Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    Komunitas Burung di Beberapa Situ Kota Tangerang Selatan, Banten

    Get PDF
    AbstrakMutu dan fungsi beberapa situ di Tangerang Selatan telah menurun akibat terjadinya pemanfaatan dan alih fungsi lahan, sehingga mengancam keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna. Kajian mengenai komunitas burung dan peranannya sebagai bioindikator di beberapa situ diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai kemampuan situ dalam mendukung kehidupan burung. Data jenis burung dikumpulkan dengan metode look and see. Data jenis burung yang diperoleh dari Situ Gintung, Situ Sasak, Situ Bungur, dan Situ Pamulang di Tangerang Selatan dianalisis kelimpahan dan dihitung indeks kesamaan jenisnya. Untuk melihat kualitas lingkungan situ, data jenis burung ditabulasikan dan dianalisis menggunakan indeks komunitas burung. Kekayaan jenis tertinggi ditemukan di Situ Gintung (24 famili, 30 genus, dan 38 jenis). Terdapat 16 jenis burung yang memiliki frekuensi perjumpaan tertinggi di ketiga situ (100%). Situ Bungur dan Situ Sasak memiliki kesamaan jenis tertinggi dengan nilai 0,519. Situ Gintung memiliki nilai indeks komunitas burung paling tinggi dengan nilai 70,2 dan termasuk kategori kualitas lingkungan baik, sedangkan Situ Sasak termasuk kategori menengah dan Situ Bungur termasuk kategori rendah. AbstractThe quality and function of several lake in South Tangerang has decreased due to the use and converted of land functions that threaten the biodiversity of both flora and fauna in the region. A study of the bird community and its role as a bio-indicator in some cases is needed to provide an overview of the situability in supporting bird life. Data obtained by direct observation using look ang see method. Data on bird species obtained from Gintung lake, Sasak lake, Bungur lake and Pamulang lake in South Tangerang were analyzed for abundance and similarity index calculated for their species. Bird species data were tabulated and analyzed using the bird community index to see the quality of the environment. The highest type of diversity is found in Gintung lake (24 families, 30 genera, and 38 species). There are 16 species of birds that have the highest frequency of encounter in the fourth place (100%). Bungur and Pamulang lake have the highest similarity with a value of 0.78. Gintung lake has the highest bird community index value with a value of 68, Sasak lake and Bungur lake which scored 60.4 and Pamulang lake with a value of 55.2 including the middle category.

    Medicinal Knowledge of Traditional Community in Kampung Dukuh, Garut Regency, West Java

    Get PDF
    AbstrakMasyarakat adat Kampung Dukuh, Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat masih mempertahankan tradisi leluhurnya terutama dalam pengobatan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat Kampung Dukuh. Metode yang digunakan adalah pendekatan etnobotani. Data yang dikumpulkan adalah daftar tumbuhan obat yang diketahui, lokasi tempat diperoleh atau ditanam, dan kegunaan masing-masing jenis tumbuhan tersebut. Identifikasi dilakukan di Herbarium Bandungense SITH-ITB. Lokalitas dan kegunaan masing-masing tanaman obat dikumpulkan dengan menggunakan wawancara semi terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Dukuh mengklasifikasikan penyakit menjadi tiga yaitu penyakit biasa, penyakit karena sihir, dan penyakit yang disebabkan oleh makanan. Sebanyak 131 jenis tumbuhan dari 51 suku tercatat dimanfaatkan masyarakat sebagai obat. Lima suku dengan jumlah spesies terbanyak adalah Zingiberaceae, Poaceae, Asteraceae, Fabaceae, dan Solanaceae. Jenis penyakit yang disembuhkan dengan memanfaatkan tanaman obat yang paling banyak adalah perawatan sebelum dan sesudah melahirkan. Masyarakat memperoleh tanaman dari lima lokasi: kebon (kebun), leuweung (hutan), halaman rumah, pinggir jalan, dan huma (lahan pertanian kering). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Dukuh mengintegrasikan budaya penggunaan tumbuhan obat dengan upaya pelestarian keanekaragaman hayati setempat. AbstractTraditional community of Kampung Dukuh, in Cikelet, Garut Regency, West Java still keep their ancestral tradition alive, especially the traditional healing. This study aims to document the medicinal plants used by the people of Kampung Dukuh. Method used was ethnobotanical approach. Data collected were the list of medicinal plants known, locations the species obtained or planted, and the utility of each species. Identification was done at Herbarium Bandungense SITH-ITB. Locality and the utility of each medicinal plant were collected by using the semi-structured interview. The result showed that people of Kampung Dukuh classified illness into three: common illness, illness by magic and disease caused by food. A total of 131 species from 51 families of plants were recorded to be recognized and used by the community as medicines. Five families with the most number of species were Zingiberaceae, Poaceae, Asteraceae, Fabaceae, and Solanaceae. Type of medical condition mostly by utilizing medicinal plants was pre and post-partum care. People obtained plants from five locations; kebon (garden), leuweung (forest), buruan (home garden), sidewalk, and huma (dry farm). This research indicated that people of Kampung Dukuh integrated the culture of using medicinal plant with conservation effort of local biodiversity

