Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
Rancangan dan Pengujian Prototipe Alat Perontok Bunga Cengkeh Tipe Aksial
Alat perontok bunga cengkeh hasil rekayasa Ballittro bekerja berdasarkan prinsip tumbuk dan geseran yang dihasilkan oleh gigi perontok pada silinder. Alat tersebut dioperasikan dengan menggunakan motor listrik I HP dan penyaluran tenaganya melalui system tranmisi sabuk (V-belt). Dari hasil pengujian alat, kondisi optimal proses perontokan diperoleh pada putaran silinder perontok 480 rpm. Hasil perontokan yang diperoleh pada kondisi ini sebagai berikut: efisiensi perontokan 92.11%, kebersihan bunga dari kotoran (tangkai) 82.41%, kerusakan bunga 8.46%, kehilangan hasil 8.98% dan kapasitas alat 76.43 kg bunga/jam. Keadaan fisik bunga cengkeh kering dan kadar minyaknya tidak berbeda dibandingkan dengan hasil perontokan secara tradisional. Biaya perontokan menggunakan alat ini sebesar Rp. 17.71 tiap kg bunga yang dihasilkan. Alat ini masih memerlukan perbaikan terutama untuk mengurangi kehilangan, kerusakan serta meningkatkan kebersihan bunga
PENAMPILAN BEBERAPA KLON UNGGUL SERAI WANGI PADA DUA AGROEKOLOGI BERBEDA DI SUMATERA BARAT
Indonesia merupakan penghasil utama minyak serai wangi dunia. Penelitian untuk mengetahui tampilan empat klon serai wangi (Andropogon nardus) telah dilakukan di Sumatera Barat pada dua agroekologi sejak April 2010 sampai Januari 2011. Penelitian disusun dalam bentuk Rancangan Acak Terpisah. Sebagai Petak Utama adalah agroekologi, KP. Laing Solok, 460 m dpl dan Alahan Panjang, 1.200 m dpl dan sebagai anak petak klon serai wangi (G113, G115, G127 dan G132), masing-masing terdiri dari enam ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada karakter tinggi, lebar tajuk, jumlah anakan, jumlah daun, lebar daun dan panjang daun, demikian juga dengan produksi terna dimana di Solok produksinya lebih tinggi dibanding di Alahan Panjang, masing-masing 1.338,31 g rumpun-1 dan 340,70 g rumpun-1. Hasil penyulingan bahan serai wangi di dataran tinggi didapat rendemen minyak atsiri lebih tinggi di Alahan Panjang dibanding Solok masing-masing 1,093 dan 0,915%, demikian juga dengan kandungan sitronellal masing-masing 48,25 dan 45,20%. Tidak ada perbedaan yang nyata pada karakter morfologis maupun produksi dari masing-masing klon terutama yang ditanam di Alahan Panjang. Intensitas penyakit bercak daun di Alahan Panjang sangat rendah (13,55%) dibanding dengan yang terdapat di Solok (26,36 %).
