Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
    357 research outputs found

    PENGARUH JUMLAH SEMAI AKASIA (Acacia villosa) DAN LAMTORO LOKAL (Leucaena glauca) SEBAGAI INANG PRIMER CENDANA (Santalum album L.)

    Get PDF
    Cendana (Santalum album L.) adalah tumbuhan tropik yang bernilai ekonomi tinggi. Cendana diketahui sebagai tumbuhan hemi parasitik, dengan karakter parasit akar. Sebagai tumbuhan hemi parasitik cendana membutuh-kan tumbuhan lain sebagai inangnya. Inang primer dibutuhkan oleh cendana ketika masih hidup dalam bentuk semai di dalam polybag. Beberapa jenis inang primer yang telah dike-tahui adalah akasia (Acacia villosa) dan lam-toro lokal (Leucaena glauca). Tujuan peneliti-an ini adalah menetapkan jumlah inang primer dalam polybag dan membandingkan pengaruh akasia dan lamtoro pada pertumbuhan semai cendana. Penelitian dipolakan mengikuti Ran-cangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Pene-litian dilakukan di Stasiun Penelitian Kehutan-an cabang Sumba Timur di Hambala, Wainga-pu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Benih cendana diperoleh dari pulau Timor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh akasia lebih bagus daripada lamtoro lokal sebagai inang primer cendana. Hanya di-butuhkan satu semai sebagai inang primer un-tuk pertumbuhan optimal semai cendana dalam polybag. Penelitian ini memberikan informasi bahwa pertumbuhan lamtoro lebih cepat dari pada pertumbuhan akasia

    PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN AROMATIK SEBAGAI MULSA DAN DAYA REPELENSINYA TERHADAP Doleschallia polibete

    Get PDF
    Penelitian dilakukan sejak April sampai Juli 2010. Observasi dilakukan di beberapa lokasi penyulingan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Uji repelensi limbah terhadap Doleschallia polibete dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Uji repelensi limbah terhadap larva dilakukan di laboratorium dengan memasukkan larva D. polibete instar tiga ke dalam pipa yang menghubungkan antara tanaman yang diberi dan yang tidak diberi mulsa. Larva diamati keberadaannya pada satu dan 24 jam setelah perlakuan. Pengujian diulang 10 kali dan setiap ulangan menggunakan satu ekor larva. Uji repelensi limbah terhadap serangga dewasa dilakukan di rumah kasa dengan melepas 20 pasang kupu-kupu ke dalam kurungan kasa berukuran 2 x 2 x 4 m3 yang di dalamnya telah diletakkan enam kelompok tanaman handeuleum yang telah diberi mulsa 50 g per tanaman. BioHassay menunjukkan limbah tanaman aromatik mampu menekan peletakkan telur serangga dewasa. Jumlah terendah ter-dapat pada perlakuan limbah serai dapur diikuti akar wangi, serai wangi, cengkeh, nilam dan kontrol dengan rata-rata jumlah kelompok telur berturut-turut 0,3, 1,2, 1,4, 1,8, 3,4, dan 5,3 kelompok. Sebaliknya limbah yang diuji ternyata bersifat menarik larva D. polibete dengan nilai indeks repelen (IR) terendah pada perlakuan limbah serai dapur diikuti serai wangi, cengkeh, akar wangi, dan nilam dengan IR berturut-turut -68,1, -61,6,    -58,9, -53,6, dan -42,9. Nilai C/N rasio terendah terdapat pada perlakuan akar wangi, diikuti nilam, serai dapur, serai wangi, cengkeh, dan kontrol dengan nilai ratio berturut-turut 10,5, 11,3, 12,8, 12,8, 13,79, dan 13,7. Dari lima limbah yang diuji, limbah nilam, serai dapur, serai wangi, dan cengkeh menghasilkan pertumbuhan tanaman lebih baik dari perlakuan kontrol

