Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
RESPON LIMA AKSESI PEGAGAN TERHADAP Septoria centellae, PENYEBAB BERCAK DAUN
Pegagan (Centella asiatica) merupakan tanaman obat yang berguna untuk meningkatkan vitalitas tubuh dan kinerja syaraf otak. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) telah mengumpul-kan pegagan dari berbagai lokasi di Indonesia. Beberapa diantaranya telah dikarakterisasi morfologi dan produktivitas-nya. Di Bogor dan sekitarnya, daun tanaman pegagan menunjukkan gejala bercak daun dan belum pernah dilaporkan jenis patogen penyebabnya. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi patogen penyebab bercak daun dan mengetahui ketahanan aksesi pegagan yang potensial untuk dilepas sebagai varietas. Penelitian dilakukan sejak Januari 2007 sampai Mei 2008 di Balittro, Bogor. Identifikasi dilaku-kan dengan isolasi konidia tunggal, menumbuhkan isolat pada media agar kentang dektrose (AKD), melakukan pos-tulat Koch, pengamatan morfologi di bawah mikroskop untuk identifikasi, diser-tai pengamatan proses infeksi. Pengujian ketahanan aksesi pegagan dilakukan di rumah kaca dengan inokulasi buatan. Sus-pensi konidia (106 per ml) isolat cendawan yang berhasil diisolasi disemprotkan pada lima aksesi pegagan. Parameter ketahanan yang diamati adalah luas serangan, inten-sitas serangan, dan kecepatan munculnya gejala dihitung dengan rumus Area Under Disease Progress Curve (AUDPC). Hasil pengamatan menunjukkan cendawan penyebab bercak daun pegagan adalah Septoria centellae, yang dapat masuk ke dalam jaringan tanaman melalui lubang stomata maupun penetrasi langsung. Hasil uji ketahanan menunjukkan, aksesi Bengkulu dan Ciwidey mempunyai keta-hanan yang lebih baik dibanding aksesi Gunung Putri, Majalengka, dan Ungaran.
THE POTENCY OF BOTANICAL INSECTICIDES TO CONTROL Aphis gossypii (HEMIPTERA:COCCOIDEA:APHIDIDAE) ON PATCHOULI PLANT
Attack of Aphis gossypii is one of constraints in cultivating of patchouli plant. An experiment with the purpose to examine the effectiveness of botanical insecticides to A. gossypii on patchouli plant. The experiment was carried out in Research Station of Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, at Cicurug, Sukabumi from June to October 2011. The experiment was arranged in a Randomized Block Design, nine treatments and three replications. The treatments were mixing of neem oil + soap nuts, neem oil + clove oil, neem oil + citronellal oil, neem oil + clove oil + citronellal oil, citronellal oil, clove oil, neem extract, carbosulfan, and control. Patchouli plants were planted with spacing of 40 cm x 60 cm. The number of plant population plot-1 was 25 plants and the number of sample plot-1 for observation was five plants. Sampling of observed plants was conducted diagonally. Observation was carried out by counting population of A. gossypii on one shoot. Application of insecticides was conducted one day after the first observation. Interval of application was every week, conducted eight times. Other parameters observed were plant height and production of patchouli. Results showed that all treatments of botanical insecticides were effective to decrease of A. gossypii population. The most effective treatment was that of neem extract with the value of efficacy was more than 80% occurred at seven assessments. Plant high between treatment is not significant different
PERLAKUAN BENIH AIR PANAS, EKSTRAK MIMBA DAN JARAK KEPYAR UNTUK MENGENDALIKAN NEMATODA (Meloidogyne spp.) TERBAWA RIMPANG JAHE
Benih rimpang jahe dapat membawa organisme pengganggu tanaman berbahaya seperti nematoda buncak akar, Meloidogyne spp. Tujuan penelitian adalah menguji pengaruh metode perlakuan benih dalam menekan serangan nematoda terbawa rimpang jahe Meloidogyne spp. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor sejak 2005 sampai 2006. Rimpang jahe terinfeksi Meloidogyne spp. dicuci bersih, dipotong seberat 30-40 g, kemudian diberi perlakuan (1) perendaman dalam air panas (40°C selama 20 menit dan 50°C selama 10 menit), (2) perendaman dalam larutan ekstrak nabati mimba (2,5 dan 7,5%) dan jarak (2,5 dan 7,5%), (3) perendaman dalam larutan kimia karbosulfan EC (2 ml l-1 air), (4) pelapisan dengan tepung kimia karbosulfan ST (20 g kg-1 rimpang) dan (5) direndam air selama dua jam (kontrol). Rimpang setelah diperlakukan, ditanam dalam polibag berisi media tanah steril di rumah kaca. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 10 ulangan. Pertumbuhan tanaman dan populasi nematoda diamati setelah jahe berumur empat bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan air panas 50°C selama 10 menit paling baik dalam menekan populasi nematoda sebesar 80,86%, diikuti perlakuan perendaman dalam larutan 2,5% ekstrak mimba (25,24%) dan pelapisan dengan tepung karbosulfan ST (23,66%). Perlakuan benih yang diuji umumnya tidak menekan pertumbuhan tanaman. Parameter tingkat populasi nematoda (dalam akar, rimpang dan tanah) lebih sensitif untuk merefleksikan keefektifan suatu perlakuan benih rimpang jahe dibandingkan parameter indeks buncak. Pada perlakuan benih terbaik yaitu air panas 500C selama 10 menit, penekanan populasi nematoda menghasilkan nilai yang signifikan dibandingkan penekanan indeks buncak pada akar dan rimpang
ANALISIS ADOPSI TEKNOLOGI JAMBU METE DI NUSA TENGGARA TIMUR
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mem-pengaruhi tingkat adopsi teknologi oleh petani jambu mete di NTT sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan media dise-minasi yang tepat. Penelitian dilaksanakan dari Juli – Nopember 2009 di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, dengan meng-gunakan metode survey. Jumlah respon-den ditentukan sebanyak 60 orang petani jambu mete yang dipilih secara random. Sedangkan lokasi penelitian ditentukan secara purposive. Data yang diamati terdiri atas data primer dan sekunder dan dianalisa menggunakan regresi berganda menggunakan model logit. Prosedur pen-dugaan parameter menggunakan metode maximum likelihood. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa adopsi teknologi petani jambu mete dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengalaman usahatani, luas lahan usahatani, pendapatan bersih petani dari kebun jambu mete, dan status pekerjaan sampingan. Agar proses adopsi oleh petani jambu mete lebih cepat, media diseminasi yang disarankan adalah sekolah lapang dan demplot.
PENGARUH SUKROSA DAN PENGERODONGAN TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN PENYAMBUNGAN JAMBU METE DI LAPANGAN PADA MUSIM KEMARAU
Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan teknik penyambungan jambu mete pada musim kemarau. Penelitian dilaksanakan di KP Cikampek, Jawa Barat, mulai Januari sampai Desember 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi dengan 3 ulangan, dan ukuran petak 16 sambungan/ perlakuan. Sebagai petak utama adalah perlakuan sukrosa, terdiri atas : A) tanpa sukrosa, B) pencelupan dengan sukrosa 0,2% selama 0,5 jam. Sebagai anak petak adalah perlakuan pengerodongan, terdiri atas : 1) pelepah pisang, 2) pelepah pisang + tudung plastik tidak berwarna, 3) kerodong plastik tidak berwarna + pelepah pisang, 4) kerodong plastik tidak berwarna + pelepah pisang + tudung plastik tidak berwarna, 5) kerodong plastik tidak berwarna + pelepah pisang + tudung ker-tas koran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman batang atas (entres) ke dalam larutan 0,2% sukrosa selama 0,5 jam sebelum penyambungan yang diikuti pengerodongan dengan kero-dong plastik tak berwarna + pelepah pisang + tudung plastik tak berwarna, menghasilkan persentase sambungan hidup, pertumbuhan tunas, dan jumlah daun tertinggi masing-masing 72,92%; 53,33 cm; dan 20,67 helai. Teknik penyambungan ini lebih sesuai kalau pelaksanaannya dilakukan pada musim kemarau
PENGARUH PEMUPUKAN PADA TANAMAN METE MUDA DI TALOKO-SANGGAR, SUMBAWA
