AKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
174 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN STRUKTUR FRASE EKSOSENTRIS DIREKTIF DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL NEGERI 5 MENARA (A. FUADI) DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA
This study focused on the use of exocentric directive phrase structure and its function in the discourse of Negeri 5 Menara novel. The instrument of this research is the researcher himself assisted with the analysis table. The results of this study indicate there are 1280 directive exocentric phrases studied based on the structure pattern and its meaning in Negeri 5 Menara novel. The most common place meaning is the positional place in the most common pattern of Prep. Basic (di) + N. This is due to the meaning of the exocentric directive phrase determined from the preposition it uses. The results of this study can be implied in basic competence learning that directs senior high school students to have the competence of analyzing phrase in Curriculum 2013.
Keywords: exocentric directive phrase, Negeri 5 Menara, language learning
Abstrak
Penelitian ini difokuskan penggunaan struktur frase eksosentris direktif dan fungsinya dalam wacana novel Negeri 5 Menara. Instrumen penelitian ini yaitu peneliti sendiri dibantu dengan tabel analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 1280 frase eksosentris direktif yang dikaji berdasarkan pola struktur dan maknanya dalam novel Negeri 5 Menara. Makna tempat yang paling sering muncul adalah makna tempat posisional dalam pola yang paling sering muncul yaitu Prep. Dasar (di) + N. Hal ini disebabkan makna frase eksosentris direktif ditentukan dari preposisi yang digunakannya. Hasil penelitian ini dapat diimplikasikan dalam pembelajaran kompetensi dasar yang mengarahkan siswa SMA untuk memiliki kompetensi menganalisis frase novel dalam Kurikulum 2013.
Kata kunci: frase eksosentris direktif, Negeri 5 Menara, pembelajaran bahas
PERSEPSI GURU BAHASA INDONESIA TERHADAP PUISI LAMA GURINDAM
The purpose of this research is to obtain a description of the perception of secondary school teachers to gurindam as the old Indonesian literary genre. In addition, also to know the implication of learning it on school. This research use descriptive qualitative method which type expost facto. Data were obtained through questionnaries distributed Indonesian language teachers in secondary school in Jakarta. The focus of this research is the perception of teachers reflected by categories of knowledge, appreciation, and practical. This research data showing that teachers perception of gurindam are positive, based on the high gurindam and willingness of teachers to keep teaching gurindam eventhough in the Curriculum 2013 no longer explicitly written as well as pantun and syair. Research on teacher perception of gurindam is useful for learning and education both formal and nonformal especially in secondary education in Indonesia.
Keywords: teachers perception, old literary, gurindam, Gurindam Dua Belas
Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang persepsi guru sekolah menengah terhadap gurindam sebagai sastra lama Indonesia bergenre puisi. Selain itu, juga untuk mengetahui implikasi pembelajarannya di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berjenis expost facto. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada guru pengajar Bahasa Indonesia di sekolah menengah di wilayah Jakarta. Fokus penelitian ini ialah persepsi guru yang terefleksi berdasarkan kategori pengetahuan, apresiasi, dan praktikal. Penelitian ini menghasilkan data yang menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap gurindam ternilai positif, didasari dengan tingginya pengetahuan dan kesediaan guru untuk tetap mengajarkan gurindam meskipun dalam Kurikulum 2103 tidak lagi secara eksplisit dituliskan seperti halnya pantun dan syair. Penelitian mengenai persepsi guru terhadap gurindam ini bermanfaat bagi pembelajaran dan pendidikan baik formal maupun nonformal, khususnya pada jenjang pendidikan menengah di Indonesia.
