Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    Efisiensi Penyerbukan Tetragonula laeviceps Pada Budi Daya Tumpang Sari Tomat Dan Mentimun Di Greenhouse

    Get PDF
    AbstrakPenyerbukan oleh serangga liar merupakan salah satu servis ekosistem yang tidak dapat diperoleh oleh sistem pertanian tertutup. Hal tersebut mungkin dapat digantikan oleh lebah yang didomestikasi, seperti lebah tidak bersengat (Tetragonula laeviceps). Pada penelitian ini, koloni T. laeviceps diuji coba sebagai sistem tumpang sari tomat (Lycopersicon esculentum L.) dan mentimun (Cucumis sativus L.)  yang ditanam pada greenhouse. Kesuksesan penyerbukan diamati pada 100 tangkai bunga tomat dan mentimun oleh koloni T. laeviceps yang ditempatkan pada greenhouse, kemudian dibandingkan dengan kesuksesan penyerbukan pada sistem budi daya yang terdapat di luar greenhouse (penyerbukan terbuka). Untuk dapat menjelaskan peran dari T. laeviceps sebagai penyerbuk maka dilakukan juga pengamatan pada tingkat kunjungan lebah, laju kunjungan, dan waktu yang dihabiskan pada bunga. Efek lanjutan dari proses penyerbukan seperti diameter, panjang, bobot, dan jumlah biji juga diamati dan dibandingkan antara kelompok yang dibudidayakan di dalam dan di luar greenhouse. Efisiensi penyerbukan dan kualitas buah tomat yang dihasilkan di luar greenhouse secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan aplikasi lebah tidak bersengat di dalam greenhouse. Efisiensi penyerbukan mentimun dengan T. laeviceps (14%) sangat rendah dibandingkan dengan penyerbukan terbuka (73%), namun kualitas buah yang dihasilkan lebih tinggi walaupun tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Di sisi lain, efisiensi penyerbukan tomat dengan T. laeviceps (45%) sangat rendah dibandingkan dengan penyerbukan terbuka (80%), dengan kualitas buah jauh lebih rendah. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa T. laeviceps dapat diaplikasikan sebagai agen penyerbuk pada sistem greenhouse, namun belum dapat menggantikan keuntungan dari variasi dari agen penyerbuk (biotik dan abiotik) yang terdapat pada sistem budi daya di sistem terbuka. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk mendesain sistem produksi buah di dalam greenhouse yang berkesinambungan melalui aplikasi servis penyerbukan.AbstractClosed system farming system is lack of natural pollination service which might solve the by application of domesticated bees, such as stingless bees (Tetragonula laeviceps) as pollination agent. This hypothesis was tested in this study in which T. laeviceps was applied as pollination agent of tomato (Lycopersicon esculentum L.) and cucumber (Cucumis sativus L.) cultivated as companion plants inside the greenhouse. During this study, pollination efficiency and its effect on fruit quality (such as dimension, weight, and seed numbers) of application of T. laeviceps as a pollination agent were compared to natural pollination systems outside the greenhouse (open pollination). The variables were observed on 100 flowers of both tomato and cucumber cultivated inside and outside greenhouse. The efficiency of pollination by T. laeviceps (14%) on cucumber was significantly lower than open pollination (73%) and the quality of the fruit produced was lower although insignificant. On the other hand, the efficiency of pollination by T. laeviceps (45%) on tomato was also significantly lower than open pollination (80%) and the quality of the fruit produced was significantly lower. Based on this study, although stingless bees have great potency to be applied as pollinators for cultivated crops inside a greenhouse, they still do not completely replace the benefit of pollinator diversity (biotic and abiotic). Furtherly, this study could be applied as a foundation to design a sustainable fruit production inside greenhouse by applying the pollination services.

