Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    Identifikasi Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Karang Lunak Nephthea sp. Hasil Transplantasi Secara In Situ dan Ex Situ

    Get PDF
    AbstrakKarang lunak (Nephthea sp.) menghasilkan metabolit sekunder di habitat aslinya dan dapat dikembangkan menjadi marine natural product (MNP). Nephthea sp. hasil transplantasi diharapkan juga menghasilkan metabolit sekunder yang sama. Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi metabolit sekunder secara kualitatif dan kuantitatif pada Nephthea sp. hasil transplantasi serta menguji aktivitas antioksidannya. Sampel Nephthea sp. berasal dari Taman Nasional Ujung Kulon (in situ) dan dari akuarium sebagai sampel transplantasi ex situ. Kedua sampel diekstraksi dengan maserasi menggunakan etanol 70% dengan perbandingan 1:3 (w/v). Identifikasi metabolit sekunder dilakukan secara kualitatif dan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk identifikasi kuantitatif. Aktivitas antioksidan menggunakan uji DPPH (2,2-difenil-1-1 pikrilhidrazil) dengan lima konsentrasi dari setiap sampel (10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm). Nephthea sp. hasil transplantasi memiliki metabolit sekunder golongan alkaloid, tanin, dan steroid. Hasil uji GC-MS menunjukkan terdapat enam jenis senyawa aktif golongan benzene dan fatty acid. Aktivitas antioksidan diperoleh 34,3–73,1% (in situ) dan 33,2–72,3% (ex situ) serta berbeda nyata (P <0,05) pada setiap konsentrasi dari dua sampel. Peningkatan aktivitas antioksidan Nephthea sp. tidak berbeda signifikan (P >0,05) pada perbedaan lokasi transplantasi (in situ dan ex situ). Nephthea sp. hasil transplantasi mengandung enam jenis senyawa metabolit sekunder dan memiliki aktivitas antioksidan.AbstractSoft corals (Nephthea sp.) produce secondary metabolites in their habitat and can be used as marine natural products (MNP). However, Nephthea sp. transplantation not done identified for secondary metabolites. The aim research to identify secondary metabolites and antioxidant activity assay in Nephthea sp. transplant. Samples of Nephthea sp. used from the transplant area of Ujung Kulon National Park (in situ) and from the aquarium as ex situ transplant samples. Both samples extracted by maceration with 70% ethanol (1:3, w/v). Identification of secondary metabolites was carried out qualitatively and using the GC-MS method for quantitative. Antioxidant activity using the DPPH (2,2-diphenyl-1-1 picrylhydrazyl) assay. with concentrations of each sample (10 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, and 200 ppm). Nephthea sp. proven to have secondary metabolites from the alkaloids, tannins and steroids. The result of GC-MS showed that six types of active compounds from the benzene and fatty acid groups. Antioxidant activity obtained was 34.3–73.1% (in situ) dan 33.2–72.3% (ex situ) and was significantly different (P <0.05) at each concentration of the two samples. Antioxidant activity at different transplant locations (in situ and ex situ) in Nephthea sp. did not a significant (P >0.05). Thus, Nephthea sp. transplant were proven to contain six types of secondary metabolite compounds and has antioxidant activity

    Skrining Antibakteri dan Identifikasi Molekular Bakteri Asam Laktat dari Fermentasi Buah Kakao Merah (Theobroma cacao L. Varietas Criollo) Terhadap Bakteri Shigella dysenteriae

