Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    Aktivitas Antimikroba Bakteri Endofit Daun Pegagan (Centella asiatica L.) Terhadap Propionibacterium acnes

    Get PDF
     AbstrakTingginya angka kejadian jerawat dan meningkatnya resistensi terhadap antimikroba memerlukan alternatif pengobatan yang berasal dari bahan alam. Beberapa studi menunjukkan bahwa bakteri endofit tertentu memproduksi senyawa bioaktif yang memiliki efek bagi kesehatan, terutama bakteri endofit yang diisolasi dari tumbuhan obat. Pegagan (Centella asiatica L.) merupakan tumbuhan obat yang mempunyai banyak manfaat seperti untuk mengobati masalah kulit, menyembuhkan luka, serta menjadi agen antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimikroba isolat bakteri endofit daun pegagan terhadap Propionibacterium acnes. Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan dengan metode difusi cakram melalui pengukuran diameter zona hambat. Bakteri endofit yang didapat dari penelitian sebelumnya dikarakterisasi berdasarkan ciri-ciri dari morfologi koloni, morfologi sel, dan aktivitas biokimia. Sembilan belas isolat bakteri endofit memiliki aktivitas antimikroba terhadap Propionibacterium acnes, ditandai dengan terbentuknya zona hambat berdiameter antara 11,46–25,34 mm. Dua isolat yang memiliki kemampuan aktivitas antimikroba yang paling besar, yaitu isolat nomor 3 dan 17 dengan hasil identifikasi termasuk ke dalam genus Aeromicrobium. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bakteri endofit dari daun pegagan (Centella asiatica (L.) berpotensi sebagai antimikroba terhadap bakteri P. acnes.AbstractThe high prevalence of acne cases and the increasing resistance to antimicrobials requires alternative treatments that originate from natural ingredients. Several studies have shown that certain endophytic bacteria produce bioactive compounds that benefits human health, especially those whom isolated from medicinal plants. Gotu kola or pegagan (Centella asiatica L.) is one of medicinal plant that has many benefits such as treating skin problems, healing wounds, and also known for an antibacterial agent. The aim of the study was to determine the antimicrobial activity of the endophytic bacterial isolates of pegagan against Propionibacterium acnes. The antimicrobial activity test were carried out using the disc diffusion method by measuring the diameter of the inhibition zone within isolate. Endophytic bacteria obtained from previous studies were characterized based on the characteristics of colony morphology, cell morphology and biochemical activity. 19 isolates of endophytic bacteria showed antimicrobial activity against P. acnes, indicated by the formation of inhibition zones ranging from 11.46 to 25.34 mm. Two isolates that had the greatest antibacterial activity, namely isolates number 3 and 17 were identified and belongs to the genus Aeromicrobium. Based on the results of this study, it can be concluded that endophytic bacteria from pegagan (Centella asiatica L.) leaves has potential as an antibacterial agent against Propionibacterium acnes bacteria

    Analisis Empat Sekuen Barkode DNA Pada Pandan (Benstonea sp.) Asal Danau Kajuik, Riau

