Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
STUDI FENOLOGI DAN SENYAWA KIMIA PRONOJIWO (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn.)
Pronojiwo (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn.) termasuk dalam suku Fabaceae dan merupakan salah satu tum-buhan hutan yang berpotensi sebagai sumber obat tradisional Indonesia. Khasiat bijinya hanya dikenal terbatas di kalangan keluarga maupun masyarakat tertentu, yaitu sebagai penyegar tubuh dan sebagai obat perangsang. Selama ini telah dike-tahui bahwa sebagian besar tumbuhan obat penghasil bahan baku masih diper-oleh dari alam, yang merupakan tumbuhan liar, dan hanya sebagian kecil saja yang diperoleh dari hasil budidaya. Saat ini populasi pronojiwo sudah berkurang, bahkan termasuk dalam kategori dua ratus tumbuhan langka Indonesia. Tempat tum-buhnya terbatas pada wilayah hutan dengan lereng-lereng gunung yang tinggi. Pengambilan yang terus menerus dari alam, tanpa adanya usaha untuk mem-budidayakannya, menyebabkan populasi-nya terus menurun sehingga pada akhir-nya akan mengalami kelangkaan. Berda-sarkan hal tersebut di atas, tindakan budi-daya diperlukan untuk mempertahankan, mengembangkan, serta mengkaji tentang fenologi dan kandungan kimianya. Pen-catatan data fenologi dilakukan pada habitat alami pronojiwo di Bukit Tapak, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan - Bali. Pengamatan dilakukan secara rutin 2 kali/minggu (hari Senin dan Kamis) tergantung dari perkembangan bunga dan buah. Diketahui perkembangan bunga dari mulai keluar tunas sampai dengan mekar berkisar antara 60-75 hari, lama bunga mekar 10-12 hari. Setelah bunga mekar langsung keluar bakal buah. Buah matang dan siap dipanen setelah berumur 130-150 hari. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa dari 40 senyawa kimia yang ditemukan, senyawa Kaur-16-ene tertinggi terdapat di akar (51,29%) dan batang (36,13%). Selanjutnya senyawa asam palmitat ditemukan pada akar (16,07%), batang (34,79%), daun (23,55%), kulit biji (13,79%), dan biji (36,13%). Hasil analisis dari 8 senyawa di Laboratorium UNUD, diketahui kandungan Vitamin C tertinggi terdapat pada kulit biji (2.254,32 mg/100 g) dan Antioksidan tertinggi ditemukan pada daun (126,94 ppm).Kata kunci : Fenologi, senyawa kimia, Euchresta horsfieldii, Bukit Tapa
PENGARUH CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN BEBERAPA KARAKTER MORFO-FISIOLOGIS TANAMAN NILAM
Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor abiotik yang sangat ber-pengaruh terhadap produktivitas nilam. Salah satu teknologi yang relatif murah dan efektif untuk menekan kerugian akibat adanya cekaman kekeringan adalah peng-gunaan varietas nilam yang toleran terha-dap cekaman kekeringan. Tujuan perco-baan ini adalah mendapatkan karakter morfo-fisiologis varietas dan nomor nilam yang toleran terhadap cekaman keke-ringan. Sebuah percobaan pot dilakukan di rumah kaca Balittro Bogor pada Februari – Agustus 2004. