Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
Evaluasi Lokus Potensial matK dan ITS2 Untuk DNA Barcoding Anggrek Bulbophyllum lobbii Lindl.
AbstrakBulbophyllum lobbii Lindl. merupakan anggrek dari famili Orchidaceae yang berpotensi sebagai bahan baku obat herbal. Identikasi morfologi anggrek B. lobii memiliki keterbatasan karena kemiripan spesies dengan anggrek lain. Alternatif identifikasi secara molekuler menggunakan sekuen matK dan ITS2 sebagai barcode dalam DNA barcoding diharapkan menjadi salah satu lokus pembeda spesies anggrek B. lobbii secara akurat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sekuen matK dan ITS2 sebagai penanda molekuler yang efektif untuk anggrek B. lobbii. DNA genom B. lobbii diisolasi dengan metode Cethyl Trimethyl Ammonium Bromide (CTAB) dan amplifikasi DNA dengan PCR. Hasil penelitian menunjukkan sekuen matK dari B. lobbii memiliki tingkat homologi tinggi dengan dua spesies B. lobbii (KY966747.1 dan KY966691.1) dari China dengan nilai Per. Ident sebesar 99,20%, sedangkan sekuen ITS2 memiliki homologi tertinggi dengan nilai Per. Ident sebesar 99,76% pada spesies B. lobbii (MG253848.1) dari Polandia. Hasil analisis menunjukkan sekuen ITS2 dapat mengidentifikasi spesies dari tingkatan subspesies atau diatasnya (ordo atau genus) dan juga meningkatkan resolusi filogenetik yang baik pada hasil BLAST, sedangkan sekuen matK memberikan sedikit kontribusi dalam pengelompokkan hubungan kekerabatan antara spesies B. lobbii dengan spesies pembanding lainnya. Sekuen ITS2 dapat direkomendasikan sebagai penanda molekuler yang paling baik untuk identifikasi sampel anggrek Bulbophyllum, khususnya Bulbophyllum lobbii.AbstractBulbophyllum lobbii Lindl. is an orchid from the Orchidaceae family which has potential as a raw material for herbal medicine. Morphological identification of the B. lobii orchid has limitations due to the species\u27 similarity to other orchids. The alternative molecular identification using matK and ITS2 sequences as barcodes in DNA barcoding is expected to be one of the loci for distinguishing the B. lobbii orchid species accurately and efficiently. This study aims to identify matK and ITS2 sequences as effective molecular markers for the orchid B. lobbii. Bulbophyllum lobbii genomic DNA was isolated using the Cethyl Trimethyl Ammonium Bromide (CTAB) method and DNA amplification by PCR. The results showed that the matK sequence from B. lobbii has a high level of homology with two B. lobbii species (KY966747.1 and KY966691.1) from China with a value of Per. Ident is 99.20%, while the ITS2 sequence has the highest homology with a Per. Ident value of 99.76% with the species B. lobbii (MG253848.1) from Poland. The results of the analysis show that the ITS2 sequence can identify species from the subspecies level or above (ordo or genus) and also improves good phylogenetic resolution in BLAST results, while the matK sequence makes little contribution in grouping the relationship between the B. lobbii species and other comparison species. The ITS2 sequence can be recommended as the best molecular marker for identifying Bulbophyllum orchid samples, especially Bulbophyllum lobbii.
