Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN POLIFENOL TANAMAN KATUK (Sauropus androgynus (L.) Merr) PADA MEDIA TANAM DENGAN PEMBERIAN ASAM HUMAT
AbstrakKatuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) merupakan tanaman sayuran yang berkhasiat obat karena mengandung senyawa aktif diantaranya flavonoid, steroid, dan tanin yang digunakan sebagai antioksidan. Peningkatan pertumbuhan tanaman dapat dilakukan dengan meningkatkan produksi biomassa tanaman, yang diharapkan dapat meningkatkan kandungan senyawa aktif pada tanaman seperti polifenol. Penggunaan asam humat dapat meningkatkan kualitas media tanaman sehingga pertumbuhan tanaman dapat meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh asam humat terhadap pertumbuhan dan kandungan senyawa polifenol tanaman katuk, serta menentukan konsentrasi asam humat yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan kandungan polifenol terhadap tanaman katuk. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan asam humat pada media tanam dengan konsentrasi 0 g/kg; 4g/kg; 8g/kg dan 12 g/kg. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali ulangan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah pertumbuhan tanaman meliputi jumlah daun, berat basah dan berat kering serta kandungan polifenol. Data dianalisis dengan analisis variansi dengan taraf uji 5% dan 1% dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada level 5%. Pemberian asam humat dengan konsentrasi 6,23 g/kg pada media tanam dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan kandungan polifenol tanaman katuk. .Kata kunci: Abstract Katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) is medicine efficacious vegetable because it contains active compounds such as flavonoid, steroid, and tannin. Those compounds were used as antioxidants. The growth of the plant increased the production of the biomass plant. It is expected that increasing biomass plant can increase active compound content in the plant like polyphenols. The use of humic acid can improve the quality of plant medium so the growth of the plant can increase as well. The purpose of this study was to find out the effect of humic acid to the growth and polyphenols content in katuk plant and to determine the concentration of acid humic that effective to increase the growth and polyphenol content to katuk plant. This research used an experimental method with a fully randomized design that consists of four humic acid treatments to plant medium with concentration of0 g/kg; 4g/kg; 8g/kg and 12 g/kg. Each treatment was repeated for three times. The parameters observed in this research were the leaf number, the wet weight, and the dry weight and the polyphenols content. The data were analyzed by analysis of variance with a 5% and 1% level of confidence , and continued to the least significant differences test at 5% level of confidence. The results showed that the addition of humic acid by 6.23 g/kg to the growing media increased the plant growth and polyphenols content in katuk plant
KARAKTERISASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI RIZOSFER TANAMAN SAWIT JAMBI
AbstrakBakteri rizosfer adalah bakteri yang terdapat pada daerah perakaran tanaman yang diketahui memiliki keanekaragaman tinggi. Bakteri rizosfer memiliki berbagai peran seperti menyediakan nutrisi bagi tanaman, melindungi tanaman dari infeksi bakteri patogen, menghasilkan hormon pertumbuhan seperti indol acetic acid, pelarut fosfat, pengikat nitrogen, dan lain-lain. Dengan berbagai kemampuan dan peran tersebut, maka perlu eksplorasi bakteri rizosfer tanaman sawit khususnya di daerah perkebunan agar diketahui kelompok bakteri rizosfer, sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelompok dan keragaman bakteri rizosfer pada tanaman sawit yang berumur 8, 11, dan 14 tahun. Penelitian dilakukan dengan pendekatan konvensional dengan karakterisasi morfologi dan uji biokimia. Dari umur-umur tersebut, didapatkan 18 isolat yang terdiri dari 11 genus, yaitu Bacillus, Azospirillum, Actinobacillus, Xanthobacter, Enterococcus, Paenibacillus, Klebsiella, Pseudomonas, Arthrobacter, Micrococcus, dan Streptococcus. Bakteri rizosfer tanaman sawit memiliki keragaman genus yang sama pada umur 8, 11, dan 14 tahun. Genus bakteri yang didapatkan dapat dimanfaatkan sebagai PGPR (Plant Promoting Rhizobacteria).Abstract Rhizosphere bacteria are bacteria found in root areas. Rhizosphere bacteria have various roles such as providing nutrients for plants, protecting plants from infection pathogenic bacteria, producing growth hormones such as indol acetic acid, phosphate solvents, nitrogen binders, and others. By having these various abilities and roles, it is necessary to explore the bacteria of oil palm plants, especially in the plantation areas so that the group of rhizosphere bacteria can be identified and then utilized optimally. This study aims to determine the group and diversity of rhizosphere bacteria in oil palm plants that are 8, 11, and 14 years old. The research was conducted conventionally by observing morphological and biochemical characterization. At those ages, 18 isolates were consisting of 11 genera, namely Bacillus, Azospirillum, Actinobacillus, Xanthobacter, Enterococcus, Paenibacillus, Klebsiella, Pseudomonas, Arthrobacter, Micrococcus, and Streptococcus through conventional methods. Rhizosphere bacteria in oil palm plants have the same genus diversity at the ages of 8, 11, and 14 years. The bacterial genus obtained can be used as PGPR (Plant Promoting Rhizobacteria)
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine americana Merr.) TERHADAP PENURUNAN KOLESTEROL PADA TIKUS JANTAN PUTIH GALUR WISTAR
AbstrakHiperkolesterol merupakan gangguan kadar lipid yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol di dalam tubuh. Kadar kolesterol yang tinggi menyebabkan timbulnya beberapa penyakit diantaranya penyakit jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak bawang dayak (Eleutherine americana Merr.) terhadap penurunan kolesterol pada tikus jantan putih galur Wistar. Hasil penelitian menunjukkan kelompok kontrol negatif (K0) memiliki kadar kolesterol total sebesar 73,50±8,81 mg/dL darah, yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol positif (K1), sebesar (73,25±22,70 mg/dL); dan kelompok dengan pemberian ekstrak umbi bawang dayak sebanyak 100 mg/KgBB (P1), yaitu 68,50±8,81 mg/dL, lebih tinggi daripada kelompok pemberian ekstrak umbi bawang dayak sebanyak 200 mg/KgBB, yaitu 53,25±5,61 mg/dL. Analisis variansi satu-arah pada kolesterol total menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan di antara kelompok-kelompok perlakuan (p= 0,158). Sementara itu, pada kadar kolesterol HDL terdapat penurunan setiap kelompok dari hasil uji Kruskal Wallis (p= 0,134), dan kadar kolesterol LDL kelompok (P2) lebih rendah daripada kelompok (P1), yaitu 15±5,41 mg/dL (P1) dan 12,75±6,02 (P2), dengan p= 0,450. Disimpulkan bahwa pemberian ekstrak umbi bawang dayak dengan dosis 200mg/KgBB memiliki pengaruh dalam penurunan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL, tapi tidak pada kolesterol HDL, terhadap tikus putih jantan galur Wistar. Abstract Hypercholesterolemia is a disorder of lipid levels characterized by increased levels of cholesterol in the body. High cholesterol levels cause the incidence of several diseases such as coronary heart disease. This study aims to determine the effect of dayak onion (Eleutherine americana Merr.) extract in decreasing cholesterol in male Wistar white rats. The results showed that the negative control group (K0) had total cholesterol level of 73.50±8.81 mg/dL that higher than those in the positive control group (K1) which was 73.25±22.70 mg/dL of blood, and the group with the addition of dayak bulb extract of 100 mg/Kg body weight (P1) in the amount of 68.50±8.81 mg/dL was higher than the group of dayak bulb extract of 200 mg/Kg body weight which was (53.25±5.61 mg/dL). One-way analysis of varians on total cholesterol showed that there was no significant difference between the treatment groups (p= 0.158). Meanwhile, on HDL cholesterol level there was a decrease in each group from a result of Kruskal Wallis test (p= 0.134), and LDL cholesterol group (P2) was lower than group P1, i.e. 15±5.41 mg/dL (P1) and 12.75±6.02 (P2) with p= 0.450. In conclusion, the addition of dayak onion bulb extract at the dose of 200 mg/ kg has an effect in decreasing total cholesterol, LDL cholesterol, but not HDL cholesterol levels, in Wistar white rats. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v11i1.5656
