Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
Bacteriocin Activity of Lactic Acid Bacteria from Giant Prawn (Macrobrachium rosenbergii)
AbstractFood is one of the necessities of life. Food is often added with preservatives such as chemicals that harm human health. One of the safe natural preservatives is bacteriocin compounds. Bacteriocins can be produced by lactic acid bacteria (LAB). These bacteriocins have known as Generally Recognized as Safe (GRAS) status. This study aimed to isolate and identify BAL from the digestive tract of giant shrimp (Macrobrachium rosenbergii), as well as test the ability of the bacteriocin produced to the proteolytic enzyme, temperature, pH, and salt. The research methods used were bacterial isolation, bacterial characterization, hemolysis test, bacteriocin antibacterial activity tests, proteolytic enzyme influence tests on bacteriocin activity, temperature, pH, and salt content tests on bacteriocin activity, and antibiotic tests. The research results showed that there were 37 LAB isolates and there were 7 isolates that produced bacteriocins. The LAB isolated from the digestive tract of giant prawns is Gram-positive bacteria in the form of bacilli, catalase-negative, gamma hemolytic, methyl red positive, and homofermentative. The bacteriocins can inhibit the pathogenic bacteria Staphylococcus aureus and Escherichia coli and be degraded by the Protease-K enzyme. Moreover, the bacteriocins have the characteristics of being stable at acid to neutral pH (pH 2–7), stable at low and high temperatures (4–100 °C), and stable under conditions with a salt content of 2–6.5%. The results of the identification of LAB belonged to the Lactobacillus genus.AbstrakMakanan merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari manusia. Makanan sering kali ditambahkan bahan pengawet seperti bahan kimia yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan manusia. Salah satu alternatif bahan pengawet alami yang aman bagi kesehatan manusia adalah senyawa bakteriosin. Bakteriosin dapat dihasilkan dari bakteri asam laktat (BAL). Bakteriosin yang diproduksi oleh BAL sudah berstatus Generally Recognized as Safe (GRAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi BAL dari saluran pencernaan udang galah (Macrobrachium rosenbergii), serta menguji kemampuan bakteriosin yang dihasilkan terhadap enzim proteolitik, suhu, pH dan kadar garam. Metode penelitian yang dilakukan adalah isolasi bakteri, karakterisasi bakteri, uji hemolisis, uji aktivitas antibakteri bakteriosin, uji pengaruh enzim proteolitik, suhu, pH dan kadar garam terhadap aktivitas bakteriosin. Hasil isolasi terdapat 37 isolat BAL dan 7 isolat yang menghasilkan bakteriosin. BAL yang diisolasi dari saluran pencernaan udang galah merupakan bakteri Gram positif berbentuk basil, katalase negatif, gamma hemolisis, methyl red positif dan homofermentatif. Bakteriosin mampu menghambat bakteri patogen Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, dapat didegradasi oleh enzim Protease-K, stabil pada pH asam hingga netral (pH 2–7), stabil pada suhu rendah maupun tinggi (4°–100 °C) dan stabil pada kondisi dengan kadar garam 2–6,5%. Hasil identifikasi BAL dari usus udang galah yaitu bakteri termasuk dalam Genus Lactobacillus
Analysis of Microglia Morphology and Number in Wistar Rats Brain After CIDR1α-PfEMP1 Recombinant Protein Injection
AbstractOne malaria vaccine candidate is Cysteine-rich Interdomain Region 1α (CIDR1α) of Plasmodium falciparumErythrocyte Membrane Protein 1 (PfEMP1), an essential protein involved in the pathogenesis of cerebral malaria. Microglia in the brain act as the first line of defense against brain pathological changes. The study aimed to evaluate the response of brain microglia to the CIDR1α-PfEMP1 recombinant protein injection by observing microglia morphology and number in rat’s cerebral cortex. 