Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
Toksisitas Bubuk Buah Lada Varietas Jambi dan LDL terhadap Araecerus fasciculatus (De Geer) (Coleoptera, Anthribidae)
Suatu penelitian untuk mengetahui tingkat toksivitas bubuk buah lada (Piper ningrum) terhadap serangga perusak kopi dan gaplek dalam penyimpanan, Araecerus fascicutauis De Geer (Coleoptera, Anthribidae), telah dilakukan di Laboratorium Sub Balittro Natar pada tahun 1991. Penelitian menggunakan metode lapisan tipis dari serbuk halus dari dua varietas lada yaitu varietas Lampung Daun Lebar dan Jambi dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubuk buah lada Jambi dan LDL toksis terhadap serangga A. fasciculatus dengan LC 50 berturut-turut adalah 3 988.21 ppm dan 8 005.38 ppm
Identifikasi Tanaman Jambu Mente
Cashew belongs to the class Dicotyledoneae, order Sapaindales, family Anacardiaceae, genus Anacardium, and species Occidentale. It is most prominent and economically important member of this family. Two varieties are recognized, Cashew variety Americanum and cashew variety Indicum, distinguished by characteristics, pendicule: nut ratios 10:1 and 3:1, respectively.Cashew is a perennial crop. The canopy of the tree may be umbrella shaped, conical, or hemisphere and may reach a height of 15 metres. The growth of cashew trees is influenced by the environment. Trees may bear fruit when it only 1 year old, and may continoue to produce for 50 years.Cashew flowers consist of male flowers and complete or hermaphrodite flowers in a ratio of (6 – 7) : (1 – 2). Fertilization is by bees, ants, and other insects, and by wind. Fruits attain maximum growth one month after fertilization
Pengolahan dan Perbaikan Mutu Hasil Temulawak
Processing and quality improvement of temulawak productBeside for traditional medicinal purposes, temulawak is also used as the raw material for food and beverages and export commodity. The quality of temulawak has to be suitable for each purposes. This not only depend on its variety and its cultivation method but also on its processing method.The temulawak processing in Indonesia is still done in a very modest traditional method that use the solar energy for drying process so that the quality of temulawak produced is not a good as the oil from other country as India. This method depend on the weather condition very much and contamination from the microorganism can’t be avoided. For that reason, the better processing method has to be fine out to produce better quality of temulawak especially its color
Identifikasi Komponen dari Bangle Secara Kromotografi Lapis Tipis
Identifikasi senyawa-senyawa yang terkandung dalam bangle telah dilakukan secara kromatografi lapis tipis. Padatan pendukung yang digunakan adalah silika gel G dengan pelarut campuran sikloheksan + etil asetat serta larutan pendeteksi vanillin asam sulfat dan anisaldehid asam sulfat. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemisahan yang terbaik dihasilkan dari komposisi pelarut sikloheksan + etil asetat dengan perbandingan 8:2. Dengan menggunakan larutan pendeteksi vanillin asam sulfat dapat dipisahkan 9 noda dengan warna spesifik. Sedangkan dengan larutan pendeteksi anisaldehid asam sulfat dapat dihasilkan 12 noda. Dari reaksi warna yang terjadi diduga dalam bangle terkandung senyawa-senyawa gugus alkohol, keton, fenol terpene dan gula
Efisiensi Metoda Pembiakan Curinus coeruleus Mulsant (COLOEPTERA: COCCINELLIDAE) di Rumah Kaca
