Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
Not a member yet
    398 research outputs found

    Keragaman Lima Aksesi Jawer Kotok (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br.) Berdasarkan Morfologi dan Marka RAPD

    Get PDF
     AbstrakJawer kotok (Plectranthus scutellariodes (L) R.Br.) selain berfungsi sebagai tanaman obat, sering digunakan sebagai tanaman hias karena bentuk dan warna daunnya yang indah. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) memiliki lima aksesi Jawer kotok yang belum teridentifikasi keragaman genetiknya. Koleksi tersebut perlu dikarakterisasi untuk mendapatkan data morfologi tanaman yang dapat digunakan sebagai pembanding antartanaman secara cepat. Identifikasi keragaman genetik dapat menggunakan karakter morfologi ataupun marka molekuler seperti Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Penelitian ini bertujuan menganalisis keragaman genetik lima aksesi Jawer kotok berdasarkan karakter morfologi dan marka RAPD. Bahan tanaman yang digunakan adalah lima aksesi Jawer kotok koleksi kebun percobaan Cimanggu BALITTRO, Bogor Jawa-Barat. Karakteristik morfologi yang diamati meliputi habitus, daun, batang, dan bunga. DNA diekstraksi dari daun segar dengan metode CTAB kemudian diamplifikasi menggunakan 20 primer RAPD. Analisa kekerabatan menggunakan metode Gower dan UPGMA dengan software PBSTAT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman pada bentuk daun, bentuk ujung daun, warna daun, dan warna corak daun. Analisis molekuler menunjukkan primer OPK 20, OPB 8, OPD 11, dan OPB 13 merupakan primer dengan polimorfisme tertinggi. Kelima aksesi berdasarkan karakter morfologi dan RAPD memiliki hubungan kekerabatan antara 0,5–0,8. Hubungan kekerabatan terjauh adalah aksesi JK1dan JK5, sedangkan kekerabatan terdekat pada aksesi JK3 dan JK4. Karakter daun merupakan karakter dengan keragaman genetik yang tinggi, dan dapat dijadikan kriteria sebagai penciri utama.AbstractJawer kotok (Plectranthus scutellarioides (L) R.Br.) apart from functioning as a medicinal plant, is often used as an ornamental plant because of the beautiful shape and color of its leaves. The Research Institute for Spices and Medicinal Plants (BALITTRO) has five Jawer kotok accessions whose genetics have not been identified. These collections need to be characterized to obtain plant morphological data that can be used as a quick comparison between plants. Genetic identity can use morphological characters or molecular markers such as Random Appointed Polymorphic DNA (RAPD). This research aims to reveal the genetics of five Jawer kotok accessions based on morphological characters and RAPD markers. The plant materials used were five Jawer kotok accessions from the Cimanggu BALITTRO experimental garden, Bogor, West Java. Morphological characteristics observed include habitus, leaves, stems and flowers. DNA was extracted from fresh leaves using the CTAB method and then amplified using 20 RAPD primers. Relationship analysis uses the Gower and UPGMA methods with PBSTAT software. The research results showed that there was diversity in leaf shape, leaf tip shape, leaf color, and leaf pattern color. Molecular analysis showed that the primers OPK 20, OPB 8, OPD 11, and OPB 13 were the primers with the highest polymorphism. The five accessions based on morphological characters and RAPD have a relationship between 0.5–0.8. The furthest kinship is in accessions JK1 and JK5, while the closest kinship is in accessions JK3 and JK4. Leaf characters are characters with high genetics, and can be used as criteria as main characteristics

    Rambutan Fruit Peel Extract Reduces Abnormal Sperm Morphology in Male Wistar Rats with Obesity