Identifikasi Berbagai Klon Minyak Jahe
Penelitian bertujuan untuk menganalisa minyak jahe dari tiga klon yang terdapat di Indonesia yaitu jahe merah, jahe emorit dan jahe badak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar minyak tertinggi dihasilkan dari jahe merah (3,9%), jahe emprit (3,26%) dan terendah jahe badak (1,93%). Identifikasi secara Kromatografi Lapis Tipis terhadap minyak jahe merah diperoleh 9 noda (spot), minyak jahe emprir 8 noda (spot) dan minyak jahe badak 7 noda (spot). Identifikasi secara Kromatografi Gas Cair menunjukkan bahwa minyak jahe merah mempunyai satu puncak yang tidak dimiliki oleh minyak jahe lainnya dan satu puncak yang lebih tinggi daripada yang ditemukan pada jahe emprit dan jahe badak
Patogenisitas Rhizoctonia Solani Kuhn. Terhadap Beberapa Varietas Mentha
Pathogenicity of Rhizoctonia solani Kuhn, on some varieties of peppermint.This experiment was carried out at the Phytopathology laboratory and glass house of the Research Institute for Spice and Medicinal Crops, from May to December 1993. The aim of the experiment was to evaluate the response some varieties of peppermints on pathogenicity of Rhizoctonia solani Kuhn, the casual agent of stem rot desease. The treatments were arranged in a Complete Randomized Design with five treatments and four replicates. The applied treatment were four varieties of Mentha arvenses, i.e. Jombang, Tempaku, Ryokubi, Taiwan and M. spicata species. The result showed that all Mentha varieties were infected by R. solani, under experimental condition. The most severe damage were observed on M. spicata and M. arvensis vat. Ryokubi, followed by M. arvensis var. Taiwan, M. arvensis var. Tempaku and M. arvensis var. Jombang respectively. The growth of R. solani on M. spicata leaf extract medium was faster, and thicker than leaf extracts of M. arvensis
POTENSI EKSTRAK GAMBIR, SIRIH-SIRIHAN DAN SAMBILOTO UNTUK MENGENDALIKAN Aphis schneideri PADA TANAMAN Klausena
Pestisida yang berasal dari tanaman relatif aman terhadap organisme bukan sasaran dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pestisida berbahan aktif kimia sintetik. Gambir, sirih-sirihan dan sambiloto merupakan tanaman potensial sebagai sumber pestisida nabati. Tanaman-tanaman tersebut mengandung senyawa fenolik, minyak atsiri dan metabolit lainnya yang belum dieksplorasi pemanfaatannya. Penelitian bertujuan untuk mengobservasi potensi ekstrak tanaman gambir, sirih-sirihan, dan sambiloto dalam menanggulangi serangga hama Aphis schneideri yang sering menyerang tanaman klausena. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, empat ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri dari ekstrak gambir, sambiloto, dan sirih-sirihan, masing-masing dengan tingkat konsentrasi yang berbeda (8, 12, dan 16 ml l-l) serta kontrol (tanpa perlakuan). Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Laing, Solok dari Februari sampai Agustus 2015. Parameter yang diamati adalah persentase kematian (mortalitas) nimfa dan imago. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman gambir, sirih-sirihan, dan sambiloto bersifat insektisidal terhadap serangga hama A. schneideri. Ekstrak gambir pada konsentrasi 16 ml l-l mampu mengendalikan nimfa dan imago A. schneideri 100% pada 6 jam setelah aplikasi, sedangkan ekstrak sambiloto pada tingkat konsentrasi yang sama dengan gambir memerlukan waktu 36 jam setelah aplikasi untuk mencapai mortalitas 100%. Ekstrak sirih-sirihan memiliki efikasi terendah dibanding gambir dan sambiloto dengan tingkat mortalitas hanya mencapai 63,83% (nimfa) dan 65,44% (imago) pada 36 jam setelah aplikasi. Ekstrak gambir paling potensial sebagai pestisida nabati untuk mengedalikan A. schneideri dibandingkan dengan ekstrak sirih-sirihan dan sambiloto. Perlu pengujian lapangan untuk mengetahui keefektifan ekstrak gambir dalam mengendalikan serangan hama A. schneideri pada tanaman klausena
Penyakit Busuk pada Ylang-ylang
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca penyakit, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor mulai bulan Juni sampai dengan Desember 1992. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gejala dan penyebab penyakit serta patogenisitas cendawan yang diperloleh dari tanaman ylang-ylang (Canangium odoratum L. genuine) yang sakit. Isolasi pathogen dilakukan dari akar, batang dan ranting tanaman yang sakit. Selanjutnya dilakukan inokulasi dengan menggunakan isolasi murni pada daun, ranting dan akar bibit ylang-ylang. Hasil isolasi dan identifikasi diperoleh cendawan Rhizactonia sp., dan Fusarium spp., pada akar, batang maupun ranting tanaman sakit. Hasil inokulasi menunjukkan bahwa hanya cendawan Rhizoctonia sp, yang dapat menginfeksi tanaman dan menimbulkan gejala penyakit seperti gejala di lapangan