    THE GENUS Cnidoscolus Pohl (EUPHORBIACEAE) IN JAVA

    Get PDF
    AbstrakInformasi mengenai suku Euphorbiaceae di Pulau Jawa telah direkam dalam buku Flora of Java Volume 1 oleh C.A. Backer and R.C. Bakhuizen van den Brink Jr. Meskipun demikian, informasi terkini mengenai Euphorbiaceae di Jawa belum tersedia sejak buku tersebut terbit. Beberapa jenis tambahan telah ditemukan dari Jawa dan penelitian ini bertujuan untuk melaporkan informasi tambahan mengenai Euphorbiaceae yang ada di Jawa. penelitian telah dilakukan di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta pada bulan Maret hingga September 2019. Hasil penelitian menunjukkan adanya suatu marga tambahan di Jawa, yaitu Cnidoscolus Pohl. Marga tersebut hanya terdiri dari satu jenis saja di Jawa, yaitu C. aconitifolius (Mill.) I.M. Johnst. Secara taksonomi, jenis ini dibagi menjadi 2 anak jenis, yakni C. aconitifolius subsp. aconitifolius and C. aconitifolius subsp. polyanthus (Pax & K.Hoffm.) Breckon. Berdasarkan bentuk bunga betinanya, spesimen dari Jawa telah diidentifikasi sebagai C. aconitifolius subsp. aconitifolius. Tumbuhan ini berasal dari Meksiko dan Mesoamerika dan telah umum dibudidayakan sebagai tanaman sayur di Jawa. Di kawasan Malesia, C. aconitifolius telah dibudidayakan sebelumnya di Brunei, Singapura, dan Filipina. Oleh karena itu, keberadaannya di Jawa ditetapkan sebagai sebuah rekaman distribusi baru untuk kawasan Malesia.Abstract The information on Euphorbiaceae in Java island has been recorded in the Flora of Java Volume 1 by C.A. Backer and R.C. Bakhuizen van den Brink Jr. However, the latest information on Euphorbiaceae of Java has not been provided since the book was published. Several additional species have been found from Java and this study aims to report additional information on Euphorbiaceae of Java. The study was carried out in Banten, West Java, Central Java, East Java, and Yogyakarta from March to September 2019. The result of this study shows that there is one additional genus in Java, namely Cnidoscolus Pohl. The genus only consists of 1 species in Java, namely C. aconitifolius (Mill.) I.M. Johnst. Taxonomically, the species was divided into 2 subspecies, i.e. C. aconitifolius subsp. aconitifolius and C. aconitifolius subsp. polyanthus (Pax & K.Hoffm.) Breckon. Based on the pistillate flowers shape, the specimens from Java was identified as C. aconitifolius subsp. aconitifolius. The plant is native to Mexico and Mesoamerica and it was commonly cultivated in Java as vegetable crops. In Malesia, C. aconitifolius was previously cultivated in Brunei, Singapore, and The Philippines. Thus, its presence in Java was considered as a newly distributional record for Malesia region

    Isolasi Mikroorganisme Potensial Penghasil Lipase dari Limbah Pengolahan Minyak Kelapa Sawit Malinping

