Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    Aktivitas Antioksidan dan Antimikroba Minyak Atsiri Kembang Leson

    No full text
    AbstrakKembang leson adalah racikan jamu untuk mandi yang terdiri dari berbagai obat-obatan herbal yang umum ditemukan di Jawa. Kembang leson mengandung minyak atsiri utama, yaitu camphene 1,29%, benzene methyl cymene 4,93%, camphor 4,75%, cyclohexane methanol 7,56%, dan curdione 4,83%. Golongan senyawa minyak atsiri dapat menghambat radikal bebas 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan memiliki aktivitas antibakteri yang ditunjukkan dengan uji aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antibakteri dari minyak atsiri kembang leson. Minyak Atsiri kembang leson diekstraksi dengan metode destilasi. Minyak atsiri yang diperoleh diuji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, serta aktivitas antibakteri dengan metode difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri kembang leson memiliki aktivitas antioksidan dengan persentase penghambatan DPPH sebesar 56,16%, dan memiliki nilai IC50 (half maximal inhibitory concentration) sebesar 825,78 ppm. Aktivitas antibakteri minyak atsiri kembang leson juga efektif menghambat pertumbuhan E. coli, tetapi belum mampu menghambat pertumbuhan S. aureus. Minyak atsiri kembang leson  dapat digunakan sebagai sumber antioksidan alami.Abstract Kembang leson is an herbal concoction used for bathing. It comprises various herbal medicines found in Java, which contains essential oils such as 1.29% camphene, 4.93% benzene methyl cymene, 4.75% camphor, 7.56% cyclohexane methanol, and 4.83% curdione. It is known that essential oils can reduce DPPH free radicals and have antibacterial activity against S. aureus and E. coli.  Our research is to determine the antioxidant and antibacterial activity of kembang leson essential oil. The essential oil was extracted by distillation. The essential oil obtained was examined for antioxidant activity using the DPPH method and antibacterial activity using the diffusion method. The results showed that kembang leson essential oils have antioxidant and antibacterial activity. The percentage of DPPH inhibition was 56.16%, and the IC50 value was 825.78 ppm. Antibacterial activity of kembang leson essential oil inhibited E. coli but could not inhibit the growth of S. aureus. Thus, kembang leson essential oils have antioxidant and antibacterial activity against E. coli, but only have antioxidant activity against S. aureus. Further studies are needed to determine the main ingredients that play an important role in the antioxidant mechanism and antibacterial of kembang leson essential oil

    INVENTARISASI DAN POTENSI JAMUR MAKRO DI KAWASAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON BANTEN

    Get PDF
    AbstrakTaman Nasional Ujung Kulon (TNUK) adalah salah satu kawasan lindung terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten. Di kawasan ini terletak Desa Ujung Jaya. Formasi hutan di kawasan ini sangat bervariasi, dengan keanekaragaman plasma nutfah yang cukup tinggi, sehingga sangat memungkinkan ditemukan jamur makro. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data jenis-jenis jamur makro dan data potensi baik sebagai bahan pangan, bahan obat, dan sebagai mikoriza. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jalur, yaitu dengan mengamati dan mencatat sampel di sepanjang jalur penelitian, yang meliputi kawasan hutan sekitar permukiman, kawasan mangrove, dan kawasan permukiman penduduk. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 98 spesies jamur makro di TNUK, dengan sebaran sebanyak 56 spesies di kawasan permukiman,  31 spesies di kawasan hutan, dan 32 spesies di kawasan mangrove. Jamur makro yang ditemukan didominasi phylum Basidiomycota 92 spesies, sementara phylum Ascomycota hanya 4 spesies dan sisanya 2 spesies dari kelompok jamur lendir (phylum Myxomycota). Sebanyak 28 spesies sebagai bahan pangan, 56 spesies sebagai bahan obat, dan 5 spesies sebagai mikoriza.Abstract Ujung Kulon National Park (TNUK) is a protected area located in Pandeglang Regency, Banten. Located in this area is Ujung Jaya village. Forest formations in this region is very varied, with a fairly high diversity of germplasm so that it is possible to find macro fungi. The purpose of this study was to obtain data on macro fungi and potential data as food ingredients, as medicinal ingredients, and as mycorrhizae. The method used in this study is the path method, which is by observing and recording samples along the research path, which includes forest areas around settlements, mangrove areas, and residential areas. From the results, 98 species of macro fungi were found in Ujung Kulon National Park, from which 56 species were found in residential areas, 31 species in forest areas and 32 species in the mangrove area. Macro fungi found were dominated by phylum Basidiomycota, as many as 92 species, the rest were Ascomycota phylum as many as 4 species and phylum Myxomycota (slime mold), as many as 2 species. A total of 28 species as food ingredients, 56 species as medicinal ingredients, and 5 species as mycorrhizae

