Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
Penyebaran TRICHODERMA SPP. dan PENICILLIUM SPP. dan Sifat Antagonismenya Terhadap PHYTOPHTORA PALMIVORA
Distribution of Trichoderma spp. and Penicillium spp. and their antagonism to Phytophthora palmivora.The distribution of Trichoderma harzianum, T. viridae and Penicillium spp. and their antagonism to Phytophthora palmivora were studied by isolating the fungi and in vitro test of antagonist. Soil samples were collected from Sukamulya (West Java) and Petaling (Bangka) Exp. Garden, farmer’s garden in the distric of Cahayanegeri (North Lampung) and Sukadana (Central lampung). The distribution of the fungi varied from one place to another. The highest population was found at Sukamulya Exp. Garden and the lowest was at the farmer’s garden in Sukadana. The population difference was assumed to correlate with cultural practices, vegetation and the climate. Trichoderma spp. developed lysis on mycelium and zoospore germination P. palmivora. Penicillium spp. caused mal-formation of mycelium, aborted sporangium and inhibited zoospore germination of the fungus
Pengaruh Tingkat Kemasakan dan Ukuran Buah Terhadap Viabilitas Benih Ketumbar (Coriandrum Sativum L)
Effect of maturity stages and seed sizes on viability of Coriander seed (Coriandrum sativum L).This experiment was conducted at Bogor Research Institute for Spice and Medicinal Crops from February until May 1992. Randomized Block Design in Factorial (two factors) were used. The first factor were 75% seed with brown colour and 75% seed with yellow colour. The second factor are seed size ≥ 3.5 mm and < 3.5 mm with three replications. The result showed that 75% seed with yellow colour and seed size < 3.5 mm produce better quality than 75% seed with brown colour, seed size ≥ 3.5 mm
Kajian Situasi Cengkeh di Indonesia
Kajian situasi cengkeh di Indonesia dianalisis dari segi produksi dan kebutuhan cengkeh. Data yang digunakan adalah data deret berkala tahun 1959-1983 (25 tahun). Produksi dan kebutuhan cengkeh selalu meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 1984-1991 Indonesia masih memungkinkan untuk swasembada, jika usaha-usaha intensifikasi dan ekstensifikasi terus dilaksanakan
PENINGKATAN VIABILITAS BENIH JINTAN HITAM (Nigella sativa) DENGAN HIDROPRIMING DAN PEMBERIAN ASAM GIBERELAT
Perkecambahan adalah suatu tahap kritis pada siklus hidup tanaman. Perbaikan toleransi pada tahap perkecambahan dapat meningkatkan stabilitas pertumbuhan dan produksi tanaman. Upaya untuk menekan pengaruh cekaman dapat dilakukan dengan teknik priming dan penambahan asam giberelat (GA). Sebagai tanaman introduksi, jintan hitam akan menghadapi banyak kendala dalam budidaya khususnya dari faktor lingkungan abiotik seperti iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perlakuan hidropriming dan penambahan GA3 terhadap viabilitas benih jintan hitam. Penelitian dilaksanakan sejak November sampai Desember 2015 di Laboratorium Seed Storage & Seed Quality Testing, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. Bahan yang digunakan adalah benih jintan hitam aksesi Kuwait dan India. Rancangan penelitian yang digunakan Acak Kelompok Faktorial dengan tiga faktor yakni aksesi (India dan Kuwait), waktu hidropriming (0, 12, dan 24 jam) dan aplikasi GA3 (dengan dan tanpa GA3), tiga ulangan dengan 25 butir benih setiap satuan percobaan. Peubah yang diamati adalah daya berkecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh, panjang kecambah, panjang radikel, bobot basah kecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi GA3 akan efektif jika didahului dengan perlakuan hidropriming. Perlakuan hidropriming 12 jam yang diikuti aplikasi GA3 meningkatkan viabilitas benih jintan hitam aksesi Kuwait dan India melalui peningkatan daya berkecambah (27,00 dan 22,80%), panjang radikel (55,50 dan 60,20%), kecepatan tumbuh (36,00 dan 27,60%), dan indeks vigor (27,00 dan 22,80%)
Pengaruh Jumlah Ruas dan Konsentrasi Paklobutrazol Terhadap Pertumbuhan Setek Tanaman Tuba
