Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
BIODEGRADASI PLASTIK LDPE HITAM DAN PUTIH PADA SAMPAH TPA ANTANG DALAM KOLOM WINOGRADSKY
AbstrakDalam dunia industri, baik industri sandang, pangan, papan, transportasi, medis maupun rekreasi tidak terlepas dari penggunaan kantong plastik. Karena bersifat praktis, berbagai jenis kantong plastik sebagai kemasan selalu menjadi pilihan dalam aktivitas masyarakat. Akan tetapi, sifat plastik yang sulit terdegradasi pada lingkungan alami menimbulkan permasalahan sebagai salah satu sumber pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi mikroorganisme tanah yang diisolasi dari sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang Makassar dalam mendegradasi kantong plastik LDPE hitam dan putih. Metode biodegradasi plastik yang digunakan adalah kolom Winogradsky dengan menggunakan kolom kaca 1.000 mL yang berisi 500 gram tanah sampah TPA Antang dan plastik uji LDPE warna hitam dan putih. Kemudian dilakukan pengukuran persentase degradasi selama 3 bulan masa inkubasi dengan waktu panen selama 3 minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 isolat dalam kolom Winogradsky mampu mendegradasi plastik LDPE hitam sebesar 3,5% dan 6 isolat lainnya mampu mendegradasi plastik LDPE putih sebesar 2%. Selanjutnya, isolat ini dapat digunakan sebagai agen biodegradasi plastik di TPA Antang Makassar.Abstract The use of plastic bags is almost unavoidable in industries, including the food, clothing, transportation, construction, medical, and recreational industries. Various types of plastic bags have been used in various types of packaging, because of the value of practicality. However, the difficulties in the degradation process become a problem as a pollution source in the environment. The purpose of this study was to determine the potential of soil microbes isolated in Antang landfill, Makassar, in degrading black and white plastics of LDPE. The biodegradation method used was the Winogradsky column using a 1,000 mL glass column containing 500 grams of Antang landfill soil and using black and white LDPE as well. The percentage of degradation was measured for three months incubation period with harvest time for three weeks. The results showed that the inoculum in Winogradsky column was able to degrade the black plastic by 3.5% and the white plastic by 2%. The results of macroscopic and microscopic characterization showed that six isolates were degrading the black plastic and six isolates were degrading the white plastic, with different characteristics. Furthermore, this isolate can be utilized as a biodegradation agent for plastic in the Antang landfill
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TEMEPHOS DENGAN Bacillus thuringiensis var. israelensis TERHADAP MORTALITAS NYAMUK Aedes aegypti DARI TIGA KELURAHAN DI KOTA SAMARINDA
AbstrakPengendalian vektor penyakit demam berdarah (DBD) di Indonesia menggunakan larvasida temephos telah berlangsung lebih dari 30 tahun, oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas temephos dan Bacillus thuringiensis var. israelensis yang merupakan larvasida jenis baru dari agen biologi terhadap larva nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas temephos dengan B. thuringiensis var. israelensis terhadap mortalitas larva nyamuk Ae. aegypti dari tiga Kecamatan di Samarinda, yaitu Kecamatan Samarinda Utara Kelurahan Gunung Lingai, Samarinda Ulu Kelurahan Air Putih dan Sungai Kunjang Kelurahan Loa Bakung. Metode yang digunakan adalah metode bioassay. Hasil penelitian menunjukan bahwa temephos tidak efektif untuk membunuh larva nyamuk Ae. aegypti dari tiga kelurahan yang diamati, dengan LC50,24jam sebesar 1,88–2,24 ppm dan LC90,24jam sebesar 2,07–3,59 ppm. Sementara itu, B. thuringiensis var. israelensis masih efektif untuk membunuh larva nyamuk Ae. aegypti dari ketiga kelurahan yang diamati, dengan LC50,24jam sebesar 0,93–1,00 mL/50 L air dan LC90,24jam