    Get PDF
    Barkode DNA merupakan sekuen DNA berukuran pendek yang digunakan untuk identifikasi organisme secara molekuler. Penelitian bertujuan menganalisis empat barkode DNA pada tumbuhan pandan (Benstonea sp.) asal Danau Kajuik, Riau. Metode meliputi isolasi DNA, PCR, elektroforesis, purifikasi, sekuesing, serta analisis bioinformatika. Pada penelitian ini telah diperoleh sekuen DNA untuk atpB-rbcL IGS, trnV-ndhC IGS, ndhF-rpl32 IGS, dan trnQ-5’rps16 IGS sepanjang 812 pb, 924 pb, 952 pb, dan 886 pb, secara berturut-turut. Aksesi yang muncul paling atas pada analisis BLASTn pada keempat sekuen tersebut tidak ada yang memiliki kemiripan 100% dengan Benstonea sp. asal Danau Kajuik, Riau. Walaupun nilai query cover tinggi (93–100%) dan E-value sebesar 0,00. Pada keempat barkode DNA yang diteliti, terdapat beberapa perbedaan nukleotida yang disebabkan oleh mutasi insersi-delesi (indel) (6,99%) maupun subtitusi (4,96%). Mutasi indel paling banyak dijumpai pada sekuen trnV-ndhC IGS dan mutasi subtitusi paling banyak terjadi pada sekuen ndhF-rpl32 IGS. Nukleotida kritis yang menjadi penciri bagi Benstonea sp. asal Danau Kajuik, Riau, dijumpai pada sekuen ndhF-rpl32 IGS dan trnQ-5’rps16 IGS.  Simpulan, dua sekuen DNA yaitu ndhF-rpl32 IGS dan trnQ-5’rps16 IGS berpotensi menjadi barkode DNA untuk identifikasi tumbuhan ini secara molekuler. Ketersediaan barkode DNA pada database publik sangat diperlukan untuk menunjang identifikasi organisme secara molekuler.AbstractDNA barcode is a piece of short DNA that is developed for molecular identification of organisms. This study aims to analyze four DNA barcodes in pandan plant (Benstonea sp.) from Kajuik Lake, Riau. Methods included DNA extraction, PCR, electrophoresis, purification, sequencing, and bioinformatics analysis. The DNA sequences of atpB-rbcL IGS, trnV-ndhC IGS, ndhF-rpl32 IGS, and trnQ-5’rps16 IGS have been obtained with the length of 812 pb, 924 pb, 952 pb, and 886 pb, respectively. The top accession in BLASTn analysis results showed that there was no accession that had 100% similarity to Benstonea sp. from Kajuik Lake, Riau even though the query cover high (93–100%) and E-value of 0,00. There were some nucleotide variations caused by insertion-deletion (indel) mutation (6,99%) and subtitution (4,96%). Indel was most occur in trnV-ndhC IGS and subtitution in ndhF-rpl32 IGS. Critical nucleotides that were be a characteristic for Benstonea sp. from Kajuik Lake, Riau were seen in ndhF-rpl32 IGS and trnQ-5’rps16 IGS. Conclusion,  both of ndhF-rpl32 IGS and trnQ-5’rps16 IGS are potentially as DNA barcodes for molecular identification of this plant. The avaibility of the DNA barcodes is very important to support of organisms molecular identifications

