Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
Analisis Ekspresi Gen MmCu/Zn-SOD dan Ketahanan Tanaman Kentang Kultivar IPB CP3 Transgenik Terhadap Cekaman Herbisida Parakuat
AbstrakPenggunaan herbisida parakuat untuk mengendalikan pertumbuhan gulma telah menjadi metode yang paling umum. Namun, penggunaan herbisida juga dapat menyebabkan kematian sel tanaman kentang yang sedang dibudidayakan, karena herbisida parakuat dapat menginduksi pembentukan senyawa Reactive Oxygen Species (ROS) yang dapat merusak sel tanaman. Ekspresi berlebih dari gen MmCu/Zn-SOD diharapkan dapat memberikan ketahanan tanaman terhadap cekaman herbisida parakuat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekspresi gen MmCu/Zn-SOD pada kentang transgenik IPB CP3 kultivar dan ketahanannya terhadap cekaman herbisida parakuat. Perlakuan herbisida parakuat dengan konsentrasi 75 µM pada tanaman transgenik (P3SOD6, P3SOD9, P3SOD17) dan non-transgenik (NT) secara in vitro menunjukkan bahwa semua tanaman transgenik lebih tahan terhadap cekaman parakuat dibandingkan tanaman non-transgenik. Klon P3SOD9 paling tahan terhadap herbisida parakuat, dengan perbandingan 10 tanaman hidup dari 12 tanaman yang diuji. Ekspresi gen MmCu/Zn-SOD pada galur transgenik lebih tinggi dibandingkan galur non-transgenik. Ekspresi relatif gen MmCu/Zn-SOD pada P3SOD9, P3SOD6, dan P3SOD17 secara berturut-turut lebih tinggi 233,22; 127,62; dan 3,18 kali dibandingkan ekspresi gen tersebut pada NT. Semakin tinggi ekspresi gen MmCu/ZnSOD, semakin tinggi ketahanan terhadap cekaman herbisida parakuat.AbstractThe use of paraquat herbicide to control weed growth has become the most common method. However, using the herbicide can also cause cell death in potato plants that are being cultivated because it can induce the formation of Reactive Oxygen Species (ROS) compounds that can damage plant cells. Overexpression of the MmCu/Zn-SOD gene is expected to provide resistance to paraquat herbicide stress. The study aimed to analyze the expression of the MmCu/Zn-SOD gene in transgenic potato cultivar IPB CP3 and its resistance to paraquat herbicide stress. In vitro treatment of transgenic (P3SOD6, P3SOD9, P3SOD17) and non-transgenic (NT) potato with 75 µM paraquat herbicide showed that all transgenic plants were more resistant to paraquat stress than that non-transgenic plants. The P3SOD9 clone was the most resistant to paraquat herbicide, with a ratio of 10 surviving plants of the 12 tested plants. The expression of MmCu/Zn-SOD in transgenic lines was higher than that in non-transgenic lines. The relative expressions of MmCu/Zn-SOD gene in P3SOD9, P3SOD6, and P3SOD17 were 233.22; 127.62; and 3.18 times higher than that of NT, respectively. The expression level of MmCu/ZnSOD correlates with the level of resistance to paraquat herbicide stress
Komposisi Pakan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus E. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812) di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta
AbstrakKemampuan untuk menemukan, memanen, dan memproses makanan sangat penting untuk kelangsungan hidup hewan. Pemilihan jenis pakan pada hewan sangat bergantung pada ketersediaan makanan di habitatnya dan adaptasi morfologi khususnya organ pencernaan hewan. Trachypithecus auratus adalah primata endemik Pulau Jawa, Bali, dan Lombok yang terdaftar sebagai satwa rentan oleh IUCN (vulnerable) dan CITES (Appendix II). Upaya konservasi Lutung Jawa antara lain dengan sistem ex-situ di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Pemberian jenis pakan yang disesuaikan dengan pakan alami Lutung Jawa menjadi salah satu upaya untuk mencapai kesejahteraan hewan konservasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengamati komposisi pakan populasi Lutung Jawa di Kebun Binatang Gembira Loka dengan total waktu 480 jam melalui metode scan sampling. Komposisi pakan Lutung Jawa yang diberikan oleh Kebun Binatang Gembira Loka terdiri adalah daun (7%), buah dan sayur (92%), dan suplemen (4%), Jenis pakan yang paling banyak dikonsumsi oleh Lutung Jawa di Kebun Binatang Gembira Loka adalah buah dan sayur. Hal ini menunjukkan perilaku makan Lutung Jawa di Kebun