Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
    357 research outputs found

    PENGARUH SUHU DAN MEDIA PERKECAMBAHAN TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BENIH PURWOCENG UNTUK MENENTUKAN METODE PENGUJIAN BENIH

    Get PDF
    Informasi tentang metode pengujian benih purwoceng (Pimpinella pruatjan) masih terbatas, terutama kebutuhan suhu dan media perkecambahan yang tepat. Percobaan bertujuan untuk mengetahui suhu dan media perkecambahan yang tepat dalam pengujian daya berkecambah benih purwoceng. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor,sejak Maret sampai Mei 2009. Percobaan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan. Sebagai petak utama adalah suhu perkecambahan yang terdiri atasdua taraf (1) 18-200C (T1), dan (2) 23-250C (T2). Sebagai anak petak adalah lima jenis media (1) media kertas stensil/CD (cross-machine direction) (M1), (2) media pasir (M2), (3) media tanah (M3), (4) campuran media tanah dan kompos (1:1) (M4), dan (5) campuran media tanah, pasir dan kompos (1:1:1) (M5), sehingga diperoleh 30 kombinasi perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan suhu perkecambahan 23-250C dengan media kertas stensil merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk metode pengujian viabilitas dan vigor benih purwoceng, berdasarkan nilai daya berkecambah (44%), potensi tumbuh maksimum (45,33%), indeks vigor (23,33%), dan kecepatan tumbuh (0,97% etmal-1)

    RESPON PERTUMBUHAN SETEK CABE JAWA (Piper retrofactum Vahl.) PADA MEDIA CAIR DENGAN PENAMBAHAN IBA DAN VITAMIN C

    Get PDF
    Cabe jawa (Piper retrofactum) adalah salah satu jenis tanaman obat yang merupakan komoditi ekspor. Pada umumnya jenis-jenis tanaman yang termasuk dalam genus Piper diperbanyak secara vegetatif dengan setek. Penelitian yang bertujuan mengetahui pengaruh hormon IBA dan Vitamin C dilakukan di kebun percobaan Treub, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, LIPI. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang disusun secara faktorial. Faktor  pertama  adalah  bahan  setek  terdiri  dari  setek  batang muda (berdaun kecil) dan batang tua (berdaun besar), faktor kedua adalah hormon tumbuh IBA (0, 5, 10 dan 15 mg l-1) dan faktor  ketiga  adalah   vitamin  C  (0, 50 dan 100 mg l-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan setek berpengaruh terhadap keberhasilan setek, setek batang muda lebih baik dari pada batang tua. IBA 10mg l-1 dapat meningkatkan jumlah akar dan jumlah tunas secara nyata pada setek batang muda. Vitamin C 50 mg l-1 dapat meningkatkan panjang akar secara nyata. Kombinasi perlakuan terbaik adalah IBA 10 mg l-1 + vitamin C 50 mg l-1 pada setek batang muda, menghasilkan ukuran akar terpanjang 19 cm dan jumlah tunas terbanyak 3,6