sebesar 1,05–1,11 mL/50 L air. Hal ini berarti penggunaan B. thuringiensis var. israelensis dengan dosis yang dianjurkan pemerintah masih efektif untuk mengendalikan populasi nyamuk Ae. aegypti.AbstractThe control of dengue hemorrhagic fever (DHF) vector in Indonesia using larvicide temephos has been ongoing for more than 30 years. Hence, it is necessary to assess the effectiveness of temephos compared to Bacillus thuringiensis var. israelensis which is a new type of biological larvacide agent against Aedes aegypti mosquito larvae. This study aimed to determine the effectiveness of temephos compared to B. thuringiensis var. israelensis against mortality of Ae. aegypti mosquito larvae sampled from three subdistricts in Samarinda namely Samarinda Utara Subdistrict Gunung Lingai, Samarinda Ulu Subdistrict Air Putih, and Sungai Kunjang Subdistrict Loa Bakung. The method used was bioassay. The results showed that temephos was not effective in killing Ae. aegypti mosquito larvae from the three subdistricts observed, with LC50.24 hours by 1.88–2.24 ppm, and LC90,24 hours by 2.07–3.59 ppm. Meanwhile, B. thuringiensis var. israelensis is still effective in killing Ae. aegypti mosquito larvae from the three subdistricts observed, with LC50.24 hours by 0.93–1.00 mL/50 L of water and LC90,24 hours by 1.05–1.11 mL/50 L of water. Those results mean that the application of B. thuringiensis var. israelensis with the recommended dosage of the government is still effective in controlling the population of Ae. aegypti
PROTALIUM ASSOCIATION WITH VARIOUS EPIPHYTE GROUPS IN THREE TYPES OF HOST TREE
AbstrakSalah satu kelompok epifit vaskular penting adalah paku-pakuan dengan fase awal pertumbuhannya disebut sebagai protalium. Tumbuhnya protalium di suatu lokasi menjadi penentu bahwa lokasi tersebut potensial ditumbuhi paku-pakuan dewasa. Asosiasi antara protalium dengan tumbuhan lainnya mungkin bermanfaat untuk menentukan potensi satu jenis inang sebagai tempat hidup dari banyak jenis tumbuhan epifit. Oleh karena itu, dilakukan studi asosiasi antara protalium dengan paku dewasa, lumut, liken dan epifit spermatofita pada tiga jenis pohon inang, yaitu Archontophoenix alexandrae, Bichofia javanica dan Dacrycarpus imbricatus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Purposive Sampling untuk menentukan tiga jenis pohon inang dengan besar masing-masing diameter pohon (DBH) adalah 30–100 cm. Pengambilan sampel protalium dan epifit vaskular lain diambil pada masing-masing zonasi menggunakan milimeter block. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima kombinasi, yaitu protalium dengan paku, lumut dengan epifit spermatofita, protalium dengan epifit spermatofita, protalium dengan lumut dan paku dengan lumut. Asosiasi positif dengan nilai tertinggi adalah 23,12, dua kombinasi yang memiliki asosiasi negatif ialah liken dengan lumut dan antara epifit spermatofita dengan liken, dan tiga kombinasi yang tidak berasosiasi ialah protalium dengan liken, paku dengan liken, dan paku dengan epifit spermatofita. Hal tersebut menunjukkan bahwa protalium berbagi karakter habitatnya dengan tiga kelompok tersebut dan tidak dengan kelompok lainnya. Penelitian ini sangat berguna untuk mengetahui jenis pohon dan karakteristik lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan protalium.Abstract One of important epiphyte vascular groups is ferns which the beginning phase of their growth is called protalium. Protalium’s growth in one location becomes indicator that the location has a potential to be grown by mature ferns. Association between protalium and other plants may become beneficial to determine the potential of a host species as the host of many epiphytes. Therefore, research about association between protalium and mature ferns, mosses, lichens, spermatophyte epiphyte also was conducted on three species of host tree there are Archontophoenix alexandrae, Bichofia javanica and