Intizar (E-Journal)
Not a member yet
226 research outputs found
Sort by
Perilaku Konsumsi Upaya Meningkatkan Potensi Produk Deposito di Bank Syariah
Perbankan syari’ah saat ini telah memiliki payung hukum yang kuat dengan hadirnya undang-undang nomor 21 tahun 2008 tentang perbankan syari’ah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi dari perbankan syari’ah yang semakin diminati oleh banyak kalangan.Bank syari’ah membutuhkan dana dalam menjalankan produk pembiayaannya. Deposito merupakan salah satu produk penghimpunan di bank syariah. Deposito di bank syariah terus mengalami pertumbuhan. Walaupun demikian bank syariah tetap harus meningkatkan produk deposito, untuk mencapai market share 5 persen. Untuk meningkatkan volume deposito bank syariah perlu memahami bentuk perilaku konsumsi masyarakat. Dari data yang ada kontribusi dana pihak ketiga bank syariah diberikan oleh produk deposito sebesar 71,15 persen.Penulisan ini menggunakan jenis deskriptif kualitatif, Batasan dalam tulisan ini difokuskan pada produk deposito di bank syari’ah perilaku konsumen.Tulisan ini menggunakan studi pustaka kajian dari berbagai sumber. Hasil dari tulisan ini bahwa deposito di bank syariah terus mengalami perkembangan, pada tahun 2015 pertumbuhan deposito di bank syariah mencapai 4,12 persen. Perilaku konsumsi memiliki banyak faktor dan bisa memberi pengaruh terhadap peningkatan produk deposito di bank syariah. Sehingga bank syariah perlu memahami perilaku konsumsi masyarakat dalam upaya meningkatkan potensi pengembangan produk deposito di bank syariah.potensi pengembangan produk pembiayaan mudharabah di bank syari’ah masih sangat besar.Potensi pengembangan produk deposito masih sangat besar dan sangat luas.Bank of Shariah now has a solid legal with the presence of the law number 21 in 2008 about Bank of Shariah. This adversely affects the existence of the Shari\u27ah Bank that increasingly catches interest many people. Bank of Shari\u27ah requires funds in running financing products. Deposits are ones’ product accumulation in Islamic banks. Deposits in Islamic banks continued to grow. Nevertheless, Islamic banks still have to increase deposit products, to achieve a 5 percent market share. To increase the volume of deposits of Islamic banks need to understand the behaviors of consumption. From the available data the contribution of third party funds provided by the Islamic banks deposits amounted to 71.15 persen. This study uses a descriptive qualitative limitation. This paper is focused on products in Consumers Islamic bank deposits. This study uses literature review of various sources. The results of this paper that the deposits in Islamic banks continued to experienced growth, in 2015 the growth of deposits in Islamic banks reaches 4.12 percent. Consumer behavior has many factors and can give effect to an increase in deposit products in Islamic banks. So that Islamic banks need to understand the behavior of private consumption in order to increase the potential for product development of deposits in Bank of Shariah. The advantage of product development in Islamic bank financing is still enormous. The advantage of deposit product development is still very large and very spacious
Keterlibatan Perempuan dalam Tindak Pidana Korupsi di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang
Makalah ini mengkaji tentang tindak pindana korupsi pada perempuan. Hal ini berarti bahwa tindak pidana korupsi bukan hanya monopoli laki-laki. Partisipasi perempuan dalam tindak pidana korupsi di wilayah hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang dapat dikatakan masih dalam tingkatan skala rendah. Sebagian besar tindak pidana korupsi yang dilakukan perempuan tersebut tidak sendirian, melainkan bersama orang atau pihak lain diikuti adanya peluang dan kesempatan. Sehingga tindak korupsinya dapat digolongkan korupsi sistemik. Faktor-faktor yang menyebabkan perempuan terlibat dalam kasus tindak pidana korupsi di wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang, yaitu: rendahnya tingkat keimanan, rendahnya gaji atau pendapatan, sikap mental dan keinginan cepat kaya, pola hidup konsumtif hedonisme, aji mumpung, ada peluang dan kesempatn untuk meng-akses.This paper examined the crime of corruption on women. This meant that corruption was not just a male monopoly. Women\u27s participation in corruption in legal area of the jurisdiction of Class IA Palembang could be said to be still in a low level scale. Most of corruption criminals that were done by women were not alone, but together with another person or party followed by the opportunity and chance. So the acts of corruption could be classified as systemic corruption. The factors that caused women to get involved in cases of corruption criminal in the legal area of the jurisdiction of Class IA Palembang, namely: low levels of faith, low salaries or income, mental attitude and the desire to get rich quick, lifestyle consumptive hedonism, moral hazard, there was an opportunity and chance to access.
