Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
Tumbuhan Khas di Kawasan Candi Muaro Jambi Dalam Kajian Etnobotani dan Potensi Ekonomi
AbstrakJambi memiliki lahan gambut dan hutan yang cukup luas yaitu sekitar 2 juta ha, sehingga Jambi memiliki biodiversitas yang cukup tinggi, termasuk tumbuhannya. Tumbuhan yang ada di Jambi memiliki kekhasan ciri historis dan ekologisnya, salah satunya di kawasan Candi Muaro Jambi. Tumbuhan tersebut dimanfatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, namun pengetahuan tersebut mulai hilang dan ditinggalkan, sehingga perlu dikaji dari segi etnobotani dan ekonomi agar tetap dijaga kelestariannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi tumbuhan di kawasan Candi Muaro Jambi dari segi etnobotani dan ekonomi. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode eksploratif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 65 jenis tumbuhan di kawasan Candi Muaro Jambi, 3 jenis diantaranya yaitu Ficus religiosa L., Oroxylum indicum (L.) Kurz, Schima wallichii Choisy akan dikaji dari sisi etnobotani dan ekonomi. Secara etnobotani tumbuhan tersebut dimanfaatkan untuk pengobatan dan ada yang digunakan untuk upacara ritual keagamaan. Dari segi ekonomi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.Abstract Jambi has quite extensive peatlands and forests, which are around 2 million ha, so Jambi has fairly high biodiversity, including its plants. Plants in Jambi have unique historical and ecological characteristics, one of which is in the Muaro Jambi Temple area. The community uses these plants for various needs, but this knowledge is starting to disappear and be abandoned, so it needs to be studied from ethnobotany and economic perspective so that its sustainability is maintained. This study aims to determine the potential of plants in the area of Muaro Jambi Temple from ethnobotany and economic perspective. The research was conducted qualitatively with a descriptive exploratory method. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature study. The analysis was carried out descriptively. The results showed that there were 65 types of plants in the area of Muaro Jambi Temple, 3 of which were Ficus religiosa L., Oroxylum indicum (L.) Kurz, Schima wallichii Choisy, which will be studied from ethnobotany and economic perspective. Ethnobotany these plants are used for treatment, and some are used for religious rituals. From an economic point of view, it can increase people\u27s income
PERTUMBUHAN Hoya coronaria spp. DARI HUTAN KERANGAS PADA BERBAGAI INTENSITAS CAHAYA
AbstrakHabitat alami Hoya coronaria di Pulau Bangka adalah di hutan kerangas yang miskin hara, kondisi mikroklimat yang ekstrem dan rawan gangguan kebakaran hutan. Evaluasi adaptasi morfologi dan fisiologis enam varietas H. coronaria di luar habitat alaminya perlu dilakukan untuk mendukung upaya konservasi Hoya. Percobaan dirancang dan dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama: intensitas cahaya terdiri dari tiga taraf, yakni 15 klux (naungan 75%), 23 klux (naungan 50%), dan 59 klux (tanpa naungan). Faktor kedua yakni varietas H. coronaria berdasarkan variasi warna bunga yang terdiri dari enam taraf (V1, V2, V3, V4, V5, dan V6). Intensitas cahaya tidak berpengaruh nyata terhadap variabel panjang ruas, jumlah ruas, jumlah buku, dan kandungan klorofil pada enam varietas H. coronaria yang diamati. Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap variabel panjang batang, diameter batang, dan jumlah daun enam varietas Hoya. Semua varietas H. coronaria menunjukkan mampu tumbuh pada kisaran intensitas cahaya 15–59 klux. Namun, respon pertumbuhan yang ditunjukkan oleh keenam varietas berbeda-beda. Lima varietas menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil pada berbagai perlakuan intensitas cahaya, sedangkan satu varietas yaitu V2, menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan pada intensitas cahaya rendah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, keenam varietas Hoya lebih tepat dibudidayakan pada lokasi yang lebih banyak terkena cahaya.Abstract Hoya coronaria\u27s natural habitat on Bangka Island is in nutrient-poor heath forests, extreme microclimate conditions and prone to forest fires. Evaluation of the morphological and physiological adaptations of six H. coronaria varieties their natural habitat outside needs to be done to support Hoya\u27s conservation efforts. The experiment was designed and carried out using a factorial complete randomized design with treatment consisting of 2 factors. The first factor is the light intensity consists of three levels namely: 15 klux (75% shade), 23 klux (50% shade), and 59 klux (without shade). The second factor is H. coronaria variety based on flower color different which consists of six levels (V1, V2, V3, V4, V5, and V6). The intensity of the light did not significantly affect the variable length, segment number, number of node and chlorophyll content in the six varieties of H. coronaria observed. Light intensity significantly affected the variable length of the stem, stem diameter and number of leaves of six Hoya varieties. All H. coronaria varieties were shown to be able to grow in the range of light intensities of 15–59 klux. However, the growth response shown by the six different varieties. Five varieties showed relatively stable growth in various light intensity treatments, while one variety, V2, showed a slowing down of growth at low light intensity. The results of this study suggest that, the six Hoya varieties are more precisely cultivated in locations where more light is exposed
KEANEKARAGAMAN FENOTIPIK NGENGAT (Subordo Heterocera) BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI DI KAWASAN UNIVERSITAS RIAU DAN DESA SIABU, PROVINSI RIAU
AbstrakPenelitian tentang ngengat masih sangat sedikit dilakukan di Indonesia terutama di kawasan Universitas Riau dan Desa Siabu Kampar belum ada datanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman fenotip ngengat berdasarkan karakter morfologi untuk mengetahui jarak genetik ngengat di kawasan Universitas Riau dan Desa Siabu. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2016 hingga Mei 2017. Lokasi pengambilan sampel terdapat di dua kawasan dengan enam lokasi yang berbeda yaitu Universitas Riau (Arboretum, Kebun FMIPA, Rusunawa) dan Desa Siabu (perumahan warga, Bukit Tentado dan hutan sekunder). Metode sampling mengunakan perangkap layar (light trap) sebagai sumber cahaya digunakan lampu mercuri merk Philips 160 watt. Bagian tubuh ngengat yang diamati adalah kepala, torak, abdomen dan sayap, jumlah karakter morfologi yang diamati adalah 24 karakter. Setiap karakter morfologi diberi skor kemudian dianalisis menggunakan program NTSYS ps versi 2.02i. Hasil yang didapat yaitu 61 spesies dengan 414 individu dari 10 famili ngengat. Keanekaragaman fenetik ngengat di Universitas Riau dan Desa Siabu berturut turut adalah 87% dan 78%. Ngengat dari kedua kawasan menunjukkan perbedaan pada karakter ukuran, namun tidak pada karakter morfologi dan warna. Terdapat adanya kemiripan sebesar 66% antara ngengat yang dikoleksi dari Universitas Riau (kebun FMIPA, rusunawa) dengan Desa Siabu (Bukit Tentado dan hutan sekunder).Abstract Research on moths is still very few in Indonesia. Especially in the area of Riau University and Siabu Kampar Village. There is no datum about moths. The objective of this research is to analyze the genetic diversity of moths in Riau University and Siabu Vilage, Riau Province based on morphological characters. The study was conducted from December 2016 to May 2017. The moths were collected from two areas with six different locations such as Riau University (arboretum of mathematics and science faculty) and Siabu Village (village residence, Tentado Hill, and secondary forest). The sampling method that used was the light trap, with 160 watts of mercury, was used as a light source. The parts of the body observed were head, thorax, abdomen, and wings with the number of morphological characters observed by 24 characters. Morphological characters were observed and scored and then analyzed using the NTSYSp c version 2.02i software. The results showed that there were 61 species with 414 individuals from 10 families of moths. The genetic diversity of moth in the Riau University and Siabu Village was 87% and 78%. Moths on both locations indicated no difference in the shape and color, but they were different in size. Moths from FMIPA garden and rusunawa had 66% genetic similarity to one from Tentado Hill and secondary forest
SEBARAN POPULASI Cobaea scandens CAV. SEBAGAI TUMBUHAN INVASIF DI KEBUN RAYA CIBODAS DAN SEKITARNYA
