Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
Ethnomedicine Of Medicinal Plants Used By Tribal Community In Kaliki Village, Merauke - Papua
AbstrakPapua memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan jenis hutan yang lengkap dan flora endemik yang tidak ditemukan di daerah lain, serta pengetahuan tradisional tumbuhan obat masyarakat Papua sangat beragam. Namun pengetahuan tersebut belum diungkapkan dan di dokumentasikan dengan baik, seperti pengetahuan masyarakat suku Marind di Kampung Kaliki Merauke yang merupakan salah satu suku terbesar yang menempati pesisir pantai hingga perbatasan Papua New Guinea. Penelitian etnomedisin tumbuhan obat dimaksudkan untuk mengungkapkan presepsi dan konsepsi masyarakat lokal dalam memahami kesehatan seperti pengunaan tumbuhan sebagai bahan obat, sekaligus untuk melakukan inventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan berguna untuk obat-obatan tradisional dan sebagai data awal untuk riset farmasi dalam menemukan senyawa baru yang berguna dalam pengobatan. Metode penelitian dilakukan melalui pendekatan emik dan etik juga melakukan wawancara secara terbuka dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukan sebanyak 34 spesies dari 22 famili dikenali dan dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Daun merupakan bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat yaitu sebanyak 18 spesies, kulit batang 8 spesies dan akar rimpang 3 spesies. Sebagian besar pengolahan tumbuhan obat melalui metode perebusan dan konsumsi langsung. Tumbuhan obat ini dimanfaatkan untuk pengobatan 15 jenis penyakit. Persalinan dan diare merupakan pengobatan yang paling banyak memanfaatkan tumbuhan obat. AbstractPapua is rich in biodiversity with several forest types and endemic flora that cannot be found anywhere else in the world. Furthermore, diverse traditional knowledge of medicinal plants are already used by tribal community in Papua. However, this knowledge has not been published and well documented. For example, the knowledge of the Marind Tribe in Kaliki Village, Merauke, which is one of the largest tribes living on the coast to the border of Papua New Guinea. Research of ethnomedicine on medicinal plants is intended to reveal the perception and conception of local communities in understanding health, such as the utilization of plants as medicine, inventory of plant used in traditional medicines, and preliminary data for pharmaceutical research to find new compounds for drug discovery. This study used emic and ethical approaches, open-ended interviews, and direct field observations. According to study result, a total of 34 species from 22 families were identified and used to cure various diseases. It was found that plant parts most widely used as medicinal ingredients were leaves of 18 species, bark of 8 species, and rhizome of 3 species. Moreover, medicinal plants were normally boiled or processed for direct consumption. The medicinal plant was used to treat 15 species of diseases. In addition, medicinal plants were mostly used in childbirth care and treating diarrhea
Perbandingan Metode Sterilisasi Untuk Perbanyakan Rubus rosifolius Secara in Vitro
AbstrakRubus rosifolius adalah salah satu jenis rasberi liar yang memiliki potensi cukup tinggi untuk dikembangkan sebagai tanaman buah. Selain itu, metode perbanyakan tanaman merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam pembudidayaan. Lebih lanjut, informasi terkait upaya perbanyakan R. rosifolius secara in vitro masih sangat terbatas. Percobaan ini ditujukan untuk mengetahui metode sterilisasi yang tepat pada eksplan R. rosifolius. Sebanyak 17 metode sterilisasi telah diujicobakan di Laboratorium Kultur Jaringan BKT Kebun Raya Cibodas-LIPI. Bahan sterilisasi yang digunakan, yaitu detergen, tween 80, bakterisida, fungisida, clorox/pemutih (NaClO), alkohol 70%, larutan Plant Preservative Mixture (PPM), vitamin C/asam askorbat, dan povidone iodine/antiseptik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa metode sembilan merupakan metode sterilisasi yang cukup optimum untuk sterilisasi eksplan R. rosifolius. Metode sembilan mampu menghambat munculnya mikroorganisme endofitik hingga 8 hari dan tidak menyebabkan warna eksplan menjadi cokelat/browning. Tahapan sterilisasi pada metode sembilan meliputi pencucian dengan detergen, perendaman dengan bakterisida + fungisida selama +30 menit, perendaman dengan clorox 10% + tween 80 selama +15 menit, pencucian dengan larutan PPM selama +15 menit. AbstractRubus rosifolius is one of the species from wild raspberries, which is has high potential to develop as a fruit crops. In the other hand, the technique of plant propagation became an important factor for cultivation. Moreover, the information related to the in vitro propagation of R. rosifolius is very limited. This experiment was aimed to determine the best method to sterilize an explants of R. rosifolius. About 17 methods of sterilization have been tried in the laboratorium of tissue culture at Cibodas Botanical Garden-Indonesian Institute of Sciences. The combination of detergent, tween 80, bactericide, fungicide, sodium hypochlorite (NaClO), alcohol 70%, plant preservative mixture (PPM), ascorbic acid, and povidone iodine were used during the experiment. The results show that the method of sterilization number nine could be inhibit the emergence of endophytic organisms for eight days and keep an explant in green with a little brownish compared by the others methods. The method of sterilization number nine was consist of several steps i.e. wash by detergent, soak in bactericide + fungicide for +30 minutes, soak in sodium hypoclorite 10% + tween 80 for +15 minutes, wash by PPM solution for +15 minutes
Pengaruh Ekstrak Yeast dan Pisang Raja Terhadap Pertumbuhan Tunas Embrio Vanda hookeriana Rchb.f.