    Get PDF
    AbstrakLipase adalah kelompok enzim yang mengkatalisis hidrolisis rantai panjang trigliserida, lemak, dan minyak menjadi gliserol dan asam lemak dengan adanya air. Sumber lipase untuk industri kebanyakan berasal dari mikroorganisme. Penggunaan lipase pada industri makin meningkat setiap tahunnya meliputi aplikasinya pada industri makanan, pakan, farmasi, pulp, dan kertas, biodiesel, dan industri tekstil. Dalam usaha mendapatkan isolat potensial penghasil lipase untuk hHidrofilisasi serat poliester, pada penelitian ini dilakukan skrining dan isolasi mikroorganisme yang dapat menghasilkan lipase dari limbah pengolahan minyak kelapa sawit di Malinping, Lebak, Banten. Sebanyak 20 isolat bakteri dan 5 isolat jamur yang diperoleh kemudian diuji aktivitas lipasenya menggunakan metode titrasi. Empat isolat bakteri terpilih (Kondensat, Lumpur-Got, Hasil-Buangan, dan Tangki-Crude-Oil) serta lima isolat jamur (Nut-A, Nut-B, Nut-C, Kernel-B, dan Kernel-C) dikarakterisasi pH dan suhu optimum enzimnya. Hasil karakterisasi pH menunjukkan bahwa isolat bakteri Kondensat, Lumpur-Got, Hasil-Buangan, dan Tangki-Crude-Oil mempunyai aktivitas enzim lipase tertinggi pada pH 6. Suhu optimal aktivitas enzim lipase isolat Lumpur-Got-B, Hasil Buangan-B, dan Tangki-Crude-Oil B  pada 40 °°C, sedangkan isolat bakteri-Kondensat-B optimal pada suhu 30 °°C. Aktivitas lipase kelima isolat jamur optimal pada pH 6. Suhu optimal aktivitas lipase isolat jamur Nut-A adalah 40 °°C, sedangkan isolat Nut-B, Nut-C, Kernel-B, dan Kernel-C aktivitasnya optimal pada 50 °°C.Abstract Lipase are enzymes that catalyzed the hydrolysis of triglyceride, fats and oils into glycerol and fatty acids in the presence of water. Industrial Lipase source mostly derived from microbes. Each year, the lipase utilization in industry increased, such as application for foods, feeds, pharmacys, pulp and papers, biodiesel, and textile industries. On this study, a total of 20 bacteria and 5 fungi lipase potential producer were screened and isolated from oil palm processing waste in Malinping, Lebak, Banten, which then tested for its activity using titration method. Selected isolates then were characterized for its enzyme optimum pH and temperature. The optimum pH for isolate Kondensat, Lumpur-Got, Hasil-Buangan and Crude-Oil-Tank lipases are at pH 6, whilst the optimum temperature of isolates Lumpur-Got B, Hasil-Buangan B and Crude-Oil-Tank B were at 40 °°C and bakteri-Kondensat B isolate optimum at 30 °°C. The five fungi characterization shown optimum pH at 6 and 50 °°C except for isolate Nut-A that optimum at 30 °°C

    COVER AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 13 NO. 2 OKTOBER 2020

    No full text

    INDEKS MITOSIS PUCUK DAUN Hibiscus rosa-sinensis L. VARIASI SINGLE PINK PADA BEBERAPA VARIASI WAKTU

    Get PDF
    AbstrakHibiscus rosa-sinensis L. atau kembang sepatu merupakan tanaman hias yang memiliki banyak manfaat dan merepresentasikan sifat poliploidi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui Indeks Mitosis (IM) dan jumlah kromosom pucuk daun H. rosa-sinensis pada beberapa variasi waktu. Indeks Mitosis dan waktu pengambilan pucuk sangat diperlukan untuk studi kromosom karena pada tahap tersebut karakter-karakter kromosom dapat diamati dengan jelas dan mudah dihitung. Waktu pengambilan pucuk yang dilakukan yaitu pada 08:00, 10:00, 12:00, 14:00, 16:00 WIB. Pembuatan sediaan kromosom dilakukan menggunakan metode squash menggunakan pewarna Aceto-orcein. Tahapan perlakuan meliputi perendaman pucuk daun di dalam air dingin selama 3 jam, fiksasi dalam larutan Carnoy selama ±24 jam, dan hidrolisis dalam larutan HCl 5N selama 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan nilai IM tertinggi meristem pucuk daun H. rosa-sinensis variasi single pink besar muncul pada pukul 10:00 sebesar 94%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa waktu sampling yang optimal untuk analisis kromosom H. rosa-sinensis L. variasi single pink besar adalah pukul 10:00 dengan jumlah kromosom 2n= ca. 69-111.  Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk studi kromosom selanjutnya serta acuan untuk sampling variasi lainnya.Abstract Hibiscus rosa-sinensis L. is an ornamental plant that has many benefits and represents the character of polyploidy. The purpose of this study is to find out the Mitotic Index of leaf shoots Hibiscus rosa-sinensis on several shoots sampling times. The Mitotic Index and the timing of shoots sampling time are very necessary for chromosome studies because at this stage chromosomes characters can be clearly observed and easily calculated. Period time of collection the leaf shoots is from 08:00 AM to 16:00 PM, with two hours interval each at 08:00, 10:00, 12:00, 14:00, 16:00 . The chromosome preparation was carried out by using the squash method and aceto-orcein staining. The treatment steps included soaking the leaf shoots in cold water for 3 hours, fixation in Carnoy solution for ± 24 hours, and hydrolysis in 5N HCl solution for 30 minutes. The results showed that chromosomes were clearly visualized during the phase with the highest Mitotic Index.  In addition, the percentage of Mitotic Index was found to be in line with the percentage of cells in late prophase. Among several sampling time variations, the highest Mitotic Index of Hibiscus rosa-sinensis leaf shoots appeared at 10:00 at 94% with the chromosome numbers of 2n= ca. 69-111. According to the data obtained, it is concluded that 10 AM is the most optimum sampling time that can be used as the basic information for further chromosome studies

