Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
Not a member yet
313 research outputs found
Sort by
Aplikasi Mikrofibril Selulosa Dari Batang Sorgum Sebagai Pengisi Pada Sintesis Film Bioplastik
Pada penelitian ini telah disintesis bioplastik dengan penambahan mikrokristalin selulosa dari batang sorgum sebagai pengisi. dengan formulasi pati sorgum-gelatin dan pemplastis gliserol. Formulasi pati sorgum-gelatin yang digunakan yaitu 10:0 ; 9,5:0,5 ; 8,5:1,5 ; 7,5:2,5 ; 6,5:3,5 dan 5,5:4,5 (gr/gr). Penambahan mikrokristalin selulosa sebesar 0 %, 1%, 2%, dan 3% dari total berat kering campuran pati dan gelatin. Suhu gelatinisasi yang digunakan pada 95oC dan konsentrasi gliserol 10% berat berdasarkan persen berat kering dari total berat campuran 10 gram pati dan gelatin. Kecepatan pengadukan sebesar 375 rpm dengan temperatur pengeringan yang digunakan adalah 60oC selama 11 jam. Ukuran granula pati yang digunakan yaitu lolos ayakan 60 mikron dan waktu pengadukan selama 35 menit. Mikrokristalin selulosa sebagai pengisi dihasilkan dengan metode alkali-mekanik dan berukuran 8 mikron. Penggunaan mikrokristalin selulosa dapat meningkatkan kuat tarik sebesar 3,65-10,47 MPa, dan menurunkan perpanjangan putus sebesar 2,14-14,32%
Penyisihan Fenol, H2S Dan COD Limbah Cair Lumpur Bor Dengan Proses Oksidasi Lanjut Berbasis Ozon
Limbah cair lumpur pengeboran minyak bumi termasuk limbah B3 yang mengandung konsentrasi fenol, H2S (sulfida terlarut) dan COD berurutan sebesar 43,4 mg/L; 7,332 mg/L dan 3400 mg/L. Pada penelitian ini dilakukan penyisihan parameter tersebut menggunakan proses oksidasi lanjut berbasis ozon dengan nilai potensial oksidasi 2,08 eV. Teknik Ozonasi dilakukan dengan cara menginjeksikan ozon pada reaktor sistem kontinyu. Gas ozon yang digunakan berasal dari ozonizer WS88011i dengan produktivitas ozon kisaran 0,239-0,264 gr/jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH dan waktu kontak terbaik dengan variasi masing-masing pH alami; 8; 10; 12 dan 60; 80; 100; 120 menit. Dari hasil penelitian ini menunjukkan persentase penurunan fenol sebesar 88,02% dengan waktu kontak 100 menit, H2S sebesar 79,51% dengan waktu kontak 120 menit, COD sebesar 60,46% dengan waktu kontak 100 menit. Kondisi terbaik dari penurunan konsentrasi parameter-parameter tersebut berada pada pH 12
Pencairan Batubara Peringkat Rendah Papua Menggunakan Katalis Bijih Besi
Low rank coal utilization often adversely affects the equipment used. Distinct with coal liquefaction technology that prioritizes the use of low rank coal. This condition encourages this research, with the aim of observing the liquid potential of low rank Papuan coal by using iron ore catalysts. Papua low rank coal is liquefied on the autoclave 5 liter with iron ore catalyst and antrasen as solvent. Operating conditions consist of temperature of 400C and holding time of 60 minutes. The result of conversion of the three samples without catalyst is only in the range of 65.72-66,45 %, whereas the conversion with iron ore catalysts ranged from 88.63-89.94 % and oil yield between 62.11-63,34%. This result also shows the contribution of iron ore catalyst to increase the conversions that averaged 23.04 %
sintesis nanopartikel tembaga dari larutan CuNO3 menggunakan ekstrak cengkeh (Syzygium aromaticum)
AbstrakNanoteknologi pada pembuatan material difungsikan untuk membuat kemampuan terhadapa katalis dan antibakteri semakin meningkat dan mengurangi jumlah sediaan logam. Nanopartikel tembaga salah satu nanopartikel yang berperan sebagai katalis dan anti bakteri yang digunakan di bidang non-pangan dan kesehatan karena Tembaga termasuk logam yang stabil namun beracun. Perkusor yang digunakan adalah CuNO3. Ekstrak bunga cengkeh sebagai bioredukto didapat dari ekstraksi serbuk bunga cengkeh dengan aquades yang dilakukan suhu 80oC selama 30 menit. Nanopartikel tembaga dibuat melalui prinsip kimia hijau dengan metode reduksi. Volume larutan bioreduktor dan prekursor dicampur dengan rasio 1 : 1; 1 : 2; 1 : 3; dan 1 : 4. Hasil nanopartikel tembaga berwarna coklat kehijauan dan dikarakterisasi untuk mendapatkan nanopartikel tembaga dengan ukuran nanopartikel terkecil dan distribusi ukuran yang lebih homogen dan jenis nanopartikel yang didapat. Analisi yang digunakan adalah GCMS untuk mengetahui kadar eugenol dalam ekstrak bunga cengkeh, XRD untuk menentukan jenis nanopartikel tembaga, dan TEM untuk mengetahui ukuran nanopartikel tembaga. Nanopartikel tembaga yang didapat dari sintesis adalah serbuk berwarna coklat kehijauan. Bioreduktor ekstrak bunga cengkeh mengandung eugenol sebesar 79,41% yang berperan sebagai reduktor. Nanopartikel tembaga yang diperoleh adalah nanopartirkel kembaga Cuo dengan bentuk kristal Face Centered Cubic. Ukuran nanopartikel tembaga mencapai 10,39 pada rasio 1 : 1 merupakan ukuran terkecil dibandingkan rasio 1 : 2, 1 : 3, dan 1 : 4. Ukuran tersebut terdistribusi ukuran partikel
