Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    INDEX AUTHOR AND SUBJECT VOL. 11 NO. 1 APRIL 2018

    No full text

    APLIKASI MARKA SSR PADA KEANEKARAGAMAN GENETIK DURIAN (Durio zibethinus Murr.) DI KABUPATEN DELI SERDANG, SUMATRA UTARA

    Get PDF
    Abstrak Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu kontributor untuk produksi durian (Durio zibethinus Murr.) Provinsi Sumatra Utara. Durian Deli Serdang memiliki varietas yang banyak dikenal di pasar buah domestik, diantaranya; Bintana, Ginting, dan Sikapal. Pada penelitian ini, dilakukan analisis keanekaragaman genetik pada durian asal Deli Serdang untuk memperoleh informasi keragaman genetik dan hubungan antar aksesi dengan menggunakan 6 lokus Simple Sequence Repeats (SSR). Hasil menunjukkan bahwa 9 aksesi durian yang dikoleksi dari Kabupaten Deli Serdang berhasil diamplifikasi dan bersifat polimorfik. Hal ini dibuktikan dengan hasil visualisasi lokus SSR yang menghasilkan 23 fragmen DNA berukuran 72-255 bp yang didapat melalui bantuan piranti lunak GeneMarker V2.6.7. Hasil penelitian juga menampilkan konstruksi dendogram yang menunjukkan kemiripan antar aksesi durian Deli Serdang yang didapat melalui bantuan perangkat lunak NTSYSpc V2.0.2. Susunan antar aksesi pada pohon dendogram terlihat menyerupai pohon filogenetik, aksesi terpisah dan menyebar pada koefisien 0,54-0,95 yang tidak dipengaruhi oleh sebaran geografis. Data ini dapat menjadi dasar penelitian budidaya dan konservasi buah durian di Indonesia khususnya di Sumatra Utara.    Abstract Deli Serdang is one of the contributors of durian (Durio zibethinus Murr.) production in North Sumatra Province. The varieties of Durian in Deli Serdang have widely known in the domestic market, such as Bintana, Ginting, and Sikapal. In this study, genetic diversity analysis on durian origin of Deli Serdang was conducted to obtain information on genetic diversity and relationship among accessions by using 6 loci of Simple Sequence Repeats (SSR). The results showed that 9 accessions of durians collected from Deli Serdang were successfully amplified and polymorphic. It was confirmed by visualization of the SSR loci that resulted in 23 DNA fragments with 72-255 bp in size and was obtained by using GeneMarker V2.6.7 software. The research also resulted in a constructed dendrogram that showed similarities among accessions of the durian in Deli Serdang and was obtained by using NTSYSpc V2.0.2. The arrangement among accessions on the dendrogram was similar to the phylogenetic tree; the accessions looked separated and spread at 0.54-0.95 in coefficient which was not affected by geographical distribution. The results of this study are expected as the information and the basis for durian conservation and cultivation activities in Indonesia, especially in North Sumatra.   Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v11i1. 5668

    KONDISI KUALITAS UDARA (SO2, NO2, PM10 DAN PM2,5) DI DALAM RUMAH DI SEKITAR CILEGON DAN GANGGUAN PERNAPASAN YANG DIAKIBATKANNYA