Kemampuan Adaptasi Ikan Tebaran di Waduk Penjalin Ditinjau dari Kemampuan Memanfaatkan Makanan Alami
AbstrakPenebaran ikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ikan di perairan Waduk Penjalin. Kemampuan ikan dalam memanfaatkan makanan alami di badan air menjadi salah satu faktor keberhasilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan ikan tebaran dalam memanfaatkan makanan alami di Waduk Penjalin. Penelitian dilakukan menggunakan metode stratified random sampling pada bulan Desember 2021 sampai Februari 2022, dengan pengambilan sampel satu kali setiap bulannya. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 stasiun yaitu Dam, Keser Kulon, Soka, dan Kedung Agung. Analisis data meliputi indeks relatif penting, kebiasaan makanan dan tingkat trofik, luas relung, dan tumpang tindih relung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tebaran termasuk ikan herbivora (nila, tawes, mas) dan karnivora (udang galah). Ikan nila dan tawes memanfaatkan fitoplankton, ikan mas memanfaatkan tumbuhan dan udang galah memanfaatkan moluska sebagai makanan utama. Ikan yang ditebar cenderung spesialis dalam mencari makanan. Tumpang tindih relung tinggi terjadi antara ikan nila dan tawes, namun ketersediaan makanan alami yang melimpah masih memungkinkan ikan tersebut tumbuh dengan baik.AbstractFish enhancement is one of the efforts to increase fish production in Penjalin Reservoir. The ability of fish to utilize natural food in water bodies is one of the success factors. The purpose of this study was to determine the ability of the stockfish to utilize natural food in the Penjalin Reservoir. The research was conducted using the stratified random sampling method in December 2021 until February 2022, with sampling once per month. Sampling was carried out at 4 stations namely Dam, Keser Kulon, Soka and Kedung Agung. Data analysis included relative importance indices, food habits and trophic level, niche breadth and niche overlap. The results showed that the stocked fish included herbivorous fish (nile tilapia, silver barb, common carp) and carnivorous fish (giant freshwater prawns). Nile tilapia and silver barb fish use phytoplankton, common carp use plants and giant freshwater prawns use molluscs as their main food. Stocked fish tend to be specialists in finding food. High niche overlap occurs between tilapia and silver barb, but the availability of natural food still allows these fish to grow well
Efikasi Asap Cair Dari Kayu Mundu (Garcinia dulcis) Terhadap Penghambatan Pertumbuhan Jamur Aspergillus niger dan Aspergillus fumigatus
AbstrakAspergillus merupakan genus jamur patogen yang menyerang pasca panen hasil tanaman hortikultura, seperti jagung dan kacang-kacangan. Pemanfaatan asap cair untuk mengendalikan pertumbuhan jamur patogen saat pasca panen merupakan salah satu alternatif yang alami dan aman untuk diterapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kemampuan daya hambat dan kategori aktivitas antifungi asap cair berbahan dasar kayu mundu (Garcinia dulcis) terhadap jamur Aspergillus niger dan Aspergillus fumigatus serta kandungan senyawa kimianya. Kayu mundu yang digunakan berasal dari Kabupaten Kubu Raya. Media Potato Dextrose Agar (PDA) digunakan untuk uji aktivitas antifungi asap cair. Enam konsentrasi asap cair yaitu 0; 0,5; 1,0; 1,5, 2,0 dan 2,5% digunakan untuk uji dengan dithane M45 sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair berbahan dasar kayu mundu mampu menekan pertumbuhan jamur A. niger dan A. fumigatus secara signifikan (P <0,05). Konsentrasi asap cair berbahan dasar kayu mundu sebesar 2,5% memberikan hasil terbaik dengan nilai rata-rata penghambatan terhadap jamur A. niger dan A. fumigatus masing-masing sebesar 100 dan 91,81% dan tergolong kategori aktivitas sangat kuat. Uji kandungan senyawa kimia asap cair berbahan dasar kayu mundu mengandung 5 senyawa utama, yaitu 2-propanone, 1,2 ethanediol, acetid acid, phenol 2-methoxy-4-(2-propenyl)-(CAS) eugenol, dan 3-furaldehyde. Asap cair berbahan dasar kayu mundu berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengendali serangan jamur patogen A. niger dan A. fumigatus pada pasca panen tanaman hortikultura.AbstractAspergillus is pathogenic fungi that infect post-harvest yields of horticultural crops, i.e., Zea mays and legum. Using liquid smoke is one of the natural and safe alternatives to control fungus and the growth of pathogenic fungi that attack post-harvest yields of cultivated plants. This study aimed to evaluate the antifungal properties of liquid smoke from mundu (Garcinia dulcis) wood against the fungus Aspergillus niger and Aspergillus fumigatus. Mundu wood is from Kubu Raya Regency. The Agar media used was Potato Dextrin Agar (PDA), and concentrations of liquid smoke were 0; 0.5; 1.0; 1.5; 2.0; and 2.5%. The results indicated that the liquid smoke from Mundu wood significantly inhibited the A. niger and A. fumigatus growth (P <0.05). The highest result of liquid smoke from Mundu wood against A. niger and A. fumigatus is a concentration of 2.5% with an average inhibition value of 100 and 91.81%, respectively, with a firm activity level. The contents of liquid smoke contained five dominant compounds, i.e., 2-propanone, 1,2 ethanediol, acetic acid, phenol 2-methoxy-4-(2-propenyl)-(CAS) eugenol, and 3-furaldehyde. Liquid smoke produced from mundu wood has the potential to be developed for the control of pathogenic fungi A. niger and A. fumigatus in post-harvest horticultural crops.