Tuba (Derris elipca Benth). Is a plant Usually used as a material of botanical Pestiside.A field experiment was conducted At the. Researech Instalation Cimanggu, Researech institut for Spices and Medicinal Crops, From Desember 1996 to April 1997. With the aim to evaluate the effect of Internodes number and paklobutrazol Concetration on the growth of tuba cuttings. A factorial experiment with 2 factor and 4 Replications werw arranged in Rendomized Black Design. The first factor wase Internodes number i.e., 0.20,500,750, and 1000 Ppm. Treatment aplication were dreaking the lower and of cuttings to the paklobutrazol solution in 15 minues. Each treatment consisted of 10 cuttings without leaf and were placed rendomizedly at the open field. On 300C temprate and 61% moisture equally. The Parameter observed were growth percentage,growth speed nube, number and length of hoot, number of leaves and leaf area, and the weight of plant biomass(leaf + branch) and Root. Result of the experiment showed that One internodes cutting with a concentration of 500 and 750 ppm ofpaklobutrazol produced better effect on plant biomass (leaf + branch) and root Meanwhile 2 intrnodes cttings with concentration 250 ppm paclobutrazol Produced better efect on the growth Percentage cutting
Respon Setek Panili Terhadap Pemberian Pupuk NPK
Penelitian dilakukan di rumah kaca BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, dari bulan Juni sampai dengan Oktober 1989. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon setek panili terhadap pemupukan N, P, dan K. penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola factorial, diulang tiga kali. Factor yang diuji adalah dosis pupuk N, P dan K, masing-masing 0, 1, dan 2 g/pot. Dosis pupuk dipecah dalam dua kali pemberian, yaitu pada minggu ke-3 dan minggu ke-9 setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk N, P, dan K secara tunggal dan interaksi antara NK, NP, dan NPK dapat meningkatkan panjang tunas. Perlakuan pemupukan yang menghasilkan panjang tunas tertinggi adalah 2 g N/pot + 2 g P2O2/pot + 1 g K2O/pot. Terhadap jumlah daun interaksi antara NK dan NP nyata pengaruhnya. Pengaruh pemupukan yang menghasilkan jumlah daun tertinggi adalah 2 g N/pot + 1 g K2O/pot
HYDRAULIC LIFT DAN DINAMIKA LENGAS TANAH HARIAN PADA PERTANAMAN JAMBU METE
Produktivitas lahan kering dapat ditingkatkan bila periode ketersediaan lengas tanah pada musim kering dapat diperpanjang. Hydraulic lift sebagai proses redistribusi air tanah dari lapisan bawah yang lebih lembab ke lapisan dangkal yang cepat mengering oleh aktivitas akar tanaman, merupakan aspek ekologis yang layak diperhitungkan dalam mengelola tata air di lahan kering. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kemampuan hydraulic lift tanaman jambu mete yang diindikasikan oleh nilai recovery lengas tanah harian (RLTH) pasca kehilangan lengas tanah oleh aktivitas evapotranspirasi pada siang hari. Penelitian dilakukan pada area terbuka berdampingan dengan blok koleksi jambu mete umur 20 tahun di Kebun Percobaan Cikampek, Jawa Barat. Penilaian RLTH dilakukan pada radius 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 kali jari-jari kanopi dari pangkal jambu mete sebagai faktor perlakuan tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok, enam ulangan. Hasil penelitian menunjukkan nilai RLTH jambu mete selalu positif dan lebih besar dari 0,010 MPa sebagai nilai ambang minimal suatu tanaman dinyatakan memiliki kemampuan hydraulic lift. Nilai rata-rata RLTH pada kedalaman tanah 25-75 cm tidak berbeda nyata diantara posisi dari pangkal jambu mete, dan mencapai sekitar 0,25-0,28% (w/w) atau setara 0,043–0,048 MPa. Berdasarkan nilai RLTH, hasil perhitungan volumetrik penambahan air tanah harian pada blok jambu mete mencapai kisaran 0,26-1,35 l air m-2. Status lengas tanah terdeteksi masih berada pada kisaran 40-60% air tersedia, kecuali untuk perlakuan 1,0 kali jari-jari kanopi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tanaman jambu mete terbukti memiliki kemampuan hydraulic lift, dan mengindikasikan turut berkontribusi memelihara kelengasan tanah pada musim kering
HARGA POKOK BENIH NILAM VARIETAS SIDIKALANG HASIL KULTUR JARINGAN