    AKTIVITAS ANTIBAKTERI ACTINOMYCETES ASAL DESA CEMPAKA KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT TERHADAP ENTEROPATOGENIK GASTROENTERITIS

    Get PDF
    AbstrakAntibiotik yang digunakan secara tidak tepat dapat meningkatkan jumlah bakteri penyebab gastroenteritis yang resisten terhadap antibiotik. Beberapa kelompok mikroorganisme tanah diketahui memiliki potensi menghasilkan senyawa aktif untuk menghambat dan membunuh bakteri patogen, seperti Actinomycetes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antibiotik Actinomycetes  terhadap bakteri penyebab gastroenteritis yang diisolasi dari sawah tandus di Desa Cempaka Baru, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Proses penelitian dilakukan dari isolasi Actinomycetes dari sawah tandus, karakterisasi, serta pengujian kemampuan antibiotik terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 25922, Salmonella enterica ATCC 14028 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923 menggunakan metode sumuran pada media Mueller Hinton Agar. Hasil identifikasi berdasarkan karakteristik morfologi koloni, sel, dan biokimia diperoleh 1 isolat bakteri, yaitu genus Nocardia sp. ATS-4.1 yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri uji yang dibuktikan adanya rata-rata zona hambat yang terbentuk, yakni 14,51 mm; 16,16 mm; dan 11,10 mm. Hasil uji statistik Friedman diperoleh nilai Asymp. Sig 0,10>0,05, sehingga menunjukkan bahwa pemberian cairan kultur isolat Nocardia ATS-4.1 memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata antara hambatan terhadap bakteri E. coli, S. enterica, dan S. aureus. Hal ini dapat disimpulkan bahwa isolat Nocardia sp. ATS-4.1 berpotensi menghasilkan antibakteri yang setara terhadap bakteri E. coli, S. enterica, dan S. aureus penyebab gastroenteritis.Abstract Using antibiotics incorrectly increases the number of resistant bacteria to gastroenteritis. Soil microorganisms are known to have the potential to produce active compounds to inhibit and kill pathogenic bacteria,  for example, Actinomycetes. The purpose of this study was to determine the potential of antibiotics Actinomycetes isolated from rice fields in Cempaka Baru, Kapuas Hulu Regency, West Kalimantan, against gastroenteritis bacteria. The research order was carried out by isolating Actinomycetes from barren rice fields, and then characterizing and testing the ability of antibiotics against Escherichia coli ATCC 25922, Salmonella enterica ATCC 14028, and Staphylococcus aureus ATCC 25923 using the well method on Mueller Hinton Agar. The identification results based on morphological characteristics of colonies, cells and biochemistry showed that one of the bacteria was from genus Nocardia sp. ATS-4.1 which was able to inhibit the three test bacteria by the average inhibition zone 14.51 mm; 16.16 mm; and 11.10 mm, respectively. Friedman’s statistical test resulted in values asymp. sig 0.10>0.05 which showed that the isolate gave inhibition differences insignificantly among the bacteria. In conclusion, isolate Nocardia sp. ATS-4.1 able to produce equal antibacterial activity against bacteria E. coli, S. enterica and S. aureus caused gastroenteritis

    COVER AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 13 NO. 1 APRIL 2020

    No full text

    Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis) Di Arboretum Universitas Riau (UNRI) Dan Sekitarnya

