Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    Keanekaragaman Jenis Burung di Kawasan Pengembangan Institut Teknologi Sumatera (ITERA)

    Get PDF
    AbstrakKawasan kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sedang mengalami perkembangan fisik yang pesat, seperti pembangunan gedung perkuliahan, laboratorium, asrama, juga embung untuk sumber air. Informasi mengenai keanekaragaman hayati di ITERA sendiri belum banyak diteliti, salah satunya adalah keanekaragaman burung. Burung merupakan hewan besar yang cukup sensitif dengan perubahan lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai keanekaragaman burung di ITERA untuk memberikan informasi dasar. Metode yang digunakan adalah teknik point count, diterapkan pada lima stasiun utama yang dipilih berdasarkan pusat aktivitas pembangunan. Analisis yang digunakan adalah indeks keanekaragaman, kemerataan, juga kelimpahan. Selain itu, status konservasi dan tipe pakan jenis burung dianalisis menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 19 jenis burung dari 16 famili. Keanekaragaman jenis burung berdasarkan indeks Shannon-Wiener tergolong sedang dan kemerataan jenis merata. Dari kategori kelimpahan yang digunakan terdapat dua jenis burung yang umum ditemukan. Bersumber pada PP No. 7 tahun 1999, terdapat empat jenis burung di ITERA yang termasuk ke dalam kategori dilindungi dan satu jenis termasuk kategori Appendix II di CITES. Feeding guild burung di ITERA didominasi tipe omnivora dan insektivora. AbstractInstitut Teknologi Sumatera (ITERA) campus area is undergoing rapid physical development, such as the construction of lecture buildings, laboratories, dormitories, as well as reservoirs for water sources. Information on biodiversity in ITERA has not much studied, one of which is bird diversity. Birds are large animals that are quite sensitive to environmental changes. This study aims to obtain data on bird diversity at ITERA to provide the baseline information. The method used is a point count technique, applied to five main stations selected based on the center of development activities. The analysis used is an index of diversity, evenness, and abundance. Besides, the conservation status and feed type of bird species were analyzed using secondary data. The results showed that there were 19 species of birds from 16 families. The Shannon-Wiener diversity index classified the bird community as a moderate, and the community evenness index was stable. From the abundance category, two types of birds commonly found. Based on PP No. 7 of 1999, there are four species of birds in ITERA, which included in the protected category and one species, including the Appendix II category in CITES. Omnivorous and insectivorous types dominate bird guild feeding in ITERA

    Produksi Enzim Ligninolitik dan Dekolorisasi Pewarna Sintetis Oleh Isolat Baru Jamur Tropis Cymatoderma dendriticum WM01

    Get PDF
    AbstrakPenggunaan pewarna sintetik pada berbagai industri telah menimbulkan pencemaran lingkungan. Jamur pelapuk putih (JPP) yang umumnya menghasilkan enzim ligninolitik dipercaya mampu mendegradasi senyawaan ini. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat baru JPP Cymatoderma dendriticum WM01 dalam memproduksi enzim ligninolitik dan mendekolorisasi pewarna sintetik. Skrining aktivitas enzim diukur berdasarkan pertumbuhan jamur pada media agar alkali-lignin, sedangkan aktivitas dekolorisasi diukur berdasarkan kemampuan jamur mendokolorisasi pewarna Remazol Brilliant Blue R (RBBR) pada medium agar. Kemampuan dekolorisasi dan aktivitas enzimatik jamur terhadap tiga jenis pewarna menggunakan media Dzapek-Dox cair yang masing-masing mengandung pewarna RBBR, Acid Blue 129 (AB129), dan Reactive Black 5 (RB5). Hasil penelitian menunjukkan pembentukan zona merah kecokelatan pada media alkali-lignin akibat adanya aktivitas degradasi lignin oleh jamur, sedangkan pemudaran warna pada media agar-RBBR menunjukkan kemampuan dekolorisasi jamur terhadap pewarna sistetis. C. dendriticum WM01 mendekolorisasi pewarna RBBR, AB129, dan RB5 dengan efisiensi masing-masing sebesar 22,6%, 81,9%, dan 12,1%. Selama proses dekolorisasi hanya enzim mangan peroksidase (0,3 U/L) yang dihasilkan oleh C. dendriticum WM01. Menariknya, penambahan ekstrak daun jati (50 mg/20 mL) mampu meningkatkan aktivitas enzim mangan peroksidase hingga 37,6 U/L dan lakase hingga 208,1 U/L. Penelitian ini menunjukkan bahwa isolat C. dendriticum WM01 berpotensi untuk digunakan pada dekolorisasi air limbah pewarna tekstil.Abstract The use of synthetic dyes in various industries caused environmental pollution. White-rot fungi, which generally produce ligninolytic enzymes, are believed to be able to degrade these recalcitrant compounds. This study aims to investigate the ability of the new isolate white-rot fungus Cymatoderma dendriticum WM01 to decolorize synthetic dyes. Screening of ligninolytic activity was based on fungal growth on alkali-lignin agar media, while decolorization activity was observed by the fungal ability to decolorize Remazol Brilliant Blue R (RBBR) dye in agar medium. The strain was tested to decolorize RBBR, Acid Blue 129 (AB129), and Reactive Black 5 (RB5) dyes in Dzapek-Dox broth media. The results showed the formation of a red-brownish area on alkali-lignin agar media, indicated degradation of lignin by strain WM01. The strain was able to decolorize RBBR, AB129, and RB5 dyes with efficiency of 22.6%, 81.9%, and 12.1%, respectively. During decolorization, only manganese peroxidase (0.3 U/L) was detected in culture medium.  Interestingly, the addition of teak leaf extract (50 mg/20 mL) increased the activity of manganese peroxidase to 37.6 U/L and laccase to 208.1 U/L. This study suggests that C. dendriticum WM01 has the potential to be used in decolorization of textile dye wastewater