    JENIS-JENIS HAMA DAN SERANGANNYA PADA TANAMAN NILAM

    Get PDF
    Pests Of Patchouli Plant And Their DamageGenerally, patchouli is still cultivated traditionally in Indonesia. Improved technology such as pest and disease control methods, is  needed. Observation of  pests on patchuoli was carried out at Sukamulya experimental garden  from Agustus 2004 to January 2005. Further research was carried out at the laboratory and greenhouse of the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute to examine the damage of the patchouli plant due to the main insect attack. The experiment was arranged in a randomized block design, with 6 treatments and 4 replications. The experiment used one month-old patchouly seedlings of Sidikalang variety and the main insect (third instar grub) The white grub was invested on pathouli seedling. Each plant was invested with  0, 1, 2, 3, 4, 5, grubs as treatments. The results showed that grasshopper (Valanga sp), aphids (Myzus persicae), termite (Coptotermes sp), snail (Achatina sp) and white grub (Exopholis  hypoleuca) attack the patchouly plant with low up to high damages.  It was observed that  the grub is a dominant pest which  attacked  1.800  out of 15.000 patchouli plants  at Sukamulya experimental garden. Treatments grubs on patchouli seedlings at one, two, three, four and five grubs/polybag caused death on the seedlings  at 14, 13, 10, 7 and 7 days after investation, repectively. While the control seedlings were still alive until the end of the experiment.

    PRODUKSI DAN KANDUNGAN SELENIUM BEBERAPA GALUR TANAMAN TEMU-TEMUAN DI LAHAN PASANG SURUT, SUMATERA SELATAN

    Get PDF
    Lahan pasang surut merupakan lahan potensial untuk pertanian. Saat ini sebagian lahan pasang surut di Sumatera Selatan telah direklamasi dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian, terutama untuk budidaya padi. Salah satu kelebihan lahan pasang surut adalah kandungan mineral Fe, Cu, dan Se yang cukup tinggi. Kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian dengan kandungan Se (selenium) tinggi bermanfaat sebagai antioxidan. Salah satu komoditas potensial untuk lahan pasang surut adalah tanaman temu-temuan. Penelitian penanaman temu-temuan di lahan pasang surut bertujuan untuk mengetahui produksi dan kandungan unsur mikro Se pada rimpang tanaman temu-temuan di lahan pasang surut. Penelitian lapang dilakukan di Desa Karang Agung, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tiga jenis tanaman temu-temuan, yakni jahe emprit, kunyit, dan temulawak di-tanam dengan menerapkan standar prosedur operasional budidaya tanaman temu-temuan yang disesuaikan dengan kondisi lahan pasang surut, termasuk pengapuran dan pengaturan sistem drainase. Parameter yang diamati adalah produksi rimpang segar, mutu simplisia, dan kandungan Se pada rimpang temu-temuan. Sebagai pembanding ketiga jenis tanaman temu-temuan juga ditanam di tanah mineral di Sukamulia, Sukabumi dan dilakukan analisis Se pada rimpang temu-temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi rim-pang segar untuk jahe emprit, kunyit, dan temulawak masing-masing adalah 4,52; 12,90; dan 20,40 ton/ha. Mutu simplisia memenuhi standar MMI, dimana kadar sari larut alkohol adalah 13,13-14,77%; 12,79-16,54%, dan 5,98-7,12%. Kandungan Se pada rimpang jahe, kunyit, dan temulawak berturut-turut 1,78; 1,98; dan 2,08 ppm, sedangkan kandungan Se pada rimpang temu-temuan yang ditanam di Sukamulia, Sukabumi tidak terukur

    PENGARUH CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT PANILI (Vanilla planifolia Andrews)

    Get PDF
    The effect of micorrhiza abuscular on the growth of vanilla cuttings (Vanilla flanifoliaAndrews)Mycorrhiza inoculation at nursery represent an effort to gain better quality and growth of vanilla,s cutting. A research aiming at the effect of arbuscular mycorrhiza (AM) inoculation on the growth of vanilla,s cutting was conducted in the green house of the Sukamulya ExperimentalGarden-Sukabumi, Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute, from April 2002 to August 2002. A complete randomized design was used, arranged factorially with 2 factors and 3 replications. The first factor was vanilla types, consisted of Gisting and Anggerek, and the second factor was AM inoculation, such as without AM, 500 spores ofAM-p/plant, and 500 spores of Mycofer/plant. AM-p was a mixture of Acaulospora spp. and Glomus sp., while Mycofer was a mixture of Glomus sp., Glomus etunicatum, Gigaspora margarita, and Acaulospora sp. The result indicated that there was no significant interaction between vanilla type and AM inoculation on the plant growth. AM inoculation significantly affected the plant height, number of leaves, stem diameter, leaf area index, and dry weight of biomass. The difference of vanilla type significantly affected the root dry weight and precentage of AM root infection, but the interaction 19between AM and vanilla type did not significantly affect the plant growth. AM-pinoculation increased the plant height, number of leaves, stem diameter, leaf area index, and dry weight of biomass equal to 31,62%, 16,94%, 6%, 25,45% and 47,05%, while Mycofer increased those parameter 49,64%, 32,01%, 6%, 32,41% and 54,85%, respectively. The Anggerek type showed better responses to the AM inoculation than the Gisting type.

