Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    INDEX AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 16 NO. 2 OKTOBER 2023

    No full text

    Karakteristik Lumut di Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Area Permukiman Jakarta Selatan

    Get PDF
    AbstrakPermukiman merupakan salah satu ruang terbuka hijau (RTH) yang terdapat di daerah urban, khususnya Jakarta. Salah satu kelompok tumbuhan yang ditemui pada RTH tersebut adalah lumut. Keberadaan lumut di permukiman urban menunjukkan adanya kemampuan lumut untuk bertahan pada lingkungan yang terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies lumut serta karakteristik lumut di salah satu permukiman Jakarta Selatan. Lumut dikoleksi dengan metode transect-line pada 6 titik tepi jalan dan jelajah bebas pada 3 taman di permukiman tersebut Jakarta Selatan. Pengamatan karakteristik morfologi dan anatomi lumut dilakukan dengan penilaian kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 2 divisi lumut, yaitu Bryophyta (lumut sejati) dan Marchantiophyta (lumut hati) di lokasi penelitian. Bryophyta terdiri dari 6 famili, 9 genus, dan 16 spesies. Sementara itu,  Marchantiophyta terdiri dari 2 famili, 2 genus, dan 3 spesies. Pottiaceae merupakan famili dengan jumlah spesies terbanyak ditemukan, yaitu 5 spesies. Fissidens biformis adalah spesies dengan jumlah sampel terbanyak. Lumut tersebut ditemukan pada substrat tanah, batu, dan batang pohon. Kisaran luas tutupan lumut yang ditemukan yaitu 2–100%. Karakteristik seperti ukuran tubuh yang kecil, bentuk hidup, bentuk daun, ornamentasi pada permukaan daun, modifikasi sel daun, serta keberadaan sporofit atau gemma diduga mendukung lumut beradaptasi di lingkungan urban.AbstractSettlement is one of urban green open spaces in Jakarta. One of the plant groups found in the open green spaces is the bryophytes. The presence of bryophytes in the settlement areas indicates the ability of bryophytes to survive in a disturbed environment. This study aims to determine bryophytes species and their characteristic in the settlements area of South Jakarta. Bryophyte collected by transect-line at 6 sites of roadside and broad survey at 3 sites of park. The morphological and anatomical characteristics were observed with qualitative and quantitative assessments. Mosses and liverworts are groups that found in study sites. The mosses consists of 6 families, 9 genera, and 16 species. Meanwhile, the liverworts consists of 2 families, 2 genera, and 3 species. Pottiaceae is has the highest species richness in the location. Meanwhile the highest number of samples was Fissidens biformis. The bryophytes were attached in the soil, rock, and tree trunk. The coverage of bryophyte is about 2–100%. Characteristics such as small body size, life-forms, leaf shape, the ornamentation on the leaf surface, modified leaf cells, and the presence of sporophyte or gemmae are thought to support the adaptation of bryophyte in urban environments

    Karakterisasi Morfologi Citrus jambhiri Lush. dan Hubungan Kekerabatannya dengan Citrus amblycarpa (Hassk.) Ochse