AbstrakVanda hookeriana Rchb.f. merupakan anggrek yang dilindungi dan keberlangsungan hidupnya di alam terancam punah, sehingga perbanyakan anggrek secara in vitro sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak yeast dan pisang raja terhadap pertumbuhan tunas embrio anggrek V. hookeriana Rchb.f. Desain penelitian ini menggunakan RAL faktorial, faktor pertama adalah ekstrak yeast dengan 3 taraf: 0,5 g/L, 1 g/L, dan 1,5 g/L, faktor kedua adalah buah pisang raja dengan 3 taraf: 50 g/L, 100 g/L, dan 150 g/L. Penelitian dilakukan menggunakan teknik kultur jaringan, pengamatan dilakukan setiap bulan sekali dengan mengamati aspek morfologi plantlet. Media yang digunakan adalah Vacin-Went (VW) + kombinasi ekstrak yeast dan pisang raja. Parameter pengamatan berupa tinggi tunas, berat kering tunas, jumlah daun, diameter daun, panjang daun, berat kering daun, jumlah akar, diameter akar, panjang akar, berat kering akar, dan morfologi tunas. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan pisang raja 150 g/L + ekstrak yeast 0,5 g/L merupakan konsentrasi yang paling berperan terhadap parameter pertumbuhan anggrek V. hookeriana Rchb.f. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa penambahan komponen organik dalam media kultur jaringan memberikan respon pertumbuhan dan perkembangan yang baik pada eksplan. Komponen organik membantu proses fisiologis eksplan, karena komponen organik mengandung senyawa potensial yang dibutuhkan selama proses pertumbuhan dan perkembangan. Abstract Vanda hookeriana Rchb.f. is one of protected orchid and its survival in the wild was threatened by extinction, so orchid propagation was needed. This research aimed to determine the effect of yeast and pisang raja extracts to embryonal shoot growth of Vanda hookeriana Rchb.f. Experimental design used factorial RAL, first factor was yeast extract with 3 treatments (0.5 g/L; 1 g/L; & 1.5 g/L). Second factor was pisang raja with 3 treatments (50 g/L; 100 g/L; & 150 g/L). The research was conducted using in vitro culture techniques, observations were made once a month by observing the plantlet morphological parameters. The medium used was Vacin-Went (VW) + combination of yeast and pisang raja extracts. Observation parameters were shoot height, shoot dry weight, leaf number, leaf diameter, leaf length, leaf dry weight, number of roots, root diameter, root length, root dry weight and shoot morphology. The analysis showed that pisang raja treatment 150 g/L + yeast extract 0.5 g/L was the best concentration for the growth parameters of Vanda hookeriana Rchbf. This research were succeeded in proving that the addition of organic components in tissue culture media gave better response to growth and development of the explants. Organic components helps the explants in physiological ways because of the organic components contain potential compounds needed during the growth and development process
Effect of Honey, Aloe vera, and MEBO on Collagen Density in Healing Process of Second Degree Burns in Rats
AbstrakBerbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa kolagen merupakan biomaterial ideal dalam aktivitas penyembuhan luka. Senyawa bioaktif pada madu dan Aloe vera dapat membantu meningkatkan pembentukan kolagen. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan pengaruh aplikasi topikal madu, gel Aloe vera, dan Moist Exposed Burn Ointment (MEBO) terhadap kepadatan kolagen pada proses penyembuhan luka bakar derajat dua pada tikus. Luka bakar dibuat pada 28 ekor tikus dan dibagi menjadi empat kelompok yang dipilih secara acak serta dilakukan aplikasi topikal harian dengan NaCl, madu, gel Aloe vera, dan MEBO secara berurutan. Biopsi kulit dilakukan pada hari ke-7, kemudian dilakukan pembuatan sediaan histopatologi kulit dan dihitung kepadatan kolagennya. Uji One Way ANOVA menunjukkan kepadatan kolagen berbeda secara signifikan antar masing-masing kelompok (p= 0,009). Uji Post Hoc Bonferroni menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok NaCl dengan