    Respons Ovarium Kelinci Lokal Bunting Semu yang diinduksi dengan Kopulasi Tiruan

    Get PDF
    Kelinci bunting semu diperlukan untuk kegiatan yang berkaitan dengan mekanisme endokrinologi, terapi, dan transplantasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberhasilan induksi bunting semu dengan metode kopulasi tiruan pada kelinci lokal. Penelitian ini mwnggunakan sembilan ekor kelinci betina lokal dan satu ekor kelinci jantan lokal, berumur 1–1,5 tahun, dan bobot badan 1,8–2,2 kg yang dibagi  dalam tiga kelompok perlakuan (n= 3), yakni, kelompok kelinci yang diinjeksi dengan 0,1 mL NaCl fisiologis dan tanpa perkawinan (K1, kontrol negatif), kelinci yang mendapat induksi dengan kopulasi tiruan (K2), dan kelinci yang mendapatkan injeksi 100 IU PMSG secara intramuskuluar dan dikawinkan dengan pejantan tiga hari kemudian dan diikuti dengan injeksi 75 IU hCG secara intravena (K3, kontrol positif). Hasil penelitian diamati jumlah dan ukuran folikel serta korpus luteum dengan pemeriksaan histologis menggunakan pewarnaan HE. Jumlah folikel pada kelompok K1; K2; dan K3 masing-masing adalah 5,9 ± 1,45; 0,63 ± 0,35; dan 2,06 ± 1,50 (P <0,05). Pada kelompok K1, tidak terdapat kelinci yang ovulasi. Namun, pada kelompok K2 dan K3 seluruh kelinci berhasil ovulasi. Pada kelompok K2 dan K3 yang berhasil ovulasi, terdapat perbedaan yang signifikan (P <0,05), yaitu jumlah korpus luteum pada K2 (4,83 ± 2,65) dan pada K3 (7,63 ± 0,57), sedangkan ukuran korpus luteum pada K2 adalah 0,68 ± 0,20 dan pada K3 adalah 1,38 ± 0,16 mm. Disimpulkan bahwa kopulasi tiruan dapat menginduksi bunting semu pada kelinci lokal.AbstractPseudo-pregnant rabbits are required for activities related to endocrinology, therapy, and transplantation mechanisms. This study aims to determine the success of pseudopregnancy induction with artificial copulation methods in local rabbits. In this study, 9 local female rabbits and 1 local male rabbit aged 1–1.5 years-old and 1.8–2.2 kg body weight were used, which were divided into three treatment groups (n= 3). The rabbit in group K1 (negative control) were injected with 0.1 mL of physiological NaCl and were not mated. The rabbits in K2 were induced with artificial copulation by inserting a cotton bud of 1 cm into vagina at five o\u27clock in the morning, while the rabbits in K3 (positive control) received injection of 100 IU PMSG intramuscularly and mated with males three days post injection and then followed by injection of 75 IU hCG intravenously. The number and size of follicles and corpus luteum were determined by histological examination with HE staining. The number of follicles in the K1 group; K2; and K3 were 5.9 ± 1.45; 0.63 ± 0.35; and 2.06 ± 1.50, respectively (P <0.05). There was no ovulation observed at rabbit in K1 but all rabbits ovulated successfully in K2 and K3. The number of CL (4.83 ± 2.65 and 7.63 ± 0.57) and the size of CL (0.68 ± 0.20 and 1.38 ± 0.16 mm) were significantly difference (P <0.05) in groups K2 and K3, respectively. It was concluded that artificial copulation could induce pseudopregnancy in local rabbits

    Efek Pemberian Ekstrak Kulit Pisang Kepok (Musa acuminata x balbisiana) Terhadap Kulit Mencit (Mus musculus) yang Terpapar Sinar Ultraviolet

    Get PDF
     AbstrakPendedahan kulit secara langsung oleh sinar ultraviolet dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerusakan pada kulit. Kerusakan kulit tersebut umumnya disebabkan oleh keberadaan radikal bebas dan hal ini dapat dicegah dengan antioksidan. Kulit pisang Kepok (Musa acuminata x balbisiana) mengandung senyawa flavonoid dapat bekerja sebagai antioksidan sehingga memberikan efek proteksi terhadap radiasi ultraviolet. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan ketebalan epidermis dan menghitung jumlah melanosit pada kulit mencit (Mus musculus) yang dipaparkan sinar ultraviolet selama 14 hari dengan dosis 60 menit per hari. Bagian kulit terpapar diolesi dengan sediaan ekstrak kulit pisang Kepok 1,5% (P1), ekstrak kulit pisang Kepok 5% (P2), ekstrak kulit pisang Kepok 10% (P3), ekstrak propolis 1,5 % sebagai kontrol positif (K+), dan kontrol negatif tanpa adanya penambahan sediaan ekstrak (K-). Pengamatan perubahan struktur kulit mencit dilakukan secara mikroskopik. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak kulit pisang Kepok 1,5% (P1) paling baik untuk menghambat penebalan epidermis dengan rata-rata ketebalan epidermis 98 μm dan produksi melanosit pada kulit mencit (Mus musculus), yaitu 8,3.AbstractExposure to the skin directly by ultraviolet rays in the long term can cause damage to the skin. The presence of free radicals generally causes skin damage, and antioxidants can prevent it. Kepok banana peel (Musa acuminata x balbisiana) contains flavonoid compounds that can work as antioxidants, protecting against ultraviolet radiation. This study observed the thickness of the epidermis and counted the number of melanocytes in the skin of mice (Mus musculus) exposed to ultraviolet light for 14 days at a dose of 60 minutes per day. The exposed skin was smeared with 1.5% Kepok banana peel extract (P1), 5% Kepok banana peel extract (P2), 10% Kepok banana peel extract (P3), 1.5% propolis extract as a positive control (K+), and negative control without adding extract preparations (K-). Observation of changes in the structure of the mice\u27s skin was carried out microscopically. The results showed that administering 1.5% (P1) Kepok banana peel extract was the best for inhibiting epidermal thickening with an average epidermal thickness of 98 μm and melanocyte production in mouse skin (Mus musculus), namely 8.3