12 Wistar rats were divided into the control group, which was injected with normal saline solution, and the treatment group, which was injected with 150 µg CIDR1α-PfEMP1 recombinant protein combined with adjuvants. Injection was conducted thrice within three-week intervals (day 1, 21, and 42). Wistar rats were euthanized on day 56, and histological slides were prepared with Hematoxylin-Eosin staining. Examination using a microscope, 400x, and Fiji Image J software showed microglia morphology of ramified and rod cells in both the control and treatment groups. The microglia number in the control group was 93.00 ± 5.77, and the treatment group was 105.75 ± 15.62. Statistical analysis using an independent t-test showed no significant differences between groups (p= 0.15). The result indicated that the injection of CIDR1α-PfEMP1 recombinant protein did not provoke pathological changes in brain tissue, which induced a microglia response. This study strengthens the potential of the CIDR1α-PfEMP1 recombinant protein as a peptide-based malaria vaccine candidate.AbstrakSalah satu kandidat vaksin malaria adalah Cysteine-rich Interdomain Region 1α (CIDR1α) dari Plasmodium falciparum Erythrocyte Membrane Protein 1 (PfEMP1), protein penting dalam patogenesis malaria serebral. Mikroglia di otak berperan sebagai pertahanan lini pertama terhadap perubahan di otak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respon mikroglia otak terhadap pemberian protein rekombinan CIDR1α-PfEMP1 dengan mengamati morfologi dan jumlah mikrolia pada korteks serebri otak tikus. 12 tikus Wistar dibagi dalam kelompok kontrol yang diinjeksi normal saline dan kelompok perlakuan diinjeksi 150 µg protein rekombinan CIDR1α-PfEMP1 yang dikombinasikan dengan adjuvant. Injeksi dilakukan tiga kali dengan interval tiga minggu (hari 1, 21, dan 42). Tikus dieuthanasia pada hari ke-56 dan preparat histologi otak disiapkan dengan pengecatan Hematoxyline-Eosin. Pengamatan menggunakan mikroskop 400x dan Fiji Image J software menunjukkan morfologi ramified dan rod cell pada kelompok kontrol maupun perlakuan. Jumlah mikroglia pada kelompok kontrol 93,00 ± 5,7 sedangkan kelompok perlakuan 105,75 ± 15,62). Analisis statistik menggunakan independent-t test menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara 2 kelompok (p= 0,15). Hasil ini mengindikasikan bahwa pemberian protein rekombinan CIDR1α-PfEMP1 tidak menimbulkan patologi pada jaringan otak yang memicu respon mikroglia. Hal ini menguatkan potensi protein rekombinan CIDR1α-PfEMP1 sebagai kandidat vaksin malaria berbasis peptida
The Utilization of Cajuput Leaf Waste as Organic Fertilizer on Plant Tomatoes Growth and Development
AbstractThe annual production of cajuput oil in Indonesia can reach 88,607 tons. This has implications on the accumulation of the waste. One of the efforts to reduce the amount of cajuput waste is to use this waste as organic fertilizer. This study aimed to determine the content of C, N, P, and K of cajuput leaf waste fertilizer and their effect on the growth and development of tomato plants (Lycopersicum esculentum L.). This study used a Completely Randomized Design (CRD) with P0+ treatment (EM4 fertilizer); P0- (no fertilizer); and treatment with the ratio (%) of cajuput leaf waste fertilizer: chicken manure, including P1 (100:0); P2 (75:25); P3(50:50); P4 (25:75); P5(0:100). The results showed that P2 treatment had a higher content of N-total (2.82%) and C-Organic (44.28%) with a C/N ratio of 15.70%, directly proportional to the results of the best vegetative growth response, indicated by a plant height of 125.75 cm, stem diameter 0.665 cm, and the 15.75 number of leaves. The P2 treatment was considered to have the best for tomato plant development by producing fruit sizes (diameter; length) up to 3.40 cm; 3.49 cm with a weight of 20 g.AbstrakProduksi tahunan minyak kayu putih di Indonesia bisa mencapai 88.607 ton. Hal ini berimplikasi pada penumpukan sampah. Salah satu upaya untuk mengurangi jumlah limbah daun kayu putih adalah dengan memanfaatkan limbah tersebut sebagai pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan C, N, P, dan K pupuk limbah daun kayu putih serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat (Lycopersicum esculentum L.). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Perlakuan P0+ (pupuk EM4); P0- (tanpa pupuk); dan perlakuan dengan perbandingan (%) pupuk limbah daun kayu putih dengan kotoran ayam, di antaranya P1 (100:0); P2 (75:25); P3 (50:50); P4 (25:75); P5 (0:100). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 memiliki kandungan N-total (2,82%) dan C-Organik (44,28%) yang lebih tinggi dengan rasio C/N 15,70%, berbanding lurus dengan hasil respon pertumbuhan vegetatif terbaik yang ditunjukkan oleh tinggi tanaman 125,75 cm, diameter batang 0,665 cm dan jumlah daun 15,75. Perlakuan P2 dinilai paling baik untuk perkembangan tanaman tomat dengan menghasilkan ukuran buah (diameter; panjang) hingga 3,40 cm; 3,49 cm dengan berat 20 g.