Binatang Gembira Loka berbeda dengan perilaku makan alaminya, yaitu sebagai pemakan daun (folivor) sehingga diperlukan penyesuaian komposisi pakan lutung Jawa di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.AbstractThe ability to find, harvest, and process food is critical to animal survival. The choice of food type for animals is very dependent on the availability of food in their habitat and morphological adaptations, especially the animal\u27s digestive organs. Trachypithecus auratus is a primate endemic to the islands of Java, Bali and Lombok which is listed as vulnerable by IUCN (vulnerable) and CITES (Appendix II). Javanese langur conservation efforts include an ex-situ system at the Gembira Loka Zoo, Yogyakarta. Providing types of feed that are compatible with the natural diet of Javan langurs is one of the efforts to achieve the welfare of conservation animals. Therefore, this research was conducted to observe the food composition of the Javan langur population at Gembira Loka Zoo for a total of 480 hours using the scan sampling method. The composition of the Javanese langur feed provided by the Gembira Loka Zoo consists of leaves (7%), fruit and vegetables (92%), and supplements (4%), where fruit and vegetable feed has the highest percentage of consumption by each individual. Apart from that, the group of food consumed was compared with wild populations from the results of research that has been carried out, where Javan langurs at the Gembira Loka Zoo consume more fruit and vegetables. This shows that the eating behavior of Javan langurs at Gembira Loka Zoo is different from their natural eating behavior, namely leaf eating (folivor), so it is necessary to adjust the food composition of Javan langurs at Gembira Loka Zoo, Yogyakarta
Morfologi Daun Durian (Durio zibethinus L.) dan Keanekaragaman Genetiknya Berdasarkan Marka ISSR
AbstrakData keanekaragaman durian (Durio zibethinus L.) yang terbatas merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pengelolaan dan pengembangannya di Indonesia. Keanekaragaman genetik dapat ditinjau berdasarkan ciri morfologi yang didukung dengan ciri molekuler. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kekerabatan antar aksesi berdasarkan dendrogram yang menggabungkan data morfologi daun dan polimorfisme Inter Simple Sequence Repeats (ISSR). Pengamatan ciri morfologi mengacu pada deskriptor durian dan ektraksi DNA dengan metode CTAB yang telah dimodifikasi. Setelah berhasil diekstraksi, DNA durian diamplifikasi dengan tujuh primer ISSR untuk analisis polimorfisme. Konstruksi dendrogram yang terbentuk merupakan hasil analisis menggunakan program NTSYS. Berdasarkan 15 ciri morfologi yang diamati terdapat 5 ciri yang sangat membedakan antara kelompok aksesi durian. Lai (D. kutejensis) memiliki daun lebih panjang hingga 24 cm dan lebar hingga 16 cm dibandingkan 28 aksesi durian dengan panjang hingga 16 cm dan lebar hingga 9 cm. Hasil amplifikasi diperoleh sebanyak 35 pita dan 31 pita bersifat polimorfik dengan persentase polimorfisme berkisar antara 66,7–100%. Persentase polimorfisme pada penelitian ini dapat mencapai 100% dengan primer ISSR 842, PKBT 4, dan PKBT 5. Konstruksi dendrogram ciri morfologi mempunyai koefisien kemiripan sebesar 0,56–0,91 dan membentuk dua kelompok yang tidak memisahkan aksesi-aksesi durian dengan Lai. Ciri polimorfisme ISSR dapat digunakan untuk merekonstruksi dendrogram menjadi dua kelompok dengan koefisien kemiripan sebesar 0,48–0,96. Dendrogram ciri polimorfisme ISSR secara tegas memisahkan aksesi-aksesi durian dengan Lai. Pohon kekerabatan 28 aksesi durian dan Lai di Kecamatan Serpong telah direkonstruksi untuk pertama kalinya.AbstractLimited data on the diversity of durian (Durio zibethinus L.) is one of the obstacles encountered in its management and development in Indonesia. Genetic diversity can be reviewed based on morphological characteristics supported by molecular characteristics. This study aimed to determine the relationship between accessions based on a dendrogram that combines leaf morphology and Inter Simple Sequence Repeats (ISSR) polymorphism data. Observation of morphological features refered to durian descriptors