Dacrycarpus imbricatus. Purposive sampling method was used in this research to determine three types of host trees with the size of 30–100 cm for each tree diametre. Sampling of protalium and other vascular epiphytes was taken in each zonasing using milimeter block. The research showed there are five combinations, protalium with ferns, mosses with spermatophyte epiphytes, protalium with spermatophyte epiphytes, protalium with mosses and fern with mosses. Positive association with the highest value is 23.12, two combinations with negative association are lichen with mosses and spermatophyte epiphyte with lichens, three combinations that aren’t associated, protalium with lichens, ferns with lichens and ferns with spermatophyte epiphyte. It showed that protalium shares its habitat character with those three groups, not with other group. This study has valuable benefits of knowing tree species and enviromental characteristic that are suitable for protalium growth
INVENTARISASI DAN STUDI EKOLOGI BUAH BIWA (Eriobotrya japonica Lindl.) DI LIMA KABUPATEN DI SUMATERA UTARA
Biwa (Eriobotrya japonica) termasuk dalam famili Rosaseae dan merupakan tanaman asli Tiongkok yang menyebar hingga ke Jepang, Korea, pengunungan India, dan Eropa. Di Indonesia, Buah Biwa ditemukan di dataran tinggi Sumatera Utara. Buah biwa termasuk buah yang belum banyak dibudidayakan, namun memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi serta diminati oleh warga etnis Tiongkok. Lebih lanjut, data dan informasi mengenai biwa di Indonesia masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengetahui sebaran ekologi dan keragaman jenis biwa yang terdapat di lima kabupaten di Sumatera Utara. Kegiatan dilaksanakan di lima kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Samosir, Tobasa, Simalungun, Dairi, Karo pada rentang ketinggian 900–1.500 mdpl. Berdasarkan hasil inventarisasi diperoleh sebanyak 57 nomor koleksi tanaman biwa yang terdiri dari 52 nomor stek bibit dan 5 nomor herbarium. Selain itu, diketahui bahwa terdapat tipe variasi tanaman biwa yang dapat dibedakan berdasarkan bentuk buah (bulat oval dan lonjong), warna buah (kuning pucat dan jingga tua), bentuk daun (lanset dan bulat telur terbalik), serta bentuk tajuk (tegak dan menyebar).AbstractLoquat (Eriobotrya japonica) belongs to the Rosaseae Rosaceae family is native to China and spread to Japan, Korea, the Indian mountains and Europe. In Indonesia, loquat was is found in the highland of North Sumatra. It has economic potential and specific market for Chinese ethnic, but not widely cultivated yet. Moreover, the data and information about loquat in Indonesia is are still limited. The aim of this study wasThis study aimed to determine the ecological distribution and diversity of loquat in North Sumatra. The inventarisation and ecological study of loquat was were conducted in five regencies of North Sumatra, i.e. Samosir, Tobasa, Simalungun, Dairi, and Karo at an altitude of 900–1,500 m asl. We were obtainedThere were 57 number collection of loquat, consisting of 52 numbers of seedling from cuttings and 5 numbers of herbarium. Moreover, the results showed that the variation of loquat in North Sumatra can be distinguished based on fruit shapes (oval and elliptic), fruit colours (pale yellow and dark orange), leaf shapes (lanceolate and obovate), and canopy shapes (erect and spreading)
KEANEKARAGAMAN SIANOBAKTERI DI SUNGAI KELINGI KOTA LUBUKLINGGAU, SUMATERA SELATAN
