Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
    357 research outputs found

    KERAGAAN SIFAT MORFOLOGI, HASIL DAN MUTU PLASMA NUTFAH PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban.)

    Get PDF
    Karakterisasi dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan data karakter morfologi, hasil dan mutu dari 16 nomor aksesi pegagan yang berasal dari Sumatra, Jawa, Bali dan Papua. Penelitian dilakukan di KP. Cicurug, Sukabumi pada ketinggian 550 m dpl, sejak Januari sampai Desember 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak ke-lompok dengan 16 perlakuan dan tiga ulangan, jarak tanam 20 cm x 20 cm, populasi 100 tanaman/petak. Kultur teknis mengacu kepada SOP (Standar Operasional Prosedur), dengan dosis pupuk kandang 20 ton/ha, Urea SP-36 dan KCl masing-masing 200 kg/ha. Pengamat-an dilakukan pada 10 tanaman per petak pada saat panen (umur 3,5 BST) terhadap sifat morfologi kuantitatif dan kualitatif, hasil herba basah dan kering serta mutu. Perbedaan antar aksesi dianalisis, menggunakan Uji Jarak Ber-ganda Duncan (UJBD). Hasil analisis statistik menunjukkan ada keragaman pada sifat mor-fologi kualitatif dan kuantitatif, antara lain ukuran, warna dan bentuk daun, jumlah, ukur-an dan warna geragih, jumlah bunga per gera-gih, panjang dan warna buku, warna batang, berat segar dan berat kering. Aksesi CASI 002 memiliki tangkai dan daun lebih besar dari aksesi lainnya. Sebaliknya aksesi dari Irian Jaya Barat memiliki daun kecil, pendek dan sangat berbeda dari aksesi lainnya. Bobot ba-sah per tanaman dan produktivitas segar ter-tinggi diperoleh dari aksesi CASI 011 dan CASI 016, sedangkan bobot kering per tanam-an dan produktivitas terna kering tertinggi di-peroleh dari aksesi CASI 011. Kadar asiatiko-sida berkisar antara 0,15-1,49 %. Senyawa alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, steroid dan glikosida terdeteksi sangat kuat (4+), sedang-kan triterpenoid lemah sampai agak kuat (1+-2+). Informasi yang dihasilkan diharapkan da-pat dijadikan sebagai bahan pertimbangan da-lam memilih bahan pemuliaan untuk meng-hasilkan varietas unggul.

    ASPEK BIOLOGIS HAMA Aspidomorpha milliaris F. (Coleoptera : Crysomelidae) PADA TANAMAN YLANG-YLANG

    Get PDF
    Aspidomorpha milliaris (Coleoptera : Crysomelidae) adalah salah satu hama pada tanaman ylang-ylang (Canangium odoratum forma guneina) di Kebun Per-cobaan Laing Solok. Sehubungan dengan itu telah dilakukan studi aspek biologis A. milliaris sejak Januari sampai Desember 2008 dalam skala rumah kaca dan obser-vasi lapangan. Penelitian rumah kaca dilak-sanakan dengan metode rearing pada April dan Oktober 2008. Pada setiap tahapan telur A. milliaris dikoleksi dari lapangan, dipelihara dalam kotak transparan Æ 25 cm, dan diamati perkembangannya sampai jadi imago. Pengamatan dilakukan setiap hari, meliputi persentase ekslosi telur, mortalitas larva tiap instar, lama periode larva, lama periode pupa, persentase emergensi pupa menjadi imago, konsumsi makan larva dan imago. Observasi lapang dilaksanakan terhadap 15 tanaman contoh yang ditentukan secara sistematik random sampling. Pengamatan dilakukan setiap bulan dan parameter yang diamati : kera-patan populasi (larva, pupa, dan imago) dan intensitas serangan. Hasil penelitian diketahui aspek biologis, khususnya siklus hidup, A. milliaris pada tanaman ylang-ylang dari telur sampai imago berlangsung 63,35 hari, terdiri atas stadium telur, larva, dan pupa masing-masing selama 6,56; 45,31; dan 11,48 hari. Lama siklus pada musim hujan lebih panjang 3,09 hari dibanding musim kemarau. Tingkat ekslosi telur mencapai 88,67%, pupasi 67,30%, dan emergensi pupa 70,65% masing-masing dalam waktu 5-8; 8-12; dan 10-14 hari. Volume makan larva instar VI dan imago paling tinggi mencapai 0,503 dan 0,449 g/ekor/hari. Padat populasi men-capai 43,72 ekor/tanaman, terdiri dari larva, pupa, dan imago masing-masing 27,48; 8,97; dan 7,27 ekor/tanaman. Intensitas serangan mencapai 36,55%, yang meliputi 18,90% pada daun muda dan 17,65% pada daun tua.