and DNA extraction using the modified CTAB method. After successful extraction, durian DNA was amplified with seven ISSR primers for polymorphism analysis. The dendrogram construction is formed the NTSYS program. Based on the 15 morphological characteristics observed, 5 characteristics greatly distinguished the durian accession group. Lai (D. kutejensis) had longer up to 24 cm and wider up to 16 cm leaves than 28 durian accessions with a length (16 cm) and width (9 cm). The amplification results were obtained 35 bands and 31 out of them were polymorphic with polymorphic PCR product ranged 66.7–100%. The percentage of polymorphism could reach 100% with ISSR 842, PKBT 4, and PKBT 5 primers. The dendrogram construction based on morphological characteristics had an interaction coefficient of 0.56–0.91 and formed two groups which did not separate durian accessions with Lai. The ISSR polymorphism feature can be used to reconstruct the dendrogram into two groups with a slope coefficient of 0.48–0.96. The dendrogram based on the ISSR polymorphism feature explicitly divides durian accessions with Lai. The cluster analysis of 28 durians and Lai accessions in Serpong District has been reconstructed for the first time
Perkecambahan Biji Anggrek Grammatophyllum stapeliiflorum Pada Media MS dengan Penambahan BAP Secara In Vitro
AbstrakGrammatophyllum stapeliiflorum merupakan jenis anggrek epifit dengan pertumbuhan vegetatif dan generatif yang relatif lambat. Anggrek ini termasuk ke dalam kelompok CITES Apendiks II. Kultur in vitro merupakan usaha perbanyakan paling efektif untuk tanaman anggrek. Penggunaan media kultur dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang tepat akan meningkatkan keberhasilan perkecambahan biji anggrek secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi media MS dan penambahan BAP terbaik terhadap perkecambahan anggrek G. stapeliiflorum secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan berupa variasi konsentrasi media MS dan BAP, yaitu: MS penuh; MS ½ hara makro; MS ¼ hara makro; MS penuh + 1 ppm BAP; MS ½ hara makro + 1 ppm BAP; dan MS ¼ hara makro + 1 ppm BAP. Parameter yang diamati pada penelitian ini, yaitu waktu muncul protokorm dan persentase tahap perkecambahan biji. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Duncan New Multiple Range Test dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BAP mampu mempercepat waktu muncul protokorm. Konsentrasi media MS ¼ hara makro + 1 ppm BAP merupakan konsentrasi terbaik untuk perkecambahan biji anggrek tahap 0 hingga tahap 3, sedangkan konsentrasi media MS ¼ hara makro merupakan konsentrasi terbaik untuk mencapai tahap 4 perkecambahan biji anggrek G. stapeliiflorum secara in vitro.AbstractGrammatophyllum stapeliiflorum is a type of epiphytic orchid with relatively slow vegetative and generative growth. This orchid is included in the CITES Appendix II group. In vitro culture is the most effective propagation method for orchid plants. The use of appropriate culture media and growth regulators will increase the success of orchid seed germination in vitro. This study aims to determine the effect of the best concentration of MS media and the addition of BAP on the germination of G. stapeliiflorum orchids in vitro. This study used a completely randomized design with 6 treatments and 4 replications. The treatments consisted of varying concentrations of MS and BAP media, namely: full MS; MS ½ macro nutrients; MS ¼ macro nutrients; full MS + 1 ppm BAP; MS ½ macro nutrients + 1 ppm BAP; and MS ¼ macro nutrients + 1 ppm BAP. The parameters observed in this study were the time when the protocorm appeared and the percentage of seed germination stages. Data were analyzed using the ANOVA test and the Duncan New Multiple Range Test with a level of 5%. The results of the study showed that administration of BAP was able to speed up the time when protocorm appeared. MS media concentration ¼ macro nutrients + 1 ppm BAP is the best concentration for stage 0 to stage 3 orchid seed germination, while MS media concentration ¼ macro nutrients is the best concentration for achieving stage 4 germination of G. stapeliiflorum orchid seeds in vitro.
