Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
Not a member yet
    313 research outputs found

    Karakteristik Sedimen dan Kandungan Mineral Pasir Besi di Labuhan Haji Timur, Kabupaten Aceh Selatan

    Full text link
    Kandungan mineral besi pada alam menjadi topik yang menarik untuk dikaji terkait peran pentingnya secara ekonomi. Keberadaan magnetite pada sedimen di suatu wilayah perairan dapat juga digunakan sebagai fingerprint dari proses transport sedimen. Penelitian ini ditujukan untuk mengamati sejumlah parameter butiran sedimen untuk mendapatkan gambaran pola distribusi sedimen yang terjadi pada daerah Labuhan Haji Timur, Aceh Selatan. Pengambilan sampel sedimen dilangsungkan pada November 2015 menggunakan metode coring. Sebanyak empat stasiun dipilih untuk mewakili kawasan perairan Labuhan Haji timur, yang terdiri dari daerah aliran sungai, muara, dan pantai. Sejumlah analisis yang dilakukan adalah ukuran butiran rata-rata, bentuk partikel, dan kandungan kimia penyusun sedimen. Analisis kandungan kimia dari sampel sedimen dilakukan pada Laboratorium Sentral Mineral dan Material Maju, FMIPA Universitas Malang menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF), dimana sebelumnya sampel dari setiap stasiun dipilah berdasarkan ukuran halus (lebih kecil dari 0,5 mm) dan kasar (lebih besar dari 0,5 mm). sampel sedimen yang berasal dari pantai dan muara memiliki modus distribusi ukuran sedimen pada fraksi pasir sangat halus, sedangkan modus pada daerah aliran sungai berada pada fraksi pasir sangat kasar. Magnetite ditemukan pada setiap lokasi sampling, persentase tertinggi berada pada kawasan muara. Analisis bentuk butiran magnetite menunjukkan bentuk yang lebih angular pada daeah aliran sungai dan menjadi lebih rounded pada kawasan pantai. Disimpulkan bahwa kandungan magnetite yang terdapat pada kawasan pantai di Labuhan haji Timur ditransportasikan melalui aliran Sungai Peulumat

    Pengaruh pH dan Dosis NaOCl terhadap Penurunan Kadar COD dan Klor Bebas pada Limbah Cair Produksi Monomer Vinyl Klorida

    No full text
    Limbah cair dari produksi monomer vinyl klorida merupakan limbah yang mempunyai kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi yaitu sekitar 1000 ppm dan Biohemical Oxygen Demand (BOD) sekitar 500 ppm, sedangkan nilai maksimal standar baku mutu air buangan ke badan air adalah 250 ppm untuk COD dan 100 ppm untuk BOD. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pH dan dosis NaOCl terhadap penurunan COD dan kadar klor bebas serta untuk mendapatkan nilai pH dan dosis NaOCl yang optimal. Limbah cair produksi monomer vinyl klorida yang digunakan adalah limbah dari Pabrik X yang berada di Cilegon. Kadar COD yang tinggi disebabkan oleh kandungan senyawa Na(COOH) dalam limbah cair tersebut. Penurunkan nilai COD telah dilakukan dengan penambahan NaOCl yang merupakan salah satu produk dari Pabrik X tersebut sebesar 10 gam/jam pada pH 2, namun hasilnya belum memenuhi persyaratan. Pada penelitian ini digunakan variasi pH pada 2, 5 dan 8 serta dosis NaOCl yang ditambahkan sebesar 10, 20, 30, 40 dan 50 gram/jam dengan laju alir limbah cair yang diolah di unit pengolahan limbah cair tersebut sebesar 20 m3/jam. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah kadar COD dan kadar klor bebas sebelum dan sesudah proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH 5 dengan dosis NaOCl 40 dan 50 gram/jam, proses ini memberikan hasil terbaik karena dapat menurunkan kadar COD dari 1034 sampai 190 dan 130 ppm (efisiensi penurunan 82,5 dan 87 %) dengan kadar klor bebas 0,8 dan 1 ppm yang telah memenuhi nilai baku mutu sesuai peraturan pemerintah

    Ragam Metode Ekstraksi Karotenoid dari Sumber Tumbuhan dalam Dekade Terakhir (Telaah Literatur)