Primer Design and Optimization of Annealing Temperature for Gene Amplification GSTL2 on Rice
AbstractGlutathione S-Transferase is a superfamily enzyme that has many roles for living things, especially in the detoxification of Reactive Oxygen Species (ROS), one of which is rice plants. One gene of this family that has a role for plants is GSTL2 This gene is known to have a contribution to Arabidopsis and Oryza sativa L. against abiotic stress. To find out how this gene expression is requires a primer to specifically amplify this gene, and an optimal annealing temperature to support the success of the primer. This study aims to design primers and determine the optimal annealing temperature for gene amplification GSTL2. Primers were designed using the Primer3, which were then analyzed with Genious Prime based on good primer criteria and optimizing the annealing temperature which was carried out using gradient PCR. The results of this study obtained a primer pair is forward 5’-TTCGAAGGGCCAGCATTACT-3’ primer reverse 5’-CAATGTCCACCAAGCTGAA-3’. The primer pair has a length of 20 nt, with melting temperature (Tm) 59–59,4 °C, and GC content 50%. The primer forward there is a secondary structure in the form of a self-dimer with (Tm) 6.2 °C. The primer pair can amplify gene sequences GSTL2 by producing a PCR product 224 bp. The annealing temperature of 60 °C resulting in a single thick, bright DNA strand.AbstrakGlutathione S-Transferase merupakan enzim superfamily yang memiliki banyak peranan bagi makhluk hidup terutama dalam detoksifikasi Reactive Oxygen Species (ROS), salah satunya tumbuhan. Salah satu gen dari famili ini yang memiliki peranan bagi tanaman adalah GSTL2. Gen ini diketahui memiliki kontribusi bagi tanaman Arabidopsis dan Oryza sativa L. terhadap stres abiotik. Untuk mengetahui bagaimana ekspresi gen GSTL2 ini dibutuhkan primer untuk mengamplifikasi gen ini secara spesifik, di samping itu suhu annealing yang optimal untuk menunjang keberhasilan primer. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain primer dan menentukan suhu annealing yang optimal untuk mengamplifikasi gen GSTL2. Primer didesain menggunakan tools Pick Primer dan Geneious Prime, yang kemudian dianalisis secara in silico berdasarkan kriteria primer yang baik. Serta optimasi suhu annealing yang dilakukan menggunakan gradient PCR. Hasil penelitian ini diperoleh sepasang primer dengan panjang masing-masing primer 20 nt, primer forward 5’-TTCGAAGGGCCAGCATTACT-3’ primer reverse 5’-CAATGTCCACCAAGCTGAA-3’. Pasangan primer dapat mengamplifikasi sekuen gen GSTL2 dengan menghasilkan produk PCR sebesar 224 bp pada suhu annealing 60 °C
Pengaruh Pemberian Pakan Cacing Sutra dan Jentik Nyamuk Terhadap Pertumbuhan Ikan Cupang Petarung Siam (Betta splendens)
AbstrakIkan cupang petarung siam (Betta splendens) merupakan jenis ikan hias yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Namun, pembudidaya ikan cupang sering mengalami kesulitan dalam hal proses pemeliharaan ikan, salah satunya adalah tentang pemenuhan pakan yang kaya akan nutrisi untuk pertumbuhan ikan cupang petarung siam. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pakan cacing sutra dan jentik nyamuk terhadap pertumbuhan ikan cupang petarung siam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan 4 pengulangan dengan pemberian pakan cacing sutra (Tubifex sp.) dan jentik nyamuk dari spesies nyamuk Culex spp. Parameter yang diamati berupa pertumbuhan panjang dan pertambahan berat (biomassa) tubuh ikan cupang petarung siam. Hasil pengamatan panjang dan berat tubuh ikan cupang petarung siam dengan perlakuan yang berbeda, yaitu perlakuan A (cacing sutra 12 ekor), perlakuan B (jentik nyamuk 12 ekor), perlakuan C (cacing sutra 6 ekor dan jentik nyamuk 6 ekor), dan perlakuan D (pelet 7–8 butir). Dalam waktu perhitungan panjang dan berat tubuh ikan cupang petarung siam pada minggu ke-7 sampai dengan minggu ke-35 menghasilkan rata-rata panjang tubuh ikan 5,35; 5,26; 5,48; dan 4,79 cm secara berturut-turut. Dapat disimpulkan bahwa pemberian jenis pakan alami yang berbeda pada ikan cupang petarung siam, yaitu dengan pemberian 6 ekor