Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    STUDI PERTUMBUHAN DAN DEGRADASI FENOL OLEH KULTUR TUNGGAL AKTINOMISETES DARI TANAH GAMBUT

    Get PDF
    AbstrakFenol adalah senyawa organik yang bersifat toksik dan larut dalam air, sehingga mudah menimbulkan pencemaran pada perairan dan menurunkan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi tiga isolat aktinomisetes asal tanah gambut Riau dalam Minimal Salt Medium yang mengandung fenol pada konsentrasi 0 ppm, 200 ppm, 400 ppm, dan 600 ppm serta mengetahui kemampuan aktinomisetes dalam mendegradasi fenol pada konsentrasi 600 ppm menggunakan metode folin ciocalteau. Potensi pertumbuhan isolat L121, L18, L11 menunjukkan total populasi tidak berbeda nyata dengan penambahan 400 ppm dan 600 ppm fenol, tetapi berbeda nyata terhadap 0 ppm dan 200 ppm fenol. Potensi pertumbuhan tertinggi terdapat pada isolat L121 dan terendah pada isolat L11. Kemampuan degradasi  fenol oleh  masing-masing isolat adalah  L121 sebesar 570,80 ppm (95%),  L18 sebesar 218,85 ppm (36%)  dan L11 sebesar  97,21 ppm (16%)  dari konsentrasi fenol awal 600 ppm pada Minimal Salt Medium. Isolat aktinomisetes ini berpotensi dikembangkan untuk penanggulangan pencemaran di lingkungan.Abstract Phenol is an organic compound is toxic and easily soluble in water so easy to cause pollution in a waters such as water quality degradation. The aim of this research is to see the potential of three isolates of actinomycetes from Riau peat soil in Minimal Salt Medium containing phenol concentration 0 ppm, 200 ppm, 400 ppm and 600 ppm and to know the ability of actinomycetes in degradation of phenol at the concentration of 600 ppm using folin ciocalteu. The growth potential of L121, L18, L11 isolates showed the total population was not significantly different with the addition of 400 ppm and 600 ppm of phenol but significantly different from 0 ppm and 200 ppm of phenol. The highest growth potential was found in L121 isolate and lowest in L11 isolate. The degradation ability of phenols by each isolate was L121 570.80 ppm (95%), L18 218.85 ppm (36%) and L11 was able to degrade phenol 97.21 ppm (16%) from the initial phenol concentration of 600 ppm at Minimum Salt Medium.These actinomycetes have the potential to be developed for the overcome of pollution in the environment

    Kadar Mangiferin Pada Lima Kultivar Pucuk Daun Mangga (Mangifera indica L.)

    Get PDF
    AbstrakPemanfaatan pucuk daun mangga (Mangifera indica L.) oleh masyarakat menjadi lalapan dan dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional. Hal ini merupakan suatu proses kearifan lokal berdasarkan pengalaman empiris orang-orang terdahulu yang kemudian dijadikan kajian studi ilmiah, yaitu etnobotani. Kajian studi etnobotani termasuk pemanfaatan pucuk daun mangga sebagai lalapan masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa bioaktif termasuk mangiferin yang terkandung dalam lima kultivar mangga. Sampel kultivar mangga yang digunakan dalam penelitian antara lain Manalagi, Arum manis, Cengkir, Gedong apel dan Golek. Metode penelitian yang digunakan yaitu skrining fitokimia dan pengukuran kadar senyawa mangiferin dengan HPLC. Hasil penelitian menunjukkan sampel positif mengandung senyawa bioaktif alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Kadar senyawa mangiferin paling tinggi secara berurutan terdapat pada kultivar Arum manis (20,83%), Manalagi (20,56%), Gedong apel (18,54%), Cengkir (15,10%), dan Golek (5,05%). Kultivar mangga Arum manis memiliki kadar mangiferin paling tinggi, untuk selanjutnya dapat dikaji pemanfaatannya sebagai obat herbal tradisional. Abstract Utilization young leaf of mango (Mangifera indica L.) by the community as lalapan and it is believed to be efficacious as traditional medicines. This process through of local wisdom based on empirical experience of conservative people used as a scientific study, namely ethnobotany. Ethnobotany studies include the use of mango leaf shoots as fresh vegetables are still rarely performed.This study aims to determine bioactive compounds including mangiferin contained in five cultivars of mango. Mango cultivar samples used in this study include Manalagi, Arum manis, Cengkir, Gedong apel and Golek. The research method used was phytochemical screening and measurement of mangiferin compounds by HPLC. The results showed a positive sample containing bioactive compounds, alkaloids, flavonoids, saponins and tannins. The highest levels of mangiferin compounds were found in Arum manis (20.83%), Manalagi (20.56%), Gedong apel (18.54%), Cengkir (15.10%) and Golek (5.05%). Arum manis cultivars has highest value of mangiferin levels, which can be explored for their use as traditional herbal medicines

