Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
    357 research outputs found

    Tingkat Serangan Hama Utama Lada Di Beberapa Kecamatan Di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

    No full text
    Pengamatan keberadaan hama utama lada telah di lakukan pada beberapa kecamatan di kabupaten Sambas,Kalimantan Barat dari bulan Desember 1990 sampai Januari 1991. Pegamatan ini bertujuan untuk mengetahuitingkat serangan dan populasi hama utama lada di empat kecamatan . pada setiap kecamatan dipilih dua desa dan dari tiap desa dipilih tiga kebun lada. Hasil pengamatan menujukan bahwa hama yang dominan adalah berturut-turut  hama bunga (Diconocoris hewetti), hama buah (Dasynus piperis) dan hama penggerek batang (Lophobaris piperis). Derah yang mendapat serangan serius hama bunga adalah kecamatan Sungai Raya, dengan rata-rata tingkat serangan 38.64%. sedangkan hama buah lebih banyak menyerang pada kebun lada di kecamatan  Semalantan. (18.68%). Penggerek  batang masih pada tingkat serangan yang rendah di semua kecamatan antara 4.41% hingga7.27%. Upaya pengendalian yang di laukan petan masih tetap mengandalkan pemakaian pestisida.Saat ini gairah petani dalam mengelola kebunnya termasuk pengendalian hama dan penyakit sangat menurun mengingat biaya yang di perlukan cukup besar sementara harga lada di pasaran sangat rendah

    Beberapa Keuntungan Penggunaan Bibit Lada Asal Setek Satu Ruas

    No full text
    Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cahaya Negeri lampung Utara dengan menggunakan : 1) Bibit siap tanam asal setek satu ruas 2) setek tujuh ruas asal sulur panjang, 3) setek tujuh ruas asal sulur cacing, dan 4) setek tujuh ruas asal sulur gantung. Bibit asal satu ruas dipersiapkan terlebih dahulu dipersemaian hingga mencapai tujuh ruas, sedangkans etek tujuh ruas ditanam langsung di kebun. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Masing-masing petak perlakuan terdiri atas 21 tanaman dengan jarak tanam 2.5 X 2.5 m. setelah 13 bulan hasil percobaan menunjukkan bahwa tanaman asal bibit setek satu ruas hanya memerlukan penyulaman sebanyak 19.05% yang ternyata sangat rendah jika disbanding dengan setek 7 ruas baik sulur panjang, sulur cacing maupun sulur gantung yang masing-masing memerlukan penyulaman sebesar 73.81, 83.33 dan 98.81%. keperluan bibit sulaman masing-masing berturut-turut 4.25, 34.0, 40.74 dan 54.0 bibit. Disisi lain, pada umur 13 bulan, tanaman asal setek satu ruas memiliki cabang buah rata-rata 14.49 per pohon sedangkan tanaman asal setek sulur panjat 2.66, sulur cacing 0.55 dan sulur gantung 0.23. pada umur 13 bulan, rata-rata tinggi tanaman asals etek satu ruas mencapai 124.57 cm sedangkan rata-rata tinggi tanaman asal setek sulur panjat, sulur cacing dan sulur gantung berturut-turut 35.76, 36.51 dan 23.47 cm. lebih lanjut lagi pada umur 13 bulan ini 25% tanaman asal bibit satu ruas telah berbunga sedangkan tanaman asal bibit lainnya belum ada yang berbunga. Ditinjau dari jumlah biaya untuk pengadaan bibit, bahan tanaman asal setek satu ruas relative lebih mahal dari sulur cacing atau sulur gantung tetapi tidak berbeda dengan biaya pengadaan bibit tujuh ruas asal sulur panjat

    Pengujian Beberapa Metode Isolasi Mikroorganisme Rimpang Jahe

    No full text
    testing of different isolation method of microorganisms from ginger rhizomes.Common method of isolation of pathogenic fungi from the rhizome of ginger is direct isolation planting. However, a modification is some time needed to find pathogenic and saphrophytic fungi in the rhizome. Nine midified methods of isolation were tested in the isolation of fungi from the rhizome of ginger collected from market and field, by using PDA medium. It was showed that by wasting diseased rhizomes, more species of fungi were isolated and the isolates grew more rapidly Particullarly storage fungi from rhizomes collected from market. Species of fungi were found in this study such as Cephalosporium sp., Trichoderma sp., Penicillium sp., Mucor sp., Aspergillus flavus, Aspergillus sp., Chalaropsis sp., Gliocladium sp., Rhizopus sp., Gloeosporium sp., Fusarium oxysporum, F. moniliformae, F. equiseti, Fusarium sp

