Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
398 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Jenis Nyamuk yang Berpotensi Sebagai Vektor Penyakit (Diptera: Culicidae) di Taman Nasional Baluran, Indonesia
AbstrakNyamuk famili Culicidae berperan sebagai vektor penyakit malaria, demam berdarah, dan demam chikungunya. Resort Labuhan Merak memiliki potensi besar sebagai tempat perindukan berbagai jenis nyamuk, baik sebagai vektor penyakit atau bukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit di Resort Labuhan Merak Kawasan Taman Nasional Baluran berdasarkan karakteristik morfologi. Pengambilan koleksi nyamuk dewasa dilakukan dengan metode landing collection. Nyamuk ditangkap dengan cara koleksi aktif menggunakan aspirator. Lokasi koleksi pada beberapa titik yaitu di dalam dan luar rumah, di sekitar kandang, serta di rawa. Hasil identifikasi terdapat tujuh jenis nyamuk, yaitu Aedes aegypti, Ae. Albopictus, Ae. indonesiae, Culex quinquefasciatus, Cx. vishnui, Cx. mammilifer, dan Cx. sitiens. Nyamuk Ae. indonesiae paling banyak ditemukan (69,4 %). Sementara itu, jenis nyamuk Cx. vishnui, Cx. mammilifer, dan Cx. sitiens ditemukan sangat sedikit (2,92 %). Ae aegypti dan Ae. albopictus telah diketahui berperan sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya, sedangkan Cx. quinquefasciatus sebagai vektor penyakit filariasis limfatik, dan Cx. vishnui maupun Cx. sitiens sebagai vektor penyakit japanese encephalitis. Hal yang menarik pada penelitian ini adalah belum diketahuinya peran Ae. indonesiae dan Cx. mammilifer sebagai vektor penyakit. Indeks keanekaragaman nyamuk termasuk dalam kategori sedang.Abstract The Culicidae family is one of the mosquito disease vectors such as malaria, dengue fever, and chikungunya fever. Labuhan Merak resort Baluran National Park has great potency for mosquito breeding sites. The research aimed to determine the species of mosquitoes based on morphological characteristics as a disease vector. Mosquitoes were collected by landing collection method and active collection with an aspirator. The collection has been done at several points at the house both inside and outside; around the cage, and at the swamp. The results obtained 7 species of mosquitoes, there were Aedes aegypti, Ae. albopictus, Ae. indonesiae, Culex quinquefasciatus, Cx vishnui, Cx. mammilifer, and Cx. sitiens. Mosquito of A. indonesiae was the most common (69.4 %), while Cx. vishnui, Cx. mammilifer, and Cx. Sitiens were found very few (2.92 %). Ae. aegypti and Ae. albopictus has been known as a vector of dengue hemorrhagic fever and chikungunya, while Cx. quinquefasciatus as a vector of lymphatic filariasis, and Cx. vishnui and Cx. sitiens as a vector of japanese encephalitis disease. The interesting finding from this study is that Ae. indonesiae and Cx. mammilifer are not yet known for their role as disease vectors. The diversity index of the mosquitos’ species showed moderate category
Efek Toksisitas Subakut Serbuk Biji Pepaya (Carica papaya) Varietas ‘Bangkok’ dan ‘California’ Pada Mencit Jantan (Mus musculus) Galur Swiss Webster
AbstrakBiji pepaya memiliki rasa yang pahit, pedas, dan beraroma menyengat sehingga kurang diminati untuk diolah. Bahan tersebut belum banyak dimanfaatkan secara optimal, padahal potensinya sangat besar untuk dijadikan sebagai bahan pengawet makanan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menguji keamanannya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek toksisitas subakut serbuk biji pepaya ‘Bangkok’ dan ‘California’ secara in vivo pada mencit jantan galur Swiss Webster. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen, terdiri dari empat perlakuan serbuk biji pepaya yang dilarutkan dengan CMC 1% (dosis 0, 400, 600, dan 800 mg/kg BB). Semua dosis diberikan pada mencit secara gavage dengan volume 0,1 mL/10 g BB. Perlakuan diberikan setiap hari selama 28 hari. Pada hari ke-29, darah mencit diambil melalui retroorbital untuk diuji SGPT dan SGOT. Perlakuan dosis serbuk biji pepaya tidak berpengaruh terhadap berat badan, kondisi fisik, dan organ visceral mencit, namun meningkatkan kadar SGPT dan SGOT. Peningkatan tersebut masih di bawah ambang batas normal SGOT (70–400 U/L) dan SGPT (25–200 U/L).Abstract Papaya seeds have a bitter, spicy, and pungent aroma so they are less desirable for processing. The material has not been used optimally, even though its potential is to be used as a food preservative. Therefore, research is needed to examine its safety. This study aimed to compare the effect of subacute toxicity of \u27Bangkok\u27 and \u27California\u27 papaya seed powder in vivo on male mice of Swiss Webster strain. The research was conducted using an experimental method, consisting of four treatments of papaya seed powder dissolved in 1% CMC (dose 0, 400, 600, and 800 mg/kg BW). All doses were given to mice by gavage with a volume of 0.1 mL/10 g BW. The treatment was given every day for 28 days. On day 29, the blood of mice was taken retroorbitally to be tested for SGPT and SGOT. The dose of papaya seed powder treatment showed no effect on body weight, physical condition, and visceral organs of mice, but increased levels of SGPT and SGOT. The increase was still below the normal threshold for SGOT (70–400 U/L) and SGPT (25–200 U/L)
Notes on Amydrium zippelianum (Araceae): A Mesmerizing Species From East Malesia
AbstrakAmydrium zippelianum (Araceae) dilaporkan dijumpai di Malesia mulai dari Sulawesi hingga Papua Nugini, namun kini sudah jarang dijumpai. Eksplorasi flora telah dilakukan untuk mengungkap keanekaragaman flora di Kabupaten Banggai Kepulauan, sebuah kepulauan kecil di Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mengumpulkan spesimen A. zippelianum. Eksplorasi flora dilakukan menggunakan metode pengumpulan data taksonomi, bertempat di Pulau Peleng dan Bakalan, Kabupaten Banggai Kepulauan. Material tumbuhan dikoleksi untuk dijadikan spesimen herbarium dan disimpan di Herbarium Bogoriense (BO). Spesimen A. zippelianum yang disimpan di BO dan portal daring kemudian diamati. Sebagai tambahan, pengamatan spesimen herbarium juga dilakukan untuk memperkaya informasi tentang A. zippelianum di Malesia. Peta distribusi disediakan dan data dianalisis secara deskriptif. Terdapat satu spesimen fertil A. zippelianum yang dikoleksi di sekitar Hutan Kokolomboy, Kabupaten Banggai Kepulauan. Di Malesia, A. zippelianum dapat ditemukan di dataran rendah hingga dataran tinggi pada ketinggian mencapai 2.200 mdpl dan sebagian besar ditemukan pada area hutan. Distribusi jenis ini di alam meliputi Sulawesi, Maluku, Papua Nugini, dan Filipina. Tumbuhan ini telah diintroduksi ke Jawa (Kebun Raya Bogor), Bali (Kebun Raya “Eka Karya” Bali), dan Inggris (Royal Botanic Garden, Kew). AbstractAmydrium zippelianum (Araceae) was reportedly found in Malesia, from Sulawesi to Papua New Guinea, but it is rarely seen now. Flora exploration has been conducted to reveal flora diversity in Banggai Kepulauan Regency, a group of small islands in Central Sulawesi Province. This study was aimed to find and collect A. zippelianum specimen. Flora exploration was carried out by applying taxonomy data collecting method in Peleng and Bakalan islands, Banggai Kepulauan Regency. Plant materials were collected for herbarium specimens and deposited in Herbarium Bogoriense (BO). The specimens of A. zippelianum deposited in BO and online portal database were further examined. In addition, observations of herbarium specimens were also done to obtain more information about A. zippelianum in Malesia. A distribution map was provided and data were analyzed descriptively. One fertile specimen of A. zippelianum was successfully collected around Kokolomboy Forest, Banggai Kepulauan Regency. In Malesia, A. zippelianum can be found in lowlands to highlands at elevation up to 2,200 m asl and mostly in forest area. The distribution of this species in nature covers Sulawesi, Maluku, Papua New Guinea, and the Philippines. This plant was introduced to Java (Bogor Botanic Garden), Bali (“Eka Karya” Bali Botanic Garden), and United Kingdom (Royal Botanic Garden, Kew)