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Patin (Pangasius sp.) Setelah Pemberian Pakan Bersubstitusi Biji Ketapang (Terminalia catappa L.)
AbstrakPenggunaan biji tumbuhan yang mengandung protein tinggi sebagai bahan substitusi tepung ikan dalam pelet telah beberapa dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan patin (Pangasius sp.) setelah pemberian pakan bersubstitusi biji Terminalia catappa L. selama 12 minggu sebanyak 120 ekor ikan yang diberi pakan variasi substitusi tepung ikan: 0% (kontrol), 10, 15, dan 20%. Pertambahan bobot ikan (BWG), penambahan berat harian (DWG), pertambahan bobot mingguan (AWG), laju pertumbuhan relatif harian (SGR), pertambahan panjang total (LG), konversi pakan (FCR), efisien pakan (FE), dan kelangsungan hidup (SR) diukur setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi biji 10–20% dibandingkan dengan kontrol tanpa substitusi tidak ada beda nyata dalam parameter BWG, DWG, AWG, SGR, LG, FE dengan nilai tertinggi pada perlakuan 15% (P2) dan FCR 20% (P3). Sementara, SR berkisar 83,33–100%. Biji Ketapang dapat digunakan sebagai substitusi tepung ikan antara 10–20% untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang optimum.AbstractThe use of nut plant which contains high protein level as a substitution for fish meal in the diet of fish has been performed in some researches. This study was conducted to determine the growth and survival of catfish (Pangasius sp.) fed ketapang (Terminalia catappa L.) seeds substitution for fish meal in their test diet for 12 weeks. The aquarium contained 120 fish that fed various concentrations of substitution with ketapang seeds in the test diet, vis: 0% (control), 10, 15, and 20%. Fish weight gain (BWG), daily weight gain (DWG), weekly weight gain (AWG), relative daily growth rate (SGR), total fish length (Length gain), feed conversion (FCR), feed efficiency (FE), and survival (SR) were measured every week. The results showed that 10 to 20% ketapang seed substitution compare to control had no significant effect in term of BWG, DWG, AWG, SGR, Length gain. The highest FE was achieved at 15% substitution while FCR 20%. The SR showed the percentage ranges from 83.33–100%. This study concluded that ketapang seed can be used as a fish meal substitution from 10–20% for optimum growth and survival of catfish
Karakteristik Abon Ikan Sapu-Sapu (Pterygoplichthys pardalis) Hasil Iradiasi Sinar Gamma
AbstrakIkan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) memiliki potensi dijadikan bahan pangan alternatif karena ketersediaannya melimpah di Indonesia. Daging ikan sapu-sapu dapat dijadikan abon yang harus sesuai dengan SNI. Pengolahan abon menggunakan minyak menyebabkan abon mudah mengalami kerusakan sehingga diperlukan metode untuk memperpanjang masa simpan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik abon ikan sapu-sapu hasil radiasi gamma berdasarkan analisis proksimat, jumlah mikroba, kapang, dan organoleptik melalui uji hedonik. Daging ikan sapu-sapu diolah menjadi abon lalu diiradiasi dosis 0, 5, 10, dan 15 kGy kemudian disimpan selama 30 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma mampu memperpanjang masa simpan abon ikan sapu-sapu selama 30 hari. Nilai gizi protein, lemak, dan jumlah mikroba abon ikan sapu-sapu yang diiradiasi sinar gamma memenuhi syarat ketetapan abon ikan sesuai dengan SNI 01–3707 tahun 1995, kecuali untuk nilai kadar air dan kadar abu abon. Iradiasi sinar gamma mampu menekan pertumbuhan mikroba dengan dosis terbaik 15 kGy. Dosis 15 kGy merupakan dosis yang paling diterima pada parameter rasa diuji organoleptik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan abon ikan sapu-sapu dengan syarat mutu abon ikan berdasarkan SNI, menentukan dosis iradiasi dalam pengawetan abon ikan sapu-sapu dan mengetahui minat konsumen terhadap abon ikan sapu-sapu.AbstractArmored catfish (Pterygoplichthys pardalis) has potential to be used as alternative foodstuffs because its abundant in