    Keanekaragaman Spesies Nyamuk Genus Tripteroides (Diptera: Culicidae) di Indonesia

    Get PDF
    dari 21 genus nyamuk yang terdapat di Indonesia. Tripteroides termasuk dalam Tribe Sabethini bersama dengan genus Kimia, Malaya dan Topomyia, Empat dari lima subgenus dalam genus Tripteroides terdapat di Indonesia, yaitu Polylepidomyia, Rachionotomyia, Rachisoura, dan Tripteroides. Tujuan studi ini adalah memperbarui daftar spesies, sebaran, informasi perkembangan taksonomi dalam genus Tripteroides di Indonesia serta kunci identifikasi spesies untuk nyamuk betinanya. Data dikumpulkan dengan studi literatur dan menghimpun laporan penelitian nasional riset khusus vektor dan reservoir penyakit (Rikhus Vektora). Tercatat sebanyak 47 spesies nyamuk Tripteroides di Indonesia dan sebagian besar (33 spesies) merupakan spesies endemik Papua. Terdapat penambahan sebanyak empat spesies dibanding data spesies yang diterbitkan sebelumnya. Penemuan Tp. affinis dari Rikhus Vektora menjadi catatan spesies baru anggota genus Tripteroides di Indonesia. Spesies Tp. tenax, Tp. nepethisimilis dan Tp. littlechildi pernah tercatat terdapat di Indonesia oleh beberapa literatur, namun belum dimasukkan dalam daftar spesies sebelumnya. Kunci identifikasi untuk nyamuk betina juga disampaikan dalam artikel ini.AbstractThe genus Tripteroides is one of 21 genera of mosquitoes found in Indonesia. Tripteroides belongs to the Tribe Sabethini along with the genera Kimia, Malaya, and Topomyia. Four of the five subgenera of Tripteroides are found in Indonesia, namely Polylepidomyia, Rachionotomyia, Rachisoura, and Tripteroides. The purpose of writing this article is to update the species list, distribution, taxonomic development information in the genus Tripteroides in Indonesia, and the species identification key for female mosquitoes. Data were collected by literature study and from reports of national special research for vector and reservoir of disease (Rikhus Vektora). There are 47 species of Tripteroides mosquitoes present in Indonesia and mostly (33 species) were endemic species in Papua. There was an addition of four species compared to the previously published checklist. Collection of Tp. affinis from Rikhus Vektora has become a new record of the genus Tripteroides member in Indonesia. Tp. tenax, Tp. nepethisimilis and Tp. littlechildi had been recorded in Indonesia by some literature. However, those three species have not been included in the previous checklist yet. An identification key for female mosquitoes is also provided here.

    Aktivitas Harian dan Perilaku Makan Kucing Domestik Liar di Lingkungan Kantin IPB