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Tujuh varietas dan nomor nilam yaitu Sidikalang, Tapak Tuan, Lhok Seumawe, Aceh Merah, TT 75, II-8, dan Girilaya ditanam di pot kayu berukuran 100 x 25 x 10 cm dan diberikan perlakuan cekaman kekeringan. Setelah benih di- tanam, semua pot disiram dengan air sampai jenuh dengan kapasitas lapang 100%. Selanjutnya semua pot diberikan perlakuan cekaman kekeringan dengan tidak memberikan penyiraman sampai umur 120 hari setelah tanam (HST). Parameter yang diamati adalah komponen pertumbuhan, produksi, dan kadar prolin daun. Hasil pengamatan pada umur 120 HST, terlihat bahwa komponen pertum-buhan dan produksi biomas varietas Girilaya paling tinggi diikuti oleh varietas Tapak Tuan. Produktivitas terendah dijum-pai pada varietas Sidikalang. Panjang mak-simum dan bobot segar akar serta kadar prolin di daun tertinggi juga dijumpai pada varietas Girilaya dan Tapak Tuan. Berda-sarkan data hasil pengamatan pertum-buhan, produksi, dan karakter morfo-fisiologi dari ketujuh varietas dan nomor nilam yang ketahanannya diuji terhadap cekaman kekeringan, mengindikasikan bahwa varietas dan nomor paling toleran adalah varietas Girilaya dari jenis nilam Jawa (Pogostemon heyeanus Benth). Sedangkan varietas yang paling toleran di antara nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth) dan hasil induksi somaklonal adalah varietas Tapak Tuan. Oleh karena itu, untuk pengembangan nilam di daerah yang sering terjadi cekaman kekeringan, penggunaan varietas unggul Tapak Tuan dapat dianjurkan
EFEKTIVITAS MINYAK SERAIWANGI DAN FRAKSI SITRONELLAL TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Phytophthora palmivora PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO
Efektivitas minyak seraiwangi (Cymbopogon nardus) dan fraksi sitronellal terhadap pertumbuhan jamur Phytophtho-ra palmivora, penyebab penyakit busuk buah kakao secara in vitro, telah dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit KP Laing Solok Sumatera Barat dari Juni - Desember 2008. Penelitian dilaksanakan dengan 3 metode : (a) penekanan diame-ter koloni menggunakan medium potato dekstrosa agar (PDA) dan perlakuan yang diuji adalah minyak seraiwangi dan fraksi sitronellal dengan beberapa tingkat konsentrasi (0, 100, 250, 500, 750, dan 1.000 ppm), (b) penekanan biomassa koloni menggunakan medium potato dex-trose Broth (PDB), dan perlakuan yang diuji adalah minyak seraiwangi dan fraksi sitronellal dengan 6 tingkat konsentrasi (0; 100; 250; 500; 750 dan 1.000 ppm), dan (c) penekanan diameter koloni oleh senya-wa volatil dari minyak seraiwangi dan fraksi sitronellal dengan 6 dosis uji (0; 0,01; 0,025; 0,05; 0,075; dan 0,1 ml/ cawan petri). Percobaan (a) dan (b) menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 4 ulangan, dan percobaan (c) disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 750 ppm, minyak seraiwangi mampu menghambat pertumbuhan diame-ter koloni P. palmivora 75,95% dan bio-massa koloni 82,61%. Sedangkan fraksi sitronellal pada konsentrasi yang sama mampu menghambat pertumbuhan diame-ter koloni lebih baik (yakni 78,88%) dan biomassa koloni 88,41%. Pada konsen-trasi 1.000 ppm, minyak seraiwangi mau-pun fraksi sitronellal mampu mengham-bat petumbuhan diameter dan biomassa koloni jamur P. palmivora 100%. Senya-wa volatatil dari minyak seraiwangi pada dosis 0,1 ml dan fraksi sitronellal 0,075 ml/cawan petri mampu menghambat per-tumbuhan diameter jamur P. palmivora 100%.