Indonesia. Armored catfish meat can be processed into shredded in accordance with provisions SNI value so it can be consumed. Shredded cooked processed used oil that will causes stale easily, there must be a method that can extend the shelf life of shredded. The purpose of this research was to determine the characteristics of shredded fish from gamma radiation based on proximate analysis, the number of microbes, molds, and organoleptics through hedonic tests. Armored catfish meat is processed into shredded and irradiated in doses 0, 5, 10, and 15 kGy and then stored for 30 days. The parameters measured were water content, ash content, protein, fat, microbial count, mold and organoleptic test. The results showed that gamma ray irradiation was able to extend the shelf life of the shredded fish for 30 days. The nutritional value of protein, fat and the number of microbial armored catfish shredded irradiated by gamma rays meet the requirements of the nutritional of shredded fish in accordance with SNI 01–3707 of 1995, except for ash content and water content. Gamma ray irradiation can reduce microbial growth with the best dose 15 kGy. Dose 15 kGy was a significant dose of the taste parameters in the organoleptic test. This research was conducted to determine the feasibility of shredded fish with SNI requirements, to determine the dose of irradiation in preserving shredded fish and to determine consumer interest in shredded fish
Aktivitas Inhibitor Lipase Ekstrak Daun Mangga Arum Manis dan Mangga Kweni Secara In Vitro
AbstrakObesitas disebabkan adanya kelebihan kalori dalam tubuh. Penurunan obesitas dapat dilakukan dengan cara menghambat penyerapan lemak sebagai sumber utama kelebihan kalori. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghambat penyerapan lemak adalah dengan menghambat aktivitas lipase pankreas. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan aktivitas inhibitor lipase ekstrak metanol daun mangga arum manis (Mangifera indica L. cv Arum manis) dan kweni (Mangifera odorata Griff.). Tahapan penelitian diawali dengan ekstraksi menggunakan metode maserasi lalu diikuti dengan uji kadar total fenol, kadar flavonoid, dan uji aktivitas inhibitor lipase ekstrak daun mangga arum manis serta kweni. Hasil uji kadar total fenol menunjukkan total fenol pada ekstrak daun mangga arum manis dan kweni berturut-turut yaitu 246,94 mg GAE/g dan 176,11 mg GAE/g. Kadar flavonoid daun mangga arum manis, yaitu 129,95 mg.QE/g, sedangkan daun mangga kweni yaitu 26,50 mg.QE/g. Masing-masing ekstrak diuji kemampuannya dalam menghambat lipase pankreas secara in vitro. Nilai IC50 ekstrak daun mangga arum manis dan kweni, yaitu 61,55 µg/mL dan 79,98 µg/mL. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan kontrol positif, yaitu orlistat (18,01 µg/mL). Dengan demikian, ekstrak daun mangga arum manis dan kweni dapat menghambat aktivitas lipase pankreas dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai antiobesitas.AbstractObesity is caused by excess calories in the body. Reducing obesity can be done by inhibiting the absorption of fat as the main source of excess calories. One way that can be done to inhibit fat absorption is by inhibiting pancreatic lipase activity. This research was conducted to determine the lipase inhibitor activity of methanol extract of arumanis (Mangifera indica L. cv Arumanis) and kweni (Mangifera odorata Griff.) mango leaves. The research stages began with extraction using the maceration method, followed by testing the total phenol content, flavonoid content, and testing the lipase inhibitor activity of arumanis and kweni mango leaf extracts. The results of the total phenol content test showed that the total phenol in Arumanis and Kweni mango leaf extracts was 246.94 mg GAE/g and 176.11 mg GAE/g, respectively. The flavonoid content of Arumanis mango leaves is 129.95 mg.QE/g, while that of Kweni mango leaves is 26.50 mg.QE/g. Each extract was tested for its ability to inhibit pancreatic lipase in vitro. The IC50 values of Arumanis and Kweni mango leaf extracts are 61.55 µg/mL and 79.98 µg/mL. This value is higher than the positive control, namely orlistat (18.01 µg/mL). Thus, Arumanis and Kweni mango leaf extracts can inhibit pancreatic lipase activity and have the potential to be developed as an anti-obesity agent
