Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
Not a member yet
    313 research outputs found

    Spore Production by Biocontrol Agent Trichoderma Harzianum in Submerged Fermentation: Effect of Agitation and Aeration

    Get PDF
    Effects of agitation and aeration on spore production and spore viability by biocontrol agent UPM 29 were investigated. The optimum fermentation at different agitation speeds, ranging from 300 rpm to 700 rpm show that there is an optimum agitation speed gives the highest spore production. The spore production increased with increasing agitation speed from 300 rpm to 500 rpm. At the higher agitation speed the spore production dropped. The highest spore concentration (9.2x107 spores/ml) was produced in culture grown on media with agitation speed of 500 rpm. The rate of aeration effected spore production and spore productivity in the range 1.5 to 2.0 vvm, and increased the spore production from 4.7x107 to 6.0x107 spores/ml (28% increase) and 4.7x108 to 8.1 x108 spores /l/h respectively. The spore viability was not affected significantly by aeration rate or agitation speed.Keywords: agitation, biocontrol agent, biofungicide, spore viability, Trichoderma harzianu

    Spore Production of Biocontrol Agent Trichoderma Harzianum: Effect of C/N ratio and Glucose Concentration

    Get PDF
    Effects of medium condition on spore production and spore viability of Trichoderma harzianum UPM 29 isolated from oil palm rhizosphere were studied. The carbon to nitrogen (CN) ratio and glucose concentration have significant effect on spore production and spore viability of the fungus. Highest spore production (1.6x108spores/ml) was obtained in a medium containing 30 g/l glucose with a CN ratio of 24. The highest spore viability (52.5%) was produced in the culture grown on media with glucose concentration of 30 g/l and with a C/N ratio of 44.Keywords: biocontrol agent, biofungicide, spore viability, Trichoderma harzianu

    Biosensor Urea Berbasis Biopolimer Khitin Sebagai Matriks Immobilisasi

    Get PDF
    Penelitian tentang biosensor urea menggunakan biopolimer khitin sebagai matriks immobilisasi telah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja biosensor yang dihasilkan yang meliputi sensitivitas, trayek pengukuran, limit deteksi, waktu respon, koefisien selektifitas, dan waktu hidup. Penelitian meliputi beberapa tahap yaitu pembuatan membran polimer khitin dan immobilisasi enzim urease, pelekatan membran khitin pada elektroda pH, dan pengukuran parameter kinerja elektroda. Hasil pengukuran menunjukkan sensitivitas biosensor urea berbasis membran khitin adalah 19,11 mV/dekade, trayek pengukuran 10-4 10-8 M, limit deteksi 10-8 M, waktu respon 3,106,02 menit, dengan urutan kekuatan ion penggangu berturut-turut adalah NH4Cl, NaCl, CH3COONa, campuran garam, KCl, CaCl2, dan asam askorbat.Kata kunci: biosensor, immobilisasi, khitin, ure

    Prediction of Water Loss During Potato Vacuum Frying Process

    Get PDF
    Vacuum frying may be a good alternative for the production of dehydrated fruit and vegetable slices. In this study, a relationship between water losses with frying time during vacuum frying process of potato chips has been developed. A first order kinetic model was used, in which drying rate constant is a function of the main process variables, i.e. oil temperature, sample thickness and vacuum pressure. The experimental data of Garayo and Moreira (2000) have been used to validate the model. Generally there was a good agreement between the calculated results and the experimental data. Then, the effect of initial water content and vacuum pressure has been studied.Keywords: kinetic model, potato, vacuum frying, water los

    Efek Pemanasan terhadap Rendemen Lemak pada Proses Pengepresan Biji Kakao

    Get PDF
    Pengaruh pemanasan terhadap perolehan lemak kakao selama pengepresan biji kakao menggunakan pengepres mekanis telah diteliti. Variabel percobaan mencakup tekanan 30 dan 40 MPa dengan variasi suhu 50-90oC. Kandungan lemak rata-rata pada biji kakao sebesar 51,32%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tekanan tidak mempengaruhi rendemen lemak kakao sedangkan faktor suhu berpengaruh nyata terhadap rendemen lemak kakao. Rendemen tertinggi sebesar 34,95% diperoleh pada suhu 70oC dan tidak berbeda nyata dengan rendemen pada suhu 80 dan 90oC. Asam lemak bebas meningkat dengan peningkatan suhu pemanasan pengepres dan diduga karena penguraian trigliserida pada suhu diatas 80oC. Profil asam lemak dari lemak kakao adalah asam palmitat 26,24%, stearat 42,23% dan oleat 26,53%. Komposisi ini hampir sama dengan komposisi lemak kakao dari berbagai sumber. Dari hasil karakteristik solid fat content diperoleh bahwa lemak yang diperoleh memiliki sifat pencairan pada suhu 20-30oC. Idealnya, lemak kakao mulai mencair pada kisaran suhu 30-35 oC. Kondisi ini menjadi pertimbangan pada proses perdagangan lemak kakao, karena akan mempengaruhi penerapan penggunaan lemak kakao pada industri makanan (convectionary).Kata kunci: kandungan lemak padat, konfeksionari, lemak kakao, pengepresan, pengepres mekani