    Get PDF
    AbstrakArboretum Universitas Riau (UNRI) merupakan habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Banyak aktivitas di lokasi tersebut, diduga mempengaruhi pola perilaku M. fascicularis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku harian M. fascicularis di Arboretum UNRI dan sekitarnya. Pengamatan menggunakan metode focal animal sampling dan ad libitum. Pengamatan perilaku harian M. fascicularis dilakukan pada kelompok A, yang berjumlah  9 ekor. Frekuensi jenis-jenis perilaku harian M. fascicularis secara berturut turut adalah perilaku pindah, istirahat, makan, bermain, menelisik, agresif, dan seksual. Macaca fascicularis pradewasa cenderung melakukan perilaku pindah, istirahat, dan bermain. M. fascicularis dewasa cenderung melakukan perilaku pindah, istirahat, dan makan. Jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap perilaku harian M. fascicularis pradewasa, tetapi berpengaruh pada individu M. fascicularis dewasa, khususnya perilaku makan, berpindah, dan menelisik. Perilaku seksual intraspesies terjadi hanya pada individu betina alfa, dewasa (Ma) dengan jantan alfa dewasa (Mon). Perilaku menelisik dan mounting heteroskesual interspesies terjadi antara M. fascicularis jantan, alfa (Mon) dengan M. nemestrina betina dewasa. Perilaku mounting isoseksual terjadi antara M. fascicularis jantan dewasa dan pradewasa dari kelompok yang berbeda. Perilaku harian yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia adalah perilaku makan.Abstract Riau University Arboretum is a habitat of long-tailed macaque (M. fascicularis). Human activities at the location are pressumed to influence M. fascicularis behavior patterns. The study aims to determine the daily behaviour of M. fascicularis in around of Arboretum UNRI. Observations used focal animal sampling and ad libitum methods. Observation of the daily behavior was carried out in Group A, which consisted of 9 individuals. The frequency of M. fascicularis daily behaviors were moving, resting, eating, playing,  grooming, aggresive, and sexual behaviour, respectively. Immature M. fascicularis are more likely to perform the moving, resting, and playing behavior. Whereas mature M. fascicularis are more likely to perform the moving, resting, and eating behavior. Gender does not affect the daily behavior of immature M. fascicularis, it affects the individual mature M. fascicularis, especially feeding, moving and grooming behavior. Intraspesific hetrosexual behaviour occured only between alfa, mature female(Ma) and alpha, mature male (Mon). Interspesific heterosexual grooming and mounting behaviors occured between M. fascicularis alpha, male individual and mature female M. nemestrina. Intraspecific mounting isosexual behavior occured on mature and immature of M. fascicularis from different group. The daily behavior that is influence by human activities is eating behaviour

    KONDROGENESIS ADIPOSE-DERIVED STEM CELLS MENGGUNAKAN PLATELET-RICH PLASMA PADA SCAFFOLD SUTRA

    Get PDF
    AbstrakStudi tentang kemampuan adipose-derived stem cells (ADSCs) sebagai sel punca yang dapat berdiferensiasi menjadi kondrosit menggunakan platelet-rich plasma (PRP) sebagai subtitusi fetal bovine serum (FBS) telah banyak dilaporkan. Penggunaan medium pertumbuhan dengan kombinasi ADSCs, PRP dan scaffold sutra masih belum banyak dipelajari dalam rekayasa jaringan kartilago. Studi ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh medium yang mengandung 5%, 10% dan 20% PRP terhadap proses kondrogenesis ADSCs manusia yang dikultur pada scaffold sutra Bombyx mori Indonesia. Metode penelitian diawali dengan pembuatan scaffold sutra menggunakan metode salt-leaching, isolasi dan kultur ADSCs manusia dari jaringan lemak, uji pertumbuhan ADSCs pada scaffold sutra dengan variasi konsentrasi PRP pada medium serta analisis kadar glikosaminoglikan (GAG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ADSCs yang dikultur menggunakan PRP lebih tinggi laju pertumbuhannya dibandingkan dikultur menggunakan FBS selama 7 hari pengamatan. Kadar GAG yang disekresikan ADSCs kelompok PRP juga lebih tinggi dibandingkan kelompok FBS. Kadar GAG tertinggi pada hari ke-21 pengamatan adalah medium yang mengandung 20% PRP kemudian 10% dan 5%, sedangkan kadar GAG kelompok kontrol cenderung stabil pada kadar yang rendah. Berdasarkan hasil tersebut, medium yang mengandung PRP memiliki potensi dalam menginduksi kondrogenesis ADSCs yang dikultur pada scaffold sutra.Abstract The studies on adipose-derived stem cells (ADSCs) differentiation into chondrocytes using platelet-rich plasma (PRP) as a substitute for fetal bovine serum (FBS) have been reported. However, the combination of ADSCs, PRP and silk fibroin scaffold has not been widely studied for developing cartilage engineering. Therefore, this research aims to study the effect of medium containing 5%, 10% and 20% PRP towards chondrogenesis of human ADSCs cultured on silk fibroin scaffold from Indonesia Bombyx mori. At first, the silk fibroin scaffold was fabricated using a salt-leaching method, then ADSCs were isolated and cultured from adipose tissues. The assays of growth curve and biocompatibility of silk fibroin scaffold toward ADSCs supplemented by PRP as well as glycosaminoglycans (GAG) concentration were conducted later. The results showed that higher absorbance of proliferation rate was on ADSCs supplemented by various PRP concentrations compare to FBS control group for seven days of observation. Level of GAG, which secreted by ADSCs supplemented by a various concentration of PRP, was also higher than the FBS group. The highest level of GAG on day 21 was observed in 20% PRP group then 10% and 5% PRP, while a group of GAG level is stable at low levels. This study concludes that PRP has the potential to induce chondrogenesis ADSCs which cultured on silk fibroin scaffold

    UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BAWANG HITAM (BLACK GARLIC) DENGAN VARIASI LAMA PEMANASAN

    Get PDF
    AbstrakSenyawa radikal dalam tubuh sangat reaktif terhadap sel-sel, sehingga dapat menyebabkan berbagai penyakit. Senyawa yang mampu menangkal radikal bebas disebut antioksidan. Bawang hitam diketahui mengandung senyawa aktif fenolik dan turunannya sehingga dapat digunakan sebagai antioksidan. Penelitian tentang penggunaan bawang hitam sebagai antioksidan ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu pemanasan (15, 25, dan 35 hari) terhadap aktivitas antioksidan pada ekstrak bawang hitam. Bawang hitam diperoleh dengan cara memanaskan bawang putih selama 15, 25, dan 35 hari. Bawang hitam selanjutnya diekstraksi dengan pelarut metanol dengan metode maserasi. Filtrat hasil ekstraksi dipekatkan dengan rotary evaporator untuk mendapatkan ekstrak bawang hitam. Ekstrak bawang hitam diuji fitokimia untuk mengetahui kandungan senyawa aktif. Aktivitas antioksidan ekstrak bawang hitam ditentukan dengan metode penangkalan radikal 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasilnya menunjukkan ekstrak bawang hitam memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 masing-masing 15 hari yaitu 2,41 µg/mL; 25 hari yaitu 2,93 µg/mL; 35 hari yaitu 2,27 µg/mL. Nilai IC50 <10 μg/mL menunjukkan bahwa ekstrak bawang hitam dengan waktu pemanasan 15, 25, dan 35 hari memiliki potensi antioksidan yang sangat kuat. Waktu pemanasan yang paling optimum dalam penangkalan radikal bebas adalah ekstrak bawang hitam dalam waktu pemanasan 35 hari, karena banyak terdapat kandungan senyawa flavonoid, tanin, sterol, dan saponin.Abstract Radical compounds in the body are very reactive to cells that can cause various diseases. Compounds that are able to ward off free radicals are called antioxidants. Black garlic are known to contain phenolic active compounds and their derivatives so that they can be used as antioxidants. Research on the use of black garlic as an antioxidant aims to determine the difference in heating time (15, 25, and 35 days) on the antioxidant activity of black garlic extract. Black garlic are obtained by heating the garlic for 15, 25, and 35 days. The black garlic is then extracted with methanol solvent by maceration method. The extracted filtrate was concentrated with a rotary evaporator to obtain the black garlic extract. Black garlic extract was tested for phytochemistry to determine the content of active compounds. The antioxidant activity of black garlic extract was determined by the radical deterrence method 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). The results showed that the onion extract had a very strong antioxidant activity with an IC50 value of 15 days each of 2.41 µg/mL; 25 days which is 2.93 μg/mL; 35 days which is 2.27 µg/mL. IC50 values <10 μg/mL indicate that the black garlic extract with a heating time of 15, 25, and 35 days has a very strong antioxidant potential. The most optimum heating time in deterring free radicals is black garlic extract within 35 days of heating because there are many compounds containing flavonoids, tannins, sterols, and saponins

    Bakteri Endofit Tanaman Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Penghasil Asam Indol Asetat (AIA)