    Pengaruh Mn, Ai, dan Dolomit Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cengkeh

    No full text
    Effect of Mn, Al and Dolomit on growth of clove.The effect om Mn, Al, Dolomit on growth of clove were investigated at laing Experimental Garden of Solok Spice and Medicinal Crops Research Sub Institute. A randomized block design with seven replications was used. Treatments contained tho levels doses of Mn (0 and 250 ppm), two levels doses of Al (0 and 50 ppm), and two levels doses of Dolomit (0 and 1000 g). the results showed that the applications of 250 ppm Mn per year per plant and 50 ppm Al per year per plant resulted in abscised symptoms on height, number of leaves, and score of growth. The abscised symptoms can be eliminated by Dolomit application of 1000 g per tree per year. The toxic effect of Mn and Al could be neutralized by Dolomit in same way

    Studi Pendahuluan Perkembangan Bunga Varietas Lada

    No full text
    Studi pendahuluan tentang biologi bunga beberapa varietas lada meliputi bentuk dan tahapan perkembangan bunga telah dilaksanakan di laboratorium Sub Balittro Natar. Varietas yang diamati adalah Petaling 1, petaling 2, Natar 1, Natar 2, Merapin, dan Paniyur. Pengamatan terhadap 3 tanaman sampel untuk setiap varietas, dilakukan setiap hari selama 2 bukan (sejak awal Oktober hingga November 1990). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua varietas memiliki bentuk bunga yang sama, yaitu hermaprodit tersusun dalam satu bulir, kecuali varietas Natar 2, selain memiliki bulir hermaprodit ada juga yang memiliki bulir jantan (masculer), sehingga varietas ini dapat dikatakan “Andromonoceus”. Bentuk kepala putiknya (stigma) menyerupai cabang mata bintang, rata-rata berjjumlah 4 cabang pada varietas Petaling 1 dan Paniyur; 3 cabang pada varietas petaling 2, Natar 1 dan Natar 2 dan 2 cabang pada varietas Merapin. Menurut perkembangan bunganya sejak bulir muncul dari seludang hingga seluruh bunga dalam bulir tersebut muncul, semua varietas memerlukan waktu yang sama, yaitu antara 28-30 hari, sedang variasi tahap perkembangan bunga antar varietas sedikit berbeda, kecuali antar varietas Petaling 1 dan Petaling 2

    Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh IAA dan IBA Pada Pembibitan Kapulaga Sabrang

    No full text
    Application of IAA and IBA as a plant growth regulator in the seed bed of cardamomThe research was intended to find out the effect of IAA and IBA (indole acetic acid and indole butyric acid) plant growth regulators in the seed bed of cardamom. It was implemented in the research Institute of Spices and Medicinal Crops, Bogor, in January up to April 1986. A randomized block design was applied with seven treatment i.e. control, IAA plat growth regulator with the concentration of 25, 50, 100 ppm, and IBA plant growth regulator with the concentration of 50, 100, and 150 ppm with three replications. The order kost Research result revealed that applying both plant growth regulators with those concentrations did not stimulate the growth of cardamom in the seed bed. It tended, however, to heighten the seedings, the amount of leaves and the weight of roots. Higher concentration of those plant growth regulators tended to retard the seed growth

    Penelitian Pendahuluan Tentang Penyusutan Bobot Buah Terong KB VAR. KDL Setelah Dipanen