    Get PDF
    AbstractObesity is an accumulation of excessive fat tissue in the body. Excessive fat tissue in the body lead to infertility by increased Reactive Oxygen Species (ROS) and decrease the hormone balance regulation, those things can be affected the process of spermatogenesis, especially sperm morphology. Rambutan peel was known as a source of antioxidants because it has phenolic compounds, so it has a protective effect on free radicals. The research purpose knew the effect of Rambutan Peel Extract (RPE) (Nephelium lappaceum) on abnormal sperm morphology of Wistar rats (Rattus novergicus) percentage induced with a High-Fat Diet (HFD). This study uses True experimental post control group design for this research on 30 male Wistar rats. Samples were divided into 5 groups. Group 1: induced HFD only, Group 2: only given RPE at a dosage of 30 mg/kilogram Body Weight (kg BW), Group 3, 4, and 5: induced HFD and RPE at dosage of 15 mg/kg BW, 30 mg/kg BW, and 60 mg/kg BW feed using sonde. The data were analysed using ANOVA One Way. The result showed that RPE has decreased the abnormal sperm morphology of male Wistar rats at dose of 15 mg/kg BW. This is the first study that observe the effect of RPE administration to sperm morphology of obese and non-obese group of rats, with larger rats’ population, several doses of the RPE extract, and longer time to complete one cycle of rat spermatogenesis.AbstrakObesitas diartikan sebagai akumulasi jaringan lemak berlebihan yang ada di dalam tubuh. Jaringan lemak yang berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan regulasi hormonal dan terbentuknya Reactive Oxygen Species (ROS). Kedua hal tersebut dapat mempengaruhi proses spermatogenesis sehingga dapat menyebabkan infertilitas, terutama pada morfologi sperma. Ekstrak Kulit Rambutan (EKR) diketahui memiliki efek sebagai antioksidan dikarenakan memiliki senyawa fenolik, senyawa tersebut dapat menangkal radikal bebas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian EKR (Nephelium lappaceum) terhadap persentase morfologi abnormal sperma tikus Wistar (Rattus novergicus) yang diinduksi dengan Pakan Tinggi Lemak (PTL). Penelitian ini menggunakan desain True experimental post control group design pada 30 ekor tikus. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1: hanya diberi PTL, Kelompok 2: hanya diberikan EKR dengan dosis 30 mg/kilogram Berat Badan (kgBB), Kelompok 3, 4 dan 5: diinduksi dengan PTL dan EKR dengan dosis 15 mg/kgBB, 30 mg/kgBB, dan 60 mg/kgBB. Pemberian PTL dan EKR dilakukan menggunakan sonde. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA One Way. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EKR dapat menurunkan jumlah morfologi abnormal pada kelompok dengan induksi PLT, dengan dosis yang paling efektif 15 mg/kgBB. Studi ini adalah yang pertama dalam mencari tahu efek pemberian RPE tehadap morfologi spermatozoa pada kelompok tikus obesitas dan tidak obesitas, dengan populasi tikus yang lebih besar, beberapa dosis ekstrak RPE, dan waktu yang lebih lama agar dapat menyelesaikan satu siklus spermatogenesis tikus

    Kajian Morfologi dan Hubungan Panjang Dengan Berat Udang Mantis, Harpiosquilla raphidea (Fabricius, 1798)