Pengembangan Primer Diagnostik Menggunakan Penanda mat-K Secara In Silico untuk Mendeteksi Kelangkaan Jenis Tumbuhan Di Indonesia
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi di dunia. Terdapat sekitar 40.000 jenis tumbuhan yang tumbuh di Indonesia dan sebagian besar tumbuhan sudah menunjukkan kelangkaan. Penentuan kelangkaan suatu jenis tumbuhan dapat diketahui berdasarkan distribusi populasinya, namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketidakstabilan genom akan terjadi pada jenis tumbuhan langka, karena tidak mampu beradaptasi pada ekosistem. Banyaknya tumbuhan yang terancam punah dan habitat asli yang rusak, maka mengharuskan para peneliti untuk mengetahui keberadaan dan melakukan pendataan terhadap keragaman jenis tumbuhan di Indonesia secara cepat. DNA barcoding merupakan teknik yang dikembangkan untuk mempercepat dan mempermudah proses identifikasi organisme dengan menggunakan potongan DNA tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari primer spesifik untuk mendeteksi status kelangkaan pada tumbuhan menggunakan penanda mat-K secara in silico. Gen mat-K merupakan penanda umum yang direkomendasikan untuk analisis pada tumbuhan. Metode yang digunakan yaitu dengan pendekatan secara in silico karena waktu yang diperlukan relatif lebih singkat dan murah. Penelitian ini berhasil mendapatkan sepasang primer forward 1:F_1635–1657 dan primer reverse 1:R_2093–2113 dengan persentase keberhasilan amplifikasi yang dicapai sebesar 66%. Kedepannya, primer ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi status kelangkaan pada tumbuhan.AbstractIndonesia is a country with the highest biodiversity wealth in the world. There are around 40,000 types of plants that grow in Indonesia and most of the plants are rare. Determining the rarity of a plant type can be determined based on its population distribution, but it takes quite a long time. Genome instability will occur in rare plant species, because they are unable to adapt to the ecosystem. The large number of plants that are threatened with extinction and their natural habitats are damaged requires researchers to quickly identify the existence and collect data on the diversity of plant species in Indonesia. DNA barcoding is a technique developed to speed up and simplify the process of identifying organisms using certain pieces of DNA. The aim of this research is to look for specific primers to detect rarity status in plants using mat-K markers in silico. The mat-K gene is a general marker recommended for analysis in plants. The method used is an in silico approach because the time required is relatively shorter and cheaper. This research succeeded in obtaining a pair of forward primers 1:F_1635–1657 and reverse primers 1:R_2093–2113 with a successful amplification percentage of 66%. In the future, this primer can be used to identify rarity status in plants
Diet, Feed Preferences, and Nutritional Intake of Hylobates albibarbis in Transit Cage BKSDA Kalimantan Tengah
AbstractHylobates albibarbis is a type of small primate that lives on the island of Borneo with a characteristic black face and white hair on the eyebrows, cheeks, and chin that resembles a beard. H. albibarbis feeding management is important in conservation efforts on ex-situ conservation because of animal welfare. This study aims to determine the composition of the diet, feed preferences and nutritional intake of feed given to H. albibarbis in transit cage at the Palangka Raya-Central Kalimantan Office for Conservation of Natural Resources (named Balai Konservasi Sumber Daya Alam-BKSDA) under the Directorate of Conservation of Natural Resources and Ecosystems of the