Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS EKSTRAK TEH HIJAU, KULIT MANGGIS DAN BIJI PINANG PADA PENANGANAN KERACUNAN PARAQUAT PADA KAMBING
Kematian ternak banyak terjadi karena intoksikasi rumput terkontaminasi herbisida paraquat. Penelitian bertujuan untuk menguji efektivitas ekstrak daun teh hijau, kulit manggis dan biji pinang untuk penanggulangan intoksikasi paraquat pada kambing. Sepuluh ekor kambing (Capra aegagrus) digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini, dengan 5 perlakuan yang diujikan yaitu P0=kontrol, P1=pemberian rumput dengan paraquat 15 mgkg-1berat badan, P2=rumput dengan paraquat (15 mg kg-1 berat badan) dan ekstrak teh hijau (10 dan 40%), P3=rumput dengan paraquat 15 mg kg-1 berat badan) dan ekstrak kulit manggis (10%), P4=rumput dengan paraquat (15 mg kg-1 berat badan) dan ekstrak biji pinang (10%). Pengamatan dilakukan terhadap gejala klinis dan patologi anatomi. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan P0 pada kambing bertahan hingga akhir penelitian, P1 mati setelah 3 hari dan 27 hari pasca perlakuan, sedangkan P2, P3, dan P4 bertahan hidup setelah pengobatan. Nekropsi dilakukan pada kambing yang mati maupun yang hidup untuk pengamatan patologi anatomi. Pada grup P0 tidak ditemukan kelainan pada semua organ visceral. Pada grup P1 terjadi hiperemia paru dan otak, hidroperikardium jantung, dan erosi mukosa pada saluran cerna. Pada grup P2, P3, P4 yang masing-masing diberi ekstrak teh hijau, kulit manggis dan biji pinang menunjukkan perbaikan yang signifikan, ditandai dengan penurunan derajat keparahan lesi
Penyakit Busuk Akar pada Tanaman Pyrethrum (Chrysanthemum cinerariaefolium)
Observasi mengenai gejala busuk pada tanaman pyrethrum(Chrysanthemum cinerariaefolium) dilakukan di Laboratorium Penyakit Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor pada bulan Juni sampai Agustus 1991. Contoh tanaman diperoleh dari Kebun Percobaan manoko, Lembang, Bandung. Hasil isolasi mikroorganisme dari jaringan tanaman ditemukan Rhizoetonia sp., secara konsisten. Uji postulat Koch menunjukkan bahwa jamur diduga sebagai penyebab utama busuk akar pyrethrum tujuh hari setelah inokulasi. Sedangkan hasil pengujian penanggulangan dengan beberapa jenis fungisida secara in vitro menunjukkan bahwa benomyl, mankozeb + karbuforan, iprodion dan metal tolklofos mempunyai daya efektifitas yang tinggi dalam menghambat pertumbuhan Rhizoetonia sp
Sidik Peubah Ganda bagi para Peneliti
Test for hypothesis specified equality of the vector of means associa with two threadments in the multivariate case and further use is made of generalized D2 and Hotellings T2 – statistic. For these it is assumed that the two treatments are normally distributed and covariance matrices are equals. If the hipothesis HO : U1 = U2 is ejected, simultaneous confidence intervals are presented in order that we can dcide which components are contributing to the rejection of the hipothesis. A number of multivariate population associated with different treadment have mean vectors U1 , U2 , ………. Ut . it is desired to test the hipothesis, HO : U1 =U2 = Ut , that these are all equal. A standard format for summarizing the necessary computations is analysis of variance for multivariate data
Analisis Pendahuluan Kandungan Kimia Tanaman Cendedet, Ki Urat, Meniran
The preliminary analysis of chemical component in Physalis plant rat’s tail-plantain and Chinese lantern.Physalis minima Linn., rat’s tail-plantain and Chinese lantern grow wild but they have a curing effect. Based on the first phytochemistry screening, of the extracted plant with colour reaction and TLC, it was found that those plants contain alkaloid, tannin and saponi
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Pemasaran Panili di Propinsi Bali
Factors that influenced vanilla marketing efficiency were studied in Bali from June to July 1992. Method used for analysis was multiple regression with ordinary least squeres estimation. Result of regression showed that margin of vanilla marketing was simultarsiously influenced by purchasing price, selling volume, transportation cost and reduction cost variables with F-statistic significant over α ≠ 10% level. Partially, each variable gave different effect to each trader level and aggregate. Only selling volume variable that influenced to all trader levels and aggregate with t-value significant over α ≠ 5% level
Efikasi dan Pengaruh Residu Insektisida Endosulfan, Permetrin dan Fenitrtin Terhadap Imago Hama Penggerek Batang Lada (Laphobaris piperis Marsh.)
Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sukamulya, Sukabumi Jawa Barat, dari bulan Nopember 1989 hingga 1990, untuk mengetahui efikasi dan pengaruh residu insektisida Endosulfan, Permetrin dan Fenitrotion terhadap imago hama penggerek batang lada (Laphobaris piperis Marsh). Efikasi insektisida ditilik berdasarkan banyaknya kematian serangga pada 1, 3, 7 dan 14 hari setelah perlakuan. Pengaruh residu didasarkan pada inokulasi dan kematian serangga pada 10, 17, 33 dan 63 hari setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semia jenis insektisida yang diuji sangat efektif seperti insektisida pembanding dan berbeda nyata terhadap kontrol. Makin tinggi konsentrasi daya efikasi cenderung meningkat. Daya bunuh residu dari waktu ke waktu ternyata semakin menurun, penurunan tercepat terdapat pada insektisida Permetrin disusul oleh Endosulfan kemudian Fenitrotion. Insektisida Permetrin dan Endosulfan konsentrasi 1-2 ml/L masih dapat mematikan 40-60% serangga uji pada 33 HSP. Sedangkan Fenitrotion sampai 63 HSP masih mampu mematikan 30-50% serangga uji
PENGARUH PENYAKIT BUDOK TERHADAP PRODUKSI TANAMAN NILAM
Penelitian pengaruh penyakit budok yang disebabkan oleh jamur obligat parasit Synchytrium pogostemonis ter-hadap produksi tanaman nilam (Pogos-temon cablin) dilakukan di daerah en-demik penyakit budok di Nagari Situak, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat sejak Maret 2008 sampai April 2009. Bahan tanaman yang digunakan adalah varietas Sidikalang, berumur satu bulan ditanam dalam polibag di lapang dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 120 bibit dengan jarak tanam 0,8 x 1 m. Pe-ngamatan gejala serangan dilakukan setiap bulan dengan metode sensus. Intensitas serangan patogen penyakit dibagi menjadi lima kategori berdasar-kan nilai skoring yaitu tanaman sehat dan tanaman sakit yang terdiri dari gejala serangan ringan, sedang, berat dan sangat berat. Setelah tanaman berumur enam bulan, 15 rumpun un-tuk tiap kategori intensitas serangan dipilih dengan metode proposive sam-pling. Bahan tanaman untuk disuling diambil sebanyak 20 kg dari pada ma-sing-masing kategori intensitas serang-an penyakit. Penyulingan mengguna-kan sistim kukus selama 3 jam. Analisa kadar patchouli alcohol (PA) dilakukan di laboratorium Perusahaan Atsiri Lu-buk Minturun Padang. Hasil penelitian menunjukan bahwa serangan penyakit budok menurunkan produksi terna dan kadar minyak nilam, tetapi tidak menurunkan kualitas minyak yang di-hasilkan. Intensitas serangan penyakit budok ringan menyebabkan kehilang-an hasil produksi terna sebesar 16,74 %, intensitas serangan sedang 36,06 %, intensitas serangan berat 57,43% dan intensitas penyakit sangat berat sebesar 74,32%. Kehilangan produksi minyak pada intensitas serangan ri-ngan adalah 11,15%, intensitas se-rangan sedang 18,32%, intensitas se-rangan berat 35,50% dan intensitas serangan sangat berat sebesar 50,38 %. Hasil analisa PA pada berbagai tingkat intensitas penyakit budok ti-dak berbeda nyata. Kadar PA pada ta-naman sehat sebesar 32,84%, dan tanaman sakit berkisar antara 32,15-33,43%.