Kata kunci: persepsi guru, sastra lama, gurindam, Gurindam Dua Belas
 
KRITIK SOSIAL DALAM NASKAH DRAMA TIK, KARANGAN BUDI YASIN MISBACH: SUATU PENDEKATAN HERMENEUTIK
Research aims to understand social criticism in a manuscript drama Tik, of Budi Yasin Misbach. The research using qualitative descriptive method, text analysis. The research is literature study and use of drama Tik, of Budi Yasin Misbach as an object research. The study is based on sociology literary criticism social with the theory interpreted used the Hans George Gadamer hermeneutic. The theory of social criticism on this research classified into three aspects, namely the economic aspect, political, and socio-cultural. The results of this analysis it can be concluded that the social criticism most dominating in a manuscript Tik,, like criticism on the political social. The results of this study indicate that the social criticism of the political is more dominant than the social criticism of the socio-cultural and economics in the main character. The political aspects this could happen because most dialogue is in a manuscript Tik,, discusses insinuations against not aligned between successors and civilians. The analysis of the text of the drama are exploring social element of the criticism that is part of the extrinsic element in literary learning.
Keywords: social criticism, drama, Tik, , hermeneutic
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kritik sosial dalam naskah drama Tik, karangan budi Yasin Misbach. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, analisis teks. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dan menggunakan naskah drama Tik, karangan Budi Yasin Misbach sebagai objek penelitian. Analisis dilakukan berdasarkan kajian sosiologi sastra dengan teori kritik sosial yang ditafsirkan menggunakan pendekatan hermeneutik Hans George Gadamer. Teori kritik sosial pada penelitian ini diklasifikasikan menjadi tiga aspek, yakni aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya. Hasil penelitian menunjukkan kritik sosial pada aspek politik lebih dominan dibandingkan kritik sosial pada aspek sosial budaya dan ekonomi. Kecenderungan aspek politik ini dapat terjadi karena sebagian besar dialog yang terdapat dalam naskah Tik, membahas mengenai sindiran terhadap ketidakselarasan antara pemegang kekuasaan dan rakyat biasa. Analisis terhadap teks drama tersebut yakni menelaah unsur kritik sosial yang merupakan bagian dari unsur ekstrinsik dalam pembelajaran sastra.
Kata kunci: kritik sosial, drama, Tik, , hermeneutik
 
PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH MAHASISWA DENGAN MEDIA APLIKASI PENGOLAH KATA
Writing is a compulsory capability for students. However, writing is a skill that is difficult to acquire. One of the weakness that affect the writing skill is reading skill. Reading skill influences writing skill, both skills have a connection that is equivalent one another. Not only reading, writing skill will get better if students write diligently. One of it is writing scientific paper. Conditioning writing using the rules of writing scientific paper will make the difficulties slowly disappear. This research is done by conditioning the students that made scientific paper with being organized so it become effective. The purpose of the research is to evaluate the effectiveness of a small act and real in order to increase the reliability of students’ scientific paper writing skill. The research is concluded in 6 months with 385 students. The result of the research is that organizing scientific paper using word processor application is considered effective with 98.7 percent respondents said that the given treatment can make the process of writing scientific paper effective. The continuity of the process is final writing project in the next semester.
Keywords: effectiveness, writings, scientific paper, application
Abstrak
Menulis merupakan kemampuan wajib mahasiswa. Namun, menulis merupakan keterampilan yang sulit dikuasai. Salah satu faktor lemahnya keterampilan menulis adalah keterampilan membaca. Keterampilan membaca memang memengaruhi keterampilan menulis, keduanya keterampilan tersebut mempunyai kaitan yang berbanding lurus. Tidak hanya membaca, kemampuan menulis pun akan membaik jika rajin menulis. Salah satunya adalah menulis karya ilmiah. Pembiasaan menulis dengan kaidah penulisan karya ilmiah akan membuat kesulitan itu semakin hilang. Penelitian ini dilakukan dengan membiasakan mahasiswa membuat karya tulis dengan terorganisasi sehingga menjadi efektif. Tujuan penelitian ini adalah menilai keefektifan sebuah tidakan kecil dan nyata guna meningkatkan keandalan menulis karya ilmiah mahasiswa. Penelitian ini dilakukan dalam waktu 6 (enam) bulan dengan 385 mahasiswa. Hasil penelitian ini adalah mengorganisasikan karya ilmiah dengan aplikasi pengolah kata dinilai efektif dengan raihan 98,7% responden menyatakan bahwa perilaku yang diberikan dapat mengefektifkan proses menulis karya ilmiah. Kelanjutan dari proses ini adalah penulisan tugas akhir pada semester berikutnya.