Ministry of Environment & Forestry of the Republic of Indonesia. The methods used are focal animal sampling and restricted feeding observed in individual male adult and infant of H. albibarbis. The observations show that the feed preferred by adult H. albibarbis was the Ambon banana (98.21%) and the least preferred was the Kepok banana (74.26%). Otherwise, in infants H. albibarbis the most preferred feed was papaya (93.43%), and the least preferred feed was Ambon banana (58.10%). The average daily feed intake for adult H. albibarbis was 658.52 g, and for infant was 378.16 g. H. albibarbis in transit cage at the Palangka Raya BKSDA office, Central Kalimantan had good growth and healthy physical condition assumed from their body weight and length.AbstrakHylobates albibarbis merupakan kera kecil yang hidup di Pulau Kalimantan dengan ciri khas wajah berwarna hitam dan rambut berwarna putih pada alis, pipi, dan dagu yang menyerupai janggut. Pengelolaan pakan H. albibarbis penting dalam upaya konservasi dengan konservasi ex-situ untuk kesejahteraan hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi pakan, preferensi pakan, dan asupan nutrisi pakan yang diberikan pada H. albibarbis di kandang transit kantor BKSDA Palangka Raya Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan adalah focal animal sampling dan restricted feeding pada individu jantan dewasa dan jantan bayi H. albibarbis. Observasi dilakukan dalam durasi 12 jam selama 31 hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pakan yang disukai H. albibarbis dewasa adalah pisang Ambon (98,21%) dan yang tidak disukai adalah pisang Kepok (74,26%). Pakan yang disukai bayi H. albibarbis adalah pepaya (93,43%) dan yang tidak disukai adalah pisang Ambon (58,10%). Total asupan pakan harian untuk H. albibarbis dewasa adalah 658,52 g. Total asupan pakan harian untuk H. albibarbis bayi adalah 378,16 g. H. albibarbis di kandang transit kantor BKSDA Palangka Raya Kalimantan Tengah memiliki pertumbuhan yang baik dan kondisi fisik yang sehat berdasarkan berat badan dan panjang tubuhnya
Keragaman Kultivar Lokal Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam) di Kabupaten Kutai Timur-Kalimantan Timur, Indonesia
AbstrakUbi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lam) merupakan salah satu tanaman pangan yang memiliki banyak manfaat di beberapa daerah di Indonesia termasuk di Kabupaten Kutai Timur. Informasi tentang keragaman morfologi kultivar lokal ubi jalar diperlukan untuk pemuliaan tanaman ke depannya. Penelitian dilakukan pada Maret-Juli 2021 untuk mengetahui keragaman dan hubungan kekerabatan kultivar lokal ubi jalar berdasarkan karakter morfologi. Kultivar lokal ubi jalar diambil secara purposive sampling melalui metode jelajah di 11 kecamatan, Kabupaten Kutai Timur. Karakterisasi morfologi menggunakan 32 karakter berdasarkan panduan International Board for Plant Genetic Resource (IBPGR). Analisis klaster untuk melihat hubungan kekerabatan antar kultivar menggunakan software MVSP versi 3.1. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman kultivar lokal ubi jalar yang ada di Kutai Timur berdasarkan karakter daun (bentuk, tipe cuping), umbi (bentuk, warna daging), bunga (bentuk dan warna). Hasil analisis klaster membentuk dua kelompok besar dari 23 aksesi kultivar lokal ubi jalar yang ditemukan dengan koefisien 9,671. Kelompok A dengan satu anggota, yaitu kultivar lokal 9 (Gei Meng Hom) yang terpisah dari kultivar lokal lainnya berdasarkan karakter umbi. Kultivar ini dibudidayakan oleh masyarakat asli Kalimantan (suku Dayak Wehea). Kelompok B terdiri dari 22 aksesi kultivar lokal yang dapat dikelompokkan berdasarkan karakter daun.AbstractSweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam) is a food crop that has many benefits in several regions in Indonesia, including East Kutai Regency. Information about the morphological diversity of local sweet potato cultivars is needed for future plant breeding. The research was conducted from