Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
Studi Pembuatan jahe Kering yang di ‘Bleaching”
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jehe badak dan jahe emprit, masing-masing berumur 8 dan 9 bulan. Jahe yang akan dikeringkan diiris melintang (slice) setebal 0.4 cm, kemudian direndam dalam larutan kapur (CaO) yang dipanaskan dan dikeringkan dengan oven (500C). konsentrasi larutan kapur yang digunakan 7.5 dan 10 persen dengan lama perendaman 3, 4.5 dan 6 menit. Sebagai kontrolnya digunakan jahe kering tanpa perlakuan. Dari penelitian ini diterlihat bahwa jahe emprit lebih baik dari jahe badak sebagai bahan baku jahe kering (bleached ginger). Jahe kering yang memenuhi persyaratan mutu yang berlaku di Inggris adalah yang direndam dalam larutan kapur 7.5% dengan lama perendaman 3 dan 4.5 menit. Perendaman dalam larutan kapur memperlihatkan warna dan penampakan yang lebih baik dari pada tanpa perendaman, disamping itu dapat melindungi jahe dari kerusakan jamur dan serangga. Tetapi perendaman tersebut cenderung menurunkan kadar minyak atsiri dan meningkatkan kadar abu jahe kering
Pengujian Beberapa Insektisida Terhadap Hama Pemakan Daun Kenanga (Maenas maculifascia Wlk)
Serangga Maenas maculifascia WLK. adalah hama polifag yang juga menyerang kenanga. Pada serangan berat, semua daun tanaman habis dimakan sehingga menghambat pembungaan. Oleh karena itu populasinya perlu dikendalikan. Uji efikasi 4 macam insektisida yaitu monokhrotos (Azodrin 15 WSC), khlorfluazuron (Abtabron 50 EC), Dikhlorfos (Nogos 50 EC) dan khlorpirifos (Dursban 20 EC) pada dosis 0.5 ml/l, efektif membunuh ulat Maenas maculifascia WLK. daya kerja keempat insektisida tersebut, mulai dari yang tercepat adalah dikhlorfos kemudian khlorpirifos, monokhotosfos dan terakhir khlorfluazuron
Aktivitas Makan Maenas maculifascia WLK. Serta Serangannya Terhadap Ylang-Ylang dan Kenanga
Feeding activity of Maenas maculifascia and its injury on Canangium odoratum forma Genuina and Macrophylla.Maenas maculifascia Wlk. (Lepidoptera; Artiidae) may pose as threat to development of Canangium odoratum forma Genuina (Genuina for brevity) as well as C. odoratum forma Macrophylla (Macrophylla), since its caterpillars are capable of devoliating the trees and consequently reducing the production of their flowers, harvested for the essential oils. This preliminary study which was carried out at the end of 1989 and early 1990 at Bogor, showed that under laboratory conditions the eggs of this insect hatched in 7 days, larvae developed through 6 instars in 28-30 days, prepupal stage was 2 days, while pupal stage 10-12 days, or the insect completed its development in approximately 50 days. Its adults males and females lived for 7 days in average, and egg numbers were approximately 350/females. A larva consumes + 1.9 of canangium leaves, throughout its development
Rancang Bangun Alat Pengupas Lada Terpadu
Pengolahan lada putih di petani masih dilakukkan secara tradisional. Dengan cara merenam buah lada di dalam air atau kolam buah lada di dalam air atau kolam selama 10 – 14 hari untuk memudahkan pengupasan kulitnya Kontaminasi mikroba dan bau lumpur, serta hilangnya sebagian minyak atsiri, merupakan masalah utama pada pengolahan lada putih tradisional. Untuk mengatasi masalah tersebut, dikembangkan cara pengelohan lada dengan mesin. Pada penelitian ini telah dirancang bagun alat pengupas lada terpadu yang menyatukan fungsi perontokan, pengupasa dan pencucian dalam satu mesin. Pengujian alat dilakukkan untuk melihat kinerja dari masing-masing komponen alat. Sebagai perlakuan adalah (1) putaran slinder perontok(350, 400 dan 450 rpm), (2) putaran piring prngupas (300, 325 dan 350 rpm), dan (3) tekanan air pada komponen pemisah kulit dan pencuci (0,4,0,6,0,8,1,0 dan 1,2 kg/cm2). Setiap perlakuan dilaksanakan dengan ulangan tiga kali. Hasil uji perfomansi menunjukkan bahwa alat yang dirancang bangun berkapasitas 210 kg per jam dengan efisiensi perontokan 92,2% pengupasan 97,5% dan pemisahan kulit 59% persentase lada putih uth 93,60% dan lada putih pecah 6,40% Kondisi optimal operasional alat dicapai pada kecepatan silinder perontok 400 rpm dan kecepatan piring pengupas 325 rpm. Alat ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan produksi lada putih bubuk. Untuk tujuan produksi lada putih butiran, masih diperlukan sosialisasi produk di pasar