    AKTIVITAS ANTAGONISTIK BAKTERI SELULOLITIK ASAL RHIZOSFER KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) TERHADAP Ganoderma boninense Pat.

    Get PDF
    AbstrakPenyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) disebabkan oleh Ganoderma boninense Pat. Bakteri selulolitik dari rizosfer kelapa sawit dapat dijadikan agen hayati dalam menghambat pertumbuhan G. boninense. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bakteri selulolitik dari rizosfer kelapa sawit dan menentukan efektivitasnya dalam menghambat pertumbuhan G. boninense. Tahap penelitian meliputi pengambilan sampel dari rizosfer kelapa sawit, isolasi, pemurnian, uji aktivitas selulolitik, dan uji daya hambat terhadap G. boninense serta identifikasi isolat bakteri yang potensial. Indeks selulolitik bakteri ditentukan dengan pewarnaan congo red 0,1%. Aktivitas penghambatan dilakukan dengan menentukan persentase daya hambat bakteri dalam menghambat G. boninense. Uji efektivitas dengan membandingkan hasil uji T pada taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa dari rizosfer kelapa sawit diperoleh 19 isolat bakteri selulolitik dengan indeks selulolitik tertinggi 4,38 pada isolat LBS1. Berdasarkan uji T dari efektivitas bakteri selulolitik terhadap G. boninense menunjukkan 6 isolat bakteri (LBS3, LBS4, DBS1, DBS7, SBS2 dan SBS6) memiliki nilai efektif atau berpotensi sebagai antagonis dengan persentase daya hambat tertinggi sebesar 40,17% isolat DBS1 yang merupakan genus Flavobacterium.  Harapan kedepannya, bakteri selulolitik yang diperoleh dapat dijadikan agen biokontrol terhadap G. boninense.Abstract Basal stem root disease in oil palm tree (Elaeis guineensis Jacq.) is caused by Ganoderma boninense Pat. infection. Cellulolytic bacteria from rhizosphere can be used as agents to inhibit G. boninense growth as pathogenic fungi. Purpose of the research is to obtain cellulolytic bacteria from oil palm tree rhizosphere and to determine their effectiveness in inhibiting G. boninense growth. The research stages included sampling from the oil palm tree rhizosphere, isolation, purification, cellulolytic activity test and dual culture test against G. boninense and identification of effective isolates. The cellulolytic index of bacteria was determined by congo red 0.1%. Antagonistic test was conducted to determine persentation of isolate bacteria in inhibit G. boninense and effectiveness test by comparing result of T test at the level 5%. The results showed that there are 19 isolates of cellulolytic bacteria from oil palm tree rhizosphere with highest cellulolytic index 4.38 (isolates LBS1). Based on T test of the effectiveness cellulolytic bacteria against G. boninense showed 6 isolates (LBS3, LBS4, DBS1, DBS7, SBS2, and SBS6) had effective values or potential antagonists with highest percentage inhibition 40.17% isolate DBS1 genus of Flavobacterium. Hope that in the future, cellulolytic bacteria obtained can be used as biocontrol agents for G. boninense

    Potential of Cibodas Botanical Garden Fern and Lycophytes Collection as the Source of Medicine