    Get PDF
     AbstrakUdang mantis (Harpiosquilla raphidea) memiliki karakter morfologi yang berbeda dengan jenis udang lainnya. Selain itu H. raphidea dikenal sebagai hewan air yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, khususnya di kawasan mangrove Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Pemanfaatan H. raphidea secara ekonomis dianggap perlu diselaraskan dengan kajian morfologi, khususnya yang terkait dengan hubungan panjang dan berat untuk mendukung nilai jual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis morfologi dan pola pertumbuhan H. raphidea. Sampel dikoleksi dari perairan mangrove Pangkal Babu Desa Tungkal 1 Tanjung Jabung Barat. Analisis morfologi menunjukkan bahwa H. raphidea memiliki ciri khas yaitu adanya maksiliped (lengan predator) bercakar tajam dan tidak terdapat perbedaan morfologi antara individu jantan dan betina. H. raphidea yang paling banyak dikoleksi berukuran 168–203mm. Pola pertumbuhan H. raphidea  adalah alometrik negatif yang artinya pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan pertambahan beratnya baik untuk individu jantan maupun betina. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan panjang dan berat H. raphidea dari Perairan Pangkal Babu Tanjung Jabung Barat menunjukkan pola pertumbuhan yang sejalan dengan H. raphidea dari kawasan perairan lainnya di Indonesia.AbstractMantis shrimp (Harpiosquilla raphidea) has morphological characteristics that are different from other types of shrimp. Apart from that, H. raphidea is known as an aquatic animal that has high economic value, especially in the West Tanjung Jabung mangrove area, Jambi Province. The economic use of H. raphidea is considered to need to be harmonized with morphological studies, especially those related to the relationship between length and weight to support selling value. This study aims to analyze the morphology and growth patterns of H. raphidea. Samples were collected from the mangrove waters of Pangkal Babu, Tungkal 1 Tanjung Jabung Barat Village. Morphological analysis shows that H. raphidea has distinctive characteristics, namely the presence of maxilipeds (predatory arms) with sharp claws and there are no morphological differences between male and female individuals. The most commonly collected H. raphidea measures 168–203mm. The growth pattern of H. raphidea is negative allometric, which means that the increase in length is faster than the increase in weight for both male and female individuals. So it can be concluded that the relationship between length and weight of H. raphidea from the Pangkal Babu waters of West Tanjung Jabung shows a growth pattern that is in line with H. raphidea from other water areas in Indonesia.

    Analisis Gen tufA Secara In Silico Untuk Primer Identifikasi Mikroalga Trebouxiophyceae

    Get PDF
    AbstrakPenelitian belakangan ini menunjukkan bahwa di antara mikroalga yang memiliki kandungan lipid tinggi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel, termasuk ke dalam kelas Trebouxiophyceae.  Kesederhanaan sel dan bentuknya yang mudah berubah menjadikannya sulit diidentifikasi secara morfologis. Oleh karena itu, identifikasinya perlu didampingi dengan metode molekuler yang mengamplifikasi gen dengan polymerase chain reactions (PCR). Metode PCR membutuhkan primer yang membatasi area pada DNA yang akan diamplikasi. Gen yang berpotensi dijadikan penanda identifikasi adalah tufA karena memiliki urutan yang lestari. Penelitian ini bertujuan mengajukan primer berdasarkan gen tufA untuk identifikasi Trebouxiophyceae. Sekuen gen tufA dikumpulkan dari database, disejajarkan, dan diamati area yang lestari untuk diambil kandidat primer. Kemudian primer forward dan reverse dipasang-pasangkan sambil diperiksa untuk diperoleh kandidat dengan sifat-sifatnya terbaik. Ada 5 pasangan kandidat yang dihasilkan yang kemudian diperiksa spesifisitasnya dalam menjaring anggota genus dari Trebouxiophyceae, dan juga yang bukan Trebouxiophyceae (Chlorophyceae dan Ulvophyceae) sebagai pembanding. Pasangan primer yang terbaik diusulkan dari penelitian ini adalah pasangan primer tufA. Trebo1 yang terdiri atas primer forward 5’-GAAAGTGTTGCTGGTGATAATGTTGG-3’ dan reverse 5’-GGAGTATGTCGACCACCTTCTTC-3’ yang menjaring 75% Trebouxiophyceae di GenBank. Pasangan primer ini menjaring lebih banyak Trebouxiophyceae dibandingkan dengan primer tufA yang pernah dipublikasi, namun memerlukan optimasi kondisi PCR untuk meminimalkan potensi terjadinya struktur sekunder. Dengan demikian, area lestari pada gen tufA berpotensi dijadikan primer untuk identifikasi Trebouxiophyceae.AbstractRecent research showed that microalgae having high lipid content to be used as raw materials for biodiesel belong to the class Trebouxiophyceae.  The simplicity of the cell and its easily changing shape make it difficult to identify morphologically. Therefore, its identification needs to be accompanied by molecular methods that amplify genes with polymerase chain reactions (PCR). The gene that could potentially be used as an identification marker is tufA because it has a conserved sequence. This study aims to propose a primer pair based on the tufA gene for the identification of Trebouxiophyceae. The sequences of the tufA gene were collected from a database of Trebouxiophyceae, aligned, and observed in conserved areas for primer candidates. Then the primary forward and reverse are mounted while checking for the candidate with the best properties. Five candidate pairs were produced, which were then tested for their specificity to bring in members of the Trebouxiophyceae, as well as non-Trebouxiophyceae (Chlorophyceae and Ulvophyceae) as comparisons. The best proposed primary pairs from this study were the primer pair tufA.Trebo1 which consists of the forward 5’-GAAAGTGTTGCTGGTGATAATGTTGG-3’ and the reverse 5‘-GGAGTATGTCGACCACCTTCTTc-3’ that capture 75% of the Trebouxiophyceae in the GenBank. This primer pair contains more Trebouxiophyceae than any previously published tufA primer but requires optimization of PCR conditions to minimize the occurrence of secondary structures. Therefore, the conserved area in the tufA gene has the potential to be used as a primer for identifying Trebouxiophyceae