Epistemologi Pemikiran Mu’tazilah dan Pengaruhnya terhadap Perkembangan Pemikiran Islam di Indonesia
Teologi Mu’tazilah berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Salah satu tokoh intelektual Muslim kontemporer yang pemikirannya teologi Mu’tazilah, yakni Harun Nasution. Ia berpendapat bahwa kebangkitan pemikiran Mu’tazilah sangat penting bagi modenisasi Islam. Ia berpendapat bahwa rasionalisasi teologi Islam merupakan komponen esensial dalam program modernisasi yang lebih luas dalam masyarakat Islam. Harun Nasution berkesimpulan bahwa masyarakat Islam yang akan bersentuhan dengan kemoderenan mesti mengganti kalam Asy’ari dengan kalam Mu’tazilah. Ia juga menegaskan bahwa rasionalisme merupakan di antara tema sentral al-Qur’an, Islam nabi Muhammad beserta para sahabatnya merupakan keislaman yang bersifat rasional. Hermeneutika Nasution berbeda dari penafsir klasik dan kontemporer, ia tidak melakukan penafsiran untuk berusaha mengeluarkan makna ayat per ayat, tetapi lebih berusaha untuk mengeluarkan tema umum dari sejumlah besar ayat. Tema yang paling menonjol adalah rasionalitas. Pembongkarannya terhadap rasionalisme Barat dan Islam kelihatannya telah menandai sebuah usaha untuk menemukan Islam rasional dan kemoderenan Islam.Mu\u27tazila Theology influenced on the development of Islamic thought in Indonesia. One of contemporary Muslim intellectuals which his thought was Mu\u27tazilah theology, namely Harun Nasution. He argued that the resurgence of Mu\u27tazila thought was very important for modernization of Islam. He argued that the rationalization of Islamic theology was an essential component in a wider modernization program in Islamic societies. Harun Nasution concluded that the Islamic community would have contact with modernity might replace the Ash\u27ari kalam with Mu\u27tazila kalam. He also asserted that rationalism was among the central themes of the Koran. The Islamic of Prophet Muhammad and his companions was an Islamic rational. Nasution hermeneutic was different from classical and contemporary interpreters, he did not do the interpretation for trying to remove the meaning of the verse-by-verse, but rather sought to exclude the general theme of a large number of verses. The most prominent theme was rationality. The demolition toward Western rationalism and Islam seemed to have marked an attempt to find a rational Islam and Islamic modernity
Pendekatan Penanfisran al-Qur’an yang Didasarkan pada Instrumen Riwayat, Nalar, dan Isyarat Batin
Tulisan ini mengkaji mengenai tiga jenis pendekatan dalam tafsir. Pertama, Pendekatan tafsir bi al-ma’tsur (suatu penafsiran yang lebih banyak terfokus kepada sumber penafsiran dengan menggunakan riwayat-riwayat). Karakteristik dari pendekatan tafsir bi al-ma’tsur, yakni: dominannya para mufassir menggunakan riwayat-riwayat sebagai sumber atau instrument dalam menafsirkan ayat. Dominannya penggunaan riwayat dalam menafsirkan ayat, bukan berarti pendekatan tafsir bi al-ma’tsur mengabaikan instrumen penafsiran lainnya, termasuk ilmu tentang bahasa atau kaedah-kaedah yang lainnya. Kedua, pendekatan tafsir bi bi ar-ra’y (suatu penafsiran yang lebih banyak terfokus kepada sumber penafsiran dengan menggunakan penalaran atau sains). Karakteristik pendekatan tafsir bi bi ar-ra’y ini terlihat pada dominannya menggunakan nalar atau sains sebagai sumber atau instrumen penafsiran dalam menafsirkan ayat. Ketiga, pendekatan tafsir bi bi isyary (suau penafsiran yang lebih banyak terpokus kepada sumber penafsiran dengan menggunakan isyarat-isyarat atau kesan yang bersifat batiniah). Karakteristik pendekatan tafsir bi bi isyary dapat dilihat dari dominannya unsur-unsur pengetahuan batiniah yang berupa kesan-kesan yang muncul dari penafsir. This article examines the three types of approaches to interpretation. First of all, the approach of the tafsir bi al-ma\u27tsur (an interpretation