Sejak tanaman mete diusahakan pada lahan marginal, maka pengelolaannya harus di arahkan untuk memperbaiki status hara tanah, agar kebutuhan hara lebih terjamin untuk menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis dan komposisi pupuk NPK ter-hadap pertumbuhan tanaman mete muda yang ditanam pada tanah regosol di desa Taloko, Kecamatan Sanggar, Bima-Sumbawa dari ta-hun 1997 sampai 2000. Perlakuan pupuk yang diuji adalah: (1) Dosis pupuk, 6 taraf (0, 150, 300, 450, 600 dan 750 g NPK/pohon/th); (2) Komposisi pupuk NPK, 3 macam (2:1:1, 1:1:1, dan 1:1:2). Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 2 ulangan dan ukuran petak 4 pohon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dan komposisi pupuk berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman. Dosis pupuk yang memadai untuk mendukung per-tumbuhan tanaman mete adalah 200, 300 dan 600 g NPK (dalam bentuk N, P2O5 dan K2O) per pohon per tahun, masing-masing untuk umur tanaman 2, 3 dan 4 tahun. Sedangkan komposisi pupuk NPK yang dianjurkan adalah NPK 2:1:1 untuk tanaman berumur kurang dari 3 tahun, dan komposisi NPK 1:1:2 untuk tanaman mete berumur lebih dari 3 tahun
Analisis Ekonomi Tiga Genotipe Kumis Kucing di Tiga Agroekologi
Plant varieties can be released as superior varieties after adaptation trials/observation. Superiority of certain variety can be assessed through production, quality and bioactive compounds, which are supported by financial feasibility of its cultivation. To obtain high-yielding varieties of java tea, the adaptation of six genotypes have been tested at three different locations, for two planting seasons. The study was conducted in November 2011 to December 2013, at Cimanggu Research Installation (240 m asl) Bogor, Cicurug Research Installation (550 m asl), and Sukamulya Research Installation (350 m asl), Sukabumi, West Java. The three locations are production center of java tea. The trial was arranged in a randomized block design with six treatments (six genotype), repeated four times. Data were analyzed discriptively. The feasibility assessment of each genotype was measured through level of technical efficiency: the yield of fresh and dry herb/unit area, economic efficiency was measured based on (1) revenue/unit area, (2) the ratio of net income and gross income, allocative efficiency (price) based on the ratio of operating expenses and gross income. The results showed that genotype C indicated more superior in technical and economic feasibility than genotypic A and B at agroecology and social of Sukamulya. The potential fresh weight of herb was 2,243 kg, whereas dry weight was 690 kg, net income Rp.1,138,676,- B/C ratio 1.34, the proportion of residual income net of operating expenses 52.04% and allocative efficiency 74.62% per 1,000 m2, during two harvesting times
OBSERVASI PERTUMBUHAN, HASIL RIMPANG DAN TINGKAT KETAHANAN SOMAKLON JAHE PUTIH BESAR TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI DI RUMAH KACA
Genetic variability in ginger is low, thus it is necessary to obtain new variants. The study was aimed to observe growth, yield and resistance level of ginger somaclones to Ralstonia solanacearum. The experiment was conducted under laboratory and a glass house condition at Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, Bogor from January to December 2010. The ginger somaclones used in this study were obtained from somaclonal induction using selection medium Acibenzolar-S-methyl and pathogenic bacteria filtrate at calli stage. The ginger somaclones were then planted at the green house. Four populations of ginger somaclones tested in this experiment were FA, FB, AC1 and FIPLA. All somaclones were inoculated with bacterial wilt disease suspension and then incubated for three months at the green house. The ginger somaclones then were planted in 60 cm x 60 cm polybag filled with 25 kg soil and 1 kg manure. The experiment used direct individual-observation method, without replications. The parameter observed were growth, yield and bacterial wilt disease infection, at 4 and 8 months after planting. The result showed that growth, rhizome yield and bacterial wilt disease infection varied among the somaclones population. Number of tiller, plant height, leaf number, length and width of leaf, stem diameter, rhizome weight and diameter were also varied among populations. Number of propagule of FA and FIPLA was higher than other populations. Visual morphology of somaclones tested were also varied. Based on bacterial wilt disease infection parameter, ginger somaclones population FA, FB, AC1 and FIPLA could be grouped from susceptible to tolerant.