AbstrakSungai Kelingi di Kota Lubuklinggau memiliki kondisi perairan yang tercemar. Sampai saat ini belum ditemukan kajian berkaitan dengan sianobakteri di Sungai Kelingi Kota Lubuklinggau. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman sianobakteri dan faktor abiotiknya. Berdasarkan hasil penelitian, sianobakteri yang ditemukan terdiri atas 1 kelas, 2 ordo, 3 famili, 5 genus, dan 5 spesies. Nilai rata-rata keanekaragaman sianobakteri adalah 1,41, dengan keanekaragaman tertinggi berada di stasiun 3 dengan nilai 1,27 dan terendah berada di stasiun 2 dengan nilai 0,66. Nilai rata-rata dominansi sianobakteri adalah 0,43, dengan dominansi tertinggi berada di stasiun 2 dengan nilai 0,53 dan terendah berada di stasiun 3 dengan nilai 0,30. Sementara itu, nilai rata-rata keseragaman sianobakteri adalah 0,52, dengan keseragaman tertinggi berada di stasiun 3 dengan nilai 0,71 dan terendah berada di stasiun 2 dengan nilai 0,36. Hasil pengukuran faktor abiotik di Sungai Kelingi adalah: suhu 25 °C, oksigen terlarut 43,63 mg/L, keasaman 7,29 dan kecerahan 72,47 cm. Dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman sianobakteri di Sungai Kelingi Kota Lubuklinggau tergolong ke dalam kriteria sedang. Sianobakteri yang ditemukan Homoeothrix sp., Lyngbya sp., Nostoc sp., Oscilatoria limosa, dan Spirulina sp. Adanya penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang sianobakteri di Sungai Kelingi, Kota Lubuklinggau.Abstract Kelingi River in Lubuklinggau City has polluted waters. Up to present, there is no studies have found regarding cyanobacteria in Kelingi River. The purpose of this research was to analyze the diversity of cyanobacteria and their abiotic factors. The results showed that the cyanobacteria found were consisting of 1 class, 2 orders, 3 families, 5 genera, and 5 species. The average value of cyanobacterial diversity was 1.41, with highest diversity being at station 3 by 1.27 and the lowest being at station 2 by 0.66. The average dominance of cyanobacteria was 0.43, with the highest dominance being at station 2 by 0.53 and the lowest being at station 3 by 0.30. The average value of uniformity was 0.52, with the highest uniformity being at station 3 by 0.71 and the lowest being at station 2 by 0.36. The results on the measurement of abiotic factors in the Kelingi River were: temperature 25°C, dissolved oxygen 43.63 mg/L, acidity 7.29 and brightness 72.47 cm. It was concluded that the diversity of cyanobacteria in Kelingi River belongs to the criteria of being moderate. The cyanobacteria found were Homoeothrix sp., Lyngbya sp., Nostoc sp., Oscilatoria limosa, and Spirulina sp. This study provides an illustration of cyanobacterial diversity in the Kelingi River
ANTAGONISTIC TEST OF RIAU LOCAL FUNGAL ISOLATES AGAINST SOME PATHOGENIC IN CULTIVATED PLANTS
Tanaman budi daya merupakan tanaman yang sering diserang oleh cendawan pathogen, sehingga mengakibatkan penurunan populasi dan produksi tanaman. Pengendalian hayati dengan cendawan antagonis merupakan salah satu metode yang paling efektif dan lebih ramah lingkungan dalam menekan pertumbuhan patogen tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antagonis cendawan isolat lokal Riau terhadap beberapa cendawan patogen pada tanaman budi daya. Uji antagonis dilakukan secara in vitro dengan metode dual culture menggunakan lima belas cendawan isolat lokal Riau terhadap Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici, Ganoderma philippii, G. boninense, Rigidoporus microporus dan Colletotrichum sansevieria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma sp. PNE 4 memiliki aktivitas antagonis tertinggi dan isolat FER C1 serta isolat LLB07 hanya memiliki aktivitas antagonis yang tinggi dalam menekan pertumbuhan cendawan patogen. Trichoderma sp. PNE 4 mampu menghambat pertumbuhan miselium F. oxysporum sebesar 85,30%, G. Philippii (100%), G. boninense (100%), dan C. sansevieria (100%). Isolat FER C1 hanya menghambat R. Microporus (50,39%) dan isolat LLB07 menghambat G. philippii (52,20%). Trichoderma sp. PNE 4 merupakan cendawan uji yang terpilih sebagai cendawan antagonis, karena memiliki kemampuan daya hambat >70%.Abstract Cultivated plants are often attacked by pathogenic fungi resulting in a decline of population and crop production. Biocontrol with antagonistic fungi is one of the most effective and environmentally friendly methods in