    Pengaruh Kondisi Lahan Kering Tanpa Olah Tanah Terhadap Kelimpahan Gulma

    Get PDF
    AbstrakGulma merupakan salah satu masalah utama dalam sistem budi daya tanaman, khususnya di lahan kering. Oleh karena itu, pengetahuan tentang pengolahan tanah di lahan kering dengan tanpa olah tanah akan memberikan informasi berguna dalam pengelolaan gulma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan gulma berdasarkan golongan dan spesies gulma, bobot kering gulma, dan rasio dominansi gulma pada lahan tanpa olah tanah (TOT) di lahan kering. Rancangan lapang yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Observasi dan pengambilan sampling dilakukan melalui pengamatan gulma pada waktu 0, 2, 4, 6, 8, dan 10 minggu. Komponen kelimpahan gulma yang diamati meliputi jumlah gulma, bobot kering gulma dan rasio dominansi gulma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gulma golongan daun lebar memiliki jumlah spesies tertinggi namun dengan dominasi yang setara dengan gulma golongan rumput. Cynodon dactylon merupakan spesies paling dominan yang tumbuh di lahan kering tanpa olah tanah yang konsisten di setiap waktu pengamatan dengan jumlah >500, nilai rasio dominansi gulma >10, dan bobot kering biomassa >12 g. Implikasi dari penelitian ini adalah mengetahui pola pertumbuhan gulma di lahan kering tanpa olah tanah dalam upaya pengendaliannya untuk kepentingan budi daya pertanian.Abstract Weeds are one of the main problems in cropping systems, especially on dry land. Therefore, the knowledge of soil tillage in dryland areas with no-till will provide svaluable information in weed management. The objective of this study was to determine the abundance of weeds based on weed types and species, weed dry weight, and summed dominance ratio in dryland conditions with no-till. The field design used was a randomized block design with three replications. Observation and sampling were conducted by observing weeds at a time of 0, 2, 4, 6, 8, and 10 weeks. Weed abundance components observed included the number of weeds, summed dominance ratio, and dry weight of weeds. The results showed that the broadleaf weeds had the highest number of species, but the dominance was equivalent to the grass weeds. Cynodon dactylon was the most dominant and consistent species that grew in dryland with no-till with the number of species >500, summed dominance ratio >10, and biomass dry weight >12 g at each observation time. The implication of this study was to know the pattern of weeds growing in dryland área with no-till to control weeds for cropping systems purposes