    Full text link
    Karotenoid adalah pigmen yang memberikan warna kuning, jingga hingga merah. Karotenoid merupakan pigmen pendamping klorofil atau zat hijau daun yang menjalankan fungsi penyerapan energi cahaya untuk fotosintesis. Sumber karotenoid utama adalah tumbuhan, yang selanjutnya dikonsumsi dan dimetabolisme atau terakumulasi dalam tubuh hewan. Terdapat lebih dari 3000 jenis karotenoid, dan beberapa jenis telah diketahui memiliki manfaat bagi kesehatan. Beberapa studi menyebutkan karotenoid berfungsi sebagai antioksidan, antikanker, dan membantu memelihara kesehatan mata. Ekstrak karotenoid telah diaplikasikan dalam berbagai produk pangan dan nutrasetikal. Dengan demikian, perkembangan teknologi metode ekstraksi karotenoid menjadi penting untuk diikuti. Ekstraksi karotenoid dilakukan dengan metode konvensional seperti maserasi ataupun modern seperti cairan superkritis, ultrasound asssisted extraction, enzimatik, pulsed electric field, dan pressurized liquid extraction. Sejumlah studi metode ekstraksi karotenoid dalam dekade terakhir disajikan dan dibahas dalam review berikut

    Studi Pengaruh Suhu Terhadap Properties Gas-Cair pada Proses Absorpsi CO2 Menggunakan a-MDEA

    No full text
    Kecepatan transfer massa dan panas antara gas dan cairan sepanjang kolom absorpsi merupakan dasar dari proses perhitungan absorpsi CO2 dari gas sintesa menggunakan solven MDEA dengan aktivator Piperazine. Model transfer massa dan reaksi kimia yang terjadi disusun secara matematis dari neraca massa dan neraca panas gas cairsepanjang kolom berdasarkan teori dua lapisan film (two-film theory) dengan pendekatan overall rate transfer. Properties campuran gas dan cairan yang diperlukan dalam perhitungan, diestimasi dari properties individual gas cair dengan menggunakan konsep mixing rules. Estimasi properties campuran gas cair dilakukan dalam modul sub-function yang dibangun dengan code programming. Verifikasi modul sub-function dilakukan dengan membuat perbandingan antara properties gas cair dari literature dengan properties hasil estimasi yang merupakan output dari sub-function yang sudah disusun.Variabel yang berpengaruh langsung terhadap perubahan properties campuran gas cair adalah suhu.Kecepatan transfer massa dan panas antara gas dan cairan sepanjang kolom absorpsi merupakan dasar dari proses perhitungan absorpsi CO2 dari gas sintesa menggunakan solven MDEA dengan aktivator Piperazine. Model transfer massa dan reaksi kimia yang terjadi disusun secara matematis dari neraca massa dan neraca panas gas cairsepanjang kolom berdasarkan teori dua lapisan film (two-film theory) dengan pendekatan overall rate transfer. Properties campuran gas dan cairan yang diperlukan dalam perhitungan, diestimasi dari properties individual gas cair dengan menggunakan konsep mixing rules. Estimasi properties campuran gas cair dilakukan dalam modul sub-function yang dibangun dengan code programming. Verifikasi modul sub-function dilakukan dengan membuat perbandingan antara properties gas cair dari literature dengan properties hasil estimasi yang merupakan output dari sub-function yang sudah disusun.Variabel yang berpengaruh langsung terhadap perubahan properties campuran gas cair adalah suhu

    Produksi Gula Reduksi dari Batang Ubi Kayu dengan Hidrolisis Menggunakan Asam Encer dan Induksi Medan Elektromagnetik