    INDEX AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 13 NO. 1 APRIL 2020

    No full text

    INDEX AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2020

    No full text

    Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kamboja Jepang (Adenium obesum) dan Kamboja Putih (Plumeria acuminata)

    Get PDF
    AbstrakSenyawa antioksidan adalah senyawa yang dapat menangkal dampak radikal bebas dengan cara menghambat stres oksidatif serta menghentikan kerusakan sel dan induksi penyakit. Tanaman kamboja jepang (Adenium obesum) dan kamboja putih (Plumeria acuminata) termasuk tanaman hias yang memiliki khasiat obat. Tanaman ini banyak mengandung senyawa flavonoid dan senyawa antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun dan bunga tanaman kamboja jepang dan kamboja putih. Ekstrak kamboja diperoleh dengan melakukan maserasi daun dan bunga kamboja dengan menggunakan pelarut etanol 70% dan 96%. Ekstrak kental daun dan bunga kamboja diperoleh dengan cara pemekatan ekstrak menggunakan penangas air. Uji skrining fitokimia ekstrak kental berupa kandungan alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, terpenoid, dan steroid secara kualitatif, sementara aktivitas antioksidan diuji dengan metode 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil skrining fitokimia ekstrak menunjukkan adanya kandungan alkaloid, tanin, flavonoid, dan saponin dengan nilai IC50 tertinggi ditunjukan oleh ekstrak bunga kamboja putih yang diekstrak dengan etanol 70% yaitu sebesar 98,41 ppm, dan terendah oleh bunga kamboja putih yang diekstrak dengan etanol 96% yaitu 533,13 ppm. Ekstrak etanol tanaman kamboja jepang dan kamboja putih memiliki potensi sebagai antioksidan alami.Abstract Antioxidant compounds are compounds that can counteract the effects of free radicals by inhibiting oxidative stress and stopping cell damage and disease induction. Japanese frangipani plants (Adenium obesum) And white frangipani (Plumeria acuminata), including ornamental plants that have medicinal properties. This plant contains a lot of flavonoid compounds and natural antioxidant compounds. This study aims to determine the antioxidant activity of ethanol extracts of leaves and flowers of japanese frangipani plants  and white frangipani. Frangipani extract is obtained by moderating frangipani leaves and flowers by using 70% and 96% ethanol solvents. Thick extracts of frangipani leaves and flowers are obtained by concentrating the extract using a water bath. Phytochemical screening tests of thick extracts containing alkaloids, saponins, tannins, flavonoids, terpenoids, and steroids qualitatively, while antioxidant activity was tested by the method 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Phytochemical screening results showed the presence of alkaloids, tannins, flavonoids, and saponins with the highest IC50 values shown by white frangipani extract extracted with 70% ethanol at 98.41 ppm, and the lowest by white frangipani extracted with 96% ethanol at 533.13 ppm. Ethanol extract of japanese frangipani and white frangipani plants have potential as natural antioxidants