    PENGARUH SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN MUTU SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees)

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap per-tumbuhan, produksi dan mutu sambiloto. Pene-litian pottelahdilaksanakan di rumah kaca Cimanggu, Balittro Bogor mulai Juli sampai dengan Nopember 2007. Penelitian mengguna-kan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri atas 13 perlakuan dosis larutan NaCl dengan ulangan 3 kali. Setiap satuan percobaan terdiri atas 6 tanaman. Masing-masing perla-kuan adalah; N0 = Disiram air (tanpa NaCl) 2 hari sekali, N1= Disiram larutan NaCl 1 g/l (86 mM) 2 hari sekali , N2 = Disiram larutan NaCl 1 g/l 3 hari sekali, N3 = Disiram larutan NaCl 1 g/l/tan 4 hari sekali; N4 = Disiram larutan NaCl 2 g/l (172 mM) 2 hari sekali; N5 = Disiram larutan NaCl 2 g/l 3 hari sekali; N6 = Disiram larutan NaCl 2 g/l 4 hari sekali; N7 = Disiram larutan NaCl 3 g/l/tan (258 mM) 2 hari sekali; N8 = Disiram larutan NaCl 3 g/l 3 hari sekali, N9 = Disiram larutan NaCl 3 g/l 4 hari sekali;  N10 = Disiram larutan NaCl 4 g/l (344 mM) 2 hari sekali; N11 = Disiram larutan NaCl 4 g/l 3 hari sekali; N12 = Disiram larutan NaCl 4 g/l (344 mM) 4 hari. Tingkat pemberian air atau larutan 4 mm/hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah cabang, luas daun), produksi (bobot segar dan kering pangkasan), dan mutu simpli-sia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ting-kat salinitas tidak berpengaruh terhadap per-tumbuhan tanaman (tinggi tanaman dan jumlah cabang), namun berpengaruh terhadap indeks luas daun, bobot segar terna, bobot segar batang dan bobot kering batang. Produksi segar pada perlakuan penyiraman NaCl 2 g/liter air interval 2 hari sekali diperoleh 69,14 g/tanam-an, dengan peningkatan 3,87% dibanding pada pemberian air optimun (52,33 g/tanaman). Penyiraman NaCl 1 g/l dengan interval penyi-raman 2 hari sekali menghasilkan kadar andro-grapolida simplisia tertinggi (1,18%) pening-katannya sebesar 1,06% dibandingkan dengan penyiraman air optimum 4 ml/hari (0,70%).

    PENGARUH PEMUPUKAN P TERHADAP PRODUKSI DAN SERAPAN P TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.)