madu (p= 0,024) dan NaCl dengan MEBO (p= 0,024). Penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi madu dan MEBO secara topikal pada luka bakar derajat dua dapat meningkatkan pembentukan kolagen, sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Madu, Aloe vera, dan MEBO dapat dijadikan sebagai terapi alternatif dalam penyembuhan luka bakar. AbstractVarious scientific studies have proven that collagen is an ideal biomaterial in wound healing activities. The bioactive compounds in honey and Aloe vera can help increase collagen formation. This study was conducted to compare the effect of topical application of honey, Aloe vera gel, and MEBO (Moist Exposed Burn Ointment) on collagen density in the healing process of second-degree burns in rats. Burns were made on 28 rats which were further randomly divided into four groups to receive daily topical application of NaCl, Aloe vera, honey, and MEBO respectively. Skin biopsy was carried out on the seventh day, then histopathological preparation of the skin was made and collagen density was calculated. Result of One Way ANOVA test showed that collagen density differed significantly between groups (p= 0.009). The Post Hoc Bonferroni test resulted in significant difference between NaCl with honey group (p= 0.024) and NaCl with MEBO (p= 0.024). This study found that topical application of honey and MEBO to second-degree burns could increase collagen formation, thus accelerating wound healing process. Honey, Aloe vera, and MEBO can be used as alternative therapies for healing burns
Variasi Struktur Anatomi Daun Beberapa Jenis Alpinia Roxb. di Malesia
AbstrakKetidaksesuaian sistem klasifikasi Alpinia berdasarkan ciri morfologi dengan ciri molekuler menyebabkan sistem klasifikasi pada marga ini masih bermasalah. Data tambahan dari anatomi Alpinia diperlukan untuk mendukung sistem klasifikasi pada marga ini. Sayatan paradermal adaksial dan abaksial dari daun tujuh jenis Alpinia diamati. Sampel diambil dari koleksi Kebun Raya Bogor (KRB) yang mewakili jenis A. galanga, A. mutica, A. padacanca, A. macrocrista, A. malaccensis, A. pusilla, dan A. ligulata. Sebelas ciri Alpinia diamati seperti; ukuran stomata, jumlah stomata, indeks stomata, kerapatan stomata, tipe stomata, ukuran sel tetangga, jumlah sel tetangga, bentuk sel tetangga, ukuran epidermis, jumlah epidermis, dan bentuk epidermis. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa beberapa ciri dapat digunakan untuk membedakan jenis Alpinia, seperti bentuk dan ukuran epidermis; ukuran, kerapatan dan indeks stomata; serta ukuran sel tetangga. Sementara ciri lainnya, seperti tipe stomata dan bentuk sel tetangga pada semua jenis Alpinia memiliki bentuk yang sama sehingga tidak dapat digunakan untuk membedakan jenis Alpinia.Abstract The incompatibility of Alpinia classification system based on morphological and molecular character causes classification system of this genus is still problematic. Additional data from Alpinia anatomy are needed to support the classification system in this genus. Adaxial and abaxial sides paradermal incisions of seven Alpinia species were observed. The samples were taken from the Bogor Botanical Gardens (KRB) collection representing A. galanga, A. mutica, A. padacanca, A. macrocrista, A. malaccensis, A. pusilla, and A. ligulata. Eleven Alpinia characteristics were observed; stomatal size, number of stomata, stomatal index, stomatal density, stomatal type, neighboring cells size, number of neighboring cells, neighboring cell shape, epidermal cells size, number of epidermal cells, and epidermal cells shape. The results showed that several characteristics can be used to distinguish Alpinia species, such as the shape and size of epidermal cells; the size, density and index of stomata; and the size of neighboring cells. Several other characteristics, such as the type of stomata and shape of neighboring cells in all species of Alpinia have the same shape so the characters cannot be used to distinguish Alpinia species.
