Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
Not a member yet
313 research outputs found
Sort by
Sintesis Kemosensor Anion Senyawa 4-(2,6-difenil-Piridin-4-Il)-2-Metoksi-Fenol Dari Vanilin
Telah dilakukan sintesis kemosensor anion senyawa 4-(2,6-difenil-piridin-4-il)-2-metoksi-fenol (DPMF). Sintesis senyawa target DPMF dilakukan melalui senyawa antara kalkon dengan rendemen reaksi 77%. Uji sebagai sensor anion dilakukan dalam pelarut DMSO-air terhadap anion F-, Cl-, Br-, CN- dan H2PO4-. Senyawa DPMF ini menghasilkan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi kuning pada penambahan anion CN-. Analisis spektrofotometer UV-vis pada senyawa DPMF menghasilkan perubahan mak = 320 nm ke mak = 370 nm pada penambahan anion CN-. Limit deteksi terhadap anion CN- sebesar 4,11x10-6M. Senyawa ini juga dapat berperan sebagai kemosensor fluoresen dengan sistem ON-OFF
Produksi Biodiesel dari Ampas Kelapa (Coconut Waste) Secara Transesterifikasi In Situ Menggunakan Bantuan Gelombang Mikro
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif pengganti minyak diesel berbasis fosil. Upaya mendapatkan bahan baku yang murah dan ekonomis untuk memproduksi biodiesel perlu terus dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajariproses produksi biodiesel dari limbah ampas kelapa menggunakan proses transesterifikasi in situ dengan bantuan gelombang mikro. Proses transesterifikasi in situ dilakukan pada daya mikrowave 450, 600 dan 800 watt, waktu reaksi 3-6 menit, rasio molar metanol 10:1 hingga 25:1 dan jumlah katalis KOH 2-5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rendemen biodiesel tertinggi adalah sebesar 98,23% pada kondisi daya mikrowave 800 watt, waktu reaksi 4 menit, rasio molar pelarut 20:1 dan konsentrasi katalis KOH 4%. Hasil pengujian mutu biodiesel dari hasil penelitian ini adalah viskositas kinematik 2,7 mm2/s, densitas 850 kg/m3 dan angka asam 0,4 mg-KOH/g. Komposisi asam lemak biodiesel dari ampas kelapa adalah methyl laurate (29,41%), methyl oleate (21,05%), methyl myristate (20,21%), methyl palmitate (14,18%), methyl caprate (6,94%), methyl linoleate (5,47%) dan methyl octanoate (2,25%)
Oksidasi dan Sulfonasi Tandan Kosong Kelapa Sawit sebagai Katalis Asam Heterogen
Penggunaan katalis asam homogen memiliki kelemahan dalam pemisahan katalis dari media reaksi. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan katalis heterogen (padat) yang lebih mudah dipisahkan dari media reaksi sehingga dapat menyederhanakan tahap produksi. Penelitian ini bertujuan untuk memodifikasi tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi katalis asam heterogen (padat) melalui proses oksidasi dan sulfonasi. Pada proses oksidasi, lignoselulosa diubah menjadi aldehid, kemudian dilanjutkan dengan sulfonasi untuk mengubah gugus karbonil menjadi sulfonat. TKKS di-pretreatment terlebih dahulu, kemudian dioksidasi menggunakan sodium periodat (rasio 0,8) pada suhu dan waktu bervariasi (40, 50 dan 60 oC, selama 3, 6, 9 dan 12 jam) dalam waterbath shaker 150 strokes/min dengan kondisi tanpa cahaya. Selanjutnya dilakukan reaksi oksidasi sebanyak dua tahap diikuti dengan sulfonasi. TKKS tersulfonasi kemudian diaplikasikan untuk mengkatalisis reaksi esterifikasi etil oleat. Suhu dan waktu reaksi oksidasi berpengaruh sangat signifikan (p kurang dari 0,01) terhadap kandungan gugus karbonil yang terbentuk. Perlakuan pada suhu 50 oC selama 9 jam mampu menghasilkan gugus karbonil 98,34 1,52 mol/g-sampel. Reaksi oksidasi dua tahap mampu meningkatkan gugus karbonil 12,02 % lebih besar. Reaksi sulfonasi pada suhu 45 oC selama 3 jam hanya mampu mengkonversi 27,97 % gugus karbonil menjadi sulfonat dengan kandungan total sulfur 6,30 0,29 %, hal ini berdampak kepada kemampuan TKKS tersulfonasi untuk mengkatalisis reaksi esterifikasi etil oleat dengan yield yang masih rendah yaitu 29,12 5,15 %