that is more focused on the source of interpretation by using narrations). Characteristics of approach of tafsir bi al-ma\u27tsur, namely: the dominance of the commentators use the reports as a source or instrument in interpreting paragraph. Dominant use of history in interpreting the verse, it does not mean approach to the tafsir bi al-ma\u27tsur ignores other instruments, including the science of language. Second, the approach of the tafsir bi ar-ra\u27y (an interpretation that is more focused on the source of interpretation by using reasoning or science). Approach characteristics of the tafsir bi-ra\u27y are seen in dominant use of reason and science as the source or instrument of interpretation in interpreting paragraph. Thirdly, the approach of the tafsir bi isyary (suau interpretation more terpokus to the source of interpretation by using gestures or impression inward). Characteristics of tafsir bi isyary approach can be seen from the dominant elements of inner knowledge which form the impressions that emerge from the interpreter
Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia Abad 19 dari Ortodoksi ke Politisasi
Setidaknya ada beberapa hal penting dalam tulisan ini; pertama, perkembangan tarekat Naqsabandiyah pada abad 19 terjadi secara luas. Tidak hanya di Indonesia tetapi di hampir seluruh wilayah muslim. Hal ini disebabkan karena dominasi faham wujudiyah (tasawuf falsafi) yang melekat pada tarekat Syattariyah mulai ditinggalkan oleh masyarakat muslim akibat serangan gencar kaum tradisionalis (tasawuf sunni). Proses peralihan dalam kurun ini menyebabkan tarekat Naqsabandiyah menjadi diminati. Kedua, kritik pedas kaum tradisionalis juga dilakukan oleh para ulama fikih kepada bid’ah tarekat. Kesesuaian dengan al-Quran dan sunnah seperti yang menjadi landasan tasawuf sunni akhirnya membuat tarekat Naqsabandiyah (dan terekat non faham wujudiyah) diminati oleh masyarakat muslim. Ketiga, kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda terhadap tarekat, terutama Naqsabandiyah saat itu, diarahkan kepada tarekat dalam arti politik, termasuk di dalamnya gerakan Pan-Islamisme. Tetapi sepanjang tidak berpolitik, pihak konial tidak membatasi tarekat.At least there are some important things in this article; First, the development of widespread Naqsabandiyah congregation in the 19th century. It happens not only in Indonesia but also in almost all Muslim lands. This is due to the dominance of ideology Wujudiyah (Sufism philosophical) attached to Syattariyah congregation begins to be abandoned by the Muslim community as a result of the onslaught of the traditionalists (Sufism of Sunni). The process of transition in this period leads Naqsabandiyah to be desirable. Second, harsh criticism of the traditionalists is also done by the jurists to heretical congregation. Compliance with the Quran and the Sunnah as the basis of Sufism Sunni finally made Naqsabandiyah congregation (and congregation of non wujudiyah’s thought) demand by the Muslim community. Thirdly, the Dutch colonial government fears the congregation, especially Naqsabandiyah. Then, it is directed to the congregation in a political sense, including the movement of Pan-Islamism. But as long as there are no politics, colonial party does not restrict the congregation
Pelaksanaan Mediasi dalam Sistem Peradilan Agama (Kajian Implementasi Mediasi dalam Penyelesaian Perkara di Pengadilan Agama Kelas I A Palembang)
