Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
PERBANYAKAN TANAMAN ANIS (Pimpinella anisum L.) SECARA IN VITRO
Anis merupakan tanaman introduksi dari negara sub tropis yang menghasilkan mi-nyak atsiri, dengan komponen utama anetol. Untuk memperoleh bahan tanaman yang ba-nyak dalam waktu singkat, dilakukan perba-nyakan in vitro melalui kultur tunas di dalam media MS yang diperkaya dengan sitokinin yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi sitokinin yang tepat untuk menginduksi tunas anis secara in vitro. Penelitian dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor, diulang 5 kali. Faktor pertama adalah jenis sito-kinin yaitu Kinetin, BAP dan TDZ. Faktor ke-dua adalah taraf konsentrasi yaitu 1; 1,5; 2; 2,5 dan 3 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan in-teraksi yang nyata antara jenis sitokinin dan konsentrasinya terhadap kecepatan tumbuh eksplan. Tunas paling cepat berinisiasi di da-lam media yang diperkaya kinetin ≤ 1,5 mg/l (5 hari). Jumlah tunas terbanyak dihasilkan dari media yang diperkaya TDZ dengan konsentrasi optimum 3 mg/l (13,5). Rata-rata jumlah daun terbanyak dihasilkan dari perlakuan TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l (19,2 daun). TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l merupakan perlakuan paling efektif untuk inisiasi tunas anis in vitro
PENGGALIAN IPTEK ETNOMEDISIN DI GUNUNG GEDE PANGRANGO
Hutan tropika Indonesia kaya keane-karagaman species tumbuhan, sedikitnya ter-dapat 40.000 jenis termasuk yang berkhasiat obat. Disamping itu, keberadaan 370 suku asli dengan keanekaragaman adat dan budayanya, turut memberikan keuntungan sendiri bagi kha-sanah etnomedisin dan budaya bangsa. Proses pewarisan IPTEK etnomedisin umumnya dila-kukan secara oral. Kondisi yang demikian akan mendorong terjadinya erosi IPTEK tersebut, disamping karena masuknya budaya modern. Oleh karena itu perlu dilakukan penggalian dan pengembangan IPTEK etnomedisin. Kegiatan pengkajian ini telah dilaksanakan di kawasan Taman Nasional gunung Gede Pangrango pada bulan Januari sampai dengan Desember 2001. Survey dilakukan di 6 lokasi (gunung Gede Pangrango), mencakup 2 kabupaten (Sukabumi dan Cianjur). Penentuan lokasi dilakukan se-cara sengaja, dengan memperhitungkan kemu-dahan untuk mencapai lokasi. Narasumber yang diwawancarai juga ditetapkan secara se-ngaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan etnomedisin di kawasan gunung Gede Pangrango, terbatas pada dukun beranak. Kawasan gunung Gede Pang-rango, telah diin-ventarisasi sebanyak 23 jenis penyakit dengan 72 resep yang menggunakan 80 jenis tumbuhan obat. Hasil analisis mutu beberapa jenis sim-plisia dari lokasi survey memenuhi standar mutu yang ditetapkan MMI (Materia Medika Indonesia), sehingga memiliki prospek untuk produksi bahan baku industri obat tradisional, kosmetika dan lainnya.