    KONSERVASI IN VITRO PANILI (Vanilla planifolia Andrews.) MELALUI PERTUMBUHAN MINIMAL

    Get PDF
    Penelitian mengenai konservasi tanaman panili secara in vitro melalui pertumbuhan minimal telah dilakukan dari bulan April 1998 sampai bulan Oktober 2000 di laboratorium kultur jaringan Kelti Plasma Nutfah dan Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor. Bahan tanaman yang digunakan adalah setek satu buku dari tanaman panili aseptik klon 1 yang telah tersedia dalam botol kultur. Penelitian penyimpanan ini dilakukan pada media dasar Murashige dan Skoog dengan pengenceran media dasar menjadi 3/4 MS, ½ MS, 1/4 MS serta kontrol yaitu media MS penuh. Ke dalam media ditambahkan zat pengatur tumbuh BA 2,5 mg/l. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap, terdiri dari tiga ulangan dan lima botol setiap ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua pengenceran media dasar yang dilakukan mampu menekan pertumbuhan biakan selama periode penyimpanan dan sampai 30 bulan masih mampu tumbuh. Planlet yang telah disimpan selama 24 bulan yang ditumbuhkan kembali pada media dasar (MS + BA 2,5 mg/l ) masih dapat membentuk tunas dengan jumlah tunas terbanyak diperoleh pada perlakuan pengenceran 3/4 MS + BA 2,5 mg/l yaitu sebanyak 7,15 dan tinggi tanaman sebanyak 1,21 cm. Penelitian ini selain mampu mengurangi frekuensi subkultur ke media baru juga dapat menjaga stabilitas kultur. Teknik ini dapat dimanfaatkan untuk pelestarian plasma nutfah yang efisien, disamping sebagai bahan pertukaran dan memudahkan transportasi benih. 

    ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL PAKET TEKNOLOGI PENGOLAHAN LADA PUTIH (White Pepper) SEMI MEKANIS

    Get PDF
    Salah satu masalah dalam industri lada di Indonesia yaitu rendahnya mutu lada yang dihasilkan di tingkat petani. Untuk meng-atasi hal tersebut, telah dikembangkan paket teknologi pengolahan lada semi mekanis yang saat ini unit percontohannya telah dibangun di Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menguji paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis baik dari segi teknis mau-pun finansial. Tahapan penelitian meliputi : 1) Produksi lada putih dengan dua cara penge-ringan, yaitu penjemuran dan alat pengering, 2) Analisis mutu lada putih, dan 3) Analisis finansial pengolahan lada putih. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa secara teknis paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis memiliki kinerja yang cukup baik. Rendemen lada putih yang dihasilkan berkisar antara 19,63-20,62%. Lada putih yang dihasilkan baik dengan alat pengering maupun dengan pen-jemuran memenuhi standar mutu IPC WP-1 dan WP-2, kecuali kadar kotoran yang meme-nuhi standar mutu IPC WP-2. Total mikroba lada putih kedua cara pengeringan tersebut relatif sama dan memenuhi standar mutu IPC untuk lada putih yang disterilkan. Hasil analisis finansial pengolahan lada putih di Kalimantan Timur pada kapasitas 0,5 ton bahan baku per proses, baik yang menggunakan alat pengering maupun penjemuran, layak direalisasikan. Penggunaan alat pengering menghasilkan NPV Rp 114.258.359,-, IRR 44,9%, B/C rasio 1,07 dengan masa pengembalian modal 2,18 tahun, sedangkan penjemuran menghasilkan NPV    Rp 142.603.460,-, IRR 48,5%, B/C rasio 1,09 dengan masa pengembalian modal 1,9 tahun. Analisis sensitivitas pengolahan lada putih dengan alat pengering dapat mentolerir ke-naikan harga bahan baku dan penurunan harga jual produk sampai 5%, sedangkan dengan penjemuran dapat mentolerir sampai 7%

    PENGARUH SEKAM DAN ABU SEKAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KEMATIAN TANAMAN PANILI (Vanilla planifolia Andrews) DI PEMBIBITAN