suppressing the growth of plant pathogens. This study aims to examine the antagonistic activity of local isolates fungi Riau against some pathogenic fungi on cultivated plants. The antagonistic test was performed in vitro by dual culture method using fifteen local isolates fungal Riau against Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici, Ganoderma philippii, G. boninense, Rigidoporus microporus and Colletotrichum sansevieria. The results showed that Trichoderma sp. PNE 4 isolate exhibited highest activites and FER C1 and LLB07 isolates exhibited high activities suppressed the growth of the fungal pathogen. Trichoderma sp. PNE 4 isolate inhibited mycelial growth F. oxysporum (85.30%), G. philippii (100%), G. boninense (100%) and C. sansevieria (100%). FER C1 isolate only inhibited R. microporus (50.39%), and LLB07 isolate inhibited G. philippii (52.20%). Trichoderma sp. PNE 4 isolate is test isolates as fungal antagonistic
AKTIVITAS TERMOPROTEKSI DAN FOTOPROTEKSI EKSTRAK KASAR KAROTENOID MESOKARP KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) TERHADAP KESTABILAN KLOROFIL-A)
AbstrakKelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman yang mengandung karotenoid tinggi pada mesokarp yang merupakan bagian dari buah. Cahaya dan suhu dalam proses fotosintesis memberi pengaruh bagi kestabilan dan ketidakstabilan karotenoid dan klorofil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas fotostabilitas dan termostabilitas ekstrak karotenoid mesokarp terhadap klorofil-a yang diiradiasi dengan lampu volpi (intralux 4100) daylight pada intensitas cahaya 31960 lux, 47040 lux dan 76640 lux dalam seri waktu penyinaran 0, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 menit serta dipanaskan pada suhu 25, 50, 65, dan 90 °C dengan seri waktu pemanasan 0, 1, 2, 3, 6, 9, dan 24 jam. Pengukuran spektrum serapan tiap perlakuan diukur menggunakan Spektrofotometer UV-Tampak pada panjang gelombang 300–800 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karotenoid tidak melakukan fungsi proteksi dengan baik pada perlakuan pemanasan 65 °C dan 90 °C selama 24 jam, serta perlakuan iradiasi hingga 30 menit pada ketiga intensitas cahaya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah klorofil-a murni lebih stabil pada perlakuan pemanasan dan iradiasi. Kemampuan proteksi karotenoid terhadap kestabilan klorofil-a yaitu pada suhu di bawah 50 °C dan pada intensitas cahaya di bawah 31960 lux.Abstract Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) is a plant that contains high carotenoids in its mesocarp which is part of the fruit. Light and temperature in photosynthesis may affect the stability and instability of carotenoid and chlorophyll. The aim of this research was to examine the thermostability and photostability activities of the carotenoids in mesocarp extract on chlorophyll which were irradiated by Volpi lamp (4100 intralux) daylight at light intensity of 31960 lux, 47040 lux and 76640 lux in series of time radiation 0, 5, 10, 15, 20, 25, and 30 minutes and heated at 25, 50, 65, and 90°C with series of heating time 0, 1, 2, 3, 6, 9, and 24 hours. Measurement of the absorption spectrum of each treatment was measured using a UV-Vis Spectrophotometer at a wavelength range of 300–800 nm. The results showed the protective function of carotenoids did not perform well at the heating treatments of 65°C and 90°C in 24 hours and at the irradiation for 30 minutes in all the light intensities. In conclusion, pure chlorophyll-a is more stable in heating and irradiation treatments. Carotenoid protection ability against chlorophyll-a is at temperatures below 50 °C and at a light intensity below 31960 lux
TUMBUHAN SEBAGAI OBAT TRADISONAL PASCA MELAHIRKAN OLEH SUKU ACEH DI KABUPATEN PIDIE
AbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional merupakan kearifan lokal yang diturunkan secara turun temurun berdasarkan resep nenek moyang, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan pasca melahirkan oleh Suku Aceh di Kabupaten Pidie. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik Participatory Rural Appraisal dan observasi. Parameter dalam penelitian ini adalah jenis tumbuhan obat, jenis ramuan obat dan cara penggunaan ramuan dalam pengobatan pasca melahirkan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 25 jenis tumbuhan yang tergolong ke dalam 15 suku yang digunakan dalam pengobatan pasca melahirkan di Kabupaten Pidie. Jenis ramuan dalam pengobatan tradisional pasca melahirkan terdiri dari obat dalam dan obat luar. Obat dalam yang digunakan terdiri obat perut, bedak param, dan pilis. Penggunaan ramuan obat dalam dan obat luar selama pasca melahirkan dilakukan selama 44 hari. Manfaat dari penggunaan obat tersebut diantaranya menambah darah, meningkatkan jumlah air susu ibu, menghangatkan badan, dan menghilangkan lelah serta letih pasca melahirkan. Pemanfaatan tumbuhan obat secara tradisional sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat Aceh pada pengobatan ibu pasca melahirkan, selain pengobatan modern.Abstract Traditional medicine is a drug that is processed in a simple, hereditary based on ancestral recipes, customs, beliefs or local knowledge. This study aims to identify the species of plants used in post-natal care by Acehnese in Pidie District. The method used in data collection is Participatory Rural Appraisal and observation techniques. The parameters in this study are the species of medicinal plants, types of medicinal herbs and how to use the ingredients in postnatal care. The results of the study obtained 25 species plant that is grouped into 15 family used in post-natal care in Pidie District. A Traditional herbs post-natal medicine consists of internal and external medicine. The internal medicine used as stomach medicine, param powder and pilis. The use of medicinal herbs to internal and external medicine after postnatal was carried out for 44 days. The perceived benefits included adding blood, increasing the amount of breast milk, warming the body and eliminating fatigue and fatigue after childbirth. Utilization of traditional medicinal plants in this time are still used by Acehnese in the treatment of postnatal mother, besides modern treatment
STUDI IN SILICO: PREDIKSI PENGARUH MUTASI TITIK GEN VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR RECEPTOR-2 (VEGFR2) TERHADAP STRUKTUR SEKUNDER PROTEIN
Angiogenesis merupakan proses penting untuk pertumbuhan dan regenerasi sel. Salah satu protein yang berperan dalam angiogenesis adalah vascular endothelial growth factor (VEGF). VEGF akan berinteraksi dengan reseptornya seperti vascular endothelial growth factor receptor-2 (VEGFR2) untuk meregulasi proses angiogenesis. Mutasi pada gen VEGFR2 pada manusia dilaporkan dapat menyebabkan penyakit strawberry mark (hemangioma). Oleh karena itu, perlu dilakukan studi dan penelusuran terkait mutasi yang berperan dalam terbentuknya hemangioma. Beberapa tahapan yang dilakukan untuk menganalisis pengaruh mutasi tersebut diantaranya dengan melakukan penelusuran informasi dasar dan komposisi gen VEGFR2, analisis ortolog dan paralog gen VEGFR2, dan analisis struktur sekunder protein VEGFR2 manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa mutasi VEGFR2 pada basa ke-3741 yaitu sitosin (C) menjadi timin (T) dilaporkan ditemukan pada jaringan tumor hemangioma. Perubahan basa ke-3741 sitosin menjadi timin mengakibatkan perubahan asam amino prolin menjadi serin yang dapat berdampak pada regulasi ekspresi VEGF. Ortolog dan paralog dari gen VEGFR2 manusia adalah gen VEGFR2 mencit dan gen fibroblast growth factor receptor 1 (FGFR1) manusia. Hasil analisis pengaruh mutasi terhadap bentuk dan struktur protein menunjukkan tidak ada perubahan yang signifikan, namun posisi mutasi di bagian ekstraseluler sel diduga mempengaruhi regulasi ekspresi VEGF melalui ikatan ligan-reseptor