    Get PDF
     AbstrakLimau Kuit (Citrus jambiri Lush.) merupakan salah satu spesies jeruk yang banyak dibudidayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan produk minuman, perisa makanan, dan bumbu masakan. Sebagian besar publikasi mengenai limau Kuit hanya menggunakan nama lokal, dan limau ini mirip dengan spesies lain yang juga dikenal dengan nama limau dapat menimbulkan kerancuan identitas taksonominya. Hingga saat ini belum ada publikasi penegasan status taksonomi limau Kuit beserta karakterisasi morfologi yang lengkap. Penelitian ini bertujuan menghasilkan karakterisasi morfologi limau Kuit serta penegasan identitas taksonominya melalui perbandingan dan analisis hubungan kekerabatan dengan jeruk Sambal. Karakterisasi disusun berdasarkan pengamatan terhadap 49 karakter morfologi habitus, daun, dan buah. Pengamatan morfologi terhadap 11 sampel limau Kuit dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menunjukkan variasi intraspesies yang rendah. Hasil analisis klaster menunjukkan bahwa limau Kuit dan jeruk Sambal berkerabat jauh. Pola pengelompokkan berdasarkan analisis klaster menunjukkan sampel yang berasal dari lokasi berbeda memiliki tingkat kemiripan yang tinggi, baik untuk limau Kuit maupun pada kedua spesies. Analisis hubungan kekerabatan yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan penegasan identitas taksonomi limau Kuit sebagai spesies tersendiri dengan menunjukkan kekerabatan yang jauh dengan jeruk Sambal. Deskripsi spesies yang komprehensif berdasarkan karakterisasi morfologi menyediakan acuan untuk mengenali limau Kuit agar tidak terjadi kekeliruan dalam penyebutannya.AbstractRough lemon (Citrus jambhiri Lush.) is one of the citrus species widely cultivated and used by the people of South Kalimantan as an ingredient in beverage products, food flavoring, and spices. Most publications on rough lemon only mentioned local names, and its resemblance to other species known with similar name might lead to confusion on their taxonomic identity. Until now there has been no publication to confirm the taxonomic status along with a complete morphological characterization. This study aims to provide morphological characterization of rough lemon and to confirm its taxonomic identity through comparison and analysis of taxonomic relationship with Nasnaran mandarin. The characterization was compiled based on observations of 49 morphological characters of plant habit, leaves, and fruits. Morphological observations on 11 samples of rough lemon from South Kalimantan and Central Kalimantan showed low intraspecific variation. The results of cluster analysis showed that rough lemon and Nasnaran mandarin were distantly related. The grouping pattern based on cluster analysis showed that samples from different locations have high degree of similarity for these two species. The analysis of taxonomic relationship reported in this study confirmed the taxonomic identity of rough lemon as distinct species and distantly related to Nasnaran mandarin. The comprehensive species description resulting from morphological characterization in this study provides a reference to correctly identify rough lemon specimens to avoid misrecognition of the species

    Malay Apple (Syzygium malaccense) Fruit Calendar: A Case in Central Java

    Get PDF
     AbstractMalay apple (Syzygium malaccense) is a kind of popular fruit tree originally from Indo-Malayan-Region or South East Asia. There are many environmental factors affecting the flowering time, infrutescence number, fruit size, and fruit number, such as fruit position on the spur, spur size, fruit number set on the spur, and the date of flowering. The objectives of this study were to find out the fruit production during dry and wet seasons, so that fruit calendar can be determined.  The method used in this study was survey and observation on Malay apple trees in Banyumas, Purbalingga, and Kebumen from 2018 to 2021. The results of this study showed that June, July, and August when the precipitation was the lowest, the fruit number is the highest, and fruit size is the smallest (145–175 mL). On the other hand, when the precipitation was high (September-April), the fruit was the largest (180–500 mL).  Fruit harvest time might change every year depending on climatic factors such as average daily temperature and precipitation. There is no specific harvest time for Malay apples. The implementation of the results of this research is that we do not need to predict when the Malay apple harvest season will be, because the harvest time can be at any time.AbstrakJambu bol (Syzygium malaccense) merupakan salah satu jenis pohon buah-buahan populer yang berasal dari Wilayah Indo-Malayan atau Asia Tenggara. Banyak faktor lingkungan yang memengaruhi waktu berbunga, jumlah bunga, ukuran buah, dan jumlah buah, seperti posisi buah pada tajuk, ukuran tajuk, jumlah buah tiap dompol, dan tanggal berbunga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi buah pada musim kemarau dan musim hujan, sehingga dapat ditentukan kalender buah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan observasi pada pohon jambu bol di Banyumas, Purbalingga, dan Kebumen dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2021. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada bulan Juni, Juli, dan Agustus curah hujan paling rendah, jumlah buahnya paling tinggi, dan ukuran atau volume buahnya relatif  paling kecil (145–175 mL). Sebaliknya, ketika curah hujan rata-rata tinggi (September-April), buahnya berukuran besar, dengan volume 180–500 mL. Waktu panen buah dapat berubah setiap tahun tergantung pada faktor iklim seperti suhu harian rata-rata dan curah hujan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada waktu yang spesifik untuk waktu panen jambu bol. Implementasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa kita tidak perlu memprediksi kapan musim panen jambu bol, karena waktu panen bisa kapan saja