    Get PDF
    AbstrakFeral cat merupakan kucing domestik liar yang umumnya hidup berkelompok di sekitar habitat manusia. Kucing domestik liar cenderung memanfaatkan sumber daya antropogenik dibanding mencari makan sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan serta menganalisis perilaku harian dan aktivitas pencarian makan antar kelompok kucing domestik liar di sekitar dua kantin Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Metode scan sampling digunakan untuk mengamati aktivitas harian rata-rata dengan interval waktu 10 menit, selanjutnya metode ad libitum sampling untuk melihat perilaku makan dan interaksi antara kucing dengan manusia dalam mendapatkan makanan. Perilaku harian dibagi dalam 3 kategori, yaitu afiliatif, pemeliharaan diri, dan pertemuan negatif. Berdasarkan hasil penelitian, perilaku harian kucing di kedua kantin didominasi oleh perilaku perawatan diri (76,62% dan 65,17%), diikuti oleh perilaku afiliatif (18,06% dan 29,61%) dan perilaku negatif (5,32% dan 5,22%). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara perilaku kucing di pagi hari dan siang hari (p-value >0,05). Interaksi antara kucing dan manusia yang memiliki frekuensi tertinggi yaitu perilaku kucing mendekati manusia. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada interaksi antara kucing dan manusia di pagi hari dan siang hari (p-value> 0.05).Abstract A feral cat is a wild domestic cat that usually lives in groups around the human habitat. Wild domestic cats tend to utilize anthropogenic resources from humans rather than foraging for themselves. This study aims to compare and analyze the daily behavior and foraging activity of groups of feral cats around the canteens of the IPB University campus. Observation of the cat\u27s daily activity behavior was conducted by the scan sampling method at 10-minute intervals. The ad libitum sampling method was conducted to observe the feeding behavior and the interaction between the cats and humans in getting food. Daily activity behavior is divided into three categories, i.e., affiliative, self-care, and negative encounters. This study showed daily activity of the cats were dominated by self-care (76,62% dan 65,17%), affiliative behavior (18,06% dan 29,61%) and negative encounters (5,32% dan 5,22%). There is no significant difference between the daily activity of the cats in the morning and daytime (p-value >0.05). The interaction between human and the cats were dominated by the behavior of the cats approaching human. There is no significant difference in interactions between humans and cats in the morning and daytime (p-value >0.05)

    COVER AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 14 NO. 2 OKTOBER 2021

    No full text

    INDEX AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 14 NO. 2 OKTOBER 2021

    No full text

    Isolasi Kapang Endofit Pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.) yang Berpotensi Sebagai Antibakteri Terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

    Get PDF
    AbstrakTumbuhan pelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.) merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Metabolit sekunder sebagai senyawa bioaktif pada tumbuhan dapat diperoleh melalui kapang endofit tanpa harus mengekstrak dari tumbuhan. Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh kapang endofit dapat berfungsi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi kapang endofit pada tumbuhan pelawan (T. merguensis Griff.) yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah isolasi kapang endofit, pemurnian kapang endofit, uji aktivitas antibakteri kapang endofit, dan uji kandungan senyawa metabolit sekunder kapang endofit. Hasil isolasi didapatkan 10 isolat kapang endofit yang terdiri dari 1 isolat dari bagian akar, 7 isolat dari bagian ranting, dan 2 isolat dari bagian daun. Identifikasi kapang endofit dengan pengamatan makroskopis dan mikroskopis termasuk dalam genus Paecilomyces, Cladosporium, Pestalotiopsis, Aspergillus, dan Penicillium. Isolat kapang endofit yang memiliki respon hambat pertumbuhan terhadap bakteri uji tergolong sedang termasuk genus Penicillium. Hasil uji kandungan senyawa metabolit sekunder kapang endofit tergolong senyawa saponin dan alkaloid. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa senyawa bioaktif pada kapang endofit tumbuhan pelawan dapat dijadikan sebagai antibakteri.AbstractPelawan (Tristaniopsis merguensis Griff.) is a plant that is used as traditional medicine. Secondary metabolites as bioactive compounds in plants can be obtained through endophytic fungi without having to extract them from plants. The metabolites produced by endophytic fungi can function as antibacterial agents. This research aimed to isolate endophytic fungi in pelawan (T. merguensis Griff.) which have potential as antibacterial agents against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. The method order used in this research was isolation endophytic fungi, purification of the isolates, antibacterial activity test, and determination of secondary metabolite compounds of endophytic fungi.  Isolation results obtained 10 isolates of endophytic fungi consisting of 1 isolate from the root, 7 isolates from the branches and 2 isolates from the leaves. Identification through macroscopic and microscopic observations showed they belonged to the genera of Paecilomyces, Cladosporium, Pestalotiopsis, Aspergillus, and Penicillium. The isolates that showed a moderate growth inhibition response included the genus of Penicillium. The secondary metabolites produced by the isolates are classified as saponins and alkaloids. In conclusion, the bioactive compounds in the endophytic fungi from pelawan have the potential to be used as antibacterial agents