AbstrakCobaea scandens Cav. (Polemoniaceae) merupakan tumbuhan riparian dari Meksiko yang telah lama ditanam di Kebun Raya Cibodas (KRC). Jenis tersebut dilaporkan sebagai tumbuhan invasif di beberapa negara. Sebagai tumbuhan invasif, jenis tersebut dapat mengancam ekosistem sekitar sehingga pertumbuhannya perlu dikendalikan. Meskipun demikian, informasi mengenai keberadaannya di KRC dan sekitarnya masih sedikit. Oleh karena itu, dalam makalah ini diuraikan mengenai sebaran populasi di kawasan KRC dan sekitarnya, dalam rangka mencari rekomendasi yang tepat dalam upaya pengendaliannya. Pengamatan dilakukan menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara purposive sampling, terutama di kawasan riparian dan hutan restan KRC dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Hasilnya, terdapat sembilan titik populasi C. scandens terutama di Sungai Ciwalen yang juga melintasi TNGGP. Secara ekologi, C. scandens tumbuh pada habitat yang terbuka hingga sedikit naungan, daerah yang basah, di tepian sungai dan hutan restan pada ketinggian 1.255 hingga 1.425 mdpl. Cobaea scandens tumbuh memanjat pada pohon tegakan atau semak dan membentuk tutupan yang lebat di atas permukan tumbuhan bawah, sehingga dapat mengancam tumbuhan lokal di kawasan tersebut. Dari hasil yang diperoleh, rekomendasi yang disarankan adalah melakukan eradikasi secara mekanis, terutama sebelum musim buah terjadi,untuk menurunkan kelimpahan jenis dan mencegah proses regenerasinya dapat terjadi. Abstract Cobaea scandens Cav. (Polemoniaceae), anriparian species from Mexico, were cultivated in Cibodas Botanical Garden (CBG) for a long years ago. This species was reported as invasive species in several countries. As an invasive plant, this species can be threaten the surrounding ecosystem, so the growth need to be controlled. However, there is a few information of this species in CBG and its surrounding. Therefore, this paper described the population distribution of C. scandens at CBG and its surroundings, in order to find appropriate recommendation for the control efforts. Observation was conducted by survey method with purposive sampling, especially riparian and remnant forest areas. Based on our observations showed that C. scandens is fast growing on opens habitats to slighty shade, with high humidity. At least, there are nine population plot of C. scandens especially in the Ciwalen River, which also crosses in National Park of Mt. Gede Pangrango (TNGGP) areas. Ecologically, C. scandens grows in open area or slightly shaded, wet, in river banks and remnant forest at 1,255 to 1,425 masl. They can climb a tree or shrubs and forming a dense canopy over understorey, to threaten native species in thus area. From the results, a mechanical eradication effort need to be carried out, especially before fruiting season, to reduce their abundance and prevent the regeneration process from occured
EFEK KONSUMSI KERANG BULU (Anadara antiquata) TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS SPERMATOZOA
Kerang Bulu (Anadara antiquata) merupakan salah satu makanan yang mengandung nutrisi tinggi seperti protein, lemak, vitamin dan mineral yang berpotensi memperbaiki serta meningkatkan kualitas spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek kerang bulu (A.antiquata) terhadap kuantitas dan kualitas spermatozoa Mus musculus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola faktorial, faktor pertama kondisi kerang yakni mentah dan kukus, faktor kedua konsentrasi 0%(kontrol), 75% dan 100%. M. musculus yang digunakan sebanyak 25 ekor terdiri dari limAbstrakKerang bulu (Anadara antiquata) merupakan salah satu makanan yang mengandung nutrisi tinggi, seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral, yang berpotensi memperbaiki serta meningkatkan kualitas spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek A. antiquata terhadap kuantitas dan kualitas spermatozoa Mus musculus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola faktorial. Faktor pertama adalah kondisi kerang, yakni mentah dan kukus, dan faktor kedua adalah konsentrasi 0 g/mL, 75 g/100 mL, dan 100 g/100 mL. M. musculus yang digunakan sebanyak 25 ekor, terdiri dari lima perlakuan dengan masing-masing lima kali ulangan. Parameter yang diamati adalah konsentrasi (kuantitas), motilitas, dan morfologi (kualitas) spermatozoa. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. antiquata berpengaruh nyata terhadap konsentrasi dan motilitas spermatozoa, sedangkan morfologi tidak memberikan pengaruh yang nyata. Kondisi kerang mentah dengan konsentrasi 100 g/100 mL memberikan efek rata-rata terendah terhadap konsentrasi dan motilitas spermatozoa, sementara kerang kukus dengan konsentrasi 75 g/100 mL meningkatkan rata-rata konsentrasi dan motilitas spermatozoa tertinggi. Penelitian ini memberi kesimpulan bahwa mengonsumsi kerang kukus lebih baik untuk meningkatkan konsentrasi dan motilitas spermatozoa dibandingkan dalam kondisi mentah. Peningkatan dosis kerang kukus tidak linier terhadap respon kuantitas dan kualitas spermatozoa.Kata kunci: Anadara antiquata; Konsentrasi spermatozoa; Motilitas; Morfologi; Mus musculusAbstract Shellfish (Anadara antiquata) was one of the foods that contained high nutrients such as protein, fat, vitamins, and minerals that had the potential to improve and increase the quality of sperm. The study aims to analyze the effect of the shellfish on the quantity and quality of Mus musculus sperm. This study was a purely experimental study with a completely randomized factorial pattern; the first factor was the condition of shellfish which was raw and steamed, and the second factor was concentrations of 0 g/mL, 75 g/100 mL and 100 g/100 mL. Twenty-five individuals of M. musculus were subject to five treatments, each with five replications. Parameters observed were concentration, motility, and morphology of sperm. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test and Duncan\u27s advanced test. The results showed that shellfish had a significant effect on the concentration and motility of sperm, whereas there was no significant effect on morphology. The dose which gave the effect was 100 g/100 mL of raw shellfish and 75 g/100 mL of steamed shellfish. This study concluded that consuming steamed shellfish was better than raw for increasing the concentration and motility of sperm. The shellfish dose increased is not linear in response to the quantity and quality of sperm.a perlakuan masing-masing lima kali ulangan. Parameter yang diamati jumlah (kuantitas), motilitas dan morfologi (kualitas) spermatozoa. Data dinalisis menggunakan uji Kruskal-wallis dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan kerang bulu (A.antiquata ) pengaruh nyata terhadap jumlah dan motilitas spermatozoa sedangkan pada morfologi tidak memberikan pengaruh yang nyata. Kondisi kerang mentah dengan konsentrasi 100g/100 ml air memberikan efek rata-rata terendah terhadap jumlah dan motilitas spermatozoa, sementara kerang kukus dengan konsentrasi 75g/100 ml meningkatkan rata-rata jumlah dan motilitas spermatozoa tertinggi. Penelitian ini memberi kesimpulan mengkonsumsi kerang kukus lebih baik untuk meningkatkan jumlah dan motilitas spermatozoa dibanding dalam kondisi mentah. Peningkatan dosis tidak linier terhadap respon kuantitas dan kualitas spermatozoa.
KELIMPAHAN BERUANG MADU (Helarctos malayanus Raffles, 1821) DI TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT, SUMATERA
Beruang madu (Helarctos malayanus Raffles, 1821) merupakan satwa karnivora yang dilindungi berdasarkan IUCN dengan status rentan. Kurangnya informasi tentang beruang madu menyebabkan konservasinya di Indonesia kurang mendapatkan prioritas, maka sebagai langkah awal perlu diketahui kelimpahannya. Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan salah satu tempat penyebaran beruang madu di Sumatera. Penelitian kelimpahan beruang madu telah dilakukan dengan menggunakan metode line transect, di 4 lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tanda-tanda keberadaan beruang madu meliputi tapak, cakaran, kotoran, galian di tanah, galian di kayu busuk, dan gigitan. Kelimpahan relatif beruang madu pada habitat sub-pegunungan dan pegunungan sebesar 0,05%, sedangkan di habitat perbukitan kelimpahan relatifnya 0,03%. Bila dilihat dari tipe hutan, kelimpahan relatif beruang madu cenderung lebih tinggi di hutan primer (5,7%) dibandingkan di hutan sekunder (4,1%)
IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF EKSTRAK DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) SEBAGAI INHIBITOR Streptococcus mutans
AbstrakKaries gigi adalah penyakit yang umum dialami oleh masyarakat yang terjadi karena buruknya kebersihan mulut. Kebiasaan masyarakat yang kurang menjaga kebersihan mulut mengakibatkan terbentuknya plak. Plak pada gigi terbentuk karena aktivitas dari berbagai macam mikroorganisme di mulut. Mikroorganisme yang diketahui terlibat dalam pembentukan karies gigi adalah Streptococcus mutans. Salah satu bahan alternatif sebagai antibakteri adalah daun cengkeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif daun cengkeh dan mengetahui mekanisme aksinya dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang digunakan dalam penelitian ini dimaserasi menggunakan metanol 96%. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar, senyawa bioaktif diidentifikasi menggunakan gas chromatography mass spectrometry dan perubahan membran sel bakteri diamati dengan scanning electron microscopy. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol daun cengkeh memiliki aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dengan zona hambat sebesar ±32 mm serta nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) 20% ekstrak. Mekanisme aksi penghambatan ekstrak daun cengkeh terhadap pertumbuhan bakteri diduga dengan membuat lubang pada membran sel bakteri. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa daun cengkeh memiliki kandungan senyawa bioaktif 3-allyl-6-methoxyphenol-eugenol, caryophyllene 1,4,7,-cycloundecatriene, 1,5,9,9-tetramethyl, phenol, 2-methoxy-4-(2-propenyl), dan eugenol acetate yang dapat menjadi kandidat penghasil senyawa aktif untuk mengatasi karies gigi.Abstract Dental caries is a common disease experienced by people who do not maintain oral hygiene. Habits of not maintain oral hygiene result in the formation of plaque. The microorganism known to be involved in the formation of dental caries is Streptococcus mutans. Plants that have antibacterial properties, such as clove (Syzygium aromaticum) leaf, can be an alternative for carrying this problem. This study aims to identify the bioactive compounds of clove leaves and to determine the mechanism of its action in inhibiting the growth of Streptococcus mutans. Clove leaves were macerated using 96% methanol for the extraction. Antibacterial activity was examined by agar diffusion method, bioactive compounds were identified using gas chromatography mass spectrometry, and bacterial cell membrane changes were observed by an image captured using scanning electron microscopy. The results showed that the methanol extract of clove leaf had inhibitory activity on Streptococcus mutans growth, with inhibitory zones of ±32 mm and the minimum inhibitory concentration (MIC) of 20% extract. It was suspected that the mechanism of inhibitory action is by making pores in the bacterial cell membrane. The results also showed that the clove leaves contain bioactive compounds of 3-allyl-6-methoxyphenol-eugenol, caryophyllene, 1,4,7, -cycloundecatriene, 1,5,9,9-tetramethyl, phenol, 2 -methoxy-4- (2-propenyl), and eugenol acetate which can be candidates for producing active compounds to overcome dental caries
EXPRESSION OF PROTEIN CD73/CD90/CD105/CD34/CD45/CD11b/CD19/HLA-DR ON STEM CELLS FROM HUMAN FAT TISSUE, USING CYTOMETRY FLOW
AbstrakSel punca merupakan sel yang dapat membelah dan berdiferensiasi menjadi sel jenis lainnya. Sel punca asal jaringan lemak potensial dikembangkan sebagai salah satu alternatif sel punca yang bersumber dari limbah sedot lemak manusia. Sel punca asal jaringan lemak akan mengekspresikan protein spesifik penanda permukaan CD73, CD90, CD105 dalam persentase yang tinggi dan CD34/CD45/CD11b/CD19/HLA-DR dalam persentase yang rendah. Studi ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah sedot lemak manusia dengan melakukan isolasi sel punca asal jaringan lemak dan menguji protein penanda permukaan spesifik sel punca. Beberapa tahapan dalam studi ini adalah isolasi stromal vascular fraction (SVF) dan kultur sel punca asal jaringan lemak manusia, population doubling time (PDT) serta analisis protein penanda permukaan CD7Ee3, CD90, CD105, dan CD34/CD45/CD11b/CD19/HLA-DR pada pasase ke-1 dari 3 donor. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa sel dari jaringan lemak berhasil dikultur dengan durasi pembelahan sel adalah 3,3 hari. Sel mengekspresikan CD73 (99,79%), CD90 (94,17%), CD105 (48,75%), dan CD34/CD45/CD11b/CD19/HLA-DR (kurang dari 2%). Ekspresi CD105 yang rendah dari ketiga donor diduga berkaitan dengan tingkatan pasase sel yang digunakan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sel punca asal jaringan lemak pasase ke-1 telah mengekspresikan ketiga marker protein penanda permukaan sel punca, yaitu CD73, CD90 dan CD105.Abstract Stem cells are cells that can divide into other different types of similar cells. Stem cells from fat tissue potential have been developed as an alternative stem cell from human liposuction. Stem cells from fat tissue will express high protein-specific markers on CD73, CD90, CD105 and CD34/CD45/CD11b/CD19/HLA-DR in a low percentage. This study aims to utilize human liposuction waste by isolating stem cells from fat tissue and testing protein-specific stem cell surface markers. Some stages in this study are isolation of stromal vascular fraction (SVF) and stem cell culture from human fat tissue, population doubling time (PDT) and protein analysis of surface markers CD73, CD90, CD105, and CD34/CD45/CD11b/CD19/HLA-DR on the 1st passage of 3 donors. The results of this study showed that cells from fat tissue were successfully cultured with cell division duration of 3.3 days. Cells expressed CD73 (99.79%), CD90 (94.17%), CD105 (48.75%), and CD34/CD45/CD11b/CD19/HLA-DR (less than 2%). The low expression of CD105 from all three donors is thought to be related to the level of cell passage used. Based on these results, it can be concluded that the stem cells from first passage fat tissue have expressed the three protein markers of stem cell surface markers, namely CD73, CD90 and CD105