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui kebutuhan hara P dari pupuk fosfat maupun hayati untuk produksi tanaman nilam (Pogos-temon cablin Benth.) pada tanah Podsolik Jasinga. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rumah Kaca Cimanggu selama 6 bulan (di dalam polybag berukuran 20 kg). Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok, terdiri dari 2 faktor, diulang 3 kali. Faktor I adalah aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA), yaitu tanpa FMA dan 500 spora FMA (Glomus sp.1, Glomus sp.2, Acaulospora sp)/tanaman. Faktor II adalah pupuk P/tanaman terdiri dari: a). kontrol, (b) 2 g P2O5, c). 4 g P2O5, d). 6 g P2O5, (e) 8 g P2O5. Sebagai pupuk dasar diberikan 1 kg pupuk kandang/tan., pada perlakuan pupuk P ditambahkan 7,5 g N + 16 g K2O/tan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi FMA nyata meningkatkan jumlah daun dan tinggi tanaman serta produksi nilam. Peningkatan bobot segar dan kering akar, batang, daun, bio-mas serta kadar minyak nilam sebesar 65,2 dan 73,8%; 109,5 dan 103,8%; 69,6 dan 73,4%; 88,5 dan 89,5% serta 0,6% dibandingkan tanpa FMA. Pemupukan 2-4 g P2O5/tan. Menghasil-kan produksi nilam dan total serapan hara P, N dan K yang lebih baik dibandingkan dosis pupuk P lainnya. Aplikasi FMA + 2 g P2O5/ tan.menghasilkan kadar minyak nilam tertinggi (3,38%).

    PENGARUH PUPUK N DAN POPULASI TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAHE PADA LINGKUNGAN TUMBUH YANG BERBEDA

    Get PDF
    Kondisi lingkungan tumbuh, baik iklim maupun kesuburan lahan, serta teknik budidaya sangat berpengaruh terhadap pertum-buhan dan produktivitas tanaman jahe. Tujuan penelitian untuk mempelajari respon jahe putih besar (Zingiber officinale Rosc.) terhadap pemupukan N dan populasi tanaman pada lingkungan tumbuh yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di dusun Cipanas, dengan ke-tinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl) dan di dusun Cipicung (800 m dpl) Desa Werasari, Kecamatan Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Penelitian dimulai Agustus 2004 sampai dengan Juli 2005, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari enam kombinasi taraf pemupukan N dan populasi tanaman masing masing N1P1 (400 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), N1P2 (400 kg Urea/ha - 55.556 tanaman/ha), N2P1 (500 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), N2P2 (500 kg Urea/ha-55.556 tanaman/ha), N3P1 (600 kg Urea/ha - 41.667 tanaman/ha), dan N3P2 (600 kg Urea/ha - 55.556 tanaman/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan agroklimat dan kesuburan menghasilkan bobot segar, jumlah anakan dan tinggi tanaman berbeda. Tinggi tanaman, jumlah anakan dan bobot segar di Cipanas adalah 74,69 cm, 16,48 anakan dan 55,89 t/ha, sedangkan di Cipicung masing-masing 42,26 cm, 5,31 anakan dan 7,69 t/ha. Kecukupan hara N pada lahan percobaan khususnya di Cipanas menyebabkan respon tanaman jahe terhadap pemupukan N yang diberikan tidak nyata. Perlakuan populasi yang lebih tinggi sampai 55,556 tanaman/ha mampu meningkatkan produksi jahe sekitar 35 (dari 47,79 t/ha menjadi 64,83 t/ha).

    POTENSI ADAS (Foeniculum vulgare) SEBAGAI BAHAN AKTIF LOTION ANTI NYAMUK DEMAM BERDARAH(Aedes aegypti)

    Get PDF
    Penelitian dilakukan pada tahun 2007-2008 di Laboratorium Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aro-matik. Penelitian disusun dengan rancang-an acak lengkap, terdiri dari 5 taraf per-lakuan konsentrasi minyak adas (0; 1,25; 2,5; 5; dan 10%), dan diulang sebanyak sepuluh kali. Pengamatan dilakukan terha-dap uji organoleptik, yaitu meliputi homo-genitas formula, warna, aroma, uji iritasi, pH, viskositas, serta uji daya proteksi. Pengujian dilakukan selama enam jam, sedangkan pengolesan lotion hanya dila-kukan satu kali, pada saat awal pengujian untuk melihat daya tahan lotion. Hasil menunjukkan bahwa formula lotion anti nyamuk bercampur secara homogen yang dilihat pada bulan pertama hingga bulan ketiga. Lotion berwarna agak kekuningan, sebagai akibat dari warna minyak atsiri adas yang berwarna kekuningan. Aroma formula berbau khas seperti minyak telon dengan aroma yang stabil sampai penga-matan bulan ke tiga. Lotion tidak menye-babkan iritasi atau ketidak-nyamanan pada pengguna selama pemakaian enam jam. pH formula lotion hampir merata yaitu sekitar 8,6 lebih, dimana pH ideal sebagai lotion adalah mendekati netral (7). Oleh karena itu perlu pengurangan kadar tri-etanolamin pada formula untuk menu-runkan pH. Terdapat korelasi positif antara konsentrasi minyak atsiri adas dengan viskositas formula, yaitu semakin tinggi kandungan minyak atsiri adas, semakin tinggi viskositasnya. Minyak atsiri adas bersifat repellent (menolak) nyamuk A. aegypti, namun demikian pada konsen-trasi 1,25 dan 2,5% hanya menampakkan efektifitasnya pada jam pertama pengu-jian. Sedangkan pada konsentrasi 5 dan 10%, efektifitasnya dapat bertahan sela-ma dua jam dengan menunjukkan daya proteksi di atas 50%, setelah itu daya proteksi mulai menurun.