Identification of Phytoplankton at Ephemeral Pond with Acidic pH in Bangka Regency
AbstractEphemeral waters, the temporary aquatic environment become an interesting habitat to explore extremophile organism, include phytoplankton. Furthermore, the waters have an acidic condition or low pH that impact to metabolisms, community structure, and diversity of phytoplankton. This study was conducted on June until August 2022 in Bangka Regency, Bangka Belitung Archipelago Province, Indonesia. We analyzed the phytoplankton presence at acidic ephemeral waters to indicated their potential as primary producer in food web, bioindicator, and ecological succession agent. This study was conducted by exploration method of phytoplankton diversity. The research observed and found five class and twelve genera that consist of class Chlorophyceae (genera Enteromorpha, Ankistrodesmus, Prasiola, Pleurococcus, and Coleochaete), class Rhodophyceae (genera Lemanea), class Diatoms (genera Diatoma, Synedra, and Navicula), class Xanthophyceae (genera Ophiocytium), and class Cyanobacteria (genera Oscillatoria and Anabaena). The class Chlorophyceae, genera Enteromorpha were the highest community at the both of acidic waters and they could survive at pH 3.52 + 0.5 to 3.71 + 0.8.AbstrakPerairan ephemeral, lingkungan perairan musiman menjadi suatu habitat yang menarik untuk mengeksplorasi organisme ekstremofil, termasuk fitoplankton. Lebih jauh lagi, perairan tersebut memiliki kondisi asam atau pH rendah yang berdampak pada metabolisme, struktur komunitas, dan diversitas fitoplankton. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2022 di Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia. Kami menganalisis keberadaan fitoplankton di perairan ephemeral asam untuk mengindikasikan potensi fitoplankton sebagai produsen utama, bioindikator dan agen suksesi lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksplorasi diversitas fitoplankton. Penelitian ini mengobservasi dan menemukan lima kelas dan dua belas genus yang terdiri atas kelas Chlorophyceae (genus Enteromorpha, Ankistrodesmus, Prasiola, Pleurococcus, dan Coleochaete), kelas Rhodophyceae (genus Lemanea), kelas Diatoms (genus Diatoma, Synedra, dan Navicula), kelas Xanthophyceae (genus Ophiocytium), dan kelas Cyanobacteria (genus Oscillatoria dan Anabaena). Kelas Chlorophyceae, genus Enteromorpha adalah komunitas tertinggi pada kedua perairan asam dan mampu bertahan pada pH 3.52 + 0.5 to 3.71 + 0.8
Uji Efektivitas Gel Hand Sanitizer Ekstrak Daun Sembung (Blumea balsamifera) Sebagai Antimikroba
AbstrakHand sanitizer merupakan salah satu bahan antiseptik yang yang praktis agar tubuh terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Hand sanitizer berbasis alkohol digunakan berlebihan dan terus menerus dapat mengakibatkan iritasi pada kulit. Kandungan yang terdapat dalam bahan alami sebagai alternatif pengganti alkohol antara lain flavonoid dan terpenoid yang terdapat di daun sembung (Blumea balsamifera). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas gel hand sanitizer dari ekstrak daun sembung pada berbagai konsentrasi. Serbuk daun sembung diekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 70%, kemudian dibuat gel dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20% ditambah carbopol 940, TEA, serta metil paraben. Sediaan gel hand sanitizer dievaluasi melalui uji organoleptis, pH, dan homogenitas selama 4 minggu. Setelah itu, dilakukan pengujian daya antiseptik dan aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans. Sediaan gel hand sanitizer ekstrak daun sembung memiliki konsistensi kental, warna hijau kehitaman, aroma khas daun sembung, homogenitas baik, dan nilai pH 6. Sediaan ini juga memiliki daya antiseptik yang baik mampu mengurangi jumlah koloni hingga 95% sama dengan sediaan gel berbasis etanol. Sediaan gel konsentrasi 20% memiliki zona hambat yang sangat