    Tinjauan Biosorpsi Logam Berat Pb dan Cd Oleh Jamur Makro

    Get PDF
    AbstrakKeberadaan logam berat perlu ditanggulangi, salah satunya dengan cara biosorpsi. Biosorpsi merupakan salah satu metode remediasi yang paling tepat digunakan dalam menanggulangi pencemaran logam berat. Proses secara efisien dapat menyerap logam berat terlarut bahkan logam berat yang ada dalam larutan kompleks yang sangat encer. Jamur makro merupakan contoh biosorben yang dapat digunakan dalam biosorpsi. Pemanfaatan jamur makro sebagai biosorben sangat tepat dilakukan karena keanekaragaman jenisnya tinggi, cepat tumbuh dengan kemampuan metabolisme yang beragam pada berbagai senyawa organik dan anorganik, mudah didapatkan, lebih aman karena tidak menyebabkan korosi atau menghasilkan bahan berbahaya, teknologinya sederhana, perawatannya mudah dan produk akhir dapat didaur ulang, serta dapat mengakumulasi logam berat dengan kosentrasi tinggi. Jenis-jenis jamur makro yang sudah digunakan dalam biosorpsi logam berat di beberapa negara antara lain Agaricus bisporus, Auricularia polytricha, Calocybe indica, Ganoderma carnosum, Flammulina velutipes, Fomes fasciatus, dan Volvariella volvacea. Sementara itu, penelitian penggunakan jamur makro di Indonesia dalam biosorpsi logam berat sangat terbatas yakni pada jenis Phanerochaete chrysosporium, Omphalina sp., dan Pholiota sp. Mengingat tingginya keanekaragaman jamur makro di Indonesia, maka potensi biosorpsi logam berat khususnya Pb dan Cd oleh jamur makro sangat berpeluang untuk diteleti lebih lanjut.AbstractHeavy metals can accumulate in seawater, sediments and in the marine biota that live in them, eventually entering the food chain which is very dangerous to health. The presence of these heavy metals needs to be overcome, one of which is by means of biosorption. Biosorption is one of the most appropriate remediation methods used in tackling heavy metal pollution. The biosorption process can efficiently absorb dissolved heavy metals and even heavy metals present in very dilute complex solutions. Macro fungi are examples of biosorbents that can be used in biosorption. Utilization of macro fungi as biosorbents is very appropriate because of the high diversity of species, fast growing with diverse metabolic abilities on various organic and inorganic compounds, easy to obtain, strong morphology, safer because they do not cause corrosion or produce harmful materials, simple technology, easy maintenance and the final product can be recycled, can accumulate heavy metals with high concentrations. The types of macro fungi that have been used in the biosorption of heavy metals in several countries include Agaricus bisporus, Auricularia polytricha, Calocybe indica, Ganoderma carnosum, Flammulina velutipes, Fomes fasciatus, and Volvarella volvacea. Meanwhile in Indonesia, research on the use of macro fungi in heavy metal biosorption is very limited to the Phanerochaete chrysosporium, Omphalina sp. and Pholiota sp. Considering the high diversity of macro fungi in Indonesia, the potential for biosorption of heavy metals, especially Pb and Cd by macro fungi, is very likely to be investigated further

    Biometrik dan Kematangan Gonad Ikan Selar Kuning (Selaroides leptolepis Cuvier, 1833) Pada Perairan Muara Badak, Kalimantan Timur