    Struktur Anatomi Daun Phyllanthaceae di Kabupaten Banggai Kepulauan

    Get PDF
    Abstrak Pengenalan ciri makhluk hidup dalam praktik identifikasi sebagian besar menggunakan ciri morfologi. Ciri anatomi memperkuat ciri morfologi atau menyelesaikan permasalahan kerancuan identifikasi secara morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter anatomi daun pada 11 spesies famili Phyllanthaceae yang ditemukan di wilayah eksplorasi Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah pembuatan preparat paradermal dan transversal helai dan tangkai daun. Karakter yang diamati pada setiap preparat adalah karakter paradermal yaitu epidermis dan derivatnya, karakter transversal meliputi bentuk dan jumlah lapisan epidermis, mesofil, keberadaan kristal dan karakter khusus spesies serta bentuk berkas pengangkut pada tulang daun dan tangkai daun. Berdasarkan preparat paradermal daun diperoleh tipe daun hipostomatik dengan tipe stomata umumnya parasitik dan anomositik, dan ditemukan variasi tipe stomata anisositik pada Baccaurea nanihua dan Antidesma excavatum. Pada preparat transversal diperoleh tipe daun dorsiventral, bentuk epidermis dan jaringan tiang yang beragam. Pada organ tangkai daun, ditemukan empat tipe berkas pengangkut, yaitu bentuk lonjong dengan dua tambahan berkas pengangkut, bentuk dasar menyerupai ginjal, bentuk semi-lunar, dan bentuk lonjong dengan satu berkas pengangkut. Abstract Morphological characters are commonly used as a tool for plant identification. Anatomical characters can also be used as additional characters to provide strong descriptions of morphological characters and to resolve unclear identification of morphological characters. This study aims to identify leaf anatomical characters of 11 species of Phyllanthaceae family collected from the Banggai Kepulauan Regency. The characters are observed in each slide were paradermal characters, namely epidermis and its derivatives; transverse characters including the shape and number of epidermal layers, mesophyll, presence of crystals and species-specific characters as well as the shape of the vascular bundle on the midrib and petiole. The observation on paradermal section of lamina showed that all species have hypostomatic leaf, parasitic and anomocytic stomata types with variation of the anisocytic types were found in Baccaurea nanihua and Antidesma excavatum.Observation of the transverse section showed dorsiventral leaf types, size variation of upper epidermal cells as well as variations of palisade cells. The observation on transverse section of the petiole showed four types of vascular bundles in the petiole: oval shape along with two small separated vascular, the kidney – like shape, the semi-lunar shape and oval single vascular bundle

    COVER AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 14 NO. 1 APRIL 2021

    No full text

    Pemodelan Kondisi Lingkungan Sag pond Sesar Lembang, Berdasarkan Analisis Kandungan Alga, Lembang, Jawa Barat

    Get PDF
    AbstrakAlga merupakan mikroorganisme fotosintesis yang tidak memiliki tubuh sejati dengan distribusi lingkungan yang sangat luas dan memiliki banyak fungsi, salah satunya sebagai indikator perubahan lingkungan. Wilayah Cekungan Bandung telah dilakukan penelitian dari beberapa aspek. Akan tetapi, penelitian terutama dari aspek alga yang memperlihatkan perubahan lingkungan belum dilakukan pada daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana perubahan lingkungan dari endapan sag pond bekas Danau Bandung pada wilayah Cekungan Bandung menggunakan keberagaman alga dan ukuran butir sedimen. Metode asam dilakukan untuk memisahkan alga dari endapan, serta deskripsi batuan dilakukan untuk melihat ukuran butir endapan pada lokasi penelitian. Analisis data dan pemodelan dilakukan dengan mengelompokkan alga sesuai dengan kondisi habitatnya yang terbagi menjadi kelompok Pinnularia, Euglena, Acrinastrum dan Dinobryon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi penelitian mengalami empat kali perubahan lingkungan yang dibagi kedalam zona-zona dan subzona. Setiap zona tersebut diawali dengan kondisi air tercemar yang ditandai oleh peningkatan kelompok Euglena dan ukuran butir halus dari sedimen. Sedangkan pada bagian akhir, perairan memperlihatkan kondisi air normal yang ditunjukkan dengan peningkatan kelompok Pinnularia dan ukuran butir sedimen yang menjadi lebih kasar.AbstractAlgae is known as a photosynthetic microorganism that don’t have a true body with very broad distributions of the environment. Algae have a lot of functions, one of which is an indicator of environmental change. The Bandung Basin area has been researched from several aspects. However, research especially from the algae aspect that shows environmental changes, has not been carried out in this area. This research was conducted to see how the environmental changes of Lake Bandung sag pond deposits in the Bandung Basin by using algae diversity and grain size deposits. The acetolysis method is carried out to see algae content in the sediment, and rock description is carried out to see the grain size of the sediment in the study area. Furthermore, data analysis and modeling were conducted by grouping algae according to environmental conditions which are divided into Pinnularia group, Euglena group, and other groups. The result showed that the study area occurred four times in environmental changes which were divided into zones and subzones. Each zone initially had polluted water conditions characterized by an increase in Euglena groups and the fine grain size of sediment. While in the end, the waters showed normal water conditions characterized by an increase in Pinnularia group and the grain size of the sediment became coarser

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