    Sintesa dan Karakteristik Sifat Mekanik Karet Nanokomposit

    Get PDF
    Peningkatan sifat mekanik karet alam dengan penambahan tanah liat nanokomposit pada kosentrasi berbeda yaitu 1, 3 dan 5 % berat sudah berhasil diteliti. Pada percobaan ini pengujian dilakukan dengan X-Ray Difraction (X-RD) untuk analisa morphologi dan Instron untuk analisa uji tarik. Penambahan tanah liat nanokomposit kedalam matrik polimer adalah untuk meningkatkan sifat mekanik dari material asli dan juga untuk menghasilkan suatu produk polimer yang lebih murah. Hasil yang diperoleh adalah terjadinya peningkatan yang drastis terhadap basal spacing dari matrik polimer dan menunjukkan intercalasi diantara polimer dengan pengisinya. Uji tarik juga menununjukkan peningkatan yang sangat signifikan yaitu 14.983 MPa pada karet alam menjadi 40.178 MPa pada karet alam-tanah liat nanokomposit 5% berat.Kata kunci: karet alam, sifat mekanik, tanah liat nanokomposi

    Nanocrystalline Zeolite Y: Synthesis and Heavy Metal Removal

    Get PDF
    Lead (Pb) and chromium (Cr) are common groundwater contaminants at industrial installation. Zeolites are widely use as an adsorbent in heavy metal removal. Nanocrystalline zeolite Y has been synthesised from a clear solution at 1500C by using aluminum isopropoxide (Al(OiPr)3 and Ludox LS as alumina and silica source, tetramethylammonium hydroxide (TMAOH) and tetramethyl ammonium bromide (TMABr) as first and second organic template, respectively. The products were characterised by X-Ray Diffraction (XRD) and Scanning Electron Microscopy (SEM) to identify the structure and particle sizes. After 48 hours synthesis time, nanocrystalline zeolite Y samples were obtained with approximately average particle sizes of 268 and 119 nm for one and two organic templates, respectively. The synthesized nanocrystalline zeolite Y was applied for some metal adsorption including Pb(II) and Cr(III) and the results show that the nano crystal samples have good performance. The removal efficiency for Pb and Cr could be up to 88.97% depending on the initial concentration and temperature. The adsorption isotherms of Cr and Pb were determined from the Langmuir and Freundlich equations. The equilibrium sorption capacities (Qe) from the Langmuir equation were 270.27 mg/g and 204.08 mg/g at 300C for Pb and Cr, respectively. Kinetic adsorption analysis of nanozeolite Y shows that the pseudo second order kinetics would be better for fitting the dynamic adsorption of both Cr and Pb cations.Key words: adsorption isotherms, kinetic adsorption analysis, nanocrystalline zeolite

    Preparasi Bentonit Terpilar Alumina dari Bentonit Alam dan Pemanfaatannya sebagai Katalis pada Reaksi Dehidrasi Etanol, 1-Propanol serta 2-Propanol

    Get PDF
    Penelitian tentang modifikasi bentonit dari Kuala Dewa, Aceh Utara menjadi bentonit terpilar alumina dan uji aktivitasnya pada reaksi dehidrasi etanol, 1-propanol dan 2-propanol telah dilakukan. Bentonit alam (Ca-bentonit) dimodifikasi melalui proses pertukaran kation menjadi Na-bentonit dan H-bentonit, kemudian dipilarisasi menggunakan AlCl3 dan NaOH menghasilkan bentonit terpilar alumina. Bentonit terpilar alumina yang diperoleh mempunyai luas permukaan spesifik (72,42 m2/gram) yang lebih besar dibanding dengan bentonit tidak terpilar. Uji aktivitas katalitis bentonit terpilar alumina pada reaksi dehidrasi etanol, 1-propanol dan 2-propanol dilakukan pada suhu 200C - 400C. Suhu optimum reaksi dehidrasi etanol, 1-propanol dan 2-propanol menggunakan katalis bentonit terpilar alumina berturutturut adalah 250, 400 dan 200C dengan konsentrasi dietil eter 25,44; 2,31 dan 3,29%. Aktivitas katalis bentonit terpilar alumina pada reaksi dehidrasi alkohol sesuai dengan urutan etanol lebih besar dari 2-propanollebih besar dari 1-propanol.Kata kunci: bentonit terpilar alumina, dehidrasi, etanol, 1-propanol, 2-propano