    Get PDF
    AbstrakAspek biologis ikan Selar kuning Selaroides leptolepis (Cuvier, 1833) pada Perairan Muara Badak, Kalimantan Timur belum pernah diinformasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek biometrik dan kematangan gonad ikan Selar kuning. Pengumpulan sampel ikan dilakukan setiap bulan dari September hingga Desember 2021. Total 530 individu ikan dikoleksi menggunakan metode acak sederhana dari hasil tangkapan nelayan yang ikannya didaratkan di pelabuhan nelayan Toko Lima, Muara Badak. Panjang tubuh ikan diukur menggunakan kaliper digital dan bobot tubuh ditimbang menggunakan neraca digital. Hasil penelitian ini diperoleh panjang tubuh ikan berkisar 91,39–145,44 mm dan bobot 7,60–37,60 g. Modus dominan panjang tubuh ikan didapatkan pada rentang kelas 121,39–127,38 mm. Rasio kelamin adalah 1 jantan: 1,03 betina, yang menunjukkan rasio jenis kelamin seimbang. Hubungan panjang dan bobot tubuh memiliki koefisien korelasi yang kuat (r= 0,953), dengan persamaan regresi W= 0,0000003L3,281. Pola pertumbuhan allometrik positif dan nilai faktor kondisi relatif rata-rata 1,04 ± 0,060, yang mencerminkan kondisi pertumbuhan ikan relatif baik. Persentase tertinggi ikan matang gonad didapatkan pada bulan November dan Desember 2021, yang mengindikasikan ikan siap memijah. Kajian ini meginformasikan hubungan panjang dan bobot tubuh, pola pertumbuhan, faktor kondisi, rasio jenis kelamin, dan tingkat kematangan gonad ikan Selar kuning dari Perairan Muara Badak yang dapat digunakan untuk penilaian kesehatan populasi dan strategi pengelolaannya.AbstractBiological aspects of the Yellow-stripe scad Selaroides leptolepis (Cuvier, 1833) from Muara Badak Waters, East Kalimantan have never been informed anywhere. This research aimed to inform biometrics aspects and gonadal maturity of the Yellow-stripe scad. The collection of fish samples was carried out every month from September to December 2021. A total of 530 individual fish were collected using a simple random method from the catches of fishers who landed their fish at the Toko Lima fishing port, Muara Badak. Its body length was measured using a digital caliper and the body weight was weighed using a digital balance. The results of this research showed that the fish’s body length ranged from 91.39–145.44 mm and body weight ranged from 7.60–37.60 g. A modus of fish body length was found in the range class of 121.39–127.38 mm. The sex ratio is 1 male:1.03 female, which indicates a balanced sex proportion. The length and bodyweight relationship has a strong correlation coefficient (r= 0.953), with the regression equation was W= 0.0000003L3.281. The positive allometric growth and the relative condition factor value were an average of 1.04 ± 0.060, reflecting the fish’s relatively good growth conditions.The highest percentage of gonadal maturity of fishes was found in November and December 2021, which indicated that the fishes were ready to spawn. This research provides information on the relationship between length and body weight, growth patterns, condition factors, sex ratio, and gonadal maturity level of the Yellow-stripe scad from Muara Badak waters which can be used for population health assessment and management strategies

    Growth And Lipid Accumulation of Chaetoceros calcitrans After Phosphorus And Light Intensity Optimization

    Get PDF
    AbstractGrowth and lipid content of Chaetoceros calcitrans are greatly influenced by environmental factors. The aims of this study to optimize phosphorus concentrations and light intensity on the growth and lipid accumulation of C. calcitrans. This study used N:P:light intensity concentration from the previous research, namely 441:36.2 µM:2,500 lux (12:1:2,500 lux). Concentrations of P were then optimized to 36.2 µM, 27.5 µM, 18.1 µM, 9.05 µM (1; 0.75; 0.5; 0.25) and light intensity to 2,500; 3,000; 3,500; 4,000 lux. C. calcitrans was cultured in medium f/2 guillard, the initial density was 6 x 105 cells/mL. Sampling for lipid analysis was conducted in exponential, stationary, and the end of stationary phase by centrifugation, whereas lipid was extracted using the Bligh and Dyer method, and dried lipids were analyzed using gas chromatography-GC. The highest lipid content found at the late stationary phase of the N:P concentrations and light intensity 12:0.5:(4,000 lux), there was 15.46 ± 0.53%-dw with the highest cell density of 5.5 ± 5.56 x 106 cells/mL. The analysis result showed that palmitoleic acid (C16:1) was the highest fatty acid produced by each optimization. Nutritional deficiency and high light intensity were triggers for of C. calcitrans to accumulate lipids, and influence the fatty acid profile of C. calcitrans.AbstrakPertumbuhan dan kandungan lipid Chaetoceros calcitrans sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimasi konsentrasi fosfor dan intensitas cahaya terhadap pertumbuhan dan akumulasi lipid C. calcitrans. Penelitian ini menggunakan hasil konsentrasi N:P:intensitas cahaya dari penelitian sebelumnya, yaitu 441:36.2µM:2,500 lux (12:1:2,500 lux). Konsentrasi P kemudian dioptimasi menjadi 36,2 µM, 27,5 µM, 18,1 µM, 9,05 µM (1; 0,75; 0,5; 0,25), dan intensitas cahaya menjadi 2.500; 3.000; 3.500; 4.000 lux. C. calcitrans dikultur dalam medium f/2 guilard, densitas awal 6 x 105 sel/mL. Pengambilan sampel untuk analisis lipid dilakukan pada fase eksponensial, stasioner, dan akhir stasioner dengan sentrifugasi, sedangkan lipid diekstraksi menggunakan metode Bligh dan Dyer, lipid kering dianalisis menggunakan kromatografi gas-GC. Kandungan lipid tertinggi terdapat pada fase akhir stasioner konsentrasi N:P dan intensitas cahaya 12:0,5:(4,000 lux), yaitu sebesar 15,46 ± 0,53%-dw dengan kerapatan sel tertinggi 5,5 ± 5,56 x 106 sel/mL. Hasil analisis menunjukkan bahwa asam palmitoleat (C16:1) merupakan asam lemak tertinggi yang dihasilkan oleh masing-masing optimasi. Kekurangan nutrisi dan intensitas cahaya yang tinggi menjadi pemicu C. calcitrans. mengakumulasi lipid, dan mempengaruhi profil asam lemak C. calcitrans