    Full text link
    Batang ubi kayu yang dihasilkan dari limbah pertanian merupakan biomassa lignoselulosa dengan komposisi selulosa 39,30%, hemiselulosa 24,34% dan lignin 13,42%. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonversi limbah batang ubi kayu menjadi gula reduksi. Proses konversi lignoselulosa menjadi gula reduksi secara hidrolisis umumnya dilakukan pada temperatur dan tekanan tinggi dengan menggunakan katalis asam. Pada penelitian ini, digunakan induksi medan elektromagnetik pada proses hidrolisis lignoselulosa dengan menggunakan asam encer sehingga proses hidrolisis dapat berlangsung pada kondisi yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan komponen gula reduksi yang dihasilkan berupa xylosa, arabinosa dan glukosa. Kadar gula reduksi sebesar 10 mg/ml menggunakan pelarut HCl 5%, induksi medan elektromagnetik sebesar 7,1810-4 Tesla, pada temperature 100C selama 60 menit. Hasil ini sebanding dengan penelitian serupa yang berlangsung pada suhu lebih tinggi dengan menggunakan asam kuat. Parameter operasi yang lunak dapat mengatasi degradasi gula reduksi menjadi komponen HMF dan furfural, sehingga proses hidrolisis menjadi lebih efektif

    Anti-biofoulan Alami Moringa oleifera Sebagai Bahan Pengisi Membran Mixed Matrix Selulosa Asetat untuk Klarifikasi Jus Buah

    Full text link
    Teknologi membran banyak digunakan dalam pemisahan padatan terlarut dalam cairan, termasuk dalam pengolahan pangan misalnya klarifikasi jus buah. Namun salah satu faktor penghambat utama penggunaan membran adalah terjadinya fouling yang berpotensi menurunkan kualitas produk. Dalam proses klarifikasi jus buah, membran berpotensi mengalami fouling karena material biologis. Antibiofoulan alami seperti biji buah kelor Moringa oleifera berpotensi untuk digunakan sebagai agen pencegah biofouling pada proses membran karena mengandung fenol. Pada penelitian ini diketahui kandungan total fenol ekstrak bji kelor sebesar 123.61 mg/g ekstrak. Ekstrak ditambahkan sebagai bahan pengisi dengan konsentrasi yang berbeda pada larutan cetak membran selulosa asetat dengan pelarut dimetil formamida yang berfungsi sebagai matrix. Morfologi membran mixed matrix yang dihasilkan berupa pori-pori yang berbentuk jari dan masuk dalam kategori membran mikrofiltrasi. Kinerja membran diuji kekuatan mekaniknya, nilai fluks, dan sifat antibakteri menggunakan E-coli. Penambahan ekstrak biji kelor pada mampu memberikan dua keuntungan, yaitu menghambat pertumbuhan bakteri sebesar 39.7% dan menurunkan permeabilitas dari 1765.25 L/m2.jam.bar menjadi 1235.5231 L/m2.jam.bar yang berpotensi meningkatkan tingkat rejeksi membran mikrofiltrasi yang dihasilkan

    Adsorpsi Methyl Violet oleh Karbon Aktif dari Limbah Tempurung Kelapa dengan Aktivator ZnCl2 Menggunakan Pemanasan Gelombang Mikro

    Full text link
    Synthesis of activated carbon from coconut shell waste with ZnCl2 activation using microwave heating have been carried out. Coconut shell consists of 36.51% lignin, 33.61% cellulose and 19.27% hemicellulose which causes it can be used as a precursor in the synthesis of activated carbon. The activated carbon was further characterized using Scanning Electron Microscope (SEM), Fourier Transform Infrared Spectrophotometer (FTIR) and NOVA Gas Sorption Analyzer-Quantachrome and used for the adsorption of methyl violet in aqueous solution with variation of pH, contact time and concentration of solution. The result showed that the pore of activated carbon was larger than that of the char. The optimum adsorption occurred at pH 3 and the equilibrium time was reached after 180 minutes. The Langmuir equilibrium model was more appropriate than the Freundlich equilibrium model. While the kinetics model analyzed using pseudo first order, pseudo second order, internal diffusion and external diffusion indicated that the pseudo second order was most suitable for the adsorption of methyl violet by coconut shell activated carbon

    Karakterisasi dan Analisa Kinerja Membran Selulosa Asetat untuk penyisihan logam berat Kromium dan Kadmium dalam air dengan Proses Ultrafiltrasi