    Get PDF
    AbstrakBakteri endofit hidup dalam suatu tanaman tanpa menyebabkan gangguan bagi tanaman yang berperan penting dalam menstimulasi pertumbuhan tanaman, yaitu dengan memproduksi fitohormon seperti asam absisat, asam indol asetat, dan sitokinin. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, menyeleksi, dan mengidentifikasi bakteri endofit yang terdapat pada daun, batang, dan akar tanaman jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Isolat bakteri endofit diseleksi berdasarkan kemampuannya dalam menghasilkan asam indol asetat (AIA). Isolat bakteri endofit ditumbuhkan pada media nutrient broth (NB) yang ditambah dengan L-triptofan. Konsentrasi AIA dihitung dengan penambahan reagen salkowski dan diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 530 nm. Identifikasi bakteri endofit dilakukan dengan analisis uji biokimia. Isolat bakteri endofit yang berhasil diisolasi sebanyak 12 isolat, yaitu 4 isolat dari daun, 4 isolat dari batang, dan 4 isolat dari akar. Hasil pengamatan pada uji AIA menunjukkan bahwa semua isolat bakteri endofit dapat menghasilkan hormon AIA. Isolat yang menghasilkan konsentrasi hormon AIA tertinggi adalah isolat B2 (6,51 ppm). Isolat bakteri yang berhasil diidentifikasi berasal dari genus Enterobacter, Bacillus, Pseudomonas, dan Staphylococcus. Bakteri endofit yang dapat menghasilkan AIA berpotensi dikembangkan sebagai biofertilizer untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Abstract Endophytic bacteria live inside plants without causing disruption to plants and play an important role in stimulating plant growth. This study aims to isolate endophytic bacteria from lime plant (Citrus aurantifolia) and characterize its ability to produce indole acetic acid (IAA). Bacterial isolates were grown on media supplemented with L-tryptophan as IAA precursor. The bacterial supernatant was mixed with salkowski reagents and then measured using a spectrophotometer at 530 nm. Bacterial identification was carried out using biochemical characteristic analysis. A total of 12 endophytic bacterial isolates were successfully isolated from leaves, stem and roots of plants. Quantitative test results showed that all isolates can produce IAA. The highest concentration of IAA was produced by B2 (6.51 ppm). Biochemical analysis indicated that the isolates were from the genus Enterobacter, Bacillus, Pseudomonas and Staphylococcus. Endhophytic bacteria that can produce IAA have the potential to be developed as biofertilizers to increase crop productivity

    PENGARUH POLYETHYLENE GLYCOL (PEG) TERHADAP KADAR KUERSETIN KULTUR KALUS Chrysanthemum morifolium Ramat PADA KONDISI PENCAHAYAAN BERBEDA

    Get PDF
    AbstrakKrisan (Chrysanthemum morifolium Ramat) mengandung senyawa kuersetin dengan efek farmakologi yang sangat luas. Penambahan polyethilene glycol (PEG) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PEG terhadap pertumbuhan kalus krisan dan kadar kuersetin 3-O-rhamnosida pada pencahayaan yang berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Eksplan kalus berumur 45 hari setelah tanam (HST) disubkultur pada media MS + 4 ppm 2,4-D dengan penambahan PEG dalam lima taraf konsentrasi yaitu 0, 10, 20, 30, dan 40 ppm. Kultur diinkubasi pada kondisi gelap dan terang. Parameter yang diamati adalah warna, tekstur, ukuran, berat basah, dan berat kering kalus serta kadar kuersetin 3-O-rhamnosida. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Analisis Varians dan Uji Jarak Berganda Duncan (α 5%), sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalus pada kondisi terang berwarna cokelat dan cokelat kehijauan, sedangkan pada kondisi gelap berwarna putih kecokelatan. Perlakuan 10 ppm PEG menghasilkan berat basah dan berat kering kalus tertinggi baik pada kondisi terang maupun gelap berturut-turut 1,97 g dan 2,92 g; 0,94 g dan 1,09 g. Kadar kuersetin 3-O-rhamnosida tertinggi pada kondisi gelap dan terang terdapat pada perlakuan 10 ppm PEG berturut-turut  1,72 µg/g berat kering (BK) dan 2,59 µg/g BK.Abstract Chrysanthemum morifolium Ramat. contains quercetin with very broad pharmacological effects. The addition of PEG can be used to increase the production of secondary metabolites using in vitro method. This study aimed to determine the effect of PEG on the growth of Chrysanthemum callus and quercetin 3-O-rhamnoside content in different lighting conditions. The experimental design used was a Completely Randomized Design. After 45 days, callus were subcultured on MS medium + 4 ppm 2,4-D which PEG was added in five concentration levels (0, 10, 20, 30, and 40 ppm). Culture was incubated in dark and light conditions. Parameters observed were color, texture, size, wet weight and dry weight of callus, also quercetin 3-O-rhamnoside levels. Quantitative data was analyzed using Analysis of Variance and Duncan\u27s Multiple Distance (α 5%). Qualitative data was analyzed descriptively. The results showed that in light condition, the callus has brown and greenish brown color, whereas in dark, it has brownish white color. The 10 ppm PEG treatment produced the highest fresh weight and dry weight in both light and dark conditions of 1.97 g and 2.92 g, 0.94 g and 1.09 g, respectively.The highest quercetin 3-O-rhamnoside content  in dark and light conditions were founded in 10 ppm PEG treatment of 1.72 µg/g dry weight (DW) and 2.59 µg/g DW