Identifikasi Potensi Permudaan Alam Di Hutan Rawa Gambut Taman Hutan Raya Orang Kayo Hitam Provinsi Jambi Pasca Kebakaran Hutan
AbstrakRegenerasi dan restorasi hutan rawa gambut merupakan hal yang sulit terjadi secara alami. Restorasi ekosistem bukan hanya membuat tegakan baru tetapi juga harus berbasis keanekaragaman hayati lokal untuk membuat peluang berhasilnya menjadi lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data mengenai potensi permudaan alam dalam rangka regenerasi dan restorasi lahan gambut di Tahura Orang Kayo Hitam pasca kebakaran hutan. Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan, yaitu dari Maret sampai Oktober 2019 di Tahura Orang Kayo Hitam, Herbarium Fakultas Kehutanan Universitas Jambi dan Laboratorium Silvikultur dan Manajemen Universitas Jambi. Metode yang digunakan adalah kombinasi transek dengan garis berpetak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 29 jenis anakan alam yang tergabung dalam 19 famili tumbuhan. Jenis yang paling dominan adalah arang-arang (Diospyros mangiayi) diikuti oleh meranti bunga (Shorea teijsmanniana) dengan Indeks Nilai Penting (INP) berturut-turut sebesar 20,10% dan 19,33%. Indeks kekayaan Margaleff D= 4,88, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener H’= 2,96 dan indeks Evennes E= 0,88. Nilai dari semua indeks menunjukkan kondisi permudaan alam yang cukup baik di Tahura Orang Kayo Hitam. Hal ini diharapkan mampu menjadi pendorong dalam restorasi ekosistem yang berbasis jenis lokal untuk masa depan hutan rawa gambut. Abstract Regeneration and restoration of peat swamp forests is a difficult thing to happen naturally. Ecosystem regeneration and restoration not only create new stands but must also be based on local biodiversity to make the chances of success even higher. The purpose of this study is to obtain data and information about the potential of seedlings for the regeneration and restoration of peatlands in Tahura Orang Kayo Hitam after forest fires. This research was conducted for 7 months from March to October 2019 with locations in Orang Kayo Hitam Tahura, Herbarium of the Faculty of Forestry at the University of Jambi and the University of Jambi\u27s Silviculture and Management Laboratory. The most dominant types are arang-arang (Diospyros mangiayi) followed by meranti bunga (Shorea teijsmanniana) with Important Value Index (INP) respectively of 20.10% and 19.33%. Margaleff\u27s Wealth Index D= 4, 88. The Shannon-Wiener Diversity Index shows a value of H \u27of 2.96 and the Index of Evennes indicates a value of E= 0.88. The values obtained from all of the measured indices indicate the condition of natural regeneration which is quite good in Tahura Orang Kayo Hitam. This is expected to lead to local species-based ecosystem restoration for the future of peat swamp forests
Pertumbuhan, Retensi Protein, dan Perkembangan Gonad Polychaeta Nereis sp. Dengan Salinitas dan Pakan Berbeda
AbstrakPolychaeta Nereis sp. memiliki kandungan asam amino dan asam lemak tak jenuh yang tinggi, sesuai untuk pakan udang dalam meningkatkan pematangan gonad untuk produksi larva udang. Potensi ini mendorong pengembangan usaha budi daya Nereis sp. sebagai pakan induk udang. Usaha ini belum berkembang karena informasi tentang aspek biologi yang mendukung budi daya Nereis sp. masih terbatas. Oleh karena itu, studi tentang aspek biologi Nereis sp. dengan berbagai modifikasi lingkungan dan pakan perlu dilakukan untuk menunjang keberhasilan usaha budi daya Nereis sp. Penelitian ini bertujuan mengetahui pertumbuhan spesifik, retensi protein, dan perkembangan gonad Nereis sp. dari Kawasan Jeruklegi Cilacap dengan salinitas dan pakan yang berbeda. Hasilnya akan digunakan sebagai informasi untuk mendukung budi daya Nereis sp. yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Nereis sp. immature dengan dua jenis pakan, pada tiga salinitas yang berbeda (5, 15, dan 25 ppt). Penelitian dilakukan dengan metode rancangan acak kelompok dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan spesifik optimum Nereis sp. pada pemeliharaan salinitas 15 ppt dengan jenis pakan berprotein hewani. Salinitas 15 ppt dan pakan berprotein hewani juga menghasilkan retensi protein tetinggi. Salinitas pemeliharaan dan jenis pakan belum mempengaruhi perkembangan gonad secara signifikan. Pemeliharaan Nereis sp. dengan salinitas 15 ppt dan pakan berprotein hewani menunjukkan hasil terbaik.Abstract Polychaeta Nereis sp. has a high content of amino acids and unsaturated fatty acids, suitable for shrimp feed in increasing gonadal maturation for shrimp larvae production. This potential encourages