    Get PDF
     AbstrakKakao merupakan salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang berperan sebagai habitat tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme yang baik. Salah satu bakteri yang dapat tumbuh dikomoditas tersebut yakni Bakteri Asam Laktat (BAL) yang berguna untuk kesehatan pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat BAL yang memiliki aktivitas antibakteri tinggi terhadap Shigella dysenteriae dari fermentasi buah kakao merah (Theobroma cacao L. varietas criollo). Skrining antibakteri terhadap S. dysenteriae dilakukan dengan metode difusi cakram dan BAL yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi selanjutnya dilakukan identifikasi molekular dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Sepasang primer 27F dan 1492R digunakan untuk amplifikasi gen 16S rRNA BAL dan dilanjutkan dengan sekuensing. Identifikasi hasil sekuensing dilakukan dengan penyejajaran data pada program BLAST. Hasil Penelitian menemukan isolat KAT372 merupakan isolat yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dari 6 isolat yang ditemukan pada fermentasi buah kakao merah. Isolat ini memiliki kemiripan 99% terhadap Lactobacillus fabifermentans strain DSM 21115. Isolat BAL dari fermentasi buah kakao merah dapat dimanfaatkan sebagai sumber antibakteri alami terhadap S. dysenteriae.AbstractCacao is one of Indonesia\u27s plantation commodities and is a natural resource that has an important role as a habitat for the growth and development of various good microorganisms. One of them is Lactic Acid Bacteria (LAB), which is good bacteria for digestive health. This study aims to obtain LAB isolates that have high antibacterial activity against Shigella dysenteriae from fermented red cacao fruit (Theobroma cacao L. criollo variety). Antibacterial screening against Shigella dysenteriae was carried out using the disc diffusion method and LAB which had the highest antibacterial activity followed by molecular identification with the Polymerase Chain Reaction (PCR) technique. A pair of 27F and 1492R primers were used for amplification of the 16S rRNA BAL gene and continued with sequencing. The identification of sequencing results was carried out by aligning the data in the BLAST program. The results found that KAT372 isolate was the isolate that had the highest antibacterial activity of the 6 isolates found in the fermentation of red cacao fruit. This isolate has 99% similarity to Lactobacillus fabifermentans strain DSM 21115. LAB isolate from fermented red cacao fruit can be used as a source of natural antibacterial against S. dysenteriae in maintaining digestive health later

    Deteksi dan Kuantifikasi Cemaran Babi pada Sampel Olahan Daging Menggunakan Real-time PCR

    Get PDF
     AbstrakMetode pengujian cemaran babi menjadi faktor penting dalam sertifikasi produk halal. Metode yang cepat dan robust diperlukan untuk deteksi dan kuantifikasi cemaran babi. Metode Real-time PCR atau dikenal dengan istilah quantitative PCR (qPCR) merupakan metode alternatif untuk deteksi dan kuantifikasi cemaran babi berdasarkan residu keberadaan DNAnya pada sampel olahan pangan. Metode ekstraksi DNA dan kit amplifikasi yang tahan terhadap inhibitor menjadi kunci keberhasilan penggunaan qPCR untuk pendeteksian dan kuantifikasi cemaran babi. Pendeteksian cemaran DNA dengan probe qPCR digunakan karena mempunyai kelebihan tahan terhadap inhibitor, cepat, spesifik, dan multipel target. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan menguantifikasi cemaran DNA babi menggunakan metode ekstraksi DNA secara cepat dan qPCR. Tahapan penelitian ini adalah ekstraksi DNA, amplifikasi, deteksi, dan kuantifikasi DNA babi. Sampel berasal dari produk olahan pangan, seperti bakso, sosis, daging burger, siomay, kuah daging, dan daging isi roti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat cemaran babi pada sampel bakso, daging burger, dan kuah bakso. Hasil yang didapatkan menunjukkan bakso memiliki persentase kontaminasi sejumlah 25%, sedangkan kuah daging sejumlah 12,5%. Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan untuk laboratorium penguji makanan sebagai metode deteksi cemaran babi dalam produk pangan secara cepat dan akurat.AbstractPork contamination testing method is an important factor in halal product certification. A fast and robust method is needed for the detection and quantification of pig contamination. Real-time PCR method or commonly known as quantitative PCR (qPCR) is an alternative method for the detection and quantification of pork contamination based on the pig’s DNA residual presence in processed food samples. DNA extraction method and inhibitor-resistant amplification kit are the keys of successful qPCR implementation for the detection and quantification of pig contamination. Detection of DNA contamination with qPCR probe is used because it has some advantages, such as resistant to inhibitors, fast, specific, and multiple targets. This research aimed to detect and quantify pig’s DNA contamination using rapid DNA extraction method and qPCR. The stages of this research were pig’s DNA extraction, amplification, detection, and quantification. The samples taken from processed food products, such as meatballs, sausage, burgers’ meat, dumplings, meat broth, and meat filled in the bread. The results showed that there was pork contamination in the samples of meatballs, burgers’ meat, and meat broth. The results showed that the meatballs had a contamination percentage of 25%, while the meat broth had a contamination percentage of 12.5%. The results of this study can be a recommendation for food testing laboratories as a method of detecting the pork contamination in food products quickly and accurately