    Oksidasi Parsial Metana Menjadi Metanol dan Formaldehida Menggunakan Katalis CuMoO3/SiO2 : Pengaruh Rasio Cu:Mo, Temperatur Reaksi dan Waktu Tinggal

    Get PDF
    Oksidasi parsial metana menjadi metanol dan formaldehida menggunakan katalis tembaga molybdenum oksida berpenyangga silica (CuMoO3/SiO2) telah dilakukan. Preparasi katalis dilakukan dengan metode impregnasi. Hasil identifikasi dengan XRD menunjukkan bahwa komponen katalis terdiri dari senyawa MoO3, CuO, dan SiO2. Uji kinerja katalis dilangsungkan dalam reactor pipa lurus berunggun tetap, beroperasi pada temperature 400, 425, 450, 475, dan 500oC, dengan waktu tinggal (W/F) 5,82, 9,7, dan 14,55 gram katalis jam/mol. Produk reaksi dianalisis menggunakan gas kromatografi dengan kolom molsieve 5A dan porapak-Q. konversi metana tertinggi sebesar 36,83% diperoleh saat menggunakan katalis dengan rasio Cu:Mo=1:1,5 pada W/F 14,55 grcatjam/mol dan temperatur reaksi 500oC. Selektivitas metanol tertinggi diperoleh 11,19 % menggunakan katalis dengan rasio Cu : Mo 1 : 3,5 pada W/F 5,82 grcat.jam/mol dan temperatur reaksi 400oC. Selektivitas formaldehida tertinggi diperoleh 20,75% menggunakan katalis dengan rasio Cu : Mo 1 : 2,5 pada W/F 9,7 grcatjam/mol dan temperatur reaksi 400oC.Keywords: formaldehida, katalis CuMoO3/SiO2, metanol, oksidasi metan

    Mencegah Pembentukan Kalsium Sulfat pada Desalinasi Air Laut

    Get PDF
    Resin penukar-anion, Relite MG 1/P, dapat digunakan untuk memisahkan sulfat dalam air laut guna mencegah pembentukan kerak kalsium sulfat pada heat exchanger. Resin tersebut menunjukkan selektivitas sulfat yang tinggi dalam air laut sintetis. Resin yang telah dipakai dapat diregenerasi menggunakan air asin yang dipekatkan dengan asam hingga mencapai pH 4. Untuk waktu pemakaian dan regenerasi yang sama, faktor konsentrasi desalinasi (misalnya 2 hingga 4) menaikkan konsentrasi klorida dalam air asin yang diblowdown. Dengan faktor konsentrasi yang tetap, kenaikan laju alir (pengurangan waktu pemakaian dan regenerasi) memperendah efisiensi regenerasi dan menaikkan pemisahan sulfat. Akibat kelarutan kalsium sulfat yang bersifat terbalik tersebut, temperatur air asin yang tinggi memerlukan pemisahan sulfat yang lebih banyak, yang dapat dicapai dengan mengurangi laju alir air laut. Pengurangan laju alir tersebut membutuhkan peralatan yang lebih besar dan resin yang lebih banyak, sehingga biaya modal bertambah. Untuk pabrik desalinasi dengan kapasitas produksi 1 juta gallon per hari dan faktor konsentrasi sebesar 2, biaya pemisahan sulfat meliputi biaya resin dan biaya peralatan. Biaya tersebut bervariasi dari 0.246hingga0.246 hingga 0.356/kgalon (per ribu galon air yang diproduksi) karena temperatur maksimum air asin berubah dari 140C menjadi 180C.Keywords: desalinasi air laut, ion exchange, kalsium sulfat, kerak; mechanical vapor compression (MVC), pemisahan sulfat, resin penukar-anion basa lema

    280

    full texts

    313

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