Modification of Sorghum Starch-Cellulose Bioplastic with Sorghum Stalks Filler
This study evaluated the feasibility of bioplastics production by various ratio of sorghum starch and cellulose from red seaweed Eucheuma spinossum, and the use of glycerol as plasticizer and sorghum stalks as filler. Solid-liquid matrix transition should be far over the operating temperature of gelatinization and extracted at 95oC in order to avoid the loss of conductivity. The analyzed variables were starch and cellulose seaweed Eucheuma spinossum and the addition of variation of filler. Sorghum stalk could be expected to affect the mechanical and physical properties of bioplastics. A thin sheet of plastic (plastic film) was obtained as a result that have been tested mechanically to obtain the best condition for the formulation of starch-cellulose 8.5:1.5 (g/g). From the result of morphological studies, the fillers in the mixture composites were more randomly in each product and the addition of filler can increase mechanical properties of bioplastics. Chemical modication had a major effect on the mechanical properties. The phenomena of degradation and thermoplasticization were visible at chemical changes that can be observed in FTIR spectrum test results
Analisis Potensi Ledakan dan Kebakaran Primary Reformer sebagai Unit Proses Produksi Amonia di PT. X
Peningkatan industri pupuk di dunia berimplikasi pada peningkatan jumlah industri amonia. Amonia memegang peranan penting pada proses produksi pupuk dalam hal penyediaan nitrogen. Proses pembuatan amonia melibatkan bahan baku berupa gas alam yang bersifat flammable dengan temperatur dan tekanan yang tinggi dalam setiap tahapan prosesnya. Primary reformer merupakan salah satu peralatan proses dalam produksi amonia dengan temperatur dan tekanan paling tinggi serta paling berisiko mengalami kegagalan yang dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran/ledakan. Primary reformer berperan sebagai salah satu tahapan pemurnian gas alam dengan hasil berupa karbon monoksida. Identifikasi bahaya pada unit primary reformer dilakukan dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA). Hasil analisis FTA menghasilkan bahwa sumber bahaya dari ledakan primary reformer dapat ditinjau dari faktor teknis dan faktor non teknis. Faktor non teknis menyumbang 74% dari penyebab terjadinya ledakan/kebakaran pada primary reformer. Hasil analisis risiko ledakan/kebakaran pada primary reformer dilakukan dengan menggunakan Dows Fire and Explosion Index dengan hasil radius area dampak adalah 51 meter. Nilai kerugian finansial mencapai US$ 23.640.285 dengan kerugian hari kerja minimal adalah 138 hari. Perangkat lunak Arial Location of Hazardous Atmospheres menghasilkan radius ledakan dengan dampak terkecil yaitu dapat memecahkan kaca jendela/pintu (0,5 psi) adalah 73 m dari primary reformer. Radius ledakan dengan kekuatan ledakan 1 psi (meruntuhkan rumah/perkantoran) adalah 48 m dari primary reformer
Pembuatan Biofuel dari Palm Stearin dengan Proses Perengkahan Katalitik Menggunakan Katalis ZSM-5