    No full text
    AbstrakKebun Raya Cibodas (KRC) merupakan kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ yang berfokus untuk mengkonservasi tumbuhan dataran tinggi basah, mencakup tumbuhan langka dan tumbuhan bermanfaat.  Salah satu koleksi penting KRC adalah koleksi tumbuhan paku yang telah diketahui memiliki beragam manfaat, seperti sumber obat. Akan tetapi, potensinya sebagai sumber obat belum pernah dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi dan analisis terhadap koleksi tumbuhan paku KRC yang bernilai obat berdasarkan kajian literatur yang terkait dengan etnomedisin. Berdasarkan hasil kajian, sebanyak 38 jenis dari 29 marga dan 22 suku dari koleksi tumbuhan paku KRC telah diketahui manfaatnya sebagai obat. Suku Athyriaceae memiliki perwakilan jenis paling banyak yang memiliki khasiat obat, yaitu lima jenis. Terdapat 20 jenis koleksi tumbuhan paku KRC paling umum digunakan sebagai obat penutup luka dan penyakit akibat infeksi parasit. Daun dari 18 jenis merupakan bagian yang paling sering digunakan untuk pengobatan. Koleksi tumbuhan paku KRC berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber obat di masa mendatang. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengembangkan potensi tersebut, antara lain perbanyakan koleksi dan uji aktivitas farmakologi senyawa aktif.Abstract Cibodas Botanical Garden (CBG) is an ex-situ plant conservation area that focuses on the conservation of mountain wet plants, including rare and useful plants. One of the important collections of CBG is ferns and lycophytes which have various benefits, such as a medicinal source. However, its potential as a medicinal source has not been studied further. This study aims to conduct an inventory and analysis of CBG’s ferns and lycophytes collection that have medicinal potential based on literature related to ethnomedicin. The results showed that CBG has 38 species, 29 genera, and 22 families of ferns and lycophytes collection that have known as medicine. The Athyriaceae group has the most representative species of medicinal properties, which are about five species. There are 20 species of CBG’s ferns and lycophytes collection were most commonly found as medicine for wounds and infectious diseases. The leaves from 18 species of ferns and lycophytes collection are most frequently used for disease medication. The CBG’s ferns and lycophytes collection has great potential to be developed as medicinal sources in the future. Various efforts are needed to develop the potential of ferns and lycophytes collection, such as increasing collections and studying the pharmacological activity of their active compounds

    STRUKTUR UKURAN DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN LENCAM (Lethrinus lentjan Lacepede, 1802) PERAIRAN ARAFURA DI PROBOLINGGO

    Get PDF
    AbstrakPenangkapan ikan di perairan Arafura banyak dilakukan oleh nelayan dari Pulau Jawa diantaranya Jakarta, Probolinggo, Pati, dan Indramayu. Nelayan dari Probolinggo yang menangkap ikan di perairan Arafura (WPP 718) menggunakan alat tangkap jaring dan pancing rawai dengan tujuan utama adalah ikan demersal, yaitu kakap (Lutjanus spp.), kerapu (Epeniphelus spp.), lencam (Lethrinus lentjan.), dan lainnya. Pemanfaatan ikan demersal terutama ikan lencam (Lethrinus lentjan) yang terus-menerus akan memicu terjadinya perubahan stok populasi ikan di perairan, sehingga diperlukan analisa ilmiah sebagai dasar pengelolaan perikanan. Tujuan dari analisa ilmiah ini untuk menjadi nilai kontrol dalam pengawasan jumlah eksploitasi ikan dan bahan pengkajian stok ikan lencam (Lethrinus lentjan). Penelitian dilakukan Februari hingga Desember 2017 di TPI Mayangan Probolinggo. Struktur ukuran ikan 23–65 cmFL dengan dominan pada ukuran 50 cmFL dengan ukuran pertama kali tertangkap (Lc) 44,5 cmFL. Laju pertumbuhan (K) 0,32 per tahun dengan panjang asimtotik 74 cmFL. Tingkat kematian karena penangkapan (F) lebih tinggi daripada tingkat kematian alami (M) dan tingkat eksploitasi E = 0,57%, yang berarti telah terjadi overfishing. Pengurangan eksploitasi sebesar 14%, dan penetapan ukuran layak tangkap serta ukuran legal diperdagangkan dapat menjadi upaya dalam dalam menjaga populasi ikan lencam.Abstract Fishing in Arafura waters is mostly done by fishermen from Java, including Jakarta, Probolinggo, Pati, and Indramayu. Fishermen from Probolinggo who catch fish in Arafura waters (FMA 718) use fishing nets and longline fishing with the main purpose being demersal fish, namely snapper (Lutjanus spp.), Groupers (Epeniphelus spp.), Lencam (Lethrinus lentjan) and others. Exploitation of demersal fish, especially lencam fish (Lethrinus lentjan) which will continually trigger changes in fish population stock in waters, so the scientific analysis is needed as a basis for fisheries management. The purpose of this scientific analysis is to become a control value in monitoring the amount of fish exploitation for fish stock assessment  (Lethrinus lentjan). The study was conducted from February to December 2017 at TPI Mayangan Probolinggo. The size structure of fish 23–65 cmFL with a dominant size of 50 cmFL with the length at first capture (Lc) 44.5 cmFL. Growth rate (K) 0.32 per year with an asymptotic length of 74 cmFL. The fishing mortality (F) is higher than the natural mortality (M) and the exploitation level E = 0.57%, which means overfishing has occurred. The 14% reduction in exploitation and the determination of catch size and legal size of trade can be an effort in maintaining fish populations