    Get PDF
    AbstrakKualitas udara sangat dipengaruhi aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas udara PM10, PM2,5, SO2 dan NO2 di dalam rumah di wilayah Cilegon serta aktivitas penghuni rumah dan gangguan pernapasan yang dialami penghuni rumah. Metode analisis data yang digunakan adalah uji statistik regresi linear untuk mengetahui hubungan antara kualitas udara PM10, PM2,5, SO2 dan NO2 dengan aktivitas penghuni rumah dan gangguan pernapasan. Penelitian ini ditemukan 9 rumah memiliki konsentrasi PM10 dan PM2,5 melebihi baku mutu yang ditentukan. Sebagian besar penghuni melakukan aktivitas merokok di dalam rumah dan kegiatan membakar sampah di pekarangan rumah, sehingga sebagian besar penghuni rumah mengalami gangguan pernapasan. Pada analisis regresi diketahui bahwa aktivitas penghuni rumah mempengaruhi konsentrasi PM10 sebanyak 24%, konsentrasi PM2,5 sebanyak 12%, konsentrasi SO2 sebanyak 2% dan konsentrasi NO2 sebanyak 4% serta konsentrasi zat polutan tersebut mempengaruhi gangguan pernapasan penghuni rumah sebanyak 25%. Aktivitas merokok di dalam rumah berhubungan dengan konsentrasi PM10 di udara dan gangguan pernapasan yang dialami oleh penghuni rumah berhubungan dengan konsentrasi SO2 di dalam rumah. Penelitian ini  memberi penyadaran bahwa kualitas udara di dalam rumah penting diperhatikan untuk menjaga kesehatan penghuni rumah serta untuk memberi masukan bagi penghuni rumah agar mengurangi aktivitas yang dapat mengganggu kualitas udara di ruangan tertutup.Abstract The air quality is influnced by human activities. The aim of this research is to assess air quality of PM10, PM2,5, SO2, and NO2 in houses around Cilegon and occupant activities as well as respiratory disorders risk resulting from it. This research uses statistic test linear regression for data analysis to find the relationship between the air quality and the activity of house occupants and respiratory disorders. It was found that 9 houses having PM10 and PM2,5 concentration exceeds the quality standard. Moreover, most of the occupants smoke in their house and burn their waste and also have respiratory disorders. From the regression analysis, it was found that occupant activities inside their house impacted to 24% of PM10, 12% of PM2,5, 4% of SO2 and 4% of NO2 concentration, and those pollutant concentrations impacted to 25% of residents respiratory disorders. The smoking activity related to PM10 concentration while respiratory disorders related to SO2 concentration in the house. Those results can give a basis thought for further research which identify the influence of the air quality inside a house to other health disorders. This research also provides awareness that the quality of air in the house is important to take care of the health of the occupants and to reduce activities that can interfere with the air quality in the house or enclosed room

    PEMBENTUKAN NODUL DARI BIJI MANGGIS (Garcinia mangostana L.) ASAL BENGKALIS PADA MEDIA WPM DENGAN PENAMBAHAN BAP DAN MADU

    Get PDF
    Abstrak Manggis (Garcinia mangostana L.) asal Bengkalis merupakan salah satu buah tropis yang menjadi komoditas ekspor Provinsi Riau dengan keunggulan dapat hidup di tanah gambut, tanah rawa, dan tanah masam. Pembentukan nodul tanaman manggis merupakan tahapan awal perbanyakan tunas pada kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi Benzilaminopurine (BAP) dan madu, baik tunggal maupun kombinasi, pada Woody Plant Medium (WPM) dalam pembentukan nodul dari eksplan biji manggis yang dibelah tiga secara membujur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan menggunakan konsentrasi BAP 0, 5, dan 7 mg/L dan madu 0, 3, 6, dan 9 mL/L, baik tunggal maupun kombinasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa persentase pembentukan nodul paling tinggi (100%) diperoleh dari perlakuan 5 mg/L BAP. Perlakuan pemberian konsentrasi BAP dan madu, baik tunggal maupun kombinasi, pada media WPM, tidak mampu mempercepat waktu muncul nodul. Jumlah nodul terbanyak di 40 hari setelah tanam pada perlakuan 7 mg/L BAP yang disertai 3 mL/L madu adalah 25,0 nodul/biji.   Abstract Mangosteen (Garcinia mangostana L.) from Bengkalis in origin is one of the tropical fruit that became an export commodity of Riau Province, with the advantage of living in peat soil, swamp, and acidic soil. The formation of nodules is an early stage of shoot propagation in vitro cultures. This study aims to determine the concentration of BAP (Benzilaminopurine) and honey, either single or combination, in Woody Plant Medium (WPM) in the formation of nodules from mangosteen seed explants. This research employed Randomized Block Design to test the variation of BAP in the concentration of 0, 5, and 7 mg/L and honey in the concentration of 0, 3, 6, and 9 mL/L, either single or a combination. The results showed that the highest percentage of nodule formation (100%) was obtained from the treatment 5 mg/L of BAP. The treatment of BAP and honey, either single or combination, on WPM media, was unable to accelerate the timing of nodules. The highest number of nodules in 40 days after planting in the treatment of 7 mg/L of BAP with 3 mL/L of honey was 25.0 nodules/seed.  Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v11i1.5422