Bahan bakar fosil telah digunakan selama beberapa abad yang menyebabkan ketersediaannya semakin berkurang. Hal ini mendorong perlu dilakukan pengembangan baru di bidang energi. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Minyak sawit ini dapat dikonversi melalui proses perengkahan katalitik menjadi biofuel yang ramah lingkungan karena tidak mengandung nitrogen dan sulfur seperti gasolin, kerosin dan diesel. Pada penelitian ini digunakan palm stearin sebagai bahan baku dengan katalis ZSM-5 yang memiliki luas permukaan 425 m2/g dan rasio Si/Al 50. Variabel yang divariasikan adalah suhu operasi dari 400oC - 450oC dan waktu reaksi dari 60 menit - 150 menit. Hasil penelitian menunjukkan yield liquid product (biofuel) tertinggi diperoleh sebesar 93,29% pada suhu 400oC saat waktu reaksi 60 menit, dengan komposisi C6-C12 sebesar 21,82%, C14-C16 sebesar 19,21% dan C18-C28 sebesar 58,97%
Hidrolisis Ampas Tebu dengan Katalisator Asam Asetat untuk Memproduksi Furfural menggunakan Metode Steam Stripping
Proses hidrolisis ampas tebu menggunakan asam asetat sebagai katalis dengan metode satu tahap (steam stripping) telah dilakukan. Ampas tebu sebanyak 50 gram dihidrolisis dalam 500 ml akuades yang mengandung katalis asam asetat sebesar 2 - 6% dengan variabel waktu selama 1 - 3 jam dan temperatur hidrolisis 110 - 120oC menggunakan metode steam stripping. Metode konvensional dilakukan dalam dua tahap yaitu pemasakan dan pemisahan dalam waktu tinggal tertentu, sehingga dapat menyebabkan degradasi furfural. Selain itu, energi yang digunakan sangat besar karena ada energi yang terbuang saat pendinginan produk. Maka peneliti mengembangkan proses hidrolisis hemiselulosa menjadi furfural sekaligus juga proses pemisahan yang dilakukan secara serempak dalam satu tahap yaitu dengan menggunakan metode distilasi steam stripping. Penelitian ini ditujukan untuk melihat apakah metode steam stripping dengan menggunakan katalis asam asetat efektif untuk digunakan dalam memproduksi furfural. Dalam studi ini juga dipelajari pengaruh waktu hidrolisis, konsentrasi katalis, dan temperatur terhadap konsentrasi furfural. Hasil uji menggunakan Response Surface Methodology (RSM) menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh untuk perolehan furfural adalah konsentrasi katalis dan temperatur. Hasil penelitian menunjukkan optimum dengan perolehan konsentrasi furfural tertinggi (6,038 mg/ml) di peroleh pada waktu 3 jam, temperatur 120C, dan konsentrasi katalis 6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini efektif untuk digunakan dalam produksi furfural
Evaluation of Phenol Transport Using Polymer Inclusion Membrane (PIM) with Polyeugenol as a Carrier
A recovery study of phenol with Polymer Inclusion Membranes (PIMs) needs to be evaluated to determine values of transport kinetic parameter, level of stability, and selectivity of the membrane. This paper describes results of the evaluation of phenol transport using PIMs with polyeugenol as a carrier. PIMs were made by mixing polyeugenol, dibenzylether, and polyvinylchloride in a solvent (tetrahydrofuran) then printed in a container with diameter 4.5 cm and allowed to vaporize for 72 hours. Further evaluation studies are conducted at pH 4.5 with various parameters, among of them are various times that were taken to identify parameters of the transport kinetics of phenol, membrane stability, characterization, and testing of membrane selectivity by comparing transport of phenol with another compound, in this study chromium is used. This study results in calculation of values of transport kinetics of membrane permeability obtained at 8.8 x 10-5 m/s, flux value of 9.512 x 10-4 g/m2s, and diffusion coefficient of 3.826 x 10-11 m2/s. Repeating use over three times, 48 hours, indicates reduction in power of phenol transport by 70.81%. While selectivity test indicates that membrane is used more selectively against phenol than chromium metal. Based on study results, phenol transport effectiveness using PIM with polyeugenol as carrier is 91.4% in optimum condition