kuat terhadap S. aureus dan C. albicans, serta kuat melawan E. coli. Gel hand sanitizer ekstrak Blumea balsamifera menunjukkan aktivitas antimikroba dan dapat digunakan menjadi kandidat agen antimikroba organik alami.Kata kunci: Antimikroba; Antiseptik; Ekstrak Blumea balsamifera; Hand sanitizer AbstractHand sanitizer is one of antiseptic so that our body avoids diseases caused by microorganism. Hand sanitizer based on ethanol using continuously can cause skin irritation. The secunder metabolit contained in herbal as an alternative to hand sanitizer based ethanol contained flavonoid and terpenoid, are found in sembung leaves (Blumea balsamifera). The aim of this study is to determine the effectiveness of hand sanitizer gel from sembung leaf extract at various concentrations. Sembung leaf was extracted by maceration using 70% ethanol, and then gel was made with concentrations of 10%, 15%, and 20% plus carbopol 940, TEA, methyl paraben. The hand sanitizer gel preparation was evaluated through organoleptic, pH, and homogeneity tests for 4 weeks. After that, antiseptic activity and antimicrobial activity were tested against Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Candida albicans. The hand sanitizer gel preparation of sembung leaf extract has a thick consistency, blackish green color, a distinctive aroma of sembung leaves, good homogeneity, and a pH value of 6. The gel with a concentration of 20% had a very strong zone of inhibition against S. aureus and C. albicans, also strong against E. coli. Blumea balsamifera extract hand sanitizer gel exhibits antimicrobial activity and can be used as a candidate natural organic antimicrobial agent
Keanekaragaman Makroinvertebrata di Sungai Kampai, Bengkulu
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman makroinvertebrata di Sungai Kampai, Bengkulu. Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun, yaitu Muara Simpur, Pagar Agung, dan Lubuk Gio dengan dua kali periode sampling setiap stasiun, yaitu April 2019 mengikuti puncak musim hujan dan September 2019 mengikuti puncak musim kemarau. Pengambilan sampel makroinvertebrata menggunakan metode three minutes sampling. Hasil penelitian ditemukan 501 individu makroinvertebrata yang terdiri dari 25 spesies (24 genus; 22 famili; 5 kelas; 4 filum). Epeourus aculeatus merupakan spesies dengan kelimpahan relatif tertinggi secara keseluruhan, yaitu sebesar 62,08%. Indeks keanekaragaman (H’) berturut-turut adalah 1,72; 1,13; 1,80 mengindikasikan bahwa Sungai Kampai mengalami degradasi ringan. Jumlah individu Ephemeroptera, Plecoptera, dan Trichoptera (EPT) per stasiun dari hulu ke hilir adalah 128; 196; dan 20 dengan Indeks Biotik Famili (IBF) adalah 3,34; 4; dan 4. Berdasarkan gabungan dari beberapa indeks ini menunjukkan bahwa kondisi Sungai Kampai masih tergolong sangat baik.AbstractThis research aims to analyze macroinvertebrate diversity in the Kampai River, Bengkulu. Sampling was carried out at three stations, namely Muara Simpur, Pagar Agung, and Lubuk Gio with two sampling periods for each station, namely April 2019 following the peak of the rainy season and September 2019 following the peak of the dry season. Macroinvertebrate sampling used the three minutes sampling method. The research results found 501 macroinvertebrate individuals consisting of 25 species (24 genera; 22 families; 5 classes; 4 phyla). Epeourus aculeatus is the species with the highest relative abundance overall, namely 62.08%. The diversity index (H\u27) is 1.72; 1.13; 1.80 indicates that the Kampai River is experiencing mild degradation. The number of Ephemeroptera, Plecoptera and Trichoptera (EPT) individuals per station from upstream to downstream is 128; 196; and 20 with a Biotic Family Index (IBF) of 3.34; 4; and 4. Based on a combination of several indices, it shows that the condition of the Kampai River is still considered very good.