Kata kunci: efektivitas, menulis, karya ilmiah, aplikas
PENDIDIKAN KARAKTER TOKOH UTAMA DALAM NOVEL CAHAYA CINTA PESANTREN KARANGAN IRA MADAN DAN SEMESTER PERTAMA DI MALORY TOWERS KARANGAN ENID BLYTON
The study aims to find out the character education of the main characters in the two novels derived from the two countries based on the moral comparison of the characters. This research uses the theory of Kohlberg's moral development stage and the Nine Pillars of Character from Indonesia Heritage Foundation (IHF) and compared to using the theory of comparative literature study. The results of this study show there are differences and equations of character education. The equation is a stage of moral development that works still at the conventional level. The value of the characters obtained from these two novels is responsible, honest, helpful, creative, confident, kind, and peace-loving. The difference in character education in the novel Cahaya Cinta Pesantren has a higher orientation towards punishment than the novel Semester Pertama di Malory Towers. This is because education to instill discipline is emphasized while for the second novel emphasizes on adaptation and relationships between friends. This research can be applied in Class XII Semester II KD 3.8 Interpreting the author's view of life in novel that is read and 4.8 Presenting the result of interpretation to the author's view. Interpretation of the author's author is an interpretation of the moral value or character education presented by the author to the reader so that the reader can take lessons from the message conveyed so that the students expected as the object that read the novel can apply the author's message in everyday life.
Keywords: character education, novel, Cahaya Cinta Pesantren, First Semester in Malory Towers
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendidikan karakter tokoh utama pada kedua novel yang berasal dari kedua negara berdasarkan perbandingan moral tokoh. Penelitian ini menggunakan teori tahap perkembangan moral Kohlberg dan Sembilan Pilar Karakter dari Indonesia Heritage Foundation (IHF) dan dibandingkan dengan menggunakan teori kajian sastra bandingan. Hasil penelitian ini memperlihatkan terdapat perbedaan dan persamaan pendidikan karakter. Persamaan tersebut adalah tahap perkembangan moral yang bekerja masih berada pada tingkat konvensional. Nilai karakter yang didapatkan dari kedua novel ini adalah bertanggung jawab, kejujuran, suka menolong, kreatif, percaya diri, baik hati, dan cinta damai. Perbedaan pendidikan karakter dalam novel Cahaya Cinta Pesantren memiliki orientasi terhadap hukuman yang lebih tinggi dibandingkan novel Semester Pertama di Malory Towers. Hal tersebut dikarenakan pendidikan untuk menanamkan kedisiplinan sangat ditekankan sedangkan untuk novel kedua menekankan terhadap adaptasi dan hubungan antarteman. Penelitian ini dapat diimplikasikan pada materi Bahasa Indonesia Kelas XII Semester II KD 3.8 Menafsir pandangan pengarang terhadap kehidupan dalam novel yang dibaca dan 4.8 Menyajikan hasil interpretasi terhadap pandangan pengarang. Interpretasi terhadap pendangan pengarang tersebut adalah interpretasi terhadap nilai moral atau pendidikan karakter yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca sehingga pembaca dapat mengambil pelajaran dari pesan yang disampaikan sehingga diharapkan siswa sebagai objek yang membaca novel tersebut dapat menerapkan pesan pengarang tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kata kunci: pendidikan karakter, novel, Cahaya Cinta Pesantren, Semester Pertama di Malory Towers
 
STRUKTUR KALIMAT TUNGGAL BAHASA SINDANG DI KOTA LUBUKLINGGAU DAN PENGARUHNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
The objective of this research is to give the understanding about the simple sentence structure Sindang Language ini Lubuklinggau and describe the effect in Indonesian language learning process. This research used descriptive qualitative method. The result of this research shows that the simple sentence structure of Bahasa Sindang in Lubuklinggau in the form of verbal-verbed simple sentence which consists of intransitive sentence and single-transitive sentence; adjectival-verbed simple sentence, nominal-verbed simple sentence, numeral-verbed simple sentence, preposisional-verbed simple sentence, and adverbial-verbed simple sentence. Majority of the data finding is the verbal-verbed simple sentence on Sindang language and it is more used by the people who use Sindang language. Intransitive sentence has 62 sentences or 79.5%. Sentence of Sindang Language seen from the aspect of function for the type of intransitive sentence has the function structure: 1) S,P; 2) K,S,P; 3) S,P,Vokatif; 4) S,P,K; 5) P,K; 6) P,S; 7) P; 8) S,P,S, and 9) S,P,Pel. The type of single-transitive sentence has the structure function: 1) K,S,P,O,K; 2) S,P,O,Vokatif; 3) P,O,K; 4) P,O; 5) P,O,K,S; 6) S,P,O; dan 7) P,O,S. Adjectival-verbed sentence has the structure function of structure K,S,P and P,S. Nominal-verbed simple sentence has the function structure S,P. Numeral-verbed simple sentence has the function structure P,S and S,P. Prepositional Frase-verbed simple sentence has the function structure S,P,Vocative. Then, adverbial-verbed simple sentence has the function structure S,P. The single sentence structure of the Sindang language positively influences the learning of the native speakers of the language.
