Intizar (E-Journal)
Not a member yet
    226 research outputs found

    Meneropong Wajah Studi Islam dalam Kacamata Filsafat: Sebuah Pendekatan Alternatif

    Get PDF
    Islam sebagai penebar kedamaian dan kasih sayang (rahmatan li al-‘ālamīn). Tentunya, memiliki beberapa konseptual, dogma, nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran yang komprehensif. Hal inilah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan dan kehancuran. Oleh sebab itu, nilai-nilai dan ajaran islam harus selaras dengan norma-norma hidup manusia dan akomodatif terhadap kemajuan zaman kontemporer saat ini (shālih li kulli zamān wa makān). Islam dituntut untuk dapat memberikan sumbangsih pemecahan permasalahan (problem solving). Salah satu upaya tersebut adalah mengkaji islam dengan pendekatan filsafat (philosophy approach). Pendekatan ini memandang problematika keagamaan dari perspektif filsafati dan mencoba memberikan tawaran solusi dan pemecehan masalah dengan metode analitis-kritis. Dengan begitu, Islam sebagai agama yang berisi dogma dan ajaran, dapat dipahami dan dikaji secara mendalam, komprehensif dan mengungkap hikmah dibalik ritual dan ajarannya

    Paradigma Pendidikan Islam Multikultural: Keberagamaan Indonesia dalam Keberagaman

    Get PDF
    Pendidikan Islam di Indonesia telah menjadi pilar kebangsaan. Ketika Proklamasi belum diwujudkan, pendidikan Islam sudah menjadi bagian dari dinamika kebangsaan. Untuk itu, artikel ini mengkaji secara khusus bagaimana pendidikan Islam dalam upaya untuk mewujudkan pendidikan multikultural sebagai bagian dari praktik pembelajaran. Dengan proses pendidikan yang berbasis multikultural, akan memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan, murid, dan lingkungan masyarakat untuk senantiasa menerima perbedaan. Saat itu, kesempatan untuk saling menghargai, mengapresiasi, dan memberikan dukungan kepada pihak yang sekalipun berbeda, akan senantiasa menjadi nilai pendidikan. Akhirnya, gagasan pendidikan Islam multicultural sesungguhnya merupakan tuntutan dan keperluan masyarakat. Sehingga diperlukan langkah praktis untuk mewujudkan dalam proses pembelajaran yang dimulai dari pengembangan kurikulum sampai teknik pembelajaran. Ini tidak bisa dilakukan dengan mengubah tatanan kurikulum, hanya saja diperlukan sebuah usaha yang komprehensif yang mengintegrasikan prinsip-prinsip pendidikan multikultural dalam aktivitas pendidikan

    Pendidikan Islam dalam Dinamika Kehidupan Beragama di Indonesia

    Get PDF
    Tulisan ini untuk memahami realitas kehidupan beragama di Indonesia dalam hubungannya dengan proses pendidikan Islam.  Masyarakat Indonesia adalah heterogen, plural, baik dari sisi etnis, budaya, dan kepenganutan agama. Keragaman dalam menganut agama cenderung eksklusif, karena masing-masing memiliki keyakinan bahwa kebenaran agamanyalah yang paling benar (truth claim). Keharusan bertoleransi didengungkan dimana-mana, bahkan sudah menjadi kebijakan pemerintah melalui program kerukunan antar umat beragama.  Sebagai muslim yang mayoritas, seringkali menjadi sasaran tuduhan “intoleran”.  Islam memiliki doktrin tentang toleransi, sebagaimana ditunjukkan dalam tulisan sederhana ini.  Doktrin toleransi ini perlu ditanamkan sejak usia dini, untuk menumbuhkan kesadaran bertoleransi. Toleransi adalah perilaku yang melekat dalam kepribadian setiap orang. Untuk menumbuhkan “perilaku” toleran ini, maka salah satunya melalui proses pendidikan agama Islam. Pendidikan menjadi representasi peradaban suatu masyarakat atau bangsa. Dalam konteks ini, masyarakat yang damai, aman, terbuka, saling menghargai dan menghormati perbedaan, sebagai bagian dari keberhasilan pendidikan dalam mencetak pribadi yang toleran dan beradab