    Akumulasi Logam Timbal (Pb) Pada Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor L.) Dengan Aplikasi Pupuk Mikoriza

    Get PDF
     AbstrakPencemaran tanah oleh logam timbal (Pb) merupakan salah satu bentuk pencemaran yang sangat berbahaya bagi mahluk hidup. Salah satu tanaman bioakumulator penyerap logam berat di lingkungan adalah tanaman bayam (Amaranthus tricolor L.). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh aplikasi pupuk mikoriza terhadap akumulasi Pb pada akar, batang, dan daun serta pertumbuhan tanaman bayam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan dosis pupuk mikoriza, yaitu 0 g, 5 g, 10 g, dan 15 g per polybag. Jumlah Pb yang diaplikasikan ke media tanam adalah 5 ppm per polybag. Akumulasi Pb tertinggi terdapat pada tanaman bayam dengan perlakuan 5 g pupuk mikoriza. Rata-rata akumulasi Pb di akar, batang, dan daun pada perlakuan ini berturut-turut adalah 103,57 ppm; 36,67 ppm; dan 8,60 ppm. Pertumbuhan tanaman bayam pada perlakuan 5 g pupuk mikoriza lebih baik dari perlakuan lainnya, yaitu memiliki rata-rata tinggi tanaman dan jumlah daun tertinggi pada minggu ke-4 (9,7–12,5 cm dan 6,9–8,6 helai). Aplikasi pupuk mikoriza dapat meningkatkan akumulasi Pb pada akar, batang, dan daun serta meningkatkan pertumbuhan tanaman bayam pada dosis 5 g per polybag.AbstractSoil pollution by lead (Pb) is a form of pollution that is very dangerous for living creatures. One of the bioaccumulator plants that absorb heavy metals in the environment is spinach (Amaranthus tricolor L.). The aim of this research was to analyze the effect of mycorrhizal fertilizer application on Pb accumulation in roots, stems and leaves as well as spinach plant growth. This research used a completely randomized design (CRD) with treatment doses of mycorrhizal fertilizer, namely 0 g, 5 g, 10 g, and 15 g per polybag. The amount of Pb applied to the planting media is 5 ppm per polybag. The highest Pb accumulation was found in spinach plants treated with 5 g of mycorrhizal fertilizer. The average accumulation of Pb in roots, stems and leaves in this treatment was 103.57 ppm; 36.67 ppm; and 8.60 ppm. The growth of spinach plants in the 5 g mycorrhizal fertilizer treatment was better than the other treatments, namely having the highest average plant height and number of leaves in the 4th week (9.7-12.5 cm and 6.9-8.6 pieces). Application of mycorrhizal fertilizer can increase Pb accumulation in roots, stems and leaves and increase the growth of spinach plants at a dose of 5 g per polybag.

    Respon Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) Pada Kombinasi Pupuk Organik Granular dan Anorganik

