting of 5 treatments and 4 replications. The variables in this study were the fiber fraction content which included NDF (%), ADF (%), ADL (%), hemicellulose (%) and cellulose (%). The results of this study indicate that the longer the storage of broiler pellet rations can reduce the NDF content (75.50% - 53.31%), ADF (57.57% - 41.56%), and ADL (12.33% - 5.73%). ) and had not been able to increase the content of hemicellulose (11.86% - 17.93%) and cellulose (42.39-29.78%. The conclusion of this study is that 8 weeks of storage has the best treatment in reducing the content of NDF%, ADF%, and ADL
REALOKASI KARTU PRA KERJA DALAM MENDUKUNG INTENSIFIKASI SEKTOR PERTANIAN
Seiring perkembangan pandemi COVID-19 di Indonesia, pemerintah mengeluarkan kebijakan Kartu Pra Kerja sebagai salah satu solusi dalam penanganan dampak COVID-19 dari aspek ketenagakerjaan. Anggaran senilai 20 triliun rupiah dinilai sangat besar dibandingkan dengan dampak yang akan dirasakan, khususnya pada saat seperti ini dimana para penyedia lapangan kerja cenderung membatasi rekrutmen pekerja baru atau bahkan merumahkan beberapa pekerjanya. Oleh karena itu, realokasi anggaran kartu pra kerja ke sektor pertanian dianggap alternatif yang tepat, mengingat sektor pertanian merupakan padat karya dan merupakan penyedia kebutuhan pokok masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah: 1) melakukan kajian peran sektor pertanian terhadap pembangunan ekonomi di Indonesia, dan 2) melakukan simulasi terhadap realokasi anggaran kartu pra kerja untuk intensifikasi pertanian. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitis menggunakan data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi relatif besar terhadap pendapatan domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja. Lebih lanjut, hasil simulasi realokasi anggaran menggambarkan bahwa kebijakan mengalihkan beberapa pos anggaran kartu pra kerja untuk intensifikasi pertanian merupakan hal tepat, terutama dalam kaitannya efektifitas penyerapan tenaga kerja dan penyaluran bantuan, serta untuk menjaga ketersediaan bahan pangan di masyarakat.Kata kunci: COVID-19, intensifikasi pertanian, kartu pra kerja, pengangguran, realokasi anggara
VARIASI PENAMBAHAN SERBUK DAUN KELOR (Moringa Oleifera) TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIAWI FRUIT LEATHER NANAS (Ananas Comosus (L.)Merr.)
Fruit leather merupakan produk manisan buah kering yang berbentuk lembaran dan dapat digulung yang dapat dikonsumsi secara langsung. Salah satu buah yang dapat digunakan adalah buah nanas. Fruit leather dapat dipadukan dengan sayur-sayuran seperti daun kelor yang terdapat meningkatkan kandungan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan formulasi terbaik penambahan serbuk daun kelor terhadap kadar air, kadar abu, kadar vitamin Cdan aktivitas antioksidan. Parameter penelitian meliputi kadar air (thermogravimetri), kadar abu (tanur), kadar vitamin C (metode titrasi), dan aktifitas antioksidan (metode DPPH). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor perlakuan yaitu penambahan serbuk daun kelor yaitu A = variasi penambahan serbuk daun kelor 0%, B = variasi penambahan serbuk daun kelor 2,5%, C = variasi penambahan serbuk daun kelor 5%, dan D = variasi penambahan serbuk daun kelor 7,5%, setiap perlakuan diulang 4 kali dan di duplo. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode Anova dan apabila terdapat beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf signifikansi 5% dan ditentukan perlakuan terbaiknya dengan uji pembobotan (De Garmo). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasii penambahan serbuk daun kelor berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, dan aktivitas antioksidan fruit leather nanas. Perlakuan terbaik pada penelitian ini yaitu perlakuan D (variasii penambahan serbuk daun kelor 7,5%) dengan nilai kadar air sebesar 19,15%, kadar abu 4,36%, kadar vitamin C 0,50 mg/100gr dan aktivitas antioksidan 71,78% dengan total nilai uji pembobotan 0,6961.Kata kunci: Daun Kelor, Fruit Leather, Nanas, Sifat Kimiawi
FREKUENSI MOLTING DAN SINTASAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) DENGAN PERSENTASE PAKAN TUBIFEX DAN KOMERSIAL YANG BERBEDA