Fish Community Structure The Dry Season in The Cipeles River, Sumedang Regency, West Java Province, Indonesia
AbstractCipeles River is a sub-watershed of the Cimanuk River that flows in Sumedang Regency, Indonesia. The upstream is located in Sukasari District and flows into Tomo District. This study aimed to determine the fish community structure in the Cipeles River during the dry season. This research was conducted from September to December 2020 using field observation methods and purposive sampling techniques at three stations (Station 1 at 6°48′59.5″S and 108°01′22.5″E; Station 2 at 6°48′56.2″S and 108°01′32.3″E; and Station 3 at 6°47′3.7″S and 108°05′44″E) data analysis employed descriptive-comparative. Parameters observed are abundance, diversity, dominance, uniformity, community structure, and water quality. The results showed that from 566 caught fish the diversity index is low with a value of 0.86–0.89, a moderate dominance index with a value of 0.55–0.62, and a low uniformity index of 0.16–0.17. Based on the three index values, it can be concluded that the fish community structure the dry season in the Cipeles River is categorized as depressed, caused by the high influence of total suspended solids that have exceeded the water quality threshold value for fisheries (according to regulation of the Government of the Republic of Indonesia Number 22 of 2021 on Spatial Management) with concentrations ranging from 67 mgL-1 to 74 mgL-1.AbstrakSungai Cipeles merupakan sub DAS dari Sungai Cimanuk yang mengalir di Kabupaten Sumedang, Indonesia. Hulunya terletak di Kecamatan Sukasari dan mengalir ke Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan di Sungai Cipeles pada musim kemarau. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Desember 2020 dengan menggunakan metode pengamatan lapangan dan teknik purposive sampling pada tiga stasiun (Stasiun 1 di 6°48′59.5″LS dan 108°01′22.5″BT, Stasiun 2 di 6°48′56.2″ S dan 108°01′32.3″BT, dan Stasiun 3 di 6°47′3.7″LS dan 108°05′44″E). Analisis data menggunakan deskriptif-komparatif. Parameter yang diamati adalah kelimpahan, keragaman, dominasi, keseragaman, struktur komunitas, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 566 ikan yang ditangkap indeks keragamannya rendah dengan nilai 0,86–0,89, indeks dominansi sedang dengan nilai 0,55–0,62, dan indeks keseragaman rendah 0,16–0,17. Berdasarkan ketiga nilai indeks tersebut dapat disimpulkan bahwa struktur komunitas ikan pada musim kemarau di Sungai Cipeles dikategorikan tertekan, disebabkan oleh tingginya pengaruh total padatan tersuspensi yang telah melebihi nilai ambang batas kualitas air untuk perikanan (menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penataan Ruang) dengan konsentrasi berkisar antara 67 mgL-1 sampai dengan 74 mgL-1
Hubungan Kekerabatan Padi Lokal di Kecamatan Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat Berdasarkan Karakter Morfologi
AbstrakOryza sativa memiliki banyak varietas yang merupakan sumber gen untuk mengendalikan sifat-sifat penting pada padi. Varietas padi lokal memiliki keunggulan seperti tahan terhadap hawar daun bakteri, blas daun, dan kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan varietas padi lokal di Kecamatan Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilakukan pada bulan April hingga September 2022 di lahan petani. Pengamatan terhadap 50 karakter morfologi batang, daun, malai, dan gabah/biji dilakukan selama pertumbuhan tanaman di lahan petani. Hasil penelitian diperoleh 12 varietas padi lokal yang semuanya merupakan padi Gogo/Ladang. Karakter vegetatif sebanyak 23 karakter yang terdiri dari 9 karakter bervariasi, 8 karakter tidak bervariasi, dan 6 karakter kuantitatif. Karakter generatif terdiri dari 27 karakter meliputi 14 karakter bervariasi, 5 karakter tidak bervariasi, dan 8 karakter kuantitatif. Berdasarkan analisis pengelompokan 12 varietas padi lokal memiliki tingkat kemiripan sebesar 60% dan terbagi menjadi 4 klaster pada tingkat kemiripan 64%. Klaster 1 terdiri dari varietas Padi Hitam (PH); klaster 2 yaitu Padi Merah (PM), Padi Serendah (PSE), Padi Lele (PL), Padi Rapi (PR), Raja Lele (RJ), dan Pulut Merah (PUM); klaster 3 