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA DAN FERTIGASI PUPUK ORGANIK TERHADAP KANDUNGAN BIOAKTIF DAUN TANAMAN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) JACK) DI PEMBIBITAN
Kemuning (Murraya paniculata) dapat digunakan sebagai obat tradisional. Banyak penelitian mengenai fitofarmakologi kemuning tapi tidak pada penelitian mengenai budidaya. Penelitian dilaksanakan sejak Oktober 2011 sampai Maret 2012 di Gunung Batu, Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi komposisi media dan aplikasi fertigasi dengan pupuk organik terhadap kandungan bioaktif daun kemuning. Penelitian menggunakan analisis kualitatif fitokimia pada daun kemuning. Perlakuan yang diberikan komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi (1:1) v/v tanpa fertigasi; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + pupuk kandang kambing (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan kotoran kambing; komposisi media dengan tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + pupuk kandang kambing (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang kotoran ayam; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + kotoran ayam (1:1:1 ) v/v dan aplikasi fertigasi dengan kotoran kambing; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + kotoran ayam (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang ayam. Konsentrasi yang digunakan untuk fertigasi yaitu satu kg pupuk organik per lima liter air, dengan dosis 60 ml per tanaman, dan diaplikasikan setiap dua minggu. Hasil penelitian analisis kualitatif fitokimia menunjukkan bahwa daun kemuning mengandung steroid yang paling tinggi, dan diikuti saponin, flavonoid, tanin, dan alkaloid
EFEKTIVITAS SERAI WANGI TERHADAP HAMA PENGISAP BUAH KAKAO HELOPELTIS ANTONII
Efektifitas serai wangi (Cymbopogon nar-dus) terhadap hama pengisap buah kakao Helopeltis antonii (Hemiptera;Miridae), te-lah dilakukan di Laboratorium KP. Laing Solok Sumatera Barat, sejak Juni sampai Desember 2008. Percobaan bertujuan un-tuk melihat pengaruh rajangan daun, se-nyawa volatile minyak serai wangi dan fraksi minyak serai wangi (sitronella) ter-hadap hama pengisap buah kakao. Perco-baan disusun dalam bentuk rancangan acak lengkap 12 perlakuan dengan 3 ulangan, perlakuan tersebut adalah rajang-an daun serai wangi (15, 25, dan 50 g)/ta-bung, minyak serai wangi dan fraksi sitro-nellal (0,10, 0,20, 0,30, dan 0,50 ml)/ta-bung. Selain itu efektifitas minyak serai wangi dan fraksi sitronellal juga diuji ter-hadap hama H. antonii dengan cara sem-prot. Percobaan disusun dalam bentuk acak lengkap 9 perlakuan dengan 3 ulang-an, konsentrasi yang diuji adalah (500, 1.000, 2.000 dan 4.000 ppm). Hasil pene-litian menunjukkan bahwa rajangan daun serai wangi 50 g/tabung memperlihatkan sifat menolak (repelen) terhadap serang-ga H. antonii dengan persentase rendah yaitu 53,33%, demikian juga pengaruh dari minyak serai wangi dan fraksi sitro-nellal pada dosis 0,1 ml/tabung, dengan persentase penolakan berkisar antara 53,33-73,33%. Pada dosis 0,30 ml/tabung pestisida nabati serai wangi bersifat mem-bunuh (insektisida), dengan persentase kematian serangga H. antonii 76,67% (mi-nyak serai wangi) dan 80% (fraksi sitro-nella). Penyemprotan minyak serai wangi dan fraksi sitronellal pada konsentrasi 2.000 ppm mampu membunuh serangga H. antonii 91,62%, sedangkan pada kon-sentrasi 4.000 ppm mencapai 100%
KAJIAN EKONOMI BUDIDAYA ORGANIK DAN KONVENSIONAL PADA 3 NOMOR HARAPAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorhiza Roxb)
Semua varietas tanaman mempunyai spesifik karakter terhadap adaptasi lingkungan tumbuh dan input yang diberikan dan akan ber-pengaruh terhadap produksi serta pendapatan usahatani. Tujuan penelitian ini mengkaji nilai ekonomi budidaya organik dan konvensional dari tiga nomor harapan temulawak. Informasi ini diharapkan akan menjadi acuan dalam pe-ngembangan budidaya temulawak. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terbagi dan diulang 4 kali. Petak utama terdiri dari dua pa-ket pemupukan; 1) budidaya organik dan 2) bu-didaya konvensional. Sedangkan anak petak terdiri dari 3 nomor harapan temulawak yaitu, Balittro 1, Balittro 2, dan Balittro 3. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Suka-mulya, sejak Agustus 2005 sampai Oktober 2006. Ukuran petak percobaan 30 m2, dengan jarak tanam 75 cm x 50 cm dan setiap petak terdapat 80 tanaman. Paket budidaya organik terdiri dari; bokashi 10 t/ha, pupuk bio 90 kg/ ha, zeolit 300 kg/ha, dan pupuk fosfat alam 300 kg/ha, sedangkan paket budidaya konvensio-nal; pupuk kandang kotoran sapi 20 t/ha, urea 200 kg/ha, SP-36 200 kg/ha, KCl 200 kg/ha. Data yang dikumpulkan adalah input-output dari setiap paket percobaan, data dianalisis se-cara deskriptif dan kelayakan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Produksi rimpang segar dan simplisia temulawak pada budidaya konvensional lebih tinggi dibandingkan dengan produksi budidaya organik. (2) Produktivitas temulawak budidaya organik 15,20 – 17,83 ton/ha, produksi tertinggi pada nomor harapan Balittro 3 (17,83 ton/ha rimpang dan 3,57 ton/ ha simplisia). Produksi rimpang segar dan sim-plisia temulawak pada budidaya konvensional masing-masing berkisar 19,64 – 22,31 ton/ha dan 3,93 – 4,46 ton/ha, produksi tertinggi dica-pai nomor harapan Balittro 2. (3) pada harga jual Rp 1.500,-/kg rimpang, budidaya organik tidak layak diusahakan pada semua nomor ha-rapan temulawak Balittro 1, 2, dan 3. (4) Har-ga pokok temulawak budidaya organik adalah Rp 1.726,-/kg untuk rimpang, Rp 19.805,-/kg untuk simplisia, dan Rp 163.179,-/kg untuk ekstrak. Sedangkan pada budidaya konvensio-nal, harga pokok Rp 1.471,-/kg untuk rim-pang, Rp 18.531,-/kg simplisia, dan Rp 155.046,-/kg ekstrak, (5) dengan harga jual Rp 1.500,-/kg rimpang, budidaya konvensio-nal pada nomor harapan Balittro 2 dan 3, la-yak diusahakan, dengan pendapatan bersih per 1.000 m2 lahan masing-masing Rp 228.750,- dan 78.750,- dengan B/C rasio 1,073 dan 1,026, (6) bila diproduksi dalam bentuk sim-plisia dan ekstrak dengan harga jual Rp 20.000,-/kg dan Rp 174.000,-/kg budidaya or-ganik nomor harapan Balittro 1 dan 2, serta budidaya konvensional nomor harapan Balit-tro 1, 2, dan3 layak diusahakan. Pendapatan tertinggi dari budidaya konvensional nomor harapan Balittro 2 dengan pendapatan bersih per 1.000 m2 lahan sebesar Rp 819.965,- dan B/C rasio 1,101 untuk simplisia dan Rp 2.747.516,- dan B/C rasio 1,226 untuk rim-pang.
PRETREATMENT EFFECT OF BLACK PEPPER SEEDLINGS WITH Pseudomonas, Trichoderma AND MYCORRHIZA ON FOOT ROT DISEASE INCIDENCE
Foot rot disease caused by a Phytophthora capsici is a main constraint of black pepper cultivation in Indonesia. Improving soil microbial community populations are an alternative approach to suppress the disease incidence. The objective of the present study was assessing the soil microbe application on disease incidence. The research was conducted at greenhouse and field site in Bogor and Sukamulya Research Station, Sukabumi, West Java, Indonesia. At the greenhouse: Seedlings of Natar 1 variety derived from a single node cutting were inoculated with: (1) P. fluorescens (Pf); (2) Trichoderma (Tr); (3) P. fluorescens + Trichoderma (Pf+Tr); (4) P. fluorescens + Trichoderma + AM fungus (Pf+Tr+AM); that artificially inoculated with Phytophthora; (5) The untreated treatment (0) and (6) the P. capsici inoculated (Phy) were used as control. The experiment was arranged in Complete Random Design, repeated three times, with 30 seedlings each. The field trial was performed at foot rot disease endemic site. The seven nodes pepper seedlings that previously inoculated with (1) P. fluorescens (Pf), (2) Trichoderma (Tr), (3) P. fluorescens and Trichoderma (Pf+Tr), (4) P. fluorescens, Trichoderma, and AM fungi (Pf+Tr+AM), and the uninoculated (0) were used as materials. The treatments were arranged in Complete Random Block Design with five plots each, which consist of 16 pepper vines each. Observations were carried out for disease incidence, soil microbes population and plant vegetative growth parameters. The results showed, all tested beneficial soil microbes reduced disease incidence occurrence for greenhouse, however only Trichoderma individual treatment reduced disease incidence lower than the control in the field test
APLIKASI MODEL PEMUPUKAN BERIMBANG PADA TANAMAN CENGKEH (Syzigium aromaticum)