    Keanekaragaman Benalu di Ecopark, Cibinong Science Center-Botanic Gardens

    Get PDF
    AbstrakArea konservasi ex situ, Ecopark Cibinong Science Center-Botanic Gardens (CSC-BG), membutuhkan strategi pemeliharaan tanaman koleksi yang tepat untuk mendukung kesehatan dan keberlanjutan koleksinya. Serangan benalu atau tumbuhan parasit tidak hanya dapat merusak estetika, namun juga menghambat pertumbuhan dan perkembangan, bahkan membunuh tanaman koleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis benalu dan distribusi spasial dari sebaran benalu di Ecopark CSC-BG. Pengumpulan spesimen dan data, meliputi jenis dan jumlah benalu, jenis dan kondisi inang, habitat menggunakan metode jelajah di seluruh area ini. Ditemukan empat jenis benalu dari suku Lorantaceae, yaitu Dendrophthoe pentandra (L.) Miq., Scurrula atropurpurea (Blume) Danser, Macrosolen cochinchinensis (Lour.) Tiegh., dan Dendrophthoe sp. Benalu tersebut tersebar di bioregion Blok 1, Jawa-Bali, Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Beberapa faktor ekofisiologi yang disarankan untuk diperhatikan dalam distribusi benalu adalah tinggi inang, ekspos cahaya pada tajuk bagian atas inang, kepadatan tanaman koleksi, keterbukaan atau ekspos cahaya matahari pada habitat. Indeks keanekaragaman (H’) dan indeks kemerataan (E’) benalu yang ditemukan menunjukkan H’ = 1,29 dan E’ = 0,93. Hasil analisis pola spasial, keberadaan benalu relatif merata di seluruh bagian Ecopark CSC-BG, dengan keragaman jenis tertinggi berada di bioregion Jawa-Bali, Sumatra, dan Kalimantan. Kesimpulan penelitian ini 4 jenis benalu yang ditemukan di Ecopark CSC-BG dengan nilai indeks keanekaragaman jenis benalu tergolong sedang dengan pola sebaran merata.AbstractThe relevant information of existing mistletoes or parasitic plants in Ecopark-Cibinong Science Center & Botanic Gardens is needed to support the plant collection maintenance strategy. The attack of mistletoes does not only inflict the aesthetic values of the collection but also inhibits the growth and possibly kills the whole plant. This research aimed to know the mistletoes species diversity and spatial distribution in the garden. The exploration method was used to collect specimens and data, included the species and number of mistletoes, the host and its condition, habitat and location. Four species of Loranthaceae attacked the plant collection in bioregion Blok 1, Jawa-Bali, Sumatra dan Kalimantan. They were Dendrophthoe pentandra (L.) Miq., Scurrula atropurpurea (Blume) Danser, Macrosolen cochinchinensis (Lour.) Tiegh. and Dendrophthoe sp.. Some of the recommended ecophysiological factors to consider in the distribution of mistletoes in Ecopark, CSC-BG were host height, light exposure to the upper canopy of the host, plant collection density, openness, or exposure to sunlight in the habitat. The diversity index (H \u27) and evenness index (E\u27) of mistletoes found in Ecopark CSC-BG were 1.29 and 0.93, respectively. Based on the results of spatial pattern analysis, the presence of mistletoes was relatively evenly distributed throughout the garden, with the highest species diversity found in the Java-Bali, Sumatra, and Kalimantan Bioregions. This study concludes that there were 4 species of mistletoes found in Ecopark CSC-BG with a moderate diversity index and an even distribution pattern

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