    In-vitro Callus Development and The Bioactive Compounds of Tomato (Lycopersicon esculentum Mill.)

    Get PDF
     AbstractBioactive compounds in tomatoes can be produced through the development of callus culture. This study aimed to investigate callus development and observe bioactive compounds and antioxidant activities in explants and callus. The cotyledon and hypocotyl from the sprouts were induced to form callus on Murashige and Skoog (MS) medium supplemented with NAA 2.5 mg/L combined with kinetin 0.5 mg/L and 2,4 D 1 mg/L. All parts of seedling and callus were analyzed for their bioactive compounds and antioxidant activity using Spectrophotometer UV-Vis, whereas the other bioactive compounds were identified by Gas Chromatography-Mass Spectrophotometry. This research applied a Completely Randomized Design with sample sources of tomato sprout and callus from cotyledon and hypocotyl, with 3 replicates. The result showed that friable callus was able to be developed from both explants through the addition of NAA-Kin to MS medium. The three compounds were observed in callus and all explants. These calluses produced high antioxidant compounds from their pigments and ascorbic acid. The metabolites will be analyzed according to the perspective of their role. Major groups of compounds from GC-MS are dominated by hydrocarbons. Callus culture has a potential as the source of bioactive compounds.AbstrakSenyawa bioaktif pada tomat dapat diproduksi melalui kultur kalus, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan kalus dan mengobservasi jenis senyawa bioaktif serta aktivitas antioksidan pada eksplan dan kalus. Kotiledon dan hipokotil  dari kecambah diinduksi membentuk kalus di dalam medium MS dengan penambahan NAA 2,5 mg/L dan kinetin 0,5 mg/L, maupun 2,4 D 1 mg/L tunggal.  Semua bagian kecambah dan kalus dianalisis kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidannya dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Sementara itu, senyawa bioaktif lainnya diidentifikasi dengan menggunakan Kromatografi Gas-Spektrofotometer Massa. Penelitian ini dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor sumber eksplan : kecambah, kalus yang berasal dari kotiledon maupun dari  hipokotil disertai 3 ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus remah dapat berkembang dari semua bagian kecambah pada medium MS dengan penambahan NAA dan kinetin. Terdapat tiga senyawa yang diobservasi baik pada kalus maupun sumber eksplannya. Kalus tersebut menghasilkan senyawa antioksidan yang tinggi, berdasarkan dari kandungan pigmen dan dari asam askorbat. Metabolit-metabolit tersebut akan dianalisis lebih lanjut terhadap peranannya. Kelompok senyawa yang terbanyak dari hasil GC-MS didominasi oleh hidrokarbon. Kultur kalus memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif tanaman

    Assesmen Risiko Ekologi (ARE) Perikanan Tuna Pole and Line di Flores dan Tonda di Flores dan Pelabuhanratu