    A Comparative Study Of Stomatal Characteristics of The Nine Pandanus Species From Nias Island, North Sumatra Province, Indonesia

    Get PDF
    AbstractThe identification of Pandanus species generally relies on morphological characteristics and requires confirmation from other identification features, such as stomata. A comparative study of stomatal characteristics among nine Pandan species originally from Nias Island, namely Pandanus atrocarpus, P. auranticus, P. labyrinthicus, P. militaris, P. odoratissimus, P. penangensis, P. tectorius, and P. utilis has been investigated. Anomocytic stomata without papillae on subsidiary cells were observed on both leaf surfaces, with significant interspecific differences in adaxial and abaxial stomatal frequencies. Pandanus tectorius exhibited the highest adaxial (30.71 ± 0.81) and abaxial (1.87 ± 0.12) stomatal frequencies. Pandanus labyrinthicus showed the highest stomatal index (adaxial 16.61 ± 2.51, abaxial 0.87 ± 0.11), while P. penangensis had the largest stomatal size (137.54 ± 6.66 µm). Overall, the stomatal parameters, including frequency, index, and size, were higher on the adaxial surface than the abaxial surface, emphasizing interspecific variations. These findings contribute valuable supportive data for the botanical systematics of Pandanus spp. in the region, enhancing our understanding of morphological characteristics crucial for species identification.AbstrakIdentifikasi jenis dari Pandanus cenderung menggunakan ciri morfologi dan memerlukan konfirmasi dari karakter lainnya, salah satunya stomata. Studi perbandingan stomata di antara sembilan spesies Pandan di Pulau Nias, Sumatera Utara telah dilakukan, yaitu Pandanus atrocarpus, P. auranticus, P. labirinthicus, P. militaris, P. odoratissimus, P. penangensis, P. tectorius, dan P. utilis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan jenis Pandanus memiliki tipe stomata berupa anomositik pada kedua permukaan daun atau amfistomatous tanpa adanya papilosa pada sel tambahan. Frekuensi stomata adaksial dan abaksial memiliki perbedaan yang nyata secara statistik lintas jenis. Frekuensi stomata tertinggi pada daun adaksial/abaksial diamati berturut-turut dari P. tectorius (30,71 ± 0,81) dan P. tectorius (1,87 ± 0,12). Indeks stomata daun tertinggi diamati berturut-turut berasal dari P. labirinthicus (16,61 ± 2,51) untuk adaxial dan P. labirinthicus (0,87 ± 0,11) untuk abaxial. Ukuran stomata terbesar diamati berturut-turut berasal dari P. penangensis (137,54 ± 6,66 µm) dan P. odoratissimus (64,56 ± 3,96 µm). Secara umum, tipe stomata pada semua jenis adalah anomositik tanpa adanya papila pada sel penjaga. Parameter stomata lainnya, yaitu frekuensi, indeks, dan ukuran pada bagian adaksial cenderung lebih tinggi dibandingkan permukaan abaksial dengan variasi nilai secara interspesifik

    Struktur Mikroanatomi Duodenum Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Dalam Pakan

    Get PDF
    AbstrakKelor merupakan tanaman tropis yang kaya fitonutrien dan senyawa bioaktif. Kandungan pada daun kelor mampu mendukung proses pencernaan, absorpsi, metabolisme, dan produktivitas unggas. Pemberian tepung daun kelor dalam pakan dengan konsentrasi yang tepat dapat mengefektifkan proses pencernaan dan absorpsi nutrien dengan memperbaiki struktur mikroanatomi duodenum puyuh. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemberian tepung daun kelor dalam pakan terhadap diameter lumen, tinggi vili, lebar vili, dan tebal muskular duodenum puyuh. Desain penelitian menggunakan RAL dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan konsentrasi pemberian tepung daun kelor dalam pakan meliputi 0, 2,5; 5; 7,5, dan 10%. Preparat histologi dibuat melalui metode parafin dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Parameter yang diamati meliputi diameter lumen, tinggi vili, lebar vili, dan tebal lapisan muskular duodenum. Data dianalisis menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung daun kelor dalam pakan berpengaruh tidak nyata  (P >0,05) terhadap diameter lumen, tinggi vili, dan lebar vili, namun berpengaruh nyata (P <0,05) terhadap tebal lapisan muskular pada duodenum puyuh.  Simpulan dari penelitian ini bahwa pemberian tepung daun kelor dalam pakan tidak berpotensi mengubah mikroanatomi duodenum puyuh sehingga dapat dimanfaatkan sebagai aditif pakan. Namun, pemberian tepung daun kelor dalam pakan berpotensi dalam meningkatkan ketebalan lapisan muskular duodenum puyuh.AbstractMoringa is a tropical plant rich in phytonutrients and bioactive compounds. The content in moringa leaves can support the process of digestion, absorption, metabolism, and productivity of poultry. Giving moringa leaf meal in feed with the right concentration can streamline the digestive process, and nutrient absorption by improving the microanatomical structure of the quail duodenum. This study aims to analyze the provision of moringa leaf flour in feed on the diameter of the lumen, villi height, villi width and muscular thickness of the quail duodenum. The research design used RAL with 5 treatments and 3 replications. The treatment concentration of moringa leaf meal in feed included 0; 2.5; 5; 7.5, and 10%. Histology preparations were made through paraffin method with Hematoxylin-Eosin (HE) staining. Parameters observed included lumen diameter, villi height, villi width, and duodenal muscular layer thickness. Data were analyzed using ANOVA followed by Duncan\u27s test using the SPSS program. The results showed that moringa leaf meal in feed had no significant effect (P >0.05) on lumen diameter, villus height and villus width, but had a significant effect (P <0.05) on the thickness of the muscular layer in the duodenum of quail. The conclusion of this study is that the provision of moringa leaf meal in feed does not have the potential to change the microanatomy of the quail duodenum so that it can be utilized as a feed additive. However, the provision of moringa leaf meal in feed has the potential to increase the thickness of the muscular layer of the quail duodenum.

