Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
    357 research outputs found

    Identifikasi Senyawa Kimia Akar Kolesom

    No full text
    Kolesom (Talinum triangulare) merupakan salah satu tanaman obat yang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai obat kuat dalam campuran minuman. Komponen kimia yang terkandung didalamnya masih belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen kimia kolesom. Bahan tanaman yang digunakan berupa akar kolesom yang berasal dari Kebun Percobaan Banjaran Kimia Farma. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi analisis mutu bahan baku. Pembuatan ekstrak dengan pelarut metanol dan isolasi secara kromatografi kolom menggunakan eluen campuran toluen: dikhlorometan : etil asetat = 3,5; 0,2; 0,3 + 2 tetes asam format; dikhlorometan : etanol = 1 : 1 dan etanol menghasilkan 8 fraksi. Setiap fraksi kemudian diidentifikasi senyawanya dengan menggunakan spektrometri masa. Hasilnya menunjukka bahwa senyawa stigmasterol merupakan zat identitas. Senyawa lainnya yang teridentifikasi adalah senyawa terpen. Terpenoid dan asam-asam organik

    Setek Cengkeh dan Tipe Pertumbuhan Akarnya

    No full text
    Cutting clove and its root type growthExperiment was conducted at green house of Research Institute for Industrial Crops Cimanggu, Bogor in 1983. The objective was to find out the effect of growth regulator concentration (NAA) on the cutting growth. The cutting material used are water shoots from clove protogeny of Zanzibar 12. Completely Randomized design with four concentration treatment and three replication was used. The concentration consist of 0 (control), 1250, 2500, and 5000 ppm. Cutting propagation by single-node with a pair of leaf. The result showed that number of rooting and shooting in cutting at 1250 ppm brought about the highest (10%), followed 2500 ppm (6,6%), whereas control and 5000 ppm concentration only shooting not rooting (5%)

    Studi Pendahuluan Respons Bibit Terong KB (Solanum khasianum Clarke) Terhadap Pemupukan Melalui Daun

    No full text
    Preliminary study on seedling response of Solanum khasianum Clarke to foliar feedling. Seedling response of Solanum khasianum Clarke to foliar deedling was examined in order to improve the seedling quality. Treatments consisted of NPK 20-20-20 fertilizer concentrations of 0, 1, 2, and 3 g/l. application frequencies were at 3, 5, and 7 days interval. The trial was arranged as a factorial randomized block design with 5 replications. The result showed the interaction effect between concentrations and frequencies for leaves area parameter. Increase in fertilizer concentration as mush as 1 g/l for application frequency of 3 days interval, spread leaves area as much as 8.65 cm2. The highest of fertilizer concentration applied (3 g/l), the widest of leaves area reached

    Ciri-ciri dan Siklus Hidup Serangga Penggulung Daun Nilam, Sylepta sp.

    No full text
    Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, dari bulan Agustus sampai November 1989 dengan tujuan untuk mempelajari cirri-ciri dan siklus hidup serangga hama penggulung daun nilam (Sylepta sp.). Telur tidak berwarna dengan panjang dan lebar rata-rata 8 dan 1.4 mm. larva kehijauan, pada pertumbuhan maksimum panjangnya mencapai 17.0 mm. pupa berwarna coklat tua dengan ukuran panjang rata-rata 12.0 mm. serangga dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat kemerahan dengan panjang tubuh antara 9.0-11.4 mm dan panjang rentang sayap 22.0-28.0 mm. stadia tellur, larva, prepupa, pupa dan imago berturut-turut adalah 3-4, 19-22, 2-3, 3-4 dan 7-8 hari. Siklus hidup hama ini berlangsung antara 30-36 hari. Kehadiran hama di lapang dapat segera diketahui dengan melihat adanya daun-daun yang menggulung