Formulasi Granul Ekstra Jahe Berkarbonat
Jahe (Zingiber officinale Roxb, Zingiberacae) telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri obat, kosmetik, makanan dan minuman. Namun demikian dalam produk minuman ringan, olahan jahe dalam bentuk granuk berkarbonat belum ditemukan. Untuk mendukung hal tersebut telah dilakukan penelitian tentang informasi granul berkarbonat yang terbuat dari ekstark jahe dengan pelarut air dan alkohol menggunakan metode granulasi basah. Pada penelitian itu dibuat 12 formula dengan perlakuan: a jenis ekstrak (ekstrak air 4% dan 6% serta ekstrak alkohol 0.4% dan 0.6%) dan b Penambahan asam sitrat (2% 3% dan 4%) Pengamatan dilakukan terhadap: 1. Sifat fisik granul meliputi kadar air, waktu air, sudut diam dan kecepatan melarut. 2 Uji organoleptis untuk tingkat kesukaan meliputi warna, rasa dan aroma. Hasil evaluasi sifat fisik granul berkarbonat diketahui bahwa granul berkarbonat yang terbuat dari ekstrak alkohol memenuhi syarat, sedangkan untuk granul berkarbonat dan ekstrak air kurang memenuhi syarat karena kadar airnya yaitu 0.63%-0.74% (syarat 0.1% - 0.5%) Sedangkan hasil uji organoleptik untuk tingkat kesukaan terhadap 20 panelis didapatkan bahwa formula yang disenangi adalah formula 10 dengan skor warna 3.50, aroma 3.50, rasa 3.05 sehingga skor rata-rata yaitu 3.35. Formula 10 ini adalah granul berkarbonat yang terbuat dari ekstrak alkohol dengan konsentrasi 0.6% dan asam sitrat 2%
Pengaruh Warna Sungkup Plastik dan Konsentrasi Perangsang Tubuh Antonik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Lada (Piper Nigrum Var. Belatung) di Pesemaian
Suatu percobaan telah dilaksanakan di rumah atap Kebun Percobaan. Natar sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat di Lampung, mulai bulan Agustus sampai dengan November 1991, dengan tujan untuk mempersingkat waktu penyediaan bahan tanaman di pesermaian. Bahan tanaman yang dipakai adalah tanaman lada var, Belantung, yang rata-rata mempunyai 2 helai daun dan berumur +/- 1 bulan. Rancangan yang dipakai adalah acak lengkap, disusun secara faktorial, dengan 3 ulangan dan 12 tanaman per lakuan. Perlakuan yang diuji adalah warna sungkup plastik, terdiri atas a1) tidak berwarna a2) hijau a3) biru a4) merah dan konsentrasi Atonik terdiri atas b1) 0 ppm b2) 250 ppm b3) 500 ppm b4) 750 ppm. Atonik diberikan secara disemprotkan setiap 2 minggu sekali. Parameter yang diamati meliputi jumlah buku. Berat kering tajuk, Volume akar berat kering akar. Hasil Percobaan menunjukan bahwa sungkup plastik yang berwarna merah berpengaruh nyata lebih baik terhadap parameter lainnya tidak nyata, tetapi tanaman dalang sungkup lainnya. Meskipun secara statistik pengaruhnya terhadap parameter lainnya tidak nyata, tetapi tanaman dalam sungkup plastik merah mempunyai nilai yang paling besar. Pengaruh konsentrasi Atonik tidak berbeda nyata terhadap semua parameter. Antara kedua perlakuan yang diuji tidak terdapat efek interaksi yang nyata terhadap semua parameter yang diamati
KEEFEKTIFAN FORMULA NANOEMULSI MINYAK SERAI WANGI TERHADAP POTYVIRUS PENYEBAB PENYAKIT MOSAIK PADA TANAMAN NILAM
Potyvirus dapat menurunkan produksi terna basah dan kering tanaman nilam mencapai masing-masing 35% dan 41%. Minyak atsiri serai wangi memiliki potensi sebagai antifitoviral dan menekan perkembangan Potyvirus penyebap penyakit mosaik pada tanaman nilam. Kemampuan aktivitas antifitoviral dari minyak atsiri dapat ditingkatkan dengan formulasi nanopartikel, seperti nanoemulsi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan fomula nanoemulsi serai wangi terhadap Potyvirus. Nanoemulsi minyak serai wangi diproduksi secara difusi spontan atau inversi. Formula nanoemulsi minyak serai wangi dan bukan formula nano diuji untuk mengendalikan Potyvirus pada tanaman uji Chenopodium amaranticolor di rumah kaca dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Parameter yang diamati adalah persentase penghambatan virus dan jumlah lesio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran droplet partikel formula nanoemulsi serai wangi berkisar antara 70-140 nm, sedangkan ukuran droplet partikel bahan aktif emulsi formula minyak serai wangi berkisar antara 1.740-5.262 nm. Formula serai wangi dan formula nanoemulsi serai wangi mampu menekan perkembangan Potyvirus penyebap penyakit mosaik pada nilam. Persentase penghambatan formula nanoemulsi mencapai 82,5% pada dosis 1-1,5%, lebih tinggi dibandingkan formula minyak serai wangi yaitu lebih kurang 64,92-77,72% pada dosis yang sama. Ini menunjukkan bahwa formula nano emulsi serai wangi berpotensi dan dapat digunakan untuk mengendalikan Potyvirus penyebap mosaik nilam
Pengaruh Umur Tanaman, Pelayuan, dan Lama Penyulingan Terhadap Kadar Minyak Atsiri Daun Ruku-Ruku (Ocimum gratissimum LINN)
Ocinium gratissinium (ruku-ruku) Which is found in Indonesia, contain essential Oil that usually used as row materials for Perfume and insert repellent. The aim of this Experiment were to study the effect of plant Age, wilting process of the leaves after and Distillation time on the contentof essenial oil Of O. Gratissimum. The material used in this Experiment was the leaves of O. Gratissimum Of eugenol type. Collected from cimanggu Experiment station bogor. The agea of plant Were 3 and 5 months respectivelly. The leaves Were willed for nil hours(freah leaves),1 day And 2 dayrespectivelly.the destillation Method was water and steam destillation with Cohobation systeam with deatillation time of 30, 60 and 90 minutes respectivelly. The result Shaw thatfresh leaves of 3 month plant age and distillation time 90 minutes produce The hightest content of essential oil i.e. 1.47
Pengaruh Waktu Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi SOLANUM KHSIANUM di Manoko Lembang
Effects of planting date on Solanum khasianum Clarke growth and production at Manoko Lembang.A study on the effect of planting date on the growth and production of Solanum khasianum Clarke was conducted at Manoko Experimental Garden in 1983 to early 1985. The study used a factorially randomized block design with three replications. The first factor was planting date which consisted of 6 different date spaced at 30 day intervals beginning on December 28 and extending through May 28. The second factor was plant varieties, namely athorny, ales thorny and a crooked varieties. The result showed that there were no interaction berween plant varieties and planting date, but planting date had a significant effect on the growth and production of Solanum khasianum. Late January and December produced higher berry yield per plot compared to the other planting date. The yield per plot will decreased by 39 – 62% if they are planted in April or May
Respon Bibit Tanaman Panili (Vanili Planifora) Terhadap Mikoriza
Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cimanggu, Bali Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Penelitian terdiri atas 2 kegiatan. Kegiatan pertama berlangsun selama 2 bulam menggunakan metode kualiatif, bertujuan untuk menguji kompatibiltas mikoriza campuran pada penakaran panili tipe Anggrek dan Gisting pada 2, 3, 4 dan 5 minggu setelah stek 1 ruas panili disemaikan (MS). Kegiatan keua selama 5 bulan, bertujuan untuk meg=nguji perlakuan mikoriza dan pupuk NPT terbaik pada tanaman panili dengan menggunakan rancangan acak kelompok, faktorial, 2 faktor dan 4 ulangan. Yaitu tanpa mikoriza (MO) dan 100 g mikoriza campuran/tanaman(MI).Faktor kedua adalah komposisi pupuk NPK yaitu tanpa pupuk (PO), IN:IP:IK (PI) IN:IP:3K (P2), dan IN:2P:3K (P3). Hasil kegitan penelitian pertama menunjukka bahwa mikoriza yang digunakan mempunyai kompatibilitas yang cukup baik terhadap kedua tipe panili dan pada 5 MSS menghasilkan tingkat infeksi perakaran tertinggi. Selain itu, mikoriza yang digunakan kompatibilatasnya lebih tinggi pada perakaran panili tipe Anggrek dibandingkan tipe Gisting. Hasil kegiatan kedua menunjukan perlakuan pupuk NPK dan Interaksinya dengan mikoriza tidk berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diukur. Inokulasi mikoriza campuran nyata meninkatkan tinggi dan jumlah daum bibit panili tipe Gisting (32.4$ dan 20,43%) dibandingkan tanpa mikoriza