    Get PDF
    AbstrakKegiatan perikanan tuna dengan penggunaan alat tangkap pole and line dan tonda berisiko menyebabkan kerentanan (risiko ekologi) yang dapat menganggu keberlanjutan stok tuna. Untuk itu dilakukan penelitian menilai kerentanan menjadi parameter risiko ekologi menggunakan pendekatan analisis productivity dan susceptability analysis (PSA) pada jenis ikan tuna sirip kuning (ukuran baby tuna), tongkol, lemadang, dan cakalang. Pengumpulan data biologi dan ekologi dari alat tangkap pole and line dilakukan di Flores dan pancing tonda di Pelabuhanratu. Selanjutnya, analisis laboratorium dilakukan pada Laboratorium Biologi Perikanan, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Hasil analisis produktivitas dan susceptabilitas alat pole and line untuk ikan baby tuna 1,42 dan ikan tongkol 1,98. Nilai ini menunjukkan tingkat kerentanan dan risiko ekologi pada ikan tongkol tergolong tinggi dan ikan baby tuna masih rendah. Analisis PSA dari alat pancing tonda pada ikan baby tuna diperoleh sebesar 2,34; ikan lemadang sebesar 2,34; dan ikan cakalang 2,18. Nilai ini menunjukkan bahwa kerentanan tinggi dan risiko ekologi pada ketiga jenis ikan tersebut juga tinggi karena penggunaan pancing tonda. Penggunaan alat tangkap pole and line serta pancing tonda pada perikanan tuna menyebabkan tingginya risiko pada ikan tuna sirip kuning (ukuran baby tuna), lemadang, cakalang, dan tongkol. AbstractTuna fishery activities using pole and line fishing gear and tonda have the risk of causing vulnerability (ecological risk) which can disrupt the sustainability of tuna stocks. For this reason, a study was conducted to assess vulnerability which is a parameter of ecological risk using the productivity and susceptibility analysis (PSA) approach to the fish’s species are albacares (baby tuna), mackerel, lemadang, and skipjack. Biological and ecological data collection from pole and line fishing gear was carried out in Flores and trolling and tonda in Pelabuhanratu. Furthermore, laboratory analysis was carried out at the fisheries biology laboratory, Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Sciences IPB. The results of productivity and susceptibility analysis of the pole and line for baby tuna and Euthynnus are 1.42 and 1.98.  This value shows the level of vulnerability where the ecological risk of tuna is high and baby tuna also low. The PSA analysis of the tonda for baby tuna was 2.34; lemadang was 2.34; and skipjack was 2.18. This value indicates that the high vulnerability and ecological risk of the three species of fish are also high due to the use of tonda. The use of pole and line fishing gear and tonda lines in tuna fisheries causes a high risk for albacares (baby tuna), mackerel, lemadang, and skipjack

    Optimasi Proses Biodegumming Serat Rami (Boehmeria nivea) Menggunakan Bakteri Pektinolitik