Artikel ini akan membahas tentang kebijakan peraturan tentang mediasi di agama pengadilan dan cara penyelesaian sengketa melalui mediasi dan pelaksanaan mediasi dalam kasus pengadilan di Pengadilan Agama Kelas I A Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Dari penelitian ini diketahui bahwa latar belakang aturan kebijakan mediasi di Pengadilan Agama adalah (a) manfaat yang bisa diperoleh jika mediasi digunakan sebagai alat dalam penyelesaian sengketa, yaitu proses mediasi bisa mengatasi masalah akumulasi materi, proses mediasi dipandang sebagai sarana penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan lebih murah daripada proses litigasi, penegakan mediasi dapat memperluas akses bagi semua pihak untuk memperoleh rasa keadilan, (b) penyediaan upaya perdamaian mereka dalam undang-undang. (c) masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang suka damai. Pelaksanaan proses mediasi di pengadilan agama dilakukan dengan dua cara, yaitu mediasi litigasi awal, dan mediasi lebih litigasi.This article will discuss about regulatory policy on mediation in religious courts way dispute resolution through mediation according to Islamic law and implementation of mediation in settlement court cases in Religious Courts Class I A Palembang. This research is qualitative research Source of data used is primary data and secondary data primary. Data derived from field and secondary data consisted of a literature study. From this research note Background to the policy rules on mediation in the Religious Courts is (a) the benefits to be gained if mediation used as a means in the settlement of disputes, namely the mediation process could overcome the problem of accumulation of matter, the mediation process is viewed as a means of dispute resolution that is faster and cheaper than the litigation process, enforcement of mediation can expand access for all parties to gain a sense of justice, (b) provision their peace efforts in legislation. (c) Indonesian society is a society that likes peace. Implementation of the mediation process in the religious court done in two ways, namely mediation initial litigation, and mediation over litigation
Analisis Sosiologis terhadap Sistem Pergantian Sultan di Kesultanan Palembang Darussalam
One task of being a umaro sultan, that he was a religious adviser to the government. The existence of the Sultanate of Palembang is not only the cultural but also the existing political elements. In this study it was found that the process of appointment of kings or sultans who ruled in Palembang no different from those in other sultanates that ever existed on earth this archipelago. Despite having Islamic political unity, but actually still continue what has been there in the past, the concept of Hindu-Buddhism, Islam simply as a shirt while outside. The same is true for aspects of legality. As a maritime empire that is absolute, it seems referrals can be directed only remaining absolute monarchy in Southeast Asia was the Sultanate of Brunei Darussalam. However, the origin of the empire was not of royal birth agrarian civilization as a palace, but of an empire in estuaries and the sea like, the kingdoms in Peninsular Malaysia, Sumatra, Borneo, and others. One task of being umaro sultan, that he was a religion adviser to the government. The existence of the Sultanate of Palembang was not only the cultural but also the existing elements of political. In this study it was found that the process of appointment of kings or sultans who ruled in Palembang not different from people of other sultanates that ever existed on this archipelago earth. Despite having Islamic political unity, but actually still continued what had been there in the past, the concept of Hindu-Buddhism, Islam was only as a temporary shirt outside. The same thing was prevail for the aspects of legality. As a maritime empire that was absolute, it seemed directive could be directed only remaining absolute monarchy in Southeast Asia was the Sultanate of Brunei Darussalam. However, the origin of the empire was not born the empire of agrarian civilization as a palace, but from an empire in estuaries and the sea like, the Kingdoms in Peninsular Malaysia, Sumatra, Borneo, and others
Pendidikan Berbasis Budaya Cirebon