Allelopathy of Invasive Species Dioscorea bulbifera L. and Its Effect on Seed Germination of Shorea selanica (Lam.) Blume
AbstrakDioscorea bulbifera L. (Dioscoreaceae) merupakan salah satu tanaman invasif yang menciptakan masalah lingkungan. D bulbifera mengandung alelopati yang memengaruhi proses fisiologis pada spesies lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh alelopati berbagai konsentrasi ekstrak daun dan umbi D. bulbifera L. terhadap perkecambahan biji Shorea selanica (Lam.) Blume. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan sepuluh perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan konsentrasi ekstrak D. bulbifera 25, 50, 75, 100%, dan kontrol. Berdasarkan hasil uji skrining fitokimia, semua metabolit sekunder dalam ekstrak daun menunjukkan hasil yang positif. Senyawa golongan saponin, tanin, flavonoid, dan steroid/terpenoid terdeteksi dengan kuat sedangkan senyawa alkaloid kurang kuat. Senyawa fenol tersebut adalah fenol, 1,2-benzenediol (dalam ekstrak daun) dan fenol, 1,2-benzendiol, 1,4-benzendiol, dan 2-metoksifenol (dalam ekstrak umbi). Berdasarkan uji perkecambahan, ekstrak metanol umbi dan daun D. bulbifera berpengaruh nyata terhadap daya kecambah, koefisien kecepatan berkecambah, dan koefisien keserempakan berkecambah S. selanica. Konsentrasi yang menurunkan viabilitas biji terendah adalah pada konsentrasi 75% dan 100% dengan rata-rata daya kecambah 10,00 ± 6,32 % (pada ektrak umbi) dan 0,00 ± 6,32 % (pada ektrak daun). AbstractDioscorea bulbifera L. (Dioscoreaceae) is one of the most unutilized invasive plants. This plant contains allelopathy that affects the physiological process of native species. This study aimed to discover the type of allelochemical in D. bulbifera and its effect on seed germination of Shorea selanica (Lam.) Blume. The method used was a Completely Randomized Design with ten treatments and three replications. The treatment given was the different concentration of D. bulbifera extract of 25, 50, 75, 100%, and control. Based on phytochemical screening tests, saponin, tannin, flavonoid, and steroid/terpenoid compounds were detected in leaf and tuber extract. The total phenolic in leaf extract was more significant than that in the tuber extract of D. bulbifera but the type of phenolic compounds was lower. The phenolic compounds were phenol, 1,2-benzenediol (in leaf extracts) and phenol, 1,2-benzendiol, 1,4-benzendiol, and 2-methoxyphenol (in tuber extracts). Based on the germination test, it was found that the methanol extract from the tubers and leaf of D. bulbifera significantly affected the germination capacity, coefficient rate of germination, and simultaneity coefficient of germination of S. selanica. It was found that treatment of concentration of 75% and 100% resulted in the lowest seed viability reduction with an average germination rate of 10.00 ± 6.32% (in tuber extracts) and 0.00 ± 6.32% (in leaf extracts)
Struktur Komunitas dan Keanekaragaman Makrobentos di Perairan Teluk Jakarta
AbstrakTeluk Jakarta di perairan Laut Jawa terletak di sebelah utara Provinsi DKI Jakarta memiliki potensi sangat besar baik sumber daya perairannya maupun sebagai pusat aktivitas dan jasa-jasa lingkungan. Potensi pusat aktivitas meliputi sektor industri, perhubungan, perdagangan, perikanan, pariwisata, dan kependudukan. Namun kondisi perairan Teluk Jakarta semakin lama semakin kritis. Kondisi ini berpengaruh terhadap biota makrobentos seperti Mollusca, Crustacea, Echinodermata, dan Polychaeta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas makrobentos dan status pencemaran perairan Teluk Jakarta berdasarkan indikator biologis. Metode pengambilan sampel menggunakan Grab Smith McIntyre sebanyak tiga kali ulangan pada 9 lokasi yang berbeda. Sampel dianalisis untuk memperoleh keanekaragaman dan struktur komunitas makrobentos, indeks keanekaragaman (H’), indeks kemerataan jenis (J’), serta kualitas perairan Teluk Jakarta. Hasil menunjukkan perairan Teluk Jakarta didominasi oleh Polychaeta dengan persentase 53% (422 individu), Mollusca 33%, Crustacea 13%, dan Echinodermata 1% dengan total individu makrobentos, yaitu 793 individu. Kelimpahan makrobentos paling tinggi, yaitu Mollusca jenis Ennucula sp. (186 individu), Crustacea jenis Apseudes sp. (41 individu), dan Echinodermata jenis Aphiuridae (3 individu). Keanekaragaman jenis di perairan Teluk Jakarta termasuk kategori sedang dengan H indeks 1–2, kondisi perairan tercemar sedang, dan indeks kemerataan jenis (J’) makrobentos tinggi dengan nilai indeks >0,75 yang menunjukkan tidak adanya dominansi spesies. Abstract Jakarta Bay is located in the north of DKI Jakarta Province which has enormous potential in its water resources and as a center for environmental services. The center services include the industrial sector, transportation, trade, fisheries, tourism, and population. However, Jakarta Bay waters have suffered critical damage. This condition affects on macrobenthos such as Molluscs, Crustaceans, Echinoderms, Polychaete so the aims of this study is to determine the diversity pollution status of Jakarta Bay based on biological indicators. The sampling method use Grab Smith McIntyre with three replications in 9 different locations. Samples were analyzed to determine the diversity and structure community of macrobenthos, diversity index (H\u27), index of Evenness (J’) and the water quality of Jakarta Bay based on biological indicators. The results show that Jakarta Bay waters are dominated by Polychaete with a percentage of 53% (422 individuals), mollusks 33%, Crustaceans 13%, and Echinoderms 1% with a total of 793 individuals. Crustaceans consist of 23 species which are dominated by Apseudes sp. Mollusks consist of 265 individuals dominated by Ennucula sp and Echinoderms dominated by Amphiuridae. The level of species diversity in the waters of Jakarta Bay is included in the moderate category with H index 1–2, with moderate polluted waters, and the evenness index (J’) is in the high category with an index value >0,75. It indicate the absence of species dominance
Keanekaragaman, Kemerataan, dan Kekayaan Spesies Tumbuhan dari Geosite Potensial Benteng Otanaha Sebagai Rintisan Pengembangan Geopark Provinsi Gorontalo
AbstrakGorontalo mempunyai biodiversitas yang tinggi, dengan ditemukannya berbagai spesies yang bersumber dari flora dan fauna. Biodiversitas merupakan salah satu pilar penting dalam pengembangan Geopark di Provinsi Gorontalo. Tujuan penelitian untuk mengetahui indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, indeks kekayaan spesies tumbuhan di wilayah rintisan Geopark Benteng Otanaha. Metode jelajah dan Point Center Quadrat Metode digunakan untuk ekplorasi jenis tumbuhan. Hasil penelitian mendapatkan 35 spesies, 12 diantaranya memiliki status konservasi, beresiko rendah 9 spesies yakni Lepisanthes rubiginosa, Garuga floribunda, Cascabela thevetia, Gnetum gnemon, Bambusa sp., Eleusine indica, Pennisetum purpureum, Cactus sp., dan Lichen sp., kategori rentan (Clavaria sp.), kategori hampir terancam (Cycas sp.) dan kategori terancam punah (Euphorbia prostrata). H’ tingkat pohon (1,893), tumbuhan bawah (2,0194). H’ tingkat semai dan lichen masing-masing sebesar 1,012 dan 0,239. Indeks kemerataan pada tingkat pohon, tumbuhan bawah, dan semai memiliki nilai masing-masing sebesar 0,822, 0,674, dan 0,92, dan lichen memiliki indeks kemerataanya sebesar 0,345. Indeks kekayaan spesies tumbuhan tingkat pohon, tumbuhan bawah, seedling, dan lichen tergolong dalam kategori rendah. Informasi tentang biodiversitas tumbuhan dari Geosite potensial Benteng Otanaha menjadi data pelengkap untuk percepatan rencana pengusulan Geopark Gorontalo sebagai Geopark Nasional dan sekaligus wujud upaya konservasi agar spesies yang ada tidak mengalami kepunahan atau habis.Abstract Gorontalo has high biodiversity, with the discovery of various species of flora and fauna throughout