Kendala dalam penyediaan benih adalah ketersediaan yang tepat waktu, tepat jum-lah, seragam dan sehat. Teknik kultur ja-ringan dapat memecahkan kendala terse-but tetapi biayanya cukup tinggi sehingga harga benih menjadi mahal 3-4 kali harga benih konvensional. Untuk mengatasi hal tersebut pada tanaman nilam, dilakukan perbanyakan benih secara kultur jaringan dengan mensubstitusi bahan kimia yang harganya mahal dengan bahan-bahan al-ternatif yang mudah diperoleh seperti air kelapa dan sumber bahan organik lainnya. Penelitian dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan, laboratorium Pengujian Balittro, Balai Besar Pasca Panen, dan ru-mah kaca Balittro sejak Mei 2009 sampai Oktober 2010. Penentuan harga pokok dan skala ekonomi dilakukan secara bertahap : (1) harga pokok zat pengatur tumbuh (zpt) alternatif, terdiri dari air kelapa, ekstrak to-mat, dan ekstrak tauge, (2) harga pokok tunas hasil induksi dari eksplan varietas Sidikalang dengan media Murashige dan Skoog (MS) ditambah zpt alternatif dan sumber vitamin substitusi dari air kelapa, tomat, tauge, dan wood vinegar masing-masing dengan konsentrasi 0 (kontrol), 5, 10, 15, 20, dan 25%, (3) harga pokok multiplikasi tunas nilam dengan media ter-baik pada tahap induksi, (4) harga pokok tunas hasil multiplikasi media MS + air ke-lapa konsentrasi 10% dibandingkan de-ngan media dasar alternatif pupuk maje-muk dengan formulasi NPK 20-20-20 yaitu: (a) pupuk majemuk 0,5 1 g/l + air kelapa 10%, (b) pupuk majemuk 1 g/l + air kela-pa 10%, (c) pupuk majemuk 1,5 g/l + air kelapa 10%, (d) pupuk majemuk 2 g/l + air kelapa 10%, (e) MS + BA 0,5 mg/l, (f) MS + air kelapa 10%, (5) harga pokok ni-lam hasil aklimatisasi di rumah kaca de-ngan perlakuan beberapa jenis media : (a) tanah latosol (kontrol), (b) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman (1:1), (c) tanah latosol + arang/sekam padi (1:1), (d) tanah latosol + cocopeat (1:1), (e) ta-nah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi (1:1:1), (f) tanah lato-sol + kompos serasah tanaman + coco-peat (1:1:1), (g) tanah latosol + kompos serasah tanaman + arang/sekam padi + cocopeat (1:1:1:1), (6) harga pokok dan skala usaha nilam di dalam polybag ukur-an 10 x 15 cm dengan media tanam ta-nah + pupuk kandang (2:1). Penentuan harga pokok benih nilam dan skala usaha-nya, dilakukan dengan menganalisis input dan out-put kegiatan produksi benih ni-lam hasil kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan harga pokok benih nilam skala laboratorium adalah Rp339 per tu-nas dengan media perbanyakan MS di-tambah zpt alternatif air kelapa konsen-trasi 10%, atau Rp796/polybag dengan titik impas/break event point pada jumlah produksi 51.415 polybag benih per 3,5 bulan setelah aklimatisasi, setara dengan pendapatan sebesar Rp40.926.258.
Pengaruh Berbagai Zat Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Setek Cengkeh
Effect of growth regulators on the growth of cutting cloveTo produce homogenous planting material a study of vegetative propagation of cutting clove was done by using several growth regulator. The objective of this study was to evaluate the effect of growth regulators on the cutting growth. The experiment was conducted at the Research Institute for Spice and Medicinal Crops, bogor, West Java from February to July 1987. Randomized block design with 6 treathments and 4 replications was used. The treatment consist of control, Rootone F, Bioroota, Strike, Murphy and Seradix. The result showed that growth regulator was not significantly effect all parameters tested on observed. Compare with control, growth regulators tend to produce more roots, shoots and roots percentage and roots length. Testing with other growth regulators should be done to find out the effective growth regulator to increase the clove cutting growth
Workshop On Biological and Genetic Control Of The Leucaena PSSYLD (Hawaii, 3 - 7 November 1986)
Lokakarya diselenggarakan oleh “nitrogen Fixing Three Association” (NFTA) dan Winrock International. Peserta lokakarya adalah peneliti dan atau pejabat dari Amerika Serikat, Australia, Canada, Filipina, India, Indonesia, Malaysia, Muangthai, Tonga, Puerto Rico, Samoa dan Thaiwan, yaitu Negara-negara yang mengalami musibah serangan kutu loncat lamtoro. Peserta dari Indonesia yang paling banyak jumlahnya, yaitu 2 orang dari badan Litbang, 2 orang dari Direktorat Jenderal perkebunan dan 6 orang dari NTT. Tujuan lokakarya adalah untuk menghimpun, mereview dan menganalisis informasi tentang serangan Heteropsylla di Asia dan Pasifik. Dari pembahasan informasi dirumuskan cara mengatasi dan strategi penelitiannya. Pada dasarnya Lokakarya bertujuan membahas pengendalian Heteropsylla secara biologi dan genetic dari sudut pandang ilmu dan kebijaksanaan. Sehubungan dengan itu, tulisan ini menyajikan aspek pengendalian biologis, pengendalian genetic dan kebijaksanaan dalam rangka pengendalian hama kutu loncat lamtoro