    KARAKTERISTIK MORFOLOGI BUNGA KENCUR (Kaempferia galanga L.)

    Get PDF
    Bunga kencur tergolong bunga sempurna yaitu memiliki benang sari dan putik. Penelitian bertujuan untuk mempelajari biologi bunga tanaman kencur yang dilaksanakan di Rumah Kaca Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor sejak Januari – Desember 2007. Parameter yang diamati adalah jumlah kelopak, warna kelopak, panjang dan lebar kelopak, warna mahkota, jumlah mahkota, panjang dan lebar mahkota, panjang kotak sari, lebar kotak sari, panjang tangkai putik, lebar kepala putik, panjang bunga, panjang tabung bunga, dia-meter tabung bunga, jumlah tepung sari (Pollen) fertil, jumlah tepung sari steril, per-sentase fertilitas dan sterilitas tepung sari. Data dianalisis dengan menggunakan Anova. Jika terdapat beda nyata pada setiap perlakuan di-lanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil analisis menunjukkan morfologi kelopak bunga terpanjang pada V1 (2,30 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Sedangkan panjang mahkota bunga terdapat pada V4 (1,61 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Lebar kelopak, lebar mahkota, jumlah kelopak dan jumlah mahkota tidak berbeda nyata dari masing-masing nomor. Morfologi bunga jantan dan bunga betina dari masing-masing parameter yang dianalisis tidak berbeda nyata. Warna bunga kencur putih pada nomor V2 dan ungu terdapat pada nomor V1, V3, V4 dan V5. Bunga kencur merupakan jenis bunga yang termasuk kedalam bunga majemuk yang sem-purna (lengkap) karena terdapat bunga jantan dan bunga betina dalam satu anak bunga. Bunga jantan dan bunga betina matang bersamaan pada saat kuntum mekar penuh dengan masa reseftifitas 5 jam. Reseftifitas bunga jantan ditandai adanya warna kuning pada kotak sari sedangkan reseftifitas bunga betina ditandai ligula pada kepala putik sudah rontok dan terdapat lubang menganga di kepala putik. Fertilitas tepung sari sangat tinggi berkisar antara 97,20-99,14 %.

    Pertumbuhan Bibit Panili pada Beberapa Komposisi Media Tanam dan Frekuensi Aplikasi Pupuk Daun