    Paradigma Integralistik dan Toleransi Umat Beragama di Kota Palembang

    Get PDF
    Paradigma integralistik dalam konteks kajian toleransi umat beragama, dimaknai sebagai paham dan konsep hubungan antar umat beragama yang toleran. Dalam paradigma integralistik, upaya mewujudkan toleransi umat beragama memerlukan kerjasama dan peran dari semua pihak, termasuk pemerintah dan tokoh agama. Hal ini karena, agama dan Negara merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat tidak dipisahkan. Keduanya merupakan dua lembaga yang menyatu (integrated). Ini juga memberikan pengertian bahwa Negara merupakan suatu lembaga politik dan sekaligus lembaga agama. Konsep ini menegaskan kembali bahwa Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik atau Negara. Konsep seperti ini sama dengan konsep teokrasi. Toleransi umat beragama dibangun dalam beberapa aspek paradigma integralistik. Aspek-aspek tersebut yakni: toleransi dalam aspek ekonomi. Toleransi dalam aspek budaya. Toleransi dalam aspek sosial keagamaan

    Menggugat Kebhinekaan: Respon Intelektual Muda Program Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang terhadap Kepemimpinan Non Muslim

    Get PDF
    Dalam tradisi intelektual Islam, ada tiga persoalan yang selalu dibicarakan terkait kepemimpinan politik dalam negara. Pertama, soal pemimpin yang kurang layak (imāmatul mafḍūl). Kedua, soal pemimpin yang suka maksiat (imāmatul fāsiq). Dan ketiga, soal pemimpin non-Muslim (imāmatul kāfir). Dinamika tersebut menjadi urgen untuk ditelaah terutama dalam ranah pemimpin non-Muslim (imāmatul kāfir). Pertanyaan yang berkembang atas hal tersebut adalah (1) Bagaimana respon intelektual muda Pascasarjana UIN Raden Fatah atas kepemimpinan non muslim?; (2) Bagaimana langkah strategis mengokohkan kebhinekaan dengan meminimalisir perdebatan kepemimpinan  non muslim perspektif intelektual muda Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang ?. Kedua nya berdaya guna terutama kontribusi dalam membangun kebhinekaan yang memberikan kebersamaan dan kedamaian di Indonesia. Menjadi bahan kajian lanjutan terutama penguatan konsep kepemimpinan yang plurali

    Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Aktif Learning Tipe STAD untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak

    Get PDF
    Akhlak di kehidupan sangatlah perlu sehingga memberikan kontribusi positif kepada setiap manusia, dalam penelitian ini peneliti mengemukakan bahwa seorang yang berakhlak baik akan memberikan keindahan untuk dirinya dan orang lain yang berada di sekitarnya, perlu kita ketahui terdapat akhlak terpuji dan akhlak tercela, yang harus ditanamkan yaitu akhlak yang terpuji untuk memancarkan cahaya yang terang dalam kehidupan, dalam tulisan ini penulis mengamati apakah model pembelajaran Stad ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran aqidah akhlak, di mana di sini akhlaklah yang diutamakan. penulis menerangkan bagaimana seorang guru seharusnya mengajar, mengajar itu bukan hanya mentransfer materi namun memupukannya dengan keterampilan-keterampilan dan hal-hal yang baru, sebagian besar seorang guru yang mengajar di sekolah khususnya mata pelajaran Aqidah Akhlak yang memberikan materi peserta didik diperintah menulis dan mendengarkan ceramah guru, yang menimbulkan peserta didik bosan dan jenuh untuk mengikuti proses belajar mengajarnya, sehingga dalam pemahaman materi kurang, dan mengakibatkan peserta didik hasil belajarnya rendah. maka penulis di sini mencoba menerapkan model pembelajaran berbasis Aktif Learning Tipe Stad untuk membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar, metode penelitian yang digunakan di sini adalah studi pustaka di sini penulis memberikan pengajaran dengan model pembelajaran Tipe Stad tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, serta memupuk keterampilan-keterampilan dan memberikan siswa faham akan materi yang diberikan. penulis menggunakan studi pustaka dalam membuktikan keberhasilan atau tidaknya model pembelajaran ini, dengan menelusuri ke perpustakaan dan mencari data dari penelitian-penelitian terdahulu yang ada dalam buku-buku yang dibaca, penelitian ini harapannya untuk membuktikan bahwa dengan model pembelajaran Stad ini murid menjadi giat dan cepat menangkap materi dari pendidik dan hasil belajar peserta didik dapat memuaskan hati pendidik yang melihat siswa yang ditransfer ilmu oleh dirinya dapat berhasil mendapat nilai bagus