    No full text
    Preliminary study on the weight losses of fruit of Solanum kharsianum var. KDL after harvesting.Processing of S. khasianum var. KDL fruit into glikoalkaloid and further into solasodine is too complicated to be done on planting site. Therefore, after harvesting, the fruit has to be stores on site, waiting for transportation to the processing area, and during the sequence, the harvest undergoes weight losses. A preliminary study was done at Manoko Experimental Garden, Lembang, West java (1200 m above sea level) to over-come the fruit weight loss. Two methods of harvest, i.e. (A) cutting with scissors, (B) pulling (hard picking) at five stages of fruit maturity, i.e: dark green (DG), yellowish green (YG), greenish yellow (GY), yellow (Y) and dark yellow (DY). The result showed that in average, harvesting by means of cutting reduced the fruit weight 6.32%, compared to 23.77% by pulling, while there was no significant difference in weight loss due to harvesting the fruit at different maturity stages, although harvesting at DG or Y stages tended to minimize the losses, i.e. 5.44% in case of cutting and 20.96% by pulling

    KARAKTER MORFOLOGIS DAN FISIOLOGIS TANAMAN NILAM DI BAWAH NAUNGAN DAN TANPA NAUNGAN

    Get PDF
    Nilam (Pogostemon cablin) merupakan tanaman semak yang dapat tumbuh di tempat ternaungi maupun terbuka. Namun perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman pada naungan 55% yang mempengaruhi hasil belum diketahui. Penelitian dilaksanakan sejak April sampai September 2015 di Kebun Percobaan Cimanggu, Bogor. Penelitian bertujuan untuk membandingkan perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman nilam yang mempengaruhi produksi dan mutu minyak nilam yang ditanam di bawah naungan 55% dan tanpa naungan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 20 ulangan. Parameter yang diamati adalah morfologi (jumlah daun, luas daun spesifik, tinggi tanaman dan jumlah cabang) dan fisiologi (kandungan air nisbi, jumlah klorofil, laju fotosintesis dan transpirasi), serta produksi terna dan hasil minyak. Data dikumpulkan dari masing-masing 20 sampel tanaman, dianalisis rata-rata dan standard error untuk menguji perbedaan antar perlakuan dan diuji lebih lanjut dengan analisis berganda Spearman untuk mengetahui hubungan antara parameter dengan hasil. Hasil penelitian menunjukkan tanaman nilam yang ditanam di bawah naungan 55% memiliki tinggi 87,05 cm, jumlah daun (576 helai), kandungan klorofil total (0,62 mg g-1), luas daun spesifik (191,57 g cm-2) dan laju fotosintesis (12,2 μmol CO2 m-2 s-1) lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanaman nilam yang ditanam tanpa naungan. Produksi terna kering 131,9 g tanaman-1 meningkat 300% dibandingkan dengan tanpa naungan, dengan kadar minyak 2,3%

    Pengaruh Perajangan dan Lama Pelayuan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Serai Dapur (Cymbopogon citratus DC. STAPF)

    No full text
    Suatu percobaan penyulingan serai dapur telah dilakukan di Laboratorium Teknologi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap bentuk factorial. Perlakuan yang diuji berupa : A) ukuran bahan tanaman, yaitu 1) dirajang dan 2) tidak dirajang; dan B) lama pelayuan terdiri atas a) 24, b) 48, c) 72 dan d) 96 jam. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa perajangan dan lama pelayuan berpengaruh nyata terhadap rendemen minyak. Kandungan nitrat serta sifat-sifat fisika minyak tidak dipengaruhi oleh kedua perlakuan tersebut. Bahan yang dirajang menghasilkan minyak lebih sedikit dibandingkan dengan bahan yang tidak dirajang. Pelayuan dapat meningkatkan rendemen minyak. Rendemen minyak tertinggi (1.50%) dihasilkan dari bahan yang tidak dirajang setelah dilayukan selama 96 jam. Kandungan sitrat serta sifat-sifat fisika minyak memenuhi persyaratan standar mutu menurut Essential Oil Association (EOA)

    Beberapa Aspek Biologi Hama Penggulung Daun Mentha Syngamia abruptalis Walk

    No full text
    Some biological aspects, life cycle, fecundity, mortality, leeding activity and sex ratio of menthe leaves suller, S. abruptalis WALK have been investigated. The observation were conducted in the entomological green house of the Research Institute for Spice and Medicinal Crops Bogor from April to July 1993. The results showed that the life cycle of this insect lasted 21 to 32 days, the range of fecundity 45-192 eggs per female with the percentage to become adult 29 percent. The sex ratio of male to female was 1 : 1. One larva consumed about 16.3 cm2 of menthe leaves or about 6.5 pieces of normal leaves during the stage

    180

    full texts

    357

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