    ISOLASI DAN KERAGAMAN BAKTERI UREOLITIK LOKAL RIAU YANG BERPOTENSI SEBAGAI CAMPURAN BETON

    Get PDF
    Abstrak Bakteri ureolitik merupakan mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan urease yang dapat mengendapkan kalsium karbonat (kalsit). Bakteri ini berpotensi sebagai agen bioremediasi logam berat dan sebagai bahan konstruksi beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mengkarakterisasi, dan menguji presipitasi kalsit bakteri ureolitik dari tanah lokal Riau. Hasil penelitian memperoleh 30 isolat bakteri yang berhasil diisolasi dari tanah tempat pembuangan akhir, dan setelah dilakukan pewarnaan Gram, 77% isolat merupakan bakteri Gram positif dan hanya 33% merupakan bakteri Gram negatif.  Hasil uji presipitasi menunjukkan bahwa isolat- isolat dengan kode sp. 32, sp. 9, dan sp. 20 mampu membentuk kalsium karbonat berturut-turut sebesar 0,129 g, 0,126 g, dan 0,105 g, setelah diinkubasi selama 7 hari pada medium cair yang diberi penambahan urea dan kalsium. Isolat-isolat bakteri tersebut memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, yang ditandai dengan besarnya koefisien kekerabatannya, yaitu lebih dari 70%. Dengan demikian, bakteri-bakteri yang terisolasi dan teruji dalam  membentuk kalsium karbonat asal tanah lokal Riau berasal dari sekelompok bakteri, yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai campuran beton.  Abstract Ureolytic bacteria are microorganisms that have the ability to produce urease that precipitates calcium carbonate (calcite). This bacteria has potential as an agent for bioremediation of heavy metal and as a concrete construction material. The aim of this research is concerning about isolation, characterization, and examination on calcite precipitate of the ureolytic bacteria from Riau local soil. The result showed that 30 isolates were isolated from landfill soil, and after Gram staining, 77% of the isolates are Gram-positive and only 33% are Gram-negative. The result of precipitation examination showed that the bacterial isolates sp. 32, sp. 9, and sp. 20 precipitated 0.129 g, 0.126 g and 0.105 g of calcium carbonate, respectively, after incubation for 7 days in broth medium added with urea and calcium. The bacterial isolates have a close relationship, which is characterized by the magnitude of the coefficient of more than 70%. Therefore, the isolated and tested bacteria having the ability to form calcium carbonate from local soil Riau derived from a group of bacteria, which has a potential to be developed as a mixture of concrete. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v11i1. 5737

    CATATAN TENTANG Solanum diphyllum L. (SOLANACEAE) TERNATURALISASI DI PULAU JAWA

    Get PDF
    Abstrak Solanum merupakan salah satu marga terbesar pada kelompok tumbuhan Angiospermae. Marga tersebut terdiri dari 1400 jenis yang terdistribusi di kawasan tropis dan subtropis. Banyak anggotanya yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga telah dibudidayakan secara luas sebagai tanaman pangan, sayuran, tumbuhan obat, dan tanaman hias. Oleh sebab itu, beberapa di antaranya telah diintroduksi ke Pulau Jawa sejak lama. Sebanyak 24 jenis Solanum telah tercatat dalam buku Flora of Java vol. 2. Meskipun demikian, masih memungkinkan adanya jenis-jenis lain yang belum terekam dalam buku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai jenis tambahan yang telah ternaturalisasi di Pulau Jawa. Pengamatan dilakukan di beberapa lokasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur pada tahun 2015 hingga 2017. Solanum diphyllum telah dikoleksi dari Bogor (Darmaga), Bandung (Taman Sari dan Pasir Impun), Sumedang (Jatinangor), Wonogiri (Desa Johunut), Semarang (Desa Mesu), Trenggalek (Desa Watulimo), Situbondo (Desa Wringin Anom dan Banyuputih), Bondowoso (Desa Bandilan), dan Sumenep (Desa Pakong). Jenis ini memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan ini ditemukan tumbuh meliar di semua lokasi pengamatan dan keberadaannya perlu diperhatikan karena jenis tersebut merupakan tumbuhan asing invasif di kawasan lain.  Abstract Solanum is one of the largest genera in Angiospermae. This genus comprises about 1400 species distributed in tropic and subtropic regions. Some of them have high economic value and have been cultivated widely as crops, vegetables, medicinal plants, and ornamental plants. Therefore, several species have been introduced to Java island in the past. A total of 24 species of Solanum has been recorded in Flora of Java vol. 2. However, there is still unrecorded species occurred. The aim of this study was to provide information about an additional naturalized species in Java. The observations have been carried out in several locations in West Java, Central Java, and East Java, from 2015 to 2017. Solanum diphyllum has been collected from Bogor (Darmaga), Bandung (Taman Sari and Pasir Impun), Sumedang (Jatinangor), Wonogiri (Johunut Village), Semarang (Mesu Village), Trenggalek (Watulimo Village), Situbondo (Wringin Anom and Banyuputih Village), Bondowoso (Bandilan Village), and Pamekasan (Pakong Village). This species has a potential to be utilized as a medicinal plant. Moreover, this plant grows wildly in all of the observed locations. Its presence needs to be considered since it is known as an invasive alien species in other regions.  Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v11i1.5448