Penelitian bertujuan untuk 1) menda-patkan dosis pupuk anjuran berdasarkan hasil analisa tanah dan daun untuk 3 sentra produksi cengkeh (Jawa Barat, Jawa Timur dan Sula-wesi Utara), dan 2) menguji kehandalan model matematis pemupukan berimbang. Kegiatan di-awali dengan mengoleksi dan menganalisa sampel tanah dan daun dari pertanaman ceng-keh di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Utara. Hasil analisa kemudian dimasukkan kedalam model matematis sehingga diperoleh dosis pupuk anjuran untuk masing-masing lo-kasi. Untuk menguji kehandalan model maka, pupuk anjuran diuji di lapangan (Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) dengan cara memban-dingkan dosis pupuk NPKMg hasil perhitungan model dengan dosis anjuran umum dan tanpa pemupukan, terhadap pertumbuhan dan pro-duksi cengkeh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Model matematis : DA (dosis anjuran) = (KD x KT x DAU) + DAU dapat di-gunakan untuk menetapkan dosis pupuk anjur-an untuk tanaman cengkeh, (2) Hasil perhi-tungan model menunjukkan bahwa untuk da-erah Cianjur dosis pupuk Urea sama dengan dosis anjuran umum yaitu 8.577 g/pohon, KCl lebih tinggi sebesar 84 g/pohon dan SP-36 serta Kieserit lebih rendah berturut-turut sebesar 42 dan 158 g/pohon. Untuk daerah Sukabumi dosis pupuk Urea dan Kieserit lebih rendah berturut-turut sebesar 7.433 dan 19 g/pohon, SP-36 dan KCl lebih tinggi berturut-turut se-besar 19.027 dan 47 g/pohon. Untuk daerah Pacitan, dosis pupuk Urea, SP-36 dan KCl lebih rendah berturut-turut sebesar 279, 3 dan 7 g/pohon serta Kieserit lebih tinggi sebesar 11 g/pohon. Untuk daerah Banyuwangi dosis pupuk Urea, SP-36 dan Kieserit lebih rendah berturut-turut sebesar 156, 20 dan 133 g/pohon serta KCl lebih tinggi 42 g/pohon. Untuk da-erah Minahasa dosis pupuk Urea, SP-36, KCl dan Kieserit lebih rendah berturut-turut sebesar 233, 120, 15 dan 287 g/pohon, dan (3) Ber-dasarkan perhitungan model untuk daerah Ka-bupaten Sukabumi dapat dihemat pupuk Urea dan Kieserit masing-masing sebesar 9227,3 dan 23,6 ton
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, ANATOMI DAN PRODUKSI TERNA AKSESI NILAM ASAL ACEH DAN SUMATERA UTARA
Nilam (Pogostemon cablin) merupakan sa-lah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang mempunyai peranan penting, baik sebagai sumber devisa negara maupun se-bagai pendapatan petani. Tanaman nilam telah lama dibudidayakan di Indonesia dengan daerah sentra produksi Aceh, Su-matera Utara dan Bengkulu yang meng-alami perkembangan cukup pesat. Minyak nilam digunakan dalam industri parfum, pembuatan sabun kosmetik, antiseptik dan insektisida. Produksi minyak nilam ditentu-kan oleh varietas. Untuk mendapatkan produksi secara kualitas dan kuantitas yang tinggi diperlukan varietas unggul. Ta-hapan penelitian untuk mendapatkan va-rietas unggul dimulai dari eksplorasi ka-rakterisasi morfologi, anatomi dan pro-duksi terna. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik sejak Januari sampai Desember 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi, anatomi dan produksi 10 aksesi nilam asal Aceh dan Sumatera Utara. Parameter yang di-amati meliputi karakter morfologi, anatomi dan produksi terna serta minyak. Berda-sarkan karakter bentuk daun dan batang tidak banyak ditemukan variasi, namun bi-la dilihat dari karakter bentuk pangkal dan ujung daun terdapat variasi, diantaranya berbentuk tumpul, rata, gasal dan runcing. Karakter jumlah sel/kelenjar minyak yang terletak pada sel palisade maupun sel bu-nga karang sangat bervariasi. Potensi pro-duksi terna segar berkisar antara 96,0-319,1 g/phn, tertinggi terdapat pada ak-sesi TM-3 (319,1 g) terendah pada aksesi SK (96,0 g), produksi terna kering berki-sar antara 35,6-97,9 g/phn, tertinggi pa-da aksesi TM-3 (97,9 g) terendah pada aksesi SK (35,6 g). Kadar minyak atsiri berkisar antara 2,52-4,15% per pohon, tertinggi pada aksesi SK (4,15%) dan terendah pada aksesi Sipede 4 (2,52%)
ANALISIS TITIK IMPAS HARGA DAN SISTIM PEMASARAN PADA INDUSTRI MINYAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus LAMK)