    Get PDF
    AbstrakProses degumming serat rami umumnya dilakukan menggunakan senyawa alkali dalam jumlah besar, sehingga dihasilkan limbah berlebih dan berakibat pada pencemaran lingkungan. Oleh sebab itu, metode alternatif dengan memanfaatkan agensia hayati untuk mengatasi permasalahan tersebut penting untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan seleksi kandidat bacterial degumming dari kulit batang rami serta optimasi metode biodegumming menggunakan isolat bakteri pektinolitik. Bakteri pektinolitik diisolasi dari kulit batang  rami yang terkomposkan menggunakan media seleksi pektinase (PSAM). Isolat bakteri yang diperoleh kemudian digunakan sebagai agensia biodegumming menggunakan beberapa parameter optimasi meliputi pH (8,5 dan 9), suhu (25 °C dan 37,5 °C), jenis isolat (Pe-Ku 1, Pe-Ku 4, dan Pe-Ku 6) dan jumlah inokulum (1/50 mL, 2/50 mL, dan 3/50 mL). Setelah inkubasi selama 3 hari, serat rami dicuci kemudian ditimbang bobot kering untuk mengetahui penurunan bobotnya. Analisis statistik dilakukan menggunakan two-way ANOVA dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukan bahwa telah diperoleh 9 isolat bakteri pektinolitik sebagai agensia bacterial degumming. Berdasarkan optimasi metode biodegumming telah diperoleh kondisi optimum yaitu pada pH 8,5; suhu 37,5 °C; serta jumlah inokulum 3/50 mL dengan mengggunakan isolat Pe-Ku 6. Hal tersebut ditandai dengan penurunan bobot rami yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kombinasi perlakuan lain, yaitu sebesar 12,7%. Kata kunci: Bakteri degumming; Bakteri pektinolitik; Kulit batang rami; Serat rami AbstractThe degumming process of ramie fiber is generally carried out by using large amounts of alkaline compounds, causing excessive waste and environmental pollution. Therefore, it is essential to develop alternative methods by utilizing biological agents to overcome these problems. This study aimed to select candidates for bacterial degumming from ramie bark and to optimize the biodegumming method using pectinolytic bacterial isolates. Pectinolytic bacteria were isolated from composted ramie bark using pectinase screening agar medium (PSAM). The bacterial isolates were then used as biodegumming agents using several optimization parameters, including pH (8.5 and 9.0), temperature (25 °C and 37.5 °C), type of isolate (Pe-Ku 1; Pe-Ku 4; and Pe- Ku 6) and the amount of inoculum (1/50 mL, 2/50 mL, and 3/50 mL). After incubation for three days, the ramie fiber was washed, and then measured the dry weight to determine the weight reduction. The statistical analysis was performed using two-way ANOVA with Duncan as the post hoc test. The results showed that nine isolates of pectinolytic bacteria were obtained as bacterial degumming agents. In addition, based on the optimization of the biodegumming method, the optimum conditions were obtained at pH 8.5, temperature 37.5 °C, and the amount of inoculum 3/50 mL using the Pe-Ku 6 isolate. That was indicated by the percentage of ramie weight loss, which was significantly higher than the other combination treatments, 12,7%

    Short Communication: Morphophysiological Response to Partial Submergence and Water Deficit in North Sulawesi Local Rice

    Get PDF
    Flood and drought are two disasters that resulted in crop failure, including rice production. The objective of this study was to evaluate the morphophysiological characteristics of North Sulawesi local rice (Oryza sativa L.) cultivars as response to partial submergence and water deficit at the vegetative phase based on plant height, number of leaves, root length and volume, and leaf total chlorophyll concentration. The factorial experiment in Completely Randomized Design consisted of four rice cultivars (Superwin, Ombong, Temo, and Burungan) and three treatments (well-watered, partial submerged, and water deficit). The treatments commenced at four-fully-expanded leaf stage for 14 days. Plant height and leaf number were recorded on day 0 (before the treatments commenced), 7, and 14 after treatments. The length and volume of roots as well as total chlorophyll were recorded at 14 days after treatment. Root length was potential indicator of partial submergence and water deficit as it was higher under partial submergence and water deficit than well-watered. Root volume was potential indicator of partial submergence as it was larger under partial submergence than water deficit and well-watered. The partial submergence and water deficit tolerance of North Sulawesi local rice should be further evaluated based on the other characteristics.AbstrakKebanjiran dan kekeringan merupakan bencana alam yang mengakibatkan kegagalan panen, termasuk produksi beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakterisitik morfofisiologis pada padi (Oryza sativa L.) lokal Sulawesi Utara sebagai respons terhadap kebanjiran dan kekeringan pada fase vegetatif berdasarkan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang, dan volume akar serta kandungan klorofil daun. Percobaan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap ini menggunakan empat kultivar padi (Superwin, Ombong, Temo, dan Burungan) serta tiga perlakuan (diairi, digenangi, dan tidak diairi). Perlakuan dimulai pada saat tanaman mempunyai empat daun yang berkembang penuh selama 14 hari. Tinggi tanaman dan jumlah daun diamati pada hari ke-0 (sebelum perlakuan dimulai), hari ke-7, dan 14 setelah perlakuan. Panjang dan volume akar serta kandungan klorofil daun diukur pada 14 hari setelah perlakuan. Panjang akar merupakan indikator yang potensial untuk kebanjiran dan kekeringan karena panjang akar saat kebanjiran dan kekeringan lebih besar daripada diairi. Volume akar merupakan indikator yang potensial untuk kebanjiran karena volume akar saat kebanjiran lebih besar daripada saat kekeringan dan diairi. Toleransi padi lokal Sulawesi Utara terhadap kebanjiran dan kekeringan perlu dievaluasi lebih lanjut berdasarkan karakteristik lainnya