the province. Biodiversity is one of the important pillars in the development of Geoparks in the province. The present study aimed to determine the indices of diversity, evenness, and richness in the pilot area of Otanaha Fort Geopark. An exploration method and Point Center Quadrat Method (PCQM) for exploring plant species were employed. The results showed 35 species, of which 12 had conservation status, consisting of 9 low-risk species (Lepisanthes rubiginosa, Garuga floribunda, Cascabela thevetia, Gnetum gnemon, Bambusa sp., Eleusine indica, Pennisetum purpureum, Cactus sp., and Lichen sp.), vulnerable (Clavaria sp.), almost threatened (Cycas sp.) and endangered (Euphorbia prostrata). The diversity index H\u27 of tree, understorey, seedling, and lichen levels was 1.893, 2.0194, 1.012, and 0.239, respectively, while the evenness index was 0.822, 0.674, 0.92, and 0.345, respectively. The richness index of tree species, understorey, seedling, and lichen were in the low category. Information on plant biodiversity from the potential geosite of Otanaha Fortress is complementary data to accelerate the plan to propose the Gorontalo Geopark as a National Geopark and a form of conservation efforts for the existing species
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi Pada Produk Bakso Sapi di Kota Kebumen
AbstrakBakso sapi merupakan produk makanan olahan daging sapi yang sangat digemari masyarakat. Harga daging sapi yang relatif tinggi merupakan salah satu faktor utama penjual bakso menggunakan daging babi hutan yang memiliki harga lebih murah sebagai campuran agar biaya produksi lebih murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi adanya cemaran daging babi pada produk bakso sapi yang dijual di Kota Kebumen dan menguji spesifitas primer untuk mendeteksi jenis spesies pada sampel. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan molekuler, yaitu menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer mamalia (MTCB) dan primer spesifik babi (P14). Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 31 sampel yang diisolasi, tidak terdapat bakso sapi yang tercemar daging babi yang ditunjukkan dengan tidak adanya amplifikasi gen target dari primer P14. Penelitian ini ditemukan bahwa primer MTCB dapat mengamplifikasi gen target pada semua sampel, yaitu sitokrom b sampai ~1140 bp, sedangkan kontrol positif (sampel babi) primer P14 mampu mengamplifikasi gen target yaitu PRE-1 sepanjang ~480 bp. Berdasarkan data yang diperoleh pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat kontaminasi cemaran daging babi pada produk bakso di Kota Kebumen.AbstractBeef meatballs are very popular in Indonesia. However, the high price of beef meat available causes several people to deceive consumers. They add extra meat that is less expensive, which is wild pork meat (boar) to suppress the production cost. This research aims to detect the contamination of pork meat in beef meatballs sold in Kebumen and to analyze the fidelity of MTCB and P14 primers to amplify Cytochrome b and PRE-1 genes respectively. This research was conducted by molecular approach in which polymerase chain reaction (PCR) technique was used. The meatball samples were coellected by stratified random sampling. Results showed that no sample obtained contained pork meat and MTCB primer was able to amplify its target gene up to ~1140 bp in all samples. As for P14 primer, it is proven to be very specific in amplifying PRE-1 gene in the positive control up to ~480 bp. This showed that MTCB and P14 have very high fidelity to amplify their target genes. Based on the results, it showed that no pork meat contamination was found in meatballs sold in Kebumen
Keragaman dan Kepadatan Populasi Burung di Kawasan Hijau Cibinong Science Center (CSC) LIPI, Jawa Barat