    STABILITAS HASIL DAN MUTU SOMAKLON HARAPAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) PADA TIGA AGROEKOLOGI

    Get PDF
    Nilam merupakan tanaman penghasil minyak atsiri, oleh sebab itu produksi, kadar dan mutu minyak merupakan faktor penting yang menetukan keunggulan suatu varietas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui stabilitas hasil dan mutu lima somaklon harapan nilam di tiga agroekologi. Penelitian dilaksanakan di Banten (100 m dpl), Kuningan (400 m dpl) dan Purwokerto (600 m dpl) selama dua tahun (2011 sampai 2012). Somaklon harapan A, B, C, D, E dan varietas Sidikalang sebagai pembanding ditanam dengan rancangan acak kelompok (RAK) empat ulangan. Data perbedaan lima somaklon dianalisa menggunakan uji Duncan pada taraf lima persen. Stabilitas hasil dianalisa berdasarkan metode Eberhart dan Russell. Parameter yang diamati adalah produksi terna (basah dan kering angin), produksi minyak, kadar minyak dan mutu minyak (kadar patchouli alkohol). Hasil penelitian diperoleh somaklon harapan nilam A dan E yang stabil pada hasil terna, kadar minyak dan mutu minyak serta mampu beradaptasi pada semua tempat pengujian. Somaklon harapan nilam A unggul pada  produksi terna basah per tahun 36,62 t ha-1, produksi terna kering angin per tahun 12,67 t ha-1, produksi minyak per tahun 356,37 kg ha-1, kadar minyak 2,85%, serta kadar patchouli alkohol 32,53%. Somaklon harapan nilam E unggul pada produksi terna basah per tahun 37,73 t ha-1, produksi terna kering angin per tahun 12,56 t ha-1, produksi minyak per tahun 343,22 kg ha-1, kadar minyak 2,78%, kadar patchouli alkohol 32,31%. Perbedaan somaklon harapan A dan E terletak pada bentuk daunnya. Somaklon harapan A mempunyai bentuk pangkal daun tumpul (obtusus), ujung daun runcing-tumpul (acutus-obtusus) serta tepi daun bergerigi tumpul (crenatus). Somaklon harapan E mempunyai bentuk pangkal daun runcing (acutus), ujung daun runcing (acutus) serta tepi daun bergerigi tajam ganda (biserratus)

    EFEKTIVITAS PATOGEN SERANGGA SEBAGAI AGENSIA HAYATI UNTUK MENGENDALIKAN Maenas maculifascia PADA TANAMAN YLANG-YLANG (Canangium odoratum)

    Get PDF
    Penelitian Efektivitas beberapa strain Beauveria bassiana dan virus MnNPV sebagai agensia hayati untuk mengendalikan Maenas maculifascia pada tanaman ylang-ylang telah dilakukan di laboratorium dan rumah kaca kelompok peneliti Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik sejak Januari - Desember 2007. Strain B. bassiana yang digunakan adalah : Strain GBH, ED34, ED6, ED3, E7, ED2, ED9, dan strain belalang masing-masing konsentrasi 108. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Leng-kap dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Per-lakuan diberikan dengan menyemprotkan larutan spora secara langsung ke tajuk tanaman ylang-ylang. Setelah kering angin 10 ekor ulat M. maculifascia instar 3 diinfestasikan ke tanaman ylang-ylang. Pengamatan dilakukan setiap hari terhadap mortalitas ulat kenanga (M. maculifascia). Pada percobaan ke-2 larutan virus dipalikasikan dengan mengoleskannya pada daun tanaman ylang-ylang, setiap per-lakuan menggunakan 3 lembar daun kemudian dimasukkan kedalam stoples plastik yang telah berisi 10 ekor ulat instar 3. Konsentrasi larutan virus MmNPV adalah : tanpa pengenceran (murni), pengenceran 1 kali, pengenceran 2 kali dan kontrol. Pengamatan dilakukan setiap hari dengan cara menghitung mortalitas M. maculifascia. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa semua strain B. bassiana yang diuji efektif untuk mengendalikan M. maculifascia instar 3 dengan kematian berkisar antara 83,33-100%. Efektivitas virus MmNPV mengendalikan M. maculifascia instar 3 adalah 68,3%

    PENGARUH PENURUNAN UNSUR MAKRO DAN PEMBERIAN ABSISIC ACID TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS TAPAK DARA (Vinca rosea) SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Effects of reduced–macro nutrients, and ABA to shoots multiplication of periwinkle (Vinca rosea) in vitroResearch regarding effect of reduced-macro nutrients and ABA to shoot multi-plication of periwinkle (Vinca rosea) in vitro   has been performed in the Laboratory of Germplasm and Breeding, Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, from April 2003 to March 2004. The culture media applied were  MS, ¾  and ½  MS +  (20 and 30) g/l sucrose + BA 0,1  mg/l and maintained growth inhibitor  ABA (1 and 2) mg/l. The experiment was design as a completely randomized with 10 replicated. Results showed that there was no significant different on the growth of shoots from all of MS medium until  culture 9 months with grow up to 90%. Addition ABA 1 and 2 mg/l in media,  made browning shoots until 7 months culture periods, and growing ability of 40 - 60%. Result from test of  shoots regeneration showed,  that MS + BA 0,1 mg/l + sucrose 30 g/l  (control) were the best medium for  conservation  with the highest number of shoots 8,4

    PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP INTENSITAS SERANGAN PENYAKIT BUDOK DAN PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM

    Get PDF
    Pengaruh pemupukan terhadap intensitas serangan penyakit budok, dan pertum-buhan tanaman nilam telah dilakukan di daerah endemik penyakit budok di Nagari Situak Pasaman Barat sejak Juli 2009 sampai Maret 2010. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok 8 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah pupuk NPK (PL) 250 kg/ha, pupuk kandang (Po) 20 t/ha, kompos nilam (Kn) 10 t/ha, kombinasi (PL + Po), (PL + Kn), (Po + Kn,) (PL + Po + Kn) dan kontrol (tanpa pupuk). Hasil pene-litian menunjukkan bahwa semua perla-kuan memberikan pengaruh positif dalam menekan serangan penyakit budok, pem-berian pupuk NPK 250 kg/ha + pupuk kandang 20 t/ha + kompos nilam 10 t/ha mampu menekan intensitas serangan budok sekitar 48,49% dan menghasilkan pertumbuhan tanaman lebih baik dibanding perlakuan lain dengan rataan tinggi tanaman 96,83 cm, jumlah cabang primer 27,50 buah, diameter tajuk 104,98 cm dan produksi terna 1187,50 g/rumpun, hasil ini tidak berbeda nyata dengan pemberian pupuk kandang 20 t/ha + pupuk NPK 250 kg/ha dan pemberian pupuk kandang 20 t/ha + kompos 10 t/ha, tapi berbeda nyata dengan perlakuan kontrol dengan rataan tinggi tanaman 69,58 cm, jumlah cabang primer 19,50 buah, diameter tajuk 65,27 cm dan produksi terna 552 g/rumpun

    PENGARUH BEBERAPA TARAF KONSENTRASI BA TERHADAP MULTIPLIKASI TUNAS CINCAU HITAM (Mesona palustris) IN VITRO

    Get PDF
    Mesona palustris is one of the medi-cinal plant which is potential to be developed. Recently, the agribisnis of this plant commo-dity is considered to be potential. To support  the availability of plant material, propagation by tissue culture technique being a good alternative for mass production. This expe-riment was conducted from January to April 2005 at the Tissue Culture Laboratory of Indonesian Spices and medicinal Crops Research Institute (ISMECRI) in Bogor. The objective of this research was to find out the effect of several concentrations of BA on shoot multiplication of Mesona palustris. The treatments tested were several concentrations of BA e.g. : 0.0 ( control); 0.2 ; 0.4; 0.6; and 0.8 mg/l. Experiment was arranged in a com-pletely randomized design with six replica-tions. The parameters observed were number of shoots, length of shoots, number of leaves, and percentage of rooting shoots, at 3, 5, and 9 week after culture (WAC). The result showed that the use of 0,2 mg/l BA performed the best shoots growth multiplication with a relatively high rate of increased shoots num-ber and percentage of rooting shoots, at 3 to 9 WAC. Abundant shoots number (21.00 shoots), with length of shoots of 5.92 cm, leaves number of 13.00, and percentage of rooting shoots of 83.33% was obtained on MS + BA 0.2 mg/l, 9 WAC.

    BIOKONVERSI BUAH SEMU JAMBU MENTE MENJADI KONSENTRAT PROTEIN MIKROBIAL

    Get PDF
    Penelitian biokonversi buah semu jambu mente menjadi konsentrat protein mikrobial dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat mulai bulan April 1999 sampai Maret 2000. Tujuan penelitian ada-lah untuk memproduksi konsentrat protein mikrobial dengan menggunakan buah semu jambu mente kering sebagai substratnya melalui proses fermentasi substrat padat. Perlakuan yang dicobakan adalah (A) amonium sulfat sebagai nutrien dengan konsentrasi 0, 1, 2 dan 3% dan (B) lama fermentasi yaitu 48, 72, 96, 120 dan 144 jam. Inokulan yang digunakan dalam fer-mentasi adalah Aspergillus niger. Rancang-an percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktor tunggal, terdiri atas dua faktor dan tiga ulangan. Parameter pengamatan meliputi pertambahan bobot biomasa (%), kadar protein dari biomasa (konsentrat protein mikrobial) dan kandungan asam amino dari protein biomasa yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi konsentrasi amonium sulfat, maka kadar protein konsentrat mikrobialnya makin tinggi. Kadar protein tertinggi (17,001%) dicapai pada perlakuan konsen-trasi 3 % amonium sulfat dan lama fermen-tasi 72 jam. Konsentrat protein mikrobial yang dihasilkan mengandung beberapa asam amino esensial yaitu metionin, leusin, fenil alanin, treonin, valin, histidin, tapi tidak mengandung asam amino esensial lisin dan isoleusin. Pertambahan bobot biomasa (konsentrat protein mikrobial) yang tertinggi (0,63%) dihasilkan dengan perlakuan konsentrasi 2 % amonium sulfat dan lama fermentasi 96 jam

