Kumara Cendekia: Jurnal Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MEDIA DAMKAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS ANAK USIA 5-6 TAHUN
Berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan kognitif yang perlu ditingkatkan di pendidikan abad 21 ini. Kemampuan berpikir kritis penting untuk dikembangkan sebagai dasar kehidupan mendatang, yaitu mencakup tentang pengambilan keputusan dalam memecahkan masalah dimulai dari lingkungan sekitar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui validitas kelayakan dan keefektifan media Damkar (video animasi mitigasi kebakaran) dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis anak usia 5-6 tahun. Jenis penelitian ini yaitu Research and Development dengan menggunakan model ADDIE. Penelitian ini dilakukan dengan teknik penelitian data observasi dan angket pada subjek penelitian sebanyak 20 anak usia 5-6 tahun. Validitas media dilakukan melalui uji validasi ahli materi dengan skor 81,8%, dan validasi skor validasi ahli media 90% yang artinya media video animasi mitigasi kebakaran sangat layak digunakan. Uji efektivitas dilakukan dengan uji Wilcoxon SPSS 22 dan menunjukkan asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,000 dengan nilai signifikansi < 0,05 atau 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya terdapat perbedaan signifikan pada pre-test dan post-test sehingga dapat dikatakan bahwa media Damkar efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis anak usia 5-6 tahun
PENGARUH SELF REGULATED LEARNING TERHADAP DISIPLIN DIRI ANAK USIA 5-6 TAHUN
Usaha dalam proses pendidikan menuju jenjang selanjutnya disebut dengan masa transisi. Keberadaan masa transisi menjadi bagian penting dalam kesiapan sekolah untuk beradaptasi di sekolah dasar. Kesiapan sekolah diwujudkan melalui proses pemenuhan masa transisi yang optimal dengan memerhatikan adanya beberapa dimensi kesiapan sekolah anak, salah satunya adalah disiplin diri. Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh self-regulated learning terhadap disiplin diri anak usia 5-6 tahun karena pelaksanaannya masih belum optimal. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain one group pre-test post-test. Subjek penelitian berjumlah 21 anak kelompok B di salah satu TK di Kecamatan Banjarsari. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan lembar instrumen behavioral checklist. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji Shapiro Wilks dengan teknik paired sample t-test. Analisis data hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata post-test meningkat lebih signifikan sebesar 25.71 dibandingkan dengan nilai rata-rata pre-test yaitu 17.19. Hasil uji t memperoleh nilai signifikansi sebesar <0,001 <0,05 yang diartikan terdapat perbedaan signifikan antara data pre-test dan post-test. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh self-regulated learning terhadap disiplin diri anak usia 5-6 tahun. Pendekatan self-regulated learning dapat dijadikan sebagai bahan referensi keilmuan mengembangkan disiplin diri anak dalam memaksimalkan masa transisi menuju tahapan selanjutnya
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA PETANI TERHADAP PENDIDIKAN GIZI ANAK MASA GOLDEN AGE
Pola asuh orang tua, khususnya petani, memiliki peran penting dalam mengenalkan pendidikan gizi sejak dini pada anak. Pendidikan gizi bertujuan membiasakan anak dengan makanan sehat dan bergizi, dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga. Pola asuh keluarga petani relevan dalam mendorong pemerataan pemahaman gizi, mengingat profesi petani banyak dijumpai di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode ex-post facto dengan 44 orang tua petani yang memiliki anak usia 3–6 tahun di TK DW 1 dan 2 Kabupaten M. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan data dianalisis dengan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan korelasi yang sangat lemah (R = 0,030) dan model regresi yang tidak signifikan (p = 0,850). Artinya, pola asuh orang tua petani tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pendidikan gizi pada masa golden age. Kesimpulannya, hubungan antara pola asuh dan pendidikan gizi tergolong lemah dan tidak signifikan, yang kemungkinan dipengaruhi oleh kebiasaan budaya serta akses informasi gizi yang terbatas. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan metodologi yang lebih kuat dan sampel lebih besar agar memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh pola asuh terhadap pendidikan gizi anak usia dini
MEDIA BERMAIN MISSION CARD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA 5-6 TAHUN