    Kelayakan Usahatani dan Pengolahan Garut di Jawa Timur

    No full text
    Sentra produksi garut di Jawa Timur terbesar di Kabupaten Malang, Blitar dan Ngawi, diusahakan dengan penambangan dan jika dibudidayakan dilakukan secara sederhana.Garut bukan merupakan penghasil utama petani, diusahakan oleh angkatan kerja muda untuk mengisi lapangan kerja. Luasan pengusahaan tanaman garut rata-rata 0,86 ha, sebagian besar diusahakan di pekarangan dan lahan Perhutani. Panen rimpang untuk keperluan pembuatan tepung dilakukan pada bulan Agustus sampai Oktober, pada saat tanaman berumur 9 sampai 10 bulan dengan cara digarpu. Pada tingkat produktivitas sebesar 10 ton, diperoleh pendapatan bersih Rp. 731.000,- dan B/C rasion 1, 57 per o,5 ha, dari kriteria ini usahatani garut layak secara finansial untuk diusahakan. Rimpang garut yang digunakkan untuk bahan baku emping dipanen pada saat umur 6 sampai 7 bulan, dipanen pada saat musim kemarau antar bulan Maret sampai Mei. Setiap 50 kg bahan baku diperoleh pendapatan kotor sebesar Rp. 56.250,- dengan B/C rasio 1,19. Setiap kluarga tani mampu mengolah sebanyak 200 kg rimpang per bulan, sehingga industri ini mampu menyumabngkan Rp.142.112,-/bulan setara dengan 56 kg beras. Penciptaan teknologi budidaya, penyimpangan rimpang dan penyimpangan emping yang baik perlu dilakukan, sehingga rimpang sebagai bahan baku emping dan pati, serta pemasaran emping dan pati garut dapat dilakukan sepanjang tahu

    UJI ADAPTASI NOMOR HARAPAN TEMULAWAK PADA TIGA AGROEKOLOGI

    Get PDF
    Pengembangan varietas unggul dalam pro-duktivitas dan kualitas adalah tahap per-tama untuk mencapai keberhasilan dalam pengembangan tanaman temulawak. Tuju-an uji adaptasi adalah mengetahui daya adaptasi enam nomor harapan temulawak dibandingkan dengan pembanding lokal yang dilaksanakan pada tahun 2005/2006. Penelitian dilaksanakan di tiga lokasi sen-tra produksi temulawak di Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dua lokasi di Pro-pinsi Jawa Barat yaitu di Desa Cipenjo, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor pada ketinggian 200 m di atas permukaan laut (dpl) dan di Desa Ganjar Resik, Keca-matan Wado, Kabupaten Sumedang pada ketinggian 800 m dpl. Lokasi yang lain di Propinsi Jawa Tengah yaitu di Desa Kra-gilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali dengan ketinggian 450 m dpl. Sampel tanah dari masing-masing lokasi dianalisa di laboratorium tanah Balittro. Percobaan dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas tujuh per-lakuan per lokasi. Percobaan mengguna-kan ukuran plot masing-masing 4,0 x 3,75 m. Jarak tanam 0,75 x 0,50 m dan jumlah tanaman per plot 40 tanaman. Bahan tanaman yang digunakan berupa rimpang sekunder yang berukuran sama, ditanam satu rimpang per lubang tanam. Pemupuk-kan menggunakan pupuk kandang 20 t/ha, 200 kg Urea, 200 kg SP-36, dan 200 kg/ha KCl. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada waktu tanam, sedangkan Urea diberikan 3 kali, yaitu satu, dua, dan tiga bulan se-telah tanam. Hasil penelitian menunjuk-kan nomor harapan A memiliki rata-rata hasil rimpang per hektar paling tinggi di ketiga lokasi penelitian, sedangkan nomor harapan D dan F berturut-turut menun-jukkan kandungan minyak atsiri dan xan-thorrizol paling tinggi di lokasi Sumedang.