    Get PDF
    Salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan dan pengusahaan tanaman panili antara lain bibit yang baik. Tingkat pertumbuhan dan keberhasilan perbanyakan tanaman panili di pembibitan menjadi faktor pendukung dalam menghasilkan dan penyediaan bibit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dan mengkaji komposisi media tanam dan frekuensi aplikasi pupuk daun terhadap pertumbuhan setek panili. Penelitian dilaksanakan di kebun Sindang Barang, Bogor, sejak September sampai Desember 2013. Rancangan percobaan yang digunakan berdasarkan Rancangan Petak Terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama adalah frekuensi aplikasi  pupuk  daun yaitu tiga hari sekali dan enam hari sekali. Anak petak adalah kombinasi media tanam yaitu tanah + pupuk kandang + arang sekam berdasarkan volume (2:1:1, 2:2:1, dan 2:1:2) dan tanah sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tanam berupa tanah + pupuk kandang + arang sekam (2:2:1) merupakan komposisi media tanam terbaik yang menghasilkan pertumbuhan bibit panili tertinggi pada persentase setek hidup, panjang tunas, jumlah ruas, jumlah daun, dan klorofil total pada 10 minggu setelah tanam. Aplikasi pupuk daun tiga hari sekali dengan konsentrasi satu g l-1 dan dosis 10 ml tanaman-1 merupakan frekuensi aplikasi pupuk daun yang secara umum menghasilkan pertumbuhan bibit panili tertinggi pada 10 minggu setelah tanam

    KARAKTERISTIK BEBERAPA MINYAK ATSIRI FAMILI ZINGIBERACEAE DALAM PERDAGANGAN

    Get PDF
    Characteristics of Saveral Essential Oils of Zingiberaceae Family Plant in TradeThe essential oils of zingiberaceae such as cardamom oil, ginger oil and cur-cuma oil used in medicin, parfum, food and beverage industries and aromatheraphy. Cardamom oil is distilled of E. Cardamo-mum, produced in India and Sri Langka. Ginger oil (G. officinale) comes from Cina and India. Meanwhile curcuma oil (C. Xan-thorrhiza) is still used in domestic and limi-ted scale. The identification of characteristic of cardamom oil, ginger oil and curcuma oil originated from West Java, Central Java, Lampung and some eksporters was conduc-ted in the Post harvest technology labora-tory, Research Institute for Spice and Med-icinal Crops. The essential oils distilled using water and steam distillation methode. Oils obtained were analyzed to get the oil characteristics which discribed in specific gravity, refractive index, optical rotation, solubility in ethanol, acid number and ester number. The characteristics of those essen-tial oils was compared to the Inetrnational Standard. The result showed that the oil cha-racteristics of A. cardamomum and E. Car-damomum is very different. But the oil cha-racteristics  of E. Cardamomum from West Java and Indonesian exporter is the same to the international standard specification. Characteristics of ginger oil from Central Java, Lampung and Indonesian exporter is not agree with international standard espe-cially in optical rotation specification.

    FORMULA INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA PENGGULUNG DAUN (Pachyzancla stultalis) PADA TANAMAN NILAM

    Get PDF
    Hama penggulung daun (Pachyzancla stultalis) merupakan salah satu hama penting pada tanaman nilam, dapat merusak dan menurunkan mutu minyak, sehingga perlu dicari solusi yang lebih aman untuk mengendalikan hama tersebut. Penggunaan insektisida botani adalah salah satu cara untuk mengendalikan hama pada tanaman. Sehubungan dengan itu telah dilakukan penelitian insektisida nabati yang mengandung bahan aktif cynamaldehid, citronellal, oleandrin, thevetin dan alamandin terhadap hama penggulung daun nilam P. stultalis. Penelitian dilaksanakan dirumah kaca dan di lapang. Penelitian rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap (tujuh perlakuan dan empat ulangan), sedangkan pengujian skala lapang dilakukan dalam rancangan acak kelompok (10 perlakuan dan tiga ulangan). Parameter pengamatan meliputi mortalitas dan intensitas serangan larva penggulung daun nilam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula insektisida nabati yang diuji dalam skala rumah kaca, dapat mengendalikan penggulung daun P. stultalis antara 19,81-52,09% pada konsentrasi 5-10%. Pemakaian formulasi 20%, menunjukkan efektifitas lebih baik dengan persentase kematian antara 23,96-56,24%. Pada uji skala lapang, efektivitas formula insektisida lebih rendah dibandingkan rumah kaca, dengan tingkat kematian larva antara 46,80-49,50% dan intensitas serangan antara 41,30-46,40%. Peningkatan konsentrasi formulasi menjadi 22%, menunjukkan hasil yang lebih baik pada semua parameter

    180

    full texts

    357

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