    Moralitas Sosial dan Peranan Pendidikan Agama

    Get PDF
    Salah satu permasalahan berbangsa yang mendasar akhir-akhir ini adalah kecenderungan terjadinya degradasi atau pergeseran moralitas sosial yang melibatkan anak-anak usia sekolah, usia remaja dan mahasiswa/ pemuda. Tidak jarang mereka disinyalir terlibat dalam beragam bentuk perilaku sosial yang menyimpang (social deviance), seperti: tindakan kriminal, narkoba, minuman keras, begal, free-sex, rendahnya sopan-santun dan rasa hormat antarsesama, kebut-kebutan di jalan raya, melanggar rambu-rambu lalu lintas, tawuran, yang sekaligus bertanda buruknya moralitas sosial di kalangan generasi muda. Pendidikan karakter (akhlak) melalui optimalisasi peranan pendidikan agama diharapkan sebagai salah satu upaya reduksi dan preventif terhadap perilaku demoralisasi sosial yang sedang melanda generasi muda (pelajar, remaja dan mahasiswa/pemuda) yang diharapkan dapat meneruskan estafet kepemimpinan masa depan

    Arah Pengembangan Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural

    Get PDF
    Agama, pemahaman keagamaan, sikap keberagaman adalah tiga pengertian yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Agama adalah persoalan ketuhanan yang diturunkan kepada manusia untuk dipahami, dijadikan pegangan dan prinsip mengatur kehidupannya. Agama sesungguhnya secara normatif adalah ajaran suci, penuh kedamaian, kemuliaan dan menghargai kemanusiaan. Masalah mendasar menyangkut persoalan keagamaan antar pemeluk agama satu dengan lainnya. Pendidikan Agama diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai multikulturalisme dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa, sehingga peran pendidikan agama menjadi sangat penting dalam pembangunan bangsa dan negara dalam bingkai prinsip-prinsip keadilan, toleransi, kerjasama, kerja keras, dan saling memahami perbedaan

    Implementasi Program Rehabilitasi Narkoba Berbasis Masyarakat di Pusat Rehabilitasi Narkoba ar-Rahman Tegal Binangun Palembang

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pusat rehabilitasi narkoba di Sumatera Selatan yang dalam proses penerapannya berbasis masyarakat dengan menggunakan pendekatan Comunity yang berujung pada proses spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertama, implementasi program rehabilitasi narkoba melalui tiga tahap yaitu, tahap biologis-medis, psikoterapi-psikologi, dan tahap moral-spiritual. Pada tahap biologis-medis meliputi; detoksifikasi, mandi, dan memotong rambut serta kuku. Tahap psikoterapi-psikologi meliputi; isolasi dan motivasi, tahap terakhir adalah tahap moral-spiritual meliputi; pendidikan dasar-dasar agama, sholat berjama’ah, zikir dan membaca al-Qur’an. Kedua, faktor pendukung dan penghambat, faktor pendukung yaitu; sarana prasarana yang mendukung, adanya perhatian dan kasih sayang pembimbing, dan adanya dukungan dari pemerintah. Faktor penghambat yaitu; keadaan pecandu yang parah dan tidak adanya dukungan dari orang tua. Ketiga, Output program rehabiilitasi narkoba yaitu; adanya perubahan perilaku dan mental, munculnya kesadaran untuk berhenti mengkonsumsi narkoba, munculnya ketaatan dalam beribadah, dan meningkatnya jumlah anak bina yang dinyatakan selesai menjalani proses rehabilitasi

    Analisis Kebutuhan Materi Ajar “Berbicara Bahasa Arab” Berbasis Pendekatan Komunikatif bagi Pembelajar Non-Bahasa Arab

    Get PDF
    Speaking is very synonymous with a person\u27s ability to use the language in communication. Therefore, to have Arabic skill means that ability to use the Arabic language in speaking. Not just to say "Arab" that everyone can do it. But, however, speaking is often considered as a big problem, so it is not uncommon to target this ability is avoided because it is considered difficult. In addition, for Indonesian people, especially who do not or rarely interact with people who speak Arabic in their daily life, speaking Arabic is is bored thing and it does not become a necessity. In fact, every human being is given a gift by God in the form of the ability to speak. Even in terms of mantiq science, human is referred to as "al-hayawan al-natiq" (human being is a living being who speaks). This study analyzed the need to speak Arabic as a foreign language in the State Islamic College (PTKIN) includes needs category, learning method in Communicative approach. From the result of the research, it can be concluded that the non-linguistic department students in PTKIN (especially UIN Raden Fatah Palembang) are included in the category of beginner in learning Arabic, while the Arabic learning requirement category is included in the category of normative needs. However, with a communicative approach the Arabic learner can achieve speaking skills in the form of short conversations and introducing himself

    203

    full texts

    226

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Intizar (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