    PENGARUH PUPUK MAJEMUK TABLET TERHADAP PERTUMBUHAN LILIT BATANG DAN HARA DAUN TANAMAN KARET

    Get PDF
    AbstrakHarga karet alam dunia yang volatil saat ini telah menyebabkan munculnya inovasi dalam pemupukan tanaman karet diantaranya penggunaan pupuk majemuk tablet. Percobaan pemupukan telah dilakukan pada TBM karet umur 3 tahun yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk majemuk tablet terhadap pertumbuhan lilit batang dan kandungan hara daun. Terdapat tiga perlakuan dalam penelitian ini yaitu, (A) pupuk majemuk briket (500 g/pohon/tahun) sebagai kontrol, (B) pupuk majemuk tablet (200 g/pohon/tahun) atau setara dengan 40% kontrol, dan (C) pupuk majemuk tablet (300 g/pohon/tahun) atau setara dengan 60% kontrol. Formulasi pupuk majemuk yang digunakan adalah 18–1014–2+1TE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan hara N dan K pada perlakuan A lebih cepat yang direfleksikan melalui hara daun A yang lebih tinggi dibandingkan B dan C. Walaupun hara daun N dan K pada perlakuan A relatif lebih tinggi, tetapi penambahan lilit batang terbesar terdapat pada perlakuan C kemudian A dan B, yaitu 7,52 cm; 7,23 cm; dan 6,99 cm (P = 0,23). Tidak ditemukan korelasi yang kuat antara penambahan ukuran lilit batang dengan kandungan hara daun (P = 0,66) tetapi terdapat korelasi positif yang cukup kuat (r = 0,64; P = 0,025) antara penambahan ukuran lilit batang dengan curah hujan.Abstract The world’s natural rubber price that is volatile has led to the innovation in rubber trees fertilization by using tablet fertilizer. The study of fertilization was conducted in an immature rubber tree 3 years planted (TBM 3) to find out the responses of fertilization in rubber girth and leaf nutrient content. Three treatments were established viz. (A) briquette fertilizer 500 g/tree/year as control, (B) tablet fertilizer 200 g/tree/year equivalent to 40% of control, (C) tablet fertilizer 300 g/tree/year equivalent to 60% of control. The formula of briquette and tablet was identic (18–10–14–2+1TE).  The results show that nitrogen and potassium uptake in treatment briquette fertilizer 500 g/tree/year (A) was faster, it was reflected through leaf nutrient content that was higher than B and C. Even though the contents of N and K in rubber leaf in A was relatively higher however the highest girth increment occurred in C then A and B, i.e. 7.52 cm; 7.23 cm; and 6.99 cm respectively. No strong correlation between girth size increment and nutrient leaf status in this study (P = 0.66). However a moderately strong correlation (r = 0.64; P = 0.025) appeared between girth size increment and monthly precipitation

    KEANEKARAGAMAN SERANGGA MUSUH ALAMI PADA TANAMAN CABAI DI DESA WIYORO, KECAMATAN BANGUNTAPAN, KABUPATEN BANTUL, YOGYAKARTA

    Get PDF
    AbstrakCabai merupakan tanaman yang banyak ditanam masyarakat. Selain dapat dikonsumsi, cabai juga dapat dijual untuk tambahan penghasilan. Perawatan tanaman cabai dewasa ini banyak menggunakan pestisida, padahal terdapat agen biologi yang dapat digunakan dengan lebih efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tingkat keanekaragaman dan mengetahui jenis serangga musuh alami yang terdapat pada lahan cabai di Desa Wiyoro, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pengambilan sampel menggunakan perangkap sumuran (pitfall trap), nampan kuning berisi larutan detergent dan jaring serangga. Jaring serangga diayunkan sepanjang bedengan tanaman cabai secara vertical. Luas area pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 x 100 m. Pemasangan nampan kuning dan pitfall dipasang sebanyak 15 buah untuk masing-masing jebakan. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 8 kali dalam 2 bulan. Hasil yang didapatkan berupa 7 ordo serangga sebagai musuh alami pada lokasi penelitian. Jumlah famili paling banyak ditemukan berasal dari ordo Hymenoptera 23 famili dan terendah Dermaptera dan Strepsiptera (1 famili). Spesies paling banyak sebagai musuh alami adalah Paratrechina longicornis. Kesimpulan penelitian ini adalah ordo serangga yang ditemukan sebagai musuh alami pada lokasi penelitian berjumlah 7, dengan jumlah famili terbanyak dari ordo Hymenoptera. Famili dengan jumlah individu terbanyak sebagai musuh alami adalah Formicidae dari Hymenoptera.Abstract Chili is one of the most widely planted plants. Besides being able to consumed, it also can be sold for additional income. Nowadays treatment on chili uses a lot of pesticides, even though there are biological agents that can control pest more effectively and environmentally friendly. This study aims to count the diversity index and determine species of natural enemy found in chili fields in Wiyoro, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Sampling used insect nets, yellow pans, and pitfall. Insect nets were swung along the beds of chillies vertically. The area of this research was 20 x 100 m. Yellow trays and pitfalls were installed 15 units for each trap. Sampling was done 8 times in 2 months. The results that obtained were there were 7 orders of insects that became natural enemies at the research site, with the most number of families was Hymenoptera with 23 families and the lowest were Dermaptera and Strepsiptera with 1 family. The most commonly found species that act as natural enemies are Paratrechina longicornis. The conclusion of this study was the order of insects found as natural enemies at the research site were 7, with the largest number of families was in Hymenoptera. Family with the highest number of individuals as natural enemies was Formicidae from Hymenoptera