Pemanfaatan Karbon Aktif dari Ampas Teh sebagai Adsorben pada Proses Adsorpsi -Karoten yang Terkandung dalam Minyak Kelapa Sawit Mentah
Penelitian tentang penggunaan karbon aktif dari ampas teh sebagai adsorben telah dilakukan untuk mengadsorpsi -karoten yang terkandung dalam minyak kelapa sawit mentah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model isoterm dan kinetika yang sesuai untuk proses adsorpsi -karoten di dalam CPO. Kajian isoterm dilakukan pada suhu 60C menggunakan rasio karbon aktif terhadap CPO = 1:3, 1:4, 1:5, dan 1:6. Kajian kinetika dilakukan pada suhu 60C, rasio karbon aktif terhadap CPO = 1:3 dimana sampel diambil dengan interval waktu pengambilan 2 menit hingga 120 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan karbon aktif dari ampas teh dalam menyerap -karoten dari CPO ini sangat memuaskan yakni lebih besar dari 99%. Persentase adsorpsi -karoten terbaik diperoleh pada rasio karbon aktif terhadap CPO = 1:3, yakni sebesar 99,61%. Model isoterm yang sesuai dengan data penelitian ini adalah model isoterm Freundlich. Sedangkan model kinetika yang sesuai adalah orde dua semu dengan nilai koefisien korelasi (R2) sebesar 0,996. Berdasarkan model kinetika tersebut diketahui bahwa laju penyerapan pada kesetimbangan adalah sebesar 3,5087 mg/g dan konstanta laju adsorpsi sebesar 0,0578 (L/menit)
Pengaruh Penggunaan Fotokatalis TiO2/Resin, TiO2/Zeolit Dan TiO2/Karbon Aktif dalam Proses Fotoreduksi Ion Hg(II) dengan Metode SODIS (Solar Desinfection Water)
Pada penelitian ini telah dilakukan proses pembuatan fotokatalis TiO2/resin, TiO2/zeolit dan TiO2/karbon aktif yang selanjutnya dikarakterisasi dengan XRD dan Energi Band Gap (Eg). Karakterisasi XRD bertujuan untuk mengetahui telah terbentuknya fotokatalis. Sedangkan karaktererisasi Energi Band Gap (Eg) bertujuan untuk mengetahui tingkat celah energi pada masing-masing fotokatalis dimana semakin tinggi harga Energi Band Gap maka efektivitas fotoreduksi akan semakin tinggi. Hasil dari karakterisasi XRD menunjukkan bahwa fotokatalis TiO2-resin, TiO2-zeolit, dan TiO2/karbon aktif telah terbentuk, sedangkan hasil energi band gap untuk TiO2/zeolit sebesar 3,608 eV, TiO2/resin sebesar 3,38 eV, sedangkan TiO2/karbon aktif adalah 3,48 eV. Didasarkan pada harga Eg tersebut diharapkan aktivitas fotokatalis TiO2/zeolit lebih tinggi daripada fotokatalis yang lain. Pengujian aktivitas fotokatalis dilakukan dengan mereaksikan 50 mg masing-masing fotokatalis untuk mereduksi 50 mL larutan Hg (II) 5 ppm yang disinari oleh sinar matahari sebagai sumber cahaya dengan variasi waktu penyinaran (1,2,3,4,5 dan 6 jam). Dari hasil penyinaran menunjukkan bahwa semakin tinggi waktu penyinaran semakin tinggi % Hg tereduksi, dalam penelitian ini efektivitas fotokatalis terbaik adalah TiO2/zeolit dengan efektivitas fotoreduksi pada penyinaran 6 jam sebesar 98,5%. Pada tahap ini juga dipelajari pengaruh konsentrasi Ion Hg (II) (0; 2,5; 5; 10; 20; dan 25) dengan waktu penyinaran 6 jam. Data yang diperoleh menunjukkan semakin tinggi konsentrasi awal ion Hg, semakin rendah efektivitas fotoreduksinya