Abstract Feeding is one component in the cultivation which plays a very large role in growth determination and in terms of production costs, given that freshwater crayfish is omnivorous that can be fed with commercial and tubifex feed. This study examines the influence of a combination of commercial and tubifex feed on moulting frequency and survival rate of freshwater crayfish. The research was conducted for 60 days; tested animals weighed 3±0.69 g and measured 5±0.34 cm, in average. Experimental design using Complete Randomized Design (CRD) was applied to examine 5 treatments in quadruplicates. Treatment P1 represented 0% tubifex and 100% commercial feed, P2= 25% tubifex and 75% commercial feed, P3= 50% tubifex and 50% commercial feed, P4= 75% tubifex and 25% commercial feed, P5= 100% tubifex and 0% commercial feed. The study showed that the survival rate and moulting frequency were not different between treatments. Moulting frequency between successive treatment were P1= 4.25±1.5, P2= 1.5±3.75, P3= 2.75±1.3, P4= 4±1.4, P5= 3.5±1.3. Survival rate between respective treatment were P1= 40±16.33%, P2= 30±25.82%, P3= 35±25.17%, P4= 30±25.82%, and P5= 45±25.82%. Key words: Cherax quadricaritanus, feed, molting, survival, tubifex
PENCARIAN POHON INDUK ENAU (Arenga pinnata Merr) DENGAN PRODUKSI NIRA TINGGI DI KENAGARIAN SUNGAI NANIANG
Enau (Arenga pinnata, MERR) termasuk famili Palma, tersebar pada hampir seluruh wilayah Indonesia.Tanaman ini memiliki fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan berpotensi ekspor jika diusahakan secara serius, karena seluruh bagian tanaman dapat diolah menjadi berbagai produk pangan dan non pangan. Usaha pengembangan atau pembudidayaan tanaman aren di Indonesia sangat memungkinkan. Selain masih luasnya lahan-lahan tidak produktif, juga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri atas produk-produk yang berasal dari tanaman aren, sekaligus meningkatkan pendapatan petani dari usaha tani tanaman aren dan ikut melestarikan sumber daya alam serta lingkungan hidup.Pencarian pohon induk enau adalah kegiatan yang penting dilakukan untuk mencari tetua enau potensial dalam program pemuliaan tanaman enau. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2017 di Kenagarian Sungai Naniang, Kec. Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat dengan metode purposive random. Hasil penelitian ini ditemukan 7 aksesi kandidat pohon induk enau dengan produksi nira tinggi yaitu pada aksesi BB6, KP7, BB8, KP8, KP10, AP2 dan AP10. Aksesi dengan produksi nira tinggi memiliki ciri rabuak berwarna merah. Lingkaran batang besar, pelepah panjang, rachis panjang, tangkai daun panjang, jumlah anak daun banyak, anak daun panjang dan lebar, diameter buah besar, bobot buah berat, diameter biji besar, bobot biji berat.Kata kunci: Enau, Nira, Pemuliaan Tanaman, Pohon Induk, Tetu
PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP PEMBELIAN PRODUK HERBAL DI KABUPATEN SUKOHARJO
Produk herbal sebenarnya telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat luas. Mulai dari jamu tradisional, jamu dalam kemasan, madu, sumplemen, vitamin, hingga berbagai jenis obat-obatan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Timbulnya berbagai macam penyakit hingga pandemi Covid-19 ini membuat masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri maupun keluarga dan lingkungan sekitarnya. Anjuran Kementerian Kesehatan mengenai memanfaatkan produk herbal di masa pandemi untuk menjaga stamina tubuh semakin mendorong keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi produk herbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor atau alasan konsumen membeli produk herbal di Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data primer. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan metode purposive sampling sebanyak 104 responden. Instrumen penelitian diuji menggunakan Uji reliabilitas dan validitas. Hasil penelitian di analisis secara deskriptif dan dilakukan uji kecenderungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa instrument penelitian valid dan reliable untuk digunakan dalam penelitian. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, mayoritas responden berada pada kategori baik. Artinya, 9 variabel dalam penelitian mampu menentukan persepsi konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian produk herbal di Kabupaten Sukoharjo. Pengambilan keputusan pembelian produk herbal dipengaruhi oleh label halal, harga produk, rasa, khasiat, kemudahan memperoleh, kedekatan dengan penjual, informasi dalam brosur, informasi dari teman, dan konsep back to nature.Kata kunci: Herbal, Pengambilan Keputusan, Perseps
Persepsi Petani Terhadap Penggunaan Pupuk Organik Pada Kelompok Tani Tranggulasi, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik internal dan eksternal petani sayuran organik, mengetahui persepsi petani terhadap penggunaan pupuk organik pada kelompok tani Tranggulasi dan menganalisis hubungan antara karakteristik internal dan eksternal petani dengan persepsi petani untuk menggunakan pupuk organik pada kelompok tani Tranggulasi. Penelitian dilakukan di Kecamatan Getasan menggunakan metode survei dengan jumlah sampel 32 responden. Uji yang dilakukan yaitu korelasi rank Spearman. Hasil menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap penggunaan pupuk organik termasuk dalam kategori tinggi dengan rataan skor 109. Hasil uji korelasi yang diperoleh 