    Styrofoam Biodegradation by Soil Bacteria Isolated from Landfill Site in Sarimukti Cipatat Bandung

    Get PDF
    AbstrakStyrofoam digunakan sebagai kemasan makanan atau minuman, dibentuk oleh stiren dan benzena. Migrasi benzena dari bahan kemasan ke makanan dapat menyebabkan berbagai penyakit. Cara untuk mengurangi limbah styrofoam adalah dengan mencari bakteri yang dapat mendegradasi styrofoam secara alami. Sumber potensial untuk menemukan bakteri tersebut adalah di Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti. Metode penelitian ini menggunakan metode eksplorasi yang dianalisis secara deskriptif kualitatif. Tahapan  penelitian terdiri atas uji biodegradasi dengan metode Winogradsky Column, perhitungan persentase penurunan berat kering Styrofoam, analisis fisik dengan Scanning Electron Microscope (SEM), dan analisis perubahan gugus fungsi dengan FT-IR.Hasil penelitian ini ditemukan 4 spesies bakteri pendegradasi polistiren yaitu Pseudomonas aeruginosa, Bacillus amyloliquefaciens, Bacillus cereus, dan Bacillus firmus. Persentase penurunan berat kering polistiren menunjukkan pada minggu kedelapan mencapai 18,23% dan analisis fisik dengan Scanning Electron Microscope (SEM) menunjukkan bahwa proses degradasi oleh bakteri tanah menghasilkan pembentukan pori-pori di permukaan Styrofoam. Analisis gugus fungsi menunjukkan bahwa gugus fungsi menjadi lebih sederhana setelah degradasi dengan munculnya gugus fungsi C-O pada bilangan gelombang 1.030,02 cm-1. Bakteri pendegradasi polistiren dari tempat pembuangan akhir Sarimukti ini dapat direkomendasikan sebagai metode yang ramah lingkungan untuk mengurangi limbah styrofoam.Abstract Styrofoam is commonly used in food and beverage packaging. Styrofoam or polystyrene is made from styrene and benzene. The migration of benzene from packaging materials into foods can cause various diseases. One effort to reduce styrofoam waste is possible by searching for bacteria that can degrade styrofoam naturally. Potential source of place where the bacteria will be discovered is the landfill site in Sarimukti This research applied exploratory methods through descriptive qualitative analysis. The stages of the study consisted of biodegradation testing using the Winogradsky method, calculation of the percentage of dry weight loss of Styrofoam, physical analysis using Scanning Electron Microscope (SEM), and analysis of changes in functional groups using FTIR. This study discovered 4 species of polystyrene degrading bacteria, namely Pseudomonas aeruginosa, Bacillus amyloliquefaciens, Bacillus cereus and Bacillus firmus. The percentage of dry weight reduction of polystyrene was shown in the eighth week which reached 18.23% and physical analysis by Scanning Electron Microscope (SEM) indicated that the process of degradation by soil bacteria resulted in formation of pores on the surface of styrofoam. Functional group analysis produced a simpler functional groups after the degradation as marked by the appearance of C-O functional groups at wavenumber of 1,030.02 cm-1. The use of these polystyrene degrading bacteria from Sarimukti landfill can be recommended as an environmentally friendly method for reducing styrofoam waste

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