EKSTRAK KASAR KAYU CEMPEDAK (Artocarpus champeden) DAN AKAR UBE-UBE (Derris elegans) SEBAGAI PENGAWET ALAMI NIRA AREN
AbstrakNira aren (Arenga pinnata) sebagai bahan baku pembuatan gula aren mudah terkontaminasi oleh mikroba seperti khamir Saccharomyces cerevisiae dan bakteri Acetobacter sp. Kerusakan nira dapat dihambat dengan menggunakan bahan pengawet alami. Bahan pengawet alami yang biasa digunakan untuk menghambat kerusakan nira aren ialah ekstrak kayu cempedak (Artocarpus champeden) dan ekstrak akar ube-ube (Derris elegans) yang dibuat dengan menggunakan teknik maserasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan konsentrasi terbaik dalam penghambatan mikroba dan konsentrasi terbaik aplikasi sebagai pengawet alami nira aren. Pengamatan meliputi penghambatan mikroba (pembentukkan zona) dan aplikasi pengawet alami nira aren (total gula dan pH). Hasil menunjukkan ekstrak akar ube-ube konsentrasi 14% merupakan konsentrasi terbaik dalam pembentukkan zona penghambatan mikroba. Nilai total gula dan pH terbaik dalam mencegah kerusakan nira aren pada penambahan ekstrak ube-ube dengan konsentrasi 14%. Berdasarkan penelitian ini bahwa ekstrak akar ube-ube dengan konsentrasi 14% merupakan pengawet alami yang terbaik dalam mengambat mikroba perusak nira aren.Abstract Palm juice (Arenga pinnata) as a raw material for making palm sugar easily contaminated by microbes such as yeast Saccharomyces cerevisiae and bacteria Acetobacter sp. Damage to sap can be inhibited by using natural preservatives. Natural preservatives used to inhibit the damage to Arenga pinnata sap is cempedak wood extract (Artocarpus champeden) and ube-ube root extract (Derris elegans) making of using maseration technique. The purpose of this research consentration that shows the best to inhibition growth to microbial and consentration that natural palm juice preservative application. Observations included microbial inhibition (zone formation) and natural palm juice preservative (total sugar and pH). The results showed extract ube-ube root concentration of 14% is the best concentration to inhibition growth to microbial. The value of total sugar and pH the best in preventing damage to palm juice on the addition of extract ube-ube root with a concentration of 14%. Based in this study that the of extract ube-ube root with a consentration of 14% is the best natural preservative in inhibiting the microbes destroying palm sugar
ISOLASI Escherichia coli DARI URINE PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KEDIRI
AbstrakInfeksi saluran kemih (ISK) terjadi akibat adanya invasi mikroorganisme (bakteri) pada saluran kemih. Peningkatan kejadian ISK dapat dipengaruhi oleh kondisi refluks vesikouretral (RVU), obstruksi saluran kemih, pemakaian instrumen uretral baru, dan septikimia. Angka kejadian ISK di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri tahun 2016 berjumlah 346 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Escherichia coli pada urine pasien ISK di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Besarnya persentase ISK yang disebabkan E. coli mendorong peneliti untuk melakukan isolasi bakteri tersebut dari urine pasien ISK di rumah sakit tersebut. Teknik sampling yang digunakan berupa Accidental sampling dengan sampel berupa urine porsi tengah (UPT) sebanyak 30. Sampel urine diinokulasikan pada media MCA, kemudian dilakukan pewarnaan Gram, dilanjutkan uji biokimia reaksi untuk membedakan golongan Enterobacter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 sampel positif mengandung E. coli, 3 sampel mengandung Klebsiella spp., dan 15 sampel tidak terdeteksi sama sekali. Hasil positif E. coli ditunjukkan dengan koloni bulat berukuran kecil, elevasi semi mucoid, dan fermentasi laktosa positif pada media MCA. Hal tersebut menunjukkan bahwa E. coli dapat ditemukan pada sampel urine pasien ISK di Rumah Sakit Bayangkara Kediri.Abstract Urinary tract infection (UTI) is caused by microbial invasion (bacteria) in the urinary tract. The increased of UTI can be affected by a condition of vesicouretral reflux (RVU), urinary tract obstruction, application of new urethral instruments, and septicemia. The incidence of UTI in Bhayangkara Kediri Hospital in 2016 was 346 cases. The objective of this research was to determine the presence of E. coli in UTI patients in the Bhayangkara Kediri Hospital. The