Efficiency of Curinus coerolius (Coleoptera; coccinellidae) rearing methods in green houseThree methods of rearing C. coerolius were tested in green house. The first method consist of rearing the adults in 50 x 50 x 45 wood boxes. The eggs were transferred in to petridishes and the larvae then reared in 17.5 x 13 x 82 cm plastics bags.The second basically similar with the first but the adults were transferred after laying eggs. The third method is rearing the adults in 16 x 16 x 22 cm plastic boxes with a piece of bamboes and overpositive side. The eggs were transferred and the larvae reared in the screen cage in upside down position. The larvae were fed with H sp. the ben result came from the third method
Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Nilam (Pogestemon SPP) dan Kemungkinan Ketahanannya Terhadap Pratylenchus Brachyrus
Pratylenchus brachyurus adalah salah satu spesies nematoda parsit yang sangat merusak pertanaman nilam di Indonesia. Kajian mengenai penyebab ketahanan tanaman nilam (Pogostemon spp.) terhadap P. Brachyurus telah dilakukan secara in vitro di laboratorium Penyakit, Balittro, Bogor dari bulan Juni 1999 sampai Oktober 1999. Penelitian bertujuan untuk mengetahui suhu yang sesuai baik bagi pertumbuhan planlet nilam maupun perkembangan P. Brachyurus pada kondisi in vitro dan kemungkinan penyebab ketahanan nilam terhadap P. Brachyurus. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap. Pada penelitian tahap pertama planlet hasil regenarasi protoplasi tiga kultivar nilam (Girilaya, Sidikalang dan Tapak Tuan 75) dipelihara di dalam botol kultur berisi media agae, kemudian diinokulasi dengan P. Brachyurus masing-masing sebanyak 150 ekor/botol. Botol-botol tersebut ditempatkan dalam inkubator dengan suhu 20o, 25o dan 27o C. Penelitian dilakukan dalam rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan. Tujuh minggu setelah inokulasi, tanaman di dalam botol kultur dibongkar, populasi dan laju perkembangbiakan nematoda dihitung. Pada penelitian tahap kedua, planlet tiga kultivar nilam tersebut diinokulasi dengan 150 ekor P. Brachyurus kemudian ditempatkan pada suhu 25o C. Sebagai kontrol beberapa planlet di dalam botol tidak diinokulasi dengan nematoda. Satu bulan setelah inokulasi, tanaman di dalam botol kultur dibongkar, Populasi nematoda dihitung. Kadar fenol dan lignin total di dalam akar dianalisa secar kuantiatif dengan menggunakan HPLC. Hasil penelitian tahap pertama menujukkan bahwa suhu yang cocok untuk pertumbuhan planlet dan nematoda adalah 25o C. Sedangkan hasil penelitian tahap kedua menunjukka bahwa penyebab ketahanan pada kultivar Giriliya terjadi karena kandungan denol dan lignin yang tinggi. Pada kultivar Sidikalang ketahanan hanya terjadi karena kandungan fenol yang tinggi di dalam akar
CENDAWAN ENDOFIT AKAR LADA UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN MENEKAN BUSUK PANGKAL BATANG BENIH LADA
Busuk pangkal batang (BPB) merupakan penyakit tular tanah yang disebabkan oleh Phytophthora capsici. Pemanfaatan agens hayati dianggap pendekatan yang efisien untuk penyakit BPB. Cendawan endofit mampu meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tanaman terhadap cekaman biotik dan abiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi cendawan endofit asal akar lada terhadap pertumbuhan dan kemampuannya menekan penyakit BPB pada benih lada. Cendawan endofit diperoleh dengan mengisolasi akar lada menggunakan medium akar kentang dekstrosa (AKD) yang diberi kloramfenikol dan rose bengal. Isolat cendawan yang diperoleh dikarakterisasi dengan melakukan pengamatan morfologi, uji tantang terhadap P. capsici dan uji patogenisitas pada daun lada. Cendawan endofit diinokulasikan pada akar benih lada dengan cara merendam perakaran lada umur 10 minggu ke dalam suspensi cendawan endofit, kemudian ditanam dalam tanah steril untuk diamati. Kandungan hormon IAA dan GA3 di dalam akar diukur menggunakan TLC scanner satu bulan setelah diinokulasi. Inokulasi P. capsici dilakukan