    No full text
    Membran seluosa asetat telah dibuat dengan metode inversi fasa dengan penambahan aditif Polyethylene Glycol (PEG) ke dalam larutan casting. Pengaruh penambahan aditif PEG dengan variasi berat molekul (2kDa, 6 kDa dan 20 kDa) dipelajari terhadap karakteristik dan kinerja membran. Penambahan aditif PEG meningkatkan fluks air murni, hidrofilisitas, dan kekasaran membran. Kecenderungan yang sama juga diperoleh terhadap peningkatan berat molekul PEG yang ditambahkan ke dalam larutan casting. Nilai fluks air murni dari meningkat dari 45 L/m2.jam (membran CA murni) ke 59,8 L/m2.jam (CA PEG20kDa). Hidrofilisitas membran meningkat dengan menurunnnya nilai water contact angle dari 63,75o untuk membran CA murni ke 55,58o untuk membran CAPEG 20kDa. Kekasaran membran meningkat dari 6.27 0,34 nm ke 9.8 0.40 nm. Penambahan aditif PEG ke dalam larutan casting menyebabkan rejeksi terhadap logam kromium dan kadmium menurun. Hal ini disebabkan aditif PEG merupakan agen pembentuk pori yang menyebabkan zat terlarut (logam kromium atau kadmium)lebih mudah melewati membran

    Pemanfaatan Limbah Serat Sagu (Metroxylon sago) Sebagai Adsorben Iodin

    Full text link
    Adsorpsi terhadap zat iodin menggunakan karbon aktif dari limbah serat sagu (Metroxylon sago), dilakukan untuk mengetahui massa dan waktu kontak optimum yang dibutuhkan oleh karbon aktif untuk menyerap zat iodin. Karbon aktif yang digunakan adalah karbon yang telah diaktivasi dengan H3PO4 3% pada suhu 300 C, kemudian dianalisis menggunakan Surface Area Analyzer (SAA) dan diperoleh luas permukaan 101,296 m2/g. Penelitian ini menggunakan variasi massa adsorben 0,05 gram; 0,1 gram; 0,3 gram; 0,5 gram; dan 0,8 gram dengan waktu adsorpsi selama 15 menit dan variasi waktu kontak 0 menit, 5 menit, 10 menit, 20 menit, 30 menit, 50 menit, dan 60 menit. Hasil penelitian diperoleh massa optimum dicapai pada berat adsorben 0,1 gram dengan daya serap terhadap iodin sebesar 301,459 mg/g dan waktu optimum diperoleh pada waktu kontak 30 menit dengan daya serap terhadap iodin 333,192 mg/g. Disimpulkan bahwa karbon aktif dari limbah serat sagu mampu menyerap zat iodin secara signifikan dan mekanisme proses adsorpsi karbon aktif limbah serat sagu terhadap zat iodin cenderung mengikuti kedua persamaan linier Langmuir dan Freundlich

    Pengaktifan Kulit Asam Jawa dengan Campuran Asam Sitrat dan Asam Tartarat untuk Penyerapan Ion Logam Cd (II)

    Full text link
    Logam berat kadmium yang terdapat dalam air limbah sangat berbahaya bagi makhluk hidup sehingga ion logam kadmium tersebut perlu dihilangkan dari lingkungan. Penghilangan ion logam kadmium dengan metode adsorpsi menggunakan biosorben kulit asam jawa telah dilakukan dalam penelitian ini. Pengaktifan biosorben dilakukan dengan menggunakan dua aktivator sekaligus yaitu asam sitrat dan asam tartarat. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kondisi yang terbaik dalam proses pengaktifan biosorben dan proses penyerapan ion logam kadmium (II) dan untuk mengetahui pengaruh waktu kontak, rasio campuran asam sitrat dan asam tartarat dan konsentrasi awal ion logam kadmium (II) terhadap kapasitas penyerapan ion logam kadmium oleh biosorben. Untuk mengetahui kapasitas penyerapan kulit asam jawa yang telah diaktivasi terhadap ion logam berat dilakukan menggunakan peralatan atomic absorption spectrofotometer (AAS), untuk melihat gugus fungsi yang pada biosorben digunakan FTIR dan untuk melihat morfologi biosorben dilakukan dengan alat SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio campuran asam sitrat dan asam tartarat sebesar 3:1 menghasilkan biosorben terbaik untuk proses penyerapan ion logam Cd(II). Kapasitas penyerapan yang paling optimum diperoleh pada kondisi proses adsorpsi menggunakan konsentrasi awal ion logam Cd(II) 270 mg/L dan waktu kontak 110 menit dengan kapasitas penyerapannya 23,496 mg/g

    280

    full texts

    313

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