the development of Nereis sp. to meet the needs of raw material for shrimp feed. This business has not developed due to limitations in information about the biological aspects that support the cultivation of Nereis sp. Therefore, some studies about biological aspects of Nereis sp. with various environmental and feed modifications need to be conducted to support the success of its cultivation. This study aims to determine the specific growth, protein retention, and gonad development of Nereis sp. from the Jeruklegi Cilacap area with different salinity and feed. The results will be used as information to support the sustainable cultivation of Nereis sp. Conducted experimentally with a randomized block design method with three replications, the study used immature Nereis sp. with two types of feed that were maintained at three different salinity (5, 15, and 25 ppt). The results showed that the highest specific growth was Nereis sp. in 15 ppt of salinity with animal protein feed. The salinity 15 ppt and animal protein feed also resulted in the highest protein retention. However, the salinity maintenance and type of feed have not significantly affected gonad development. Maintenance of Nereis sp. with 15 ppt salinity and animal protein feed showed the best results
Potensi Bakteri Endofit Asal Tanaman Pisang Klutuk (Musa balbisiana Colla) Sebagai Pendukung Pertumbuhan Tanaman
AbstrakBakteri endofit yang terdapat di tanaman pisang Klutuk dan keterkaitannya dengan sifat ketahanan tanaman pisang Klutuk pada cekaman biotik dan abiotik belum dilaporkan dalam publikasi ilmiah. Sebanyak 93 isolat bakteri endofit telah diperoleh dari pisang Klutuk, tetapi belum diketahui kemampuannya sebagai pendukung pertumbuhan tanaman (PPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter isolat-isolat bakteri endofit dari pisang Klutuk sebagai pendukung pertumbuhan tanaman. Kelompok bakteri Gram positif dan negatif ditentukan dengan metode pewarnaan Gram. Kemampuan memfiksasi nitrogen (N2), memproduksi asam indol asetat (AIA), dan antagonisme terhadap Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) diuji untuk mengetahui kemampuan isolat bakteri endofit sebagai pendukung pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 87,10% isolat bakteri endofit dari tanaman pisang Klutuk merupakan kelompok bakteri Gram negatif dan 82,80% (77 isolat bakteri) menunjukkan karakter tunggal atau ganda sebagai PPT. Di dalam kelompok isolat tersebut, terdapat berturut-turut 60, 38, dan 20 bakteri yang mampu memfiksasi N2, menghasilkan AIA, dan antagonisme terhadap Foc. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa bakteri endofit dari pisang Klutuk didominasi oleh bakteri kelompok Gram negatif yang memiliki kemampuan sebagai pendukung pertumbuhan tanaman.Abstract The role of endophytic bacteria on the biotic and abiotic resistance of Klutuk banana plants has never been reported. A total of 93 endophytic bacterial isolates were obtained from Klutuk banana plants in a previous study, but their potency as Plant Growth Promoting Bacteria (PGPB) is not elucidated. This study aims to characterize those 93 endophytic bacterial isolates. Gram staining was performed to differentiate between Gram-positive and negative bacteria among the isolates. The ability to fix nitrogen (N2), produce indole acetic acid (IAA) and antagonize Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) were also examined to determine their potency as PGPB. The results showed that 87.1% of the endophytic bacterial isolates were Gram-negative bacteria and 83.87% (78 bacterial isolates) had single or multiple traits of PGPB. Among the isolates, 60, 38, and 20 bacteria were able to fix N2, produce IAA, and antagonize Foc, respectively. The results indicated that the endophytic bacteria inhabiting Klutuk banana plant are dominated by Gram-negative PGPB
Keanekaragaman Larva Ikan di Sekitar Muara Sungai Musi, Sumatra Selatan