    Optimization of Composting Growing Media Time and Rice Husk Addition in Auricularia auricula Cultivation

    Get PDF
     AbstractAuricularia auricula is a wood mushroom that is commonly consumed and is in demand by the people as a food ingredient because it contains many nutrients and health benefits. Cultivation of A. auricula was carried out using growing media and controlled environmental conditions. This study objective to determine the optimal combination of composting time and the rice husks addition in the A. auricula production. The treatment in this study was the composting time of the growing media for 0, 2, 4, 6, and 8 days, as well as the addition of rice husks as much as 0, 25, and 50%. This research consisted of the preparation of growing media, spawning and incubation of A. auricula, and harvesting of fruit bodies. The success of mushroom cultivation is seen from the value of biological efficiency in each treatment. The combination treatment of 8 days composting time with the addition of 50% rice husk resulted in A. auricula production as much as 52.37%, while the combination of 4 days composting time treatment and the addition of 25% rice husks resulted in the best production of A. auricula, as it produced the mushroom weight of 340 ± 16.95 g with biological efficiency value as much as 68% for five harvest durations within four months after first watering. The treatment of composting media tie and the addition of rice husks to A. auricularia’s were successfully carried out.AbstrakAuricularia auricula merupakan jamur kayu yang umum dikonsumsi dan diminati oleh masyarakat sebagai bahan pangan karena mengandung nutrisi dan banyak manfaat. Budi daya A. auricula dilakukan dengan menggunakan media tanam dalam kondisi lingkungan yang terkontrol. Penelitian ini bertujuan menentukan kombinasi perlakuan waktu pengomposan dan penambahan sekam padi yang optimum terhadap produksi A. auricula. Perlakuan pada penelitian ini adalah waktu pengomposan media tanam selama 0, 2, 4, 6, dan 8 hari, serta penambahan sekam padi sebanyak 0, 25, dan 50%. Penelitian ini tersusun atas pembuatan media tanam, pembibitan dan inkubasi A. auricula, dan pemanenan tubuh buah. Keberhasilan budi daya jamur dilihat dari nilai efisiensi biologi pada setiap perlakuan. Kombinasi perlakuan pengomposan 8 hari dengan penambahan sekam padi 50% menghasilkan produksi A. auricula sebesar 52,37%, sedangkan kombinasi perlakuan waktu pengomposan 4 hari dan penambahan sekam padi 25% menghasilkan produksi A. auricula terbaik karena menghasilkan berat jamur sebanyak 340 ± 16,95 g dengan nilai efisiensi biologi sebesar 68% selama lima durasi panen dengan waktu empat bulan setelah dilakukan penyiraman pertama. Secara keseluruhan, perlakuan waktu pengomposan media dan penambahan sekam padi pada media pertumbuhan A. auricula berhasil dilakukan

    INDEX AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 17 NO. 1 APRIL 2024

    No full text

    Pengaruh Pemberian Jus Pare (Momordica charantia L.) Terhadap Kualitas Sperma dan Histologi Testis Tikus Wistar