    Anti-Inflammatory Effects of Velvet Bean Leaves Ethanolic Ointment (Mucuna pruriens L. (DC.)) on Mice Leukocytes Level

    Get PDF
    AbstractInflammation is a serious problem that needs to be treated. The use of steroid and non-steroidal drugs can treat inflammation well, but long-term use causes many side effects. So, it is necessary to use effective natural medicinal ingredients, one of which is velvet bean leaves (Mucuna pruriens L. (DC.)). This study aims to analyze the effect of velvet bean leaf ointment on the level of leukocyte components in mice experiencing inflammation. This research method was an experiment with a completely randomized design consisting of 6 treatment groups (normal, negative control, positive control (ketoconazole ointment)), velvet bean leaf ointment treatment at doses of 200, 400, and 600 mg/kgBW. The results showed that the use of velvet bean leaf ointment at doses of 200 and 400 mg/kgBW was able to significantly reduce the quantity of total leukocytes and monocytes in mice compared to the negative control (P <0.05); ointment at a dose of 200 mg/kgBW was able to significantly reduce the quantity of granulocytes and lymphocytes in mice compared to the negative control (P <0.05). The ability of velvet bean leaf ointment at a dose of 200 mg/kgBW is better in reducing the leukocyte quantity component compared to commercial drugs (ketoconazole ointment). Therefore, velvet bean leaf ointment at a dose of 200 mg/kgBW has great potential to be developed into an effective standardized anti-inflammatory drug.AbstrakInflamasi merupakan masalah serius yang perlu ditangani. Penggunaan obat steroid dan nonsteroid dapat mengatasi inflamasi dengan baik, namun penggunaan jangka panjang menimbulkan banyak efek samping. Maka dari itu perlu digunakan bahan obat alami yang efektif, salah satunya adalah daun kacang miang (Mucuna pruriens L. (DC.)). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh salep daun kacang miang terhadap kadar komponen leukosit pada mencit yang mengalami inflamasi. Metode penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 6 kelompok perlakuan (normal, kontrol negatif, kontrol positif (salep ketokonazol)), perlakuan salep daun kacang miang dosis 200, 400, dan 600 mg/kgBB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan salep daun kacang miang dosis 200 dan 400 mg/kgBB mampu menurunkan kuantitas total leukosit dan monosit mencit secara bermakna dibandingkan dengan kontrol negatif (P <0,05); Salep daun kacang miang dosis 200 mg/kgBB mampu menurunkan jumlah granulosit dan limfosit pada mencit secara signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif (P <0,05). Kemampuan salep daun kacang miang dosis 200 mg/kgBB lebih baik dalam menurunkan komponen jumlah leukosit dibandingkan dengan obat komersial (salep ketokonazol). Oleh karena itu, salep daun kacang miang dosis 200 mg/kgBB memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi obat antiinflamasi terstandar yang efektif

    Pengaruh Fucoidan Terhadap Struktur Hepar Ikan Zebra (Danio rerio, Hamilton 1822) yang Diberi Parasetamol Dosis Tinggi