cacing sutra dan 6 ekor jentik nyamuk memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan panjang, namun tidak berpengaruh nyata untuk pertambahan berat.AbstractThe Siamese fighting betta fish (Betta splendens) is a type of ornamental fish that has high economic value. However, Betta fish breeders often experience difficulties in the process of raising fish, one of which is the provision of feed that is rich in nutrients for the growth of Siamese fighting Betta fish. The research aims to determine the effect of feeding silk worms and mosquito larvae on the growth of Siamese fighting betta fish. The method used in this research was the Completely Randomized Design (CRD) method which consisted of four treatments and 4 repetitions by feeding silkworms (Tubifex sp.) and mosquito larvae from the Culex spp. mosquito species. The parameters observed were length growth and weight gain (biomass) of the body of the Siamese fighting betta fish. Results of observations of body length and weight of Siamese fighting betta fish with different treatments, namely treatment A (12 silkworms), treatment B (12 mosquito larvae), treatment C (6 silk worms and 6 mosquito larvae), and treatment D (7–8 grain pellets). When calculating the body length and weight of the Siamese fighting Betta fish from the 7th week to the 35th week, the fish\u27s body length was 5.35; 5.26; 5.48; and 4.79 cm respectively. It can be concluded that giving different types of natural food to Siamese fighting betta fish, namely by giving 6 silk worms and 6 mosquito larvae, has a significant effect on length growth, but has no real effect on weight gain
Diversity of Diurnal Butterflies (Lepidoptera) in Three Different Habitats in Batutegi Protected Forest, Lampung
AbstractBatutegi protected forest has various ecosystems that are habitat for butterfly species despite being largely unexplored. This study aimed to investigate the diversity of diurnal butterflies in three different habitats of Batutegi Protected Forest, Lampung. Sampling using exploration methods was conducted in forest, river, and swamp habitat. The results showed that swamp habitat had 28 species, river habitat had 19 species, and forest habitat had 20 species. Shannon-Wiener diversity index for all habitat was at moderate level. Hutchinson\u27s t-test results showed diversity index between three habitats was significantly different. Evenness index was at high level. The Nymphalidae family had the greatest number of species and individuals, while Lycaenidae and Riodinidae had the least. Eurema hecabe was found the highest in swamp vegetation. Cupha erymanthis was found the highest in river vegetation. Euthalia monina was found the highest in forest vegetation. Two protected species, Trogonoptera brookiana and Troides helena, were observed. Butterfly diversity was affected by habitat condition. This study can serve as fundamental reference in determining vegetation suitability for stabilizing Batutegi Protected Forest for educational and ecotourism purposes.AbstrakHutan Lindung Batutegi memiliki beragam ekosistem yang menjadi habitat spesies kupu-kupu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis kupu-kupu di tiga habitat Hutan Lindung Batutegi, Lampung. Pengambilan data dilakukan dengan metode eksplorasi di habitat rawa, sungai dan hutan. Jumlah spesies kupu-kupu ditemukan terbanyak pada habitat rawa sebanyak 28 spesies, spesies kupu-kupu di habitat hutan sebanyak 20 spesies, dan di habitat sungai sebanyak 19 spesies. Komposisi spesies kupu-kupu yang terdapat di habitat rawa dan sungai memiliki tingkat kesamaan yang tinggi. Indeks keanekaragaman kupu-kupu pada tiga habitat tergolong sedang. Hasil uji Hutchinson menunjukkan perbedaan bermakna antar habitat. Indeks kemerataan kupu-kupu di tiga habitat bernilai tinggi. Famili Nymphalidae memiliki spesies dan individu terbanyak, sedangkan famili Lycaenidae dan Riodinidae paling sedikit. Eurema hecabe ditemukan terbanyak di habitat rawa. Cupha erymanthis ditemukan terbanyak di habitat sungai. Euthalia monina ditemukan terbanyak di habitat hutan. Terdapat dua spesies kupu-kupu yang dilindungi, yaitu Troides helena dan Trogonoptera brookiana. Keanekaragaman kupu-kupu dipengaruhi oleh kondisi habitat. Penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan kesesuaian habitat yang perlu dipertahankan untuk menyeimbangkan daerah kawasan Hutan Lindung Batutegi sebagai sarana edukasi dan ekowisata