    Mengenal "PSYLID" Pada Tanaman Cengkeh

    No full text
    “paylid” adalah sebutan dari serangga-serangga dari suatu super family Paylloidae, ordo homoptera. Serangga dewasanya menyerupai tonggeret (cicada), ukuran kecil, umumnya sangat aktif dan gerakannya cepat (Richard & Davies, 1977). Peranan serangga ini sebagai hama tanaman seperti Paylla pyracola pada pear dan P. mati pada apel; sebagai vector penyakit tanaman seperti Diadhorina citri, merupakan vector utama penyakit CVPD pada jeruk di Indonesia (Borror et al, 1981; Kalshoven, 1980). Adanya Paylid khususnya pada tanaman cengkeh belum pernah dilaporkan walaupun Kalahoven (1980) menyebutkan adanya suatu Paylid pada Eugenia (jambu air dan jambu bol). Cirri-ciri paylid cengkeh adalah ; serangga dewasanya (imago) berwarna jingga tua, panjang 1,0 – 1,5 mm; dan aktif, nimfanya sedikit kemerahan, panjang 0,5 – 1,0 mm; bentuknya pipih dan ditutupi oleh lapisan bening berlilin berwarna putih.“paylid” adalah sebutan dari serangga-serangga dari suatu super family Paylloidae, ordo homoptera. Serangga dewasanya menyerupai tonggeret (cicada), ukuran kecil, umumnya sangat aktif dan gerakannya cepat (Richard & Davies, 1977). Peranan serangga ini sebagai hama tanaman seperti Paylla pyracola pada pear dan P. mati pada apel; sebagai vector penyakit tanaman seperti Diadhorina citri, merupakan vector utama penyakit CVPD pada jeruk di Indonesia (Borror et al, 1981; Kalshoven, 1980). Adanya Paylid khususnya pada tanaman cengkeh belum pernah dilaporkan walaupun Kalahoven (1980) menyebutkan adanya suatu Paylid pada Eugenia (jambu air dan jambu bol). Cirri-ciri paylid cengkeh adalah ; serangga dewasanya (imago) berwarna jingga tua, panjang 1,0 – 1,5 mm; dan aktif, nimfanya sedikit kemerahan, panjang 0,5 – 1,0 mm; bentuknya pipih dan ditutupi oleh lapisan bening berlilin berwarna putih

    Analisis Efisiensi Produksi Lada Pada Pola Usahatani Tradisional dan Pola Usahatani Intensif di Kabupaten Lampung Tengah

    No full text
    The pepper production efficiency analysis on traditional farm system and insentive farm system at Central lampung district.The study was conducted by using survey methods at Jabung and Sukadana sub district, Central Lampung. Salmpling was done by “purpose random sampling methods”. The analyse the relationship between yield and production factors, the Cobb Douglass production’s fungtion were used. The result showed that on the traditional farm system, the increasing yield could be done by expanding land area. While on insentive farm system the increasing yield could be done by adding the pruning frequency and fertilizer dosage

    Pengaruh Tekanan Uap dan Lama Penyulingan Terhadap Rendemen dan Daun Mutu Minyak Akarwangi

    No full text
    Vetiver oil is one of the Indonesian traditional export commodity since before the second world war. The main production area of vetiver oil in Indonesia is Garut, West Java This experiment was carried out to evaluate the influence of steam pressures (0.4 ,0.8 and 1.2 kg/cm­2) and distillation tme (8, 10 and 12 hours) on the oil yield and quality of the oil produce. Design of this experiment was a completely randomized. Design arranged fctorially with two replications. The vetiver used was origin from Garut –West Java.which has moisture and oil content 11.6 and 3.2%. resvectively. Distillation was carried out in a vessel of 120 litres  copacity and the weight of root for each batch/distillation was 6.3 kg.The result showed that the steam pressure and distillation time influenced oil yield and its specific gravity. Hawever. Interaction of both treatments influenced ester value either after or before acetylationof the oil. The optimim condition of distillationwas 1.2 kg/cm2 steam pressure and 10 hours of distillation time. While the oil yield of 2.3%. the characteristic of the oil were as follow”, specific gravity 1.0107. refractive index 1.4998. solubility in 95% ethanol was clear in 1:1 proportion, ester value 13 and ester value after actylation 146.2. The quality of the oil met the Indonesia Nasional Standar(SNI

    Peningkatan Kualitas Perakaran Setek Pucuk Pepermin (Mentha piperita L.) dengan Zat Pengatur Tumbuh 2,4-D

    No full text
    Disamping dengan setek stolon, pepermin dapat diperbanyak dengan setek pucuk maupun setek batang. Dalam upaya meningkatkan kualitas perakaran bibit, telah dilakukan pengujian zat pengatur tumbuh 2.4-D terhadap setek pucuk pepermin. Perlakuan terdiri atas pencelupan setek pucuk pepermin pada 0, 80, 160, 240, dan 320 ppb larutan 2.4-D selama 5x60 detik. Setelah mendapat perlakuan, setek ditumbuhkan pada media kultur air (hidroponik). Percobaan disusun dalam rancangan lingkungan acak kelompopk dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimal bagi jumlah akar dan bobot kering akar adalah 160 ppb 2.4-D. pada konsentrasi ini, kedua parameter tersebut nyata meningkat berturut-turut 41% dan 30% dari control

    180

    full texts

    357

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