EFEKTIVITAS INSEKTISIDA MINYAK SERAI WANGI DAN CENGKEH TERHADAP HAMA PENGISAP BUAH LADA (Dasynus piperis China)
ABSTRAKDasynus piperis merupakan salah satu hama utama tanaman lada. Salah satu usaha pengendalian D. piperis adalah menggunakan pestisida nabati yang relatif aman. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan pestisida nabati minyak serai wangi dan cengkeh yang efektif terhadap D. piperis. Penelitian dilaksanakan di lahan tadah hujan di Desa Sungkap, Bangka Tengah sejak Maret sampai Oktober 2012. Penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu semi lapang dan lapang. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok terdiri enam perlakuan (minyak serai wangi konsentrasi 2,5 dan 5,0 ml l-1; minyak cengkeh 2,5 dan 5,0 ml l-1; insektisida sintetik organophosphat 2,0 ml l-1; dan kontrol) dan empat ulangan. Uji efektivitas semi lapang dilakukan dengan mengurung dua cabang pada satu tanaman yang terdapat buah lada (arah Timur dan Barat) tiap plot. Setiap cabang diinfestasikan 10 ekor imago D. piperis kemudian diaplikasi sesuai perlakuan dan diamati mortalitasnya pada 1; 3; 6; 24; 48; 72; dan 96 jam setelah aplikasi (JSA). Pada pengujian lapang, tanaman lada yang sudah menghasilkan bunga disemprot sesuai perlakuan selama lima kali dengan interval dua minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas kumulatif D. piperis perlakuan minyak serai wangi lima ml l-1 lebih dari 50% sejak enam JSA dengan rata-rata nilai efikasi 66,54%. Perlakuan minyak serai wangi lima ml l-1 efektif mengurangi populasi D. piperis di lapang dengan rata-rata nilai efikasi 89,29%, tingkat serangan D. piperis terendah (kurang dari 10%), rata-rata kehilangan hasil panen terendah (4,1%), dan hasil panen bersih tertinggi (1.510,938 g tanaman-1).
PENGARUH PERENDAMAN DALAM ASAM ORGANIK DAN METODA PENGERINGAN TERHADAP MUTU LADA HIJAU KERING
Dalam pembuatan lada hijau kering biasanya terjadi pencoklatan enzimatik yang menyebabkan hilangnya warna hijau sehingga membuat penampilannya menjadi tidak me-narik. Percobaan pencegahan reaksi pencok-latan dengan menggunakan asam sitrat, asam malat dan asam tartrat.pada pembuatan lada hijau kering telah dicobakan dengan perlakuan yang terdiri dari jenis asam (sitrat, malat dan tartrat), dengan 3 level konsentrasi (2, 3 dan 4%), serta 2 cara pengeringan (penjemuran dan oven). Percobaan dirancang secara Acak Leng-kap pola Faktorial dengan 2 ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan asam sitrat, asam malat dan asam tartrat pada konsentrasi 2 persen, 3 persen dan 4 persen cukup efektif untuk mengurangi terjadinya reaksi pencoklatan enzimatik. Metode penge-ringan oven memberikan nilai kehijauan yang lebih baik dibandingkan dengan penjemuran. Hasil evaluasi sensori yang dilakukan pada atribut warna, rasa dan aroma lada hijau kering, menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan dengan kombinasi perlakuan asam tartrat 2% dengan pengeringan oven lebih disukai dari-pada yang lainnya. Mayoritas parameter mutu lada hijau kering hasil penelitian telah meme-nuhi parameter mutu lada hijau kering yang tersedia di pasar.