PENGARUH CAMPURAN BEBERAPA JENIS MINYAK NABATI TERHADAP DAYA TANGKAP LALAT BUAH
Penelitian pengaruh campuran bebe-rapa jenis minyak nabati terhadap daya tangkap lalat buah telah dilakukan di kebun jambu biji di Bogor pada tahun 2006. Penelitian menggu-nakan rancangan acak kelompok dengan dela-pan perlakuan dan diulang empat kali. Perla-kuan terdiri dari minyak nabati : (1) sawit, (2) pala, (3) kayu manis, (4) melaleuca, (5) mela-leuca + sawit (1:1), (6) melaleuca + pala (1:1), (7) melaleuca + kayu manis (1:1) dan (8) atrak-tan pembanding Hogy yang sudah beredar di pasaran. Minyak melaleuca yang dihasilkan da-ri penyulingan daun Melaleuca bracteata me-ngandung metil eugenol 80%, sedangkan Hogy mengandung metil eugenol 75%. Perlakuan de-ngan cara meneteskan minyak sebanyak 1 ml pada kapas yang diletakkan di dalam perang-kap lalat. Perangkap lalat dibuat dari botol mi-numan air mineral (600 ml) dan digantungkan pada pohon jambu biji setinggi sekitar 2 m di atas permukaan tanah. Pengamatan dilakukan setiap minggu selama empat minggu terhadap jumlah, jenis dan kelamin lalat buah yang ter-perangkap. Hasil penelitian menunjukkan bah-wa minyak nabati pala dan sawit merupakan bahan yang baik untuk dicampurkan dengan minyak melaleuca, hal ini ditunjukkan oleh ha-sil tangkapan yang lebih baik bila dibanding-kan dengan atraktan pembanding Hogy, walau-pun kandungan metil eugenolnya (40%) lebih rendah dibanding Hogy (75%). Minyak nabati kayu manis merupakan bahan yang bersifat an-tagonis bila dicampur melaleuca, hal ini ditun-jukkan oleh hasil tangkapan yang rendah. Mi-nyak pala mampu berperan sebagai atraktan la-lat buah, walaupun daya tangkapnya rendah.
PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP KEBERHASILAN SAMBUNG PUCUK KEPEL (Stelechocarpus burahol)
Kepel (Stelechocarpus burahol) merupakan tanaman obat langka. Dahulu tanaman kepel hanya ditanam di lingkungan keraton khususnya di Jawa. Tanaman kepel pada umumnya diperbanyak melalui biji, oleh karena itu untuk memperbaiki kualitas dan mempercepat masa produksi maka diperlukan perbanyakan secara sambung pucuk. Tujuan penelitian untuk meningkatkan keberhasilan dan vigor benih hasil sambung pucuk. Penelitian sambung pucuk di laksanakan di rumah kaca, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Bahan tanaman kepel diperoleh dari Jawa Tengah. Penelitian dimulai dengan penyiapan batang bawah yang diperoleh dari biji kepel disemaikan di bak plastik kemudian setelah berkecambah dipindahkan ke polibag. Setek pucuk diperoleh dari pohon induk berumur lebih kurang 30-50 tahun, diambil dari Jawa Tengah. Perlakuan yang dicobakan adalah: tanpa ZPT (kontrol), luka sayatan di semprot dengan air, 25, 50, dan 100% air kelapa, dan larutan 500 ppm GA3. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 10 tanaman. Parameter yang diamati adalah, persentase tanaman tumbuh setelah 1, 2, dan 3 bulan grafting, jumlah daun baru, panjang dan jumlah tunas baru. Pengamatan dilakukan setiap bulan selama tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase benih kepel hidup umur tiga bulan setelah penyambungan tertinggi pada perlakuan air (82,64%), tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan 25% air kelapa dan kontrol (kering). Pemberian perlakuan air kelapa 25, 50, dan 100% tidak berpengaruh terhadap peningkatan persentase benih hidup, namun mampu mempertahankan vigor benih dari umur dua bulan sampai tiga bulan setelah penyambungan. Pemberian hormon GA3 dosis 500 ppm tidak berpengaruh terhadap persentase benih hidup, tetapi mampu mempertahahan vigor benih yang tumbuh
PENGKAJIAN USAHATANI INTEGRASI SERAIWANGI-TERNAK SAPI