    Varanus salvator As an Indicator of Turtle Nesting Season at Ngagelan Beach, Alas Purwo National Park (TNAP), Indonesia: A Conservatiom Effort

    Get PDF
    AbstractVarious turtle conservation efforts continue to be carried out, including protecting the eggs from predators. The study aimed to describe the behavior of turtles laying eggs using Varanus salvator as an indicator. The research was conducted at Ngagelan Beach, Alas Purwo National Park (TNAP), and around the Semi Natural Turtle Hatchery (PPSA), Banyuwangi, Indonesia. The research was conducted from January to December 2019. The type of research is quantitative and qualitative. The study results indicated that Varanus salvator visited this area only during the turtle nesting season. Lepidochelys olivacea dominates the types of turtles that land in TNAP. 1,056 L. Olivacea, 6 Chelonia mydas, Eretmochelys imbricata, and Dermochelys coriacea landed only one animal to lay eggs. Landing occurs from April to August, with peak landing in June. Varanus salvator was found roaming the area starting April, peaking in the second week of August and decreasing in October. Differences in landing time and arrival behavior of Varanus salvator are related to the incubation period of 40–50 days of turtle eggs. The smell of turtle eggs and dead hatchlings beckons V. salvator to this area. This behavior is because Varanus salvator has a strong sense of smell, detected by frequent tongue flicking.AbstrakBerbagai upaya konservasi penyu terus dilakukan, salah satunya melindungi telur dari pemangsa. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan perilaku penyu bertelur menggunakan Varanus salvator sebagai indikator serta upaya konservasii. Penelitian dilakukan di Pantai Ngagelan, Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), dan di sekitar Penangkaran Penyu Semi Alami (PPSA), Banyuwangi, Indonesia. Penelitian dilakukan bulan Januari-Desember 2019. Jenis penelitian adalah kuantitatif dan kualitatif. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kulitatif dan korelasi. Hasil penelitian menginformasikan bahwa V. salvator mengunjungi daerah ini hanya pada musim penyu bertelur; mereka melakukan perjalanan ke daerah lain ketika bukan musim penyu bertelur. Lepidochelys olivacea mendominasi jenis penyu yang mendarat di TNAP. Sebanyak 1.056 L. Olivacea, 6 Chelonia mydas, Eretmochelys imbricata, dan Dermochelys coriacea masing-masing hanya satu satwa mendarat untuk bertelur. Pendaratan terjadi pada bulan April hingga Agustus, puncak pendaratan pada bulan Juni. V. salvator ditemukan berkeliaran di daerah ini mulai bulan April, memuncak pada minggu kedua Agustus dan menurun bulan Oktober. Perbedaan waktu pendaratan dan perilaku kedatangan V. salvator berkaitan dengan masa inkubasi telur penyu berkisar antara 40–50 hari. Bau telur penyu dan tukik mati mengundang V. salvator ke kawasan ini. Perilaku ini karena V. salvator memiliki indera penciuman yang kuat, terdeteksi oleh lidah yang sering dijentikkan

    COVER AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 16 NO. 1 APRIL 2023

    No full text

    COVER AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 16 NO. 2 OKTOBER 2023

    No full text

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