    Potential Medicinal Plant Species For Fever Used by Minangkabau Ethnic at Nagari Taruang-Taruang, West Sumatra, Indonesia

    Get PDF
    AbstractFever is a symptom of illness that is commonly found in the Minangkabau ethnic community. This way, the Minangkabau ethnic community has local knowledge of utilizing plants to cure fever. The purpose of this study was to obtain species of plants used by the Minangkabau ethnic community in the treatment of diseases with symptoms of fever, as well as their potential as modern medicinal ingredients. The research method was carried out by using the open, semi-structural, and participatory observation techniques. Interviews were conducted with 9 key informants selected by purposive sampling and 126 respondents selected by snowball sampling. Data were analyzed qualitatively with descriptive statistic and quantitatively by calculating the Cultural Significance Index (CSI) and fidelity value. The medicinal plants used were 40 species from 22 families. The most used families were Euphorbiaceae (5 species), Musaceae, and Poaceae (each of 4 species), and Rubiaceae (3 species). Cocos nucifera had the highest CSI value, indicating the species was widely used in Minangkabau community. Based on the value of fidelity, 70% value was obtained by 4 plants to treat fever, namely Costus speciosus, Kalanchoe pinnata, Sacciolepeis interrupta, and Enhydra fluctuans. The four plants have the potential to be further developed into modern medicinal ingredients.AbstrakDemam merupakan gejala sakit yang umum ditemukan pada masyarakat etnis Minangkabau. Masyarakat etnis Minangkabau memiliki pengetahuan lokal dalam memanfaatkan tumbuhan untuk penyembuhan demam. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh jenis tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat etnis Minangkabau dalam pengobatan penyakit dengan gejala demam, serta potensinya sebagai bahan obat modern. Metode penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terbuka, semistruktural dan observasi partisipasif. Wawancara dilakukan pada 9 orang informan kunci yang dipilih secara purposive sampling dan 126 orang responden yang dipilih menggunakan snowball sampling. Data dianalisis secara statistika deskriptif dan kuantitatif dengan menghitung nilai kultural (Index of Cultural Significance) dan nilai Fidelitas. Tumbuhan yang obat yang dimanfaatkan sebanyak 40 jenis yang berasal dari 22 suku. Famili terbanyak yang dimanfaatkan yaitu Euphorbiaceae (5 jenis), Poaceae dan Musaceae (masing masing 4 jenis), dan Rubiaceae (3 jenis). Cocos nucifera merupakan tumbuhan obat dengan nilai kultural (CSI) tertinggi. Berdasarkan nilai fidelitas terdapat 4 tanaman yang memiliki nilai 70% dalam penyembuhan demam, yaitu Costus speciosus, Kalanchoe pinnata, Sacciolepeis interrupta, dan Enhydra fluctuans. Keempat tanaman tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan obat modern

    COVER AL-KAUNIYAH: JURNAL BIOLOGI VOL. 15 NO. 1 APRIL 2022

    No full text

    Prediksi Potensi Koleksi Kebun Raya Purwodadi Sebagai Anti-Coronavirus: Sebuah Kajian Literatur