    PENGARUH WOOD VINEGAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAHE (Zingiber officinale Rosc.)

    Get PDF
    The research to understand the effect of wood vinegar on the growth and yield of ginger was undertaken from November 2002 to March 2003 in Sukamulya Experimental Garden, Sukabumi. One high yielding and good quality ginger line (JPB4) were cut into small pieces about 50 g, and submerged in bactericide or wood vinegar solution 25 treatments were used, consists of control, bacteriside, Atonik, Gandasil and 3 types of wood vinegar (Pine, Mangrove and Acacia) at concentration 1,3 and 5% (v/v) combined with or without 200 g charcoal (Pine and Acacia). The research was designed in a randomized block with two replications. Observations were made on 58 growth percentage, disease incidence, growing components, yield and its components four months after planting. The results showed that the highest growth percentage were obtained from treatment with pine 1% and mangrove 3% combined with acacia charcoal and these were significantly different from control and bactericide treatment. Pine 1%, mangrove 3% with or without charcoal and acacia 5% added with acacia charcoal gave the highest value for growing components. For yield and its components, treatment with mangrove 1%, gave the longest rhizome 21,0 cm, while the widest of rhizome (7,3 cm) was obtained from pine 3% and biggest rhizome diameter was obtained from 5% (5,67 cm). Application of wood vinegar mangrove 1%, pine 1% also gave the highest rhizome weight (275,8 g/plant) and (265 g/plant) significantly different from control and bactericide application. On the whole pine 1%, mangrove 3% and acacia 5% were the best treatments for promoting ginger growth, while for effective control of bacterial wilt, higher concentration (5%) were needed.

    IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA MINYAK DAUN SALAM (Eugenia polyantha) DARI SUKABUMI DAN BOGOR

    Get PDF
    Daun salam mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan dalam industri obat-obatan, makanan dan parfum. Lingkungan yang berbeda berpengaruh terhadap rendemen minyak yang dihasilkan. Penelitian untuk mengidentifikasi senyawa yang terdapat pada minyak daun salam telah dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dari bulan Maret sampai Agustus 2001. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui komponen minyak daun salam dari Sukabumi dan Bogor. Bahan diperoleh dari kebun petani di daerah Bogor pada ketinggian tempat 225 m dpl, curah hujan 3000 - 4000 mm/th, jenis tanah latosol kemerahan dan dari Sukabumi, pada ketinggian tempat 450 m dpl, curah hujan 3000 - 4000 mm/th, jenis tanah latosol kehitaman. Jenis atau tipe tanaman salam dari kedua daerah tersebut secara morfologi kelihatan sama. Penyulingan dilakukan selama 10 jam setelah daun dikeringangin-kan pada suhu ruangan selama 3 hari. Kadar air daun salam saat disuling adalah 16,21%. Minyak atsiri yang dihasilkan dianalisis dengan GC-Mass Spectrometer (Shimadzu). Hasil analisis menunjukkan, bahwa rendemen minyak daun salam dari Sukabumi lebih besar daripada Bogor, masing-masing 0,023% dan 0,018%. Komponen kimia yang terdapat pada kedua minyak tersebut menunjukkan pola yang sama, hanya berbeda dalam limpahannya. Beberapa komponen kimia minyak yang berasal dari Sukabumi menghasilkan limpahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan minyak yang berasal dari Bogor

    180

    full texts

    357

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