    Get PDF
     AbstrakBuah pare merupakan salah satu kandidat agen kontrasepsi karena memiliki beberapa senyawa seperti flavonoid, triterpenoid, steroid, charantin, dan momordicin yang memiliki peran sebagai agen antispermatogenik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus pare (Momordica charantia L.) terhadap kualitas sperma dan histologi testis tikus Wistar (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769). Penelitian menggunakan 20 ekor tikus Wistar jantan, dibagi menjadi 4 perlakuan yang terdiri dari kelompok pemberian akuades (K), kelompok pemberian jus pare konsentrasi 25% (P1), 50% (P2), dan 75% (P3) yang dilakukan selama 49 hari menggunakan sonde lambung 1 mL. Pada hari ke-50 tikus dibedah untuk diambil cauda epididymis dan testis. Cauda epididymis dilarutkan ke dalam Phospate Buffer Saline (PBS) untuk pengamatan kualitas sperma yang terdiri dari motilitas, jumlah, viabilitas, dan morfologi sperma. Testis dibuat sediaan histologi dengan metode parafin (pewarnaan Hematoxylin-Eosin). Seluruh parameter dianalisis menggunakan uji One-Way Anova dan dilanjutkan Duncan test (P <0,05). Hasil menunjukkan terdapat penurunan motilitas, viabilitas, dan jumlah sperma pada konsentrasi 50% dibandingkan dengan kontrol (P <0,05), namun tidak terdapat perbedaan pada morfologi sperma (P >0,05). Terdapat penurunan jumlah sel spermatogonium, spermatosit, dan spermatozoa pada konsentrasi 25% dibandikan dengan kontrol (P <0,05), namun tidak terlihat penurunan pada sel spermatid dan index spermatogenesis (P >0,05). Jus pare dapat menurunkan sebagian besar parameter kualitas sperma sehingga berpotensi sebagai antispermatogenik.AbstractBitter melon fruit is one of the candidates for contraceptive agents because it contains several compounds such as flavonoids, triterpenoids, steroids, charantin, and momordicin which have a role as antispermatogenic agents. The research aims to determine the effect of giving bitter melon juice (Momordica charantia L.) on sperm quality and testicular histology of Wistar rats (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769). The study used 20 male Wistar rats, divided into 4 treatments consisting of groups given distilled water (K), groups given bitter melon juice with concentrations of 25% (P1), 50% (P2), and 75% (P3) which were carried out for 49 days. using a 1 mL gastric probe. On the 50th day, mice were dissected to remove the cauda epididymis and testes. The cauda epididymis is dissolved in Phosphate Buffer Saline (PBS) to measure sperm quality consisting of sperm motility, number, viability and morphology. Testes were made into histological preparations using the paraffin method (Hematoxylin-Eosin staining). All parameters were analyzed using the One-Way Anova test and continued with the Duncan test (P<0.05). The results showed that there was a decrease in sperm motility, viability and number at a concentration of 50% compared to the control (P<0.05), but there was no difference in sperm morphology (P>0.05). There was a decrease in the number of spermatogonium cells, spermatocytes and spermatozoa at a concentration of 25% compared to the control (P<0.05), but there was no visible decrease in spermatid cells and spermatogenesis index (P>0.05). Bitter melon juice can reduce most sperm quality parameters so it has the potential to be antispermatogenic.

    Studi Etnobotani Pemanfaatan Zingibereaceae Oleh Masyarakat Melayu di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau

    Get PDF
     AbstrakKearifan lokal etnis Melayu Rupat dalam memanfaatkan tumbuhan obat sangat khas, namun pengetahuan lokal tersebut belum pernah diungkap dan didokumentasikan dengan baik secara ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis, manfaat, dan cara pemanfaatan tumbuhan Zingiberaceae oleh masyarakat Melayu di Pulau Rupat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara terbuka dan semi terstruktur terhadap 15 praktisi obat tradisional. Data kualitatif dianalisis secara deskriptif dan data kuantitatif dianalisis dengan menghitung Use Value (UV), Index of Cultural Significance (ICS), Informant Consensus Factor (ICF), dan Fidelity Level (FL). Sebanyak 14 spesies dan lima genus famili Zingiberaceae yang dimanfaatkan masyarakat Melayu Rupat untuk mengobati sekitar 33 jenis penyakit yang dikelompokkan menjadi enam kategori di antaranya masalah kesehatan wanita, sakit kepala, masalah pencernaan, masalah otot, dan sendi, masalah sirkulasi serta masalah pada kulit. Hasil analisis diketahui bahwa tumbuhan Curcuma longa, Curcuma xanthorrhiza, Kaempferia galanga, dan Zingiber officinale var. rubrum memiliki nilai UV tertinggi yang mengindikasikan bahwa tumbuhan tersebut dianggap penting karena diketahui oleh semua informan. Keempat tumbuhan tersebut juga memiliki nilai ICS tertinggi karena memiliki khasiat paling banyak sebagai bahan obat. Terdapat 11 jenis penyakit yang memiliki nilai ICF tertinggi, yakni tingkat kesepakatan masyarakat dalam menggunakan suatu jenis tumbuhan untuk mengobati penyakit tersebut sangat tinggi. Nilai FL tertinggi mencapai 100% diperoleh pada tumbuhan Curcuma longa, Curcuma xanthorrhiza, dan Zingiber officinale var. Rubrum, artinya masyarakat memiliki pengetahuan yang sama dalam memanfaatkan ketiga jenis tumbuhan tersebut.Kata Kunci: Bengkalis; Etnobotany; Melayu; Pulau Rupat; ZingiberaceaeAbstractThe local wisdom of the Rupat Malay ethnic group in using medicinal plants is very unique, however, this local knowledge has never been revealed and documented properly scientifically. This research aims to identify the types, benefits and ways of using Zingiberaceae plants by the Malay community on Rupat Island. Data collection was carried out through open and semi-structured interviews with 15 traditional medicine practitioners. Qualitative data was analyzed descriptively and quantitative data was analyzed by calculating Use Value (UV), Index of Cultural Significance (ICS), Informant Consensus Factor (ICF), and Fidelity Level (FL). There are 14 species and five genera of the Zingiberaceae family that are used by the Rupat Malay community to treat approximately 33 types of diseases which are grouped into six categories including women\u27s health problems, headaches, digestive problems, muscle and joint problems, circulation problems and skin problems. The plants Curcuma longa, Curcuma xanthorrhiza, Kaempferia galanga, and Zingiber officinale var. rubrum has the highest UV value which indicates that this plant is considered important because it is known to all informants. These four plants also have the highest ICS values because they have the most benefits as medicinal ingredients. There are 11 types of diseases that have the highest ICF values, this shows that the level of community agreement in using a type of plant to treat this disease is very high. The highest FL value reaching 100% was obtained in Curcuma longa, Curcuma xanthorrhiza, and Zingiber officinale var. rubrum, that people have the same knowledge in using these three types of plants

    Produksi Antibodi Poliklonal Menggunakan Protein Rekombinan RBD-spike Untuk Deteksi SARS-CoV-2