    Profil Fermentasi Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) Dengan Penambahan NaCl

    Get PDF
    AbstrakIkan mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan salah satu hasil perikanan yang melimpah sehingga memerlukan variasi pengolahan. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengolah ikan mujair adalah fermentasi. Penelitian ini menganalisis pengaruh NaCl terhadap profil fermentasi ikan mujair. Terdapat tiga perlakuan konsentrasi NaCl, yaitu 15, 20, dan 25 g/100 mL dalam fermentasi mujair pada suhu 31°C selama 8 hari dengan 5 kali pengulangan. Pengukuran dan pengujian dilakukan terhadap produk fermentasi yang meliputi uji mikroba, suhu, kadar pH, organoleptik, dan asam organik total. Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan pada masing-masing perlakuan. Konsentrasi NaCl pada konsentrasi 15 g/100 mL memiliki kadar pH 6, koloni mikroba 3,2 x 106 CFU/mL, asam organik total 0,72% dan nilai uji organoleptik 2,45. Konsentrasi 20 g/100 mL memiliki kadar pH 6, koloni mikroba 3,9 x 106 CFU/mL, asam organik total 0,88% dan nilai uji organoleptik 2,5. Konsentrasi 25 g/100 mL memiliki kadar pH 5, koloni mikroba 4,8 x 106 CFU/mL, asam organik total 1,12% dan nilai uji organoleptik 2,78. Profil fermentasi ikan mujair terbaik ditemukan pada pada perlakuan NaCl 25 g/100 mL.Abstract Mujair fish (Oreochromis mossambicus) is one of the abundant fishery products that need various processing. Fermentation is one of the methods that can be used to process mujair fish. The research was intended to analyze the effect of NaCl concentration on fermentation profile of mujair fish. There were three treatment variations on NaCl concentration which were 15, 20, and 25 g/100 mL in mujair fermentation at 31 °C during 8­ days with 5 times repetition. The fermentation products were tested and measured by microbial test, temperature, pH, organoleptic, and acid. The data obtained were analyzed and described for each treatment. The result of NaCl concentration on 15 g/100 mL was pH 6, microbial colonies 3.2 x 106 CFU/mL, total content of organoleptic acid 0.72% and organoleptic test 2.45. NaCl concentration on 20 g/100 mL was pH 6, microbial colonies 3.9 x 106 CFU/mL, total content of organoleptic acid 0.88% and organoleptic test 2.5. NaCl concentration on 25 g/100 mL was pH 5, microbial colonies 4.8 x 106 CFU/mL, total content of organic acid 1.12% and organoleptic test 2.78. The best profile fermentation of mujair fish was founded on 25 g/100 mL

    Sekuen DNA Parsial Dari Gen GAPDH Pada Sirsak (Annona muricata L.)

    Get PDF
    AbstrakGen glyceraldehyde-3-phosphate dehydrogenase (GAPDH) merupakan salah satu gen referensi yang sering bertindak sebagai kontrol internal pada analisis ekspresi gen di beberapa spesies tumbuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis sekuen gen GAPDH parsial pada sirsak (Annona muricata L.). Metode meliputi persiapan sampel tanaman, isolasi DNA total menggunakan Genomic DNA mini kit Plant (Geneaid), amplifikasi gen GAPDH dengan teknik polymerase chain reaction (PCR), elektroforesis pada 1% gel agarose dan analisis data sekuen DNA. Studi ini telah memperoleh sekuen DNA dari gen GAPDH parsial sirsak sepanjang 961 pb. Sekuen tersebut memiliki kemiripan sekitar 68,93–84,35% dengan sekuen mRNA gen GAPDH pada beberapa spesies tumbuhan. Sekuen ini diprediksi terdiri dari 5 ekson dan 4 intron. Total ekson diprediksi terdiri dari 429 pb. Sekuen ini adalah yang pertama kali dilaporkan dari genus Annona dan juga dari famili Annonaceae. Sekuen ini dapat dimanfaatkan untuk analisis ekspresi gen pada sirsak dan dapat menjadi dasar untuk mengisolasi gen GAPDH spesies lain di dalam genus Annona dan famili Annonaceae. Abstract GAPDH (glyceraldehyde-3-phosphate dehydrogenase) gene is one of reference genes that is frequently became an internal control in any plant species. This study reports a DNA sequence of parsial GAPDH gene on soursop (Annona muricata L.). Methods included sample preparation, total DNA isolation using Genomic DNA mini kit Plant (Geneaid), amplification of GAPDH gene using PCR (polymerase chain reaction) technique, electrophoresis using 1% agarose gel and data analysis. This study had been obtained the DNA sequence of soursop partial GAPDH gene sizing 961 bp. The sequence had 68.93–84.35% similarity to GAPDH mRNA of some plants species. The soursop partial GAPDH gene was predicted consisting of 5 exons and 4 introns. The total exons length was 429 bp. The sequence is the first reported from Annona genus and also Annonaceae family. The sequence can be used for gene expression in soursop and also can be used to isolate GAPDH gene of other species in Annona genus and Annonaceae family