Sebagai proses transformasi nilai-nilai dalam rangka pembentukan pribadi individu yang mampu memaknai dirinya, masyarakat, dan bangsanya, pendidikan hendaknya ditanamkan kepada pribadi anak didik dari jati diri dan identitas luhur bangsanya. Nilai-nilai kebudayaan bangsa ini dapat dijadikan sebagai sumber daya intelektual, emosional, dan spiritual. Dalam budaya Cirebon, nilai-nilai luhur kebudayaannya sangat potensial untuk dijadikan ‘spirit’ yang melandasi setiap aktifitas pendidikan sekaligus menjadi objek nilai yang akan ditransformasikan. Sintesis dan perpaduan antara nilai-nilai tradisional (agama) dan nilai-nilai modernitas tercermin dalam produk dan sejarah kebudayaan Cirebon. Perpaduan dua nilai inilah yang merupakan karakter khas yang ditemukan dalam batang tubuh kebudayaan Cirebon. Karena itu, pendidikan berbasis budaya Cirebon selalu mengupayakan lahirnya peserta-didik yang mampu memahami dan mempertahankan jati dirinya sebagai anak suku bangsa namun ternyata tidak kaku dalam mengarungi arus modernisasi dan globalisasi.As the process of transformation values for the creation of private individuals who are able to make sense of themselves, society, and nation, education should be imparted to student’s personal identity and the identity of the noble nation. The values of this nation\u27s culture can be used as a power source of intellectual, emotional, and spiritual. In the culture of Cirebon, noble values culture very potential to be \u27spirit\u27 that underlies any educational activities at the same time become the object of value to be transformed. Synthesis and a blend of traditional values (religion) and the values of modernity is reflected in the products and the cultural history of Cirebon. The combination of the two values is what is the distinctive character found in the body of Cirebon culture. Therefore, culture-based education Cirebon is always seeking the birth of participant-learners who are able to understand and maintain their identity as a child of tribes but it is not rigid as it navigates the currents of modernization and globalization.
Post-Feminitas: Teknologi Sebagai Basis Keadilan Gender (Teknopolitik dan Masa Depan Relasi Gender)
Kesetaraan gender yang kian hari semakin melemah, dengan kecanggihan teknologi dapat bangkit kembali untuk memberikan peran dan porsi kerja yang sama antara laki-laki dan perempuan baik dalam wilayah domistik maupun publik. Keterbatasan seorang perempuan dibandingkan laki-laki tidak lagi menjadi kendala, seorang perempuan di dalam eksoskeleton bisa 1.000 kali lebih perkasa dibandingkan seorang laki-laki. Untuk itulah perlu adanya pemberdayaan gender berbasis teknologi dengan melakukan penyusunan anggaran bagi semua lapisan masyarakat (laki-laki dan perempuan) menerima manfaat dan memiliki akses yang sama terhadap anggaran tersebut untuk mampu mengaplikasikan teknologi. Penyusunan anggaran responsif gender berbasis teknologi ini mempunyai pandangan dan pemahaman yang sama akan arti, manfaat dan pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. Mengingat bahwa kesinambungan sangat penting dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender, maka analisis gender dalam berbagai kebijakan dan program berbasis teknologi perlu dilanjutkan dan ditingkatkan. Berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan adalah komitmen para penentu kebijakan baik di lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif, minimnya pakar analisis gender karena kurangnya alokasi dana untuk peningkatan kapasitas, dan terbatasnya data terpilah berdasar jenis kelamin, perlu mendapat perhatian secara seksama agar pelaksanaan strategi dapat berjalan secara efektif dan berkesinambungan di masa yang akan datang. Gender equality has weakened, technology has to be bounced back to give the same role and the work portion between men and women both in the domestic and public area. Limitations of a woman than men are no longer become an obstacle; a woman inside the