    DISTRIBUSI DAN ESTIMASI POPULASI SURILI (Presbytis comata) DI KAMOJANG KABUPATEN GARUT JAWA BARAT

    Get PDF
    AbstrakSurili (Presbytis comata) merupakan primata endemik Jawa dengan status konservasi Endangered (terancam punah). Perubahan yang terjadi pada habitat surili seperti konversi lahan meningkatkan keterancaman terhadap populasi dan persebaran surili di habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat area persebaran dan estimasi populasi surili di kawasan Kamojang, Kabupaten Garut sebagai salah satu habitat surili yang cukup besar. Survey persebaran surili dilakukan dengan cara eksplorasi yaitu menyusuri lokasi keberadaan surili berdasarkan informasi petugas BKSDA dan masyarakat sekitar. Titik koordinat tempat perjumpaan dengan surili diambil dengan menggunakan GPS dan diaplikasikan ke dalam Peta Kawasan Kamojang dengan menggunakan Software Quantum GIS Wien 2.8.3. Estimasi/ perkiraan jumlah surili dilakukan dengan Metode Direct census, yaitu menghitung lansung jumlah surili yang ditemui. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat satu titik perjumpaan dengan surili berjumlah empat individu di CA Blok Ciharus. Di TWA Blok Kawah Kamojang, surili ditemukan di tujuh titik dengan jumlah total 21 individu, dan di TWA Blok Cibeureum yang ditemukan di tiga titik dengan total tujuh individu. Surili masih banyak ditemukan dan tersebar di kawasan yang tingkat gangguan manusianya masih rendah sehingga untuk dapat mempertahankan populasi maupun persebaran surili di suatu kawasan perlu ditingkatkan pengaturan aktivitas manusia di dalamnya.Abstract Surili (Presbytis comata) is the Javan endemic primate with conservation state of Endangered. Habitat changes of surili due to land conversion was increased the threatening the distribution and population of surili in their habitat. This study aimed to know the distribution area and population estimates of surili at Region Kamojang, Garut. Survey the distribution of surili conducted by exploration method and took the coordinates of surili found by GPS and applied to the region map of Kamojang using Software Quantum GIS Wien 2.8.3. Estimation the number of surili, conducted by the direct census method by counting the number of surili directly. The study showed that there was a point area of surili consists of four individuals in Block Ciharus, Kamojang Nature Reserve. At Block Kawah Kamojang Nature Park, surili were found at seven points area by the total number of 21 individuals and at Block Cibeureum found at three points with a total of nine individuals. Surili is still widely found and spread in areas where the level of human disturbance is still low so as to be able to maintain the population and distribution of surili in an area, it is necessary to increase the regulation of human activities in it

    MORFOLOGI PERMUKAAN DAUN TANAMAN TERUNG (Solanum melongena L.) SEBAGAI RESPONS TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN

    Get PDF
    Abstrak Terung (Solanum melongena L.) tergolong tanaman yang sensitif terhadap kekeringan selama tahap pertumbuhan dan perkembangannya. Karakteristik stomata dan trikoma merupakan kriteria yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tanaman yang toleran terhadap kekeringan. Penelitian bertujuan menguji respons karakteristik anatomi daun berupa trikoma dan stomata tanaman terung terhadap cekaman kekeringan melalui empat taraf interval penyiraman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap melalui empat taraf interval penyiraman, yakni 3, 6, 9, dan 12 hari.  Pengaruh cekaman kekeringan terhadap morfologi permukaan daun pada terung menyebabkan terjadinya peningkatan kerapatan trikoma tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan kontrol, penurunan ukuran lebar trikoma mencapai 59,02%, penurunan ukuran lebar stomata mencapai 78,34%, dan penurunan ukuran lebar porus stomata mencapai 80,80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan jumlah trikoma dengan ukuran trikoma yang semakin kecil diduga sebagai bentuk proteksi tanaman terhadap kerusakan jaringan dan mekanisme adaptasi tanaman untuk dapat memenuhi jumlah asimilasi CO2 perluas daun yang dibutuhkan untuk fotosintesis pada kondisi kekeringan. Sensitifitas tanaman terhadap kondisi kekeringan berupa mekanisme adaptasi dengan cara memperkecil ukuran stomata dan bukaan lebar porus, sehingga laju fotosintesis tetap terjaga pada kondisi kekeringandan mekanisme tanaman menjaga efisiensi penggunaan air dengan cara mengurangi ukuran stomata dan memperkecil bukaan porus stomata.    Abstract Eggplant (Solanum melongena L.) belongs to a group of plants that are sensitive to drought (water stress) during their growth and development stages. Characteristics of stomata and trichomes are criteria that can be used to identify drought-tolerant plants. This study aims to determine the response of leaf anatomical characteristics of the eggplant as well as trichome and stomata to drought stress through four levels of watering interval. The research using completely randomized design with watering intervals of 3, 6, 9, and 12 days. The effect of drought stress on leaf surface morphology of the eggplant resulted in three times greater trichomes density than control, decreased trichomes width by 59.02%, stomata width by 73.84%, and size of stomata porch width by 80.80%.. The result was showing that increasing number of trichome with smaller trichome size was thought to be a form of crop protection against tissue damage and plant adaptation mechanism in order to meet the amount of CO2 leaf expansion assimilation required for photosynthesis in drought stress condition. The sensitivity of plants to drought stress conditions is the mechanism of adaptation by reducing the size of stomata and wide porous opening, so that the rate of photosynthesis has been maintaining in the dry conditions and the mechanism of the plant maintain the efficiency of water use by reducing the size of stomata and minimizing stomata porous opening.   Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v11i1. 566