0,643**, 0,616** dan 0,538**. Hal ini menunjukkan bahwa umur mempunyai hubungan yang sangat nyata dengan persepsi petani terhadap tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan dan tingkat kemudahan dilihat hasilnya. Jumlah anggota keluarga mempunyai hubungan yang nyata dengan persepsi petani terhadap tingkat kemudahan untuk dicoba dan tingkat kemudahan dilihat hasilnya. Luas lahan mempunyai hubungan yang nyata dengan persepsi petani terhadap tingkat kerumitan. Nilai koefisien korelasi rank Spearman pengalaman usahatani diperoleh 0,509** artinya berhubungan sangat nyata dengan persepsi petani terhadap tingkat kerumitan dan berhubungan nyata terhadap tingkat kesesuaian dan tingkat kemudahan untuk dicoba. Tingkat pendidikan tidak mempunyai hubungan dengan persepsi petani terhadap penggunaan pupuk organik.Kata Kunci : Persepsi, Pertanian Organik, Petani Sayur. ABSTRACT The research was aimed to know the internal and external characteristics of organic vegetable farmers, to know the perception of farmers on the use of organic fertilizer on Tranggulasi groups and to analyze the relationship between internal and external characteristics of farmers with farmers perceptions to use organic fertilizer on Tranggulasi groups. The research was conducted in Getasan Districs using survey method with 32 respondents. Spearman rank correlation were used to analyze. The result of correlation test obtained as 0,643**, 0,616** and 0,538**. This showed that age has a very real relationship with the perception of farmers on level of compatibility, the level of complexity and the level of observatibility. The number of family members has a real relationship with the perception of farmers on the level of trialability and the level of observability. Land area has significant relationship with farmers perception of complexity level. The value of rank Spearman correlation coefficient of farming experience obtained as 0,509** it means very real relationship with the perception of farmers to the level of complexity and relate significantly to the level of compatibility and level of triability. The level of education has no relationship with the perception of farmers on the use of organic fertilizers. Keyword : Perception, Organic farming, Vegetable farmer
Pengaruh Kafein Terhadap Lengkung Ekor Spermatozoa Epididimis Sapi Bali
This study aims to analyze the influence of caffeine on the distance of the tail movement of the spermatozoa epididymis cattle Bali. Methods in this study with a collection of sperm from Slaughter House (RPH) and then conducted the process of freezing with Tris yolk dilution. Treatment of caffeine with levels of 0 mg/ml, 2 mg/ml, 4 mg/ml and 6 mg/ml in spermatozoa that have been in thawing. The variables observed were DCL, DAP, DSL, ALH analyzed by CASA. Results showed no difference (P> 0.05) motility with caffeine treatment and short sperm tailwave distance of 37.27 ?m showed the sperm motility velocity. Keywords: spermatozoa tail, caffein
Kajian Kandungan lignin dan Selulosa Jerami Padi Fermentasi
AbstrakPenelitian dilakukan di laboratorium fakultas Pertanian Univet Bantara Sukoharjo. Tujuannya adalah untuk mengkaji pengaruh penggunaan MA 11 dalam fermentasi terhadap kadar lignin dan selulosa jerami padi dan mengkaji waktu yang optimal dalam fermentasi dengan MA-11. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah jerami padi, tepung tapioca, larutan MA-11. Perlakuan sebanyak 4 macam yaitu : T0 : Jrami padi tanpa fermentasi; T1: Jerami padi difermentasi selama 2 hari; T2 : Jerami padi difermentasi selama 4 hari; T3 : Jerami padi difermentasi selama 6 hari. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola searah dengan ulangan sebanyak 3 kali. Peubah yang diamati adalah : kadar lignin dan selulosa. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik dengan analisis variansi pola searah. Jika terdapat perbedaan antar perlakuan, dilakukan uji lanjut dengan uji BNT. Hasil penelitian yang didapatkan adalah bahwa lama fermentasi 2 – 6 hari berpengaruh sangat nyata menurunkan kadar lignin dan berpengaruh sangat nyata meningkatkan kadar selulosa jerami padi. Kadar lignin jerami padi pada perlakuan T3 (fermentasi selama 6 hari ) adalah yang paling rendah ( 6,86 % ), disusul kemudian T2 ( 8,93 % ), T1 (13,31 % ) dan T0 ( 14,14 % ). Sedangkan kadar selulosa tertinggi dicapai oleh perlakuan T3 yaitu sebesar 27,64 %, kemudian disusul oleh T2 (27,19 %), T1 sebesar 26,57 % dan yang paling rendah adalah T0 (26,10 %). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa fermentasi jerami padi menggunakan MA-11 selama 2 – 6 hari dapat menurunkan kadar libnin dan meningkatkan kadar selulosa. Fermentasi selama 6 hari menunjukkan kadar lignin yang terrendah dan kadar selulosa yang tertinggi..Kata kunci: fermentasi, MA-11, lignin, selulos