Pengaruh Penambahan Kitosan dalam Pembuatan Biodegradable Foam Berbahan Baku Pati
Biodegradable foam is an alternative packaging to replace the expanded polystyrene foam packaging currently in use. Starch has been used to produce foam because of its low cost, low density, low toxicity, and biodegradability. Chitosan has been added to improve mechanical properties of product . The effect of variation on chitosan amount and starch types was investigated in this study. The amount of chitosan was varied as 0; 5; 10; 15; 20; 25; and 30 % w/w and starch types were used in this research were cassava, Corn and sago starch. Biodegradable foam was produced by using baking process method, all of material (Starch, Chitosan solution, Magnesium Stearate, Carrageenan, Glyserol, Protein Isolates dan polyvinil alcohol (PVOH) were mixed with kitchen aid mixer. The mixture was poured into mold and heated in an oven at 125 oC for 1 hour. Then, foam was tested for its mechanical properties, water absorption and biodegradability and morphology (SEM). The results show that foam made from sago starch had lower water absortion than those made from cassava and corn starch. While, foam made from cassava starch was more biodegradable than the other foam. Biodegradable foam based sago starch and 30 % w/w of Chitosan adition gave the best performence in tensile stress that is 20 Mp
The Spatial Distribution of Bed Sediments at Krueng Cut Estuary: The Sieve Analysis Approach
This research studied the characteristic of bed sediment in the estuary of Krueng Cut, Banda Aceh. Analyzing the field samples from different site of stations along the channel from upstream to estuary shows different pattern and profile of deposited bed sediment. Therefore, sorting the size of sediment is important spatially because pattern of its deposition and characteristic will illustrate how distribution patterns indicate the nature of the channel. Hence, the study aims to determain the pattern of bed sediment distribution as well as its profile spatially. To implement the intended purpose, the coring method was employed by using purposive random sampling for 15 stations of taken sampling. The sample of sediment was proceeded by using a 2,5 cm diameter of PVC paralon at the depth of 25 cm from the bathymetry base. Sample was analyzed using wet sieve analysis method. The result informed that the dominant of bed sediment size are medium sand found around the mouth of the river, fine sand existed along the mixing area, and very fine sand occurred in the transition zone. Inthe region of coastal dynamic, the sediment was dominated by medium sand size, meanwhile in the area of river dominated flow, the sediment is subject to fine sand size.Thus, the fraction of very fine sand size of sediment was found in the zona of transition
Simulasi Pengendali Proporsional Integral pada Proses Penguapan
Makalah ini mempresentasikan metode penyaringan signal input gradien sehingga dapat meningkatkan kinerja sistem pengendalian bila terjadi gangguan (noise) pada pembacaan sensor. Sistem pengendalian yang dipelajari adalah sistem pengendalian unit penguapan. Cao (2004) telah mempublikasikan suatu strategi pengendalian desentralisasi pada unit operasi penguapan. Keunikan strategi yang diajukan Cao terletak pada perlunya untuk mengendalikan suatu variabel baru yang merupakan fungsi dari data yang berasal dari sensor-sensor yang tersedia. Kondisi optimal pada sistem pengendalian yang ditinjau perlu dijabarkan terlebih dahulu secara matematis dan dinyatakan sebagai gradien yang merupakan fungsi dari berbagai variabel proses. Gradien tersebut kemudian dikendalikan dengan tujuan lebih lanjut untuk mengendalikan variabel sebenarnya. Keuntungan penerapan saringan signal input gradien pada studi ini dinyatakan dalam reduksi biaya operasi yang dibandingkan dengan pengendalian gradien tanpa penyaringan
Pengaruh Penambahan Epiklorohidrin Terhadap Sifat Mekanik dan Daya Serap Film Khitosan Sebagai Adsorben