large percentage of UTI caused by Escherichia coli encouraged researchers to isolate the bacteria from the urine of UTI patients in the hospital. Accidental sampling with 30 middle portion urine samples (UPT) was carried out. The samples were inoculated onto separate MCA media. Representative bacterial isolates were stained with Gram staining technique and followed by reaction biochemistry tests to distinguish Enterobacter groups. The results showed that 12 urine samples contained E. coli, 3 urine samples contained Klebsiella spp., while 15 urine samples were negative (not containing bacteria). The positive results of E. coli showed small rounded, elevation of semi mucoid colonies, and positive lactose fermentation on the MCA media. It showed that E. coli indeed exists in the urine samples of UTI patients in Bayangkara Kediri Hospital
PATOGENISITAS Beauveria bassiana STRAIN STGD 7(14)2 DAN STGD 5(14)2 TERHADAP WERENG COKLAT (Nilaparvata lugens STÅL)
AbstrakBeauveria spp. merupakan salah satu jamur entomopatogen yang dapat digunakan sebagai agen biokontrol terhadap berbagai serangga hama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji patogenitas Beauveria spp. terhadap serangga wereng coklat (Nilaparvata lugens Stål). Isolat-isolat Beauveria spp. diisolasi dari serangga walang sangit dari Situ Gede, Bogor, Jawa Barat. Identifikasi jamur dilakukan berdasarkan analisis data sekuen dari daerah Internal Transcribed Spacer (ITS) rDNA. Hasil uji menunjukkan bahwa patogenisitas isolat Stgd 5(14)2 dan Stgd 7(14)2 menghasilkan tingkat mortalitas 100% terhadap N. lugens. Isolat Stgd 5(14)2 dan Stgd 7(14)2 memiliki nilai LT50 yang rendah, danmenyebabkan kematian yang cepat terhadap wereng coklat. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa sekuen Stgd 5(14)2 dan Stgd 7(14)2 termasuk ke dalam spesies Beauveria bassiana s.str. Hasil studi ini merupakan kajian awal terhadap patogenisitas jamur entomopatogen B. bassiana terhadap wereng coklat, dan distribusinya di pertanaman padi Situ Gede, Jawa Barat.Abstract Beauveria spp. is one of the entomopathogenic fungi that can be used as biocontrol agents against various insect pests, including brown planthopper (Nilaparvata lugens Stal). This study aimed to test the pathogenicity of Beauveria spp. against N. lugens. Beauveria spp. were isolated from the rice stink bug insects, collected from Situ Gede, Bogor, West Java. Fungal identification was carried out based on the internal transcribed spacer (ITS) rDNA analysis. The pathogenicity assay revealed that Stgd 5(14)1 and Stgd 7(14)2 isolates were virulent against N. lugens, with a mortality of 100%. The LT50 (median lethal time) determination, indicated that Stgd 5(14)2 and Stgd 7(14)2 isolates had low value indicating a faster mortality in brown planthopper insects. Phylogenetic analysis showed that the sequences of Stgd 5(14)2 and Stgd 7(14)2 belong to Beauveria bassiana s.str. This is the preliminary pathogenicity trial of entomopathogenic fungi B. bassiana against brown planthopper and their distribution in rice-growing, Situ Gede area in West Java
UJI TOKSISITAS DAN IDENTIFIKASI FITOKIMIA EKSTRAK BUAH DAN BATANG RIMBANG (Solanum torvum Swartz)
AbstrakIndonesia memiliki banyak tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber pangan dan obat, salah satunya adalah rimbang (Solanum torvum Swartz). Rimbang telah dikenal luas sebagai sayuran yang buahnya dapat dimakan secara mentah dan dapat digunakan dalam pengobatan tradisional. Namun demikian, tidak banyak kajian ilmiah mengenai efek toksik beserta senyawa yang terkandung pada buah dan batang rimbang, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah memberikan informasi efek toksisitas dari ekstrak buah dan batang rimbang serta senyawa yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan untuk menguji toksisitas adalah Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dan deteksi senyawa menggunakan uji fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah dan batang rimbang memiliki efek toksisitas. Nilai LC50 ekstrak buah rimbang sebesar 248 ppm, sedangkan nilai LC50 ekstrak batang rimbang sebesar 129 ppm. Ekstrak buah rimbang mengandung senyawa alkaloid dan tanin, sedangkan hasil uji fitokimia terhadap batang rimbang mengandung alkaloid, saponin, dan tanin. Kedua