AbstrakBurung merupakan satwa liar yang berperan penting dalam penyusun rantai makanan, membantu penyerbukan, mengendalikan populasi serangga hama, dan agen penyebar biji yang bermanfaat untuk meregenerasi hutan secara alami. Peran penting terhadap lingkungan yang menjadikan burung sebagai indikator kualitas lingkungan. Cibinong Science Center (CSC) LIPI merupakan kawasan yang seiring waktu mengalami perubahan lanskap karena terdapat bangunan-bangunan baru yang menyebabkan area terbuka hijau menjadi berkurang. Hal tersebut menyebabkan satwa liar kehilangan tempat tinggal, berkembang biak, tempat bermain, dan sumber pakan salah satunya ialah burung. Penelitian ini bertujuan untuk monitoring keanekaragaman dan kepadatan populasi burung di Kawasan CSC LIPI sebagai dampak perkembangan suatu kawasan. Penelitian dilakukan pada Januari-Juli 2020 di Kawasan Hijau CSC LIPI dengan menggunakan metode Point Count. Hasil penelitian ini tercatat sebanyak 40 spesies burung dengan kepadatan populasi tertinggi pada spesies Lonchura punctulata (7,18 ind/ha), Pycnonotus aurigaster (6,43 ind/ha), dan Collocalia linchi (2,76 ind/ha) dan kepadatan populasi terendah pada spesies Arachnothera longirostra, Artamus leucorhynchus, Eurystomus orientalis dengan nilai masing-masing sebesar 0,03 ind/ha. Pola persebaran spesies burung di Kawasan CSC LIPI menunjukkan kategori mengelompok. Seiring berjalannya waktu, keragaman spesies maupun kepadatan populasi akan mengalami penurunan atau peningkatan sesuai dengan ketahanan adaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan dan persaingan dengan organisme lain.Abstract Birds are wild animals that play an important role in building the food chain, helping pollination, controlling insect pest populations, and seed dispersal agents that are useful for natural forest regeneration. An important role in the environment that makes birds an indicator of environmental quality. Cibinong Science Center (CSC) LIPI is an area that over time experiences changes in the landscape because there are new buildings that cause the green open area to decrease. This causes wild animals to lose their homes, breeds, places to play and sources of food, one of which is birds. This study aims to monitor the diversity and density of bird populations in the LIPI CSC area as a result of the development of an area. The study was conducted in January-July 2020 in the green house of CSC-LIPI area using the Point Count method. The results of this study recorded that 40 bird species with the highest population density were Lonchura punctulata (7.18 ind/ha), Pycnonotus aurigaster (6.43 ind/ha) and Collocalia linchi (2.76 ind/ha) and the density the lowest population was Arachnothera longirostra, Artamus leucorhynchus, Eurystomus orientalis with each value of 0.03 ind/ha. The distribution pattern of bird species in the CSC-LIPI area shows clustered categories. Species diversity and population density over time will decrease or increase in accordance with the resilience of adaptation to changes in environmental conditions and competition with other organisms.Keywords: Landscape ecology; Population density; Distribution pattern
Karakteristik Molekuler Kelelawar (Microchiroptera), berdasarkan DNA Mitokondria (Gen COI) di Gua Sukabumi dan Sentul Jawa Barat
AbstrakCytochrome Oxidase I (COI) merupakan salah satu gen mitokondria untuk membantu konstruksi dari pohon filogeni yang dapat bertindak sebagai gen marker. Gen COI memiliki keakuratan dalam mengidentifikasi spesies dan umumnya digunakan sebagai “DNA Barcoding”. Informasi mengenai karakteristik genetik berdasarkan DNA mitokondria pada kelelawar di Sukabumi dan Sentul belum banyak dilaporkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keragaman genetik kelelawar berdasarkan DNA mitokondria dengan penanda Cytochrome Oxidase I (COI) sebagai DNA barcoding. Isolasi DNA total dilakukan menggunakan Kit Dneasy® Blood and Tissue Kit cat no 69504 (50) berdasarkan prosedur Spin-Column Protocol dengan modifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gen COI telah berhasil mengidentifikasi karakteristik spesies. Dua haplotipe didapatkan dari masing-masing populasi. Berdasarkan barcode DNA menunjukkan populasi Sukabumi