Sistem usahatani integrasi seraiwangi-ternak sapi dapat meningkatkan nilai tambah, menjamin kelestarian sumber daya alam, meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Penelitian bertujuan untuk mengkaji sistem usahatani seraiwangi-ternak sapi yang dilakukan di Kebun Percobaan Manoko Lembang, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Indonesia pada April 2014. Parameter yang diamati meliputi; produksi seraiwangi, ampas hasil penyulingan minyak seraiwangi, minyak seraiwangi, kotoran sapi, harga sapi dan produksi susu sapi. Data dianalisa menggunakan analisis Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C) rasio dan Internal Rate of Return (IRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem usahatani seraiwangi-ternak sapi layak diusahakan dan memberi keuntungan ganda kepada petani. Untuk usahatani seraiwangi dengan total produksi sebanyak 270.000 kg ha-1 (=1.755 liter minyak seraiwangi), @ Rp 500,- kg-1 basah dengan DF 15% per tahun, memberikan NPV sebesar Rp 37.462.817,-, B/C rasio = 1,44 dan IRR = 35,96%. Penyulingan minyak seraiwangi berbahan bakar kayu dengan harga minyak Rp 170.000,- liter-1, memberikan NPV sebesar Rp 38.947.118,-, B/C Rasio 1,28 dan IRR 29,45%. Sedangkan dengan memakai biogas memberikan NPV, B/C Rasio dan IRR lebih tinggi, masing-masing Rp 64.575.654,-, 1,55 dan 36,27%. Limbah penyulingan daun seraiwangi yang dihasilkan sekitar 44.797 kg ha-1 tahun-1, ini dapat digunakan sebagai pakan 5-6 ekor sapi. Untuk budidaya ternak sapi, memberikan NPV Rp 61.302.125,-, B/C Rasio 1,42 dan IRR 42,60 % selama 6 tahun
OPTIMASI USAHATANI JAMBU METE DENGAN TANAMAN TUMPANG SARI DI LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT
Penelitian tentang, optimasi usahatani jambu mete dengan tumpang sari telah dilak-sanakan pada Pebruari 2005 sampai dengan Maret 2006 di desa Kayungan,Kabupaten Lom-bok Barat, Nusa Tenggara Barat. Metode pena-rikan contoh melalui random sampling. Data diambil dari wawancara dengan jumlah sampel responden 20 petani yang menanam jambu mete, dan melakukan uji lapang dengan metode Rancangan acak kelompok. Survey ekonomi kepada petani responden yang diambil secara acak. Tujuan penelitian untuk mengetahui ting-kat optimasi pemanfaatan sumberdaya mulai dari produksi jambu mete dan tanaman sela serta alokasi faktor-faktor produksi (tenaga kerja, pupuk dan insektisida) yang digunakan petani untuk memaksimumkan pendapatan pe-tani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola tanam yang optimal dan menguntungkan petani adalah pola jambu mete dengan kacang kedele. Pada kondisi optimal dapat diperoleh pendapat-an Rp 12.000.000,-/ha/thn dan pendapatan rata-rata/ha/thn sebesar Rp 9.587.400,-. dengan jumlah input 1.047 HOK yang terdiri dari 640 hari kerja pria, 228 hari kerja wanita dan 179 hari kerja anak.
KERAGAAN KARAKTER MORFOLOGI, HASIL DAN MUTU ENAM AKSESI JAHE PUTIH KECIL DI TIGA AGROEKOLOGI BERBEDA
Jahe merupakan tanaman yang memerlukan lahan subur dan pupuk dosis tinggi untuk menghasilkan rimpang yang optimal. Ketersediaan lahan subur semakin terbatas, sedangkan harga pupuk semakin tinggi, sehingga diperlukan varietas jahe yang toleran ditanam di lahan marginal dengan input pupuk rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan keragaan karakter morfologi, hasil dan mutu aksesi jahe putih kecil pada budidaya dengan input pupuk rendah, atau tumbuh baik pada kondisi lahan marginal. Evaluasi plasma nutfah jahe toleran lahan marginal di lakukan di Kabupaten Lebak (Banten), Kulonprogo (Yogyakarta) dan Bantul (Yogyakarta). Bahan tanaman yang digunakan enam aksesi jahe putih kecil (JPK), menggunakan rancangan acak kelompok diulang empat kali. Pengamatan dilakukan terhadap karakter pertumbuhan tanaman (populasi tanaman, tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, diameter batang) dan