Pengaruh Pupuk N, P dan K Terhadap Perumbuhan dan Hasil Tanama Serai Dapur di Tanah Latosol Citayam
Effect of N, P, K fertilizer on growth and production of Cymbopogon citrates at Citayam latosal soil.A study on the Effect of N, P, K fertilizer on growth and production of Cymbopogon citrates at Citayam latosal soil. Was conducted from Juni 1992 till August 1993. The experiment was performed with a randomized block design arranged factorially. The factors tested were dosages of N (0, 0.90 and 1.8 g N per plant), P (0 and 0.46 g P2O5 per plant), and K (0 and 1.2 g K2O per plant). The result showed that N and K fertilizers significantly increased the yield. N fertilizers significantly increased the numbers of tillers, and K fertilizers significantly increased the plant height. Dosages of 1.8 g N per plant and 1.2 g K2O per plant showed the highest yield. There was no significant interaction between N, P, and K on all the parameter (number of tiller, plant height and yield)
Peranan Jamur FUSARIUM Spp Dalam Menimbulkan Kerusakan Pada Tanaman Lada di Lampung
Although Fusarium spp. have often been isolated from the spots, leaves, stems, berries and nurseries of the black pepper, but the pathogenecity test gave negative result. Fusarium only infects the pepper of weak condition as the results of some agricultural practices (grafting, wound, cutting) or the pepper could be attacked by pests (borers) or other fungi. Fusarium also attacks berries if the condition of processing and storehouse is poor. Four species of Fusarium which have been known on pepper are F. oxysporum, F. sulphureum, F. semitectum and F. solani, but is only the first one is dominant
POTENSI EKSTRAK TANAMAN OBAT DAN AROMATIK SEBAGAI PENGENDALI KEONG MAS
Potency of Medicinal and Aromatic Crop Extracts to control Golden SnailResearch aimed to evaluate potency of some medicinal and aromatic plants as raw materials of molluscicides to control the golden snail has been done in the En-tomological Laboratory of Medicinal and Aromatic Crops Research Institute, Bogor, Indonesia from February to October 2008. The study used factorial ith rando-mized block design basis. The first factor is three levels dipping time of 5, 10, and 20 hours. The second factor is 14 kinds of extracts to be tested i.e. extracts of clove, the crown of god, seraiwangi, turmeric, physic nut, pig nut, legundi, chili java, ba-badotan, brotowali, bitter, kenikir, noni, and rerak. Research initially conducted by dissolving 5% tween 80 in water. After that into the 1 l of solution is placed 5 g of extract to be tested so that the concen-tration of extract in the solution to be tested is 0.5%. After that the snails were put into the solution and were fed with ta-ro leaf (Colocasia giganteum). In the con-trol treatment the snail only be soaked in water containing 5% tween 80. Soaking performed for 5, 10, and 20 hours in glass jars 9 x 15 cm2 diameter. After soaking snails then were transferred into the bottle containing clean water and then given a taro leaf size ~100 cm2 as food. Each tre-atment used 10 snails and repeated 3 times. Observations were made at 1, 2, and 3 days after application of the golden snail mortality by counting the number of snails that died after treatment and of inhibition of eating by noting the eaten leaf area. The results showed that the clove, the crown of god, Cintronella oil, and tur-meric are the most effective extract with 100% mortality rate and percentage of >90% inhibition of eating. Among the plants tested, clove most prospective to be developed as a controlling golden snail due to its high yield and the most immediate cause of death of the snail test.
Kemungkinan Pengembangan Tanaman Cengkeh Pada Tanah Podsolik di Bone-Bone Sulawesi Selatan
The possibility of clove developing on podsolic type of soil in Bone-bone.Clove is one the potential export commoditiesof non oil and gas sector. A research has been conducted, in an effort to develop the commodity based on the aspects of climate and soil condition, at the village of Bungadidi sub district Bone-bone South Sulawesi. The research results revealed that the area mentioned has fairly compatible climate and soil condition for developing the clove, i.e. podsolic type of soil, at altitude of 50 m to 200 m, low contents of N, P2O5, low to medium content of C organic, pH 4.48, average temperature of 26.90C, annual rain fall 3139 mm, with 178 rainy days and 82% relative humidity