Keywords: simple sentence structure, Sindang language, Lubuklinggau
Abstrak
Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman tentang struktur kalimat tunggal bahasa Sindang di Kota Lubuklinggau dan mendeskripsikan pengaruhnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kota tersebut. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur kalimat tunggal bahasa Sindang di Kota Lubuklinggau berbentuk kalimat tunggal berpredikat verbal yang terdiri atas kalimat intransitif dan kalimat tungggal ekatransitif; kalimat tunggal berpredikat adjektival, kalimat tunggal berpredikat nominal, kalimat tunggal berpredikat numeral, kalimat tunggal berpredikat preposisional, dan kalimat tunggal berpredikat adverbial. Sebagian besar kalimat tunggal berpredikat verbal pada bahasa Sindang lebih banyak digunakan oleh masyarakat penuturnya yaitu kalimat intransitif dengan 62 kalimat atau 79,5%. Kalimat bahasa Sindang ditinjau dari segi fungsi untuk jenis kalimat intransitif memiliki struktur fungsi: 1) S,P; 2) K,S,P; 3) S,P,Vokatif; 4) S,P,K; 5) P,K; 6) P,S; 7) P; 8) S,P,S, dan 9) S,P,Pel. Jenis kalimat ekatransitif memiliki struktur fungsi: 1) K,S,P,O,K; 2) S,P,O,Vokatif; 3) P,O,K; 4) P,O; 5) P,O,K,S; 6) S,P,O; dan 7) P,O,S. Kalimat tunggal berpredikat adjektival memiliki struktur fungsi yaitu berstruktur K,S,P dan P,S. Kalimat tunggal berpredikat nominal memiliki struktur fungsi S,P. Kalimat tunggal berpredikat numeral memiliki struktur fungsi P,S dan S,P. Kalimat tunggal berpredikat frase preposisional memiliki struktur fungsi S,P,Vokatif. Kemudian, kalimat tunggal berpredikat adverbia memiliki struktur fungsi S,P. Struktur kalimat tunggal bahasa Sindang memberikan pengaruh positif terhadap pembelajaran bahasa Indonesia penutur asli bahasa tersebut.
Kata kunci: struktur kalimat tunggal, bahasa Sindang, Lubuklinggau
 
ABSURDITAS DALAM NASKAH DRAMA JALAN LURUS KARANGAN WISRAN HADI DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
This research aims to find out the absurdity in Jalan Lurus drama script by Wisran Hadi. This study uses qualitative descriptive method. The absurdity theory used in this study is based on Albert Camus's opinion on the themes of absurdity. The result of this research shows Jalan Lurus by Wisran Hadi is a form of absurd drama. The absurdity is the meaning of life, alienation, suicide, hope, and rebellion. The theme of life is most often presented in this drama. Meanwhile, the theme of suicide and rebellion in this drama became the least talked theme. Implications in literary learning in high school, teachers can use this drama as an alternative teaching material. However, it needs to be accomodated to the student's development. In learning, the discussion includes unconventional literary works, absurd drama types, absurd drama characteristic, and absurdity aspects.