produksi rimpang segar serta kadar gingerol. Data dianalisis menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan DMRT 0,5% apabila berbeda nyata. Hasil evaluasi keenam aksesi yang ditanam di lahan marginal dengan pemupukan dosis rendah, menunjukkan respon yang berbeda pada fase pertumbuhan maupun produksi. Aksesi 02 menunjukkan karakter diameter batang yang stabil di tiga lokasi, sedangkan aksesi lainnya tidak stabil. Aksesi 04 menunjukkan stabilitas pada karakter produksi rimpang segar dan kadar gingerol di tiga lokasi. Aksesi 04 menghasilkan bobot rimpang segar tertinggi (546,92 g rumpun-1) dan kadar gingerol lebih dari 1%, sehingga aksesi 04 berpotensi untuk dikembangkan di lahan marginal dengan input pupuk rendah
RESPON TANAMAN CABE JAWA PRODUKTIF TERHADAP PEMUPUKAN DI SUMENEP MADURA
Cabe jawa (Piper retrofractum) merupakan salah satu jenis tanaman budidaya yang memiliki banyak manfaat dalam pengobat-an. Untuk memperoleh sediaan jamu atau industri farmasi berbahan baku cabe jawa yang terstandar, perlu didukung dengan penyediaan teknologi hulu yang memadai, sehingga simplisia dan ekstrak yang akan digunakan terjamin mutunya. Teknologi budidaya yang dilakukan petani cabe jawa umumnya belum mengacu pada standar good agricultural practice (GAP) untuk mendukung quality, safety, and efficacy (QSE). Produksi dan mutu cabe jawa diduga dapat ditingkatkan melalui pemu-pukan. Penelitian dilakukan untuk menge-tahui respon tanaman cabe jawa produktif terhadap pemupukan organik dan anorga-nik serta komposisinya di sentra produksi Sumenep, Madura. Penelitian mengguna-kan rancangan petak-petak terbagi (split-split plot), dengan 3 ulangan. Sebagai pe-tak utama adalah pupuk kandang sapi (5, 10, 15 kg/phn/th), anak petak adalah dosis pupuk anorganik/urea, SP-36, dan KCl (75 dan 50 g/phn/th), dan sebagai anak anak petak adalah komposisi urea, SP-36, dan KCl (1:1:1, 1:2:2, 2:1:2, dan 2:2:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pem-berian 5 kg/phn/th pupuk kandang de-ngan 75 g/phn/th pupuk urea+SP-36 +KCl (1:2:2) atau 15 kg/phn/th pupuk kandang dengan 50 g/phn/th pupuk urea+SP-36+KCl (2:1:2) dapat me-ningkatkan pertumbuhan tanaman ca-be jawa. Pemberian pupuk kandang saja sebanyak 15 kg/phn/th secara nyata me-ningkatkan produksi buah segar (7.612,5 g/phn), dan buah kering (2.537,5 g/phn setara dengan produksi 6,344 t/ha). Pe-ningkatan produksi cabe jawa kering mencapai 28,24% dibandingkan dengan rata-rata petani Sumenep. Kadar piperin (1,87%) dan minyak atsiri (0,91%) yang dihasilkan telah memenuhi standar farma-kope herbal Indonesia
DETEKSI CENDAWAN KONTAMINAN PADA SISA BENIH JAHE MERAH DAN JAHE PUTIH KECIL
Penelitian pada rimpang jahe (Zingi-ber officinale), yang tidak memenuhi kualifi-kasi sebagai benih, telah dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik sejak Desember 2007 sampai Juli 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi cendawan kontaminan pada rimpang jahe merah dan putih kecil. Penelitian dilakukan dengan dua metode, yaitu (1) Metode pengenceran, (2) Metode tanam lang-sung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode pengenceran, pada rimpang jahe merah dan jahe putih kecil didapatkan jumlah kontaminan sebesar 6,3 x 105 cfu/g sampel dan 0,93 x 105 cfu/g sampel. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa pada jahe merah didapatkan 4 genus cendawan, yaitu : Fusarium spp. (24,40%), Aspergillus spp. (4,39%), Penicillium spp. (2,19%), dan Absidia sp. (1,46%). Sedangkan pada jahe putih kecil ditemukan Penicillium sp. (48,39%), Fusarium sp. (26,87%). Hasil penelitian dengan metode tanam langsung menunjukkan bahwa pada jahe merah ditemukan Rhizopus sp., sedangkan pada jahe putih kecil ditemukan 5 isolat Fusarium sp.