ekstrak tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu sumber fitofarmaka antikanker.Abstract Many plants in Indonesia are used as food and medicine, such as rimbang (Solanum torvum Swartz). This plant has been widely known as a vegetable which the fruit consumed in raw and also useful in traditional medicine. However, scientific studies on the toxic effects and compounds contained in its fruit and stem have not been widely carried out, so the aim of this study is to provide information on the toxicity effects of them and their compounds. The Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) was used to determine the toxicity effect of the extracts, while the compounds in these extracts were detected by using phytochemical assay. The results showed that those extracts have toxicity effects. The LC50 of the fruit extract was 248 ppm while the stem extract was 129 ppm. The fruit extract contained alkaloid and tannin, while the stem extract contained alkaloid, saponin, and tannin. Both extracts have potential to be a resource of anticancer phytopharmaca
SKRINING KAPANG Aspergillus spp. PENGHASIL AFLATOKSIN PADA JAGUNG PIPILAN DI DAERAH BEKASI, JAWA BARAT
AbstrakAflatoksin merupakan senyawa metabolit sekunder dari kapang Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus yang dapat mengontaminasi bahan pangan atau pakan sehingga berbahaya bagi kesehatan hewan dan manusia. Kontaminasi kapang penghasil aflatoksin banyak ditemukan pada bahan pangan dan pakan yang berasal dari produk pertanian. Jagung merupakan salah satu produk pertanian yang mudah terkontaminasi oleh kapang penghasil aflatoksin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat kapang Aspergillus spp. penghasil aflatoksin pada jagung pipilan yang dijual di sekitar Bekasi, Jawa Barat. Isolasi kapang dilakukan menggunakan metode dilution plating pada medium Dichloran-Glycerol. Hasil penelitian memperoleh 12 isolat kapang, dengan warna koloni hijau (J1, J2, J3, J4, J5, J6, J7, J9, J10, J12), hitam (J11), dan jingga (J8). Identifikasi dilakukan dengan cara mengamati morfologi kapang secara makroskopik dan mikroskopik pada medium Malt Extract Agar. Isolat kapang yang diduga memiliki kemiripan dengan A. flavus berjumlah 6 isolat, yaitu J1, J2, J4, J6, J10, dan J12. Selanjutnya dilakukan uji konfirmasi menggunakan medium selektif Aspergillus flavus dan parasiticus Agar. Terdapat 2 isolat kapang, yaitu J1 dan J4, yang menunjukkan pigmentasi sebalik koloni berwarna pada medium selektif AFPA. Isolat kapang yang ditemukan pada jagung pipilan diharapkan dapat memberikan informasi kepada petani dan peternak mengenai jenis kapang yang dapat menyebabkan kontaminasi pada jagung, sehingga mereka dapat menjaga dan meningkatkan kualitas jagung untuk mengurangi kerugian dalam bidang ekonomi dan kesehatan.Abstract Aflatoxin is a secondary metabolite secreted by the mold Aspergillus flavus and Aspergillus parasiticus that may contaminate food or feed so harmful to human and animal health. Contamination of aflatoxin-producing mold is commonly found in food and feed which derived from agricultural products. Corn is one of the agricultural products that are easily contaminated by aflatoxin-producing mold. The study aims to isolate the aflatoxin-producing mold Aspergillus spp. in stripped corn vend around Bekasi, West Java. The isolation was conducted by using the method of dilution plating on Dichloran-Glycerol medium. The study obtained 12 isolates of mold, with green colony color (J1, J2, J3, J4, J5, J6, J7, J9, J10, J12), black (J11), and jingga (J8). Identification was conducted by observing the morphology of mold on Malt Extract Agar macroscopically and microscopically. The isolates that allegedly have similarities to A. flavus are J1, J2, J4, J6, J10, and J12. Furthermore, a confirmatory test was preceed by using a selective medium of Aspergillus flavus and parasiticus agar. There are 2 isolates of molds, J1 and J4, which showed yellowish jingga pigmentation like the positive control of A. flavus. The isolates of mold found in the stripped corn may provide information to farmers and breeders about the type of mold that can cause contamination in corn, so that they can anticipate in advance and improve the quality of the corn to reduce losses in economic and health perspectives