Keywords: absurdity, drama, Jalan Lurus, Albert Camus, literature learning
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui absurditas dalam naskah drama Jalan Lurus karangan Wisran Hadi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teori absurditas yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pendapat Albert Camus tentang tema-tema dalam absurditas. Hasil penelitian ini menunjukkan drama Jalan Lurus karangan Wisran Hadi merupakan bentuk drama absurd. Absurditas tersebut ialah makna hidup, keterasingan, bunuh diri, harapan, dan pemberontakan. Tema makna hidup paling sering disampaikan dalam naskah drama Jalan Lurus. Sementara itu, tema bunuh diri dan pemberontakan dalam naskah drama Jalan Lurus menjadi tema yang paling sedikit disampaikan. Implikasinya dalam pembelajaran sastra di SMA, guru dapat menggunakan drama ini sebagai alternatif bahan ajar. Namun, hal tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan siswa. Dalam pembelajaran, pembahasan meliputi karya sastra inkonvensional, jenis drama absurd, ciri-ciri drama absurd, dan aspek absurditas.
Kata kunci: absurditas, drama, Jalan Lurus, Albert Camus, pembelajaran sastr
PENGARUH PEMBERIAN MUSIK KLASIK TERHADAP KEMAMPUAN MENULIS BERITA SISWA SMAN 37 JAKARTA
The objective of this research is to identify whether classic music gives impact to students ability in writing news. The subject of this research is the XII grade students of senior high school. This is an experimental research and involved 60 students. The students were divided into experiment group and control group which consists of 30 students. The experiment group was given classic music while they writing news, while the control group was given no treatment during writing news. The scoring of the news writing covered 5W+1H. The result of the research shows that classical music gives positive impact in students ability in writing news.
Keywords: students ability, writing news, classic music
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pemberian musik klasik terhadap kemampuan siswa dalam menulis berita. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dan melibatkan 60 siswa yang dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing 30 siswa. Kelompok eksperimen akan diberikan musik klasik selama menulis berita dan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan apapun selama menulis berita. Penilaian penulisan berita meliputi 5W+1H. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa musik klasik dapat mempengaruhi kemampuan menulis berita dengan baik.
Kata kunci: kemampuan siswa, menulis berita, musik klasi
PEMBELAJARAN ASPEK TATA BAHASA DALAM BUKU PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Some time ago language teaching was faced with the choice of whether to focus on teaching the use of language (language use) or focusing on 'language form teaching. That means there are two opinions on how language teaching should be done to improve language skills. Some approaches in language teaching in favor of language skills concepts that lead to 'communicative proficiency' recommend the importance of understanding the form and grammar words to facilitate student communication skills. Grammar dimensions are linked to functions as a means of good language use. The rules or rules contained in the language will guide people to the use of language that is not only good but also true. Various perspectives that have been mentioned previously reinforce the conclusion that the learning of the word form and the rules or the rules of language contribute to the functioning of Bahasa Indonesia lessons. For that reason, in the development of Indonesian language teaching materials, we also incorporate the aspects of linguistic form and language rules. To formulate the grammatical concept we must take into account and place it appropriately both in the language structure and in the use of communication. The grammar formulas in the language used include three levels of subscript, syntactic (sentential), and suprasentential level. Subsentential is how a word is formed and functioned in a sentence. Sentential is how the position of the words in the sentence, and the patterns of the words are in the form of sentences. Suprasentential is how to display the word form in an appropriate discourse.