The Utilization of Lichen As Biomonitoring NO2 Gas Emission in The City of Palembang
AbstractThis study aims to determine the type of lichen as a bioindicator of air pollution and its potential in biomonitoring NO2 gas emissions in the air using the index of atmospheric purity (IAP) calculation method. The research area was divided into 4 sampling stations. One location is a motorised traffic-free area designated as station 1. Station 2, 3, and station 4 are areas located on roads with different motorised traffic densities. At stations 1, 2, 3 and 4, NO2 pollutant levels were measured following the SNI 19–7119.2–2005 procedure with the Griess Saltzman method. Furthermore, at the same station, the pollution level was also determined by calculating the IAP value. Based on the IAP value, the pollution level at the research area station is in the low-very high category with NO2 gas pollution levels in the range of 7.95–12.1 μg/Nm3/hour. There are 8 species of lichen whose presence can serve as bioindicators of NO2 pollution in the air. These species are Graphis sp., Lecanora sp., Lepraria sp., Dirinaria sp., Graphis scripta, Canoparmelia sp., Ochrolechia sp., and Lecidella elaeochroma. The results of the average measurement of NO2 levels show that NO2 levels at the four sampling stations are still in a safe status because they are still below the air quality standards. The IAP value has a negative correlation with NO2 levels in the air, where the higher the NO2 levels in the air, the lower the IAP value, otherwise if the NO2 levels in the air are lower, the IAP value will be higher. The Pearson Correlation test shows that there is a negative relationship (unidirectional relationship) between NO2 levels in the air and IAP values. The higher the pollutants in an area, the lower the number of colonies and area of lichen cover on trees, especially in lichen species that are sensitive to air pollution.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis lichen sebagai bioindikator pencemaran udara dan potensinya dalam biomonitoring emisi gas NO2 di udara dengan metode perhitungan index of atmospheric purity (IAP). Area penelitian dibagi menjadi atas 4 stasiun sampling. Satu lokasi merupakan area bebas lintasan kendaraan bermotor yang ditetapkan sebagai stasiun 1. Stasiun 2, 3, dan stasiun 4 yaitu area yang berada pada ruas jalan dengan kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor yang berbeda. Pada stasiun 1, 2, 3 dan 4 diukur kadar pencemar NO2 mengikuti prosedur SNI 19–7119.2–2005 dengan metode Griess Saltzman. Selanjutnya, pada stasiun yang sama ditentukan pula tingkat pencemarannya dengan menghitung nilai IAP. Berdasarkan nilai IAP, tingkat pencemaran pada stasiun area penelitian berada pada kategori rendah-sangat tinggi dengan kadar pencemar gas NO2 berada pada kisaran 7,95–12,1 μg/Nm3/jam. Ada 8 jenis lichen yang kehadirannya dapat berfungsi sebagai bioindikator pencemaran NO2 di udara. Jenis tersebut adalah Graphis sp, Lecanora sp., Lepraria sp., Dirinaria sp., Graphis scripta, Canoparmelia sp., Ochrolechia sp., dan Lecidella elaeochroma. Hasil pengukuran rata-rata kadar NO2 menunjukkan bahwa kadar NO2 di empat stasiun pengambilan sampel masih dalam status aman karena masih di bawah baku mutu udara. Nilai IAP memiliki korelasi negatif dengan kadar NO2 di udara, dimana semakin tinggi kadar NO2 di udara, maka nilai IAP akan semakin rendah, sebaliknya jika kadar NO2 di udara semakin rendah, maka nilai IAP akan semakin tinggi. Melalui uji Korelasi Pearson, menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif (hubungan tidak searah) antara kadar NO2 di udara dengan nilai IAP. Semakin tinggi polutan di suatu area, semakin rendah jumlah koloni dan luas penutupan lichen pada pohon, terutama pada jenis lichen yang sensitif terhadap polusi udara.