exoskeletons could be 1,000 times more powerful than a man. for this reason, the need for the promotion of gender based technology by perform budget formulation, so all levels of society (male and female) receive benefits and have equal access to the budget for being able to apply the technology. Gender responsive budget formulation based on this technology has a view and a common understanding of the meaning, benefits and importance of gender equality and justice. Considering that continuity is very important in the achievement of gender equality, the gender analysis in a variety of technology-based policies and programs need to be continued and enhanced. Various obstacles encountered in the implementation is the commitment of policy makers both within the executive, legislative and judicial branches of government, lack of gender analysis expert due to lack of funds allocation for capacity building, and the lack of data disaggregated by sex, need attention thoroughly in order to implement the strategy may run effective and sustainable in the future
Motivasi Berpikir Menurut al-Qur’an
Kitab Suci Al-Qur’an merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia sebagai petunjuk bagi kita semua, yang mana diturunkan kepada umat Nabi Muhammad Saw mulai dari berabad-abad yang lalu, hingga sampai sekarang ini. Al-Qur’an di dalamnya banyak sekali mengandung isyarat ilmiah yang berguna bagi umat manusia. Oleh karena itu, sebagai makhluk Allah yang dikarunia akal pikiran, sudah seharusnya menjadi tugas kita untuk mengungkap apa yang ada di dalam al-Qur’an yang menjadi isyarat ilmiah bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an banyak memberikan motivasi bagi umat manusia, terutama motivasi berpikir. Berpikir adalah olah kerja otak yang yang berfungsi mencari hakekat dari sesuatu. Namun, dalam al-Qur’an berpikir juga tidak semuanya dilakukan oleh akal pikiran, melainkan juga dapat dilakukan dengan hati. Ketika mengkaji lebih dalam mengenai berpikir, maka akan didapatkan beberapa lafadz yang mempunyai pengertian yang sama, yaitu berpikir. Seperti lafadz nazara, tadabbara atau tadabbur, tafakkara atau tafakkur, faqiha atau fiqh atau tafaqquh, tazakkara, dan faham. Semua yang disebutkan di atas adalah mempunyai pengertian yang hampir sama. Membangkitkan motivasi berpikir dalam mengkaji ayat-ayat al-Qur’an sangatlah bermanfaat dalam menambah wawasan, dan juga dapat menambah keimanan kita kepada Allah Swt. Beberapa penemuan yang ada pada saat sekarang ini merupakan bukti dari kebenaran al-Qur’an, isyarat ilmiahnya dapat dibuktikan dengan beberapa penemuan di bidang ilmu pengetahuan. The Holy Qur\u27an is a book of God revealed to mankind as a guide for all of us, which was revealed to the Prophet Muhammad\u27s people from many centuries ago until now. The Qur\u27an contains a lot of useful scientific cue for mankind. Therefore, as a creature of Allah endowed with a mind, it should be our duty to reveal what is in the Qur’an becomes the scientific cue to the advancement of knowledge. The Holy Qur\u27an has provided motivation for mankind, especially motivational thinking. Thinking is the workings of the brain that function to find the essence of something. However, in the Qur\u27an do not think everything that was done by the mind but also to do with the heart. When examine more deeply about thinking it will get some lafadz that have the same sense that is thinking. As lafadz Nazara, Tadabbara or Tadabbur, Tafakkara or Tafakkur, Faqiha or Fiqh or tafaqquh, tazakkara, and Faham. All mentioned above has almost the same meaning. Motivational thinking in assessing the verses of the Qur\u27an is very useful in increasing insight and can also increasing our faith in Allah. Some of the inventions that exist at the present time are a proof of the truth of of the Qur\u27an, scientific cues can be proved by several discoveries in science