    Get PDF
    AbstrakN-asetil-p-aminophenol atau parasetamol merupakan analgesik dan antipiretik yang mudah didapat tanpa resep. Penyalahgunaan dan kesalahan dosis konsumsi dapat menyebabkan kerusakan hepar. Fucoidan memiliki aktivitas hepatoprotektif yang dapat menstimulasi regenerasi hepatosit. Studi ini bertujuan untuk mengamati struktur histologis hepar ikan zebra (Danio rerio, Hamilto 1822) dewasa yang telah diberi perlakuan parasetamol dan fucoidan. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan ikan zebra dibagi menjadi empat kelompok perlakuan yaitu kontrol (K) selama 10 hari, parasetamol 5 mM (P) selama 3 hari dilanjutkan air RO selama 7 hari, parasetamol 5 mM selama 3 hari dilanjutkan fucoidan 100 µg/mL (P + F 100) selama 7 hari dan parasetamol 5 mM selama 3 hari dilanjutkan fucoidan 500 µg/mL (P + F 500) dengan ulangan setiap kelompok 6 ekor ikan. Studi berlangsung selama 10 hari, parameter yang diamati adalah histopatologis hepar, berat badan ikan, keaktifan berenang, dan nafsu makan. Pada semua kelompok perlakuan, hasil menunjukkan bahwa struktur histologis hepar ikan zebra mengalami kerusakan jaringan berupa hemoragi, dan kerusakan sel berupa vakuolisasi, piknosis dan nekrosis. Terdapat penurunan aktivitas berenang dan nafsu makan setelah perlakuan parasetamol. Kelompok yang diberi fucoidan mengalami pemulihan aktivitas renang dan nafsu makan. Terdapat perbedaan nyata (P <0,05) kerusakan hepar antara perlakuan kontrol, parasetamol dan pemberian fucoidan. Kelompok P + F 100 dan P + F 500 mengalami pemulihan hepatosit setelah paparan parasetamol. Kelompok P + F 500 memiliki perbaikan yang lebih baik dibandingkan kelompok P + F 100. Hasil pada penelitian ini adalah fucoidan dapat digunakan sebagai agen protektif hepar setelah paparan parasetamol dosis tinggi.AbstractN-acetyl-p-aminophenol or paracetamol is an analgesic and antipyretics which can be obtained easily without a prescription. Consumption misuse and wrong dosage intake can lead to liver damage. Fucoidan has hepatoprotective activity that can stimulate hepatocyte regeneration. The aim of this study was to observe the histological liver structure of adult zebrafish that had been treated with paracetamol and fucoidan. The research design used was a completely randomized design (CRD) with zebrafish divided into four treatment groups; control (K) for 10 days, paracetamol 5 mM (P) for 3 days followed by RO water for 7 days, Paracetamol 5 mM for 3 days followed by fucoidan 100 g/mL (P + F 100) for 7 days and Paracetamol 5 mM for 3 days followed by fucoidan 500 g/mL (P + F 500) with replicates for each group of 6 fish. The study lasted for 10 days, data on liver histopathology was evaluated, fish body weight, swimming activity, and appetite was also evaluated. In all treatment groups, the results showed that the histological structure of the zebrafish liver experienced tissue damage in the form of hemorrhage, and cell damage in the form of vacuolization, pyknosis and necrosis. There was a decrease in swimming activity and appetite after paracetamol treatment, the group given fucoidan experienced a recovery in swimming activity and appetite. There was a significant difference (P <0.05) in liver damage between the control, paracetamol and the fucoidan treated groups. The P + F 100 and P + F 500 exhibited hepatocyte recovery after exposure to paracetamol. The P + F 500 group had better improvement than the P + F100 group. The result of this research showed that fucoidan can be used as a protective liver agent after paracetamol high dosage exposure

    Random Mutagenesis of Lipomyces maratuensis InaCC Y720 Using Commercial UV Lamp To Increase Lipid Production