yaitu padi Panda (PP), Umbang Wangi (UW), dan Umbang Ketupat (UK): klaster 4 yaitu Pulut Siam (PS) dan Pulut Minyak (PMI).Kata Kunci: Karakter morfologi; Kekerabatan; Padi lokal; Teluk BatangAbstractOryza sativa has many varieties which are sources of genes for controlling important traits in rice. Local rice varieties have advantages such as resistance to bacterial leaf blight, leaf blast and drought. This research aims to determine the relationship between local rice varieties in Teluk Batang District, North Kayong Regency based on morphological characters. The research was conducted from April to September 2022 on farmers\u27 land. Observations of 50 morphological characters of stems, leaves, panicles and grain/seeds were carried out during plant growth on farmers\u27 land. The research results obtained 12 local rice varieties, all of which are upland/field rice. There are 23 vegetative characters consisting of 9 varied characters, 8 unvaried characters and 6 quantitative characters. Generative characters consist of 27 characters including 14 varying characters, 5 non-varying characters, and 8 quantitative characters. Based on the grouping analysis, 12 local rice varieties have a similarity level of 60% and are divided into 4 clusters at a similarity level of 64%. Cluster 1 consists of Black rice varieties (PH), cluster 2 is Red rice (PM), Sedunia rice (PSE), Lele rice (PL), Rapi rice (PR), Raja lele (RJ), and Red pulut (PUM) , cluster 3 namely Panda rice (PP), Umbang wangi (UW), and Umbang ketupat (UK), cluster 4 namely Pulut siam (PS) and Pulut oli (PMI)
Vegetasi Riparian dan Komunitas Makrozoobentos di Situ Gintung Sebagai Pendukung Konservasi Air Kawasan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
AbstrakSitu Gintung merupakan ekosistem perairan yang sangat penting dalam konservasi perairan di Kawasan Kampus 2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Riparian merupakan vegetasi yang tumbuh di tepi perairan dan berpotensi sebagai habitat dan sumber makanan bagi ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur vegetasi riparian dan pengaruhnya terhadap keanekaragaman makrozoobentos di Situ Gintung. Titik pengambilan sampel terdiri dari 8 stasiun dengan 3 kali pengulangan. Analisis hubungan vegetasi riparian dengan makrozoobentos diuji dengan regresi linier sederhana dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi riparian yang terdapat pada 8 stasiun terdiri dari 2 kelas (Magnoliopsida dan Liliopsida), 11 spesies dengan nilai indeks keanekaragaman (H\u27) sebesar 1,517. Makrozoobentos yang ditemukan terdiri dari 2 kelas (Gastropoda dan Crustacea) 7 spesies dengan nilai indeks keanekaragaman (H\u27) sebesar 1,112. Hasil analisis regresi menunjukkan adanya korelasi antara vegetasi riparian dengan kepadatan makrozoobentos yang tergolong sempurna (0,972). Hal ini menunjukkan bahwa vegetasi riparian di Situ Gintung berkorelasi positif dengan keanekaragaman makrozoobentos.AbstractSitu Gintung is an aquatic ecosystem that is very important in water conservation in the Campus 2 Area of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Riparian is vegetation that grows at the edge of water and has the potential to serve as habitat and food source for aquatic ecosystems. This research aims to determine the structure of riparian vegetation and its influence on macrozoobenthos diversity in Situ Gintung. The sampling point consists of 8 stations with 3 repetitions. Analysis of the relationship between riparian vegetation and macrozoobenthos was tested using simple linear regression and Pearson correlation. The research results showed that the riparian vegetation was found at 8 stations consisting of 2 classes (Magnoliopsida and Liliopsida), 11 species with a diversity index (H\u27) value of 1.517. The macrozoobenthos found consisted of 2 classes (Gastropoda and Crustacea) 7 species with a diversity index (H\u27) value of 1.112. The results of the regression analysis showed that there was a correlation between riparian vegetation and macrozoobenthos density which was classified as perfect (0.972). This shows that riparian vegetation in Situ Gintung is positively correlated with macrozoobenthos