KETAHANAN EMPAT KLON SERAIWANGI TERHADAP Fusarium sp, Pestalotia sp dan Curvularia sp PATOGEN PENYEBAB BERCAK DAUN
Penelitian ketahanan beberapa klon seraiwangi (Andropogon nardus) terhadap tiga jenis patogen penyebab penyakit bercak daun telah dilakukan di Kebun Percobaan Laing Solok sejak Maret sampai Desember 2012. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dalam faktorial masing-masing tiga ulangan, sebagai faktor I klon seraiwangi (G113, G115, G127 dan G132), faktor II jenis patogen (Fusarium sp, Pestalotia sp, dan Curvularia sp). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua klon seraiwangi yang di uji toleran terhadap serangan ketiga patogen penyebab penyakit bercak daun (Fusarium sp, Pestalotia sp dan Curvularia sp). Klon G132 menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap Fusarium, dengan intensitas serangan penyakit terendah yaitu 6,10%, dan tidak berbeda nyata dengan klon G127 (6,16%), G115 (7,67%) dan klon G113 (7,21%). Klon G127 menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap Curvularia, dengan intensitas serangan terendah yaitu 4,70%, tidak berbeda nyata dengan klon G132 (5,14%) dan klon G115 (5,74%). Intensitas serangan penyakit tertinggi terdapat pada klon G113 (10,13%). Klon G127 juga menunjukkan ketahanan yang lebih baik terhadap Pestalotia dengan intensitas penyakit terendah yaitu 4,54%, berbeda nyata dengan klon G132 (6,70%), klon G113 (8,64%) dan klon G115 (9,45%). Penyakit bercak daun mempengaruhi pertumbuhan vegetatif terhadap tinggi, jumlah daun, jumlah anakan, produksi terna dan rendemen minyak. Total geraniol dan kandungan sitronella tertinggi diperlihatkan pada klon G115 dan G127 masing-masing (81,21 dan 47,53%) serta (80,44 dan 45,26%)
EFEKTIFITAS MINYAK MASOYI (Massoia aromatica)TERHADAP Helopeltis antonii SIGN PADA JAMBU METE DAN Chrysocoris javanus PADA JARAK PAGAR
Penelitian efektifitas minyak masoyi terhadap H. antonii pada jambu mete dan C. javanus pada jarak pagar telah dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Kelti Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, sejak September sampai Desember 2005. Penelitian terdiri atas : 1) Efektivitas minyak masoyi terhadap H. antonii pada jambu mete, dan 2) Efektifitas minyak masoyi terhadap C. javanus pada jarak pagar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsen-trasi minyak masoyi yang efektif dalam mengendalikan H. antonii pada jambu mete dan C. javanus pada jarak pagar. Aplikasi dilakukan dengan cara semprot serangga H. antonii dan C. javanus dengan konsentrasi : 2; 1; 0,5; 0,25; dan 0,125% serta kontrol, dan 6; 4; 2; dan 1% serta kontrol masing-masing terhadap H. antonii dan C. javanus. Infestasi serangga H. antonii dan C. javanus masing-masing 10 ekor. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan untuk uji H. antonii serta meng-gunakan rancangan acak lengkap 5 perlakuan dan 6 ulangan untuk uji C. javanus. Pengamat-an dilakukan setiap hari dengan cara meng-hitung tingkat kematian H. antonii dan C. javanus. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa minyak masoyi yang efektif mengendalikan H. antonii adalah konsentrasi 2 dan 1% sejak hari kedua dan ketiga setelah aplikasi. Tingkat kematian H. antonii tertinggi pada konsentrasi 1% yaitu 90%. Minyak masoyi yang efektif terhadap C. javanus konsentrasi 6; 4; 2; dan 1% berturut-turut 100; 94; 92; dan 86%. Ting-kat kematian tertinggi terhadap C. javanus yaitu mencapai 100% pada konsentrasi 6%.
EFEKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK ETANOL DAN MINYAK ATSIRI DAUN SIRIH (Piper betle) TERHADAP Trichophyton verrucosum SECARA IN VITRO
Daun sirih (Piper betle L.) diketahui mempunyai efek antifungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daun sirih sebagai antifungi secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi, Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) tahun 2012. Bahan penelitian adalah ekstrak etanol dan minyak atsiri. Fungi (cendawan) yang digunakan dalam pengujian ini adalah Trichophyton verrucosum, yaitu cendawan jenis kapang, penyebab penyakit kurap pada kulit (dermatofitosis) hewan dan manusia. Media yang digunakan, Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Hasil penelitian ditentukan dengan perolehaan nilai konsentrasi hambat minimal (KHM). Bahan uji diencerkan dengan pengenceran ganda 6,250; 3,125; 1,56; 0,78; dan 0,39% untuk ekstrak etanol, dan 12,50; 6,250; 3,125; 1,56; 0,78; dan 0,39% untuk minyak atsiri. Koloni cendawan yang diuji ditumbuhkan pada media SDA dalam cawan petri selama 7 hari, masing-masing disuspensikan dengan aquades steril. Suspensi terdiri dari hifa dan sel spora. Kedua bahan yang diuji dituangkan ke dalam cawan petri steril dengan perbandingan 1:1, masing-masing 1 ml. Suspensi cendawan tanpa ekstrak atau minyak atsiri dituangkan ke dalam cawan petri sebagai kontrol negatif (0%). Media SDA yang masih cair dituangkan sebanyak 20 ml ke masing-masing petri. Inkubasi pada suhu 37oC selama 7 hari. Pengujian dilakukan dua kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hambat minimal (KHM) ekstrak etanol adalah 1,56%, dan minyak atsiri 12,5%. Ekstrak etanol mempunyai efek antifungi yang lebih kuat dibandingkan dengan minyak atsiri