Silica\u27s Medium in Various Concentration Effect on Navicula sp. Metabolism
Abstract Navicula sp., an aquatic microalgae species, are numerous and diverse, with high metabolites so they hold great potential in biotechnology. Although it has many advantages, it is often not used in industry. In silica medium, Navicula sp. produces various metabolites depending on their concentration. This research aims to discover how adding silica to the medium affects the growth and production of Navicula sp. metabolites so that cultivation can be carried out at low cost and with maximum results. For 21 days, this experiment was carried out with three concentrations of silica (1; 1.5; and 2 mL/L) and one control (0 mL/L) grown each in a 500 mL culture of Navicula sp. Repetition was done thrice for each measurement parameter; growth speed, biomass production, lipids, carbohydrates, and protein. Medium silica 1.5 mL/L was the optimal concentration for growth speed, biomass production, and carbohydrate production for Navicula sp. (0.083; 0.54; and 0.075 mg/day, respectively). Meanwhile, the optimal silica concentration for lipid and protein production for Navicula sp. were 1 mL/L medium and control medium (0.517 and 0.8 × 10-2 mg/day, respectively). Overall, this research can be used to grow Navicula sp. in producing specific metabolites optimally. AbstrakNavicula sp., spesies mikroalga akuatik, sangat banyak dan beragam dengan metabolit yang tinggi, sehingga memiliki potensi yang besar dalam bioteknologi. Meskipun memiliki banyak keunggulan, spesies ini seringkali tidak digunakan dalam industri. Dalam medium silika, Navicula sp. menghasilkan berbagai metabolit tergantung pada konsentrasinya. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui bagaimana penambahan silika dalam medium memengaruhi pertumbuhan dan produksi metabolit Navicula sp., sehingga kultivasi dapat dilakukan dengan biaya yang rendah dan hasil yang maksimal. Selama 21 hari, eksperimen ini dilakukan dengan tiga konsentrasi silika (1; 1,5; dan 2 mL/L) dan satu kontrol (0 mL/L) yang ditumbuhkan di dalam 500 mL kultur Navicula sp. Pengulangan dilakukan tiga kali untuk setiap parameter pengukuran, yaitu kecepatan pertumbuhan, produksi biomassa, lipid, karbohidrat, dan protein. Medium silika 1,5 mL/L merupakan konsentrasi yang optimal untuk kecepatan pertumbuhan, produksi biomassa, dan produksi karbohidrat bagi Navicula sp. (0.083; 0.54; dan 0.075 mg/hari, secara berurutan). Sementara itu, konsentrasi silika yang optimal untuk produksi lipid dan protein bagi Navicula sp., secara berurutan, adalah medium 1 mL/L dan medium kontrol (0.517 dan 0.8 × 10-2 mg/hari). Secara keseluruhan, penelitian ini dapat dijadikan sebagai solusi untuk menumbuhkan Navicula sp. dalam memproduksi metabolit tertentu secara optimal