    The in Vitro Antibiofilm Activity of Bacteria Isolated From Waterfall and Marine Environment Against Human Bacterial Pathogens

    Get PDF
    AbstrakKKeterlibatan biofilm pada infeksi kronis dan pada permukaan peralatan medis selalu menjadi wacana penting bagi kesehatan umum di dunia. Biofilm bakteri berkaitan dengan tingkat resistensi terhadap antibiotik yang menjadikan infeksi sulit untuk diobati. Untuk mengatasi masalah ini, pengendalian yang efektif perlu diimplementasikan, seperti penerapan senyawa antibiofilm. Beberapa tahun terakhir, lingkungan akuatik menjadi salah satu sumber potensi penghasil senyawa bioaktif, termasuk senyawa antibiofilm. Tujuan dari penelitian ini yaitu menapis dan mengkarakterisasi bakteri asal air terjun dan laut yang diperoleh dari beberapa lokasi di Indonesia, sebagai penghasil aktivitas antibiofilm. Isolat dievaluasi berdasarkan kemampuan aktivitas antimikroba terhadap enam bakteri patogen dan diikuti dengan penapisan senyawa antibiofilm. Sebanyak 11 dari 65 isolat menunjukkan aktivitas quorum sensing atau quorum quenching, dan hanya terdapat satu isolat yang memiliki aktivitas keduanya. Supernatan kesebelas isolat menunjukkan penghambatan pembentukan biofilm setidaknya terhadap satu patogen dengan metode uji biofilm statis. Karakterisasi senyawa bioaktif dari lima isolat yang terpilih menunjukkan aktivitas senyawa yang berbeda, seperti karbohidrat, protein, dan asam nukleat. Sekuensing gen penyandi 16S rRNA menetapkan kelima isolat tersebut berada dalam dua genus yang berbeda, Vibrio (WK2.4, WK2.6, and WK2.3) dan Pseudomonas (S1.2 dan S1.3). Penelitian ini memberikan wawasan baru terhadap pencarian kandidat bakteri akuatik sebagai agen antibiofilm yang potensial. Abstract Biofilm involvement in chronic infections and on the surface of medical equipment have been considered as public health concern worldwide. Bacterial biofilm is related to antibiotic resistance, making the diseases difficult to treat. An effective control strategy should be implemented, for example, by applying antibiofilm agents. The use of aquatic environment as potential sources of bioactive compounds, including the antibiofilm compounds, is recently of concern. This study aimed to screen and characterize bacteria with antibiofilm activity that were isolated from waterfall and marine environment and obtained from several locations in Indonesia. The isolates were firstly evaluated for their antimicrobial activity against six bacterial pathogens and followed by antibiofilm screening. Eleven out of 65 isolates showed quorum sensing or quorum quenching activity, and one of them showed both activities. Supernatants of 11 isolates inhibited biofilm formation of at least one pathogen by using static biofilm assay. Bioactive compounds characterization of the selected five isolates revealed the presence of different compounds, such as carbohydrates, proteins, and nucleic acids. The 16S rRNA gene sequencing analysis classified five isolates into two different genera, namely Vibrio (WK2.4, WK2.6, and WK2.3) and Pseudomonas (S1.2 and S1.3). The present study provides insights into the discovery of aquatic bacteria candidates as antibiofilm agents

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