Permasalahan utama dalam industri minyak buah merah (Pandanus conoideus Lamk) adalah harga jual yang sangat tinggi, berkisar antara Rp 300.000,- sampai dengan Rp 1.000.000,- per liter, dan sistem pemasaran-nya yang kurang efisien. Padahal harga bahan bakunya cukup murah, sedangkan jumlah lem-baga tataniaga yang terlibat relatif sedikit. Un-tuk mengetahui besarnya biaya yang dibutuh-kan memproduksi satu liter minyak buah merah dan kendala dalam pemasarannya dilakukan penelitian, berjudul : ”Analisis titik impas dan sistem pemasaran pada industri minyak buah merah (Pandanus conoideus Lamk)”. Peneli-tian dilakukan di daerah sentra industri peng-olahan di Kecamatan Sentani Kabupaten Jaya-pura dan Kecamatan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Propinsi Papua, sejak Januari 2006 sampai dengan Desember 2006. Tujuan pene-litian untuk mengetahui titik impas harga yang terjadi pada pengolahan setiap liter minyak buah merah, dan efisiensi sistem pemasaran-nya. Penelitian menggunakan metode survey. Penentuan responden industri dan petani diten-tukan secara sengaja (purposive sampling). Untuk mengetahui harga pokok proses satu liter minyak buah merah digunakan analisis titik impas, sedangkan untuk mengetahui efi-siensi sistem pemasarannya digunakan analisis margin pemasaran dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk memproses atau menghasilkan satu liter minyak buah merah, hanya dibutuhkan biaya sebesar Rp 107.810,-. Nilai tersebut jauh lebih murah bila dibandingkan dengan harga jual yang terjadi di pasaran umum. Selain itu sistem pemasarannya dinilai kurang efisien, bagian harga yang diterima petani pengolah minyak buah merah hanya sebesar 35,42 % dari harga jual pedagang antar pulau, dan bagian harga yang diterima pedagang tingkat kecamatan hanya 50% dari harga jual pedagang antar pulau. Salah satu upaya untuk meningkatkan bagian harga yang diterima petani adalah dengan cara memutus salah satu pedagang tingkat kecamatan atau menjual langsung ke pedagang tingkat kabupaten
PENGARUH HERBISIDA DAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN ARTEMISIA
Penelitian untuk mengetahui pengaruh herbisida dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan dan pro-duksi tanaman artemisia dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik di Gunung Putri, Kabupaten Cianjur, mulai Maret sampai Desember 2007. Percobaan disusun menu-rut rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan tiga ulangan. Faktor I adalah cara pengendalian gulma, terdiri atas 6 taraf : P0=kontrol; P1=disiang manual; P2=1,6 kg diuron; P3=2,4 kg diuron; P4=0,63 kg oxyfluorfen; dan P5=0,83 kg oxyfluorfen/ha. Faktor II adalah dosis FMA, terdiri atas 4 taraf : M0=tanpa FMA; M1=5,0 g FMA; M2=10 g FMA; dan M3=15 g FMA/kg tanah. Penelitian merupakan percobaan pot yang berisi media campuran tanah dan pupuk kandang (8 + 2 kg); 3,5 g Urea; 1,5 g SP-36; dan 1,5 g KCl/pot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diuron 1,6 dan 2,4 kg/ha, dan oxyfluorfen 0,63 dan 0,83 kg/ha efektif mengendalikan gulma sampai 4 bulan setelah tanam (BST). Oxy-fluorfen dosis 0,63 dan 0,83 kg/ha tidak meracuni tanaman artemisia dan tidak mengganggu perkembangan populasi FMA. Sedangkan diuron dengan dosis 1,6 dan 2,4 kg/ha meracuni tanaman artemisia cukup berat, namun tidak berpengaruh negatif terhadap perkembangan FMA. Hal ini terbukti dari populasi FMA pada per-lakuan diuron cukup tinggi (153-208,25 g/kg tanah) relatif sama dengan yang disiang manual (207,25 g/kg tanah). Pada pemberian 0,63 dan 0,83 kg oxyfluorfen/ ha, populasi FMA berkisar antara 128-163,75 g/kg tanah, relatif sama dengan yang disiang manual, dan lebih tinggi serta berbeda nyata dibanding kontrol. Tanaman artemisia mengalami keracunan berat oleh diuron dosis 1,6 dan 2,4 kg/ha sehingga pertumbuhannya terhambat dan bahkan ada yang mati. Oxyfluorfen dosis 0,63 dan 0,83 kg/ha tidak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan, jumlah cabang, diameter batang, maupun bio-massa artemisia. Pada 4 BST, bobot bio-massa tanaman artemisia tertinggi diper-oleh pada perlakuan oxyfluorfen dosis 0,63 kg/ha (2.344,28 g/tanaman), diikuti dosis 0,83 kg oxyfluorfen/ha (2.119,70 g/tanaman), masing-masing lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan yang disiang manual (1.787,85 g/tanam-an) maupun kontrol (1.480,95 g/tanam-an). Pemberian 10 g FMA/kg tanah dan 0,63 kg oxyfluorfen/ha merupakan kombi-nasi dosis optimal bagi pertumbuhan artemisia yang tercermin dari bobot bio-massa tertinggi (2.987,40 g/tanaman). Penggunaan FMA meningkatkan kadar artemisinin 3,27%