    Get PDF
    Penelitian telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Cimanggu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat mulai bulan April sampai dengan Agustus 1997, bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan sekam dan abu sekam terhadap pertumbuhan dan tingkat kematian tanaman. Perlakuan yang diuji adalah (1) dosis sekam yang terdiri atas 0, 50, 100, dan 200 g/ polibag; (2) abu sekam yang terdiri atas 0, 50, 100 dan 200 g/polibag, sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan. Setiap polibag berisi 4 kg, terdiri atas campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Penelitian mengguna- kan rancangan Acak Kelompok faktorial yang diulang 3 kali dengan 4 tanaman/ perlakuan.  Secara tunggal penggunaan 50 g sekam/polibag dan 50 g abu sekam/polibag berpengaruh baik terhadap pertumbuhan bibit panili, namun dengan tingkat kematian tinggi. Disarankan  untuk  menggunakan 200 g sekam/polibag atau 100 g abu sekam/ polibag untuk memperoleh pertumbuhan yang cukup baik dengan tingkat kematian relatif kecil

    RESPON TIGA KLON KUMIS KUCING (Orthosipon aristatus) TERHADAP MIKORIZA ARBUSKULA

    Get PDF
    The research aiming at the effect of arbuscular mycorrhiza to the 3 clones of  Orthosipon aristatus was conducted in the green house and laboratory of Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute, Bogor in 5 months.  Completely randomized design, arranged factorially with 2 factors and 3 replications was used. First factor was the clone of  orthosipon consisted of white flower, purpel and rather purple clones, meanwhile second factor was Arbuscular Mycorrhiza (AM) inoculation (300 spores of AM/plant) consisted of: without AM,  Glomus agregatum, Mac-1 (mixed of Acaulospora sp and Glomus sp), and Mac-2 (mixed of 8 kinds of AM).  The result showed a significant effect of orthosipon  clone to the plant growth (plant height, number of leaves and stem), fresh weight of stem, dry weight of leaf and root, and leaf area index.  White flower clone showed the best growth responses to the AM inoculation (fresh weight of leaf and plant P uptake increased 41,1% to 89,59% and 48,9% to 109,2%, respectively).  Glomus agregatum inoculation resulted the highest increasing plant height, number of leaves and stem, dry weight of leaf and stem, and leaf area index of the three clones.

    PENGARUH CEKAMAN DEFISIT AIR TERHADAP PEMBENTUKAN BAHAN AKTIF PADA PURWOCENG

    Get PDF
    Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) berkhasiat aprodisiak dengan bahan aktif antara lain steriod, saponin dan ber-gaptin. Penelitian dilakukan di KP. Gunung Putri, bertujuan untuk menge-tahui hubungan cekaman defisit air dengan pembentukan bahan aktif penting pada purwoceng. Pada kegiatan penelitian ini dilakukan dua pengujian yaitu respon pembentukan bahan aktif terhadap peningkatan level cekaman defisit air pada tiga fase pertumbuhan tanaman (3, 5, dan 7 bulan), dan kandungan bahan aktif purwoceng pada kondisi tingkat ketersediaan air tanah di level 80% kegiatan lapang (KL), 60% KL, 50% KL, dan 40% KL, dengan meng-gunakan rancangan acak kelompok, 6 ulangan, pada intensitas cahaya 55%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode cekaman defisit air berpengaruh terhadap pembentukan bahan aktif pur-woceng. Periode cekaman defisit air 21-38 hari berpengaruh terhadap kandung-an bahan aktif steroid, saponin dan bergapten. Periode cekaman defisit air selama 21-24 hari pada purwoceng berumur tiga bulan menghasilkan kan-dungan stigmasterol dan sitosterol ter-tinggi. Cekaman ringan dengan potensial air pada jaringan daunantara 5-12 bar menghasilkan kandungan bahan aktif steroid dan saponin tertinggi pada tujuh bulan setelah tanam (BST). Perlakuan cekaman defisit air selama 2 bulan dengan pengaturan ketersediaan air tanah setara 60% KL menghasilkan bahan aktif stigmasterol (0,121%), sitos-terol (0,087%) tertinggi pada tanaman purwoceng berumur lima bulan, sedang-kan empat bulan cekamans defisit air dengan 50% KL menghasilkan kandung-an saponin (0,149%) tertinggi pada umur tanaman tujuh bulan

    180

    full texts

    357

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