    Get PDF
     AbstrakSARS-CoV-2 merupakan virus yang menyebabkan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di seluruh dunia dan sampai saat ini kasus terbaru masih terus dilaporkan. Diagnostic test merupakan hal yang krusial untuk dikembangkan. Prinsip diagnostic test COVID-19 berbasis antigen, yaitu mendeteksi virus SARS-CoV-2 melalui respon antibodi dari penderita. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi antibodi poliklonal menggunakan protein rekombinan RBD-Spike untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 berbasis antibodi. Penelitian dimulai dengan penentuan domain RBD-Spike menggunakan pensejajaran asam amino, dan konstruksi DNA untuk RBD-Spike pada vektor ekspresi pET28a menggunakan sintetik nukleotida. Produksi protein rekombinan RBD-Spike diekspresikan pada sel bakteri Escherichia coli. Purifikasi dilakukan untuk memperoleh protein RBD-Spike dan selanjutnya digunakan sebagai antigen untuk induksi antibodi poliklonal pada kelinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi protein rekombinan RBD-Spike SARS-CoV-2 memerlukan induksi IPTG 0,1 mM dan terekspresi dalam bentuk inclusion bodies dengan ukuran 39 kDa. Purifikasi protein RBD-Spike dilakukan menggunaan resin afinitas NiNTA, elektroelusi, dan dialisis. Total protein RBD-Spike yang diperoleh sebanyak 4 mL dengan konsentrasi 10 mg/mL. Analisa Ouchterlony menunjukkan bahwa antibodi poliklonal terdeteksi pada minggu kedua setelah injeksi booster dan analisa spesifitas antibodi terhadap antigen menunjukkan bahwa antibodi poliklonal dapat mendeteksi protein RBD-Spike pada konsentrasi 0,1 µg. Selanjutnya diharapkan antibodi poliklonal dapat digunakan untuk deteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 dan dapat dikembangkan untuk kit deteksi berbasis antibodi.AbstractSARS-CoV-2 is the virus that causes Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) worldwide and the latest cases are still being reported until now. The diagnostic test is a crucial to be developed. The principle of the antigen-based COVID-19 diagnostic test is to detect the SARS-CoV-2 virus through antibody response from the patients. This study was conducted to produce polyclonal antibodies using recombinant protein RBD-Spike. The research was carried out by determining the RBD-Spike domain using amino acid alignment and constructing the DNA of RBD-Spike to the expression vector of pET28a using nucleotide synthesis. Production of RBD-Spike recombinant protein was expressed in Escherichia coli. Purification was carried out to obtain RBD-Spike protein and used to induce polyclonal antibody ina rabbit. The results showed that the expression of RBD-Spike recombinant protein required induction of IPTG 0.1 mM and was expressed in inclusion bodies with molecular size of 39 kDa. The purification of RBD-Spike protein was carried out using resin affinity, electroelution, and dialysis. The total protein of RBD-Spike obtained was 4 mL with a concentration of 10 mg/mL. Ouchterlony analysis revealed that polyclonal antibody was detected in the second week after booster injection and analysis of antibody specificity showed that polyclonal antibodies detected RBD-Spike protein at the concentration of 0.1µg of RBD-Spike protein. Moreover, it is expected that our polyclonal antibody detect the SARS-CoV-2 virus and can be developed for antibody-based detection kits

    Feed Management and Nutritional Status of Gibbons (Symphalangus Syndactylus Raffles, 1821) at Tegal Alur Animal Rescue Center, Jakarta

    Get PDF
     AbstractGibbon (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) is an endangered species of black long-armed ape that is protected by national and international regulations. This study aims to analyze feeding behavior, feed management and nutritional status of gibbons in Tegal Alur Animal Rescue Center. The study was conducted in March-July 2020, using focal animal sampling and ad libitum sampling methods to 6 individual gibbons. Food management data collection includes information on feeding and the amount of feed, while nutritional status includes physical characteristics of the body, anthropometry, and analysis of feed composition. The results showed that the feeding schedule for gibbons was in accordance with the feeding times of gibbons in nature. Tegal Alur PPS provides food in the form of nine types of fruit, two types of vegetables and one type of leaves. Gibbons at Tegal Alur PPS Alur Animal Rescue Center has met the amount of feed consumption according to body weight. The nutritional status based on anthropometry shows that the body weight of the gibbon is not in accordance with its natural habitat. Morphological observations showed that the gibbon’s teeth and eyes were healthy, while some gibbons had hair loss and depigmentation.AbstrakOwa (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) merupakan spesies kera hitam lengan panjang yang terancam punah dan dilindungi oleh peraturan nasional dan internasional. Penelitian bertujuan untuk menganalisis perilaku makan, pengelolaan pakan, dan status gizi owa di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juli 2020, dengan metode focal animal sampling dan ad libitum sampling pada 6 individu owa. Pendataan pengelolaan pakan meliputi informasi pakan dan jumlah pakan, sedangkan status gizi meliputi ciri fisik tubuh, antropometri, dan analisis komposisi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jadwal pemberian pakan owa sesuai dengan waktu pemberian pakan owa di alam. PPS Tegal Alur menyediakan makanan berupa sembilan jenis buah, dua jenis sayuran dan satu jenis daun-daunan. Owa di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur telah memenuhi jumlah konsumsi pakan sesuai dengan berat badan. Status gizi berdasarkan antropometri menunjukkan bahwa berat badan owa lebih rendah dengan berat badan Owa di habitat aslinya. Pengamatan morfologi menunjukkan bahwa gigi dan mata owa dalam keadaan sehat, sementara beberapa owa mengalami kerontokan rambut dan depigmentasi

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