    Get PDF
    AbstrakSARS-CoV-2 dikenal sebagai agen penyebab COVID-19. Penyakit ini pertama kali muncul di Cina yang dalam beberapa bulan telah menyebar secara masif ke 198 negara lain termasuk Indonesia, dan menyebabkan pandemik global. Sekalipun vaksin telah ditemukan namun laju mutasi virus yang sangat cepat menjadikannya kurang efektif. Beberapa dekade terakhir, para ilmuwan telah mengidentifikasi senyawa-senyawa tumbuhan yang mempunyai potensi sebagai aktivitas anti-coronavirus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji senyawa aktif yang dapat menghambat aktivitas coronavirus dan menentukan koleksi tumbuhan Kebun Raya Purwodadi yang mengandung senyawa tersebut. Penelitian dilakukan melalui review dan kompilasi berbagai literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KR Purwodadi memiliki 49 jenis, 38 marga, dan 24 suku koleksi tumbuhan yang diprediksi mengandung 12 jenis senyawa anti-coronavirus, yaitu amentoflavone, beta-sitosterol, betulinic acid, curcumin, emodin, epigallocatechin gallate, eucalyptol, hinokinin, kaempferol, luteolin, myricetin, dan quercetin. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki potensi dalam menyediakan bahan obat alami terhadap penyakit di dunia, sehingga kelestariannya perlu untuk terus dijaga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan penelitian selanjutnya dalam mencari tumbuhan yang paling berpotensi sebagai anti-coronavirus.Abstract SARS-COV-2 is known as the causing agent of COVID-19. It first appeared in China and in just a few months it spread massively to 198 other countries including Indonesia and caused a global pandemic. Even though the vaccine has been found, the rapid mutation rate of the virus makes it less effective. In the last few decades, scientists have identified the plant compounds as having potential as anti-coronavirus. The purpose of this study was to examine active compounds having the activity of coronavirus inhibition and to determine the living collections of Purwodadi Botanic Garden containing those compounds. The study was conducted through a review and compilation of various related literature. The results showed that Purwodadi BG had 49 species, 38 genera, and 24 families of living collections predicted to contain 12 types of anti-coronavirus compounds, namely amentoflavone, beta-sitosterol, betulinic acid, curcumin, emodin, epigallocatechin gallate, eucalyptol, hinokinin, kaempferol, luteolin, myricetin, and quercetin. It shows that plants are potential to provide natural medicinal ingredients against diseases in the world so their sustainability needs to be maintained. The results of this study are expected to be a reference for further research in finding most potential plants as anti-coronavirus

    Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica rapa L.) dengan Pupuk Organik Berbahan Azolla pinnata dan Telur Keong Mas (Pomacea cannaliculata)

    Get PDF
    AbstrakSawi hijau (Brassica rapa L.) merupakan sayuran yang memiliki nilai ekonomis karena banyak digemari oleh masyarakat, sehingga budi dayanya membutuhkan pemupukan yang menunjang pertumbuhannya. Penggunaan pupuk organik cair memiliki keunggulan cepat diserap oleh tanaman. Azolla pinnata dan telur keong mas (Pomacea cannaliculata) dapat menjadi kandidat pupuk cair karena mengandung unsur hara tinggi berupa sumber nitrogen, fosfat, dan kalium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk A. pinnata dan P. cannaliculata berbeda konsentrasi terhadap pertumbuhan dan produktivitas sawi hijau. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 3 x 3 yang terdiri dari 9 perlakuan dan 6 kali ulangan. Konsentrasi pupuk A. pinnata adalah 0 mL/L, 100 mL/L, dan 150 mL/L, sedangkan konsentrasi pupuk P. cannaliculata adalah 0%, 15%, dan 45%. Parameter pengamatan berupa tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, berat kering, panjang daun, lebar daun dan klorofil total. Dana dianalisis menggunakan analisis variansi dan Duncan Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pupuk Azolla pinata dan P. cannaliculata tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah, berat kering, lebar daun, panjang daun, dan kadar klorofil total. Namun demikian, pemberian pupuk secara terpisah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan sawi hijau, dengan penggunaan yang disarankan 100 mL/L air A. pinnata dan 45% P. canaliculata.Abstract Green mustard (Brassica rapa L.) is a vegetable has economic value because it is favored by the community, so its cultivation requires fertilization to support its growth. The use of liquid organic fertilizer has the advantage of being quickly absorbed by plants. Azolla pinnata and golden snail eggs (Pomacea cannaliculata) can be candidates for liquid fertilizer because they contain high nutrients in the form of nitrogen, phosphate and potassium. The study aims to determine the effect of A. pinnata and gold snail eggs as fertilizers with different concentrations on the growth and productivity of green mustard. The research used a factorial Completely Randomized Design (CRD) of 3 x 3 consisting of 9 treatments and 6 replications. Concentrations of A. pinnata were 0 mL/L, 100 mL/L, and 150 mL/L, while P. cannaliculata were 0%, 15%, and 45%. Parameters observed included plant height, number of leaves, wet weight, dry weight, chlorophyll content, leaves width and length. Data obtained were analyzed using the analysis of variance and Duncan Multiple Range Test. Result showed that combination of Azolla pinnata and P. canaliculata had no significant effect on plant height, the number of leaves, wet weight, dry weight, leaf width, leaf length, and total chlorophyll content. However, the application of fertilizer separately showed a positive effect on the growth of the plant, with the recommended use of A. pinnata at 100 mL/L of water and P. canaliculata at 45%