    Get PDF
    AbstractOleaginous yeasts are capable of accumulating high lipid concentration up to 20% of dry cell weight. High lipid content, a shorter life cycle, and similar a fatty acid composition to vegetable oils makes oleaginous yeast a potential lipid producer. Lipomyces maratuensis InaCC Y720 is a novel species isolated from Maratua Island, East Kalimantan, which has been reported as a potential yeast lipid producer. However, lipid productivity of the yeast is needed to be increased to make it suitable for an industrial scale. The aim of this study is to obtain potential mutant strains for the biodiesel industry. Random mutagenesis was applied by using commercial UV-C lamp on the strain which resulting in an 80% death rate after three hours irradiation. Subsequent treatment was carried out using cerulenin as a selection agent for mutans, yielding six mutant strains. Among these strains, mutant 1 produced the highest lipid production, with a lipid concentration of 0.072 g/L and a lipid percentage of 8.603%.  Nevertheless, when compared to the wild type, the lipid productivity of mutant 1 is low. Based on these results, the mutagenesis approach using commercial lamp UV-C has not obtained the expected mutants, so it is recommended to use different methods for future study.AbstrakKhamir oleaginous memiliki kemampuan dapat mengakumulasi lipid hingga 20% dari berat kering selnya. Tingginya kadar lipid yang diproduksi, siklus hidup yang pendek serta komposisi lipid yang mirip dengan minyak tumbuhan dapat menjadikan khamir sebagai alternatif penghasil lipid. Lipomyces maratuensis InaCC Y720 merupakan spesies baru yang diisolasi dari Pulau Maratua, Kalimantan Timur yang dilaporkan sebagai khamir penghasil lipid potensial. Namun, produktivitas lipid khamir tersebut perlu ditingkatkan agar sesuai untuk skala industri. Tujuan dalam studi ini adalah mendapatkan strain mutan yang potensial untuk industri biodiesel. Metode mutagenesis secara acak dilakukan dengan menggunakan lampu UV-C komersial pada strain yang menghasilkan tingkat kematian 80% selama tiga jam penyinaran. Setelah itu, dilakukan perlakuan lebih lanjut dengan penggunaan serulenin sebagai agen seleksi mutan. Proses seleksi menghasilkan enam strain mutan. Di antara keenam strain mutan, mutan 1 menghasilkan jumlah lipid tertinggi dengan berat lipid 0,072 g/L dengan persentase lipid yaitu 8,603%. Namun, dibandingkan dengan wild type, produktivitas lipid mutan 1 lebih rendah. Berdasarkan hasil ini, mutagenesis menggunakan lampu UV-C komersial belum mendapatkan mutan yang diharapkan sehingga disarankan penggunaan metode yang berbeda untuk penelitian selanjutnya.

    Efficacy of Bacillus thuringiensis Biolarvicide and Temephos Synthetic Larvicides on Culex quinquefasciatus Larvae

    Get PDF
    AbstractAn open environment with drainage and lush green grass around the hotel allows mosquitoes to breed. Mosquitoes from the genus Culex are one of the vectors for transmitting arboviruses and filariasis. Temephos is an active ingredient often used to control Culex quinquefasciatus and considered as environmental pollution. Therefore, it is necessary to develop environmentally friendly larvicides, such as the Bacillus thuringiensis biolarvicide. Many studies were conducted to control Aedes aegypti mosquito larvae using these microbial agents, but very little for controlling Cx. quinquefasciatus mosquito larvae. This study aims to compare the effectiveness of temephos and B. thuringiensis biolarvicides. Cx. quinquefasciatus larvae were divided into the insect sample group with temephos and the B. thuringiensis biolarvicide group at concentrations of 0.01, 0.02, and 0.03 mg/L. The number of dead larvae was calculated at 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 24 hours. Data analysis was performed using probit analysis of lethal time (LT50 and LT90). From statistical analysis, B. thuringiensis as larvicides showed 100% mortality of mosquito larvae. B. thuringiensis biolarvicide can be used as a substitute for chemical larvicide since it is proven effective in killing Cx. quinquefasciatus mosquito larvae in 24 hours and is environmentally friendly.AbstrakLingkungan terbuka dengan sistem pembuangan dan rumput yang hijau di sekitar hotel memungkinkan nyamuk berkembang biak. Nyamuk dari genus Culex adalah salah satu vektor yang mengirimkan arbovirus dan filariasis. Temephos adalah bahan aktif yang sering digunakan untuk mengendalikan Culex quinquefasciatus dan dianggap mencemari lingkungan. Oleh karena itu, perlu untuk mengembangkan larvasida yang ramah lingkungan, seperti Bacillus thuringiensis biolarvasida. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengendalikan larva nyamuk Aedes aegypti menggunakan agen mikroba ini, tetapi sangat sedikit untuk mengendalikan larva nyamuk Cx. quinquefasciatus. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas temephos dan B. thuringiensis biolarvasida. Larva Cx. quinquefasciatus dibagi menjadi kelompok sampel serangga dengan temephos dan kelompok B. thuringiensis biolarvasida pada konsentrasi 0,01, 0,02, dan 0,03 mg/L. Jumlah larva yang mati dihitung pada 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 24 jam. Analisis data dilakukan analisis waktu letal probit (LT50 dan LT90). Analisis statistik, B. thuringiensis sebagai larvasida menunjukkan 100% kematian larva nyamuk. B. thuringiensis biolarvasida dapat digunakan sebagai pengganti larvasida kimia karena terbukti efektif dalam membunuh larva nyamuk Cx. quinquefasciatus dalam waktu 24 jam dan ramah lingkungan