    Get PDF
    AbstrakPenggunaan pupuk anorganik dalam budi daya tanaman yang berlebihan dapat mengakibat kerusakan lingkungan. Pemberian Pupuk Organik Granul (POG) diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik sekaligus meningkatkan produksi padi Galur Mukti Padi (GMP) 04. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi penggunaan POG dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi padi GMP 04, dan memperoleh dosis POG yang dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) split plot dua faktor. Faktor pertama dosis POG (0, 70, dan 140 g/m2) dan faktor kedua dosis pupuk anorganik (0, 25, 50, dan 100% dari dosis rekomendasi). Data dianalisis dengan uji ANOVA menggunakan aplikasi SAS. Hasil menunjukkan pemberian POG dosis 70 g/m2 dan 140 g/m2 berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi padi GMP 04 (P <0,05). Perlakuan POG 140 g/m2 menghasilkan persentase gabah isi tertinggi. Kombinasi antara POG dan pupuk anorganik berpengaruh nyata pada parameter jumlah gabah isi/malai, bobot kering/rumpun dan bobot 500 bulir/rumpun (P <0,05). Perlakuan POG 70 g/m2+pupuk anorganik 100% menghasilkan jumlah gabah isi/malai, bobot kering/rumpun, dan bobot 500 bulir/rumpun yang lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Penambahan POG belum mampu  mengurangi penggunaan pupuk anorganik, namun dapat memaksimalkan pertumbuhan dan produksi padi GMP 04 pada dosis 70 g/m2.AbstractExcessive use of inorganic fertilizers in plant cultivation can result in environmental damage. The provision of Granulated Organic Fertilizer (POG) is expected to reduce the use of inorganic fertilizer while increasing production of Mukti Padi (GMP) 04 rice strains. The research aims to determine the effect of the combination of using POG and inorganic fertilizer on the growth and production of GMP 04 rice, and to obtain the correct dose of POG. can reduce the use of inorganic fertilizers. The research used a split plot randomized block design (RAK) with two factors. The first factor is the dose of POG (0, 70, and 140 g/m2) and the second factor is the dose of inorganic fertilizer (0, 25, 50, and 100 of the recommended dose). Data were analyzed using the ANOVA test using the SAS application. The results showed that giving POG doses of 70 g/m2 and 140 g/m2 had an effect on the growth and production of GMP 04 rice (P<0.05). Treatment G2 (140 g/m2) produced the highest percentage of filled grain. The combination of POG and inorganic fertilizer had a significant effect on the parameters of number of filled grains/panicle, dry weight/clump and weight of 500 grains/clump (P<0.05). The G1A3 treatment (70 g/m2, 100%) produced a higher number of filled grains/panicles, dry weight/clump, and weight of 500 grains/clump than other treatments. The addition of POG has not been able to reduce the use of inorganic fertilizer, but it can maximize the growth and production of GMP 04 rice at a dose of 70 g/m2

    Potensi Ekstrak Kulit Buah Pepaya (Carica papaya L.) Untuk Isolasi Kolagen Cumi-cumi (Loligo sp.) Sebagai Penyembuhan Luka Kulit Mencit (Mus musculus)

    Get PDF
    AbstrakKulit buah pepaya merupakan bagian dari buah pepaya yang tidak dikonsumsi dan mengandung enzim papain yang dapat digunakan sebagai pengganti papain murni untuk mengekstraksi kolagen. Tentakel cumi-cumi merupakan salah satu dari bahan baku marine collagen. Ekstraksi kolagen dari tentakel cumi-cumi menggunakan metode maserasi menggunakan CH3COOH dan penambahan ekstrak kulit buah pepaya pada konsentrasi 5, 10, 15, dan 20%. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 15% ekstrak kulit buah pepaya memberikan rendemen yang terbaik yaitu 19,2% (w). Kolagen yang dihasilkan memenuhi kriteria Badan Standardisasi Nasional (BSN) (2014) pada jumlah mikrobia dan total coliform tetapi belum memenuhi pada kadar protein, pH, dan kadar air. Pada uji preklinis digunakan kolagen hasil ekstraksi dengan penambahan 20% ekstrak kulit buah pepaya yang memenuhi kriteria BSN dengan kadar protein terbanyak. Serum kolagen dibuat menjadi tiga konsentrasi, yaitu 5, 10, dan 20 mg/mL. Hasil pengujian preklinis menunjukkan bahwa kelompok perlakuan kolagen 20 mg/mL memiliki presentase penutupan luka kulit mencit terbaik sebesar 84,61%, dari hasil pengujian statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dengan kelompok perlakuan kontrol positif.AbstractThe papaya peel, which is a part of papaya not typically consumed, contains the papain enzyme that can be used as a substitute for pure papain to extract the collagen. Squid tentacles are one of the mainsources of marine collagen. The extraction of collagen from squid tentacles was conducted using a maceration method with CH3CHOOH solvent, and the papaya peel extract was added at concentrations of 5, 10, 15, and 20%, respectively. The extraction process showed that the addition of 15% papaya peel extract provided the best result of 19.2% (bb). The collagen produced in this experiment met the BSN criteria for total microbes and total coliforms. However, it did not yet comply with the BSN criteria for protein content, pH, and water levels. The preclinical testing utilized the extracted collagen and the papaya peel extract with a 20% concentration, which met the BSN standards with the highest protein level. The serum collagen was divided into three concentrations: 5 mg/ml, 10 mg/ml, and 20 mg/ml. Preclinical studies showed that the treatment group receiving 20 mg/mL collagen exhibited the highest percentage of skin wound healing at 84.61%, and the statistical test found no significant difference compared to the positive control treatment group

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