merupakan spesies Chaerephon plicatus dengan nilai identitas genetik sebesar 97,08%, sedangkan populasi Sentul menunjukkan perbedaan secara genetik dengan spesies Hipposideros larvatus dengan nilai identitas genetik sebesar 94,85%. Identifikasi secara genetik dengan menggunakan gen COI menunjukkan bahwa kelelawar yang berasal Sukabumi adalah spesies Chaerephon plicatus dengan jarak genetik sebesar 3,1%. Kelelawar yang berasal dari Sentul memiliki kedekatan dengan spesies Hipposideros larvatus namun memiliki jarak genetik sebesar 5,2%. AbstractCytochrome Oxidase I (COI) is one of the mitochondrial genes to help the construction of phylogeny trees that can act as marker genes. The COI gene has accuracy in identifying species and is commonly used as "DNA Barcoding". Information about genetic characteristics based on mitochondrial DNA in bats in Sukabumi and Sentul has not been widely reported. The purpose of this study was to determine the genetic diversity of bats based on Mitochondrial DNA with Cytochrome Oxidase I (COI) markers as DNA barcoding. Total DNA isolation was carried out using the Dneasy® Blood and Tissue Kit paint no. 69504 (50) based on the Spin-Column Protocol procedure with modifications. The results of this study indicate that the COI gene has successfully identified species characteristics. Two haplotypes were obtained from each population. Based on DNA barcodes, the population of Sukabumi is a species of Chaerephon plicatus with a genetic identity value of 97.08%, while the Sentul population shows genetic differences with the Hipposideros larvatus species with a genetic identity value of 94.85%. Genetic identification using the COI gene shows that the bats originating from Sukabumi is a spesies Chaerephon plicatus with a genetic distance of 3.1%. The bats originating from Sentul are closely related to the species Hipposideros larvatus but have a genetic distance of 5.2%
The Effect of Betel Leaf Extract on The Growth of Colletotrichum capsici in Red Chili
Abstrak Tanaman cabai merupakan jenis sayuran penting yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi cabai mengalami penurunan yang salah satunya disebabkan oleh Colletotrichum capsici. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih terhadap pertumbuhan C. capsici. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kali pengulangan. Proses ekstraksi daun sirih dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% dan uji antifungi dilakukan dengan metode difusi Kirby-Bauer. Konsentrasi ekstrak daun sirih yang digunakan adalah 5%, 10%, 15%, 20%, dan kontrol negatif menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji One-Way Anova dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun sirih 20% menghasilkan zona hambat terbesar, yaitu 0,84 mm. Berdasarkan hasil pengujian disimpulkan bahwa ekstrak daun sirih memiliki aktivitas antifungi dalam menekan pertumbuhan C. capsici.AbstractChili plants are important vegetables normally used by the community. However, based on the data of Badan Pusat Statistik, chili production is decreasing because of many factors, including Colletotrichum capsici pathogen. This study was aimed to determine the effect of betel leaf extract on the growth of C. capsici. This research was conducted using a completely randomized design with 3 replications. The extraction process was carried out by the maceration method with 96% ethanol solvent and the antifungal test was performed by the Kirby-Bauer diffusion method. The concentration of betel leaf extract used was 5%, 10%, 15%, 20%, and dimethyl sulfoxide (DMSO) was used as the negative control. The data obtained were analyzed statistically using the One-Way Anova test and the Least Significant Difference (LSD) posthoc test. The results of this study showed that the concentration of 20% betel leaf extract produced the largest inhibition zone of 0.84 mm. Based on the test results, it is concluded that betel leaf extract had antifungal activity in suppressing the growth of C. capsici.