Abstrak Estuari adalah salah satu habitat penting bagi ikan, namun terancam akibat peningkatan aktivitas manusia. Hal tersebut dapat memengaruhi keanekaragaman ikan di sekitarnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis keanekaragaman dan kelimpahan larva ikan di sekitar muara Sungai Musi Sumatra Selatan. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan cruise track design dan lintasan survei continuous parallel pada setiap stasiun secara swept area. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman (H’) di muara Sungai Musi pada Maret 2019 sebesar 0,639 sedangkan pada Mei 2019 sebesar 1,253. Kelimpahan relatif pada Maret 2019 lebih tinggi daripada Mei 2019. Kelimpahan Relatif (Kr) pada Maret 2019 antara 0,69–84,61% dan pada Mei 2019 antara 0,21–58,77%. Kelimpahan larva ikan yang ditemukan pada Mei lebih tinggi, yaitu sebanyak 456 individu dari 10 famili. Pada Maret ditemukan lebih rendah, yaitu sebanyak 143 individu dari 6 famili. Ditemukan larva ikan dari famili Engraulidae, Belonidae, Osphronemidae, Nemipteridae, Gerreidae, dan Gobiidae pada Maret. Sedangkan pada Mei 2019, yaitu Nemipteridae, Engraulidae, Scatophagidae, Chandidae, Lobotidae, Terapoinidae, Belonidae, Osphronemidae, Chanidae, Clupeidae. Abstract Estuary is one of important habitat for fish, yet is threatened by an increase in human activities. Thus affecting the diversity of fish around it. This study aim to determine the diversity and abundance of fish larvae around the mouth of Musi River in South Sumatra. This study was conducted using survey method with Cruise Track Design and continuous parallel survey track by swept area at each station. The results showed that the diversity index (H \u27) at the mouth of the Musi River in March 2019 was 0.639 while in May 2019 was 1.253. Relative Abundance (Kr) in March 2019 between 0.69–84.61% and in May 2019 between 0.21–58.77%. Abundance of fish larvae in May was found higher at 456 individuals from 10 families. Whereas in March it was found to be lower as many as 143 individuals from 6 families. The relative abundance in March 2019 was lower than in May. Fish larvae from the Engraulidae, Belonidae, Osphronemidae, Nemipteridae, Gerreidae and Gobiidae families were found in March. Whereas in May 2019 were Nemipteridae, Engraulidae, Scatophagidae, Chandidae, Lobotidae, Terapoinidae, Belonidae, Osphronemidae, Chanidae, Clupeidae
Keragaman Fenotipik Bunga Telang Double Petal Asal Indonesia dan Thailand Berdasarkan Morfologi Bunga
AbstrakBunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman legum yang bagian bunganya telah banyak dimanfaatkan. Double petal adalah salah satu varian spesies bunga telang yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman fenotipik plasma nutfah bunga telang double petal asal Indonesia (Bali, Jawa Barat, dan Jawa Timur) dan Thailand berdasarkan morfologi bunga. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Data morfologi dianalisis menggunakan analisis multivariat berupa Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) dan Analisis Klaster (Cluster Analysis) dengan bantuan program NTSYS 2.1. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima komponen utama yang berpengaruh terhadap keragaman aksesi dengan persentase keragaman kumulatif 88,82%. Karakter tipe bunga, susunan mahkota bunga, keberadaan lunas, tipe benang sari, dan posisi kepala putik memberi pengaruh terbesar terhadap keragaman aksesi. Analisis klaster membagi aksesi-aksesi tersebut menjadi dua klaster dengan koefisien ketidakmiripan 3,01–6,83. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bunga telang double petal asal Indonesia dan Thailand memiliki keragaman yang luas dan kekerabatan yang jauh; aksesi asal Bali memiliki morfologi bunga dan klaster yang berbeda dengan aksesi asal Jawa Barat, Jawa Timur, dan Thailand. Informasi ini akan bermanfaat dalam merencanakan pengelolaan plasma nutfah dan pemuliaan bunga telang double petal. Abstract Butterfly pea (Clitoria ternatea L.) is a legumeplant of which flower parts are widely used. One of butterfly pea variant is double petal which commonly found in Southern Asia. This study aimed to evaluate phenotypic diversity of double petal butterfly pea germplasm from Indonesia (Bali, West Java, and East Java) and Thailand based on flower morphology. The experiment was arranged in randomized complete blocks design with three replications. Morphology data were subjected to multivariate analysis using Principal Component Analysis and Cluster Analysis and performed by NTSYS 2.1. The result showed that there were five significant principal components that cumulatively explained 88.82% of variance. Existence of keel, aestivation type, position of stigma, type of stamen, and flower type gave high contributions to the diversity of accessions. Cluster analysis grouped the accessions into two clusters with dissimilarity coefficient from 3.01–6.83. From the results, it can be concluded that double petal butterfly pea from Indonesia and Thailand have wide diversity and genetic relationship; the accessions from Bali have different flower morphology and cluster compared to the accessions from East Java, West Java, and Thailand. The information will help planning management of the germplasm and breeding double petal butterfly pea