dengan menyiram 50 ml suspensi zoospora (106 zoospora/ml) di perakaran lada yang sebelumnya telah diinokulasi cendawan endofit. Benih lada yang hidup diamati satu bulan setelah inokulasi. Hasil pengamatan menunjukkan enam isolat tidak berpengaruh nyata pada parameter jumlah daun, buku, dan jumlah tanaman yang mati. Benih lada yang telah diinokulasi cendawan endofit E-5, E-7 dan E-15 mempunyai bobot kering akar berturut-turut 0,83; 0,84 dan 0,81 g dan berbeda nyata dari perlakuan lainnya. Kandungan hormon IAA relatif tinggi dibanding kandungan GA3 di dalam akar yang diinokulasi dengan ketiga isolat tersebut. Benih lada yang diinokulasi ketiga isolat tersebut lebih dari 80% yang hidup, pada satu bulan setelah diinokulasi P. capsici
Pengendalian Hama Penggerak Batang Cengkeh NOTHOPEUS SPP. di Kebun Percobaan Cimanggu
Control of stem borer on clove at Cimanggu experimental garden.About38.6% of clove planting from Zanzibar and its descendent, Sikotok and Ambon type at Cimanggu experimental garden were attacked by Noothopeus spp. stem borer. The number of active holes/tree varied from 1 – 30. After the application of Azodrin 15 WSC, 0.6 – 1.0 ml/hole and closed each hole with a bamboo pin, the active holes were rest at 1.53% or lower. A single application could not control the active holes up to 100%, except on light attack. It seemed that Zanzibar type and its descendent were more liable to the attack compared to Sikotok and Ambon type. The age of the tree influenced the level of the attack, more younger trees attacked compared with the older ones
Pembibitan Jambu Mete (Anacardium occidentale L.) pada Beberapa Media dengan Menggunakan Sitosin Seed Plus
Pengaruh beberapa media tumbuh dan penggunaan sitosin seed plus terhadap pertumbuhan bibit jambu mente telah dipelajari di Sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Natar, Lampung. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap, disusun secara faktorial dengan 4 ulangan. Faktor yang diuji adalah 4 macam media tumbuh yaitu a) tanah b) tanah + pupuk kandang (1:1) c) tanah + pasir (1:1) d) pasir, dan penggunaan sitosin seed plus yaitu 1) perendaman dalam larutan sitosin seed plus 2) perendaman dalam air masing-masing selama 1 jam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan media pasir dapat mempercepat maupun meningkatkan persentase perkecambahan. Media tanah + pupuk kandang (1:1) dapat dipakai sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan bibit yang baik pertumbuhannya. Penggunaan sitosin seed plus 1 cc/L tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit jambu mente. Dalam percobaan ini tidak tampak adanya pengaruh interaksi antara media tumbuh dan sitosin seed plus terhadap pertumbuhan bibit
Identifikasi Sifat-Sifat Hantaran Panas Pada Lada
Parameter-parameter penting pada proses yang menggunakan panas, seperti pengeringan, pasteurisasi, dan sterilisasi produk adalah sifat-sifat panasnya, mencakup kapasitas panas spesifik (Cp). Difusivitas panas (a), Konduktivitas panas (k) dan sebagainya. Data-data dasar ini sangat terbatas ketersediaanya, khususnya bagi komoditas rempah dan obat Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya pada rekayasa proses lada sangat tergantung pada data dasar dan sifat bahan tersebut seperti sifat – sifat panas yang tergantung pada spesifikasi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kapasitas panas spesifik lada varietas. Belantung (Metoda Charm) adalah 1.6063 kJkg-1K-1. Sedangkan difusivitas panasnya adalah 0.1242 m2/s dan konduktivitas panasnya dari pengukuran lansung (dengan Kemtherm QTM-D3) adalah 0.1282 Wm-1K-1 dan dengan pengukuran tidak langsung adalah 0.1171 Wm-1K-1. Tingkat kecepatan kedua nilai tersebut adalah 90.52%