Kemampuan sosial emosional merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh anak. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk media bermain mission card yang sesuai berdasarkan hasil validasi ahli materi, media, praktisi dan pengguna dalam meningkatkan kemampuan sosial emosional anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development dengan model ADDIE. Populasi pada penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun di 3 lembaga TK daerah Kota Malang dengan sampel berjumlah 38 anak yang terdiri dari 8 anak sebagai sampel pada uji coba kelompok kecil dan 30 anak sebagai sampel pada uji coba kelompok besar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data kualitatif dan kuantitatif yang terdiri dari observasi, wawancara dan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah analasis data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian berdasarkan validasi ahli media memperoleh persentase 94,79%, ahli materi memperoleh persentase 93,75%, ahli praktisi memperoleh 84,84%. Hasil uji coba kelompok kecil yang dilakukan pada 8 anak memperoleh persentase 95,31%, sedangkan uji coba kelompok besar yang dilakukan pada 30 anak memperoleh persentase 86,66%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa media memiliki kalayakan untuk digunakan sebagai media bermain dalam meningkatkan kemampuan sosial emosional anak usia 5-6 tahun
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DISIPLIN, MANDIRI, TANGGUNGJAWAB DALAM PILAR INDONESIA HERITAGE FOUNDATION (IHF) ANAK USIA DINI
Pendidikan karakter anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun melalui pemberian rangsangan. Namun, dalam membentuk sikap anak menjadi pribadi yang baik perlu diperhatikan bahwa anak kecil belum banyak mengetahui bagaimana berperilaku yang dapat diterima secara sosial. Oleh karena itu, pendidikan harus mengembangkan karakter anak melalui pendidikan karakter sejak dini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter anak RA Al-Qudwah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan subjek berusia 3-4 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Pendidikan karakter dalam pilar IHF dilakukan menggunakan konsep knowing, feeling, dan acting yang dilakukan melalui pembiasaan sehari-hari dimulai dari anak datang ke sekolah, kegiatan pembuka, kegiatan inti, hingga kegiatan penutup. Karakter yang baik didukung oleh pengetahuan yang baik, keinginan untuk berbuat baik, dan perbuatan yang baik. Selain itu dukungan yang baik dari keluarga, orang tua, masyarakat, dan pemerintah dapat menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik karakter anak sejak dini
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA LOOSE PARTS TERHADAP PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK USIA 5-6 TAHUN
Pembelajaran di sekolah masih menggunakan metode berceramah konvensional dan berpusat pada guru. Saat belajar, anak belum menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif dan selalu bertindak menunggu arahan dari guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media loose parts dalam mengembangkan kreativitas anak usia dini (5-6 tahun). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif quasi experiment dengan desain penelitian one-group pretreatment-posttreatment, yaitu dengan satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding. Sampel penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun yang berjumlah 16 anak. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi berupa checklist dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikan U hitung = 0,000 ˂ U tabel = 0,05 maka menghasilkan hipotesis Ha diterima, yang artinya terdapat pengaruh dari penggunaan media loose parts terhadap pengembangan kreativitas anak usia dini (5-6 tahun). Penelitian ini melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan media loose parts, yaitu anak-anak dapat bebas berkreasi menghasilkan karya baru sesuai dengan imajinasinya sehingga kreativitas anak dapat berkembang
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MEDIA POHON HURUF TERHADAP KEMAMPUAN LITERASI KEAKSARAAN ANAK
Kemampuan literasi keaksaraan merupakan fondasi penting dalam perkembangan anak usia dini. Namun pembelajaran literasi di PAUD seringkali masih bersifat konvensional dan kurang melibatkan partisipasi aktif anak. Salah satu pendekatan alternatif yang dinilai efektif adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), yang mendorong anak untuk berpikir kritis melalui pemecahan masalah nyata. Untuk meningkatkan daya tarik dan efektivitas pembelajaran, digunakan juga media pohon huruf sebagai alat bantu visual yang menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran problem based learning yang dipadukan dengan media pohon huruf terhadap kemampuan literasi keaksaraan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental. Populasi penelitian adalah seluruh anak didik kelas B. Sampel dipilih secara purposive, terdiri dari 20 anak yang dibagi menjadi dua kelompok: 10 anak pada kelompok eksperimen dan 10 anak pada kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji nonparametrik Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan literasi keaksaraan yang lebih tinggi pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Rata-rata skor post-test kelompok eksperimen mencapai 20,00, sedangkan kelompok kontrol hanya 13,60. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-tailed) sebesar 0,003 < 0,05, yang berarti H₀ ditolak dan H₁ diterima. Hal ini mengindikasikan bahwa model PBL dengan media pohon huruf memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan literasi keaksaraan anak. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan media pohon huruf efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi keaksaraan anak usia dini. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah guru PAUD dapat menggunakan pendekatan ini sebagai alternatif pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan berdampak positif pada perkembangan literasi anak
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA EKSPRESIF ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI DIGITAL STORYTELLING
Aspek perkembangan bahasa anak menjadi hal yang penting sebagai sarana berkomunikasi antara satu pihak dengan pihak yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah menggunakan teknik digital storytelling untuk meningkatkan kemampuan berbahasa ekspresif siswa usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah unjuk kerja, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Triangulasi sumber dan triangulasi teknik digunakan dalam uji validasi penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan digital storytelling terdapat peningkatan pada bahasa ekspresif anak yaitu pada pratindakan sebesar 15,38%, siklus I sebesar 57,69% dan siklus II sebesar 76,92%. Keberhasilan anak menceritakan kembali cerita sesuai yang diperdengarkan sebagai unjuk kerja melalui pengamatan sebagai bukti peningkatan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan metode pembelajaran dengan digital storytelling dapat meningkatkan kemampuan bahasa ekspresif anak
BODY AWARENESS SEBAGAI FONDASI REGULASI DIRI: EKSPLORASI PERILAKU ANAK USIA DINI DALAM BERMAIN KELOMPOK
Body awareness atau kesadaran tubuh, memungkinkan anak mengenali batasan fisik, memahami sinyal tubuh, serta mengintegrasikan pengalaman sensori dalam pengambilan keputusan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran body awareness sebagai fondasi regulasi diri dalam perilaku anak usia dini saat bermain kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif terhadap aktivitas bermain anak dan wawancara mendalam dengan guru PAUD di sebuah TK di Depok. Seluruh data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis tematik, yang melibatkan proses mengkodekan, mengkategorikan, dan mengidentifikasi pola temuan yang relevan dengan konsep body awareness dan regulasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki kesadaran tubuh yang baik lebih mampu mengatur emosi, menjaga batasan fisik, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif dalam permainan kelompok. Guru berperan dalam membentuk body awareness melalui kegiatan reflektif, permainan sensori, dan komunikasi empati. Temuan ini menjelaskan bahwa body awareness merupakan bagian penting dalam pendidikan sosial-emosional anak usia dini. Penelitian merekomendasikan integrasi body awareness ke dalam kurikulum PAUD secara eksplisit, serta pelatihan guru untuk mendukung pengembangan regulasi diri anak melalui pendekatan berbasis tubuh dan pengalaman bermain
PENGARUH USIA GURU TERHADAP KUALITAS PEMBELAJARAN LEMBAGA PAUD DI KECAMATAN GUNUNG PATI
Penelitian ini dilatar belakangi oleh hasil observasi mengenai usia guru TK terkait kualitas pembelajaran pada lembaga pendidikan anak usia dini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh usia guru TK terhadap kualitas pembelajaran pada lembaga PAUD di Kecamatan Gunung Pati Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post-facto. Data dikumpulkan melalui angket yang terdiri dari 58 butir pernyataaan yang diisi oleh 62 responden guru TK. Instrumen disusun berdasarkan enam aspek kualitas pembelajaran, yaitu kurikulum, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, proses pembelajaran, kemitraan, dan evaluasi. Analisis data menggunakan regresi linier sederhana untuk melihat pengaruh antara usia guru TK sebagai variabel bebas terhadap kualitas pembelajaran sebagai variabel terikat. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara usia guru TK dengan kualitas pembelajaran. Baik guru yang berusia 20-39 tahun (dewasa awal) maupun guru berusia 40-60 tahun (dewasa tengah) sama-sama menunjukkan tingkat kualitas pembelajaran yang relatif seimbang. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa dalam konteks pendidikan anak usia dini, kualitas pembelajaran lebih ditentukan oleh pendekatan pedagogis, sensivitas terhadap perkembangan anak, serta kemampuan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap perumusan kebijakan pengembangan profesional guru yang lebih menekankan pada kompetensi dan pendekatan pengajaran