Pembuatan film khitosan berikatan silang epiklorohidrin telah dilakukan dengan metode inversi fasa. Pada penelitian ini khitosan dimodifikasi dengan epiklorohidrin untuk memperbaiki sifat mekanik dan ketahanannya terhadap asam. Film khitosan hasil modifikasi diuji sifat mekaniknya dengan alat uji tarik dan daya serapnya diuji terhadap ion Cd2+. Hasil uji tarik menunjukkan bahwa dengan adanya pembentuk ikat silang epiklorohidrin pada khitosan dapat meningkatkan tensile strength film khitosan dan optimum pada komposisi 54,128 % b/b. Hasil uji adsorpsi terhadap ion Cd2+ menunjukkan bahwa penambahan epiklorohidrin dapat meningkatkan kapasitas penyerapan ion Cd2+ sebesar 31,33 % dibandingkan dengan film khitosan tanpa silang.Preparation of epichlorohydrin crosslinked chitosan film has been done by phase inversion method. In this study, chitosan was modified with epichlorohydrin by the purpose of improving its mechanical properties and adsorption capasity. Mechanical properties of crosslinked chitosan film was examined by tensile test. Adsorption study was done for Cd2+ ions removal. Tensile test results showed epichlorohydrin as crosslinking agent of chitosan can improve tensile strength and optimum at 54.128 % w/w of composition. The adsorption results for Cd2+ ions showed the addition of epichlorohydrin in chitosan can increase the adsorption capacity of Cd2+ ions 31,33 % compared with non-crosslinked chitosan films
Recovery Process of Condensate the Ammonia Wastewater Plant of PT.PIM with A Combination of Technology Air Stripping Jet Bubble Colum, Advance Oxidation process and Ion Exchange Resin
AbstractStudy of reducing the content of ammonia, carbon dioxide and organic contaminants in wastewater process condensate using a combination of technologies of water Jet Stripping Bubble Colum, Advance Oxidation Process and Ion Exchange Resin have been done. The aims of this research is to look the effect of hydraulic resident time in Jet Stripping Bubble Colum and the amount of the addition of Ozon/H2O2 to reduction the content of carbon dioxide and organic contaminants as well as ammonia removal with ion exchange resin on the process condensate so that can be reuse as boiler feed water in ammonia plant of PT. PIM. This research was conducted using a combination Air Stripping Jet Bubble Colum, Advance Oxidation Process and Ion Exchange Resin which equipped with water and air flows adjustment. The water flow enter the column, pressure of the Colum and diameter of nozzle was maintained constantnts during experiment, while the air flow rate enter to the column, H2O2/O3 concentrations and the hydraulic retention time was vary respectively. The results showed that the water Jet Stripping Bubble Colum at 50 Psi air pressure capable of achieving CO2 lowers 87.60% and ammonia to 65.31%. AOP technology capable of lowering the content of organic contaminant to 80.71% with the addition of hydrogen peroxide 8,000 ppm with a residence time 180 minutes. While the ammonia remaining in the water the process of condensate action exchange resin using eliminated with a reduction of ammonia reached 98.57%, so that the recovery process of water condensate technology uses a combination of Air Stripping Jet Bubble Colum, Advance Hydrocarbon processes (AOP) and Ion Exchange Resins already meets the requirements of viable reuses boiler feed water. The ammonia reduction was determined by using ASTM-D 1426 method, the carbon dioxide by using ASTM-512 method, and the organic contaminants by using titrimetric method (SII-0071).Keyword : Air Stripping Jet Bubble Colum, Advance Oxidation Process (AOP), Ammonia Removal, Carbon Dioxide Removal
Profil Filtrasi Larutan Sodium Alginat pada Modul Tunggal Cross-flow Membran Polyethersulfone
Kajian penurunan dan rekoveri fluks pada proses ultrafiltrasi larutan natural organic matter (NOM) dengan membran polyethersulfone telah dilakukan. Larutan sodium alginate digunakan sebagai model NOM dalam air, dan profil filtrasinya dipelajari berdasarkan waktu operasi. Proses filtrasi menggunakan modul cross-flow dengan konfigurasi aliran filtrasi pressure driven outside (PDO). Profile permeabilitas larutan SA pada membranpolyethersulfonetelah diamati dengan berbagai perlakuan, diantaranya efek keberadaan ion logam Ca2+ dan Mg2+ serta pengaruh pH larutan (kondisi asam, basa dan netral). Membran polyethersulfone (PES) dengan tambahan Aerosol OT digunakan untuk mengetahui kinerjanya. Flux recovery ratio (FRR) merupakan salah satu indikator untuk mengetahui sifat fouling yang terbentuk pada permukaan membran. Secara umum larutan SA dalam kondisi asam memiliki nilai FRR terkecil, sedangkan sampel dalam kondisi basa memiliki nilai FRR terbesar. Perolehan fluks larutan SA dengan penambahan ion Mg2+ lebih besar dibandingkan dengan penambahan ion Ca2+. Larutan SA pada kondisi pH basa menghasilkan penurunan nilai fluks lebih kecil dibandingkan pada pH Asam dan netral. Rejeksi partikel SA tertinggi diperoleh pada kondisi asam menggunakan membran PES Aerosol OT yaitu sebesar 46,88%