    RAGAM DAN POTENSI JAMUR MAKRO ASAL TAMAN WISATA MEKARSARI JAWA BARAT

    Get PDF
    AbstrakTaman Wisata Mekarsari (TWM) merupakan salah satu daerah penyangga ekosistem dan pusat pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Keragaman jamur makro asal serasah dan tanah di TWM belum pernah dilaporkan sebelumnya. Jamur merupakan organisme penting dalam siklus materi karena kemampuannya mendegradasi bahan organik pada ekosistem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi mengenai keragaman jamur makro di TWM untuk pemanfaatan potensinya di masa mendatang. Sebanyak 20 jenis dan 16 genus jamur makro berhasil dikoleksi dari TMW pada penelitian ini. Identifikasi jamur dilakukan dengan menggunakan berbagai karakter makroskopik. Pada tulisan ini dijelaskan cara deskripsi karakter makroskopik untuk membantu identifikasi jamur. Jamur yang berhasil diidentifikasi pada penelitian ini adalah Amanita sp.1, Amanita sp.2, Auricularia sp., Collybia sp., Clitocybe sp., Crepidotus sp., Cyathus sp., Ganoderma sp., Lepiota sp.1, Lepiota sp.2, Marasmius sp., Naucoria sp.1, Naucoria sp.2, Omphalina sp., Panaeolus sp., Parasola sp.1, Parasola sp.2, Pluteus sp., Scizophyllum sp., dan Xylaria sp. Beberapa jamur yakni Auricularia, Clitocybe, Ganoderma, dan Scizophyllum yang ditemukan berpotensi sebagai bahan pangan dan obat. Inventarisasi data keragaman yang baik akan membantu upaya pengelolaan dan pelestarian kekayaan sumber daya hayati di Indonesia. Abstract Mekarsari Tourism Area (TWM) is one of the buffer zone of ecosystem and biodiversity conservation center in Indonesia. The diversity of macro fungi from the litter and soil in TWM has not been previously reported. Fungi are important organisms in the material cycle because of their ability to degrade organic matter on the ecosystem. In this study, 20 species and 16 genera of mushrooms were collected from TWM. Mushroom identification is performed using various macroscopic characters. The mushrooms identified in this paper are: Amanita sp.1, Amanita sp.2, Auricularia sp., Collybia sp., Clitocybe sp., Crepidotus sp., Cyathus sp., Ganoderma sp., Lepiota sp.1, Lepiota sp.2, Marasmius sp., Naucoria sp.1, Naucoria sp.2, Omphalina sp., Panaeolus sp., Parasola sp.1, Parasola sp.2, Pluteus sp., Scizophyllum sp., and Xylariasp. Some of them were considered  as food and medicinal source. Good inventory of diversity data will assist the management and conservation of the wealth of biological resources in Indonesia.

    PERILAKU MAKAN MASYARAKAT PEDESAAN DI KALIMANTAN BARAT

    Get PDF
    AbstrakKegiatan konversi lahan di Kalimantan Barat yang cenderung terus meningkat dapat berdampak negatif bagi ketersediaan pangan masyarakat desa yang masih melakukan food gathering dan berburu dari suplai alami di sekitar desa atau berternak dengan skala keluarga. Perilaku makan yang salah disertai lokasi desa yang relatif jauh dari fasilitas kesehatan yang lengkap turut menambah risiko kesehatan dan kematian pada masyarakat desa tersebut. Penelitian ini menjelaskan dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku makan tiga etnis berbeda di Kalimantan Barat, mencakup Dayak, Madura dan Tionghoa, terkait penurunan ketersediaan lahan sebagai sumber pangan.  Survei dilakukan di empat kabupaten dan satu kota dengan sampel diambil secara acak dari populasi etnis Dayak (Kanayatn, Muduk, Ketungau Sesae’), Madura danTionghoa. Data perilaku makan dianalisis secara deskriptif mencakup frekuensi dan rutinitas makan, keragaman sumber makanan, estimasi pengeluaran energi harian dan klasifikasi aktivitas fisik sehari penuh, serta kondisi fisik sebagai manifestasi kegiatan makan dari 293 partisipan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku makan masyarakat pedesaan Kalimantan Barat adalah pekerjaan, keterlibatan individu dalam kelompok sosial, serta ketersediaan dan keterjangkauan sumber makanan. Konversi lahan hutan dan kebun akan mempengaruhi ketersediaan sumber makanan yang terjangkau termasuk perilaku makan sehat dan seimbang pada masyarakat pedesaan di Kalimantan Barat.AbstractMost rural communities in West Kalimantan were facing negative impact of increasing land conversion activities on their natural food supply. Improper eating behavior and limited health facilities may give more health and death risk to these people. This research described and determined the factors that influenced the eating behavior among three ethnics in West Kalimantan, namely Dayak, Madura and Chinese populations, and the potential impact of land conversion to it.  Survey was conducted in four regencies and one city and random sampling was done in three sub ethnics of Dayak (Muduk, Kanayatn, and Ketungau Sesae’), Madura, and Chinese communities. The eating behavior data was analyzed descriptively included meal frequency and routines, the variety of daily food source, individual estimates of energy expenditure, body mass index (BMI) distribution, and sports habit among 293 participants. Four main factors influenced the eating behavior of rural communities in West Kalimantan including types of occupation, individual involvement in social groups, and the availability and affordability of food source. The land conversion activity will certainly influence the affordable food source availability and the eating behavior for healthy and balanced food among the rural communities in West Kalimantan.

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