Keywords: communicative proficiency, grammatical aspects, language thinking tools, subsentential, sentential, and suprasentential
Abstrak
Beberapa waktu silam pengajaran bahasa dihadapkan pada pilihan apakah akan fokus mengajarkan penggunaan bahasa (language use) atau akan berfokus pada`pengajaran bentuk bahasa. Artinya ada dua pendapat tentang bagaimana pengajaran bahasa harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa. Beberapa pendekatan dalam pengajaran bahasa berpihak pada konsep keterampilan berbahasa yang mengarah pada ‘communicative proficiency’ merekomendasi pentingnya pemahaman bentuk kata dan tatabahasa untuk memperlancar kemampuan berkomunikasi siswa. Dimensi tata bahasa dihubungkan dengan fungsi sebagai sarana pemakaian bahasa yang baik. Aturan atau kaidah yang terdapat dalam bahasa akan menuntun orang menghasilkan pemakaian bahasa yang tidak saja baik tetapi juga benar. Berbagai sudut pandang yang telah dikemukakan sebelumnya memperkuat kesimpulan bahwa pembelajaran bentuk kata dan aturan atau kaidah bahasa menyumbang dalam memfungsikan pelajaran Bahasa Indonesia. Untuk alasan itulah dalam pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia juga memasukkan aspek kebahasaan berupa bentuk kata dan aturan/kaidah bahasa.Untuk merumuskan konsep tata bahasa kita harus memperhitungkan dan menempatkan secara tepat baik dalam struktur bahasa maupun dalam penggunaan komunikasi. Rumusan tata bahasa dalam bahasa yang digunakan mencakup tiga tataran yaitu tataran morfologi (subsentential), tataran sintaksis (sentential), dan tataran wacana (suprasentential). Subsentential adalah bagaimana sebuah kata dibentuk dan difungsikan dalam kalimat. Sentential adalah bagaimana kedudukan kata kata dalam kalimat, dan pola-pola pengguanannya dalam bentuk kalimat. Suprasentential adalah bagaimana menampilkan bentuk kata dalam sebuah wacana yang sesuai.
Kata kunci: communicative proficiency, aspek tata bahasa, bahasa alat berpikir, subsentential, sentential, suprasentential
 
PENERAPAN PENDEKATAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING
The difficulty of understanding the second language experienced by the learner is caused by several factors. Factors such as learning methods, second language structure, environment, and motivation learners. By nature, a person's speaking skills are strongly influenced by listening ability. This study aims to (a) determine the effect of process approaches on improving the basic speech skills of foreign speakers (b) to know the application of process approach in improving Indonesian speaking skills for foreign speakers of basic level, and (c) to know the methods and learning strategies undertaken foreign speakers of basic level in improving Indonesian speaking skills. This type of research is a classroom action research. The subjects of this study are foreign students attending regular classes of basic Indonesian language learning at UNY, UMY students, and UGM. Sources of data in this study were obtained from research subjects and resource persons. Data collection was done by interview, observation, and documentation study. The research technique used is the test technique includes pretest and posttest. The data collection tool used is an evaluation instrument. The results of this study indicate that through the process approach, Indonesian speaking skills for foreign speakers can increase. In addition, the adoption of a process approach in improving Indonesian speaking skills for foreign speakers is done by observing the types of words that are difficult to pronounce, intensive mentoring in pronunciation, modeling, and pronunciation practice.
Keywords: process approach, speaking skills, foreign speakers
Abstrak
Kesulitan pemahaman mempelajari bahasa kedua yang dialami pembelajar disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut seperti metode pembelajaran, struktur bahasa kedua, lingkungan, dan motivasi pembelajar. Secara alamiah, keterampilan berbicara seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuan menyimak. Penelitian ini bertujuan (a) mengetahui pengaruh pendekatan proses terhadap peningkatan keterampilan berbicara bahasa Indonesia penutur asing tingkat dasar (b) mengetahui penerapan pendekatan proses dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia bagi penutur asing tingkat dasar, dan (c) mengetahui metode dan strategi belajar yang dilakukan penutur asing tingkat dasar dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa asing yang mengikuti kelas reguler pembelajaran bahasa Indonesia tingkat dasar di UNY, mahasiswa UMY, dan UGM. Sumber data dalam penelitian ini diperloleh dari subjek penelitian dan narasumber. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Teknik penelitian yang dipakai adalah teknik tes meliputi pretest dan posttest. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah instrumen evaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui pendekatan proses, keterampilan berbicara bahasa Indonesia bagi penutur asing dapat meningkat. Selain itu, penerapan pendekatan proses dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia bagi penutur asing dilakukan dengan mengamati jenis kata yang sulit diucapkan, pendampingan secara intensif dalam pengucapan, pemodelan, dan praktik pengucapan secara langsung.
Kata kunci: pendekatan proses, keterampilan berbicara, penutur asing