    Identifikasi Mikroplastik Pada Insang dan Saluran Pencernaan Ikan Bandeng (Chanos chanos) dari Tambak Tradisional Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo

    Get PDF
    AbstrakSampah plastik di perairan akibat dari peningkatan populasi manusia menjadi sumber kontaminasi mikroplastik pada ikan bandeng (Chanos chanos) di sistem tambak tradisional di kecamatan Sedati kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan mengetahui tipe dan kelimpahan mikroplastik pada insang dan saluran pencernaan ikan bandeng serta polimer yang terkandung dalam mikroplastik. Jenis penelitian termasuk ke dalam penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan eksploratif. Metode penentuan lokasi menggunakan purposive sampling pada 3 stasiun dengan 3 pengulangan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 3 tipe mikroplastik yaitu fiber, fragment, dan film dengan nilai kelimpahan tertinggi diperoleh pada tipe fiber yaitu 11,11 partikel/individu (insang) dan 9,05 partikel/individu (saluran pencernaan) dari sampel stasiun 2. Nilai mikroplastik yang ditemukan di insang paling tinggi nilai kelimpahannya (2,34 partikel/individu) dibandingkan dengan yang terdapat pada saluran pencernaan (1,86 partikel/individu). Sedangkan jenis polimer yang ditemukan adalah nilon (poliamida), polivinil klorida (PVC), dan low-density polyethylene (LDPE). Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan perlu diteliti lebih lanjut nilai lethal dosis mikroplastik dan pengaruh yang ditimbulkan sebagai akibat ditemukannya berbagai tipe mikroplastik pada organ insang dan saluran pencernaan terhadap pertumbuhan ikan bandeng.AbstractPlastic waste in waters that is increased by the human population is the most common source of microplastic contamination in milkfish (Chanos chanos) from the traditional pond system at Sedati district Sidoarjo regency. This research aims to identify the microplastic type, abundance, and polymers in the microplastics. This type of research includes qualitative and quantitative descriptive with an explorative approach. The location determination method uses purposive sampling at 3 stations with 3 repetitions. The study revealed three types of microplastics, which are fiber, fragment, and film with fiber exhibiting the highest abundance at 11,11 particles/ind in gills, while gastrointestinal tracts showed 9.05 particles/ind at station 2. Additionally, Chanos chanos gills displayed the highest microplastic abundance (2.34 particles/ind) compared to the gastrointestinal tract (1.86 particles/ind). The study identified various polymers within the microplastics, including nylon (polyamide), polyvinyl chloride (PVC), and low-density polyethylene (LDPE). Further research is needed to determine the lethal dosage of microplastics and their specific effects on Chanos chanos growth in both the gill and gastrointestinal tract

    The Effect of Moringa Leaf Extract Administration on Sperm Morphology and Blood Glucose Reduction in Alloxan-Induced Sprague Dawley Rats