    Aktivitas Antibakteri Kapang Endofit dari Tangkai Daun Tanaman Kayu Jawa (Lannea coromandelica)

    Get PDF
    AbstrakKapang endofit telah banyak ditemukan pada berbagai jaringan tanaman. Pemanfaatan kapang endofit dapat menjadi solusi untuk mengurangi eksploitasi tumbuhan yang berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan kapang endofit pada tangkai daun tanaman Kayu Jawa Lannea coromandelica dan potensinya sebagai agen antibakteri. Isolasi dilakukan dari tangkai tanaman Kayu Jawa dan isolat yang berhasil diperoleh dikarakterisasi secara makroskopis dan mikroskopis. Uji penapisan pada semua isolat dengan bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa untuk mendapatkan isolat yang berpotensi sebagai agen antibakteri. Ekstraksi isolat terpilih dilakukan dengan pelarut metanol (MeOH) dan pelarut etil asetat (EtOAc). Pengujian antibakteri menggunakan tiga bakteri uji, yaitu Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan Salmonella typhi. Hasil penelitian terdapat enam isolat yang berada di jaringan tangkai daun tanaman Kayu Jawa, yaitu PLC.1.A, PLC.1.B, PLC.2, PLC.3, PLC.4, dan PLC.5. Hasil uji penapisan menunjukkan isolat PLC.4 yang menjadi kandidat antibakteri pada penelitian ini. Fraksi MeOH memiliki aktivitas antibakteri lebih tinggi dibanding fraksi EtOAc pada semua bakteri uji dan kontrol positif (kloramfenikol) pada bakteri P. aeruginosa. Ekstrak MeOH isolat PLC.4 memiliki aktivitas antibakteri yang berpotensi sebagai sumber antibiotik baru.Abstract Endophytic fungi have been found in various plant tissues. The utilization of endophytic fungi can be a solution to reduce the exploitation of plants that are potential sources of bioactive compounds. This study aims to determine the presence of endophytic fungi on the petiole tissue of Kayu Jawa plants (Lannea coromandelica) and their potential as an antibacterial agent. Isolation and characterization of isolates was conducted macro- and microscopically. Screening test is carried out on the isolates against Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa bacteria to obtain isolate that has the potential as an antibacterial agent. The extraction of selected isolates was carried out using methanol (MeOH) and ethyl acetate (EtOAc) solvents. Antibacterial examination used three test bacteria: Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi. The results showed that six isolates were found in the petiole tissue of L. coromandelica, namely, PLC.1.A, PLC.1.B, PLC.2, PLC.3, PLC.4, and PLC.5. Screening result showed that PLC.4 isolate was a candidate for antibacterial agent in this study. The MeOH fraction had higher antibacterial activity than the EtOAc fraction in all tested bacteria and from positive control (chloramphenicol) on P. aeruginosa bacteria. In conclusion, the MeOH extract of PLC.4 isolate has antibacterial activity potential as a source of new antibiotics

    359

    full texts

    398

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Al-Kauniyah: Jurnal Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