March-July 2021 with the aim of determining the diversity and relationships of local sweet potato cultivars based on morphological characters. The collection of local sweet potato cultivars was carried out using purposive sampling using the roaming method in 11 sub-districts, East Kutai Regency. Morphological characterization uses 32 characters based on the International Board for Plant Genetic Resources (IBPGR) guidelines. Cluster analysis to see the kinship relationships formed between local sweet potato cultivars using MVSP software version 3.1. The results of the research show the diversity of local sweet potato cultivars in East Kutai based on leaf characters (shape, lobe type), tubers (shape, flesh color), flowers (shape and color), as well as forming two large groups based on the results of cluster analysis on 23 accessions which was found with a coefficient of 9.671. Group A with one member, namely local cultivar 9 (Gei Meng Hom) which is separated from other local cultivars based on tuber characteristics and is a local cultivar of sweet potato cultivated by the indigenous people of Kalimantan (Wehea Dayak tribe). Group B consists of 22 local cultivar accessions resulting from community cultivation which can be grouped based on leaf characteristics.
Potensi Cendawan Xylaria sp. Sebagai Sumber Antioksidan
AbstrakPencegahan radikal bebas di dalam tubuh dapat dilakukan dengan menggunakan antioksidan. Cendawan Xylaria memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berasal dari metabolit sekunder yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami baru. Penelitian ini bertujuan menentukan potensi Xylaria sp. (strain F, D, C) sebagai sumber antioksidan melalui pengukuran aktivitas antioksidan dan kandungan total flavonoidnya. Cendawan ditumbuhkan pada media Potato Dextrose Yeast Extract Broth (PDYEB) dan diinkubasi 14 hari dengan kondisi gelap dan statis. Miselium cendawan digerus dengan bantuan nitrogen cair, kemudian ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut metanol sebanyak dua kali ulangan. Penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan kandungan total flavonoid ditentukan menggunakan metode alumunium klorida (AlCl3) yang dinyatakan ekuivalen kuersetin (QE). Seluruh sampel Xylaria sp. memiliki aktivitas antioksidan yang lemah dan kandungan flavonoid yang juga rendah. Xylaria sp. strain F memiliki aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 1915,14 ± 24,73 µg/mL dan Xylaria sp. strain D memiliki kandungan total flavonoid tertinggi sebesar 2,41 ± 0,09 mg QE/g ekstrak. Senyawa flavonoid pada sampel Xylaria sp. tidak menjadi senyawa utama yang menunjukkan aktivitas antioksidannya.AbstractPrevention of free radicals in the body can be done by using antioxidants. Xylaria fungus contains bioactive compounds derived from secondary metabolites that have the potential as a source of new natural antioxidants. This study aims to determine the potential of Xylaria sp. (strains F, D, C) as a source of antioxidants by measuring their antioxidant activity and total flavonoid content. The fungus was grown on Potato Dextrose Yeast Extract Broth (PDYEB) and incubated for 14 days in dark and static conditions. The mycelium of the fungus was crushed with the help of liquid nitrogen, then the extraction was carried out using methanol as a solvent for two repetitions. Antioxidant activity was determined using the 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) method and the total flavonoid content was determined using the alumunium chloride (AlCl3) method which is expressed as quercetin equivalent (QE). All samples of Xylaria sp. have the weakest antioxidant activity and lowest flavonoid content. Xylaria sp. strain F had the highest antioxidant activity of 1915,14 ± 24,73 µg/mL and Xylaria sp. strain D had the highest total flavonoid content of 2,41 ± 0,09 mg QE/g extract. The flavonoid compounds in the sample Xylaria sp. did not become the main compound showing antioxidant activity