    Get PDF
    AbstractIncreased blood sugar levels can be triggered by increased intake or insulin resistance, leading to increased oxidative stress that affects sperm quality during spermatogenesis. Moringa oleifera, rich in antioxidants, has been proven effective in improving sperm quality through several studies. This study aims to evaluate the influence of moringa leaf extract on sperm morphology and the reduction of blood sugar levels in Sprague Dawley white rats (Rattus norvegicus) induced by alloxan. Fasting blood sugar tests showed that rats induced with alloxan without moringa leaf extract had the highest blood sugar levels among the groups. In contrast, the negative control and treatment groups with moringa leaf extract successfully maintained blood sugar levels at normal levels. Normal sperm morphology reached 94.5% in the treatment group with the highest dose of moringa leaf extract. The results of the study indicate a significant relationship between blood sugar levels and sperm morphology in alloxan-induced white rats after the administration of moringa leaf extract. Moringa oleifera has the potential to be a therapeutic intervention to improve sperm quality and control blood sugar levels in hyperglycemic conditions.AbstrakPeningkatan kadar gula darah dapat dipicu oleh peningkatan asupan atau resistensi insulin menyebabkan peningkatan stres oksidatif yang mempengaruhi kualitas sperma selama spermatogenesis. Tanaman kelor (Moringa oleifera), tumbuhan yang kaya akan antioksidan, telah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas sperma melalui beberapa penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak daun kelor terhadap morfologi sperma dan pengurangan kadar gula darah pada tikus putih Sprague Dawley (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan. Uji gula darah puasa menunjukkan bahwa tikus yang diinduksi aloksan tanpa perlakuan ekstrak daun kelor memiliki kadar gula darah tertinggi di antara kelompok-kelompok lainnya. Sebaliknya, kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan dengan ekstrak daun kelor berhasil menjaga kadar gula darah pada tingkat normal. Morfologi sperma normal mencapai 94,5% pada kelompok perlakuan dengan dosis 400 mg/kgBB ekstrak daun kelor. Kesimpulan yang didapatkan pada penelitian ini berkaitan dengan temuan hubungan signifikan antara kadar gula darah dan morfologi sperma pada tikus putih yang diinduksi aloksan setelah pemberian ekstrak daun kelor. Tanaman kelor (Moringa oleifera) memiliki potensi sebagai intervensi terapeutik untuk meningkatkan kualitas sperma dan mengendalikan kadar gula darah dalam kondisi hiperglikemia.

    Antifungal, Hydrolytic Enzyme Activity, and Identification of Gut Bacterial in Feces of Black Soldier Fly (Hermetia illucens) Larvae

    Get PDF
    AbstractBlack soldier fly (BSF) (Hermetia illucens) is a type of fly that has larvae called maggots with potential as a waste bioremediation agent. Maggot from BSF has unique digestive characteristics with a diversity of bacteria in it which helps maggot digest organic materials by producing various hydrolytic enzymes. Fecal bacteria in maggots also have potential antifungal activity. This research aimed to identify the hydrolytic and antifungal enzyme activity of maggot fecal bacteria (Hermetia illucencs). Hydrolytic enzyme activity is carried out by measuring the hydrolytic zone in the test medium. The antifungal antagonist test was carried out on Phytophthora sp. using the dual agar culture method. The results of the enzyme activity test showed that isolate MNM 001 had proteolytic enzyme activity, MNM 002 had amylolytic, and proteolytic enzyme activity, and was able to dissolve P elements. MNM 003 had cellulolytic, amylolytic, and proteolytic enzyme activity. From the results of the antagonist test, MNM 001, MNM 002, and MNM 003 have antifungal activity against Phytophthora sp. of the three isolates, isolates MNM 002 and MNM 003 had the best hydrolytic enzyme activity and were identified using the 16S rRNA gene. The results of amplification of the 16S rRNA gene from MNM 002 and MNM 003 indicated that the two isolates were close to the genus Brevibacterium.AbstrakBlack soldier fly (BSF) (Hermetia illucens) adalah jenis lalat yang memiliki larva disebut maggot dengan potensi sebagai agen bioremediasi sampah. Maggot dari BSF memiliki karakterisitik pencernaan unik dengan keragaman bakteri di dalamnya yang membantu maggot mencerna bahan organik dengan menghasilkan beragam enzim hidrolitik. Bakteri pada feses maggot juga memiliki potensi aktivitas antifungi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aktivitas enzim hidrolitik dan antifungi dari bakteri feses maggot (Hermetia illucens). Aktivitas enzim hidrolitik dilakukan dengan mengukur zona hidrolitik pada medium uji. Uji antagonis antifungi dilakukan terhadap Phytophthora sp. dengan metode dual culture agar. Hasil uji aktivitas enzyme menunjukkan isolat MNM 001 memiliki aktivitas enzim proteolitik, MNM 002 memiliki aktivitas enzim amilolitik, proteolitik, dan mampu melarutkan unsur P. MNM 003 memiliki aktivitas enzim selulolitik, amilolitik, dan proteolitik. Hasil uji antagonis MNM 001, MNM 002, dan MNM 003 memiliki aktivitas antifungi terhadap Phytophthora sp. Ketiga isolat tersebut, isolate MNM 001, MNM 002, dan MNM 003 memiliki aktivitas enzim hidrolitik terbaik dan diidentifikasi menggunakan gen 16S rRNA. Hasil amplifikasi gen 16S rRNA dari MNM 002 dan MNM 003 mengindikasikan bahwa kedua isolat tersebut memiliki kedekatan dengan genus Brevibacterium

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